Wednesday, June 30, 2021

bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau tidak mampu membenarkan letak piring dan sendok di atas meja.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau tidak mampu membenarkan posisi tulang-tulang tua yang mulai retak.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau tidak pernah tahu tangis ini karena apa.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kita tidak pernah saling menyetubuhi di dalam lemari pakaian ibu

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau hanya mementingkan nafsu pikiran daripada hatimu.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau masih pergi dengan sepatu-sepatu lusuh berlumpur yang kotor dan bau.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau lebih mementingkan para brengsek yang kau temukan di jalanan daripada aku.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau lebih mendengarkan orang lain daripada kata-kata jujur yang keluar dari bibirku.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika ciuman kita tidak sedalam sebelumnya.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Jika kau lebih fokus pada masalah orang lain daripada masalahmu sendiri.

 

Bagaimana nanti kita akan bersama, sayang?

Bagaimana nanti?

Bagaimana?



Semarang, 1 Juli 2021

Wednesday, June 2, 2021

hal-hal kecil di perjalanan pulang

 

Aku banyak belajar selama lima bulan kemarin. Bisa kubilang bahwa sekarang aku bisa lebih jelas merasakan banyak hal, termasuk untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang sebelumnya—selama ini cuma bisa dipendam.

Aku tahu aku perlu punya kegiatan yang membuatku bisa berpikir dan merasa lebih jelas tanpa gangguan, untuk itu selain olahrga tiap kali pulang kerja, aku juga mulai lebih sering mencuci piring di malam hari, kegiatan itu benar-benar memberikanku waktu untuk lebih memikirkan hal-hal, dan merasakan hal-hal. Singkatnya kegiatan itu membantu mengenal siapa diriku, dan apa keinginanya, ketakutannya, motivasinya, dan yang baru kutemui dan kusadara adalah tentang apa atau siapa orang-orang yang tidak perlu ada di hidupku. So, karena itu i remove people.

Aku tidak bisa punya teman yang sengaja mengabaikanku, yang okey ketika aku tidak ada, ketika aku pergi, ketika aku tidak ada kabar. Karena aku tidak memperlakukan teman-temanku seperti itu. Aku mengabaikan mereka yang memperlakukanku tidak selayaknya manusia. Somehow itu sedikit banyak merilis beban di kepalaku, aku menemukan bentuk ideal dari ritme hidup yang selama ini aku cari. Setiap kali aku melihat story seseorang lalu membangkitkan memori di masa lalu yang sedikit banyak membuatku sakit dan kecewa, kini aku ketahui bahwa itu adalah tanda untukku harus mulai mengabaikannya.

Aku juga mulai memperlambat laju kendaraanku tiap kali aku pulang dari tempat berkerja. Banyak orang bilang, bahwa untuk menuju sukses kita harus bergerak cepat, karena era dan zaman berubah juga begitu cepat, karena orang lain bekerja keras dan cepat untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Dari hal-hal itu aku justru semakin menyadari bahwa untuk merasakan kebahagian, ketenangan kita justru harus melambatkan tempo berjalan kita. Karena tentu kebahagian harus benar-benar bisa dirasakan, tak perlu cepat-cepat berlalu. Dan itu yang aku temukan dan pelajari dari melambatkan laju kendaraan. Bahwa selama ini ternyata aku melewatkan hal-hal kecil yang sebetulnya sering aku temui tiap hari.

Hal-hal sederhana saat aku melewati pintu mall yang pendinginnya sampai bisa aku rasakan dari jalanan, atau aroma tahu petis prasojo yang bahkan sampai ke hidungku meski aku tidak berdekatan dengan warung itu. Seorang perempuan yang memeluk mesra kekasihnya di atas roda dua. Aku bahkan menghitung detik-detik di lampu merah, dan merasakan perubahan angin yang kadang panas, kadang dingin. Hal-hal kecil itu seringkali membangkitkan lagi memori-memori yang dulu pernah terjadi.

Kini saat aku melihat sepasang kekasih mesra di atas roda dua, atau di dalam mobil, aku justru tersenyum dan ikut bahagia karenanya. Aku tidak lagi mengutuk diriku atas apa yang tidak bisa kurasakan itu selama hampir tujuh tahun. Dulu aku tidak terima, mengapa hal-hal baik tampaknya justru selalu mampir ke kehidupan orang-orang jahat. Yang melihat perempuan hanya sebagai objek, atau misal yang sejak lahir hidupnya tercukupi namun tidak mampu memanfaatkan keuntungannya, dan justru malah menghabiskan apa yang ia punya hanya untuk hal-hal yang tidak punya manfaat.

Ya, aku menyadari, bahwa hal-hal kecil yang kutemui di perjalanan pulang seringkali membuatku belajar banyak hal. Aku pernah melihat sepasang suami istri bertengkar di pinggir jalan, dan salah satunya sedang menggendong seorang anak perempuan, mungkin berusia dua tahun. Saat itu aku bukan malah berpikir untuk menolak pernikahan, aku berpikir; aku tidak mungkin dan tidak akan memperlakukan seseorang yang kucintai sepenuh hati seperti itu, aku juga tidak akan mengorbankan anakku atas ego dan emosi yang mendekam di kepala. Aku tahu banyak fase yang sudah aku lalui, termasuk salah satunya menolak pernikahan.

Aku paham, ada amarah yang pasti muncul, kadang kita tidak paham apa penyebabnya, kita hanya paham karena mungkin kita merasa lelah, dan tidak sedang fokus menata diri. Lalu aku belajar,  bahwa segala amarah yang membuncah tidak boleh lagi meledak di sembarang tempat, juga tidak baik jika dipendam dalam-dalam. Ada perasaan aneh yang muncul setiap kali aku belajar dari hal-hal kecil yang kulihat di perjalanan pulang. Belakang aku menyadari satu hal, apakah ini rasanya menjadi kepompong yang keluar dari cangkang dan berubah menjadi kupu-kupu. Sejujurnya aku tidak benar-benar mengetahui dengan jelas, aku hanya butuh untuk benar-benar mendalami setiap perasaan yang muncul dari dalam.

Seperti kamu, aku pun juga pasti sedih, entah karena cinta, pekerjaan, teman-teman yang brengsek, atau orang-orang di internet yang kelakuannya di luar nalar manusia. Aku belajar satu hal bahwa setiap kesedihan bisa dikomunikasikan, layaknya perasaan bahagia. Seperti para pedagang di pinggir jalan dan pembelinya, proses jual beli itu bergantung pada satu hal fundamental, yaitu komunikasi dua arah yang baik. Lantas aku berpikir kenapa banyak orang, termasuk aku seringkali memilih menyendiri saat sedih. Bukankah itu membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, alih-alih menemukan orang yang mampu mengerti. Saat itu aku bertanya, apakah kesedihan bisa dikomunikasikan dengan baik seperti yang terjadi di antara penjual dan pembeli?

Bulan lalu, aku terlibat pertengkaran hebat dengan kembaranku, yang kini aku pahami bahwa itu seratus persen murni kesalahanku, aku sedang emosional terhadap sesuatu, dan jahatnya aku menumpahkan amarah itu ke orang lain. Kembaranku pergi dari rumah, menangis di jalanan, dan besoknya aku terus terbebani dengan fakta itu, aku tidak bersemangat. Dan aku benci ketika ada di situasi tidak nyaman seperti itu. Lantas saat di perjalanan pulang, aku memikirkan dengan matang dan pelan-pelan, aku memutuskan untuk meminta maaf lebih dulu, aku memeluknya, disaksikan kedua orang tuaku, lalu aku menjelaskan semuanya. Aku paham, komunikasi yang baik membuka ruang-ruang yang sebelumnya tidak tampak di mata. Aku semakin menyadari, ternyata meminta maaf itu membebaskan.

Bulan lalu juga, aku jatuh cinta dan patah hati mungkin dalam waktu yang bersamaan, namun setelah mendengarkan banyak relationship dari orang-orang, dan menganalisis banyak kasus terkait hal itu, somehow aku bisa dengan tenang merespon dan menghadapi perasaan itu. Aku paham bahwa segala sesuatu tidak harus selalu tentang iya, kadang penolakan juga perlu dicermati dengan bijak, kini aku justru senang setiap kali aku bisa menumpahkan perasaanku pada orang lain, entah jawabannya apa. Yang aku tahu, itu terasa melegakan sekaligus membebaskan.

Termasuk bulan lalu, pada akhirnya aku berani merilis beban yang paling membebani hidupku. Aku korban pelecehan seksual yang terjadi di awal-awal aku bekerja di tahun 2015. Aku baru berani cerita ke ibu dan keluargaku Agustus 2020, kalo dipikir-pikir ternyata selama itu aku membangun koping, dan belajar berdamai atas kejadian itu. Aku memikirkan kejadian itu setiap kali ada di perjalanan pulang, bertahun-tahun, berbulan-bulan, dari yang awalnya traumatik sampai ternyata aku berhasil meresponnya dengan baik. Somehow, lagi-lagi itu sungguh membebaskan. Beban paling berat dan besar sudah kuikhlaskan, lantas apalagi yang perlu aku takutkan?

Mungkin masih ada satu hal, aku sedang belajar untuk tidak sembarangan mendengar cerita orang, karena aku sudah merasa cukup hanya dijadikan tempat cerita saja, lantas ditinggalkan dan dilupakan, aku bukan rumah sakit, juga bukan tempat rehabilitasi. Aku tidak akan membiarkan orang lain yang hanya mementingkan diri sendiri, dan tidak bisa bertanggung jawab atas masalahnya, menghancurkan koping di hidupku, menghancurkan perasaan damai yang susah payah aku bangun, merusak kebebasanku berpikir dan merasa.

Hati-hati, kadang pemicu apa yang terjadi di dalam diri pelakunya adalah teman-temanmu sendiri, orang-orang yang kamu kenal yang sialnya merasa mengenalmu padahal sebetulnya tidak sejauh itu. Aku tetap akan mendengarkan mereka, hanya pada mereka yang mau dan punya niat menganggapku sebagai teman dan penting dalam pembentukan kedamaian dalam diri mereka.

Tidak ada orang yang suka ditinggalkan, apalagi ditinggalkan saat kita sudah memberikan segala sesuatu, bukan hanya waktu, tapi pikiran, tenaga, bahkan seluruh kasih sayang yang kita punya. Karena semua orang punya masalah hidupnya masing-masing, dan pasti kita akan merasa senang jika masalah atau beban di hidup kita bukan hanya diri kita sendiri yang menanggung dan menyelesaikan. Tentu kita akan sangat berbahagia jika ada orang lain yang mau mengulurkan tangannya dan membantu. Bukankah beban berat akan lebih ringan jika dikerjakan oleh lebih dari satu orang?

Aku suka menolong, aku suka terlibat pada masalah orang lain, bukan karena aku tahu solusi permasalahannya. Tapi karena aku cukup berani untuk mengulurkan tanganku, dan membuka telingaku untuk mendengar dan berempati.

Dan untuk semua itu aku memahami segala risikonya.


:)

Semarang, 2 Juni 2021

 

Friday, May 28, 2021

mei ini aku patah hati lagi


setiap tahun

aku selalu penasaran apa yang akan terjadi di bulan mei,

karena di bulan ini

aku selalu patah hati.

 

dan kini

aku merasakannya lagi. 

 

Semarang, 29 Mei 2021

 


Monday, May 24, 2021

The Zodiac Series: Scorpio

 

Cuma ada satu hal yang tidak aku sukai dari teman-temanku scorpio. Mereka seringkali mengaitkan sesuatu pada hal-hal yang berbau seksual, bahkan untuk sesuatu yang jauh dari hal-hal itu, mereka para scorpio tampaknya selalu punya celah untuk memberikan ruang pada obrolan-obrolan soal seks. Mudahnya mari kita sebut mesum.

Tapi, kalau aku boleh membicarakan satu hal yang sangat aku sesalkan dari para scorpio; mereka seringkali menyibukkan diri pada sesuatu yang keliru. Mereka seringkali salah pilih, mereka mengabaikan orang yang beneran peduli karena ada orang lain yang lebih menantang intuisinya, mungkin karena mereka tidak menyukai hidup yang lempeng-lempeng aja.

Karena itu, banyak dari mereka yang sulit menemukan keseimbangan dalam hidupnya. Setidaknya teman-temanku scorpio seringkali mengabaikan mereka yang peduli, peduli pada dirinya. Namun saat ia berada di bawah, sialnya para scorpio ini jadi ingat sama orang-orang yang dulu peduli namun justru ia abaikan. Atau mereka terlalu gengsi—sehingga memilih diam, padahal masalahnya terus mendekam di kepala. Mereka terlalu malu mengakui kesalahan dan kealpaannya terhadap sesuatu.

Iya, mereka tampak sangat kuat di luar, namun ada kerentanan dalam dirinya yang sangat berusaha mereka tutupi. Sialnya kerentanan tersebut adalah akibat dari ketidak-mampuannya memilah, mereka hampir selalu keliru merespon setiap impuls yang datang dan untuk terbuka pada seseorang.

Jangan lagi keliru, belajarlah membedakan mana yang perlu dan tidak. Jangan naif, tidak semua orang persis sama apa yang kamu duga.


:))

Semarang, 25 Mei 2021

Wednesday, May 19, 2021

The Zodiac Series: Pisces

 i hate u

please, don't make me (or people) feels bad. 


:))

Semarang, 19 Mei 2021

Sunday, May 16, 2021

Sebuah Misi Menyelamatkan Gravitasi

 

Seorang mantan wartawan perang merilis sebuah jurnal kontroversial di internet. Sebuah judul cetak miring sengaja ia buat untuk menekankan seberapa penting hasil risetnya untuk dibaca. “Ketika gravitasi hilang, hanya para perempuan yang sanggup mengembalikan.”

Pada paragraf pertama, Wartawan yang menyebut dirinya Batman itu melempar sebuah pertanyaan, “Apa itu gravitasi?” dan apa hubungannya dengan perempuan? Ia mulai menyebut hal-hal filosofis yang tetap saja sulit untuk dimengerti banyak orang.

Ada analogi yang ia sebut, salah satunya seperti cara tuhan menipu tanaman-tanaman dan para hewan setelah mereka diciptakan lebih dulu sebelum tuhan pada akhir penciptaan, menciptakan manusia yang setelah itu jadi aktor utama rusaknya alam semesta.

Para perempuan mengikat benda dan makhluk-makhluk yang ada untuk tetap berada pada jalur dan tempatnya. Di luar itu biasanya para ilmuwan menyebutnya sebagai sebuah fenomena. Wartawan itu menulis bahwa ketidak-beradaan perempuan di bumi justru akan merusak sebuah tatanan, ia menyebut tatanan yang terlahir sejak pertama kali wacana penciptaan digulirkan oleh tuhan sebetulnya dimulai oleh kelahiran perempuan di dunia, ia memberi dua tanda kutip dalam kata kelahiran. Dan tugas pertama para perempuan di dunia adalah menciptakan gravitasi yang berjuta tahun kemudian dirumuskan oleh Isaac Newton lalu menjaganya.

Wartawan itu menyebut ada lima cara untuk menyelamatkan gravitasi yang ia sebut lebih dari 50% sudah hilang dari muka bumi. Lebih jauh lagi ia menyarankan pada banyak orang untuk memulai misi ini sejak dini.

Cara pertama; beri peran dan posisi penting pada para perempuan untuk bekerja di bidang-bidang publik yang akan memengaruhi keputusan umum dan keberlangsungan hidup di masyarakat. Cara pertama ini seharusnya mudah dilakukan, namun wartawan itu menyebut kelahiran dan penciptaan para pria yang rakus dan serakah membuat cara-cara ini dihapuskan dan perempuan diganti fokusnya menjadi hanya makhluk golongan dua di belakang para pria.  Karena kejadian itu, gravitasi di bumi berkurang hingga 10%.

Cara kedua; dilarang mendikte para perempuan. Sejak penciptaan pria oleh tuhan, alam semesta dipenuhi oleh fenomena-fenomena aneh yang sulit dijelaskan. Keberadaan perempuan yang menjaga gravitasi untuk tetap bekerja dengan baik justru berusaha diambil alih oleh pria-pria hidung belang yang merasa bisa mendapatkan semua perempuan. Para pria ini mempelajari aktifitas, gesture, sifat perasa para perempuan lalu dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Sejak fenomena-fenomena aneh ini bermunculan seperti banyaknya korban pelecehan yang dialami para perempuan gravitasi kembali berkurang 10%.

Cara ketiga; dilarang memanfaatkan kerapuhan para perempuan. Sejak fenomena aneh yang disebabkan dari usaha para pria mendikte pikiran dan perasaan perempuan, banyak pria berhasil menciptakan kondisi di mana para perempuan mengalami kebingungan dari pilihan dan kisah-kisah yang sudah ia pilih. Kebingungan itu melahirkan kerentanan dan kerapuhan yang tertanam jauh di dalam lubuk. Lalu tanpa ampun pria-pria ini memanfaatkannya, memengaruhi pola pilihan dan pikiran para perempuan yang mengalami kerapuhan akut dan akhirnya berhasil mengambil alih. Dari kejadian ini gravitasi mulai drastis turun sebanyak 15%. Kecenderungan fenomena yang tidak terdeteksi di awal ini melahirkan pria-pria brengsek dan predator-predator yang berkeliaran dan sulit dikenali dari luar.

Cara keempat; beri perempuan hak-hak mereka, termasuk hak bicara di depan umum, hak yang sama yang juga diberikan pada para pria. Termasuk mengakomodir suara-suara perempuan, tidak menganggapnya sebagai makhluk sekunder apalagi hanya sekadar objek. Sudah lama sejak kemunculan jenis-jenis pria brengsek kebiasaan itu hilang dan diambil alih, menyebabkan 10% gravitasi kembail hilang dari bumi.

Cara kelima; hapus stigma-stigma yang terlanjur terbentuk, sebab terbentuknya stigma negatif yang menempel pada perempuan adalah usaha-usaha yang disengaja untuk melahirkan dunia baru yang jauh dari niat penciptaan awal; yaitu terlahirnya masyarkat yang adil, makmur dan sejahtera. Sejak konferensi yang didatangi dan ditanda-tangani sekelompok pria brengsek, manipulatif nan bodoh, perempuan jadi kehilangan semuanya, ia tak lebih hanya dianggap sebagai barang dan pemuas nafsu para pria. Dari kejadian yang ditutupi dalam penulisan sejarah ini gravitasi berkurang sebanyak 15%.

Kini gravitasi hanya tersisa 40% dan dunia sudah sejak lama diambil alih serampangan oleh para pria, dan nyatanya kita tidak sedang ada di jalur dan arah yang lebih baik. Mungkin saatnya mengubah visi, dengan melakukan misi-misi yang sudah disebutkan di atas.


Semarang, 17 Mei 2021


 

 

 

 

Thursday, May 13, 2021

seorang perempuan yang datang ke mimpiku

 

Ada seorang perempuan yang datang lagi ke mimpiku malam tadi, aku mengenalnya sebagai perempuan asing, beberapa kali perempuan itu memang datang ke mimpiku. Sudah kucoba menutup semua pintu masuk, agar tak sembarangan orang bisa leluasa masuk. Tapi, kupikir semalam ia menyamar menjadi gadis cantik yang memakai gaun putih hingga menyentuh lutut. Sialnya, sampai saat ini aku tak pernah mengetahui siapa perempuan itu. Aku sama sekali tak pernah berhasil menatap wajahnya. Selama ini aku hanya bisa melihat punggung perempuan itu.

Biar kuceritakan bagaimana kejadian dari mimpi itu. Pertama, perempuan asing itu membawa sebuah delman untuk menjemputku, tentu bersama Pak Kusir yang sedang bekerja. Aku mengetahui bahwa itu adalah adegan pembuka dari mimpiku. Ruang duduk di belakang kuda itu cukup luas, seingatku perempuan itu mengenakan gaun putih bersih dengan rambut pendek hampir menyentuh bahu. Tapi aku tidak tahu betul dialog apa yang ada di antara kita, yang aku tahu kami banyak bicara sepanjang perjalanan.

Kedua, kami turun di sebuah rumah yang rindang, halamannya penuh pohon-pohon besar, sehingga rumah itu tampak tak begitu terlihat dari jalanan, gelap. Aku mengingat ada dua pria yang selalu menggoda dan berusaha mengambil perhatian perempuan itu. Namun tampaknya ia lebih berselera untuk berdekatan denganku. Aku juga tak begitu mengenali siapa dua pria itu, aku hanya berhasil melihat wajah dari salah satunya, itu pun aku tak bisa mengingatnya.

Ketiga. Perempuan asing itu sudah berganti baju, ia mengajakku bermain bulu tangkis di halaman rumah. Nah, dalam permainan yang tak cukup sengit itu kami terlibat pada sebuah percakapan yang serius. Katanya ia memiliki seorang adik perempuan yang mengidap sebuah penyakit, sampai ini ditulis, aku gagal mengingat penyakit apa yang perempuan itu katakan.

Keempat, dua pria yang aku ceritakan tadi ternyata salah satunya adalah Pak Kusir yang mengantar kami. Dua pria itu terlihat selalu berada di samping perempuan asing, tampak siap sedia menunggu perintah. Entah mengapa, tiba-tiba aku sudah berada di atas delman bersama Pak Kusir, lalu aku melihat perempuan itu melambaikan tangan, aku tak sanggup melihat wajahnya, ia sudah berganti baju, memakai lagi gaun putih bercahaya itu. Dan aku tak benar-benar tahu ke mana delman itu akan membawaku.

Kelima, ternyata aku dibawanya ke sebuah pantai yang pasir putihnya sangat bersih, lautnya terlihat jernih. Tampaknya pantai itu belum banyak terjamah oleh tangan-tangan manusia. Aku terkesima beberapa saat, aku bisa merasakan angin laut menyentuh kulit kaki dan pipiku. Aku melihat sekumpulan anak muda bermain bersama di bibir pantai, yang kuingat mereka tertawa lepas lalu aku menghampiri, dan mimpi itu berakhir karena alarm dari seluruh ponsel yang ada di rumah berbunyi dan membangunkanku.

Aku sungguh membenci suara-suara alarm, aku selalu bangun tepat saat alarm berbunyi pada waktunya, namun aku selalu kesal saat terbangun bukan dari alarm yang kupasang di ponselku. Ponsel-ponsel lain membunyikan alarm dan pemiliknya tidak bangun, lalu untuk apa alarm itu masih berdering keras tiap harinya. Kini aku jadi penasaran bagaimana kelanjutan mimpi itu dan apa maksudnya.

Sungguh aku berpikir dalam-dalam siapa perempuan asing itu, aku memikirkan alasan mimpi itu terjadi saat aku pergi mandi. Aku menganalisis beberapa hal; pertama, kenapa kami bermain bulu tangkis di mimpiku, aku mengira karena dua raket milikku dipinjam teman sekantorku, dan aku sempat memikirkan apakah ingin memintanya kembali, namun kuurungkan niat itu.

Kedua, keberadaan pantai itu mungkin karena aku melihat seorang teman membagikan gambar ia berada di sebuah pantai untuk menghabiskan waktu liburannya, namun saat kutanya ia ada di mana, ia hanya menjawab berada di pantai, padahal maksud pertanyaanku bukan itu, saat itu aku benar-benar penasaran apa nama pantai yang tampak indah karena keberadaanya di dalam foto, tentu juga senyum dan caption yang menggelitik.

Dulu aku percaya mimpi adalah tanda seseorang memikirkan kita, lalu bagaimana jika aku tidak benar-benar tahu siapa yang ada di dalam mimpiku? Aku sering mengalami hal-hal serupa. Dan karenanya aku menyadari satu hal, bahwa mimpi adalah kumpulan ingatan bawah sadar yang sebelumnya pernah kita dengar, lihat, hirup, kita pikirkan dan kita rasakan.

Lalu muncul pertanyaan, jika aku memimpikan seorang perempuan yang bahkan tidak bisa aku kenali, ingatan bawah sadar apa yang menjadi alasan itu terjadi? Apakah itu ketakutan alam bawah sadarku tentang siapa perempuan yang akan ada di sampingku? Atau sebenarnya di dalam kepalaku muncul pertanyaan yang tidak selalu aku sadari tentang siapa perempuan yang benar-benar bisa meluluhkan hatiku?

Jika benar itu adalah alasan dari kejadian mimpi semalam, artinya selama ini tidak ada perempuan yang benar-benar aku inginkan? Atau aku hanya takut? Aku bingung. Atau jangan-jangan perempuan asing itu semacam bocoran dari tuhan bahwa ia yang akan menjadi pasangan hidupku kelak, benar-benar ada dan sudah disiapkan? Ah! Aku benar-benar membenci mimpi-mimpi.

Lalu kenapa ada delman di mimpi itu? Karena keberadaan delman itu aku jadi sering menyanyikan pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka, kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk… tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda.



Semarang, 14 Mei 2021