Tuesday, May 28, 2019

Menunggu itu Seni


Aku pernah cerita
Tentang mengapa kita tak pernah bisa bersama.

Aku suka menatap kedalaman matamu
Menikmati senyum dan candamu
Menikmati peluk yang hangat saat kau cerita tentang kekasihmu

Aku tak ingin kehilangan itu
Aku memilih melihatmu dari kacamatku .
Rinduku selalu terlambat satu detik,
ada orang lain yang lebih dulu mengucap itu,
dan kamu terlanjur tersipu

Aku memilih menunggu
Menunggu itu seni,
karena kita bertaruh pada yang tak pasti.


Semarang, 29 Mei 2019
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, May 14, 2019

Kita dan Cerita yang Singkat


Kita membiarkan diri
larut pada cerita masing-masing.

Sampai kita lupa,
di cerita orang lain,
kita jadi bagian paling penting.

Namun kita memilih
untuk tidak hadir
melengkapi cerita itu

Kau selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian,

Karena,
Setelah kamu, mereka yang datang hanya menjadi cerita-cerita yang singkat


Semarang, 15 Mei 2019
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, May 7, 2019

SEMUA DITINGGALKAN SAAT SEMUA DIHAPUSKAN



Delapan hari setelah kiamat terjadi, seorang lelaki duduk di depan gereja dengan dasi bermotif merpati dan sepasang sepatu hitam pemberian sang istri. Wajahnya muram seperti mendung malam atau barangkali tembok yang kusam. Ia membawa setangkai mawar merah yang sudah tak lagi merekah, ia berpikir bahwa dirinya telah kalah; menyendiri di antara reruntuhan gedung lima lantai dan kedai kopi tempat ia biasa menepi. “Ini akhirnya,” gumamnya setiap kali angin dan debu menyentuh kulit yang menghitam karena tak lagi pernah mandi.

Sehari sebelum kiamat terjadi ia punya janji dengan seorang misionaris yang ia temui pertama kali usai ibadah di minggu pagi. Tak lagi ada pretensi, pikirnya saat ia melihat misionaris itu keluar dari gereja yang mulai sepi. Ia mengikuti wanita itu sampai di depan rumah, kecanggungan seketika melumuri tubuhnya saat wanita itu melihat dirinya. “Ada yang bisa saya bantu?” bahkan ia ingat kalimat pertama yang keluar dari bibir misionaris itu. Lalu ia pergi tanpa permisi dengan jantung yang berdebar kencang seperti mesin Ferrari milik Didier Pironi, ia meninggalkan sang misionaris sendiri.

Pertanyaan lalu muncul dan merebak hingga ke ubun-ubun, semuanya berebut minta dijawab lebih dulu, “Wanita itu anggun,” pikirnya saat pergi dari depan rumah sang misionaris, dan menyusuri jalan yang terasa panjang tanpa ujung. Hari-hari ia habiskan dengan menguntit, berbicara pada diri sendiri; bagaimana cara untuk bisa bertatap muka dengannya, membicarakan banyak hal mulai dari anjing lucu yang ia lihat menggeliat di kaki misionaris setiap kali wanita itu meninggalkan rumah, atau tentang Tuhan yang telalu lama terlelap sampai alpa bahwa dunia telah bergeser entah ke mana.

Ia yang seorang Budha taat duduk di dalam gereja saat ibadah minggu pagi sesak oleh keluarga yang berharap kebaikan dunia. Ia diam dan mendengar semua cerita dari Pastor berambut putih dengan monokel di mata kiri. Ia mengambil Injil yang tersedia di depannya—ada kantong yang disediakan di belakang kursi untuk menampung kitab suci. Ia membukanya perlahan sembari menciumi bau kertas. Ia merasakan ketenangan dalam hatinya yang memerah karena setiap kata yang keluar dari pastor itu, ketenangan yang sama saat ia beribadah atau melakukan semedi di tengah malam.

lalu ia melihat misionaris itu, kembali jantungnya berdebar kencang. Ia fokus menatap ke depan, sesekali melirik. Ia merasa misionaris itu terus menatapnya sampai ibadah pagi selesai.

“Saya tahu kamu bukan seorang Kristen,” misionaris itu berdiri di depan pintu. Mereka bersalaman, “Saya Maryam,” dari berbagai nama yang lelaki itu pikirkan, ia sama sekali tak memikirkan nama mainstream itu. “Ya saya tahu, nama yang mencolok, sangat mainstream,” ucap misionaris setelah melihat senyum yang aneh dari lelaki itu. Sang Misionaris melepas jabat tangannya, dan lelaki itu masih belum mengucapkan apa-apa. “Tunggu saya di sana, saya akan menemuimu sepuluh menit lagi,” lelaki itu duduk di bawah pohon yang rindang—matanya tak pernah lepas dari misionaris yang menyapa semua jemaat sampai gereja sepi.

“Saya lebih suka disebut biarawati, bukan misionaris,” wanita itu membuka percakapan, lalu duduk setelahnya. “Saya tahu kamu akan menulis misionaris di ceritamu nanti.”

“Aku bahkan belum terpikiran untuk menulis pengalaman ini.”

“You will,” biarawati itu tersenyum.

“Ada apa dengan misionaris?”

“Saya tidak suka posisi itu.”

Keduanya tertawa.

Hari-hari setelahnya Maryam dan lelaki yang bahkan lupa mengenalkan dirinya menghabiskan waktu berdua hampir setiap hari. Maryam hanya punya waktu pukul lima sore hingga tujuh malam, lelaki itu tak pernah ingin membuang-buang waktu, hanya dua jam dari 24 jam dalam sehari yang ia punya untuk bertemu Maryam. Saat ibadah minggu lelaki itu selalu datang ke gereja—sendirian, orang-orang mempertanyakan ia dari komunitas apa. Tak ada yang mengenalnya kecuali orang-orang gereja—Maryam dan Pastor bermonokel.

Hari-hari mereka habiskan duduk di taman kota, saling berpandang, membicarkan hal-hal yang bukan tentang keduanya. Sesekali mereka pergi ke museum kota, atau menikmati kopi susu di kedai yang berbeda lalu membandingkan rasanya.

Seminggu sebelum kiamat terjadi, lelaki itu berulang tahun yang ke empat puluh tujuh, Maryam menghadiahinya sebuah dasi bermotif merpati. Maryam bilang merpati adalah simbol cinta, simbol pembawa pesan perdamaian. Lelaki itu merekah saat kata-kata dari Maryam menyentuh lembut telinganya, dan mereka berpelukan di antara malam yang dingin di bangku taman kota.

“Aku punya istri,” lelaki itu membuka obrolan setelah pelukan mereka yang lama.

“Saya tidak kaget,” Maryam tersenyum.

“Lalu?”

“Apa?”

“Tak biasanya seorang perempuan merasa tenang dan baik-baik saja mendengar seorang lelaki mengaku telah memiliki istri.”

“Memangnya saya bisa apa? Saya telah memutuskan, tidak ada yang perlu disesali. Barangkali kamu yang menyesal, menikahi seseorang yang sama sekali tidak kamu cintai. Karena itu kamu ada di sini.”

“Bukan makasudku membohongi istriku. Aku hanya. . .” kata-kata tertahan di atas kepala, lelaki itu berusaha keras mencari kata yang tepat.

“Daripada memahami kompleksitas manusia, kamu memilih menghindarinya. Padahal, kita adalah entitas tunggal yang tak akan pernah terpecahkan.”

Obrolan mereka terhenti, sudah tepat pukul tujuh, dan Maryam harus segera pergi.

Keesokan harinya Maryam tak terlihat di mana-mana, lelaki itu merasa telah melakukan kesalahan yang membuat Maryam mungkin menjauhinya. Hari-hari ia habiskan di dalam gereja, duduk lesu, memikirkan banyak kemungkinan. Sampai dua hari sebelum kiamat terjadi ia tetap diam bahkan saat lonceng gereja keras terdengar menggetarkan pipi dan telinga. Sampai ketika ia bangkit untuk pulang, ia melihat Maryam berdiri di altar gereja, lelaki itu tersenyum dan menghapus air matanya, berjalan cepat menghampiri—nyaris berlari lalu memeluk erat Maryam yang tampak cantik dengan gaun putih tanpa lengan.

“Lima hari aku menunggumu, duduk di gereja dan mencarimu di rumah,” lelaki itu mengelus lembut punggung Maryam.

“Lima hari saya mencari jawaban.”

“Jawaban?” lelaki itu melepas peluk, menatap Maryam penuh tanya.

“Temui aku di sini besok, kamu akan tahu semua jawabannya.”

Keduanya menghabiskan hari sampai lupa waktu, sudah lewat pukul tujuh, dan Maryam hanya diam tersenyum saat lelaki itu bertanya batas waktu yang sudah lewat, tidak seperti biasa—Maryam mengabaikannya. Maryam makin erat menggenggam tangan lelaki itu. Malam yang dingin menyelimuti kota, Maryam bersandar pada pundak lelaki itu, menyenandungkan sebuah lagu yang membuat lelaki itu terpejam karena merdu senandung Maryam.

“Kamu tahu, semua akan dihapuskan setelah kita tua, nama, usia, masa lalu, setiap kenangan bahkan masa depan. Dan kita hanya bisa tinggal—menunggu sampai waktunya datang.”

Lelaki itu diam, dengan perasaan yang berkecamuk di dalam.

“Semua akan ditinggalkan saat semuanya dihapuskan. Masing-masing menjadi sendiri, bahkan waktu terdiam, ruang-ruang dibelokkan. Saat akhir segalanya mulai muncul ke permukaan, kita dipaksa melupakan segalanya.”

Maryam mencium pipi lelaki itu. Lalu malam menghabiskan diri saat keduanya bercinta di bangku taman.


----
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.