Saturday, August 22, 2015

Elina & The President (Episode 5)


“Selamat malam, Pak Presiden tampak cerah sekali” Presiden Irak menyalami pak Presiden. Lumaya lama Pak Presiden bercakap-cakap dalam posisi saling bersalaman. Lalu menyalami Ibu Negara yang berada persis di samping Pak Presiden. “Gimana sehat, bu? Belum bosan menemani presiden?” tawa kecil keluar dari bibir ibu negara dan pak presiden. “Ah tidak, saya selalu setia mengarahkan bapak agar tidak terjerumus” ujar ibu negara. Setelah menyalami Pak Presiden dan Ibu Negara. Presiden Irak menyalami Elina yang berada di belakang Ibu Negara. “Ah, Elina. Wakil Presiden baru. Orang paling beruntung. Hanya kamu Wakil Presiden yang dulunya adalah pengawal presiden, Hebat Elina” Presiden Irak memegang pundak Elina. “Terimakasih, pak. Saya merasa terhormat menjadi Wakil Presiden baru”. Elina dengan kaku menjawab.

Jiwa Elina masih seperti seorang pengawal presiden. Sekalipun dia adalah Wakil Presiden di periode kedua masa kepemimpinan Pak Presiden. Tapi, terkadang Elina juga risih ketika Presiden masih memperlakukan dirinya seperti pengawal presiden. Rasanya Elina ingin menegur. Tapi, keinginannya menegur selalu saja kandas. Elina lebih ingin menjaga kondisi baik dengan Pak Presiden. Baginya stabilitas politik adalah salah satu hal yang bisa membuat suatu negara menjadi negara yang diinginkan banyak penduduknya. Ekonomi, pendidikan dan harga-harga yang murah adalah keputusan politik. Jika stabilitas politik baik semuanya akan terpenuhi sesuai keinginan. Sebaliknya, jika politik tidak stabil akan banyak tawar-menawar di elit politik negeri ini. Lalu terjadilah suap-menyuap dan korupsi.


“Mari kita ke ruang tengah” Ajak Pak Presiden. Ruang tengah adalah ruang yang biasanya dipakai untuk open house. Masyarakat bisa bertemu presiden setiap malam jumat, menyampaikan aspirasinya atau sekedar foto bersama Pak Presiden. Ruangan dengan foto mantan presiden di dinding-dinding penyangga. “Elina, tolong panggilkan Pak Budi”. Suruh pak presiden, tanpa melihat bahwa Elina adalah Wakilnya. Pak Budi adalah kepala dapur Istana Negara. Juru masak yang selalu menyediakan makanan bagi para penghuni Istana dan tamu-tamu kenegaraan. Juru masak yang terkenal pintar memasak masakan khas daerah. “Siap, Pak Presiden” Jawab Elina dengan menundukkan kepala.

Bersambung
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar