Saturday, July 2, 2016

Arthur #2 Final



Dalam benak Arthur, ada yang masih perlu dijelaskan. Perjalanan menuju batas kota bersama Prof. Uru dalam satu mobil yang sama, membuatnya memikirkan banyak hal, banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul bertubi-tubi. Arthur berulang kali menatap Prof. Uru di kursi kemudi. Arthur membawa persenjataan, busur dan anak panah buatan Prof. Uru, tapi Arthur tidak melihat persenjataan yang dibawa Prof. Uru.

Tanah kosong yang dikelilingi pepohonan terlihat dari kejauhan, batas kota telah dekat. Prof. Uru menyuruh Arthur untuk bersiap. Jantung Arthur berdebar melihat akan ada peperangan di depan mata. Arthur melihat Prof. Uru yang terlihat tenang, tanpa beban. Mengemudi dengan santai seperti seorang yang hendak berlibur. Mobil yang dikendarai Prof. Uru berhenti tepat di tengah lapangan. Seperti yang dilakukan Ana saat menemui Askar Kecha yang lain.

“Kenapa berhenti disini, Prof??” Tanya Arthur.

“Supaya mereka melihat kita,” Prof. Uru membuka jendela pintu kemudi.

“Tidak ada siapa-siapa disini, Prof.”

“Mereka bersembunyi,” Prof. Uru membuka pintu kemudi—keluar dari mobilnya.

“Mereka siapa, Prof??” Tanya Arthur, membuka pintu mobil.

“Stop!! Tetap di dalam, ada yang tidak beres,” Prof. Uru mencegah Arthur.

“Kenapa??” Tanya Arthur, membuka jendela pintu kemudi.

“Dia disini,” Bisik Prof. Uru.

“Ana??” Tanya Arthur.

“Askar Kecha,” Jelas Prof. Uru.

“Berapa banyak??”

“Semua pohon itu dijaga satu orang, mereka bersembunyi dan sedang mengarahkan busur panah ke arah kita.” Prof. Uru memelankan suaranya.

Ana yang berada di salah satu pohon mempertanyakan kedatangan Prof. Uru. Ana memberikan kode paralel pada Askar Kecha yang lain untuk menurunkan busur panah. Prof. Uru bukan target Ana. Ana melihat keanehan pada beberapa Askar Kecha yang tidak menurunkan busur panahnya.

Ana yang hendak turun dari pohon tempat persembunyiannya melihat satu mobil khas balai kota yang datang dari arah berbeda dengan kedatangan Prof. Uru dan Arthur. Mobil itu berhenti tepat di samping mobil Prof. Uru. Seorang pengawal turun dan membuka pintu belakang mobil. Terlihat Natalie keluar dari mobil. Ana kembali ke posisinya, mengurungkan niatnya turun dari pohon. Memegang pistol di saku kanan—matanya tegas mengawasi Natalie. 

Melihat Natalie, Arthur bergegas turun dari mobil, Prof. Uru mencoba mencegah namun gagal. Arthur mengambil satu anak panah, mengarahkan busur panah ke arah Natalie. Prof. Uru mencoba menenangkan Arthur—mencegahnya, namun Arthur seperti orang tuli yang tidak mendengar apa-apa.

“Natalie!!” Arthur berteriak menantang.

“Ups, kau lagi anak manis, santailah dulu, kau lepas tarikkanmu itu, kau kehilangan dia,” Natalie yang menutupi salah satu jendela, melangkah—berpindah membuat seorang perempuan yang berada di dalam mobil terlihat, dengan mata yang merah—menangis. Melihat itu raut muka Arthur berubah, Arthur menurunkan busur panahnya.

“Ibu?? Apalagi yang kau mau, Natalie!?” Tanya Arthur tegas.

“Yang ku mau??....” Natalie menjawab santai—remeh, menunjuk ke arah Arthur.

“Kalau kau kira aku yang membunuh Rey, kau salah besar. Askar Kecha yang membunuhnya,” Kata Arthur dengan suara yang meninggi.

“Bukan kau... Tapi Dia,” Natalie menunjuk Prof. Uru yang berada tepat di belakang Arthur.

Prof. Uru hanya diam, tersenyum menatap Arthur yang menatapnya dengan raut muka bingung. Prof. Uru mengangkat kedua bahunya singkat.

“Prof?? Kau??” Arthur menjauh, menurunkan busur panahnya.

“Memang ada apa dengan Prof. Uru??” Tanya Arthur

“Matamu...” Natalie menunjuk mata Arthur lalu menunjuk Prof. Uru. Arthur menatap Prof. Uru bingung.

“Iyaa, mata itu... Aku penyebabnya,” Prof. Uru menjawab santai, menunjuk mata Arthur yang tertutup penutup mata. 

“Benarkah Prof??” Teriak Arthur mengarahkan Busur panahnya ke arah Prof. Uru.

“Dia tidak salah,” Jawab Prof. Uru santai.

“Untuk apa Prof?!” Tegas Arthur bertanya.

“Menanam kebencian padaku, Arthur,” Jawab Natalie.

“Jangan bilang kau juga yang membunuh Ayahku??” 

“Kau mulai paham, Arthur,” Jawab Prof. Uru remeh, lalu melambaikan tangan—seperti memberi kode. Selusin pasukan pemanah turun dari pohon dengan meloncat, ramai-ramai mengarahkan busur panah ke arah Natalie.

“Ini bukan hanya perangmu, Arthur,” Prof. Uru mengambil cerutu di sakunya, menyalakannya dengan korek yang diambilnya di saku lainnya.

“Kau salah strategi, ini juga bukan tentang kau saja,” Natalie melambaikan tangan, persis yang dilakukan Prof. Uru—memberikan kode. Lalu pasukan pemanah yang jumlahnya sedikit lebih banyak dari pasukan sebelumnya meloncat dari pohon-pohon, mengarahkan busur panah ke arah Prof. Uru dan pasukannya. Refleks. pasukan Prof. Uru membalas mengarahkan busur panah ke masing-masing pasukan Natalie.

Ana masih bersembunyi, masih ingin mendengarkan percakapan diantara Natalie dan Ayahnya. Pengawal Natalie mengarahkan pistol yang dibawanya ke arah Ibu Arthur. Melihat itu Arthur langsung mengarahkan busur panahnya tepat di kepala pengawal Natalie.

“Lucu sekali, Askar Kecha yang seharusnya tunduk pada para Anei, justru ada yang mengarahkan busurnya tepat kearah pemimpin mereka,” Natalie duduk di kap mobilnya.

“Aku akui, kau tanggap menyiapkan semuanya,” Jawab Prof. Uru.

“Jadi Prof... Kau pemimpin para Anei itu??” Arthur menyela.

“Cerdas sekali,” Natalie menanggapi.

“Kenapa kau menolongku?? Kenapa kau tidak membunuhku di Boulgetse??” Tanya Arthur. Prof. Uru masih menghisap cerutunya—santai. Arthur mengarahkan busurnya ke arah Prof. Uru.

“Kau lepas tali busurmu itu, Ibumu akan menyusul ayahmu,” Natalie menyela, membuat Arthur kembali mengarahkan busurnya ke pengawal Natalie.

“Kenapa kau tidak memecatnya??” Tanya Arthur.

“Dengan alasan apa?? Aku perlu saksi bahwa dialah dalang dibalik kematian Ayahmu, dialah pemimpin para Anei itu... Lagian untuk apa memecatnya, kalau aku bisa membawanya ke pengadilan kota dan melihatnya berkarat di penjara,” Jawab Natalie.

Ana meradang mengetahui bahwa Ayahnya yang membunuh Witson, ayah dari orang yang paling dicintainya. Prof. Uru berhasil menutupinya dari Ana tanpa bau dan bekas. Pikiran di dalam otak Ana saling beradu. Apa yang perlu dilakukannya setelah ini.

“Kenapa kau masih diam, Prof??” Tanya Arthur melirik Prof. Uru dengan busur panah yang masih mengarah ke pengawal Natalie.

“Hanya dengan membunuh ayahmu, proyek bagi para Anei bisa dilanjutkan lagi, Ayahmu itu nyamuk pengganggu. Harus dimusnahkan.”

Mata Arthur memerah, amarah dalam dirinya keluar. Raut murka diwajahnya sangat kentara. Mata Arthur melihat ke berbagai arah, tubuhnya gemetar, tiba-tiba fokusnya tertumbuk pada satu pohon. Arthur melihat Ana yang mengarahkan pistolnya pada kepala pengawal Natalie. Arthur mengangguk, menatap Ana. Dari tempatnya, Ana melihatkan ponselnya pada Arthur. Sekali lagi Arthur mengangguk cepat. Arthur mengerti maksud kode yang diberikan Ana. 

“Lalu kau, kenapa menahan Ibuku, sedangkan kau tahu bahwa Prof, Uru yang membunuh Rey??” Tanya Arthur pada Natalie.

Belum sempat Natalie menjawab, ponsel di saku celana Arthur berdering, semua mata tertuju pada saku celana Arthur. Pengalihan—Suara peluru terdengar keras, sedetik kemudian pengawal Natalie jatuh dengan lubang peluru di kepala. Arthur mengarahkan busur panahnya ke arah Prof. Uru.

“Sorry, Prof,” Arthur melepaskan tali busur, anak panah melaju cepat menembus jantung Prof. Uru. Refleks, pasukan Prof. Uru dan pasukan Natalie saling menembakkan anak panah. Arthur buru-buru menarik Natalie, membuka pintu mobil Natalie, lalu masuk. Arthur langsung menginjak gas, menjemput Ana yang langsung meloncat turun dari pohon. Lalu pergi meninggalkan pasukan yang satu persatu tumbang dengan anak panah yang tertancap di tubuh.

“Terimakasih, Arthur,” Natalie terengah-engah, menepuk pundak Arthur. Ibu Arthur yang bersebelahan dengan Natalie memeluk Arthur dari belakang. Arthur mengusap tangan ibunya, sembari mengatur nafas, membalas senyum Ana. 

Seminggu setelah kejadian itu. Arthur mendapatakan penghargaan sebagai pahlawan kota dari Natalie. Arthur dan Ibunya menolak rumah pemberian Natalie dan memilih untuk tinggal bersama di rumah Ana. Ditengah-tengah Upacara pengangkatan Arthur menjadi kepala kepolisian Kota Nanoi menggantikan Charles. Arthur yang berada satu mimbar dengan Natalie, berbisik—bertanya pada Natalie.

“Jadi, kenapa kau menahan Ibuku??”


(END)


Friday, June 24, 2016

Arthur #2 Eps. 9



Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dari sebuah pertemanan adalah hilangnya kepercayaan diantara pelakunya. Arthur mengalaminya setelah melihat hal yang sulit dia terima. Setelah melihat peralatan Ana di ruang bawah tanah, kesadarannya seperti diputar ulang. Rasa cintanya terhadap Ana juga menutupi keadaan yang terjadi. Arthur tidak bisa berpikir jernih. Seperti ada dua kutub magnet yang saling tolak menolak di otaknya.

“Serius?? Alat panah?? Di dalam kotak?? Di ruang bawah tanah??” Tanya Prof. Uru bertubi-tubi.

“Mataku tidak mungkin salah Prof,” Jawab Arthur. 

“Sebab nggak mungkin Ana bisa menggunakan alat itu. Dia anak baik-baik, Aku belum pernah sama sekali melihatnya memainkan busur dan anak panah,” Kata Prof. Uru dengan raut muka bingung.

“Lalu kenapa kotak itu seperti sengaja disimpan di sana??” Tanya Arthur.

“Mungkin dia ingin menyembunyikannya dariku,” Prof. Uru kembali memasang tali busur.

“Apa yang harus kita lakukan, Prof??”

Prof. Uru terdiam, ada kegundahan dalam dirinya, sembari melanjutkan pekerjaannya. Arthur masih berdiri tidak jauh darinya. Menunggu pertanyaannya dijawab. Arthur masih melipat satu tangannya di dada dan mengelus dagu dengan jari-jarinya. Kemampuan Arthur dalam memanah memang sudah lama tidak diasah, tapi tidak ada waktu untuk Arthur berlatih dan mengasah kemampuannya lagi. 

“Ini pegang,” Prof. Uru memberikan Arthur busur yang telah selesai dia garap.

“Apa yang harus kita lakukan Prof?? Kau belum menjawab pertanyaanku,” Keluh Arthur melihat Prof. Uru berlalu meninggalkannya.

“Kau mau kemana Prof?!” Tanya Arthur lantang.

Arthur mengikuti Prof. Uru yang bingung mencari sesuatu diantara rak buku.  Tangannya masih memegang busur dan satu set anak panah.

“Kau harus bersiap, Arthur. Kita kehabisan waktu,” Prof. Uru melihat sekilas jam tangannya sambil mencari barang diantara rak buku.

Arthur mengalungkan satu set anak panah pada pundaknya dan menarik tali busur untuk menguji seberapa kuat Prof. Uru memasangnya.

“Nah, ketemu,” Sontak Prof. Uru—mengambil  gulungan kertas di salah satu rak buku.
“Itu apa Prof??”

“Ini jawaban dari pertanyaanmu, Arthur.” 

Prof. Uru menuju meja kerjanya. Arthur membuntutinya. Prof. Uru meminggirkan tumpukkan buku dan beberapa barang yang tergeletak di atas meja, membuatnya jatuh lepas ke lantai. Prof. Uru membuka gulungan kertas itu, dan meletakkan buku di kedua ujung kertas.

“Kau, tahu tempat ini, Arthur??”

“Apa ini??” Tanya Arthur, bingung.

“Ini peta, coba lihat polanya... See??” 

“Peta?? Pola apa sih, Prof??”

“Garis putus-putus, bintang, lingkaran, garis panjang, persegi panjang yang dikelilingi titik-titik kordinat yang saling menyambung. Lihat lagi Arthur,” Prof. Uru menjelaskan dengan tangan yang sibuk diatas kertas.

“Ohyaaa... I See, Prof. I See. Sepertinya aku tahu tempat ini,” Arthur berpikir sejenak, melihat kertas diatas meja dengan seksama.

“Kau tahu?? Dimana??” Tanya Prof. Uru.

“Ini seperti tanah lapang yang dulu dijadikan tempat parkir heli. Cuma ada satu tanah lapang yang luas di kota ini, Prof.”

“Gerbang masuk kota!!” Arthur dan Prof. Uru bersamaan.

“Kalau memang Ana salah satu dari Askar Kecha, pasti dia berada disini saat ini,” Prof. Uru menunjuk peta.

“Bentar-bentar. Salah satu?? Darimana Prof bisa tahu ada banyak Askar Kecha??” Tanya Arthur penasaran.

“Ada kemungkinan Askar Kecha lebih dari satu kan, Arthur.”

Prof. Uru bergegas menggulung kertas diatas meja lalu mengembalikkannya di tempat semula. Arthur mengikuti dengan langkah pelan. Ada kenaehan yang lewat di otak Arthur. 

“Ayo, Arthur. Sudah hampir Gelap,” Prof. Uru memecah kebingungan di pikiran Arthur.

“Oh... Oke Prof,” Spontan Arthur menjawab.


(BERSAMBUNG)


Thursday, June 23, 2016

Arthur #2 Eps. 8

Prof. Uru tidak kesusahan untuk membuat satu alat panah. Dengan kayu dan beberapa tulang hewan, Prof. Uru sudah dapat membuat satu alat panah untuk Arthur. Prof. Uru meruncingkan bagian depan sebuah batang kayu yang dijadikannya sebagai anak panah. Prof. Uru melubangi sedikit bagian ujung kayu lainnya, sebagai Arrow Rest atau tempat untuk meletakkan anak panah pada tali busur.

Busur buatan Prof. Uru terdiri dari kayu yang melengkung, dengan tali busur yang terikat pada kedua ujungnya. Kayu akan melengkung lebih dalam ketika tali busur ditarik. Prof. Uru menggunakan tali yang digulung di bagian tengah kayu sebagai pengganti Grip, atau tempat untuk memegang busur. 

Busur telah ditemukan pada masa Paleolitik atau awal periode Mesolitik. Panah dibuat dari kayu pinus, terdiri dari poros utama dan sebuah poros depan sepanjang 6-8 inci. Dulu, sebagian besar tentara Assirian dan Persian, menggunakan alat panah sebagai alat perang melawan musuh. Dalam Pertempuran Crecy, Pasukan Inggris yang lebih kecil menang atas pasukan Perancis yang jauh lebih besar. Inggris menggunakan busur panjang untuk memenangkan pertempuran. Busur panjang menjadi senjata yang dapat lebih cepat dibidikkan daripada busur silang. Busur panjang yang digunakan Pasukan Inggirs dapat dengan mudah menembus setelan baju baja tentara Perancis.

“Jadi bagaimana?? Semenarik apa buku itu untukmu??” Prof. Uru menunjukkan busurnya pada Arthur.

“Tetap saja teori nggak berbicara banyak,” Arthur mengambil busur panah dari tangan Prof. Uru.

“Ini beberapa anak panah, aku membuatnya dari sisa kayu pembuatan rak buku di gudang Boulgetse yang ada di belakang,” Prof. Uru menyerahkan beberapa anak panah pada Arthur.

“Tali busur??” Tanya Arthur, mengambil anak panah dari tangan Prof. Uru.

“Untuk tali busur, harus dengan tali yang benar-benar kuat. Sialnya disini nggak ada,” Jelas Prof. Uru.

“Lalu??” Tanya Arthur bingung.

“Kau harus kerumahku, ada tali yang cukup kuat untuk dipakai. Tali itu ada di ruang bawah tanah. Kamu pasti tahu,” Prof. Uru melipat kedua tangannya di dada.

“Kenapa tidak Prof saja yang mengambilnya??”

“Ini saatmu Arthur, uji penyamaranmu. Jarak dari sini ke rumahku tidak terlalu jauh. Kau pasti bisa,” Senyum Prof. Uru.

Dengan penyamaran yang pernah dipakai Prof. Uru. Arthur menuju rumah Ana dengan menumpang truk setelah beberapa menit berjalan kaki. Diperjalanan Arthur mengecek ponsel yang lama tidak dia sentuh. Satu pesan dari Ana muncul di layar ponsel. Arthur membukanya. Bola matanya membesar membaca pesan dari Ana. Tidak ada waktu bagi Arthur untuk memikirkan pesan dari Ana, kebingungan sempat lewat dipikirannya. Beberapa kali Arthur terpikir untuk menelpon Prof. Uru.

Tepat di ujung gang menuju rumah Prof. Uru dengan deretan pohon kelapa yang tertata rapi di sepanjang jalan. Jantung Arthur berdebar, fokusnya terbagi akbiat pesan Ana yang dia baca. Arthur mempercepat langkahnya menuju ruang bawah tanah melalu pintu dibagian samping rumah. Tidak susah bagi Arthur untuk mencari kunci yang terselip diantara bebatuan tepat di depan pintu. Prof. Uru selalu meletakkannya disana.

Arthur menemukkan tali busur yang dimaksud Prof. Uru setelah membuka beberapa peti. Arthur membawanya pada tas yang dia bawa. Sebelum keluar, mata Arthur tertumbuk pada satu kotak dibawah beberapa barang bekas. Arthur mendatanginya—berlutut menyingkirkan barang-barang itu. Rongga matanya menyempit seperti seorang dengan mata sipit. Arthur melihat nama Ana pada kotak itu. Rasa penasaran Arthur membuatnya dengan cepat membuka kotak itu.

“Ini Prof,” Arthur menyerahkan tali busur pada Prof. Uru.

“Kau kenapa??” Tanya Prof. Uru, melihat Arthur tampak bingung.

“Ha?? Oh, No... No Problem,” Jawab Arthur terbata.

“Apa yang kau temukan??” Tanya Prof. Uru, mulai mengotak-atik alat panah buatannya.

“Nothing,” Singkat Arthur.

“Kau tidak pintar berbohong, Arthur. Seperti Ayahmu,”

“Aku melihat satu kotak kayu dengan tulisan Ana di ruang bawah tanah,” Arthur tampak bingung.

“Ha?? Maksudmu??” Prof. Uru menghentikan pekerjaannya.

“Kotak... Dibawah tumpukkan barang-barang lain,” Arthur menjelaskan sebuah kotak dengan isyarat tangan.

“Terus apa masalahnya??” Tanya Prof. Uru.

“Tidak ada masalah dengan kotaknya,” Arthur menatap Prof. Uru.

“Terus??” Tanya Prof. Uru penasaran.

“Isi kotak itu...” Lidah Arthur terasa kelu, kalimatnya dibiarkan tidak selesai—mengambang.

“Apa??” Prof. Uru penasaran.

“Aku melihat satu set alat panah... Apakah itu punya Ana?? Apa benar Ana, Askar Kecha??” Tegas Arthur bertanya, matanya memerah menatap Prof. Uru yang terdiam.



 (BERSAMBUNG)

Wednesday, June 22, 2016

Arthur #2 Eps. 7

Ana yang mengendarai Cruisernya pelan-pelan berhenti setelah melihat rumah Arthur dari kejauhan. Rumah yang sebagian besar kontruksinya terbuat dari kayu itu telah berubah menjadi abu. Hitam pekat dengan asap yang masih sedikit mengepul di udara. Ana memakirkan Cruisernya di pinggir jalan. Berkeliling melihat sisa-sisa abu rumah Arthur. Ana menatap jam di ponselnya. Mengirimkan pesan pada Arthur. Memberitahu kondisi rumahnya. Anjing liar mendatangi Ana, mengendus abu rumah Arthur dan buntut yang bergoyang, membuat Ana sedikit terganggu. Ana memutuskan pergi—melanjutkan perjalanan. Suara knalpot Cruiser mengagetkan Anjing liar itu, membuatnya lari mengejar Ana. Belum jauh Ana meninggalkan rumah Arthur, Anjing itu berhenti mengejar Ana yang semakin kencang mengendarai Cruisernya.

“What?? Pemanah??” Arthur tersentak.

“Iya pemanah, kenapa kamu sekaget itu Arthur,” Tanya Prof. Uru.

“Lihat mata ini... Hilang, karena apa?? Karena anak panah sialan dari pemanah sialan,” Tegas Arthur menunjuk rongga matanya.

“Justru itu Arthur, pemanah dilawan juga dengan pemanah. Ide dilawan dengan ide. Gagasan dilawan dengan gagasan.”

“Kenapa harus panahan siih?? Kalau kita bisa bunuh orang dengan peluru, kenapa kita justru pilih panahan,” Keluh Arthur.

“Peluru nggak bisa menembus rompi anti peluru, Arthur... Tapi anak panah... Anak panah bisa dengan mudah menembusnya,” Prof. Uru menggambarkan dengan isyarat tangan.

“Aduuh,” Arthur memijat keningnya.

“Ada ditanganmu. Ambil atau...” Tantang Prof. Uru.

Meeting point sudah terlihat dari kejauhan. Sepi yang terlihat terasa biasa bagi Ana. Selalu ada kode masuk bagi para prajurit, semacam password untuk membuka pintu. Ana berhenti tepat di tengah tanah lapang yang kosong dengan pohon-pohon yang mengelilingi. Ana membunyikan klaksonya. Bunyi klakson pertama terdengar singkat. Bunyi panjang klakson kedua membuat daun di beberapa pohon bergetar.

Tiga orang terlihat turun dari tiga pohon yang berbeda. Menghampiri Ana yang belum beranjak dari Cruisernya. Tiga orang dengan kostum yang sama, membawa kantung anak panah di punggung dan busur panah di tangan kiri, tiga orang itu bersamaan mengambil anak panah lalu mengarahkannya pada Ana.

“Tidak usah berlebihan, kita dipihak yang sama,” Jelas Ana.

“Prajurit Ana,” Salah seorang bertanya.

“Kelihatannya??” Jawab Ana.

“Maaf, ini standard yang harus dilakukan,” Tiga orang pemanah menurunkan alat panahnya.

“Jadi apa setelah ini,” Tanya Ana dari atas Cruiser.

“Sembunyikan Cruisermu, panjat salah satu pohon, kita harus menunggu sisanya sebelum gelap,” Seorang pemanah menjelaskan.

Ana menyalakan Cruisernya, memakirkannya dibalik pohon. Ana memanjat pohon setelah tiga pemanah lainnya kembali memanjat pohon tempatnya bersembunyi.

“Fine... apa boleh buat,” Arthur mengangkat bahu, pertandan pasrah.

“So??” Tanya Prof. Uru.

“Oke, kapan kita bisa mulai??” Tanya Arthur.

“First, kamu harus tahu teorinya, ada buku tentang itu yang bisa sedikit membantumu,” Prof. Uru mulai mencari buku di beberapa rak. Arthur mengikutinya dari belakang.

“Aaahh, kenapa semua hal yang bisa langsung dipraktekan, tetap saja butuh teori,” Keluh Arthur.

“Teori itu dasar, Arthur. Bayangkan jika sebuah bangunan tanpa dasar, tanpa penyangga. Bayangkan ketika sebuah negara tidak punya dasar negara. Coba bayangkan,” Prof. Uru sibuk mencari buku diantara rak yang tingginya melebihi tinggi Arthur dan dirinya.

Prof. Uru berhasi menemukan buku yang dicarinya. Buku yang tidak tebal, Arthur bisa dengan mudah selesai membacanya kurang dari dua jam. Arthur mulai membaca.

“Mau kemana, Prof??” Tanya Arthur disela-sela membaca.

“Kita tidak punya alat panah, kita harus membuatnya sendiri. Biar aku yang mencari semua keperluanmu. Selesaikan bacaanmu. Waktu kita tidak banyak.”


Arthur membiarkan ucapan Prof. Uru mengambang di langit-langit. Kesunyian mengiringi setelahnya. Arthur kembali fokus membaca, matanya tidak lepas dari setiap kata yang ada di buku itu. Prof. Uru tersenyum menatap Arthur dari kejauhan, senyum yang membuat gigi putihnya terlihat.


(BERSAMBUNG)