Monday, November 16, 2015

Logika Rasa

Kamu datang dari mana?
Kini menjadi aurora di malamku
Kamu datang dari planet apa?
Kini menjadi pelangi di tengah hari

Kemarin aku melihatmu
Seperti dimensi tanpa kontur
Kemarin aku melihatmu
Memberi batas jarak dan ruang pandang

Ini sajakku yang ketigabelas
Sebuah sajak yang mencari napak tilas
Mencarimu yang memberi batas
Mencarimu dalam bingkai berselimut kapas

Aku masih bersembunyi
Bersama lentera yang kehilangan kata
Aku masih bersembunyi
Bersama rasa yang kehilangan makna

Aku membuka ruang untuk kita
Untuk semua yang harus dikenang
Kau menutup ruang yang kubuka
Logika rasa yang membingungkan


Semarang, 17 November 2015

Sunday, November 8, 2015

Antares

Antares. Malam ini aku masih menatapmu. Sebagian dari mereka tidak mengenalmu. Tapi, tidak denganku, aku kenal betul bintang apa yang ada di jantung scorpius. Alpha Scorpii, terlihat besar, merah. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya kamu lebih dingin dari matahari, aku tahu kamu yang paling menonjol di konstelasi scorpius.

Antares, tuntun aku ke cahaya yang membuatnya kembali lagi seperti dulu. Aku tahu kamu ada diantara Aldebaran, Spica, dan Regulus, sebagai bintang paling terang di dekat ekliptika. Tapi, apa pentingnya itu jika kamu masih belum bisa membuatnya kembali lagi di dekatku.

Tidak akan ada yang peduli dengan pengakuan bintang paling terang ke enambelas yang tersemat di tubuhmu. Juga tidak akan ada yang peduli bahwa abjad ke enambelas adalah P. Mereka tidak membutuhkan itu semua, bahkan mereka tidak tahu bahwa kamu lebih besar dari matahari.

Ya, mereka tidak tahu, mereka tidak peduli bahwa Antares adalah bintang sesungguhnya. Bintang paling terang dari segala bintang yang pernah ku miliki, bintang alpha. Pemimpin sesungguhnya dari bintang-bintang yang ada, bintang yang pernah ku miliki. Antares mulai dilupakan, aku mulai ditinggalkan, butuh perjuangan keluar dari keadaan ini. Terlupakan adalah hal yang paling ambigu. Berharap untuk diingat lagi juga akan jadi aneh. Bukankah kita tidak boleh memaksa orang lain untuk menjadi sesuai dengan keinginan kita?

Antares, apakah kamu mendengarku? Apakah kamu membaca ini? Antares? Antares!! Bawa aku bersamamu, aku tidak bisa lagi memanjat dinding yang terbentang jauh dan tinggi yang kamu bangun untuk menyekat ruang di antara kita. Aku seperti layangan yang terombang-ambing di tengah badai. Tidak tahu arah, berantakan. Semua jadi tidak terselesaikan dengan baik.

Antares, apa lagi yang ingin kamu lakukan padaku, dari semua perlakuanmu terhadapku, kamu selalu berhasil membuatku menjadi berkeping-keping. Patah, hancur, lenyap. Masih adakah sedikit rasamu untukku?

Menjauhkan raga dan jiwamu dariku justru akan membuatku semakin menginginkanmu. Tidakkah kau ingat dengan semua janji-janji yang terlampau kau sebutkan, mimpi-mimpi yang terlanjur kau katakan padaku. Aku tahu, aku mengingatnya. Aku tidak ingin kisahku menjadi roman yang berujung tragis. Aku ingin keadaan ini tanpa ujung, tanpa akhir. Karena cintaku adalah lingkaran yang tak berujung terus bergerak dan terus bertemu. Meskipun kamu tidak pernah ada di dalam lingkaranku. Tapi, kamu berhasil membawaku ke lingkaranmu. Dan itu menyakitkan, sangat.

Antares, aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah terlalu dalam menggali lubangku sendiri. Bukankah semua orang punya sisi gelap? meski secara normal kita tidak mampu melihatnya. Entah, sampai kapan kamu akan melakukan ini. Membuatku mati suri. Membuatku menyesali kematianku sendiri. Apa susahnya menghargai seseorang yang mencintaimu. Apa susahnya menolak jika kamu memang tidak suka. Antares, sampai kapan ini semua? Aku butuh jawabanmu. Butuh bibrimu berbicara menanggapi ini semua.

Antares, apa yang membuatmu bungkam? Apakah karena aku terlalu dini mencintaimu? Tapi, bukankah sesuatu yang dimulai lebih awal akan membuat keuntungan yang setimpal dari perjuangan yang telah dilakukan. Antares, apakah kamu mendengarku? Aku butuh sinarmu, butuh cahayamu. Mereka yang datang tidak pernah benar-benar mau mendengarku.

Aku peduli denganmu, Antares. Aku peduli bahwa kamu jauh lebih besar dari matahari, kamu bintang paling terang ke enambelas dalam galaksi bimasakti, kamu lebih dingin dari matahari, kamu ada di jantung scorpius. Aku peduli itu semua, bahkan aku sangat peduli bahwa abjad ke enambelas adalah P. Meskipun ada yang menganggap kamu adalah bintang paling terang ke limabelas dalam galaksi bimasakti, aku bahkan peduli bahwa abjad ke limabelas adalah O. Bahkan kata peduli pun diawali huruf P. Pentingkah aku dalam hidupmu? Kita sama-sama tahu bahwa kata petingkah diawali huruf P juga.


Antares, beritahu bintang-bintang lain bahwa aku sedang mengirimimu pesan yang tak mudah dibaca atau bahkan hanya sekedar kau dengarkan. Tolong aku, Antares. Hentikan ini semua. Ingat, aku bahkan peduli bahwa kata Coldplay diakhiri dengan huruf Y. Aku sedang mengirimkanmu pesan, Antares. Orang-orang dan bintang-bintang lain boleh memecahkan pesan yang ku kirimkan untukmu. Antares, kamu tahu aku selalu bodoh dalam mengawali sesuatu. Lalu, kalau begitu buat apa aku mengakhiri jika aku tidak bisa mengawalinya dengan baik. Antares, kita masih ada di dalam permainan. Entah di permainan yang aku buat atau yang sedang kau mainkan.

Monday, November 2, 2015

Terlalu

Aku masih ingat ketika pertama kali kamu mengajakku pergi. Semua terjadi sekelebat, begitu cepat, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kamu adalah orang itu. Orang yang membuatku menanti di gerbang pergantian. Dalam bias aku mencoba tenang, tidak gegabah menghadapi penantian yang telah habis. Aku tidak ingin hal yang sebelumnya terjadi terulang lagi ketika bersamamu. Aku tidak bisa menahan diriku untuk sabar dan bermain aman, seperti pria yang lain. Kamu selalu jadi hantu yang tidak bisa hilang dari setiap mimpiku. Bahkan jauh sebelum pertemuan itu. Aku selalu kalah oleh tatapanmu, selalu mabuk oleh senyumanmu. Bahkan aku mengerti bahwa sebenarnya aku hanyalah pelarian ketika raga dan jiwamu dipertanyakan oleh sang empunya hatimu.

“Sudah pukul tujuh, mau kemana lagi kita?”

“Kenapa kamu terus menanyakan hal yang sama?”

“Maaf.”

“Aku cuma mau disini, duduk bersamamu, memeluk tubuhmu sambil melihat deretan kapal yang terparkir rapih.”  

“Kita sudah hampir tiga jam disini.”

“Oh, ayolah terus kenapa kalau kita sudah tiga jam di sini?”

“Aku belum menciummu.”

“Aku tahu. So, let me kiss you.”

Ciumannya malam itu membuatku menginginkannya lagi, meski aku hanya dijadikannya pelarian sesaat, dia terlalu neurotik untukku, bibirnya selalu basah setiap bibirku melumatnya. Matanya terpejam, tapi selalu terhenti ketika dia teringat kekasihnya. Rasanya aku Ingin bunuh diri ketika itu terjadi, Aku ada untuknya tapi dia tidak benar-benar ada untukku. Aku bosan mendengar ceritanya tentang pria itu. Aku bosan selalu berpura-pura tertarik dengan ceritanya.

“Berhenti menceritakan pria itu.”

