Friday, May 1, 2015

ARTHUR (Episode 7)


Sudah 10 menit sejak kelembutan Arthur dan Ana saling bertemu, suasana menjadi sangat canggung, lautan yang tenang berubah. Ombak mulai ganas menyapu pantai, angin besar datang dari selatan membuat pohon-pohon kelapa menari. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan, Ana hanya terdiam menatap lautan yang tidak lagi tenang. Arthur sibuk merapikan rambut dan bajunya pertanda tidak ada yang bisa dilakukan Arthur selain basa-basi yang tidak jelas. Sesekali Arthur menatap Ana dan tersenyum meski Ana tidak membalas senyum Arthur. Ana masih tidak percaya setelah apa yang terjadi diantara mereka. Nafasnya tidak teratur, dadanya seperti dimasuki batu besar. Sesak.

“Dia Ana yang baru, baru kukenal tatapan matanya yang indah begitu membuai. Membuat keinginan, menjadi hal yang tidak bisa ditolak. Tatapan matanya belum pernah seindah ini, rasa ini bertahan lama untuk memandanginya, dadaku sesak, jantungku tidak mau kompromi, Ana kini hadir dengan pesonanya yang bertambah anggun seiring waktu. Tidak jera mata ini untuk memandanginya” suara hati Arthur melambangkan ketertarikan pada Ana.

“Sinar matamu menari-nari, menyinari jiwa yang terguncang, menerangi perasaan yang gusar. Aku tak berdaya. Ingin rasanya menyingkap apa yang ada dibaliknya, aku ingin merasakan kelembutannya, kehangatannya. Beberapa kali ingin membawanya masuk ke kamarku dan bercumbu barang sekali. Apa itu tadi? Berapa lama waktu yang harus kutempuh untuk menyentuhnya lagi?” suara hati Ana seakan membalas Arthur tanpa sadar.

“Arthur, aku ke kamar mandi sebentar ya” Ana berdiri, meminta ijin lalu pergi. Ana berlari kecil membuka pintu sambil menatap punggung Arthur lalu tersenyum, pipinya memerah, matanya berkaca-kaca. Arthur tahu Ana tidak pergi ke kamar mandi, hanya basa-basinya untuk menghindari suasana canggung yang semakin menjadi-jadi. Di dalam Ana hanya mondar-mandir merayakan kegembiraannya, wajahnya sumringah, bibirnnya tersenyum, berbicara sendiri “Apa itu tadi tuhan” berulang-ulang membuat jantungnya semakin bedebar kencang. Sampai bunyi langkah kaki Arthur yang mendekati pintu, Ana berpura-pura menutup pintu kamar mandi dengan keras untuk menimbulkan bunyi, ketika Arthur tepat membuka pintu rumah Ana.

“Ana?,..Ana?” Arthur masuk, melangkah pelan sambil memandangi perabotan rumah Ana. Berhenti pada satu foto dengan frame hitam didekat piano hitam. Arthur memandanginya beberapa detik hingga Ana keluar dari kepura-puraanya lalu menghampiri Arthur yang berdiri di depan piano hitam
.
“Maaf Arthur aku lama ya?” Ana menatap mata Arthur dari samping.

“Siapa disamping ayahmu, itu?” Arthur membalas tatapan Ana sambil menunjuk foto yang ada didepannya.

“Oh itu, itu ibuku Arthur, meninggal dalam kecelakaan ketika umurku 6 bulan” Arthur terdiam sejenak, Arthur ingat cerita ibunya tentang ibu Ana malam itu.

“Hey, Arthur. kenapa kamu diam?” Ana bertanya sambil memegang pundak Arthur.

“Ibumu terlihat cantik sepertimu, Ana. Aku bisa melihat kelembutan dari sorot matanya, kehangatan dari senyumannya” mata Arthur berkaca-kaca.

“Mulai deh, puitisnya keluar. Terus aku gimana?” Ana sebal, duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Arthur berdiri..

“Aku tidak bercanda, Ana. Aku hanya memuji, kenapa kamu jadi cemburu gitu?” Arthur menghampiri Ana duduk di ujung sofa yang sama.

“Eh, eh, eh.. siapa yang cemburu, kamu terlalu pede, Arthur”

“Kamu tidak pandai berbohong, Ana”

Arthur dan Ana menghabiskan pagi bersama, sesekali memainkan piano dan bernyanyi bersama. Menunggu Prof. Uru yang masih belum datang. Bercerita tentang masa kecilnya dulu. Sesekali Arthur berfikir untuk menceritkan tentang Ibu Ana yang diceritakan ibunya tempo hari, tapi niat itu urung dilakukan untuk menjaga suasana tetap nyaman. Arthur takut Ana jadi membencinya karena menyembunyikan sesuatu tentang ibu Ana.

Telefon rumah Ana berdering, Ana mengangkatnya setelah dering ke dua. Ayahnya memberi kabar akan pulang dalam satu jam. Ana menyambut kabar itu dengan antusias, Arthur tersenyum bahagia karena tujuannya kerumah Ana untuk menemui Prof. Uru sebentar lagi akan terpenuhi.


(Bersambung)
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar