Saturday, May 7, 2016

MENUNGGU DI GERBANG SEKOLAH



Gerbang sekolah terbuka untukku, untukmu, untuk kita. Semua orang yang mengatasnamakan dirinya pelajar, melewatinya hampir setiap hari. Gerbang sekolahpun diperlakukan terhormat, selalu ada orang yang menjaganya. Bahkan lebih dari satu orang. Gerbang sekolah adalah awal. Awal ketika kita bertemu, saling menatap dan akhirnya menetap. Aku ingat tiga tahun lalu, ketika kita masih sama-sama diperlakukan tidak adil oleh kakak kelas yang belakangan kita sebut kampret

Gerbang sekolah yang terbuka menjadi pertanda bahwa hiruk-pikuk sekolah akan dimulai dan berakhir. Aku selalu menunggumu di gerbang sekolah pada dua waktu. Pagi dan sore hari, menunggumu yang menunggangi sepeda di pagi hari. Menunggumu untuk bisa pulang ke rumah di sore hari, menolak jemputan yang diutus ibu. Aku selalu suka berada di boncengan sepedamu. Kamu sangat baik, memberinya bantalan supaya pantatku tidak terasa sakit.

Aku suka senyummu kala pagi, senyum yang menyungging membuatku tertawa dan tidak terpaksa, tatapan nakalmu masih terus membekas hingga kini. Aku tahu meski kita tidak pernah dalam satu ikatan hingga kini. Tapi, aku menikmatinya, seperti rasa nyaman ketika aku memelukmu, berpegangan ketika kamu mengayuh sepeda lebih kencang dan melewati beberapa mobil. Aku tidak lupa, yang selalu membuatmu geli karena keningku yang selalu menyentuh punggungmu ketika kita berboncengan.

Kita tidak lupa saat hujan turun selepas pulang sekolah, masih diatas sepeda hitammu kita diterpa hujan yang sama, menikmati setiap tetesnya bersama debar jantung yang terus memacu ketegangan diantara kita. Ketika seragamku basah oleh hujan, juga air mataku. Air mata yang tidak menginginkanmu pergi, perpisahan yang harus terjadi selalu membuatku mengutuk diriku sendiri. Kenapa tuhan menciptakan perpisahan, jika sebuah pertemuan bisa membuat kita saling mengasihi penuh tulus.

Ingatanku masih sama tentangmu, ketika kamu selalu mengajakku berbicara diatas sepeda hitammu. Membicarakan jam pelajaran yang membuat lelah dan penat. Bosan yang kadang mampir tanpa permisi karena guru yang tidak becus mengajar. Dan membicarakan gosip kedekatan teman sendiri. Aku senang, ketika kamu tidak pernah membahas soal kita, meskipun awalnya aku merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung di sekolah. 

Kamu selalu meyakinkanku dengan senyum dan kata-kata manismu yang aku yakin keluar tulus dari hati. Jika sepasang kekasih yang saling mencinta saja bisa saling menyakiti dan patah hati, lalu kenapa cinta menyatukan mereka. Cinta yang seperti itu bukanlah cinta, itu nafsu yang berkamuflase. Kita sama-sama tahu bahwa cinta adalah anugerah terindah yang dipunyai setiap manusia. Cinta adalah yang abadi sejak kita lahir hingga mati.

Belakangan aku sadar, kamu memberikan cintamu untukku tanpa memaksaku untuk memberikan cintaku padamu. Aku selalu kalah soal konsep mencintai. Bagiku cinta adalah saling memberi. Tapi kamu selalu bilang bahwa cinta perihal memberi tanpa kalimat saling. Soal cinta kita tidak boleh pamrih. Orangtua kita mencintai dengan tulus, memberi apa yang mereka punya, tanpa mengharapkan imbalan. Lalu apakah soal cinta kita harus saling memberi, jika pada akhirnya kita menarik pemberian kita.

Aku mencintaimu sebatas nafas, yang tidak bisa kamu lihat namun bisa dirasakan. Jangan terlalu dekat, karena itu akan membuatku tidak bisa merasakan hembusan nafasmu. Aku yang selalu penuh dengan peluh keringat di keningku selalu kamu tertawai. Kamu bilang bahwa aku grogi bertemu kamu. Aku hanya bisa tertawa, mencubit perut buncitmu dan mengatakan “kamu benar” dalam hati.

Masa akhir sekolah telah membuat kita was-was. Ketakutan akan perpisahan terasa di debar jantungku dan bola matamu. Tiga tahun bersamamu, membuatku membenci perpisahan. Meski tak ada kata yang dapat mencegah perpisahan kita untuk tidak datang. Tapi percayalah, perpisahan adalah cara tuhan menguji seberapa besar cinta kita. Seperti kutub negatif dan positif magnet yang dijauhkan, mereka akan bertemu lagi pada akhirnya. Mereka saling menemukan.

Menunggumu di gerbang sekolah akan menjadi aktivitas yang paling aku rindui. Menerjang hujan bersamamu menjadi ingatan ketika hujan menerpa jendela kamarku. Sekolah akan menjadi pelabuhan terakhir sebelum kapal kita berangkat dan berpisah. Jalur perjalanan yang kita pilih memang berbeda, tapi percayalah, kita masih bisa saling menatap dari dek kapal. Melambaikan tangan dan saling mengirimkan rindu juga sentuhan lewat angin yang selalu memberikan kabar baik bagi para nelayan.

Hari ini, ketika perpisahan mengingatkanku dan benar-benar terjadi. Aku memilih berdiri di gerbang sekolah. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahku. Menatap lalu-lalang kendaraan. Tentu saja, menunggumu dengan Kebaya yang terasa tidak nyaman di tubuh. Kenapa sekolah menciptakan acara yang sebenarnya dapat membuat masing-masing dari kita merasa kehilangan. 

Aku benci, tidak bisa mengungkapkan perasaanku di perpisahan yang dekat dan tampak nyata. Aku benci, tidak mendapat apa-apa ketika kita berpisah. Aku benci, tidak bisa mendengar suaramu lagi. Aku benci, tidak bisa melihat senyum yang mengugurkan kegelisahanku setiap pagi. Aku benci melihatmu bahagia tanpaku. Aku benci diriku yang tidak bisa menghilangkan bayangmu di pikiranku.

Aku masih menunggumu yang tidak kunjung datang menemuiku di gerbang sekolah. Aku bertanya pada diriku: Apakah perpisahan sudah benar-benar terjadi? Aku masih belum percaya, kematian telah merenggutmu dariku.

Friday, May 6, 2016

Embun Senja yang Terik

Embun pagi tadi mengacaukan mataku 
yang asik mentapmu

Terik siang ini 
membasahi keningku 
yang siap kau kecup

Senja sore nanti
yang paling kutakuti
melepasmu sekali lagi

Tuesday, May 3, 2016

Menunggu hujan reda

Aku benci berada diantara orang-orang yang menunggu hujan reda
Mereka berisik, membicarakan langit yang tak adil
Dan mengumpat perihal air dan tuhan
Aku benci berada diantara sekumpulan muda yang menunggu hujan reda
Mereka sibuk mengabadikan hujan, memaki di semua sosial medianya
Seperti semua orang peduli celotehannya
Aku memilih menerobos hujan dan bernyanyi sekeras aku mencintaimu
Menyentuh dinginnya hujan, memeluk angin yang menyetubuhi
Aku memilih sendiri, berteman hujan yang menepi, membuat sepi
Hujan yang meriah tak serupa hatiku
Hatiku tak cukup meriah mengenangmu
Hingar bingar kota terasa akut menunggu hujan yang tak kunjung reda
Hujan membuatmu terasa abu di selepas mataku
Aku ingin basah oleh hujan,
Menikmati setiap tetesnya bersamamu
Tapi aku tak lupa
Kesendirian dan Rasa sepi adalah dua hal yang berbeda
Entah, aku yang mana

Saturday, April 30, 2016

Mei satu tahun lalu

Mei satu tahun lalu
Semua yang pertama muncul diantara kita
Menyulam jaring laba-laba tua di sudut kedai kopi
Rindu dan tengah malam yang menyekat namun terasa dekat
Mei satu tahun lalu
Keterasingan jadi milik kita berdua
Diantara kursi tua dan meja kayu berpola elegi
Tangan yang dingin itu tersentuh pori
Mei satu tahun lalu
Bawa aku ke duniamu sekali lagi
Meneropong mata yang entah menatap apa
Menyentuh nafas yang entah untuk siapa
Mei satu tahun lalu
Tidakkah kau ingin mengulang malam itu
Mei satu tahun lalu
Rasa itu masih ada dan tanpa ragu
Memeluk tubuh penuh lusuh
Malam-malam tetap sama sejak Mei tahun lalu
Menunggumu di kedai itu

Friday, April 29, 2016

SISA YANG TERULANG

Aku tak mengulang rasa untukmu

Meski kau telah menanam semua di hatiku

Aku butuh mati sebelum kau cintai (lagi)

Kematian telah menuntunmu sebelum aku

Pahitnya kopi masih tak bisa membawamu padaku

Tapi, manisnya teh masih menahanku pada jantungmu

Jadi, bahagiakah kau dengannya

Aku bertanya sebelum kau kembali dan menjadikanku sisa


Thursday, April 28, 2016

BATAS

Kau tahu, rasa sakit dan bahagia hanya sebatas sentuh
Kau pun tahu rasa sayang dan benci hanya sebatas senyum
Kau juga tahu rasa yang menggebu di dadaku kala itu
Ingatkah? kita pernah dalam satu bahu yang sama
Kita pernah dalam payung yang sama
Kita pernah membagi tangis yang sama
Kita pun tahu ciuman itu kala hujan mengepung rumahmu
Lalu siapa kita sekarang
Apa kita sekarang
Benarkah, sudah tak ada lagi kita
Kenapa?

Sunday, April 24, 2016

KEKASIH YANG MENUNGGU DI UJUNG GANG

Sebelum pagi, seorang pria melihat bintang di langit barat. Bulan yang kuning bundar itu tetap tak sempurna. Selalu ada noda hitam di setiap lekuknya, bukti bahwa bulanpun tak sempurna meski banyak yang mencintainya tanpa sebab. Subuh yang baru saja selesai menyisahkan aroma wangi khas para ustadz. Seorang pemulung yang bertubuh kecil, sibuk merogoh tong sampah di kampung itu. Pagi buta jadi temannya, karena setelah matahari terbit manusia-manusia congkak itu tak mempersilahkan para pemulung mengais rezeki di tong sampah mereka.

Kekasih yang menunggu selingkuhannya di ujung gang, risau berdiri di samping gapura yang menjulang persis disamping pohon mangga. Tubuhnya yang putih mulus semakin terlihat karena sinar lampu yang jatuh dikulitnya. Dadanya yang montok, tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Tapi, padat, menyembul keluar dibalik bra warna hitamnya. Pemulung itu sesekali meliriknya penuh nafsu.

Angin pagi yang dingin menyibak baju terusan hitam tanpa lengan yang membungkus tubuhnya. Membuat lututnya bergetar karena kedinginan. Rambutnya yang dikuncir dan bibir tipis dengan gincu merah muda semakin membuatnya tampak menggoda. Sekali lagi, pemulung itu belum juga selesai merogoh tong sampah yang berada tak jauh dari tempat perempuan itu berdiri. Meski sudah tak ada lagi sampah yang akan dipungutnya. Pemulung itu terus berpura-pura merogoh tong sampah dengan tongkat yang bengkok diujungnya sambil sesekali melirik betis perempuan itu yang putih mulus, dengan heels hitam yang membuatnya semakin cantik dan seksi.

------

Keadaan rumah malam itu semakin kacau. Suami yang merasa aneh dengan istrinya bertanya lembut pada istrinya. Pernikahan yang telah bertahan duapuluh tahun terasa merenggang. Sang istri tak lagi mau melayani suaminya di atas ranjang. Agnes dan Ary sepasang suami-istri yang sempurna. Ary tak lagi menemukan keteduhan hatinya dari diri Agnes, yang makin hari makin terlihat aneh. Ary tak pernah lagi bisa meraskan kenikmatan kelamin istrinya. Ary hanya bisa sesekali memegang payudara istirnya di tengah malam, saat Agnes tertidur pulas.

Ary yang bertanya lembut ditanggapi dengan nada yang ketus oleh istrinya. Agnes tak mau Ary ikut campur dalam masalahnya. Masalah yang tak juga diceritrakan oleh Agnes. Masalah yang membuat pernikahan tak terasa indah, lagi. Pernikahan mereka menjadi ladang kebencian yang terus dipupuk Agnes dan Ary mencoba memberinya hama, agar rasa benci itu tak tumbuh terus menerus. Agnes masih tampak muda, tak terlihat garis keriput pada wajahnya, masih tampak cantik, anggun dan menggoda.

Ary tak ingin anaknya yang kuliah di luar kota mengetahui masalah orang tuanya. Seorang ayah yang tak ingin mengganggu fokus anaknya yang ingin menjadi arsitek. Jakarta jauh dari Semarang. Anak lelakinya hidup cukup nyaman di Semarang. Dengan Apartement di pusat kota dan satu Honda Jazz silver berplat H. Dengan pekerjaan Ary dan jabatannya yang terpandang, tak susah bagi Ary, memberikan segalanya untuk keluarganya. Ary pria tampan yang setia dengan istrinya, meskipun banyak wanita cantik yang mendekatinya dan rela dijadikan istri kedua, Ary tetap teguh menjaga keluarga kecilnya. Pria idaman banyak wanita.

------

Bayu, anak Agnes dan Ary. Menjadi idola di kampusnya, seorang penyanyi solo dengan suara lembut dengan magis yang mampu meneduhkan hati para wanita. Badannya yang tinggi-tegap, rahangnya tegas dengan kumis yang menggoda. Wajahnya yang seperti bule, membuat orang-orang mengira bahwa Bayu punya keturunan bule. Meskipun tidak sama sekali. Pernikahan Sunda-Jawa membuat wajah Bayu tampak tampan dan enak dipandang. Keahliannya dalam memainkan musik semakin menambah keseksiannya dimata para wanita. Gitar, piano dan Saxophone menjadi hobinya setiap hari. Matanya mampu meluluhkan hati semua wanita yang memandangnya, seperti rasa nyaman ketika memluk guling, rasa nyaman yang tak bisa dimilikki.

Bayu lebih dekat dengan Agnes ketimbang Ary. Kedekatan Bayu dan Agnes serupa sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Meskipun tak terlalu dekat dengan ayahnya, Ary. Bayu sangat menghormati ayahnya yang terus menyuplai dana untuk kuliah dan kesehariannya. Teman-teman Bayu lebih banyak para wanita yang awalnya berharap untuk bisa menjadi kekasihnya, namun kedinginan Bayu mematahkan keinginan semua wanita yang mendekatinya. Kebaikannya terhadap semua teman-temannya diartikan hanya sebatas kebaikan antar teman, tidak lebih. Lagipula Bayu mencintai salah satu dosennya. Dosen yang juga menjadi idola para mahasiswa dikampusnya.

Hubungan yang hanya sebatas antara mahasiswa dan dosennya. Saling menatap ketika ada kelas, saling memuji penampilan. Saling memuji kecantikan dan ketampanan. Saling bercumbu di dalam mobil. Bayu dan dosennya saling mencintai tapi sama-sama tak ingin melangkah lebih jauh. Lebih tepatnya dosen Bayu memilih untuk tidak berstatus dengan Bayu, karena telah memilikki suami dan seorang anak umur duabelas tahun. Bayu sedikit tidak bisa menerima keadaan itu. Tapi Bayu, memilih untuk mengalah, menerima keinginan yang tak bisa menjadi kenyataan.

Hubungan antara Bayu dan dosennya menjadi perbincangan paling menarik dikampusnya. Apalagi setelah Bayu membawanya ke Apartementnya, pada pergantian tahun. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di Apartement Bayu. Semua hanya bisa menebak tanpa bisa memastikan.

------

Kekasih yang menunggu selingkuhannya di ujung gang. Risau, melihat jam tangannya. Fajar mulai tampak membuat langit timur terlihat sedikit oranye, meskipun langit diatas kepala Agnes masih hitam pekat. Pemulung itu telah lama pergi setelah Agnes menangkap matanya yang usil menatap dadanya.

Tepat ketika Agnes melepas kuncirnya, menggoyangkan kepalanya hingga rambutnya terurai indah. Honda Jazz Silver berplat H, pelan-pelan berhenti tepat didepannya. Agnes membuka pintu depan. Mencium bibir pria dibalik kemudi setelah duduk dan menutup pintu mobil. Senyum keduanya mengembang, seperti sepasang kekasih yang telah lama merindu dan baru bertemu. Agnes sesekali bersandar pada bahu pria itu. Mengelus lembut lengannya yang kekar dan berotot.

Di dalam mobil yang telah memasukki tol. Agnes buru-buru meminta Bayu untuk meminggirkan mobilnya, tidak seperti biasanya yang sabar menunggu hingga setengah jalan tol. Bayu meminggirkan Honda Jazz Silvernya, mematikan mesinnya menatap Agnes yang kini berada di pangkuannya. Agnes menghadap Bayu yang masih belum pindah, lengannya merangkul leher Bayu. Kedua tangan Bayu menyentuh pinggul Agnes. Dengan nafas yang menderu, pelan-pelan Agnes menempelkan bibirnya pada bibir Bayu, melumatnya perlahan tanpa terburu-buru. Lidah mereka saling beradu, Agnes menggigit lidah Bayu dengan ganas sembari menurunkan Ritsleting bajunya. Menurunkan bajunya setengah, membuat bra hitamnya terlihat, lalu membuka kaitnya. Bayu menyentuh dan meremas dada yang padat itu.

Beberapa menit mereka bercumbu didalam Mobil ponsel di kantong kanannya bergetar. Satu pesan dari dosen yang sangat dicintainya, Bayu membacanya dalam keadaan masih mencium Agnes dan tangan kirinya meremas buah dada Agnes.

“Bayu, kapan pulang ke Semarang? Suamiku pergi ke luar kota. Aku tunggu di rumah ya.”

Setelah habis membaca setiap kata. Bayu semakin bersemangat, ponselnya dibiarkan jatuh menyentuh lantai mobil. Dahinya penuh peluh keringat. Tangannya menarik tuas jok mobil, memiringkannya penuh. Sampai matahari benar-benar menghapus gelapnya langit dan Jalan tol sudah dipenuhi pengendara. Agnes dan Bayu menyudahi apa yang terjadi di dalam mobilnya.

Hal itu biasa dilakukan Agnes dan Bayu sebelum kumpul keluarga. Setiap dua minggu sekali setiap weekend Bayu selalu pulang ke Jakarta untuk berkumpul bersama Ayah dan Ibunya, Agnes.