Thursday, May 28, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 1)


Pagi ini sisa hujan menutupi pandanganku, perlahan berubah jadi remah-remah embun yang menyelimuti kaca toko bunga milikku, menghalangi mereka melihat jajaran vas bunga yang tersusun rapi. Malam tadi hujan sangat deras. Tidak ada bintang, tidak ada kenangan yang pantas untuk diingat. Udara dingin masih saja menyetubuhiku sejak malam tadi, masuk melalui celah-celah jendela dan pintu ditempat ini. Tempat mengenang, tempat untuk melihat orang-orang yang datang dengan kecemasan, kecintaan dan keputusasaan.

Banyak perempuan bertubuh molek yang mendatangi tokoku hanya sekedar bertanya apa arti nama toko bungaku, Ran Fleuriste. Fleuriste nama yang sangat sederhana diambil dari bahasa Prancis yang punya arti: toko bunga, dan Ran?. Ah, mereka lupa bahwa Ran adalah Ranum, tiga huruf yang cukup mewakili namaku. Mereka yang muda dan masih perawan hanya datang untuk memuji keindahan bunga-bunga yang tersusun rapi dengan Vas bunga yang mayoritas berwarna putih, warna kesukaanku. Hanya orang-orang yang benar-benar mencintai keindahan yang membeli bunga di tokoku. Keindahan yang mampu merubah raut wajah mereka setiap aku menjelaskan filosofi dari bunga-bunga yang ada di Ran Fleuriste. Menghilangkan kepenatan mereka, masalah rumah tangga antara sepasang suami istri ataupun sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta.

Dari sudut tempatku berdiri. Aku bisa melihat anak-anak ceria memainkan bola-bola kecil di Vondelpark, seorang kakek yang duduk dengan topi layaknya penyanyi jazz, gelisah menunggu bus kota datang. Beberapa nenek yang mondar-mandir di atas jajaran batu yang disusun rapi, yang diyakini bisa memperpanjang usia. Para pemuda yang bersepeda memutari taman kota dengan earphone yang selalu menempel di telinga. Vondelpark adalah taman kota paling terkenal dan paling luas di Amsterdam, luasnya mencapai 47 hektar. Taman dengan ciri khas bertuliskan I Amsterdam yang menjadi daya tarik turis-turis lokal ataupun mancanegara.

Aku masih sibuk membersihkan kaca tokoku, merapikan bunga yang berantakkan akibat sapuan angin malam tadi. Ran Fleuriste masih belum dibuka, aku masih menunggu stock bunga baru yang datang dari Anna Paulowna, sebuah gemeente Belanda yang terletak di provinsi Noord Holland. Anna Paulowna adalah sawah bunga tulip terbesar di Belanda tempat berkumpulnya para petani bunga dan bunga-bunga yang indah.

Toko kue milik Sean, sahabatku, juga belum dibuka, toko Sean ada diantara Ran Fleuriste dan ruko yang masih kosong sejak ditinggal dua tahun lalu oleh pemiliknya, penjual aksesories khas belanda yang pindah ke Prancis setelah menikah dengan suster cantik yang sering mendatangi tokonya. Kakek Winskel baru saja datang membuka pintu kedai teh bersama seorang pelayan kedai yang mulai merapikan kursi-kursi kayu yang ada di depan kedai teh kakek Winskel. Kakek Winskel tersenyum, senyuman khas yang selalu ada setiap pagi, senyum harapan yang selalu membekas dalam ingatanku mataku berbinar membalas senyumanya, kakek tua renta yang masih semangat bekerja disaat kakek-kakek lain lebih memilih duduk di kursi goyang yang ada di balkon rumah, bercengkraman dengan cucu-cucu mereka yang imut dan menggemaskan. Kedai teh kakek Winskel berada persis disamping Ran Fleuirste.

Seperti biasa aku selalu memberikan kakek Winskel setangkai bunga tulip berwarna putih sebagai bentuk untuk menyemangati hari-harinya. Kakek Winskel selalu menerimanya dengan ramah lalu meletakkannya pada vas kaca yang diletakkan di meja pemesanan teh. Kakek Winskel berumur 70 tahun, hidupnya sepenuhnya diberikan untuk kecintaannya terhadap teh. Sudah hampir seluruh penjuru dunia dia arungi hanya untuk mencari teh dengan citrarasa luar biasa. Negara penghasil teh terbaik seperti Jepang, China dan Sri Lanka sudah pernah dia datangi bersama istrinya. Sayang, perjalanan Kakek Winskel berhenti di Tibet, tempat asal Po Cha. Istrinya meninggal di Lhasa, Ibu Kota Tibet. Istri Kakek Winskel mengidap penyakit jantung sejak usia 40 tahun. Sejak kejadian itu Kakek Winskel membuka Kedai teh yang diberi nama Scarlet Thee untuk mengenang mendiang istrinya, Scarlet.

Sean, sahabat masa kecilku. Perempuan tomboy yang sangat menyukai Queen, Band Rock asal Inggris. Setiap pagi dia selalu memutar lagu Bohemian Rhapsody sangat keras sembari merapikan toko kuenya yang terkesan berantakkan. Dia tidak pernah peduli dengan interior yang ada di tokonya. Meski aku menganggap tokonya berantakkan. Tapi, Kue yang dibuat Sean adalah kue paling enak di Amsterdam. Toko kue dengan Nama Queen of Sean. Tokonya tidak pernah sepi. Kuenya selalu habis terjual saat Open Lucht Theater berlangsung. Sebuah pertunjukan seni. Baik konser musik, pagelaran teater, atau tarian yang diadakan di Vondelpark juga ketika Vrijmarkt dibuka. Pasar yang dibuka untuk memperingati kelahiran Raja / Ratu Belanda. Sean tidak pernah peduli dengan penampilannya, celana jeans ketat yang dipenuhi dengan tambalan kain bergambar Queen. Baju hitam tanpa lengan yang juga bergambar band Queen menjadi seragam sehari-harinya. Sangat tidak pantas untuk menggambarkan seorang penjual kue. Dia pernah bilang padaku bahwa dia punya dua lusin seragam yang serupa tapi, aku tidak pernah percaya. 

Aku dan Sean satu Universitas di Prancis, Le Cordon Bleu namanya. Le Cordon Bleu adalah institusi pendidikan keramahtamahan terbesar di dunia, dengan lebih dari 22.000 murid dan ada di 20 negara. Institusi ini hanya mengajarkan manajemen keramahtamahan dan seni kuliner. Tapi, sayang Sean tidak menyelesaikan studinya di Le Cordon Bleu, dia memilih pergi ke Belanda meneruskan menjadi penjual kue yang sebelumnya dikerjakan ibunya. Ibunya meninggal tiga tahun lalu akibat kecelakaan mobil. Ayahnya minggat, entah kemana. Sean wanita yang sangat rapuh, penyendiri. Hanya denganku dia bisa berubah jadi gila dan kekanak-kanakan. Dulu Sean sering ditinggal pacarnya karena tidak kuat meladeni sikap Sean yang bahkan melebihi seorang laki-laki. Mantan-mantan Sean pada akhirnya pergi menjauh karena jijik melihat tampilan Sean yang tomboy. Kini Sean tak pernah lagi percaya terhadap laki-laki, dia antipati. Baginya semua laki-laki adalah bajingan yang terpaksa diciptakan tuhan untuk menjadi pasangan hidup para wanita kesepian yang ada di muka bumi, termasuk ayahnya. Wanita malang yang terkadang dia juga galau saat teringat mantan-mantannya ketika di Le Cordon Bleu, sungguh perempuan aneh. Aku iri dengan Sean, mantannya lebih dari selusin. Beda denganku yang sampai hari ini belum pernah merasakan kasih dari seorang pria.

Namaku berasal dari bahasa Skandinavia, yang punya makna: Rumah. Aku wanita yang mencintai kedamaian dan kesendirian. Berbeda dengan Sean yang punya tampilan layaknya preman. Aku tampil cukup feminim dengan celemek putih bergambar bunga tulip yang menjadi ciri khas-ku setiap bekerja. Jeans hitam, baju putih lengan pendek dan sepatu kets adalah style-ku. Aku punya banyak sepatu kets beragam warna. Hari Senin ini adalah jadwalku memakai sepatu kets warna merah pemberian Sean sebagai kado ulang tahunku yang ke 22.

Ibuku seorang petani tulip di Anna Paulowna, Namanya Maria. Ibuku juga seorang pelukis amatir. Hanya bunga tulip yang selalu dia lukis. Bunga yang mempertemukannya dengan ayahku. Seorang prajurit tentara yang tegas, berwibawa juga sangat sederhana. Ayah memberikan bunga tulip warna putih untuk melamar ibu. Hanya setangkai, itupun ayah memetik dari kebun bunga milik orang lain. Ayahku bernama Thomson, selama hidupku aku belum pernah sekalipun melihat wajah ayah. Ibu bilang ayah meninggal saat pejalanan menuju rumah sakit tempat aku dilahirkan. Mobilnya remuk dihantam kereta yang melintas. Mobilnya tidak bisa bergerak tertahan ditengah rel. Ayah mencoba keluar namun tidak bisa, medan magnet dari kereta itu sangat kuat. Ayah mencoba memecahkan kaca depan mobil, tapi semua terlambat. Kereta itu terlanjur menabrak mobil yang dikendarai ayah. Aku memang berbeda, aku terlahir tanpa seorang ayah.


(Bersambung)

Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar