Wednesday, October 5, 2016

Ge.

            Ponsel Ananta berdering. Satu pesan masuk. Ananta menolak membacanya. Apa yang dialaminya hari ini adalah keinginan dari banyak pria. Menikmati tubuh seorang wanita tanpa ikatan, tanpa takut ketahuan atau diganggu manusia lain. Rambut panjang Inneke yang tergurai menyentuh lembut kulitnya, gairah itu yang tidak dia dapatkan pada Amanda. Persetubuhan itu dihalangi oleh rambut Amanda yang terkuncir. Rasanya memang agak aneh, bersetubuh tanpa merasakan rambut yang tergurai, rasanya kurang untuk tidak menjambak ditengah-tengah permainan, tidak bisa mendengar suara kesakitan yang bercampur suara kenikmatan duniawi. Ananta masih berbaring telanjang di atas kasur hotel, melihat Inneke dengan jari-jari yang menyusuri perut sixpacknya. Persetubuhan diantaranya memang telah usai sejam yang lalu, tapi getaran dan rangsangannya masih bertahan. Persetubuhan yang lebih lama dari yang bisa diberikan Amanda.

            Ponsel Ananta terus berdering, dia meraih ponselnya diatas Nakas—meja kecil disamping kasur. Sembari merasakan sentuhan lembut Inneke pada kelaminnya, Ananta membaca dua belas pesan dari Niko, seorang teman masa SMA yang sedang menyelesaikan Studi S2nya di Jerman. Pesan pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima mengkonfirmasi kebenaran keberadaan Ananta di Amsterdam. Niko melihat status check in pada akun path Ananta. Pesan keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan, Niko mengajak Ananta untuk berlibur di Jerman. Sekaligus bertemu setelah sekian lama tak berjumpa. Pesan kesepuluh, sebelas dan terakhir memohon pada Ananta untuk meluangkan waktu ke Jerman, menemaninya yang sedang menghabiskan liburan pasca ujian akhir.

            Ananta tersenyum, keluguan Niko masih terasa bahkan hanya melalui pesan singkat, Ananta membalas pesan Niko saat Inneke mulai melakukan oral pada kelaminnya. Ada kelegaan dalam dirinya, matanya sempat terpejam singkat saat bibir Inneke mulai menyentuh, Ananta menarik nafas sebelum mengirim pesan balasannya pada Niko, lalu melempar ponselnya, mengibas rambut Inneke yang menutupi wajah cantiknya. Ananta menopang kepalanya pada dua tangan yang terlipat ke belakang. Merasakan kenikmatan yang mungkin tak bisa dia rasakan lagi setelah ini. Waktu benar-benar berpihak padanya. Waktu benar-benar memberikannya keuntungan. Waktu tidak pernah berbohong, waktu menghargai siapapun yang menghargainya.

            Ananta mengecek jam pada ponselnya, sudah lewat tengah malam. Dia membuka jadwal penerbangan ke Jerman.  Mencari beberapa pesawat yang berangkat lebih awal. Satu maskapai penerbangan asal Belanda akan terbang ke Jerman dalam enam jam. Ananta langsung membooking satu tiket, membayarnya lalu meletakkan ponsel diatas Nakas. Ada waktu lima jam untuk tidur. Ananta menarik Inneke, menyudahi permainan malam itu, menarik selimut, tidur dengan lengan menopang kepala Inneke dan dada yang merasakan lembut tangan Inneke. Sesekali tangan Inneke menyeruak masuk dibalik selimut, menyentuh rambut kemaluan Ananta. Seperti seorang Ibu yang menampar tangan anaknya, Ananta melakukannya pada Inneke. Mereka tersenyum, lalu bersama-sama menutup mata.

Tepat pukul enam, alarm ponsel Ananta berdering, Inneke mematikannya pada dering pertama. Enam lebih sepuluh, dering kedua alarm terdengar , Inneke mematikannya sekali lagi. Ananta masih tidur nyenyak. Enam lebih duapuluh menit dering ketiga alarm membangunkan Ananta. Pesawat KLM 1791 menuju Munchen berangkat pukul 07.15. Kurang dari satu jam untuk Ananta bersiap-siap. Ananta bangkit mematikan Alarm, lalu mandi, meninggalkan Inneke yang masih berbaring. Setengah sadar, Inneke meraih ponsel Ananta, mengambil foto dirinya dalam keadaan setengah telanjang dengan dada yang membusung—menggoda, lalu menjadikannya sebagai wallpaper. Inneke mengumpulkan tenaga untuk bangkit, persetubuhannya semalam benar-benar menguras energinya. Setelah merasa kuat, Inneke bangkit, memakai Dress Towel putih yang disediakan Hotel, membuka tirai jendela dan menguncir rambut.

Tak memakan waktu lama, Ananta hanya menghabiskan waktu sepuluh menit di dalam Kamar Mandi, Dia keluar dengan muka sumringah dan segar, memakai Dress Towel putih, mengelus cepat rambutnya.

“Kamu mau kemana??”
“Germany,” Ananta tersenyum, mengambil sisir yang tergeletak diatas Nakas.
“Mau ngapain??” Inneke memeluk Ananta dari belakang.
“Ketemu temen,” Ananta menyisir rambut.
“Cewek??” Inneke menyenderkan kepalanya pada punggung Ananta.
“Cowok… Temen SMA dulu.”
“Jangan pergi…” Inneke menarik tali Dress Towel Ananta.
“Pesawatku sebentar lagi berangkat,” Ananta menahan tangan Inneke.

Ananta Mengambil setelan jas, lalu memakainya. Inneke duduk di pinggir kasur, menggoda Ananta untuk bermain sekali lagi. Inneke masih punya waktu tiga jam sebelum penerbangannya. Ananta diam, sibuk merapikan dasi dan setelan jasnya. Selesai memakai sepatu, Ananta meraih ponselnya, tersenyum melihat foto Inneke di wallpapernya. Inneke ikut tersenyum, dalam tatapan penuh goda, Ananta mencium bibir Inneke, cukup lama, membuat Inneke terpejam—menikmati. Ananta melepas ciumannya, berpamitan lalu keluar dari kamar 119. Sekali lagi Inneke tersenyum, menatap pintu yang pelan-pelan tertutup.

            Ananta berjalan kaki menuju bandara, sembari mencari kontak Niko untuk menelponnya.

            “Hallo, Nik. Gue otw ke Munchen yaa. Pesawat gue berangkat jam tujuh.”
            “Munchen?? Kenapa nggak Berlin aja?? Lebih deket ke Nordhausen.”
            “Terlanjur! Pesawat paling pagi ke Munchen sih.”
            “Lo perlu gue jemput apa gimana??”
            “Jemput gue aja deh di bandara.”
            “Tapi lo harus nunggu. Kereta dari tempat gue sekitar lima jam-an.”
            “Gampang, cuma nunggu empat jam doang, kan?? Gue bisa!!”
            “Asiik... Okedeh.”
            “Siip! Thankyou, ya!”
            “Oke.”

            Ananta menutup teleponnya tepat ketika langkah kakinya menginjak lobby bandara. Ananta langsung melakukan Boarding setelah check in. Duduk di Nomor kursi yang tertera. Perjalanan memakan waktu satu setengah jam. Cukup bag Ananta untuk tidur sejenak.

            Gerimis turun di Munchen, setelah mengurus perihal imigrasi, Ananta membeli kartu perdana lalu sarapan di satu toko franchise terkenal. Ananta sengaja menghabiskan waktu sekitar satu jam di toko itu. Caranya membunuh waktu. Setelah satu jam berlalu, Ananta pergi ke gerai kopi memesan satu americano, duduk di kursi paling luar gerai itu, membeli koran dan mengganti kartu perdananya. Koran dalam bahasa jerman itu tidak dia baca, koran adalah bentuk manipulasi pertahanan diri, dengan membeli dan membaca koran Jerman, tidak akan ada orang yang mengira dirinya traveler atau orang dari luar Jerman. Trik yang unik.

            Beberapa Jam menunggu, gerimis mulai reda. Suasana berubah menjadi sejuk. Seketika kenangan menarik Ananta ke malam itu. Malam saat Inneke menyetubuhinya, seperti sepasang suami-istri. Kenangan juga menariknya pada persetubuhannya bersama Amanda di sofa ruang tamu Amanda. Matanya terpejam, senyumnya mengambang, bayangan itu tidak akan pernah keluar dari kepalanya.

Ananta merasa aneh dengan perlakuan Amanda padanya waktu itu. Dia masih tidak mengerti apa maksud Amanda. Ananta memikirkan dua hal. Pertama, Amanda memberikan itu karena dia sudah menikah dan meminta Ananta untuk tidak lagi menunggu dan memikirkannya. Kedua, Amanda ingin memberikan pesan bahwa dia tidak bahagia bersama suaminya dan meminta Ananta untuk masuk lagi ke dunianya, menghancurkan hubungannya dengan Marco, lalu hidup bersama. Ananta lebih yakin pada jawaban pertama. Amanda memang tipe wanita yang berani dan lugas, meski harus menggunakan tubuhnya untuk mengusir seseorang dari hidupnya. Meskipun akan menjadi dilema ketika Ananta justru menanggapinya santai dan justru semakin nyaman mengejar Amanda.

Segalanya telah berubah, tinggal menunggu waktu bagi Ananta untuk mati dilupakan. Mungkin Ananta salah, kenyamanan justru merenggut apa yang dia mau dari Amanda. Ananta sadar, orang-orang seperti dirinya yang terlalu sering terluka justru menjadi satu-satunya orang yang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan. Ananta terlalu buru-buru mengusir seseorang yang masuk ke dunianya dan fokus pada apa yang dia kejar. Sehingga dia tidak sadar, mungkin saat itu tuhan sedang iseng memberitahu siapa jodoh Ananta yang sebenarnya.

Ananta yang melamun, tersentak dengan suara dering telepon dari Niko.

“Halo... Lo dimana. Gue udah sampe nih.”
“Lo dimana?? Gue di Starbucks,” Ananta menoleh mencari keberadaan Niko.
“Ohitu, gue lihat, gue lihat,” Niko melambaikan tangan.
“Nik!!” Ananta menutup teleponnya, ikut melambikan tangan—membalas Niko.

Niko membawa seorang wanita yang mengikuti di belakangnya. Wanita itu memakai Capelet Coat dan celana panjang hitam.

“Hallo, Nan. Apa kabar lo??” Niko berjabat tangan dan memeluk Ananta.
“Baik-Baik. Lo gimana??” Ananta menatap Niko, sesekali melirik wanita di belakang Niko.
“Yaa, gini-gini aja, lah.”

Wanita itu mengingatkan Ananta pada Amanda karena sama-sama memakai sepatu Oxford warna cokelat kulit yang mengkilap. Rambutnya yang terkuncir membuat aura kecantikannya keluar secara natural, bibir tipisnya memakai gincu merah yang tidak terlalu tebal, warna matanya kecokelatan seperti menggunankan contact lens.

“Eh, kenalin nih... Geraldine, pacar gue,” Niko merangkul Geraldine
“Ananta,” Ananta tersenyum, mengenalkan diri.

Getaran dari tangan Geraldine membuat Ananta menjabat tangannya lumayan lama. Tatapannya meneduhkan, senyumnya menghangatkan, membuat Ananta terenyuh. Jantungnya berdebar kencang sesaat setelah Geraldine mengedipkan mata ke arahnya.

