Friday, May 15, 2015

ARTHUR (Episode 9)


Arthur dijemput Prof. Uru. Hari ini mereka memulai strategi yang sudah disusun Arthur tempo hari. Masuk Balai Kota tanpa kecurigaan dari petugas pengamanan, dan mereka berhasil. Arthur ikut masuk ke ruangan Prof.Uru. Menyamar menjadi asisten dokter, memakai baju serba putih khas dokter balai kota. Tidak ada kecurigaan dari siapapun. Ruangan dengan cat putih dan peralatan dokter yang disusun rapi, ada dua ranjang pasien yang disusun berdampingan dibelakang meja Prof. Uru, diantara dua ranjang ada tirai panjang berwarna biru yang menjadi pembatas. Ada foto Natalie, walikota Nanoi di antara dua jendela dan dua ranjang pasien, ekor bingkai hampir menyentuh tirai bagian atas. Foto itu nampak mencolok karena ukurannya yang sangat besar. Arthur membenci sosok pada foto itu, dia mencurigai Natalie ikut dalam kasus pembunuhan ayahnya. Matanya sinis memandangi foto Natalie. Arthur menyiapkan alat yang sudah dibawanya, revolver S&W, satu pisau lipat, dua granat manggis dan sepasang pisau Gurkha Nepal yang didapatkannya dari pasar gelap di lepas pantai Nanoi.

Setalah semuanya siap, seorang koki balai kota mengetuk pintu ruangan Prof.Uru. Prof. Uru membuka kan pintu setalah ketukan ke tiga. Itu Bibi Ana masih satu darah dengan Prof. Uru, Orang yang merawat Ana setelah kemtian ibunya. Prof. Uru menanyakan kesiapannya, Bibi Ana melempar kemeja koki warna hitam lengkap dengan topi dan celemek pinggang. Arthur mengganti bajunya, setalah itu keluar bersama bibi Ana membawa troli makanan yang akan dibawa ke ruangan Natalie. Prof. Uru mengunci pintu membereskan baju dokter penyamaran Arthur, menyembunyikan di laci meja kerjanya.

“Mau kemana kita?” Tanya Arthur.

“Ke ruangan Natalie, membawkan ini semua untuknya”

“Bibi tidak salah membawaku kesana? Aku tidak suka denganya, aku curiga dia ada dibalik pembunuhan ayahku” suara Arthur pelan, melihat seorang perempuan melewatinya.

“Ayo kita buktikan, jika intuisimu benar, tembak mati dia.”  Bibi Ana terus mendorong troli berisi makanan lalu Arthur ikut mendorong troli itu. Mereka sampai di depan pintu Ruangan Natalie, pintu besar anti peluru yang dijaga dua penjaga berkumis tebal, menghentikan mereka, memeriksa semua makanan yang ada di Atas troli. Setelah semuanya dianggap aman, penjaga itu membuka kan pintu dan mempersilahkan masuk. Ruangan Natalie tidak semewah yang Arthur kira, semuanya serba sederhana, meja dan kursi ditengah ruangan untuk menerima tamu, meja kerja yang besar dengan dua komputer, dan lemari buku yang berjejeran rapi yang menempel langsung pada dinding-dinding ruangan. Beberapa vas bunga yang dipajang di sudut ruangan, Karpet merah yang membungkus seluruh lantai diruangan Natalie.

“Akhirnya datang juga, ini orang yang kau maksud?” Tanya Natalie pada bibi Ana.

“Benar, ini Arthur” Jawab Bibi Ana, lalu Arthur bersalaman dengan Natalie.

“Saya, Arthur anak dari orang yang ada di foto itu” telunjuknya mengarah ke foto Witson, Arthur kaget karena Foto Ayahnya terpampang di belakang meja kerja Natalie, foto dengan bingkai besar berwarna keemasan.

“Ah, aku sengaja tidak melepas foto itu dan menggantinya dengan fotoku” Natalie berjalan kearah troli makanan, Arthur masih memandangi foto ayahnya yang memakai jas hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Bibi Ana membuka botol sampanye lalu menuangkan digelas yang sudah disiapkan untuk Natalie.

“Tapi kenapa kau tidak menggantinya?”

“Jujur saja, aku sangat mengidolakan ayahmu, ketika para Anei menawariku untuk menjadi penggantinya aku langsung terima ajakan mereka. Aku penasaran dengan kematianya. Aku juga masih terus menyelidiki sebab kematian ayahmu, Arthur. Dan akhirnya aku tahu bahwa Askar Kecha membunuh ayahmu” Natalie meminum sampanye yang ada ditanganya. Bibi Ana menuangkan sampanye untuk Arthur. Lalu Arthur meminumnya.

“Jadi, gimana dengan intuisimu Arthur?” Tanya Bibi Ana. Arthur tidak menjawabnya, rasa penasaran terhadap Natalie masih membuatnya bingung.

“Sebentar, aku masih bingung, lalu kenapa kau tidak bertindak? Memenjarakan para Anei, misalnya?”

“Itu yang tidak bisa aku lakukan Arthur, di Kota ini, Walikota hanya menjadi simbol demokrasi. Simbol bahwa Kota ini mempunyai pemimpin. Tapi tidak punya kuasa atas apapun” Natalie menggerak kan tanganya, tanda mempersilahkan Arthur dan Bibi Ana duduk.

“Aku semakin bingung, lalu siapa yang menjalankan pemerintahan? Jika Wali Kota yang seharusnya menjadi pimpinan tertinggi tidak diberikan kekuasaan apapun?”

“Para Anei, dibawah pimpinan Charles”

“Siapa itu Charles? Apa pengaruhnya?”

“Charles, pimpinan tertinggi para Anei, dan komandan tertinggi polisi di kota Nanoi, semua orang tunduk padanya. Prajurit-prajurit handal kota ini ada dibawah pengaruhnya, termasuk Askar Kecha prajurit terbaik yang membunuh ayahmu.”

“Lalu kenapa bibi membawaku kesini?”

Bibi Ana memberikan sebuah kartu pada Arthur.

“Itu kartu bebas untuk masuk ke setiap ruangan yang ada di Balai Kota, kau cukup memasukan PIN yang tertera di kartu itu” Jawab Bibi Ana.

“Aku hanya bisa membantumu ini Arthur, kau tidak cukup untuk membunuh Askar Kecha yang kau cari. Kau juga harus mencari Charles, dia berbahaya. Hidupnya hanya duduk dan memberi perintah. Kau juga tidak bisa memberikan kesempatan ke dua bagi para Anei. Kota ini sudah terlalu busuk, penuh sesak dengan koruptor-koruptor kelas kakap”

Bibi Ana keluar meninggalkan Arthur dan Natalie berdua, berpamitan dan meninggalkan troli berisi makanan agar Arthur bisa memakainya untuk kedok keluar dan melewati penjagaan. Natalie memberikan baju keamanan, Jas dan seluruh kelengkapannya, kaca mata  hitam dan Handie talkie.

“Pergilah kembali ke ruangan Prof.Uru, lalu gantilah pakaianmu disana”

“Terimakasih atas semuanya, aku akan segera pergi”

Arthur pergi membawa troli dan meletak kan tas berisi baju kemanan yang diberikan Natalie dibagian bawah troli. Masuk ke ruangan Prof. Uru lalu mengganti pakaiannya.


(Bersambung)  
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar