Tuesday, February 14, 2023

Bagian 2: Luruh.

 

Ema tampak kesal membaca sebuah instruksi pada sebuah kertas. Wajahnya menampilkan seluruh kecantikan di ruangan itu, iya, perempuan ini makin terlihat cantik saat semua kerut di wajahnya beradu.

Ia baru saja membeli laptop pertamanya, laptop baru, hasil keringatnya sendiri. Kami berada di sebuah coffeshop tempat biasa kami berkumpul. Aku, Ema, Sarah, dan Romy. Ema seperti biasa, jadi yang paling tepat waktu di antara kami. Malam ini Ema tampil casual dan santai, blus putih bergaris dengan dua kancing teratas yang dibuka, jeans ketat hitam, dan rambut yang dicepol.

“Laptop baru!” seruku dari kasir.

“Laptop, laptop… Mac nih!” ucap Ema tetap terpaku pada layar.

Malam tahun baru dan kami masih harus menyelesaikan deadline masing-masing, Ema dengan autocad yang sama sekali tak kupahami. Aku dengan naskah medioker yang harus diedit untuk penerbit. Lebih membosankan membaca naskah medioker karena naskah-naskah itu bisa membuatmu pusing karena saking jeleknya. Aku ulang, karena saking mediokernya.

Aku duduk di samping Ema, memeluknya—membuka laptop.

“Romy ke sini?”

“Please deh…” Ema masih fokus pada Mac barunya.

Romy? Akan kuceritakan sedikit-sedikit. Romy orang terakhir yang masuk circle kami, perkumpulan kecil ini. Romy pacar Ema. Tapi rumit. Lebih rumit dari apa yang terjadi di antara kami dan Sarah.

Kami bertiga… untuk yang satu itu, akan kuceritakan nanti.

Aku dan Ema berteman baik karena kami menangis bersama saat pertama kali nonton konser Yura Yunita. Ingatan itu masih tertanam di pikiranku, aku merangkul Ema pada lagu keempat, dua lagu sejak air mataku meluap, tak ada ponsel, kami benar-benar menikmati tangis itu.

“Aku udah nangis dari tadi,” ucapku malu menunjukkan pipi yang basah.

“Sama…” Ema  balik merangkulku. Ia membiarkan tangis, tak diusap. Banjir.

Sejak satu kejadian itu, Ema menyebutku teman menangis bersama. Sebutan yang menggelikan, namun aku menikmatinya.

“Penulis mana lagi?” tanya Ema.

“Kamu ga kenal.”

“Look…” Ema memamerkan Mac barunya seperti seorang spg di depan etalase.

Aku hanya mengangguk—memanyunkan bibir.

“Sarah mana? Gak bareng?”

“Nyusul, ga tahu tiba-tiba.”

“Cowok?”

Aku hanya mengangkat kedua bahu—fokus di depan laptopku.

“Cowok mana lagi…”

Dua jam pertama, kami tak banyak bicara, menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Ema memutar playlist favoritnya dalam volume yang sangat minim—namun masih bisa kudengar, coffeeshop itu hening, mereka tak memutarkan musik apapun. Mungkin karena di tempat ini, lebih banyak orang mencari ketenangan, mengerjar deadline kerjaan atau sekadar tugas kuliah yang sebenarnya bisa diselesaikan sekali duduk dalam sepuluh menit.

Satu jam lagi tahun baru. 2023. Ema sudah lebih dulu menyelesaikan deadline, sudah setengah jam ia meracau di sampingku, aku yang masih fokus di depan layar laptop tidak begitu jelas menangkap racauan Ema. Tapi dia paham, aku masih mendengar, sesekali menanggapi. Coffeeshop ini biasanya makin malam makin ramai, ia buka 24 jam. Namun hari ini, hanya terlihat beberapa orang saja. Kami duduk di ruang non smoking yang tidak lebih luas dari smoking area.

“Aku mau ngomong serius,” tiba-tiba Ema mengecilkan volume suaranya.

Aku sontak menoleh, ada tatapan geming beberapa detik—saling tatap. Ema melirik naskah yang kukerjakan, menyadari itu, aku menutup laptop—mulai memfokuskan diri sepenuhnya pada apapun yang akan keluar dari bibir tipis itu.

“Seberapa serius?”

“Romy…” ada getar di suara Ema, “Aku udah putus sama dia.”

“Akhirnyaaaa.”

Ema menampar pundakku.

“Iyalah, toxic brooohhh. Aku aja heran, aku mau temenan sama dia karena kamu, kalo engga ya boro-boro.”

“Mau fakta yang heboh ga?” Ema gossip mode

“Kayaknya dia deket sama Sarah.”

“Wtf… Ga mungkin lah. Sarah emang anaknya agak miring, tapi masa temen sendiri dia gitu.”

“Justru Sarah saved me. Firasatku ya dia datang telat nih karena lagi sama Romy.”

Tiba-tiba Sarah datang dengan senyum lebar, lebih lebar dari jidatku. Kami berdua menatapnya, Sarah mulai bingung—senyumnya berubah tanda tanya besar. “Kenapa?”

“Romy mana?” tanyaku.

Ema menampar lenganku sekali lagi.

“Maksudnya kamu bareng Romy ga?”

“Dari mana, Sar?” tanya Ema.

“Ada urusan,” jawab Ema menuju kasir—memesan minuman.

“Bego lo yaaa,” Ema berbisik.

Tak ada lagi konfrontasi, setelah Sarah duduk dan memesan minuman kesukaannya. Tak ada lagi yang membahas. Romy tak ada di sini karena satu alasan, aku dan Ema tak ada yang tahu. Mungkin Sarah jelas mengetahuinya.  

Tentang Sarah? Dia adalah fashion designer, paling keren di circle kami. Mungkin di kota ini tak ada yang tak tahu Sarah. Auranya bisa mengintimidasi semua orang yang berada di ruangan bersamanya. Aku tak bisa mendeskripsikan apa yang ia pakai malam ini. Intinya matamu bukan hanya akan terpaku pada manis wajahnya, atau bibir tebalnya, namun juga apa yang ia pakai.

Kami menghabiskan malam tanpa perasaan canggung, meski pernah terjadi sesuatu di antara kami bertiga, untuk yang satu itu akan aku ceritakan nanti. Lima menit lagi tahun baru, dan perutku mules, panggilan alam tak tepat pada waktunya.

“Aku berak dulu ya,” ucapku cepat berlalu.

“Anjirrr, tahun baru dilewatkan demi berak!” Ema setengah teriak.

“Bacot!”

Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi di antara Ema dan Sarah saat aku pergi ke kamar mandi. Tapi sungguh aku penasaran. Iya, aku melewatkan lima menit pertama di tahun 2023 dengan berada di kamar mandi, merilis semua kenikmatan bumbu-bumbu ramen, nasi rames, semangka, indomie rebus telor, teh poci, kopi susu. Semuanya.

“Mau langsung balik?” tanya Ema setelah aku selesai—nada bicaranya tampak buru-buru, ada sesuatu terjadi saat aku di dalam kamar mandi. Aku curiga.

“Langsung?” tanyaku menatap Ema—singkat melihat Sarah.

“Ga mau ke mana-mana lagi, kan?”

“Engga sih, kamu Sar?” tanyaku pada Sarah.

“Iya, kayaknya pulang aja deh.”

Entah obrolan apa yang terjadi di antara mereka dua, yang aku tahu pasti; ada yang tak biasa. Situasinya terasa sangat mencekam, mengintimidasi. Ema sudah membereskan laptopnya. Saat hendak kumatikan laptop, aku melihat tanggal dan tahun yang salah di layar.

“Jangan ngerjain dong…” celetukku santai.

“Apaan?” tanya Sarah.

“Ini tanggal tahunnya beda.”

“Ha? Kita gak ada yang nyentuh laptopmu.”

Aku melihat jam di layar ponselku. 1 Januari 2020. Bingung. Ema dan Sarah melihat jam di ponselnya masing-masing; 1 Januari 2020. Aku mendatangi kasir, bertanya jam, barista itu sama bingungnya denganku. Lalu kami menanyai setiap orang, semua jam di ponsel dan laptop mereka menunjukkan waktu yang sama; 1 Januari 2020.

Seperti baru saja dipukul dari berbagai sisi oleh petinju paling mengerikan, tubuhku lemas—aku sungguh tak bisa memproses ini, aku, Ema dan Sarah saling bepandangan. Tak bisa mengucapkan apa-apa. Ini baru. Tak kupahami sama sekali.

“kita mundur tiga tahun…” Ema terbata.

“Fuck,” Sarah berserapah.

“Kita harus pulang sekarang, ngecek ini cuma kejadian sama kita atau semua orang.”

Kami bertiga saling pandang, dan seluruh orang di coffeeshop itu bergegas merapikan semua barang bawaannya, dalam hitungan detik tempat itu sepi. Ada kekosongan yang masuk kepalaku. Aku sungguh tak mengerti. Seolah waktu tak lagi relevan, seolah semuanya luruh.

 

Tuesday, February 7, 2023

Bagian 1: Meluruh.

 

Ia menatap lekat ponselnya, kulihat bayangan memantul di kacamata bundar kecokelatan. Ada yang ia takutkan. Ada yang ia tanggung. Seperti sebuah mangga yang siap dipetik, ada banyak pertanyaan menggantung di kepala, namun senyum canggung terlanjur mengakhiri peperangan di jari-jemarinya.

“Entah,” ia memegang gelas kopi yang tinggal setengah, “aku juga ga tahu,” sedotan menempel di bibirnya. Satu seruput lagi.

“Aku tahu apa yang bakal terjadi.”

“Aku ga tertarik. Simpan aja buat kamu.”

“Okay…” ya barangkali satu kesempatan itu tak ia pakai. Kesempatan untuk melihat apa yang akan terjadi di hidupnya dalam lima tahun kedepan. Aku justru jadi penasaran, masalah besar apa yang sedang ia hadapi, sampai membuatnya tak berhasrat pada banyak hal.

Setelah satu kejadian membingungkan satu tahun lalu, aku seperti mendapatkan sebuah kado paling penting sekaligus mematikan. Ya kau tahu, alam semesta bekerja dengan caranya sendiri, aku bisa melihat apa yang terjadi pada seseorang dalam lima tahun ke depan hanya dengan menatap dalam matanya. Dan untuk Sarah, seseorang yang duduk di depanku saat ini, aku bahkan takut untuk mengakuinya.

Pagi tadi, ia sudah berada di depan pintu rumahku, menggedor keras, seperti samsak tinju, atau barangkali ia membayangkan mantan terakhirnya. Dengan setelah running ia bermaksud mengajakku, meski sejak awal aku tahu, niatnya  bukan untuk itu. Sarah tak ingin mengetahui apa yang kulihat. Tapi dia penasaran. Ia memilih untuk mengetahuinya sedikit-demi-sedikit.

Kau mungkin sama denganku, membaca orang adalah keahlianmu. Bahkan hanya dengan satu gestur, kau tahu apa yang sedang terjadi, atau yang akan terjadi nanti. Sarah memahami kemampuanku dengan baik, lantas setiap kali kami bertemu ia menyamarkan perasaannya, ia tak suka aku benar menebak tentang kondisinya. Perasannya. Aku pun tak berusaha mendorongnya untuk terus terang.

Cerita ini dimulai dari akhir yang sudah aku ketahui. Hati Sarah luruh sekali lagi, pada seorang pria yang tahun lalu—sebelum kejadian membingungkan di tahun baru, sudah ia selesaikan. Masalah pelik, benang kusut. Seperti perputaran jarum dalam jam dinding. Sarah hanya mengulang kejadian yang sama, cerita yang sama. Rasanya ingin kuledakkan kepalanya, teriak di depan wajahnya.

Kau akan kembali pada permulaan yang sama. Jadi tidak pernah ada bedanya. Sama sekali.

“So, dia ngasih cincin.”

Langkahku terhenti. Aku belum melihat yang satu itu.

“Ngelamar?”

“Cuma ngasih cincin, bukan cincin lamaran,” Sarah tahu ada yang tak beres, ia melihat wajah datar penuh bingung.

“Aku belum lihat yang satu itu.”

“Serius? Aku pikir kamu udah lihat semuanya?”

“I think so…”

“Coba tatap mataku lagi,” Sarah meminta, ia mendekat. Pelan-pelan kutatap matanya, aku tak pernah suka momen ini. Aku tak pernah tahu apakah hal buruk atau baik yang ada di dalam sana. Apa yang akan aku lihat, namun dengan Sarah, ada getar di tubuhku. Ada debar tak normal.

Sarah adalah penggoda, aku tak perlu dia melebarkan senyumnya seperti itu saat ia menatapku. Sarah tahu itu kelemahanku, dan Sarah tahu aku tak akan melakukan apa-apa, membuatnya lebih leluasa. Aku bisa saja berlagak seperti Jesse Wallace dalam Before Sunrise, spontan, dan melakukan semuanya seperti di film-film—pelan-pelan mendekat ke bibirnya, menciumnya perlahan, menyentuh lehernya. Dan mengakhiri pagi itu dengan basah di bibir. Tapi Sarah tetaplah Sarah, itu tak akan terjadi. Dia hanya suka melihat orang tergoda. Titik.

“Masih sama.”

“Jadi?”

Aku hanya mengangkat bahu, mencoba mencerna semuanya. Kami melanjutkan olahraga kami, Sarah hanya berjalan, duduk menungguku di sebuah bangku yang menghadap langsung ke danau luas di tengah trek lari. Botol airnya sudah habis lebih banyak dari yang kubawa. Dari kejauhan kulihat dirinya fokus pada ponsel, senyum menghiasi bibirnya. Tapi aku tahu itu pria yang berbeda.

“Gaya apa lagi yang kamu eksplore?” tanyaku persis di depannya, ia buru-buru mengunci ponselnya. Kuraih botol minumku, membuka tutup—menatap Sarah. Ia belum menjawab sampai kuminum air lemon dalam botol itu.

“It’s obvious, sar.”

“Dan kamu tahu siapa?”

Sarah terdiam, aku mengangguk.

“Yuk cari makan!” Sarah bangkit dari kursinya, langkahnya cepat—ia malu. Harus balik menggoda untuk melawan penggoda.

“Aku juga udah lihat yang satu itu,” ucapku mengiringi langkahnya.

“Stop it,” pipi Sarah memerah.

“Detail…”

“Ha?” Langkah Sarah terhenti, dia melihat orang-orang sekitar, seperti sedang merangkum informasi paling rahasia, ia setengah berbisik. “Are fucking serious?”

Aku hanya mengangguk, lalu melempar senyum… Sarah? Melanjutkan langkahnya yang buru-buru.

Kadang kupikir, orang-orang yang hanya ingin ditemani adalah manusia paling buruk dan membosankan di dunia ini. Mereka tak punya niat untuk mengenalmu, tak punya niat untuk menjadikanmu teman—apalagi teman dekat. Dia sama sekali tak berhasrat membangun bonding—hal paling penting antar dua manusia.

Hanya kebetulan saja, di antara orang yang selalu pergi dan menemaninya, hanya aku yang tersedia. Dia mencari siapapun di luar pertemanan yang sudah dibentuknya—yang saat itu barangkali sedang sibuk-sibuknya—siapapun, tak penting dia orang dari mana, hanya untuk menemaninya, karena ia tentu tidak bisa dan tidak berani sendirian. Mereka lemah jika harus sendirian.

Sarah tak begitu. Ya meskipun dulu dia adalah salah satu manusia itu. Kami banyak membagi cerita dan pikiran masing-masing, jadi kupikir hidupku akan baik-baik saja saat aku memiliki seseorang yang mau menerima dan menampung hal-hal buruk dariku, hal-hal aneh paling privat, atau hal-hal yang tak biasa dibicarakan.

Meskipun aku tahu, aku tak akan punya kesempatan. Namun untuk saat ini, aku bersyukur. Setiap hari. Sarah ada di sana. Dengan segala sifat buruknya.

“Ada yang harus aku omongin.”

“Apa?”

“Aku gak bisa lihat apa yang bakal terjadi sama aku lima tahun ke depan.”

“Maksudnya?”

“Semalem aku ngaca, aku penasaran aja, aku ngelihat mataku sendiri. Technically sama kayak aku ngebaca kamu, atau yang lain.”

“Tapi di depan cermin?”

“Iya.”

“Terus?”

“Aku cuma bisa lihat kehidupanku tiga tahun lagi.”

“Kiamat?” Sarah dengan satu sifatnya. Lebay.

“Atau mungkin kematianku sendiri.”

“Jangan bilang gitu…”

“I know, tapi aku penasaran, kenapa cuma sampai di tahun ketiga.”

“Emang apa yang kamu lihat?”

Aku memeluk Sarah. Tak menjawab apapun. Ia pun tak memaksaku, hanya membalas pelukan itu. Sesuatu yang selalu kami lakukan.

Wednesday, December 7, 2022

Mimpi Buruk

 ada mimpi buruk yang kembali

bertubi-tubi merusak ekor mataku

sebuah rahasia gelap mengejar telingaku

bagai badai berisik menangis di ujung jemari


kau pada tiang dingin dengan hujan,

rambut pendek kau gunting sekali lagi

lalu aku kembali pada lekuk tubuhmu

tubuh yang luruh di segala subuh


temani aku menamai kucing-kucing kecil

yang kau temukan di pasar pagi itu

atau anjing-anjing liar kelaparan yang

mendekat ke kaki-kakimu


sudah tak ada lagi pesan, hanya ada sungkan

meluruskan enggan di kotak masuk

yang berdebu, berderit sunyi

sungguh aku rindu ceritamu.


Tapi bisakah kau tetap mendengarkan aku?

saat jarum pipih menusuk inti jantungku

kau hanya peduli pada isi kepalamu

kau muntahkan, kau lupakan


kau luput dalam satu hal

aku hidup dalam dua mimpi buruk;

mimpi dalam tidurku

dan mimpi burukmu

.


Semarang, 7 Desember 2022

Tuesday, October 11, 2022

Tuhan Ibu.

 

Gerimis membaca habis pikiranku

malam penuh sesak oleh klakson

kupandang deretan lampu kuning

dan para perokok di dalam mobil.

 

Ada ingatan jauh di kepalanya

tentang pulang dan rumah

tentang ibu dan bapak

tentang tanaman yang belum disiram.

 

Ada cerita yang hilang

sebelum sempat sampai tujuan

mengapa kau usik aku

dengan pertanyaan asing di kepala.

 

Tuhan sedang apa?

apakah ia libur hari ini?

menemui kekasihnya?

atau merebahkan tubuh?

 

Seorang pengembara baru lahir di tubuhku,

tidak ada kamus yang ia tahu

ia menemukan jalan lurus

saat aku menaruh kata di telingamu.

 

Kupandang lampu kota di matamu,

hutan rimba di alismu,

lautan basah di bibirmu,

dan kasih ibu di tanganmu.

 

Temani aku menemukan pertanyaan baru,

apakah perjalanan ini akan sia-sia?

atau berakhir di tempat tidurmu,

tempat segala kecamuk di kepalaku

luruh di balik bantal dan pundakmu.

 

 

 

Semarang, 12 Oktober 2022

Bahasa Ibu.


Aku lahir dari bahasa ibuku,

saat ia sibuk di dapur

menyiapkan makan malam

dan meja yang panjang.

 

Garam, merica, dan selada

beradu dalam kaldu sapi

yang aromanya menguar

keluar rumah.

 

Tak ada yang beda;

masakan ibu atau kado terakhirmu,

novel Sapardi yang kau pilih acak

dari toko online langgananmu.

 

Aku mencium wangi tubuhmu

saat kubuka tiap halamannya

membacanya habis,

dan membayangkan matamu.

 

Tiap kali kupandang

seolah-olah ada bahasa baru yang lahir,

bahasa yang ganjil dan rumit

tapi begitu melegakan.

 

Masih kusimpan kadomu,

juga kertas kado yang membungkusnya,

atau kartu ucapan kecil

dari tulisan tanganmu.

 

Kutemukan bahasa baru,

setelah bahasa ibuku

bahasa yang membuatku

menemukan kata-kata baru.

 

 

 

Semarang, 12 Oktober 2022

Pembalut Ibu.

Aku dibutakan oleh

masa kecil yang asing

dihina tak lulus mengaji

tak akan jadi apa-apa

 

ayat-ayat suci terbakar

bagai rokok dji sam soe

pada asbak warna tosca

milik bapakku

 

ibu sedang makan lele

sambil memandang lemari kosong

bapak melukis biduan

dengan kerokan merah gosong

 

kubaca kitab-kitab injil

mengais kekalahan lama

yang kini kekal

membuatku hilang akal

 

tuhan yesus, sembuhkan aku

dari prasangka buruk soal waktu

tentang mengapa jejak-jejak buruk

basahnya bagai darah di pembalut ibu

 

 

 

Semarang, 12 Oktober 2022


Wednesday, August 31, 2022

Adakah yang Mencintaimu Hari Ini?

 

Dulu, kupikir mencintai gak akan serumit dan sesusah ini. Ada hal-hal buruk yang selalu harus dapat ditoleransi, karena kalo enggak barangkali seseorang atau sesuatu yang kita cinta, bisa menguap dan hilang. Lantas memangnya siapa yang bisa mengendalikan nasib? Apalagi nasib-nasib buruk yang hadirnya seringkali justru saat kita dalam situasi yang stabil. Aman. Nyaman.

Gak semua orang layak dapat kesempatan kedua, tapi bukan berarti mereka gak bisa dimaafkan. Ini adalah cerita tentang gimana seharusnya kita bersikap pada nasib buruk, pada situasi yang gak kita duga, dan pada perasaan yang bikin kita bisa disebut sebagai manusia; tidak stabil, penuh goncangan emosi, lelah pikir, lelah fisik. Iya, manusia. Kita semua sedang belajar dan menuju bentuk evolusi terbaik kita. Entah sampai kapan, entah seperti apa.

Gak ada orang yang akan sepenuhnya mengerti bagaimana kamu menghadapi trauma, mensiasati respon terhadap trauma, atau bagaimana caramu keluar dari perasaan buruk tentang kenangan traumanya. Bahkan mungkin diri kita sendiri. Trauma datang karena kita cenderung gak siap, dan gak terbekali cara merseponnya, seringkali karena situasi yang kita hadapi saat itu gak sepenuhnya bisa kita mengerti.

Ya tapi kita manusia, kita akan bisa survive, dan belajar dari itu. Sekalilagi, gak akan ada yang sepenuhnya bisa mengerti. So, biarin aja. Shit happens, kita gak bisa apa-apalagi selain berusaha berkomunikasi dengan jujur dan apa-adanya. Ketika semua yang kamu rasakan dan pikirkan sudah diutarakan, itu cukup. Gak perlu fokus pada respon orang, karena itu gak lebih penting dari apa yang selama ini kita pendam, yang akhirnya bisa kita muntahkan semuanya.

Apa yang lebih penting dari diri kita sendiri? Barangkali hanya satu, hubungan kita pada manusia lain. Real human interaction. Still, kita masih manusia, we need each other. Untuk apapun alasannya, hidup sendiri adalah momok yang menakutkan, kesepian adalah musuh terbesar di dunia yang sekarang serba ramai dan kasak-kusuk. Kesepian menjelma dalam berbagai bentuk, bahkan pada keramaian sekalipun. Umumnya itu muncul karena trauma di masa lalu, lalu muncul trust issues, yang kita pikir kita bisa handle diri kita sendiri. Kita selalu berpikir; aku cukup. Padahal? Gak sepenuhnya tepat.

We need a healthy ecosystem, alam semesta punya mekanisme ekosistemnya sendiri, bahkan pada bencana alam sekalipun adalah bentuk mekanisme ekosistem mereka. Tubuh kita punya ekosistem, yang bergerak sesuai aturan-aturan, yang perlu kita lakukan adalah merespon reaksi ekosistem itu dengan baik, harus ideal, supaya ekosistem yang sudah ada, atau yang sedang rusak dan gak baik-baik aja, gak melebar ke mana-mana, gak seperti tumor. Kita bisa menghentikannya sebelum itu jadi lebih parah. Balik lagi, manusia belum selesai berevolusi, kita lebih sering dikendalikan oleh pikiran dan perasaan sendiri, bukan sebaliknya. Sehingga merusak ekosistem. Ini termasuk pada ekosistem universal relationship, atau romantic relationship.

Sometimes we need space, oke, tapi mau sampai kapan? Tiap manusia butuh penjelasan, karena gak adil, ketika ekosistem yang sudah terbentuk dengan baik, harus hancur karena situasi gak terduga, dan kita tinggalkan tanpa penjelasan. Kunci dari ini semua adalah komunikasi dua arah yang jujur dan apa-adanya. Kita cenderung tidak pernah sengaja menyakiti orang, dan menjadi jujur akan memudahkan penyelesaian masalah itu. Apakah kita bisa legowo bahwa itu sudah terjadi, dan kita harus seperti apa setelahnya?

Menjaga ekosistem adalah tentang mencintai apa yang kita punya, apa yang bisa kita jangkau, ekosistem tubuh yang bisa kita kelola dan hanya kita yang bisa, ekosistem pertemanan yang harus dijaga oleh dua orang atau lebih, keluarga, romantic relationship. Apa yang perlu kita lakukan untuk tetap membuat mereka merasa dicintai, merasa bahwa kita ada? Ekosistem adalah hubungan timbal balik, kita adalah komponen biotik, komponen abiotik adalah sesuatu yang hidup di antara kita. Dan keduanya harus timbal balik, terikat. Kalau salah satunya gak berjalan seperti sebelumnya, cinta mungkin gak akan lebih dari cukup untuk memulihkan semuanya.

Lalu pertanyaan besarnya adalah; “Adakah yang mencintaimu hari ini?” atau bahkan adakah ekosistem itu? Pikirin lagi. Barangkali kita tidak merasa dicintai karena kita gak punya ekosistemnya. Kita hidup namun tidak terikat satu sama lain. Kalau kamu punya ekosistemnya, tugasmu adalah menjaganya seumur hidupmu, jangan biarkan situasi buruk merusaknya, jangan biarkan nasib buruk menggantinya. Selama masih bisa control, lakukan dengan baik. Mampu mencintai adalah konsekuensi dari terbentuknya ekosistem dan itu adalah pekerjaan seumur hidup, tentu tetap ada risikonya.

Tapi selama kita punya mekanisme untuk belajar dari situasi serba bapuk dan nasib buruk, kupikir gak akan ada yang bisa meruntuhkan ekosistem yang sudah dibentuk. Karena gak ada yang lebih besar dan lebih penting dari menjaga ekosistem itu tetap berjalan baik. Seharusnya kita bisa melewati semua yang buruk dengan baik. Karena dengan ekosistem itu selama ini kita bisa jadi lebih hidup. Bahagia. Stabil. Sesekali kita memang bisa saja melakukan kesalahan, tapi umumnya kesalahan itu tidak pernah kita sengaja. Seringnya karena situasi dan nasib yang buruk.

Aku mencintaimu hari ini, karena kamu adalah bagian dari ekosistem yang selama ini aku jaga. Dan aku mencintaimu sepenuhnya, seterusnya, sekalipun kau memilih merusak ekosistemnya. Gak ada yang bisa mengubah kecintaanku pada ekosistem ini. Aku mencintaimu hari ini, hari besok, dan selamanya.



@zahidpaningrome

Semarang, 1 September 2022