“Orang Indo juga,” Niko tersenyum.
“Really?? Oh... Hai Geraldine.”
“Hai, Ananta,” Geraldine tersenyum, melambaikan tangan.
“Panggil aja, Ge,” Kata Niko.
“Okee.. Kalian satu kampus??” Tanya Ananta.
“Yap,” Niko mengangguk mantap.
“So, mau keman kita??” Ananta bertanya pada Niko, matanya melirik Ge yang curi-curi pandang menatapnya.

Mereka bertiga pergi ke Kota Bonn, salah satu kota bersejarah bagi Jerman Barat. Kota ini pernah menjadi Ibu Kota Jerman Barat Sejak 1949-1990. Pada tahun 1990-1999 Kota Bonn pernah menjadi pusat pemerintahan Jerman. Bonn terletak di tepi Sungai Rhein, Negara bagian Nordrhein-Westfalen. Kota Bonn adalah Kota kelahiran, Ludwig van Beethoven, musisi yang sangat dikagumi Ge. Di Kota Bonn juga berdiri Monumen Beethoven untuk mengenang musisi yang melegenda itu. Salah satu keunikan kota ini adalah banyaknya bilik telepon umum khas eropa yang berwarna merah dirubah menjadi perpustakaan kecil yang tersebar di penjuru kota.

Sebelum balik ke Nordhausen mereka bertiga pergi ke Berlin. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kereta. Ananta dan Ge terus curi pandang, sesekali kaki mereka saling bersentuhan, mengelus lembut sembari masih melanjutkan pembicaraan bersama Niko. Membicarakan pengalaman masa SMA. Di Berlin mereka mengunjungi Brandenburger Tor yang merupakan bekas gerbang kota dan salah satu simbol utama Berlin,  Mereka juga betkunjung ke Tembok Berlin yang menjadi fakta sejarah dipisahnya wilayah Berlin Barat dan Berlin Timur dengan sebuah tembok beton yang didirikan pada 13 Agustus 1961

Tidak banyak tempat yang mereka kunjungi di Berlin, karena hari mulai malam. Mereka memutuskan untuk pulang sebelum jadwal kereta terakhir. Ananta menginap di Apartemen Niko yang masih satu gedung dengan Apartemen Ge. Sebelumnya Niko mengantarkan Ge sampai ke depan pintu Apartemennya. Mengucapkan selamat malam dalam bahasa Jerman. Sekali lagi, Ge mengedipkan mata ke arah Ananta. Niko tak mengetahuinya.

Di apartemennya. Niko membuka obrolan sebelum dia tidur.

“Flight, Gue besok jam sembilan pagi.”
“Ha?? Mau kemana lo??” Ananta melepas sepatunya.
“Pulanglah ke Indo... Liburan panjang gini.”
“Nah Si Ge, gimana??” Ananta melepas dasinya.
“Dia nggak ikut, kalo liburan gini dia kerja, ngumpulin duit buat balik.”
“Oh gitu,” Ananta mengangguk pelan.
“Lo ikut ya. Masih banyak sisa tiket kok terakhir gue lihat.”
“Hmm...” Ananta berpikir sejenak, muncul siluet wajah Geraldine dalam kepalanya.
“Ayolah,” Niko memohon.
“Ah enggak deh. Gue masih ada urusan lain disini,” Senyum Ananta menolak ajakan Niko.
“Asikk, pengusaha muda boy!!” Kata Niko dengan nada tinggi, membuat mereka tertawa bersama, menggetarkan dinding Apartemen.

Paginya, Niko berangkat menuju Bandara seorang diri, berpamitan pada Ananta yang setengah sadar, masih tertidur. Niko mempersilahkan Ananta untuk menggunakan Apartemennya selama dia di Jerman. Niko juga berpamitan pada Ge, memberitahunya bahwa Ananta masih tertidur dan akan mengurusi hal lain setelahnya. Geraldine tampak senang mendengar hal itu, dia mengantar Niko ke Bandara. Sebelum Niko masuk pesawat Ge memberikan kecupan singkat pada bibir dan kening Niko.

Dua jam setelah Niko pergi. Ananta masih tertidur pulas. Raut muka lelah tampak pada garis matanya. Ge yang baru sampai dari bandara langsung menuju Apartemen Niko. Meski apartemen Niko terkunci. Ge tetap bisa membukanya. Niko memang memberikan satu kunci apartemennya pada Ge. Setelah masuk dan mengunci pintu, Ge melihat Ananta yang masih tertidur, Ge bisa melihat wajah Ananta yang lesu dan tampak lelah dari pintu apartemen. Ge mengendap-endap, berjalan pelan, menghindari timbulnya suara yang bisa membangunkan Ananta. Ge menyelinap masuk selimut, berbaring tepat di samping Ananta, tubuhnya miring menghadap Ananta. Senyum mengembang di bibirnya. Beberapa menit Ge masih memandangi muka Ananta, kedua tangannya berada diatas bantal menopang kepalanya.

Mata Ge terpejam, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Ananta, sampai Ge bisa merasakan nafas Ananta yang menyentuh Fitrum—lekukkan pada bagian bawah hidung. Ge menggigit bibirnya sendiri, lidahnya menyapu bibirnya yang kering. Feromonnya naik, dalam waktu singkat, Ge memajukan bibirnya hingga menyentuh lembut bibir Ananta. Ge melihat tubuh Ananta yang menggeliat, Ge menjauhkan bibirnya. Jantungnya berdebar kencang, kedua matanya terus berkedip cepat. Sampai pada kedipan terakhir, Ge melihat Ananta yang membuka mata—menatapnya.

“Ge??” Raut muka Ananta berubah, lelah di mukanya tiba-tiba hilang. Jantung Ge seperti berhenti berdetak. Rasa canggung mulai datang, Ge hendak bangkit. Tapi Ananta mehanannya.

-----

Tuesday, October 4, 2016

Amsterdam 13°Celcius

Siang itu suhu Amsterdam mencapai 13°Celcius. Ananta tak sengaja terbang ke Amsterdam. Sebelumnya dia menerima satu surel yang masuk. Surel itu datang dari seorang wanita di Amsterdam. Tidak lain, surel itu datang dari wanita yang telah lama mengendap di kepalanya. Seorang wanita yang pintar menciptakan luka tanpa memberi obat penawar. Inneke bukanlah wanita yang mengirim Surel itu. Inneke hanya sebagian dari beberapa wanita yang mengharapkan Ananta.

Surel itu membuat jantungnya berdebar kencang. Sesuatu yang dia tunggu setelah setahun lebih akhirnya datang. Tuhan menjawab doanya. Namanya Amanda, lembut matanya benar-benar meluluhkan Ananta. Tatapannya selalu membuat Ananta merasa penting, merasa menjadi satu-satunya pria yang pantas memiliki Amanda. Tatapannya benar-benar meneduhkan hati. Manifesto wanita sempurna.

Inneke menginap di YOTELAIR Amsterdam Schiphol. Hotel yang memang disediakan untuk para pramugari beristirahat sembari menunggu penerbangan selanjutnya. Tapi, bukan YOTELAIR yang akan didatangi Ananta. Anne Frank Huis menjadi destinasi yang akan Ananta datangi. Anne Frank Huis adalah tempat persembunyian Anne Frank dan keluarganya. Anne Frank adalah remaja kelahiran tahun 1929 yang memiliki darah Jerman-Yahudi. Dia dan keluarganya bersembunyi dari  Rezim Nazi yang berusaha membunuh entis yahudi pada perang dunia kedua. Anne Frank Huis kini menjadi musem dan salah satu destinasi wisata turis yang terkenal di Amsterdam.

Amanda sedang berlibur di Amsterdam. Sudah tiga hari dia disana. Amanda mengirimkan surel pada Ananta untuk menemaninya sehari sebelum dia pulang, kembali ke Indonesia. Amanda adalah wanita yang sejak lama membawa Ananta pada mimpi-mimpi indah tidurnya. Tak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya Ananta mencintai Amanda, bahkan Inneke hanya dijadikan Ananta sebagai pelarian saat Amanda tak memfokuskan diri padanya. Bukan hanya Inneke, Ananta membuat teman-teman wanitanya berharap berlebihan padanya. Mengharapkan cinta dan kasih sayang darinya. Inneke hanya satu dari banyaknya wanita yang terlihat dicintai Ananta. Padahal, hanya Amanda yang menghuni hatinya, pikiran dan jiwanya. Ananta terpaksa memperalat orang-orang seperti Inneke untuk merebut hati Amanda.

Terdengar jahat, memang. Tapi, bukankah kita menjadi gila untuk orang yang kita cinta? Melakukan apapun untuk membuatnya nyaman dan berada di pelukan. Cinta memang jahat, cinta bisa mengubah manusia menjadi kesetanan. Ananta adalah contoh dari orang-orang yang merasa terluka, padahal dialah yang telah melukai hati banyak orang. Kita tahu, selalu ada konsekuensi bagi orang-orang yang bermain-main dengan cinta.

Ananta menunggu di depan Anne Frank Huis, diantara keramaian dan antrean turis-turis. Menunggu adalah bagian dari hidupnya, soal ini dia tak pernah mengeluh. Baginya, menunggu adalah seni mencintai. Orang-orang yang menunggu tahu betul untuk apa mereka melakukan itu, untuk siapa dan mengapa mereka harus menunggu. Bagi Ananta, Amanda adalah alasan besar baginya untuk menunggu bahkan sejak setahun yang lalu.

Tak lama Ananta menunggu. Kurang dari satu jam, matanya tertumbuk pada seorang wanita dengan blus putih dan jeans biru muda yang sobek di bagian lutut. Sepatu Oxford berwarna cokelat muda membuat senyum Ananta mengembang setelah melihatnya.

“Ayo,” Amanda tersenyum, menarik tangan Ananta.
“Looh, mau kemana?? Kita kesini, kan??” Ananta menunjuk Anne Frank Huis.
“Udah ikut aja,” Amanda menggandeng tangan Ananta.

Ananta tersenyum, melirik genggaman tangan Amanda. Jari-jari mereka saling melengkapi. Raut muka sumringah menghiasi langit-langit Amsterdam siang itu. Bahkan dinginnya yang mencapai 13oC justru terasa hangat. Tak ada percakapan selama perjalanan, Ananta tak pernah sedekat ini sebelumnya, dia tak ingin merusak suasana.

Beberapa menit jalan kaki, mereka berdua sampai pada satu rumah bergaya eropa dengan pintu berwarna hitam dan lonceng natal yang masih menggantung di bagian tengah daun pintu. Amanda melepas genggamannya, mengambil kunci pada saku kanan celananya lalu membuka pintu. Belum selesai Ananta bertanya tentang rumah itu, Amanda menarik tangan Ananta, lalu menutup pintu, menyandarkan tubuh Ananta pada pintu—mencium bibirnya. Tangan Amanda meraih kunci, memutarnya, mengunci pintu setelah dua kali tekanan.

Seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Ciuman itu terasa keras sama sekali tak menggoda. Ananta mencoba menguasai suasana, mengubah ritme ciuman Amanda yang terburu-buru. Ananta menciumnya lembut, tidak tergesa-gesa, Amanda melingkarkan tangannya pada leher Ananta. Amanda memainkan bibirnya, menggigit bibir Ananta. Lidah mereka saling memagut, bersentuhan dengan lembut. Amanda melepas sepatunya dan melemparkannya sembarangan. Ananta membuka kancing blus Amanda dengan cepat, tangan Amanda membuka resleting Ananta lalu masuk dan mengelus lembut.

Amanda menarik blus setelah Ananta membuka semua kancingnya. Ananta membuka Jas dan menarik dasinya kasar. Ciuman itu masih berlangsung dan semakin keras. Kedua tangan Ananta berusaha melepas kait bra putih yang dipakai Amanda. Setelah Bra Amanda lepas, Ananta mengangkat tubuh Amanda, membuat kaki Amanda melingkar pada pinggangya. Ananta menopang tubuh Amanda dari bawah, Amanda melingkarkan tangannya pada leher Ananta, sekali lagi.

Ananta membawa tubuh Amanda menuju sofa ruang tamu rumah itu. Membaringkan tubuh Amanda pada sofa cokelat. Ananta melepas ciumannya, lalu mencium leher Amanda lembut dan tak tergesa-gesa. Deru nafas Ananta membuat feromon Amanda naik dan memuncak. Ciumannya terus menyusuri tubuh Amanda yang putih langsat, hingga dada, Ananta menggigit puting Amanda, membuatnya merintih. Ananta bangkit, melepas kemejanya, lalu kembali menyusuri tubuh Amanda, hingga perut dan pusar. Tangannya melepas kancing jeans Amanda, lalu menurunkannya tepat pada lutut Amanda. Mata Amanda terpejam, suaranya merintih saat bibir Ananta mulai menyentuh rambut kemaluannya.

Satu jam setelah kenikmatan itu. Mereka yang berbaring bersama di kagetkan oleh suara ponsel masing-masing. Inneke mengirimkan pesan, berupa foto nomor kamarnya. Ananta menghiraukan pesan itu. Menatap Amanda yang menerima panggilan masuk dalam keadaan telanjang.

“Siapa??” Suara Ananta pelan, menggoda.
“Pakai bajumu,” Amanda melemparkan setelan jas Ananta.
“Aku masih punya banyak waktu, sayang,” Ananta bangkit dari tidurnya, duduk, memandangi Amanda yang mulai mengenakan bajunya.
“Ada yang mau datang.”
“Siapa??”
“Cepat pakai bajumu.”

Ananta memakai setelan jasnya, rapi seperti semula. Lalu duduk santai, menyalakan TV. Amanda membawakan satu gelas champagne untuk Ananta, duduk disampingnya. Seakan teringat sesuatu, Amanda bangkit menuju pintu, membuka kunci lalu kembali duduk disamping Ananta, melipat tangan di dada. Ananta mencoba menggoda Amanda, menciumi lehernya. Tapi, Amanda menghindar.

Suara hentak kaki terdengar, Amanda bangkit dan menuju pintu. Seorang pria bule dengan jenggot yang lebat dengan topi fedora dan mantel cokelat yang menutupi badan hingga ke lutut membuka pintu, memberi salam dalam bahasa Belanda. Pria itu mencium bibir Amanda singkat. Ananta bisa melihatnya dari tempatnya duduk. Ananta bangkit menyapa dalam perasaan bingung. Amanda dan pria itu berbicara dalam bahasa belanda. Amanda memperkenalkan pria itu pada Ananta yang bersiap menjabat tangan.

“Marco,” Suara Pria itu berat dalam logat Belanda.
“Ananta.”
“Ini suamiku, Nan,” Amanda tersenyum.

Tiba-tiba Ananta merasa tuli, pendengarannya terganggu, ada suara-suara seperti siaran TV tanpa antena—mengganggu telinganya. Ananta Tak bisa mendengar percakapan Marco dan Amanda setelahnya. Mereka bertiga duduk dalam sofa yang sama. Ananta melihat kemesraan antara Marco dan Amanda, meskipun matanya berusaha tertuju pada siaran TV. Ananta tak mengerti pembicaraan mereka dalam bahasa Belanda.

Dalam kecanggungan yang merajai tubuh Ananta. Dia memutuskan untuk berpamitan. Amanda dan Marco menyambutnya antusias, tidak banyak bertanya alasan kenapa Ananta buru- buru pergi. Lagi-lagi Ananta merasa bingung. 130C di Amsterdam jadi terasa dingin. Tak ada lagi kehangatan dari Amanda. Suhu benar-benar membuat Ananta membeku—dingin. Ananta berjalan kaki menuju Anne Frank Huis, sesampainya disana Ananta menaiki taksi yang kebetulan lewat, pergi menuju Bandara.

Di ruang tunggu bandara rindu bercecarn jatuh, Tangis Ananta tak terlihat. Tapi, hatinya terpukul. Ananta berulang kali memukul kepalanya, merasa bodoh dan dibodohi. Pikirannya kacau. Berulang kali dia melihat ponselnya, mengecek aplikasi keberangkatan pesawat. Tak ada jadwal pesawat menuju Indonesia hari ini. Ananta semakin kacau-balau. Sekali lagi, Amsterdam memberikan luka yang sama persis satu tahun yang lalu. Ananta ingin cepat pulang. Jiwanya tak benar-benar berada bersamanya.

Sekali lagi dia melihat ponselnya, Ananta teringat sesuatu. Segera dia bergegas menuju YOTELAIR Amsterdam Schiphol. Hotel tempat Inneke menginap. Bertanya nomor kamar 119 pada resepsonis. Ananta menuju lift setelah mendapatkan informasi letak kamar. Jantungnya berdebar mencari nomor kamar. Sampai langkahnya terhenti melihat satu pintu bertuliskan angka 119 dengan lubang intip di bagian bawahnya, pintu berwarna cokelat itu terasa seperti pintu rumahnya. Ananta mengatur nafas sebelum mengetuk pintu. Tangan kanannya mulai menggenggam, hampir menyentuh daun pintu. Belum juga Ananta mengetuk, pintu itu pelan terbuka.   

Inneke menatap Ananta, dalam jeda itu kedua mata mereka bertemu. Nafas Ananta mulai terkendali, Senyum Inneke mengembang, satu matanya berkedip, dengan cepat Inneke menarik tangan Ananta lalu menutup pintu.

-----





Sunday, October 2, 2016

Pelacur Waktu

Hujan sore ini menciptakan kekhawatiran pada banyak orang. Seorang pria harus mengejar penerbangannya menuju Amsterdam. Ananta namanya, dia masih berada dirumahnya dua jam sebelum pesawat lepas landas. Berulang kali dia memesan taksi online, namun gagal. Tak ada satu driver pun yang merespon pesanannya. Jarak dari rumahnya ke bandara cukup jauh, memakan waktu hampir satu jam dalam keadaan lalu lintas yang lancar.

Lima menit menunggu pesanan taksi online yang tak kunjung memberikan notifikasi pasti. Ananta memutuskan menyetir mobilnya sendiri menuju bandara. SUV Chevrolet hitamnya melaju kencang membelah hujan yang semakin deras. Jalanan cukup lancar, disaat orang-orang mengistirahatkan tubuh, melepas penat selepas bekerja. Ananta harus mengejar sesuatu, belum pernah dia sesemangat ini setelah banyak yang diambil dari dirinya. Amsterdam telah menciptakan kenangan buruk bagi dirinya setahun yang lalu. Tak ada yang mengerti kemana perasaan bermuara. Dia hanya mencoba mengikuti kata hatinya, sekali lagi.

Seorang teman membalas status check in di akun Pathnya. Pramugari maskapai penerbangan yang kebetulan akan ada dalam satu pesawat bersamanya, menuju Belanda. Namanya Inneke. Ananta tersenyum, membalas komentar Inneke yang mengajaknya bertemu. Inneke adalah wanita yang memberikan luka pada Ananta setahun lalu. Yang membuatnya tak pernah lagi berkunjung ke Amsterdam sejak saat itu. Tapi tetap saja, wanita tak pernah mengerti bagaimana seorang pria telah sakit dan patah. Mereka hanya bisa terus menuntut untuk dimengerti, sampai  lupa mereka seharusnya belajar mengerti orang lain

SUV milik Ananta sampai di lahan parkir Bandara, hujan mulai mereda, Ananta berlari menuju terminal tiga.Tak ada barang yang dia bawa. Hanya dompet, ponsel dan satu lembar tiket keberangkatan. Setelan Jas hitam kerjanya masih ia kenakan.

Tidak lupa dia menghubungi sekretarisnya untuk menghandle semua pekerjaan di kantornya. Tak ada kata terlambat bagi Ananta, setengah jam sebelum pesawat lepas landas, dia telah duduk manis di tempat duduknya, Kabin Business Class. Via whatsapp, Ananta menghubungi Inneke bahwa dirinya telah berada di atas pesawat. Tak perlu menunggu lama. Inneke telah sampai di kursinya. Menyapa Ananta mencium pipi kanan dan kiri. Hal yang wajar dilakukan seorang wanita ketika bertemu Ananta. Pria yang macho dan tampan, tak ada wanita yang tak menyukai dirinya. Ananta adalah manifesto pria sempurna dimata para wanita.

“Kamu ke Belanda ada urusan apa??” Tanya Inneke.
“Urusan Bisnis.”
"Oh gitu... Oke, Aku kesana dulu ya. Entar kita ngobrol lagi," Inneke pergi dengan senyum malu yang menggoda. Ananta tidak membalas senyum Inneke. Dia memang begitu, cuek dan tenang. Tatapannya teduh dan meneduhkan.

Empat belas jam perjalanan yang akan ditempuh Ananta. Bukan waktu yang lama baginya asal Champagne tersedia selama perjalanan. Ananta membunuh waktu dengan menonton film. Lampu kabin di padamkan. Ananta masih terjaga, penumpang lain mulai bersiap tidur. Seorang pramugari terlihat mendatangi Ananta. Wajah Inneke terlihat oleh cahaya ponsel Ananta. Mereka berdua tersenyum. Mereka berbincang. Inneke duduk di depan Ananta. Masih dalam satu tempat dengannya. Perbincangan mereka berlangsung sampai satu jam sebelum peswat mendarat. Inneke akan kembali bertugas, seperti pramugari lain. Ananta memelankan suara sebelum Inneke bangkit berdiri.

"Hotelmu masih yang dulu kan?" Tanya Ananta. Inneke menatap Ananta singkat, tersenyum manis, mengangguk pelan lalu berlalu meninggalkannya.

Pesawat mendarat sempurna.  Hotel tempat Inneke menginap tak terlalu jauh dari bandara. Aku ingin meminta maaf. Aku tidak bisa melanjutkan cerita ini. Waktu menungguku. Dia sangat baik hati.

-----

Thursday, September 29, 2016

Bahas #ATHIRAH




#ATHIRAH adalah bentuk kelembutan dari seorang sutradara. Riri Riza berhasil menyampaikan energi positif kepada penonton melalui film yang lembut dan lugas, tidak basa-basi. #ATHIRAH menyusun gambarnya secara acak, tanpa ikatan yang kuat. Garis besar film disampaikan hanya dalam beberapa scene. Membuat kemungkinan adanya penonton yang bosan ditengah film. Tapi, tidak bagi saya. Film ini sadar betul bahwa adanya kemungkinan rasa bosan saat menonton, hal itu ditutupi dengan menyisipkan musik-musik otentik yang ditempatkan pada adegan transisi & stock shoot yang indah dan efektif.

Jelas Riri Riza & Miles Film jago membuat setting ditahun sekitar 50 hingga 60an. Kita tidak lupa film Gie, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang juga punya Setting tempo dulu. Ruh itu terjadi di #ATHIRAH penggambaran setting yang sangat real membuat artistik film ini sangat meyakinkan. Tanpa menyalahi struktur tiga babak (awal, isi, akhir) #ATHIRAH seperti kapal yang berlayar dari satu perlabuhan ke pelabuhan yang lain. Pelan, lembut tapi lugas dan mengerti arah.

Film ini benar-benar menaruh Cut Mini sebagai nyawa utama. Tanpa berebut pencapaian peran terhadap tokoh yang lain. Terbukti dari porsi dialog yang lebih banyak, gesture & ekspresi yang lebih di eksplor. Christofer Nelwan yang menjadi UCU Remaja pun sengaja dibuat tidak terlalu banyak berbicara pada film ini. Menghindari disorientasi terhadap tokoh #ATHIRAH yang juga dipampang sebagai judul filmnya.

Jelas ada resiko besar bagi Produser untuk memutuskan mengangkat #ATHIRAH yang diangkat dari novel karya Alberthine Endah naik ke layar lebar. Isu  yang diangkat #ATHIRAH secara cerita adalah isu yang universal. Bahkan hingga kini hal-hal itu masih terjadi. Film ini benar-benar memfokuskan diri pada sosok #ATHIRAH yang rapuh dan sakit hati tapi mencoba untuk kuat dan bangkit. Kisah cinta UCU juga disampaikan benar-benar sangat tegas dan lugas, tanpa basa-basi. Ini yang saya suka. Saya tidak perlu membagi fokus saya pada lebih dari satu objek film.


Suara Nelwan yang menjadi prolog atau pengantar film sungguh menggetarkan. Disampaikan dengan cukup singkat dan tentunya lugas juga tegas. Itu adalah awal dalam teori struktur tiga babak (awal, isi, akhir) Riri Riza cukup membuatnya seperti itu dan sekali lagi tanpa basa-basi. Film ini berisi kompleksitas tokoh #ATHIRAH yang satu per satu di bedah oleh Sang Sutradara. Caranya menahan kepedihan, menunjukkan amarah tanpa dialog dan menggoda suami dengan tampil cantik nan anggun dengan kedua anting yang memikat Sang Suami. Ini lucu sekaligus menggelitik, bagi saya. #ATHIRAH tetap dibumbui adegan kocak dengan bahasa gambar dari Riri Riza. Tanpa perlu kebanyakan dialog. Ini adalah bentuk kecerdasan dalam membuat film.

Epilog atau akhir film ini juga lewat narasi suara tokoh UCU dewasa, yang "sialnya" suara tetap mirip dengan suara Nelwan di narasi awal film. Hal ini membuat saya tersenyum dan berkata "sialan" dalam hati. Getaran suara, logat dan cara berbicara benar-benar persis. Padahal dari dua orang yang berbeda.

Cara editing #ATHIRAH menunjukkan perasaan dan emosi tokoh-tokohnya. Contoh ketika UCU remaja membaca surat dari ibunya. Gambar dipotong tiga kali secara tegas hingga tokoh UCU memasukkan surat ke laci lalu menutupnya. Film ini padu dengan sangat baik. Sadar betul untuk tidak memaksakan durasi yang pada akhirnya akan merusak film itu sendiri.

Saya sempat bertanya kenapa harus mengganti tokoh Ida & UCU saat dewasa, karena itu bisa mengganggu konsistensi film itu sendiri. Untungnya tokoh dewasa itu keluar hanya di akhir film tidak memakan waktu dan durasi. Sekali lagi disampaikan secara tegas dan lugas. Tanpa basa-basi.

Terakhir. Menonton #ATHIRAH juga bisa membuat perut kita kenyang!!

Sekian,

Terimaksih.

#BanggaFilmIndonesia
#ATHIRAH

Wednesday, September 28, 2016

HUJAN DINI HARI

Hujan dini hari,
titik dimana ruang tidak bicara soal luas

Kamu tidak tahu,
aku pernah sesakit itu mendengar ceritamu,
menahan rasa cemburu

Rasa sakit,
yang hingga kini terus hinggap,
tanpa kamu tahu

Merahasiakan soal rasaku,
rasa dimana semua
tak bicara apa adanya

Aku memang mudah jatuh cinta. 
Tapi, mudah juga lupa

Barangkali kamu lupa,
aku pernah seceria itu 
mendengar tawa riangmu

Membicarakan banyak hal,
perihal hujan dini hari

Hujan yang basah di keningmu,
hujan yang manja di bibirmu,
hujan yang ragu di matamu

Aku tidak melarangmu mendatangiku,
saat hubunganmu sedang kacau balau

Aku tetap membuka pintu,
untuk orang-orang 
yang mengalami penolakan—sepertiku

Sembari menahan rasa sakit,
tersenyum pahit,
bersembunyi di balik luka yang lirih

Hujan dini hari tadi jadi saksi,
aku bahagia melihatmu lebih bahagia.


Semarang, 28 September 2016

Sunday, September 25, 2016

Bahas #FFB2016

Mari kita hentikan euforia Festival Film Bandung. Saya akan mencoba membahasnya satu per satu. Saya berhasil menebak setidaknya 6 dari total 11 nominasi Film Bioskop. Tidak sulit untuk menebak Rudy Habibie sebagai Film Terpuji, melihat FFB sangat memfokuskan diri pada film-film macam ini. Seperti Tjokroaminoto di tahun 2015 dan Soekarno di tahun 2014.

Rudy Habibie juga mendapatkan dua penghargaan keaktoran. Pemeran utama wanita terpuji lewat Chelsea Islan dan Pemeran pembantu wanita terpuji lewat Indah Permatasari. Dua nominasi itu juga sesuai dengan prediksi saya. Meskipun Dua penghargaan itu diraih dua orang sekaligus. Ine Febrianti lewat film Nay dan Nova Eliza lewat Aach, Aku Jatuh Cinta.

FFB2016 juga memberikan dua gelar terpuji pada dua nominasi lain. Skenario Terpuji lewat Ngenest & Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara juga Penata Musik Terpuji lewat AADC dan Badoet.

Memberikan dua gelar terpuji dalam satu nominasi adalah ciri khas FFB. Setahu saya tidak ada festival film selain FFB yg memberikan dua gelar juara. Entah, antara dua peraih itu memang layak atau pengamatan juri yang kurang bisa menentukan satu pilihan. Well, kita lupakan paradigma dua juara dalam satu nominasi itu. Biarkan itu tetap menjadi ciri khas FFB & biarkan menjadi pertanyaan besar saya.

Tidak masuknya SITI sebagai Film terbaik FFI 2015, Surat Dari Praha sebagai Film Terbaik Usmar Ismail Award & A Copy Of My Mind yg membawa Joko Anwar meraih piala sutradara terbaik di FFI cukup mengagetkan saya. Apa yang menjadikan FFB tidak memasukkan tiga film itu cukup membuat saya terus bertanya "kenapa". Alasan dibalik itu, paradigma yang dipakai dalam penjurian.

Kita tidak lupa SITI juga meraih terbaik di FFI dalam dua nominasi lainnya. Penata Musik & Skenario Asli. Surat Dari Praha, membawa Tio Pakusadewo & Angga Dwimas Sasongko di Usmar Ismail Award dan A Copy Of My Mind yg juga meraih Aktris terbaik dan penata suara terbaik di FFI. 

Mungkin FFB 2016 ingin tampil beda, salah satunya dengan memasukkan Jingga yang hanya menjadi pemanis setiap nominasi, juga Aisyah dan 3 yang masing2 mendapatkan satu penghargaan terpuji. Yang cukup mengagetkan saya adalah ketika My Stupid Boss meraih penata artistik terpuji. Kalo juri memfokuskan diri hanya pada artistik tokoh Boss memang tidak salah. Tapi sayangnya kita berbicara soal film keseluruhan yang artinya, menurut saya AADC2 berhak mendapatkan predikat itu.

My Stupid Boss punya kesalahan kecil tapi fatal, karena kesalahan kecil itu tercipta pada properti yang dipakai tokoh Boss, seperti kabel mic yang terlihat lewat lekukan baju dan pelapis kepala yang tampak lentur (empuk) pada satu adegan ketika tokoh Boss menggaruk-garuk kepala. Saya mengira Reza akan mendapat predikat terpuji lewat Rudy Habibie, karena menjadi Boss pun sosok Habibienya tetap saja belum hilang.

Untuk pemeran pembantu pria saya setuju Tanta Ginting sebagai terpuji, seperti di tahun 2014 yang membawa dia juga meraih pemeran pembantu pria terpuji lewat film Soekarno. Pun juga Sutradara Terpuji yang diraih oleh Anggy Umbara. Untuk pemeran pembantu wanita terpuji saya lebih memilih Indah Permatasari ketimbang Nova Eliza. Sederhana saja, porsi Nova Eliza tidak sebanding dengan porsi permainan Indah di film Rudy Habibie. Perlu diketahui kata "pembantu" mengartikan bahwa peran itu bertujuan untuk membantu tokoh utama dalam pencapaian akting, bukan sekedar menjadi pelengkap. Sayangnya, Nova Eliza di Aach, Aku Jatuh Cinta tidak banyak membantu pencapaian film & tokoh utama, cenderung hanya menjadi pelengkap.

Yang menjadikan bingung adalah Pemeran Wanita terpuji. Chelsea Islan & Ine Febriyanti keduanya benar2 menjadi ruh dalam film, top performa. Chelsea Islan dengan logat Polandia dan dialog dalam Bahasa Indonesia, tidak mudah mencapai hal itu. Chelsea Islan adalah salah satu aktor dengan akting menangis yang baik dan tidak terlihat aneh apalagi memaksa. Ciri khas menangis dengan Gesture sesenggukan seperti menahan nafas benar2 menjadi kartu AS bagi Chelsea Islan. Memilih dua pemenang di nominasi ini adalah pilihan yang tidak salah. Saya setuju. Tapi, jika disuruh memilih satu, saya akan memilih Chelsea Islan.

Akting monolog Ine Febriyanti menjadi satu-satunya nyawa dalam film Nay. Selain Djenar Maesa Ayu yang dengan tangan dinginnya mendirect Ine menjadi perempuan yang sangat rapuh dan sakit. Saya lama mengenal Ine Febriyanti melalui panggung teater, dalam Film Nay pencapaian dia melebihi pencapaiannya dalam dunia teater. Chelsea Islan dan Ine Febriyanti dua aktor dengan skill dan Inner yang baik dan mumpuni.

Menjadi pertanyaan. Film yang menang dalam satu festival film harus meraih nominasi apa untuk menjadi film terbaik. Seperti SITI, dia dinobatkan menjadi film terbaik karena meraih Skenario Asli Terbaik. Biasanya film terbaik meraih paling tidak skenario, sutradara atau Pemeran utama terbaik. Seperti Cahaya Dari Timur: Beta Maluku di FFI 2014, yg membawa Chicco meraih Aktor Utama Terbaik,  sehingga membawa filmnya menjadi yang terbaik juga. Contoh film luar adalah Spotlight dalam ajang OSCAR 2016. Spotlight meraih Skenario Asli terbaik yang cukup menghantarkannya menjadi film terbaik.

Satu lagi yang agak membuat telinga saya gatal adalah ketika seorang mengibaratkan FFB seperti Golden Globenya Indonesia atau sebagai ajang pemanasan sebelum FFI. Perlu diketahui bahwa Festival Film Bandung punya cara penilaian dan paradigma tersendiri. Menyamakannya dengan festival lain adalah opini yang kurang masuk di akal dan tidak mendasar.

Sekian, terimakasih.
#BanggaFilmIndonesia

Friday, September 16, 2016

DIALOG HUJAN

Aku sedang bicara pada hujan,
tentang bagaimana belajar berjalan

Hujan yang kelam
aku terdiam

Hujan bertanya pada bulan,
bagaimana belajar berjalan

Bulan tak menjawab,
mataku jadi sembab

Aku bertanya pada hujan,
kenapa begitu deras saat malam

Aku memeluk lengan
lewat hujan dalam rekam

Kering membatu
basah merayu

Dingin, dingin
Aku Ingin


Semarang, 17 September 2016
(saat hujan pukul dua pagi)