Saturday, June 18, 2016

Arthur #2 Eps. 6



Ketika hari baru saja mulai, pagi yang dingin berganti dengan teriknya siang. Prof. Uru dan Arthur masih sibuk mengobrol di salah satu sudut Boulgetse. Di antara rak buku politik dan sosial mereka menghabiskan kopi bersama.

“Jadi gimana bisa, di perpustakaan sebesar ini, dengan koleksi buku yang hampir sejuta, ada peralatan kedokteran,” Tanya Arthur pada Prof. Uru.

“Perpustakaan ini sudah seperti rumah kedua bagiku dan ayahmu, Arthur. Dulu selalu ada pengobatan gratis di tempat ini... Ayahmu yang membuat program itu.”

“Ohyaa?? Unik juga, baru aku dengar perpustakaan jadi tempat pengobatan gratis.”

“Itu uniknya ayahmu, Arthur. Beliau bisa melakukan kebaikan di banyak tempat.”

Kopi dalam cangkir itu semakin pekat, pembicaraan menjerumus kearah kegelapan Kota Nanoi selepas peninggalan Witson. Beberapa buku telah habis dibaca Arthur, buku-buku tipis dengan halaman yang tidak sampai menyentuh seratus.

“Dulu, aku tidak terlalu peduli dengan kehidupan ayah di pemerintahan. Aku sibuk mengejar Ana, bermalas-malasan di rumah, menjadi komentator, kritik sana-sini. Hidup terlalu nyaman saat itu, sampai aku lupa aku menikmati kenyamanan orang lain bukan menciptakan kenyamananku sendiri.”

“Kalau aku boleh bertanya, apa yang membuatmu tidak peduli, bahkan terhadap Ayahmu sendiri,” Prof. Uru duduk setelah lama berdiri.

“Politik.”

“Politik?? Kenapa?? Bukannya semasa Ayahmu memimpin kota ini, politik berjalan dengan baik? Kondusif, semua terkendali ditangan Witson.”

“Yaahh, well. Bagiku politik itu kotor. Cuma dengan cara kotor politik bisa berjalan,” Arthur mengembalikan buku yang telah selesai dibacanya.

“Ditangan Ayahmu, tidak ada politik kotor, semuanya bisa berjalan dengan baik. Kesejahteraan meningkat pesat. Kemiskinan turun. Warga Kota merasa bahagia dibawah kepemimpinan Witson.”

“Nah, baru belakangan ini aku jadi sadar, kebencianku sama yang namanya politik justru nggak baik buat kedepannya. Semua harga ditentukan sama keputusan politik, harga buah, sayur, daging, barang-barang yang kita pakai. Semuanya. Cuma banyak orang yang belum sadar,” Arthur sibuk mencari buku.

“Mereka sibuk cari kesalahan orang. Sampai lupa memperbaiki kesalahannya sendiri. Politik bukan untuk dijadikan kambing hitam dari suatu permasalahan. Politik justru diciptakan untuk memperbaiki, menyelesaikan permasalahan itu sendiri, menjadi jalan keluar.”

Arthur tersenyum, menemukan satu buku yang menarik perhatiannya. Diambilnya buku itu, dengan sampul yang tidak menarik. Hanya ada judul pada sampul buku itu. Buku sejarah perjalanan Kota Nanoi. Buku yang tebalnya membuat Arthur harus membawanya dengan kedua tangan.

“Itu buku, cuma tersisa beberapa copy, yang entah dibawa siapa. Buku tua, rapuh,” Jelas Prof. Uru.

“Beberapa copy?? Kemana yang lain??” Tanya Arthur.

“Hilang bersama sejarahnya, buku itu cukup dicari untuk dibajak, dipalsukan,” Prof. Uru membenarkan letak duduknya.

“Loh, bukannya kalau dibajak dan dipalsukan justru semakin banyak?”

“Seharusnya gitu, buku itu dibajak dan dipalsukan bukan untuk dibaca. Tapi digunakkan untuk bahan bakar. Ketika Kota Nanoi mengalami krisis minyak.”

“Ha?? Kenapa bukan buku yang lain??” Arthur membuka halaman demi halaman di buku itu.
“Entah, seperti misteri yang belum terpecahkan.”

Arthur sibuk membaca halaman pertama buku itu, telunjuknya bergerak mengikuti alur baca. Prof. Uru beranjak dari kursinya, mengisi ulang cangkir kopinya yang kosong. Menuju mejanya dan mengambil koran kota yang dibelinya di pasar.

“Coba baca ini,” Prof. Uru melemparkan koran pada Arthur.

“KOTA INI BUTUH PAHLAWAN,” Arthur membaca pelan judul yang bercetak tebal di halaman utama koran. Menatap Prof. Uru yang menatapnya.

“Kamu harus balas dendam atas apa yang dilakukan padamu, Arthur. Jadilah Pahlawan untuk kota ini, untuk kotamu.”

“Untuk apa?? Kita bisa terus hidup di sini tanpa dicari. Orang-orang mulai melupakan kita,” Arthur melipat koran.

“Kota ini sekarat Arthur, banyak yang harus diselamatkan. Kita nggak bisa berdiam diri disaat yang lain butuh perlindungan,” Tegas Prof. Uru.

“Kalau gitu kenapa bukan Prof. Saja yang jadi pahlawan buat mereka,” Tegas Arthur.
“Aku sudah terlalu tua untuk itu. Kamu masih muda Arthur, ini kesempatanmu. Ingat pesan Ayahmu. Kalau kamu mau, aku punya penawaran. Akan jadi menarik kalau kamu yang melakukan.”

Arthur terdiam. Membuka kembali koran yang dilipatnya. Membaca judul itu dalam hati. Muncul sosok Witson di kepalanya. Prof. Uru menunggu—menatap Arthur yang terlihat berpikir keras.

“Jadi??” Tanya Prof. Uru.

“Semenarik apa tawaranmu??”


 (BERSAMBUNG)


Friday, June 17, 2016

Arthur #2 Eps. 5



Boulgetse adalah perpustakaan kota yang dibangun pada masa kepemimpinan Witson, Boulgetse mempunyai hampir satu juta koleksi buku. Perpustakaan ini mempunyai ruang bawah tanah yang sangat luas. Bangunan yang lebih mirip gereja dengan lonceng dan jam berukuran besar di bagian atas bangunan. Boulgetse dibangun sebagai fasilitas untuk kaum miskin di Kota Nanoi, agar mereka gemar membaca dan tidak menjadi masyarakat yang bodoh. Witson meyakini dengan membaca hidup manusia akan lebih mudah. Para Anei menyegel bangunan itu setelah kematian Witson. Para Anei takut pengaruh membaca dapat mengubah pandangan kaum miskin terhadap mereka.

Boulgetse menjadi tempat persinggahan Witson ketika tidak sedang di Balai Kota, baginya ketentraman adalah ketika kita berhasil hanyut dalam setiap kata yang ada didalam buku. Membaca menjadi kebutuhan Witson setiap hari, Semasa Arthur kecil, Witson selalu mengajaknya ke perpustakaan untuk sekedar menghabiskan waktu dengan membaca buku. Kebiasaan itu membuat Arthur juga menggemari buku. Bagi Arthur buku bukan sekedar jendela dunia. Buku adalah rumah, tempat kita pulang. Rumah adalah tempat pertama yang paling dirindukan setiap manusia.

Prof. Uru juga sering menghabiskan waktu di Boulgetse untuk melakukan riset melalui buku-buku yang ada disana. Bahkan selain Witson yang mempunyai kunci perpustakaan itu, Prof. Uru juga mempunyai kunci Boulgetse. Kunci pemberian Witson supaya Prof. Uru bisa leluasa melakukan riset dalam urusan pekerjaannya. Sahabat, sekaligus orang kepercayaan Witson semasa menjadi wali kota.

Dulunya Boulgetse selalu ramai saat malam tiba, saat jam kerja habis. Para pekerja memilih untuk menghabiskan waktu di Boulgetse untuk membaca dan sesekali bertemu dengan Witson, berdiskusi tentang banyak hal. Keunikan Witson dalam memimpin Kota Nanoi saat itu, Witson lebih memilih perpustakaan sebagai tempat pertemuan, berbeda dengan pemimpin lain yang membuka Balai Kota untuk berkumpul bersama warganya. Orang-orang menyebut Witson, Malaikat dari Surga atas kebaikan dan kemurahan hatinya terhadap banyak orang.

Kini, Boulgetse menjadi tempat yang terbengkalai, semak-semak ilalang tumbuh di sekitar bangunan itu dan menutupi sedikit bagian bawah bangunan. Seperti kebanyakan perpustakaan di kota-kota besar. Sepi, terbengkalai. Untuk mencari kesunyian di kota-kota besar, pergilah ke perpustakaan. Disana sepi, selama minat baca orang-orang tidak tumbuh. Selama itu pula perpustakaan menjadi tempat asing.

Tapi hari itu, hari saat kejadian berdarah di Balai Kota menggemparkan seluruh penjuru Kota. Boulgetse kedatangan dua tamu. Satu terkapar penuh darah dibagian wajah, satu yang lainnya menggendongnya dengan susah payah turun dari mobil khas Balai Kota dengan atap berbahan kulit yang bisa dibuka. Prof. Uru dan Arthur menjadi penghuni baru Boulgetse setelah sekian lama tempat itu tidak disinggahi

Sesaat ketika Arthur jatuh akibat bidikkan Askar Kecha, Prof. Uru berlari menuju ruangan Charles dan membawa Arthur sebelum petugas keamanan Balai Kota datang. Saat sirine tanda bahaya dinyalakan, Prof. Uru sudah mengendarai mobilnya dan berhasil keluar dari Balai Kota tanpa kesulitan apapun. Hal pertama yang dipikirkan Prof. Uru adalah tempat persembunyian, awalnya Prof. Uru memikirkan rumahnya untuk menghilangkan jejak Arthur. Tapi ketika Mobilnya melewati Boulgetse, seketika Prof. Uru membelokkan mobilnya lalu memakirkannya di bagian belakang Boulgetse yang berbatasan langsung dengan laut.

Prof. Uru kesusahan menangani sendiri luka di mata Arthur. Untungnya Boulgetse bagai rumah baginya. Seluruh alat kedokteran masih tersimpan rapih di satu ruangan di Boulgetse. Setelah dua hari pasca kejadian itu, Arthur terbangun dari tidur panjangnya. Bertanya apa yang terjadi. Arthur jadi seperti seorang yang amnesia. Lupa segala hal, mungkin karena ada bagian dari saraf matanya yang putus akibat busur panah Askar Kecha. Amnesia yang dialami Arthur tidak bertahan lama, hanya beberapa jam setelah dirinya terbangun, Arthur sudah ingat semuanya dengan jelas.  

Sudah hampir dua minggu Arthur tidak keluar dari Boulgetse, Prof. Uru melarangnya. Sudah hampir dua minggu juga Prof. Uru melakukan penyamaran ketika pergi ke pasar kota untuk membeli bahan makanan. Prof. Uru melakukan penyamaran sebagai petani buah dan sayur, dengan menumpang truk-truk pembawa hasil pertanian dan perkebunan yang melintas—melewati Boulgetse.

Dendam yang mulai merajai tubuh Arthur mulai tidak terkendali. Dendam karena Natalie telah merebut semua darinya. Satu pesan di ponsel Rey menjadi bukti keyakinan Arthur, bahwa Askar Kecha adalah Natalie. Orang yang juga menjadi dalang dibalik kematian ayahnya. Hari-hari dihabiskan Arthur untuk bersumpah serapah di hadapan Prof. Uru. Sampai suatu ketika Prof. Uru menawarkan Arthur sesuatu yang menarik.


(BERSAMBUNG)

Thursday, June 16, 2016

Arthur #2 Eps. 4



Proyek pembangunan kawasan terpadu untuk para Anei sudah memasuki tahap akhir. Bangunan yang menjulang tinggi terlihat dari seantero kota. Proyek pembangunan yang memakan waktu hampir dua tahun itu menjadi pesan terakhir dari Witson untuk Arthur. Pajak dari masyarakat miskin Kota Nanoi digunakkan untuk membiayai 50% pembangunan kawasan itu. Proyek yang mencapai luas 50 hektar itu berdiri diatas empat pulau di pantai utara Nanoi. Selain untuk kawasan terpadu para Anei, rencananya proyek reklamasi dibangun untuk membuat permukiman baru warga kota.

Tidak ada yang tahu apa tujuan proyek itu. Warga miskin Kota Nanoi awalnya menyambut baik kabar itu. Tetap saja, tidak ada yang gratis di Kota Nanoi. Natalie memungut biaya tinggi untuk satu rumah di permukiman baru itu. Pro-kontra menghiasi mega proyek. Surat kabar indie di Nanoi mengkritik besar-besaran pemerintah kota dan para Anei. Pajak yang dipungut seharusnya menjadi tiket masuk warga kota untuk memilikki satu hunian baru disana. Melawan pemberitaan itu, para Anei menyebar propaganda melalui semua media kota. Beberapa surat kabar indie yang bertentangan mulai dibredel. Surat kabar indie yang lain mencari aman dengan ikut menyebarkan propaganda.
 
Permukiman antara warga miskin dan kaya mulai dipisah. Pemerintah kota memberi batas tembok beton tinggi dengan pagar hitam diatasnya. Polisi kota juga menjaga perbatasan itu. Truk-truk pegangkut disiapkan di perbatasan. Permukiman untuk warga miskin semakin terlihat kumuh ketika hujan turun, tanah yang becek akan berubah menjadi lumpur. Berbanding terbalik dengan permukiman warga kaya Kota Nanoi, semua tampak indah, taman-taman kota, udara yang terasa sejuk dan segar, bangunan yang kokoh dan kuat. Juga anjing penjaga pemberian para Anei di masing-masing rumah. 

Perwakilan dewan kota dari salah satu partai pembela kaum miskin mulai mengajukan banding atas kebijakan dari para Anei dan pemerintah Kota. Dalam persidangan dewan. Perdebatan alot terjadi. Pembelaan terhadap warga miskin Kota Nanoi mulai menguat. Mereka mengancam akan mogok bekerja jika permintaan tidak dipenuhi. Dalam hal ini, kaum miskin Kota Nanoi menjadi yang terkuat, karena mereka sudah sejak lama dipekerjakan oleh kaum kaya.

Mendengar itu para Anei balas mengancam. Dalam persidangan dewan para Anei mengancam akan mengganti para pekerja dari kaum miskin itu dengan Robot. Sehingga membuat kaum miskin kehilangan pekerjaan, hidup miskin selamanya, mati kelaparan dan mayatnya dibiarkan membusuk atau menjadi makanan bagi para anjing penjaga.

Kota Nanoi butuh pahlawan seperti Witson. Kematiannya membuat segala yang adil berubah berpihak pada salah satu kubu. Kekuatan para Anei susah dibendung. Diktaktor baru mulai bermunculan. Pemimpin distrik yang membelot diganti dengan orang-orang yang setia dikalangan Anei. Pemerintah Kota benar-benar serius menghapus jejak kepemimpinan Witson yang dicintai rakyatnya. Seluruh kebijakan Witson dan peraturan yang dia buat, dihapus dan digantikan kebijakan baru, peraturan baru yang lagi-lagi memihak. Tidak ada yang bisa menghalangi, semua berjalan tanpa perlawanan. Karena melawan berarti bunuh diri.

Sementara itu Pemerintah Kota dan para Anei mulai melupakan hilangnya Arthur. Mereka menganggap Arthur telah tewas dalam percobaanya kabur dari kejadian berdarah di Balai Kota. Pemerintah Kota menganggap tidak akan ada manusia yang mampu bertahan hidup dengan hanya menggunakan satu mata. Apalagi mata yang tertusuk busur panah. Benar-benar sulit untuk menghentikan apa yang terjadi di Kota Nanoi. Lewat perundingan, dewan selalu gagal dalam pembelaan. Kaum miskin terpikir untuk menyerang balik dengan kekerasan, namun apadaya, meskipun jumlah mereka lebih banyak dari polisi kota, tapi perlengkapan persenjataan mereka tidak punya. Belum lagi Askar Kecha yang bagai penembak jitu. Tidak terlihat dan mematikan.

Ana yang berpikir keras untuk menerima misi dari Bibi Ana mulai berkemas, menyiapkan perlengkapan yang bisa dibawa. Ana mulai bisa melupakan Arthur dan Ayahnya. Ana mulai ikhlas untuk kehilangan dua orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Seperti perintah pena difoto pemberian Bibi Ana. Ana akan mengubah penyamarannya. Kali ini Ana tidak membawa persenjataan. Meninggalkan Anak panah dan busurnya di ruang bawah tanah. 

Hari itu, setelah petunjuk meeting point dikirimkan melalui ponselnya, Ana bergegas pergi mengendarai Cruiser hitam miliknya. Membelah jalanan kota yang sepi dengan suara Cruiser yang menggelegar melewati Boulgetse—Perpustakaan kota yang tidak satupun orang mengunjunginya sejak kematian Witson.


(BERSAMBUNG)

Friday, June 10, 2016

Arthur #2 Eps. 3

Ada yang menempuh sepi dengan sukarela, menggadaikan ramai yang membatasi antara sedih dan senang. Ada yang bahagia berada di keramaian. Ada yang memilih untuk menepi bersama sepi. Keduanya adalah makna dari kata yang bisa dibaca. Untuk beberapa orang kata itu tidak terbaca. Kehilangan. Bagian terberat yang bisa diterima hati manusia. Kehilangan tidak menghubungkan apa-apa, tapi berpengaruh atas apa-apa yang dicuri, dirampas dan direbut. Kehilangan jadi makna dari kata yang tidak terbaca jika manusia hanya sibuk dengan diri sendiri. Manusia-manusia sepi yang telah banyak kehilangan, tidak pernah benar-benar bisa merasakan kehilangan.

Lautan masih tanpa nelayan, sepi di lepas pantai Nanoi serupa dengan rumah Ana. Sudah lebih dari seminggu Ana menunggu ayahnya pulang. Menunggu Arthur membalas pesannya. Dengan kerisauan hatinya Ana masih mencoba memaksa dirinya untuk melupakan kejadian tempo hari. Paling tidak Ana hanya ingin mendengar kabar dari dua orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Hanya sebatas kabar, hanya itu yang Ana tunggu. Ada yang harus dijelaskan Ana pada Arthur dan Prof. Uru. Bahwa Ana mengetahui kejadian berdarah di Balai Kota. Ana melihat kejadian itu.

Hari itu, saat matahari tepat berada di jantung langit. Ana menyusuri bibir pantai tepat di depan rumahnya. Menatap sekitar, air laut yang menyentuh pelan kakinya seperti tidak terasa. Fokusnya tertumbuk pada rumahnya. Ana menatap cerobong asap berbahan batu bata di atap rumahnya. Aneh, rumah di pinggir pantai mempunyai cerobong asap, yang biasanya ada di rumah-rumah bersuhu dingin. Ada lingkaran serupa darts pada dinding cerobong asap itu. Ana menutup satu matanya, kedua tangannya serupa seorang pemanah yang memegang busur dan anak panah.

Ponsel di saku celana Ana berdering. Buru-buru Ana mengambilnya, Ada pesan yang tidak ingin Ana buka. Ana memasukkan ponselnya. Dering kedua menambah kesal Ana. Satu panggilan masuk dari orang yang sama yang mengirim pesan barusan. Ana menjatuhkan ponselnya di pasir pantai yang halus, dan berlalu—meninggalkannya. Ponsel terus berdering, getar dari ponsel itu membuat pasir pantai ikut bergetar dan menimbun ponsel Ana

Ombak tenang di lepas Pantai Nanoi. Ana menuju ruang bawah tanah dirumahnya, dari sana suara ombak masih saup-saup terdengar. Ana membuka pintu yang membatasi gudang dan tempat penyimpanan. Ana menyalakan bohlam kuning yang bersuara—membuat telinga sedikit terganggu. Di antara tumpukkan barang-barang rusak tidak terpakai, Ana mengambil satu kotak kayu, lalu berlutut untuk membukanya. Kotak kayu itu tidak bergambar dan bertuliskan namanya di bagian depan. Ana membukanya, satu busur panah melengkung sempurna, warna cokelat jadi terlihat mengkilap karena pantulan sinar bohlam, tali busur yang kencang disentuhnya, seperti seorang yang memetik senar gitar. Ana menghitung beberapa anak panah yang ada di wadah berbahan kulit.

Belum sempat Ana menutup kotak itu, suara seseorang yang berteriak memanggil namanya keras terdengar. Buru-buru Ana menutup kotak itu, menaruhnya dibawah tumpukkan barang-barang rusak tidak terpakai lalu mengunci pintu dan meninggalkan ruangan itu. Suara yang berulang memanggil namanya, sangat jelas dikenali Ana. Suara dari seseorang yang membuat Ana menjatuhkan ponselnya.

“Eh, Bibi. Ada apa??” Ana mengatur nafas yang menderu.

“Ana, Ana, Anaaaa. Kamu darimana sih?? Bibi berulang kali menghubungi ponselmu, nggak ada jawaban,” Bibi Ana menepuk pundak Ana.

“Memangnya ada apa, Bi?”

“Ada misi untukmu.”

“Misi?? Lagi??” Tanya Ana serius.

“Kali ini kamu cukup membantu yang lain,” Bibi Ana menjelaskan.

“Yang kemarin itu belum cukup??”

“Lebih dari cukup,”

“Lalu??” Tanya Ana.

“Kamu cukup membersihkan sisanya, Beliau tidak ingin ada jejak lain. Kamu dan yang lain diberi waktu dua hari untuk menyelesaikan. Ini targetmu, jaga baik-baik, jangan sampai orang lain tahu,” Bibi Ana menyerahkan satu lembar foto lalu pergi—meninggalkan Ana.


Setelah Bibi Ana berlalu. Ana melihat tulisan di bagian belakang foto, lalu membaliknya—melihat sosok yang ada dalam foto itu. tulang lehernya mengeras, lemas tangannya memegang foto. Keningnya beradu. Pikirannya berkecamuk, ini misi yang tidak mudah, pikirnya.


(BERSAMBUNG)

Thursday, June 9, 2016

Arthur #2 Eps. 2

Malam yang dingin itu membuat Ibu Arthur tidur lebih awal, memikirkan anaknya yang lama tidak berkabar. Berulang kali terbangun dan meminum segelas air. Pikirannya kacau, langit-langit rumah yang dia tatap menjelma wajah Arthur yang remuk-redam. Mimpi yang mengerikan membangunkannya lagi. Melihat wajah Arthur dengan satu mata kiri. Pijatan di keningnya belum cukup menenangkannya malam itu.

Tengah malam berlalu, suasana sepi berubah. Suara hentakkan sepatu di sekeliling rumah membangunkannya. Ibu Arthur mengintip dari celah jendela kamarnya. Beberapa polisi kota telah berdiri mengepung rumahnya dengan senjata laras panjang di lengan. Keringat di keningnya muncul, tiba-tiba tubuhnya menggigil. Matanya terus berkedip. Beberapa detik setelahnya suara ketukan pintu sedikit mengagetkannya.

Beberapa kali ketukan pintu pelan terdengar, dengan jantung yang terus berdebar, Ibu Arthur melangkah keluar dari kamarnya, beberapa kali berhenti dan memikirkan lagi apa yang sebenarnya terjadi. Suara ketukan pintu berubah semakin keras, terdengar seorang dibalik pintu meminta polisi kota untuk mendobrak pintu. Mendengar itu Ibu Arthur bergegas berlari menuju pintu rumah lalu membukanya.

Di depan pintu berdiri seorang wanita dengan mantel panjang dari bahu hingga betis. Kulit wajahnya putih mulus dengan rambut yang dikuncir membuat leher putihnya jelas terlihat. Kancing mantel yang tampak besar seukuran permen sejajar dari leher hingga pinggang. Celana panjang hitam ketat dan heels yang serupa warna membuat Ibu Arthur semakin jelas mengenali wanita di depannya. Di bagian kanan mantel cokelatnya tersemat lencana berkilau emas yang hanya dimilikki seorang di Kota Nanoi.

“Selamat malam Nyonya Witson,” Sapa Natalie.

“Natalie?” Ibu Arthur membuka lebar pintu.

“Bagaimana kabar anda?” Natalie berlalu—masuk  sembari melepas sarung tangannya. Dua pengawalnya ikut masuk lalu tegap berdiri si sudut ruangan yang tidak terlalu besar. Hanya ada satu lampu yang terang tepat di tengah ruangan dan beberapa kursi dan meja yang mengkilap karena pantulan lampu.

“Ada perlu apa anda datang kemari?” Tanya Ibu Arthur dengan mata yang masih terus menatap Natalie.

“Ku kira kau pasti tahu, kenapa aku kemari,” Natalie menatap sekeliling ruangan mungil itu.
“Maksudnya?”

“Aku mencari anakmu, Arthur. Dimana dia?” Dengan santai Natalie duduk di bangku kayu yang berdecit.

“Arthur?? ada urusan apa dia denganmu??” Tanya Nyonya Witson penasaran.

“Sudah seminggu lebih dia menghilang. Sejak kejadian berdarah di Balai Kota seluruh aparatur kota mencarinya. Dia—anakmu menjadi salah satu dalang kejadian itu.”

“Ha?? Kau pasti bercanda, Arthur sudah tidak ada dirumah sebelum kejadian di Balai Kota. Dia menginap diruman Ana, Anak Prof. Uru, dilepas pantai Nanoi.”

“Jadi, kau masih belum sadar? Seluruh polisi kota berpatroli hingga masuk kerumah-rumah warga hanya untuk mencari anakmu—Arthur!!” Suara Natalie keras terdengar hingga telinga polisi kota yang berjaga di luar.

“Geledah!!” Perintah Natalie. Dua pengawal yang berjaga masuk ke ruangan lain di rumah itu.

“Ada apa dengan Arthur, Nyonya??” Ibu Arthur mendekati Natalie.

“Dia—Anakmu sudah membunuh anakku,” Natalie beranjak dari tempatnya duduk, merapikan mantel dan rambut.

“Ha?? Membunuh?? Apalagi ini?? Tidak mungkin Arthur melakukan pembunuhan!!” Bentak Ibu Arthur. Beranjak dari kursinya menatap tajam Natalie.

“Mari kita buktikan di pengadilan kota,” Suara Natalie pelan tepat di telinga Ibu Arthur.

“Negatif Nyonya!!” Salah satu pengawal melapor.

“Bawa dia!! Bakar rumah ini!!” Natalie berlalu, memerintahkan polisi kota yang berjaga diluar dengan isyarat tangan.

Dua pengawal membawa Ibu Arthur yang berteriak dan memberontak. Salah satu pengawal langsung menggendongnya, membawanya menuju mobil berplat Balai Kota. Natalie yang berada di samping sopir, memerintahkannya jalan setelah Ibu Arthur dan dua pengawal masuk dan menutup pintu mobil. Ibu Arthur menatap rumahnya yang mulai terbakar. Ada air yang menetes jatuh dari matanya



 (BERSAMBUNG)

Wednesday, June 8, 2016

Arthur #2 Eps. 1

Hari-hari tetap sama. Kebisingan di Kota Nanoi berubah tidak terkendali. Hilangnya tubuh Arthur setelah kejadian hari itu, membuat Natalie bertanya-tanya. Natalie hanya menemukan Rey, Anaknya yang tewas tergeletak dengan lubang bekas peluru tepat di dadanya. Dan Charles, Komandan polisi kota yang tertancap pisau tepat di Glabella. Matanya melotot dengan darah yang mengucur membasahi seluruh wajah.

Seluruh penjuru kota siaga atas hilangnya Arthur. Para polisi kota berpatroli dengan senjata laras panjang di lengan. Kekosongan pemimpin dalam tubuh organisasi polisi kota, membuat banyak orang mengajukan diri untuk menggantikan posisi Charles. Natalie masih bungkam. Para Anei mulai menekan dan memojokkan Natalie atas kejadian berdarah di Balai Kota. Satu ponsel yang ditemukan Natalie di tempat kejadian, mengindikasikan sesuatu.

Ana yang mendengar kabar melalui koran kota, Was-Was. Ana tahu bahwa dalam kejadian itu Arthur dan ayahnya terlibat. Sudah tiga hari tidurnya tidak nyenyak. Ayahnya juga belum pulang sejak kejadian itu. Pesan Ana belum juga dibalas. Ponsel Arthur dan Ayahnya juga tidak bisa dihubungi.  Lepas pantai Nanoi bagai badai yang berkecamuk di matanya. Air muka yang terus membiaskan cahaya gelap mengartikan hal yang tidak ingin di alami Ana, kehilangan dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Seluruh rumah diperiksa. Kegaduhan terjadi dimana-mana, siang-malam, sirine siaga satu terus berkumandang di langit-langit kota. Mobil patroli terus berkeliling. Sejak kejadian itu tidak ada sepi di Kota Nanoi. Tiga hari yang mencekam, mencari Arthur yang bertekad menemukan dalang dibalik kematian Ayahnya.

Natalie merahasiakan sebab hilangnya Arthur dari sorotan media setempat. Anak panah dan bola mata Arthur yang terbelah buru-buru disimpannya. Simpang-siur warga kota Nanoi mengenai Askar Kecha mulai merebak. Warga kota menyebut Askar Kecha sebagai prajurit gelap, yang tidak pernah terlihat batang hidungnya. Hingga tiga hari kejadian itu berlalu, Natalie masih belum memberikan keterangan atas kejadian berdarah yang terjadi di Balai Kota. Sudah tiga hari Balai Kota terus dikerumuni warga yang ingin mengetahui kabar kelanjutan kasus yang menggemparkan seisi kota.

Para Anei terus melakukan propaganda melalui koran kota, radio dan televisi. Memberitakan hal negatif seputar kepemimpinan Natalie. Kaum miskin Kota Nanoi mulai mempertanyakan kepemimpinan Natalie. Di lain sisi, kaum kaya mempertanyakan pemberitaan Anei yang memojokkan Natalie. Wali Kota yang dipilih sendiri oleh Para Anei untuk menggantikan Witson, Ayah Arthur.

Hari ke lima setelah kejadian itu. Rey dan Charles di makamkan. Pemakaman dilakukan di pusat kota, Natalie sengaja menunda pemakaman, sembari menunggu keadaan kota sampai benar-benar terkendali. Hari itu tempat pemakaman di pusat kota ramai, warga kota berdatangan sebagai bentuk bela sungkawa. Pemakaman dilakukan secara terbuka dengan upacara khas kepolisian Kota Nanoi, sebagai bentuk penghormatan terakhir. Charles dan Rey diberi gelar Anumerta. Meskipun banyak yang mempertanyakan gelar yang diberikan Natalie.

Para Anei masih melakukan propaganda atas pemberian gelar anumerta pada Rey, anak Natalie. Para Anei beropini bahwa Natalie tidak berfikir ulang dalam memberikan gelar pada anaknya yang tidak memberikan sumbangsih apapun untuk kota. Anei menyebut, tidak ada alasan yang tepat dari Natalie untuk memberikan Rey gelar anumerta. Natalie masih bungkam. Setelah seminggu kejadian berlalu, papan-papan iklan di penjuru kota berubah menjadi foto Rey dan Charles, sebagai bentuk bela sungkawa dan penghormatan terakhir atas jasa yang dilakukan keduanya.

Pencarian Arthur dihentikan. Warga kota masih belum menyadari keterlibatan Arthur dalam kasus yang sempat mengguncang Kota Nanoi. Natalie masih bungkam dan merahasiakannya. Para Anei mulai menghentikan propaganda. Kegiatan kota mulai berjalan seperti biasa.  Ibu Arthur yang menjadi petani sayur dan buah mulai merasa aneh. Arthur sudah lama tidak pulang. Sudah lama juga Arthur tidak membantunya.


Kerisauan dalam dirinya mulai mengganggu pikiran. Hari-hari yang dilalui menjadi tidak biasa. Ada pertanyaan yang menggantung di keningnya, bagai buah apel yang siap dipetik. Rumah jadi tempat pengasingan. Malam-malam yang dilalui bagai gelap yang tidak kunjung usai. Sampai suatu malam ada yang mengetuk pintu rumahnya.

(BERSAMBUNG)

Thursday, June 2, 2016

Masih Sama

Ini hari aku bangun pagi,
Bersama sepi yang masih menghampiri
Ada bahasa yang diadu di pinggir jalan,
Mengubahnya jadi tempat penghakiman
Deretan tower di bukit itu menjulang,
Diantara awan yang berubah jingga
Ini pagi, langit tetap sama,
Apa adanya
Seperti kamu yang masih sama,
Bagai dingin pagi ini