Saturday, May 30, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 2)


Ran Fleuriste bagai magnet bagiku, aku hampir tidak pernah meninggalkan Ran Fleuriste barang sehari saja. Hanya sesekali meninggalkan Ran Fleuriste untuk mengunjungi ibu di Anna Paulowna. Ibu memang manusia paling berharga bagiku, dia tidak pernah membatasi anaknya untuk berkreasi ataupun memilih jalan hidup. Ibu bukan hanya sederhana, terlepas dari itu semua Ibu memang ciptaan tuhan yang paling sempurna diantara ciptaan tuhan lainnya. Apapun bahasanya, tidak akan ada mata uang yang sanggup membayar kasih seorang Ibu. Begitu hebatnya ibu membesarkanku sendiri tanpa ayah. Menghidupi keluarga kecilnya hanya dari hasil seorang petani bunga di Anna Paulowna. Meski ibu punya lahan sendiri untuk bunga-bunganya, Ibu tetap merasa rendah hati. Sebagai bentuk rasa syukurnya terhadap tuhan, Ibu meminjamkan setengah dari lahannya untuk dipakai oleh petani lain, Ibu tidak memungut uang dari lahan yang dipakai petani lain. Baginya dengan dia memberi, Ibu bisa menjadi lebih tenang dan damai. Ibu ingin diingat sebagai orang baik dan perhatian saat meninggal nanti, sungguh sangat sederhana.

Kecintaan ibu terhadap tulip menulariku. Tulip menjadi daya tarik bagi ibu setelah pertemuannya dengan Ayah. Sudah ratusan kanvas dilukis, sudah ratusan lukisan tulip yang dihasilkan, rumah penuh dengan lukisan tulip berbagai warna. Kata ibu: Motif bunga tulip sudah sejak lama dipakai dalam seni ornamen Persia dan Turki. Tulip termasuk ke dalam keluarga Liliaceae. Bunga Tulip adalah bunga nasional Irak dan Turki, orang-orang Eropa memberi nama bunga Tulip yang berasal dari bahasa Persia yang punya arti Sorban, karena bentuknya yang menyerupai sorban sebelum benar-benar mekar. Bagiku bunga tulip adalah simbol dari Kasih yang sempurna. Selama era Victoria, ketika bahasa bunga mencapai puncaknya dalam popularitas orang-orang berhak menjawab dengan mengambil bunga. Tangan kanan untuk respon positif dan tangan kiri untuk respon negatif. Aku sering mengungkapkan perasaanku dengan bunga tulip berwarna pada setiap orang yang mengenalku, seperti kakek Winskel dan Sean. Setiap warna punya arti yang berbeda. Tapi aku belum pernah sekalipun memberikan tulip warna merah selain pada ibuku, Maria. Karena bagiku tulip merah adalah simbol Kasih yang sempurna.

Di belakang Ran Fleuriste ada kebun bunga kecil-kecilan yang dikelilingi pagar kayu berwarna. Aku yang merawat bunga-bunga itu sendiri dari bibit hingga benar-benar siap dipetik, terkadang Sean juga membantuku. Kebun di belakang Ran Fleuriste juga terhubung dengan pintu belakang Queen Of Sean, toko kue milik Sean. Kami berdua sering menghabiskan waktu bersama di kebun milikku setelah kami menutup toko. Bangku dan meja kayu warna cokelat adalah tempat kami berdua ngobrol, Sean selalu membawa roti dari tokonya sedangkan aku membelikan Sean teh di Scarlet Thee, Kedai teh milik kakek Winskel. Dengan berbincang bersama Sean rasa lelah setelah bekerja seharian menjadi hilang, dia selalu menjadi penghiburku, selalu saja ada cerita menarik setiap kami ngobrol. Pernah dia menceritakan pengalamannya berhubungan intim di kamar mandi Le Cordon Bleu di sebuah malam pada bulan Januari dengan seorang Pria yang berasal dari Jepang. Sean memang gila, semasa di Universitas dia termasuk perempuan yang “Nakal”. Singkat cerita dia dan si pria Jepang kepergok oleh Mahasiswa terbaik di Le Cordon Bleu, mungkin suara rintihan Sean terdengar cukup keras. Mereka berdua dilaporkan ke Kepala jurusan. Kepala jurusan hanya tertawa, “Kalau mau begituan jangan di kamar mandi dan jangan sampai ketahuan” katanya. Setelah kejadian itu Sean tidak pernah meladeni si pria Jepang yang selalu meminta mengulang kejadian malam itu. Sean menghindari si pria Jepang “Orang Jepang tidak pandai memuaskanku” katanya. Aku tertawa. Sean, komedian terbaik yang pernah aku kenal.

Aku suka dunia menulis dan membaca, dari sana aku bisa melihat dunia dalam satu waktu. Aku mempunyai sebuah catatan sebagai lahanku menulis. Tumpukkan beberapa kertas yang aku jilid sendiri dengan kedua lubang di satu sisi buku lalu aku gabungkan dengan tali berwarna cokelat. Di catatan itu aku tidak hanya menulis keseharianku saja. Aku juga menulis semua pembeli bunga di Ran Fleuriste, semua alasan mereka membeli bunga, nama, umur dan untuk siapa mereka membeli bunga di Ran Fleuriste. Aku juga menuliskan daftar orang-orang yang layak menjadi panutanku, seperti tokoh-tokoh dunia dan tentunya ibu juga ayah. Kalimat-kalimat bijak dari mereka selalu aku tulis dan berulang-ulang aku baca untuk menyemangati diriku. Aku sering membawa catatanku kemanapun aku pergi, mencatat setiap kejadian yang ada, istilah-istilah baru yang belum pernah aku ketahui. Aku wanita yang pelupa, catatan ini juga menjadi mediaku untuk mengingat sebuah janji yang aku buat atau yang orang lain buat bersamaku. Bagiku menulis juga caraku berbicara ketika perkataan dari mulutku susah diutarakan ataupun ketika perkataanku tidak didengarkan orang-orang. Menulis membuatku menjadi lebih hidup. Ada kepuasan batin dan rasa tenang ketika aku selesai menulis sebuah cerita ataupun curhatan dan keluhan dalam satu hari, dan setidaknya ada pekerjaan lain selain mengurus Ran Fleuriste dan berkebun.

Aku mencintai mereka yang suka membaca buku. Aku berbeda pandangan dengan wanita-wanita lain soal pria yang baik. Disaat para wanita menggilai pria yang hobi bermain basket, seorang personel band ataupun pria yang bertubuh kekar. Aku berbeda dengan mereka. Aku lebih menyukai pria kutu buku, pria yang menggunakkan waktunya dengan baik seperti membaca buku atau menulis, bukan dugem ataupun bercumbu di taman vondelpark. Bagiku membaca adalah bentuk kecintaan kita terhadapa pencipta, karena dari membaca kita juga bisa lebih mengetahui keagungan tuhan. Aku belum menemukan pria yang seperti itu. Banyak pria yang hanya mengejar popularitas ataupun materi tanpa mengejar kecerdasan dan jati dirinya sebagai manusia. Padahal hidup semata-mata bukan karena uang melainkan karena hati dan jiwa kita yang menuntut untuk bisa menjadi apa yang diinginkan tuhan dan orang-orang banyak. Intinya aku belum pernah menemukan pria kutu buku dan suka menulis. Aku merindukan sosok pria seperti itu.

Aku masih menunggu truk dari Anna Paulowna datang. Truk yang membawa stok untuk keperluan toko bungaku, seperti bibit, pupuk dan buket. Tidak biasanya truk besar itu datang terlambat. Sean mempertanyakan keterlambatan truk itu padaku. “Aku nggak tahu, Sean. Semoga nggak ada apa-apa, ya.” Kataku.


(Bersambung)
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar