Tuesday, June 9, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 7)

Ranum terbangun dari mimpinya, terdiam bingung di atas kasur. Apa yang dia lihat bukan yang ingin dia lihat. Mimpinya membawanya pergi ke masa lalu yang dipenuhi orang-orang sakit. Pembicaraanya dengan Sean tentang Rain Galvin membuatnya memimpikan pria itu. Ranum memimpikannya sedang melambaikan tangan ke arahnya, tersenyum dengan riang seolah baru pulang dari ekspedisi yang memakan waktu bertahun-tahun. Ranum bermimpi berada di taman yang dipenuhi bunga-bunga. Mimpi itu habis ketika tiba-tiba ada pria yang datang dari masa lalunya masuk ke mimpi Ranum. Pria yang membuat Ranum sangat membenci Italia dan Tropea Beach.

Ranum bangkit dari kasurnya, meminum habis air dalam gelas yang sudah disiapkannya sebelum tidur. Ranum buru-buru mencari kartu nama Rain Galvin. Ranum ingat kartu nama itu dia simpan di celemeknya. Setelah menemukan celemeknya yang menggantung di pintu kamarnya, Ranum mengambil kartu nama itu. Menyadari bahwa ada nomor handphone di kartu nama Rain Galvin. Lalu Ranum menyimpan nomor handphone Rain Galvin di handphone miliknya.

Di atas kasur Ranum bimbang. Mengirim pesan atau tidak. Beberapa menit Ranum tertahan dalam situasi bimbang tak menentu, Ranum memutuskan untuk mengirim pesan. Ranum hanya menuliskan namanya di badan pesan, lalu melanjutkan tidurnya lagi.

Mendekati pagi Ranum belum juga bangun dari tidurnya. Cahaya matahari mulai menyinari langit timur, sebuah bintang berkedip lalu menghilang dari langit Amstedam. Handphonenya berdering, ada satu pesan masuk dari Rain Galvin. Ranum masih belum bangun, hanya sesekali mengubah posisi tidurnya. Selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya kecuali kepalanya. Raut wajah Ranum saat tidur adalah gambaran paling indah. Seperti melihat hamparan bunga di Anna Paulowna, ekspresi natural yang tidak dibuat-buat. Alarm yang berada di samping kasur dua menit lagi akan berbunyi. Ranum mulai membuka matanya pelan-pelan dan sesekali berkedip cepat. Beberapa detik setelah itu Ranum bangun, duduk di atas kasur tepat ketika Alarm berbunyi. Ranum mematikan alarm itu, membasuh mukanya dengan tangan lalu bergegas bersiap-siap pergi ke Ran Fleuriste. Ranum menggunakan sepeda untuk pergi ke Ran Fleuriste, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, hanya sekitar satu kilometer.

Ranum belum menyadari pesan yang dikirim Rain Galvin. Beberapa meter dari Ran Fleuriste Ranum melihat Savage Rivale warna hitam milik Rain Galvin terparkir persis di depan Ran Fleuriste. Ranum turun dari sepedanya, menuntun sepedanya lalu memarkirkan tepat di samping Ran Fleuriste. Wajahnya bingung karena tidak ada orang di dalam mobil itu. Scarlet Thee dan Queen Of Sean sudah dibuka sebelum Ranum datang. Ranum membuka pintu tokonya sambil menatap bingung keluar jendela. Ranum membuka pintu belakang Ran Fleuriste lalu menghampiri Sean yang sedang memakan roti di kebun Ran Fleuriste.

“Sean, kamu tahu mobil yang ada di depan?”.

“Iya tahu, pemiliknya ada di Scarlet Thee sejak 10 menit tadi” Jawab Sean sembari mengunyah roti.

“Itu Savage Rivale miliknya, Sean”.

“Miliknya? Siapa yang kamu maksud? Sean menghabiskan gula roti yang ada di jari-jarinya.

“Rain Galvin, yang aku ceritakan tempo hari”.

“Oh Rain Galvin. Hahaha, cieee Ranum” lalu Sean masuk ke tokonya. memberikan sisa rotinya untuk Ranum.

Ranum menghabiskan roti pemberian Sean. Tepat ketika roti habis lonceng pintu Ran Fleuriste berbunyi. Ranum tersentak melihat Rain Galvin yang membawa gelas teh khas Scarlet Thee masuk ke Ran Fleuriste lalu memanggil namanya. Ranum buru-buru menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Ranum.

“Seperti biasa, saya pesan sembilan tangkai bunga tulip, persis seperti tiga hari yang lalu”.

“Maaf, tapi toko belum dibuka” jawab Ranum.

“Kalau begitu, akan saya tunggu” Rain Galvin tersenyum, belum sempat Ranum membalas Rain Galvin sudah berjalan menuju kursi tunggu yang ada di Ran Fleuriste.

Rain Galvin menunggu dengan santai sembari menghabiskan teh yang dia beli dari kedai teh kakek Winskel, sesekali melihat Ranum yang sibuk dengan aktivitas paginya di Ran Fleuriste. Ranum belum menyiapkan sembilan tangkai bunga tulip pesanan Rain Galvin. Dia masih sibuk membersihkan kaca dan merapikan bunga yang ada di depan Ran Fleuriste. Setelah itu Ranum mulai menyiapkan sembilan tangkai bunga tulip. Rain Galvin menghampiri Ranum untuk menyanyakan beberapa hal.

“Kenapa pesan balasanku tidak kamu jawab, Ranum?”.

“Ha? Maksudnya?”.

“Kamu kan yang tadi malam mengirimkan pesan untuk saya?” Ranum kaget, jantungnya bedebar mendengar pertanyaan Rain Galvin.

“Iya, itu saya. Saya tahu nomor anda dari kartu nama yang anda berikan tempo hari” Rain Galvin tertawa mendengar jawaban Ranum yang terdengar kaku ditelinganya.

“Oh iya Ranum, saya mau tanya. Kenapa ada tisu kertas yang agak basah di buket tulip yang kemarin saya beli?”.

Ranum menghentikan pekerjaanya. “Itu untuk memastikan supaya tulip tidak mengering saat perjalanan pulang. Kekurangan air bisa menyebabkan tulip mengering setiap saat”.

“Oh begitu, saya baru tahu. Untung saja tulip-tulip itu langsung saya letakkan di vas berisi air”.

Ranum sudah selesai menyipakan sembilan tangkai bunga tulip, lalu memberikannya pada Rain Galvin. Ranum memberi sedikit penjelasan cara merawat tulip. Mulai dari memilih vas yang sesuai dengan tinggi bunga tulip, memberikan air dingin dan menjauhkannya dari sinar matahari. Air dingin akan menjaga batang bunga tulip agar tetap segar dan keras.
Setelah membayar Rain Galvin pergi meninggalkan Ranum dengan secarik kertas yang berada di bawah uang pemberiannya. Ranum membukanya setelah Savage Rivale milik Rain Galvin meninggalkan Ran Fleuriste.

“Set a meet, Ranum?” Ranum tersenyum, Ialu memasukan kertas itu ke kantong celemeknya.

(Bersambung)



Sunday, June 7, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 6)

Siang ini di langit Amsterdam matahari sangat terik, berkedip ketika gerombolan burung terbang rendah melewatinya. Suaranya begitu riuh, bunyinya menyerupai terompet tahun baru yang ditiup anak-anak kecil. Tapi, penduduk Amsterdam yang berada di sekitar Ran Fleuriste tidak mempedulikan burung-burung itu atau mungkin tak sempat untuk melihat  burung-burung yang melintasi langit Amsterdam. Mata mereka terpaku pada satu titik, bukan di langit. Tapi, di jalanan atau kakinya. Kecuali Ranum, yang sangat senang melihat burung-burung itu terbang rendah melintasi atap Ran Fleuriste. Matanya mengikuti arah burung-burung itu terbang. Sampai burung-burung itu menghilang dibalik gumpalan awan yang bergelombang Ranum masih terus melihatnya, berharap burung-burung itu keluar dari gumpalan awan yang ada di langit Amsterdam.

Dari balik jendela Ranum masih melihat awan tebal yang bergelombang menggantung di langit kota. Seperti kelebihan beban seolah akan jatuh menubruk atap Ran Fleuriste. Ranum juga melihat jalanan mulai ramai dilewati bus-bus kota dan sepeda-sepeda dengan keranjang warna hitam di depannya.

Ranum masih duduk di meja kasir Ran Fleuriste sembari menulis di catatannya yang mulai usang dan berantakkan, sebuah tumpukkan kertas yang berlubang pada sisinya lalu disatukan dengan tali. Ranum sedang membuat cerita pendek tentang seorang wanita yang suka menunggu di halte bus. Seorang wanita yang menemukan cintanya di halte bus ketika menunggu bus jurusan Drenthe datang. Seorang pria yang membuatnya ingin terus tinggal di halte bus. Pria yang ditulis Ranum bukan seorang direktur ataupun seniman tapi hanya seorang penjaga loket penjualan tiket bus. Dan wanita yang dituliskan Ranum juga bukan seorang pekerja seni ataupun karyawati sebuah perusahaan swasta. Hanya seorang wanita yang suka dengan halte bus, sungguh aneh.

Si Pria dan Si Wanita pertama kali bertemu ketika tangan mereka saling bersentuhan ketika mengambil tiket di loket pembelian. Mata mereka saling menatap, mereka saling membalas senyuman dan kedipan mata. Keadaan itu bertahan lama sampai seorang ibu yang ikut mengantre mengeluh sebal, memarahinya yang menganggap halte bus seperti ruang drama sinetron, dimana orang-orang bisa saling jatuh cinta hanya dari sentuhan tangan ataupun tatapan mata. Wanita itu tertawa purau diambilnya secarik kertas lalu menuliskan nomor handphone dan alamat rumah lalu pergi. Duduk menunggu bus tujuan Drenthe datang.

Ranum belum selesai menuliskan cerita pendeknya, belum ada judul. Hanya iseng untuk mengisi waktu luang ketika tidak ada pembeli datang. Ranum tidak merasa dirinya pandai dalam merangkai kata. Ranum hanya suka “Menulis”. Ranum juga suka membaca karya-karya penulis hebat seperti William Shakespeare ataupun Victor Hugo.

Kenangannya di Tropea Beach membuat Ranum antipati terhadap pria. Sejak kejadian itu hidup Ranum benar-benar hanya untuk Ran Fleuriste dan ibunya. Tak pernah sedikit waktupun yang Ranum gunakan untuk memikirkan masalah cinta. Ranum yakin akan datang saatnya seorang Pria yang benar-benar tulus mencintainya. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka hati. Ranum sudah tidak muda lagi, sudah bukan saatnya untuk bermain-main dalam urusan cinta. Ranum punya pemahaman sendiri tentang cinta meskipun Sean tidak setuju dengan pemahamannya.

Tapi, Ranum masih percaya akan ada masanya dimana orang-orang yang lelah mencari akan memilih untuk menunggu dan orang-orang yang lelah menunggu akan mulai mencari cintanya. Hidup itu berputar, maka nikmatilah putaran itu jangan mengeluh apalagi menghina hidup sendiri karena hal itu sama saja seperti menghina Sang Pencipta.

Hari semakin sore, langit mulai hitam, matahari mulai turun. Hari ini Ran Fleuriste sepi, hanya ada satu pria yang pagi tadi membeli sembilan tangkai bunga tulip. Pria yang memberikan kartu namanya dan belum sempat dibaca Ranum.

Ranum teringat pria itu. Setelah dia menutup tokonya, Ranum mengambil kartu nama itu di laci kasir lalu membawanya duduk di kebun Ran Fleuriste sambil menunggu Sean menutup tokonya. Tak lama kemudian Sean datang membawa kue yang sudah biasa menjadi santapan mereka setelah menutup toko.

“Sean, kamu tahu Rain Galvin?” Ranum menujukkan kartu namanya ke Sean.

“Rain Galvin? Galvin keluarga terpandang di Amsterdam?” Sean melihat kartu nama itu dengan seksama. Lalu duduk di depan Ranum.

“Galvin? Aku belum pernah mendengar nama Galvin di Amsterdam?”.

“Masa?. Keluarga Galvin pemilik kedai kopi turun temurun dari zaman perang dunia ke dua. Kedai kopi terkenal di Belanda”.

“Baru dengar aku”.

“Kamu nggak tahu Rain Coffee?” Tanya Sean.

“Oh kalau itu aku tahu, itu memang kedai kopi terkenal di Belanda. Tapi, sekalipun aku belum pernah kesana”.

“Nah, itu. Rain Coffee itu milik keluarga Galvin. Selalu ganti nama setiap generasi. Beda pemilik beda nama. Dari zaman perang dunia ke dua kedai itu sudah ada di Belanda... Terus kenapa kamu bisa punya kartu namanya?” Tanya Sean.

”Tadi pagi dia mampir ke Ran Fleuriste. Beli satu buket bunga tulip. Dia hampir bikin aku emosi, Sean. Dia nggak setuju soal pemahamanku tentang bunga. Aku kira dia serius. Eh, ternyata bercanda, ngeselin banget kan?”.

“Hahahah, terus-terus? Kamu jawab apa, Ranum?”.

“Aku cuma diam. Eh, tiba-tiba dia Tanya bunga kesukaanku. Ya, aku jawab tulip dong. Langsung dia beli satu buket bunga tulip. Terus dia minta dua tangkai bunga tulip lagi. Yang biasanya satu buket isinya tujuh jadi Sembilan… Bayar­­­­, terus pergi ninggalin kartu namanya”.

Sean dan Ranum menghabiskan malam di kebun Ran Fleuriste, membicarakan Rain Coffee dan banyak hal lainnya. Seperti biasa Ranum membeli teh di Scarlet Thee, kedai teh milik kakek Winskel. Langit malam itu diselimuti banyak bintang, udara dingin dan cahaya lampu kota menjadi pemandangan biasa. Di Amsterdam Ranum bukan satu-satunya yang menghabiskan malam dengan mengobrol. Entah berapa banyak lagi. Ranum tak pernah bosan ketika Sean menceritakan masa lalunya yang belum diketahui Ranum semasa di Le Cordon Bleu. Malam penuh tawa, mereka tertawa lepas mengganggu burung-burung yang tidur di pohon-pohon Kota Amsterdam.

“Sean!. Menurutmu Rain Galvin bakal datang ke sini lagi nggak?”.

“Mungkin”.


 (Bersambung)

Friday, June 5, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 5)

Di dalam kepalaku hidup seorang pria yang dulu pernah menjadi pengisi ruang hatiku yang kosong. Seorang pria yang tidak peduli dengan kesukaanku, passion, dan semua yang aku gemari. Dia mencintaiku dari ujung rambut hingga kaki, dia mengaku hidupnya berubah ketika bersamaku, menjalin kasih dan berkomitmen denganku. Dari beberapa pria yang mencintaiku aku lebih memilihnya. Yang lainnya hidupnya jadi tak karuan.  Cintanya tersisih, jiwanya hancur, hatinya tak bisa lagi merasa. Mereka merasa kehilangan. Tapi aku tidak peduli. Mau gimana lagi, aku tetap harus memilih satu diantara pilihan yang ada. Hidup itu pilihan, kalau aku memilih dua ataupun tiga bukan pilihan lagi namanya.

Semua tentang pria itu masih terekam jelas di otakku. Caranya menyapaku, tersenyum, memegang tanganku, dan memanjakanku masih jelas bisa aku lihat. Pada awalnya aku bahagia menjalin hubungan dengannya, dia adalah pria yang mengajarkanku untuk menjadi wanita yang tenang dan anggun, memperlakukanku seperti seorang ibu yang merawat bayinya yang baru dilahirkan, sangat hati-hati menjaga perasaan dan moodku. Aku menganggapnya berbeda dengan pria yang lain. Sampai suatu hari ketika kami sudah berhubungan hampir dua tahun dia meminta izin padaku untuk pergi ke Italia. Dia ingin mengurus pekerjaanya disana untuk waktu yang sangat lama. Dia hanya meninggalkan jam tangan untukku. Alasannya sederhana, karena jika aku rindu aku bisa memandangi jam itu ataupun memakainya. Dan benar saja, kepergiannya sungguh menyiksaku, membuat hatiku yang sudah terisi penuh denganya perlahan berkurang debitnya. Aku tidak bisa berhubungan jarak jauh dengan seorang yang aku cinta. Ini berat, seperti lautan dengan ombak yang tinggi dan meraung-raung bagai harimau. Jam pemberiannya selalu aku pakai ketika tidur bahkan jam itu rusak karena aku selalu memakainya ketika mandi.

Tak pernah ada satu mimpiku yang tak ada dirinya. Selalu saja dia menghantuiku lewat mimpi-mimpi yang bisa sangat indah juga sangat menyakitkan, membuat rongga dadaku sesak dipenuhi kenangan yang mencoba mematikanku. Sejak kepergiannya ke Italia dia tak pernah lagi mengabariku, mengirimkan pesan ataupun sekedar mengucapkan selamat pagi ketika aku bangun tidur. Perbedaan yang sangat mencolok aku seperti diterbangkannya setinggi langit lalu dijatuhkan dengan kecepatan tinggi dan terhempas dengan sangat keras ditanah kering berselimut kerikil tajam yang jumlahnya tak bisa dihitung. Aku mencintainya, sampai rinduku habis dan tak tertampung lagi aku nekat menyusulnya ke Italia. Aku tak tahu pasti dimana tempat tinggalnya selama di Italia, yang aku tahu banyak orang-orang Italia mengenalnya. Pria nyentrik dengan stlye british. Seperti melihat kucing yang berdiri diantara tikus. Aku yakin pasti mudah menemukkannya.

Aku menyusuri kota-kota di Italia yang pernah dia ceritakan padaku. Dari Torino hingga Palermo, aku belum juga menemukannya. Hingga aku di Italia dia masih belum membalas pesanku.

Di suatu siang setelah tiga hari mencari, ketika aku berdiri di depan papan iklan yang sangat besar di Kota Palermo, papan iklan: Trip To Tropea Beach dalam bahasa Italia. Seketika aku mengingat satu tempat yang sering dia ceritakan padaku. Tropea Beach. Pantai yang terletak di selatan Italia tepatnya di Calabria. Tidak terlalu jauh dari Palermo.

Matahari yang terik, jalanan yang dipenuhi mobil-mobli pabrikan Italia adalah kesan pertamaku ketika sampai di Tropea Beach. Pantai dimana orang-orang bebas bercumbu namun tak melewati batas. Dengan tebing yang tinggi dan terdapat penginapan-penginapan yang ada di atas tebing, menghadirkan pemandangan indah dan lautan biru, Calabria. Aku menginap di kamar yang cukup luas dan sangat mudah untuk melihat pemandangan keindahan Tropea Beach, cukup membuka tirai jendela lebar-lebar.

Dari atas sini aku bisa melihat deretan mobil sporty diparkir rapi di pinggir jalan Tropea Beach. Ratusan wanita yang dengan santainya berlalu-lalang hanya mengenakan celana dalam dan BH. Warna-warni, beda orang beda juga warnanya seperti pelangi. Para pria yang telanjang dada bermain voli pantai, anak-anak yang mendirikan Istana pasir dan beberapa pasangan yang bercumbu dibawah payung pantai warnai biru bertuliskan “Tropea Beach”. Aku tidak ingin berlibur, aku hanya ingin mencarinya. Pria yang sudah lama tak memberi kabar dan tak kunjung membalas pesanku.  Pria keturunan Prancis-Inggris dengan rambut cokelat muda, hidung mancung , otot kekar dan tato bintang yang ada di lehernya.

Lewat tengah malam pengunjung pantai mulai meninggalkan Tropea Beach, menyisahkan lautan tenang dan deburan ombak yang sesekali tajam menyentuh bibir pantai. Ada satu tenda kemah yang berdiri di Tropea Beach, membuatku terus menatap penasaran siapa yang ada dibaliknya dan sedang apa. Tak terlalu jelas apa yang terjadi di dalamnya, tenda itu sesekali bergetar hebat tak menentu. Aku masih terus menikmati pemandangan yang membuatku penasaran. Tenda itu hanya muat untuk dua sampai tiga orang, menghadap lansung ke lautan. Di depan tenda itu ada api unggun yang apinya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menghangatkan orang yang ada di dalam tenda. Tak lama kemudian ada seorang wanita yang keluar dari tenda , berteriak gembira, melompat-lompat kegirangan. Aku tersenyum melihat tingkah lakunya. Seperti anak kecil yang dibelikan mainan baru oleh ibunya.

Setelah satu menit melihat kegirangan wanita itu, aku memutuskan untuk pergi tidur. Langkahku terhenti ketika seorang pria keluar dari tenda. Aku seperti mengenal pria itu meskipun wajahnya samar-samar dibawah cahaya bulan. Aku mengamatinya serius seperti seorang ilmuwan yang mengamati kuman dengan mikroskop. Dia seperti pria yang aku cari, aku yakin dari tato bintang yang ada di lehernya. Wanita itu melingkarkan tanganya di leher Si Pria setelah pria itu melingkarkan tanganya di punggung wanita itu. 

Aku mencoba mengirimkan pesan untuk memastikan bahwa itu memang pria yang aku cari. Beberapa detik setelahnya dia mengambil handphone yang ada di saku kirinya hanya sebentar melihat layar di handphonenya lalu memasukkannya lagi. Benar, dia pria yang aku cari, pria yang meninggalkanku lebih dari dua tahun. Dan kini aku melihatnya binal dengan perempuan lain. Aku melihat kenyataan yang sulit untuk aku terima, aku tak percaya jantungku berdebar binal dalam rongga dada yang sempit. Tanganya semakin “Nakal” berkeliaran di tubuh wanita itu. Mereka berciuman, pria itu mengangkat wanita yang ada di depannya, kaki wanita itu melingkar tepat di pinggang pria brengsek itu. Mereka berpagut lidah, pria itu sesekali mencium leher wanitanya. 

Pemandangan menjijikan bagiku. Pria brengsek itu membawa wanita yang ada digendongannya masuk kedalam tenda kemah. Otakku beku melihat kenyataan yang ada didepanku, mataku memerah melotot hampir keluar dari rongga mata. Tenda kemah itu bergetar lagi, getarannya semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya menghampirinya lalu menampar keras. Aku terjaga semalaman hingga hari hampir pagi, meski cahaya di luar masih lemah. Mataku tak mungkin salah, aku sudah menemukannya. Mereka berada di dalam tenda yang sempit bercumbu liar, saling memeluk, berciuman. Aku sadar, aku salah memilihnya. Pria yang aku anggap baik dan berbeda ternyata lebih dari sekedar brengsek, aku merasa di tipu. Jadi selama ini aku menolak ajakannya untuk pergi kerumahnya sangat tepat, tidak salah.

Belum ada semalam aku menginap di Tropea Beach, aku bergegas pergi kembali ke Amsterdam, menatap tenda itu sekali lagi lalu mengirimkan pesan. “Pria brengsek!, Aku tak masalah jika cintaku berhenti karena wanita yang sekarang sedang bercumbu bersamamu. Tapi, kamu harus janji untuk lebih bahagia denganya dan tak mencariku lagi (Ranum).” Pria itu keluar dari tenda, menatap sekitar. Matanya memburu jendela-jendela penginapan yang ada di Tropea Beach. Aku menutup tirai tepat ketika matanya sampai pada jendela kamarku, lalu pergi membawa kebencian yang tecipta kurang dari semalam. Kenangan itu benar-benar habis. Sampai sekarang aku masih mengingat kejadian itu.


(Bersambung)

Wednesday, June 3, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 4)

Pria itu merapikan setelan jas Phillipe Carrol yang dia pakai setelah turun dari mobilnya, Savage Rivale warna hitam. Mobil pabrikan Belanda. Aku berdiri di balik meja kasir, sisa roti yang ada di rongga mulutku masih aku kunyah. Setelahnya aku tersenyum, lalu menyapanya: “Welkom, Sir”. Pria itu membalas sapaanku dengan senyuman lalu menuju kearah kumpulan bunga mawar yang berdekatan dengan lukisan tulip karya ibu. Lamat-lamat, telingaku menangkap beberapa kata yang diucapkan oleh pria itu “Kenapa mawar selalu merah, bukankah merah itu melambangkan keberanian dan itu sangat tidak cocok untuk bunga yang akan diberikan kepada seseorang yang kita cinta.” Aku terpana, belum pernah aku mendengarkan orang berbicara seperti itu. Yang aku tahu mawar merah melambangkan cinta dan keromantisan. Mawar merah adalah lambang dari cinta sejati.

Kedua tanganya tersimpan di saku celana warna hitamnya. Aku mendekatinya mengikuti tepat dibelakangnya. Rambut pria itu cokelat dan sedikit bergelombang. Pria itu memakai jam Rolex jenis Oyster Perpetual Datejust II, cangkang jam buatan Swiss ini berukuran 41 mm, jam dengan gaya klasik modern. Tapi aneh, jam yang dia pakai tidak menunjukan waktu yang sesuai dengan jam tangan yang aku pakai ataupun jam dinding yang ada di Ran Fleuriste.

Pria itu masih melihat-lihat bunga yang ada di Ran Fleuriste, dia berjalan melewatiku dengan langkah yang pasti, tegak, sesekali memegang bunga dan mencium aromanya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku.

“Kamu yang punya tempat ini?”

“Iya benar, saya Ranum. Pemilik Ran Fleuriste.”

“Kira-kira Bunga apa yang cocok untuk di berikan pada orang yang sangat kita cinta?” cara bicaranya sangat teratur, seperti sudah terlatih atau seperti seorang presiden yang berpidato menggunakan teks yang sudah dipersiapkan oleh sekretaris presiden.

“Mawar merah sangat cocok untuk di berikan pada seseorang yang kita cintai, melambangkan cinta dan keromantisan,” jawabku sambil menunjuk mawar merah yang berdekatan dengan tempat kami berdiri.

“Mawar merah? Saya tidak suka mawar merah. Merah itu warna keberanian, seperti seorang prajurit yang akan berangkat berperang. Tidak cocok untuk orang yang kita cinta.”

“Maaf, Tapi mawar merah adalah bunga yang sangat umum untuk diberikan pada orang yang kita cinta. Dalam hal ini merah berarti warna hati bukan keberanian,” aku mencoba menjelaskan dari sudut pandangku dan pengalamanku selama menjadi seorang Florist.

“Kamu yakin sekali kalau hati itu berwarna merah seperti warna mawar-mawar ini, atau kamu memang sudah pernah melihatnya langsung?” pria itu menunjuk kumpulan mawar merah yang ada di dekatnya.

“Warna hati memang merah, tepatnya merah tua. Kenapa merujuk pada hati kita, karena untuk mencintai memang harus dari hati,” aku mencoba menjelaskan, pria itu masih tersenyum sembari berjalan kecil melihat-lihat bunga yang lain. Aku mengikutinya.

“Kamu sangat lucu, Ranum.” dia mencibir.

“Maaf, maksudnya?” tanyaku.

“Selama saya bersekolah, tidak pernah ada satupun dari guru saya yang menjelaskan bahwa salah satu fungsi hati adalah untuk mencintai, Ranum. Yang saya pelajari selama ini, diantaranya hati sebagai alat sekresi dan ekskresi bukan untuk mencintai,” wajahnya meremehkanku, menganggap aku seperti pelamar kerja yang sedang melakukan interview kerja.

Aku diam, sengaja tidak membalas argumennya barusan. Aku harus menghormati setiap orang yang membeli bunga di Ran Fleuriste. Aku juga tidak bisa menyalahkannya  karena semua yang dia jelaskan memang benar sesuai dengan keilmuan yang ada. Dia tertawa kecil, menertawakanku yang diam dan tidak membalas argumennya. Aku bertanya dalam hati: lalu dengan apa dia mencintai kalau bukan dengan hati.

“Saya hanya bercanda, Ranum.”

“Sialan,” desisku.

“Sebagai seorang Florist apa bunga kesukaanmu, Ranum?” Tanya pria itu.

“Tulip. Tulip Warna putih,” jawabku. Langkahnya terhenti, berbalik badan dan berhadapan tepat di depanku.

“Tulip? Kenapa tulip?” tanyanya bingung.

“Bagi saya tulip adalah kelembutan yang sanggup membuat saya merasa tenang dan nyaman. Saya seperti merasakan ada di sebuah dimensi yang langka, dimensi dimana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Saya sangat bahagia ketika saya merawat bunga tulip dari bibit hingga siap dipetik. Hanya tulip yang mampu membuat jantung saya berdebar tak karuan” Senyum pria itu mengembang, kepalanya mengangguk pelan.

“Dalam sekali pemahamanmu tentang tulip?..... Oke, Ranum. Saya sudah memutuskan untuk membeli tulip putih untuk orang yang saya cintai.”

“Tulip putih? Oke, akan saya siapkan satu buket tulip putih,” aku meninggalkan pria itu untuk menyiapkan satu buket tulip yang dipesan olehnya….. Tiba-tiba pria itu memanggilku.

“Hey, Ranum. Satu buket ada berapa tangkai?”

“Tujuh, tujuh tangkai bunga tulip.”

“Tambahkan dua tangkai,” jari pria itu membentuk huruf V menandakan angka dua. “Berikan saya Sembilan tangkai dalam satu buket,”

“Oke.” Aku tersenyum menempelkan ujung jempol dan telunjuk, membentuk lingkaran kecil yang berarti aku siap dan bersedia melakukannya. Sembari aku menyiapkan pesanannya, sesekali aku memandanginya yang sedang menerima telefon. Seperti memberi kabar pada seorang wanita yang dia cinta bahwa dia sudah mendapatkan bunga untuknya. Pria itu kembali ke Savage Rivale miliknya yang terparkir tepat di depan Ran Fleuriste. Aku bisa melihatnya kembali dengan membawa dompet Louis Vuitton berwarna cokelat di tangan kanannya.

Aku sudah selesai menyiapkan pesanannya tepat ketika langkah terakhirnya habis mendekatiku. Aku memberikan satu buket yang berisi sembilan tangkai tulip warna putih pada pria itu lalu menuju meja kasir untuk menghitung harganya. Setelahnya, pria itu memberikan uang dan kartu namanya padaku, lalu pergi. Mengucapkan terimakasih tanpa basa-basi. Aku meletakkan kartu namanya di laci meja kasirku. Lalu melanjutkan sarapan pagiku yang tertunda karena kedatangannya.


(Bersambung)

Monday, June 1, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 3)

Beberapa nenek yang mondar-mandir diatas jajaran batu yang tersusun rapi mulai meninggalkan  Vondelpark. Seorang kakek yang duduk menunggu bus, tersenyum. Bus yang sudah lama ditunggu akhirnya datang. Bus dengan jurusan Groningen itu dipenuhi dengan puluhan lansia. Kakek itu pelan-pelan naik keatas bus, dibantu oleh seorang kondektur bus. Mungkin bus itu khusus untuk mengangkut para lansia yang akan pergi ke Residentie Buitenzorg, sebuah institusi pelayanan kesehatan yang diakui oleh pemerintah Belanda. Melayani kelompok lansia yang memiliki kesamaan latar belakang dan hubungan dengan Indonesia. Selain di Groningen, Residente Buitenzorg juga ada di provinsi Friesland, Drenthe dan wilayah Twente. Aku melambaikan tangan ke arah para lansia yang ada di dalam bus ketika bus mulai meninggalkan Vondelpark. Mereka membalas lambaianku. Tersenyum ompong, tanpa ada gigi yang tersisa.

Aku mulai membuka tokoku, setelah bunga-bunga yang tersapu angin menjadi lebih rapi dan kaca tokoku bersih dari remah-remah embun yang menyelimuti karena hujan malam tadi. Sean juga mulai membuka tokonya. Berbeda denganku, tokonya masih terlihat berantakkan dengan interior ruangan yang tak jelas posisi peletakkannya. Kakek Winskel membuka kedai tehnya sembari meletakkan papan menu di depan kedai miliknya. Sebuah papan tulis kapur berwarna hitam yang disangga pada penyangga kayu, menyajikan menu dan harga teh yang beraneka macam.

Tak banyak orang yang berlalu lalang. Truk itu juga belum datang, aku berdiri di belakang meja kasir berwarna putih yang dihiasi ornamen bunga-bunga yang berwarna di bagian bawah meja. Di belakangku berdiri ada papan nama besar bertuliskan “Ran Fleuriste”. Tiba-tiba seorang anak lelaki dengan celana pendek hitam berhenti berlari, lalu berjongkok tepat di depan pintu Ran Fleuriste. Dia bersembunyi, anak lelaki lain mencarinya dengan raut muka yang bingung. Anak itu berhasil tidak ketahuan, setelah anak lelaki lainnya melewati Ran Fleuriste. Anak dengan celana pendek hitam itu lalu berlari melawan arah anak yang mencarinya, beberapa detik kemudian dia dikejar, tepat ketika truk penghantar keperluan tokoku datang. Aku bergegas keluar, membuka pintu Ran Fleuriste. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Lelaki gendut yang menjadi sopir truk itu turun dari truk dengan membawa catatan dan pena kecil yang terselip di saku bajunya.

“Goedemorgen Ranum”. Katanya.

“Pagi juga Uncle” aku menyalaminya sembari tersenyum.
 “Kamu sehat, Ranum?”

“Sangat sehat”

“Maaf saya terlambat”

“Hanya terlambat 10 menit, nggak jadi masalah, Uncle.”

“Terimakasih Ranum, sesuai pemesanan: vas bunga, bibit bunga tulip, anyelir, mawar dan satu paket buket sudah siap” Uncle membuka pintu belakang truk yang dikendarainya. Lalu naik untuk mengambil barang pesananku. Aku membawanya masuk ke Ran Fleuriste, meletakkanya di semping meja kasir.

“Jadi, semuanya berapa Uncle?” tanyaku. Uncle mengambil kalkulator yang ada di dashboard truk. Sibuk menghitung harga yang harus aku bayar.

“12 Euro. Tapi karena saya terlambat. Untuk Ranum jadi 10 Euro saja” Uncle memperlihatkan kalkulatornya padaku.

Aku merogoh saku celemek yang aku pakai, memberikan Uncle, 11 Euro, 1 Euro untuk tip. Uncle mengucapkan terimakasih lalu berpamitan pergi. Aku masuk ke Ran Fleuriste setelah Uncle melambaikan tangan untukku. Membawa bibit tanaman ke kebun di belakang Ran Fleuriste. Meletakkan buket bunga pada lemari khusus penyimpanan buket bunga, dan meletakkan vas bunga di bawah meja kasir.

Sembilan lima belas, Rambutku hanya kuikat dengan karet yang biasa dipakai untuk mebungkus bunga dalam satu buket. Bibirku kering, aku lupa untuk sarapan. Setelah aku menanam beberapa bibit di kebun, aku lantas pergi menuju Scarlet Thee, kedai teh milik kakek Winskel. Tak ada yang berubah di Scarlet Thee, semuanya masih serba kayu. Meja, kursi, lantai hingga pintu kayu yang jika dibuka akan berdecit, mengganggu telinga seperti pintu kayu zaman para cowboy masih berjaya. Aku langsung memesan teh, pelayan di kedai ini sangat ramah meskipun sudah sangat akrab denganku. Aku memesan satu Hot Thee yang menjadi menu andalan di Scarlet Thee. Pelayan itu tersenyum, tebakkanya benar kalau aku akan memesan teh yang sudah biasa aku pesan, dan jadi kesukaanku. Pagi itu hanya ada satu perempuan tua yang duduk di sudut kedai teh milik kakek Winskel. Dekat dengan foto istri kakek Winskel. Aneh, keduanya punya ekspresi yang serupa. Gelisah seperti orang yang kebelet pipis. Dinding di Scarlet Thee memang dipenuhi foto hitam putih, foto istri Kakek Winskel dengan berbagai ekspresi. Perempuan tua itu seperti dibekukan oleh waktu, hanya bisa diam memegang gelas berisikan teh dengan kedua tangannya.

“Ini tehnya” sahut Si pelayan.

“Terimakasih, ini uangnya” lalu aku meninggalkan meja kasir sambil melihat perempuan tua itu. Perempuan tua itu seperti duduk di kursi panas, Duduknya makin tak jelas. Seperti menunggu seseorang yang sudah lama dinanti.

Setelah keluar dari Scarlet Thee aku menuju ke Queen Of Sean lewat pintu belakang yang menjadi satu dengan kebun di belakang Ran Fleuriste. Aku sengaja tidak masuk, aku memanggil satu pekerja yang bekerja di Queen Of Sean untuk membawakanku satu roti. Diberikannya satu roti lonjong dengan bubuk gula putih diatasnya padaku, aku mengucapkan terimakasih,  pekerja itu membalas ucapanku lalu tersenyum. Aku tidak membayar, Sean melarangku untuk membeli kue-kue yang ada ditokonya. Kalaupun aku memaksa untuk membayar dia akan sangat marah. “Kue dan Roti ditokoku bebas untuk kamu makan, Ranum. Gratis selama kamu hidup” kata Sean.

Aku sudah biasa sarapan dibawah meja kasir agar tak terlihat orang-orang. Belum selesai aku menghabiskan sarapanku, Tiba-tiba pintu toko terbuka, lonceng pintu berbunyi. Aku menoleh, hatiku berdebar dalam rongga dada yang sempit.


(Bersambung)

Saturday, May 30, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 2)

Ran Fleuriste bagai magnet bagiku, aku hampir tidak pernah meninggalkan Ran Fleuriste barang sehari saja. Hanya sesekali meninggalkan Ran Fleuriste untuk mengunjungi ibu di Anna Paulowna. Ibu memang manusia paling berharga bagiku, dia tidak pernah membatasi anaknya untuk berkreasi ataupun memilih jalan hidup. Ibu bukan hanya sederhana, terlepas dari itu semua Ibu memang ciptaan tuhan yang paling sempurna diantara ciptaan tuhan lainnya. Apapun bahasanya, tidak akan ada mata uang yang sanggup membayar kasih seorang Ibu. Begitu hebatnya ibu membesarkanku sendiri tanpa ayah. Menghidupi keluarga kecilnya hanya dari hasil seorang petani bunga di Anna Paulowna. Meski ibu punya lahan sendiri untuk bunga-bunganya, Ibu tetap merasa rendah hati. Sebagai bentuk rasa syukurnya terhadap tuhan, Ibu meminjamkan setengah dari lahannya untuk dipakai oleh petani lain, Ibu tidak memungut uang dari lahan yang dipakai petani lain. Baginya dengan dia memberi, Ibu bisa menjadi lebih tenang dan damai. Ibu ingin diingat sebagai orang baik dan perhatian saat meninggal nanti, sungguh sangat sederhana.

Kecintaan ibu terhadap tulip menulariku. Tulip menjadi daya tarik bagi ibu setelah pertemuannya dengan Ayah. Sudah ratusan kanvas dilukis, sudah ratusan lukisan tulip yang dihasilkan, rumah penuh dengan lukisan tulip berbagai warna. Kata ibu: Motif bunga tulip sudah sejak lama dipakai dalam seni ornamen Persia dan Turki. Tulip termasuk ke dalam keluarga Liliaceae. Bunga Tulip adalah bunga nasional Irak dan Turki, orang-orang Eropa memberi nama bunga Tulip yang berasal dari bahasa Persia yang punya arti Sorban, karena bentuknya yang menyerupai sorban sebelum benar-benar mekar. Bagiku bunga tulip adalah simbol dari Kasih yang sempurna. Selama era Victoria, ketika bahasa bunga mencapai puncaknya dalam popularitas orang-orang berhak menjawab dengan mengambil bunga. Tangan kanan untuk respon positif dan tangan kiri untuk respon negatif. Aku sering mengungkapkan perasaanku dengan bunga tulip berwarna pada setiap orang yang mengenalku, seperti kakek Winskel dan Sean. Setiap warna punya arti yang berbeda. Tapi aku belum pernah sekalipun memberikan tulip warna merah selain pada ibuku, Maria. Karena bagiku tulip merah adalah simbol Kasih yang sempurna.

Di belakang Ran Fleuriste ada kebun bunga kecil-kecilan yang dikelilingi pagar kayu berwarna. Aku yang merawat bunga-bunga itu sendiri dari bibit hingga benar-benar siap dipetik, terkadang Sean juga membantuku. Kebun di belakang Ran Fleuriste juga terhubung dengan pintu belakang Queen Of Sean, toko kue milik Sean. Kami berdua sering menghabiskan waktu bersama di kebun milikku setelah kami menutup toko. Bangku dan meja kayu warna cokelat adalah tempat kami berdua ngobrol, Sean selalu membawa roti dari tokonya sedangkan aku membelikan Sean teh di Scarlet Thee, Kedai teh milik kakek Winskel. Dengan berbincang bersama Sean rasa lelah setelah bekerja seharian menjadi hilang, dia selalu menjadi penghiburku, selalu saja ada cerita menarik setiap kami ngobrol. Pernah dia menceritakan pengalamannya berhubungan intim di kamar mandi Le Cordon Bleu di sebuah malam pada bulan Januari dengan seorang Pria yang berasal dari Jepang. Sean memang gila, semasa di Universitas dia termasuk perempuan yang “Nakal”. Singkat cerita dia dan si pria Jepang kepergok oleh Mahasiswa terbaik di Le Cordon Bleu, mungkin suara rintihan Sean terdengar cukup keras. Mereka berdua dilaporkan ke Kepala jurusan. Kepala jurusan hanya tertawa, “Kalau mau begituan jangan di kamar mandi dan jangan sampai ketahuan” katanya. Setelah kejadian itu Sean tidak pernah meladeni si pria Jepang yang selalu meminta mengulang kejadian malam itu. Sean menghindari si pria Jepang “Orang Jepang tidak pandai memuaskanku” katanya. Aku tertawa. Sean, komedian terbaik yang pernah aku kenal.

Aku suka dunia menulis dan membaca, dari sana aku bisa melihat dunia dalam satu waktu. Aku mempunyai sebuah catatan sebagai lahanku menulis. Tumpukkan beberapa kertas yang aku jilid sendiri dengan kedua lubang di satu sisi buku lalu aku gabungkan dengan tali berwarna cokelat. Di catatan itu aku tidak hanya menulis keseharianku saja. Aku juga menulis semua pembeli bunga di Ran Fleuriste, semua alasan mereka membeli bunga, nama, umur dan untuk siapa mereka membeli bunga di Ran Fleuriste. Aku juga menuliskan daftar orang-orang yang layak menjadi panutanku, seperti tokoh-tokoh dunia dan tentunya ibu juga ayah. Kalimat-kalimat bijak dari mereka selalu aku tulis dan berulang-ulang aku baca untuk menyemangati diriku. Aku sering membawa catatanku kemanapun aku pergi, mencatat setiap kejadian yang ada, istilah-istilah baru yang belum pernah aku ketahui. Aku wanita yang pelupa, catatan ini juga menjadi mediaku untuk mengingat sebuah janji yang aku buat atau yang orang lain buat bersamaku. Bagiku menulis juga caraku berbicara ketika perkataan dari mulutku susah diutarakan ataupun ketika perkataanku tidak didengarkan orang-orang. Menulis membuatku menjadi lebih hidup. Ada kepuasan batin dan rasa tenang ketika aku selesai menulis sebuah cerita ataupun curhatan dan keluhan dalam satu hari, dan setidaknya ada pekerjaan lain selain mengurus Ran Fleuriste dan berkebun.

Aku mencintai mereka yang suka membaca buku. Aku berbeda pandangan dengan wanita-wanita lain soal pria yang baik. Disaat para wanita menggilai pria yang hobi bermain basket, seorang personel band ataupun pria yang bertubuh kekar. Aku berbeda dengan mereka. Aku lebih menyukai pria kutu buku, pria yang menggunakkan waktunya dengan baik seperti membaca buku atau menulis, bukan dugem ataupun bercumbu di taman vondelpark. Bagiku membaca adalah bentuk kecintaan kita terhadapa pencipta, karena dari membaca kita juga bisa lebih mengetahui keagungan tuhan. Aku belum menemukan pria yang seperti itu. Banyak pria yang hanya mengejar popularitas ataupun materi tanpa mengejar kecerdasan dan jati dirinya sebagai manusia. Padahal hidup semata-mata bukan karena uang melainkan karena hati dan jiwa kita yang menuntut untuk bisa menjadi apa yang diinginkan tuhan dan orang-orang banyak. Intinya aku belum pernah menemukan pria kutu buku dan suka menulis. Aku merindukan sosok pria seperti itu.

Aku masih menunggu truk dari Anna Paulowna datang. Truk yang membawa stok untuk keperluan toko bungaku, seperti bibit, pupuk dan buket. Tidak biasanya truk besar itu datang terlambat. Sean mempertanyakan keterlambatan truk itu padaku. “Aku nggak tahu, Sean. Semoga nggak ada apa-apa, ya.” Kataku.


(Bersambung)

Thursday, May 28, 2015

RAN FLEURISTE (Episode 1)

Pagi ini sisa hujan menutupi pandanganku, perlahan berubah jadi remah-remah embun yang menyelimuti kaca toko bunga milikku, menghalangi mereka melihat jajaran vas bunga yang tersusun rapi. Malam tadi hujan sangat deras. Tidak ada bintang, tidak ada kenangan yang pantas untuk diingat. Udara dingin masih saja menyetubuhiku sejak malam tadi, masuk melalui celah-celah jendela dan pintu ditempat ini. Tempat mengenang, tempat untuk melihat orang-orang yang datang dengan kecemasan, kecintaan dan keputusasaan.

Banyak perempuan bertubuh molek yang mendatangi tokoku hanya sekedar bertanya apa arti nama toko bungaku, Ran Fleuriste. Fleuriste nama yang sangat sederhana diambil dari bahasa Prancis yang punya arti: toko bunga, dan Ran?. Ah, mereka lupa bahwa Ran adalah Ranum, tiga huruf yang cukup mewakili namaku. Mereka yang muda dan masih perawan hanya datang untuk memuji keindahan bunga-bunga yang tersusun rapi dengan Vas bunga yang mayoritas berwarna putih, warna kesukaanku. Hanya orang-orang yang benar-benar mencintai keindahan yang membeli bunga di tokoku. Keindahan yang mampu merubah raut wajah mereka setiap aku menjelaskan filosofi dari bunga-bunga yang ada di Ran Fleuriste. Menghilangkan kepenatan mereka, masalah rumah tangga antara sepasang suami istri ataupun sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta.

Dari sudut tempatku berdiri. Aku bisa melihat anak-anak ceria memainkan bola-bola kecil di Vondelpark, seorang kakek yang duduk dengan topi layaknya penyanyi jazz, gelisah menunggu bus kota datang. Beberapa nenek yang mondar-mandir di atas jajaran batu yang disusun rapi, yang diyakini bisa memperpanjang usia. Para pemuda yang bersepeda memutari taman kota dengan earphone yang selalu menempel di telinga. Vondelpark adalah taman kota paling terkenal dan paling luas di Amsterdam, luasnya mencapai 47 hektar. Taman dengan ciri khas bertuliskan I Amsterdam yang menjadi daya tarik turis-turis lokal ataupun mancanegara.

Aku masih sibuk membersihkan kaca tokoku, merapikan bunga yang berantakkan akibat sapuan angin malam tadi. Ran Fleuriste masih belum dibuka, aku masih menunggu stock bunga baru yang datang dari Anna Paulowna, sebuah gemeente Belanda yang terletak di provinsi Noord Holland. Anna Paulowna adalah sawah bunga tulip terbesar di Belanda tempat berkumpulnya para petani bunga dan bunga-bunga yang indah.

Toko kue milik Sean, sahabatku, juga belum dibuka, toko Sean ada diantara Ran Fleuriste dan ruko yang masih kosong sejak ditinggal dua tahun lalu oleh pemiliknya, penjual aksesories khas belanda yang pindah ke Prancis setelah menikah dengan suster cantik yang sering mendatangi tokonya. Kakek Winskel baru saja datang membuka pintu kedai teh bersama seorang pelayan kedai yang mulai merapikan kursi-kursi kayu yang ada di depan kedai teh kakek Winskel. Kakek Winskel tersenyum, senyuman khas yang selalu ada setiap pagi, senyum harapan yang selalu membekas dalam ingatanku mataku berbinar membalas senyumanya, kakek tua renta yang masih semangat bekerja disaat kakek-kakek lain lebih memilih duduk di kursi goyang yang ada di balkon rumah, bercengkraman dengan cucu-cucu mereka yang imut dan menggemaskan. Kedai teh kakek Winskel berada persis disamping Ran Fleuirste.

Seperti biasa aku selalu memberikan kakek Winskel setangkai bunga tulip berwarna putih sebagai bentuk untuk menyemangati hari-harinya. Kakek Winskel selalu menerimanya dengan ramah lalu meletakkannya pada vas kaca yang diletakkan di meja pemesanan teh. Kakek Winskel berumur 70 tahun, hidupnya sepenuhnya diberikan untuk kecintaannya terhadap teh. Sudah hampir seluruh penjuru dunia dia arungi hanya untuk mencari teh dengan citrarasa luar biasa. Negara penghasil teh terbaik seperti Jepang, China dan Sri Lanka sudah pernah dia datangi bersama istrinya. Sayang, perjalanan Kakek Winskel berhenti di Tibet, tempat asal Po Cha. Istrinya meninggal di Lhasa, Ibu Kota Tibet. Istri Kakek Winskel mengidap penyakit jantung sejak usia 40 tahun. Sejak kejadian itu Kakek Winskel membuka Kedai teh yang diberi nama Scarlet Thee untuk mengenang mendiang istrinya, Scarlet.

Sean, sahabat masa kecilku. Perempuan tomboy yang sangat menyukai Queen, Band Rock asal Inggris. Setiap pagi dia selalu memutar lagu Bohemian Rhapsody sangat keras sembari merapikan toko kuenya yang terkesan berantakkan. Dia tidak pernah peduli dengan interior yang ada di tokonya. Meski aku menganggap tokonya berantakkan. Tapi, Kue yang dibuat Sean adalah kue paling enak di Amsterdam. Toko kue dengan Nama Queen of Sean. Tokonya tidak pernah sepi. Kuenya selalu habis terjual saat Open Lucht Theater berlangsung. Sebuah pertunjukan seni. Baik konser musik, pagelaran teater, atau tarian yang diadakan di Vondelpark juga ketika Vrijmarkt dibuka. Pasar yang dibuka untuk memperingati kelahiran Raja / Ratu Belanda. Sean tidak pernah peduli dengan penampilannya, celana jeans ketat yang dipenuhi dengan tambalan kain bergambar Queen. Baju hitam tanpa lengan yang juga bergambar band Queen menjadi seragam sehari-harinya. Sangat tidak pantas untuk menggambarkan seorang penjual kue. Dia pernah bilang padaku bahwa dia punya dua lusin seragam yang serupa tapi, aku tidak pernah percaya. 

Aku dan Sean satu Universitas di Prancis, Le Cordon Bleu namanya. Le Cordon Bleu adalah institusi pendidikan keramahtamahan terbesar di dunia, dengan lebih dari 22.000 murid dan ada di 20 negara. Institusi ini hanya mengajarkan manajemen keramahtamahan dan seni kuliner. Tapi, sayang Sean tidak menyelesaikan studinya di Le Cordon Bleu, dia memilih pergi ke Belanda meneruskan menjadi penjual kue yang sebelumnya dikerjakan ibunya. Ibunya meninggal tiga tahun lalu akibat kecelakaan mobil. Ayahnya minggat, entah kemana. Sean wanita yang sangat rapuh, penyendiri. Hanya denganku dia bisa berubah jadi gila dan kekanak-kanakan. Dulu Sean sering ditinggal pacarnya karena tidak kuat meladeni sikap Sean yang bahkan melebihi seorang laki-laki. Mantan-mantan Sean pada akhirnya pergi menjauh karena jijik melihat tampilan Sean yang tomboy. Kini Sean tak pernah lagi percaya terhadap laki-laki, dia antipati. Baginya semua laki-laki adalah bajingan yang terpaksa diciptakan tuhan untuk menjadi pasangan hidup para wanita kesepian yang ada di muka bumi, termasuk ayahnya. Wanita malang yang terkadang dia juga galau saat teringat mantan-mantannya ketika di Le Cordon Bleu, sungguh perempuan aneh. Aku iri dengan Sean, mantannya lebih dari selusin. Beda denganku yang sampai hari ini belum pernah merasakan kasih dari seorang pria.

Namaku berasal dari bahasa Skandinavia, yang punya makna: Rumah. Aku wanita yang mencintai kedamaian dan kesendirian. Berbeda dengan Sean yang punya tampilan layaknya preman. Aku tampil cukup feminim dengan celemek putih bergambar bunga tulip yang menjadi ciri khas-ku setiap bekerja. Jeans hitam, baju putih lengan pendek dan sepatu kets adalah style-ku. Aku punya banyak sepatu kets beragam warna. Hari Senin ini adalah jadwalku memakai sepatu kets warna merah pemberian Sean sebagai kado ulang tahunku yang ke 22.

Ibuku seorang petani tulip di Anna Paulowna, Namanya Maria. Ibuku juga seorang pelukis amatir. Hanya bunga tulip yang selalu dia lukis. Bunga yang mempertemukannya dengan ayahku. Seorang prajurit tentara yang tegas, berwibawa juga sangat sederhana. Ayah memberikan bunga tulip warna putih untuk melamar ibu. Hanya setangkai, itupun ayah memetik dari kebun bunga milik orang lain. Ayahku bernama Thomson, selama hidupku aku belum pernah sekalipun melihat wajah ayah. Ibu bilang ayah meninggal saat pejalanan menuju rumah sakit tempat aku dilahirkan. Mobilnya remuk dihantam kereta yang melintas. Mobilnya tidak bisa bergerak tertahan ditengah rel. Ayah mencoba keluar namun tidak bisa, medan magnet dari kereta itu sangat kuat. Ayah mencoba memecahkan kaca depan mobil, tapi semua terlambat. Kereta itu terlanjur menabrak mobil yang dikendarai ayah. Aku memang berbeda, aku terlahir tanpa seorang ayah.


(Bersambung)