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak benar-benar mencintainya.”

“Aku mencintainya!”

“Kalau kamu cinta sama pria itu, harusnya kamu nggak ada disini. Harusnya bukan aku yang duduk di depanmu, sekarang.”

“Jangan buatku menangis, aku nggak sekuat kamu.”

“I’m Sorry. Please, jangan menangis disini.”

“Aku ingin menangis, antarkan aku ke tempat, dimana aku bisa bebas menangis.”

“Nggak perlu jauh-jauh.”

“Di mana?”

“Aku punya dua pundak, dua-duanya rela basah menampung air matamu.”

Kesadaranku hilang malam itu, dua jam dia menangis di pundakku. Pundakku berubah hangat karena air matanya. Aku tidak tega melihatmu menatapku dengan liangan air mata yang tersisa di matamu, membasahi hingga pipi dan bibirmu. Aku selalu ingin memelukmu, menciummu, menghangatkanmu, tapi untuk hal itu kesadaranku masih terjaga. Aku tidak mungkin melakukan itu untukmu, tidak mungkin. Kamu milik orang lain, sampai hubunganmu membaik, aku hanya akan menerima tangisanmu dan ceritamu yang tidak pernah berguna untukku.

“Dia kembali. Aku bisa merasakan kasih sayangnya lagi.”

“Aku turut bahagia, mendengarnya.”

“Terimakasih sudah bersedia mendengarkan ceritaku.”

“Sama-sama, terimakasih juga sudah membasahi pundakku.”

“Terimaksih juga karena kamu bersedia menemaniku dan menampung tangisanku.”

“Sama-sama”

Sungguh? Itukah akhir? Dia pergi, kembali bersama sang empunya hati. Tidak berbalik lagi? Menganggapku sekedar pelarian. Aku pernah menciumnya, kita pernah berciuman, ini terasa aneh, Aneh. Aku ingin dia kembali, aku rindu mendengar suaranya, pundakku rindu dibasahi oleh air matanya. Aku mengharap terlalu dini, mengira semua yang aku lakukan sudah membuat perhatiannya teralihkan untukku. Sekarang, aku sendiri, berdiri diantara buaian bintang. Aku menatapmu dari pinggir dermaga. Menyesali, harusnya, malam ini milik kita berdua. Aku terlalu buru-buru jatuh cinta padamu. Terlalu bodoh untuk berharap bahwa kamu juga mencintaiku. Cintaku sudah lewat dan bayangan harapan yang penuh kegembiraan sudah tidak ada lagi.


Kamu meninggalkanku, aku sadar kamu tidak akan kembali. Sekedar berbicarapun agaknya juga tidak mungkin, melihat matamu dan senyummu adalah hal yang mustahil. Aku sadar, aku terlalu cepat jatuh cinta. Terlalu bodoh untuk mencintaimu dan terlalu berharap kamu mencintaiku. Semuanya serba terlalu. Aku berjanji akan selalu menantimu di gerbang pergantian, meski kamu tidak akan datang. Izinkan aku mendengar suaramu, aku ingin berbisik di telingamu dan berkata, bahwa aku menikmati keterlaluanku dalam mencintaimu.

Tuesday, October 27, 2015

TANIA

Semalam aku bermimipi, menciummu tepat di kening
Malam itu bibirku kering
Bertemu kening yang putih seperti piring
Tubuhmu miring, penuh keringat yang mulai mengering

Tubuh yang kurus kering ini berbaring
Bersama kenangan yang mulai terusir
Aku ingin bersamamu, hingga jiwa ini tersingkir
Menikmati lagi apa yang terpikir

Tapi sayang, mimpi cuma sekedar mimpi
Tanpa script yang tak akan bisa diulangi
Aku ingin kau mengerti
Aku sudah mati saat kau cintai

Untukmu, Tan.
Semarang, 28 Oktober 2015

Tuesday, October 20, 2015

18+

“Maaf, boleh saya tahu nomor kamar Mr. Chris.”

“Maaf, ada perlu apa anda dengan Mr. Chris” tanya seorang receptionist hotel.

“Saya ada perlu dengan Mr. Chris.”

“Maaf, tapi Mr. Chris tidak berpesan bahwa akan ada tamu yang datang mengunjungi beliau.”

“Tapi…”

“Maaf, saya tidak bisa memberitahu nomor kamar pelanggan di hotel ini, itu bagian dari prosedur yang ada sini” seorang receptionist menjawab dengan sopan.

“Tolonglah, mbak.”

“Maaf saya tidak bisa, ini prosedur. Kalau anda memang ingin bertemu, telepon saja Mr. Chris.”

Aku lupa ini hotel terbaik yang ada di kota ini, peraturan hotel pasti sangat ketat. Tidak memperbolehkan tamu asing berkunjung tanpa janji dari pelanggan hotel. Reputasi hotel ini memang sangat bagus di kota ini, melarang praktik prostitusi di lingkungan hotel.

Aku mencoba menghubungi Chris, tiga kali dia menghiraukan panggilan teleponku, ini pasti karena tadi dia  melihatku dengan pria lain di kafé seberang jalan. Nafasku berburu mencoba terus menghubunginya lagi. Aku mencoba mengirimkan pesan.

Chris ayolah turun.
Kamu harus dengar penjelasanku.

Aku menunggu Chris di lobby hotel. satu jam berlalu, Chris masih belum membalas pesanku. Aku cemas. Aku takut dia marah.

Chris, aku tahu kamu marah
Tapi aku harus ketemu kamu,
Akan aku jelaskan semuanya

Tiga jam menunggu di Lobby, Chris masih belum membalas pesanku.  Aku tidak boleh kehilangan Chris, dia sangat berarti bagiku, dia berbeda dengan pria yang lain. Kejadian di kafé tadi bukan seperti yang dipikirkan Chris, Aku tidak mungkin mengkhianati pria seperti Chris, yang mampu membuatku menjadi diri sendiri. Pria di kafe itu hanya kawan lama yang kebetulan melihatku duduk di kafe itu sendirian ketika aku menunggu Chris. Dia langsung duduk di depanku dan menanyakan kabar, basa-basi yang biasanya dilakukan oleh kawan lama yang sudah lama tidak bertemu dan akhirnya bertemu di tempat yang terduga, tanpa disengaja. Sungguh tidak seperti biasanya Chris secemburu ini.

Chris, aku masih di Lobby menunggumu
Tolong balas pesanku, aku minta maaf
Empat jam bukan waktu yang sebentar

Baru kali ini Chris mengajakku pergi makan malam di kafe seberang jalan, katanya ada sesuatu yang ingin di berikan padaku. Aku sangat antusias mendengar ajakan Chris. Aku sangat suka ketika Chris memberikan kejutan padaku. Sama seperti ketika dia mengajakku pergi berlibur ke Hawaii. Saat itu adalah momen indah yang pernah aku alami dengan Chris, pertama kali aku mendapatkan ciuman dari seorang pria. Di salah satu hotel bintang lima di Hawaii, dia menciumku sangat manis, pelan dan tidak tergesa-gesa. Berlatar pantai Hawaii dengan ombak laut yang tinggi. Dia mengalungkan tanganya di pinggangku, aku membalas mengalungkan tanganku di lehernya. Dia menatapku dengan tatapan terindah yang pernah ku lihat, lalu menciumku lagi, dia tidak tergesa-gesa menciumku, membiarkanku meraskan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan.

Aku di kamar 191, lantai 4
Naiklah,

Chris membalas pesanku, buru-buru aku menuju lantai empat menggunakan lift. Hanya aku yang berada di lift saat itu. Wajar, waktu sudah hampir pukul  satu pagi. Aku langsung mencari nomor kamar Chris setelah sampai di lantai empat. Nafasku terasa hampir habis, jantungku hampir copot. Langkah kakiku terasa dingin lalu terhenti tepat di depan pintu kamar hotelnya. Aku merapikan bajuku, merapikan rambut, menyiapkan senyuman untuk Chris.

“Tok, tok…” beberapa detik aku menunggu. Engsel pintu mulai bergerak, jantungku berdebar lagi. Aku menyiapkan senyuman yang paling manis untuk Chris. Ketika pintu terbuka, aku melihat Chris mengenakan kaos putih dan celana pendek.

“Boleh aku masuk, Chris?” Chris hanya tersenyum, aku masuk. Lalu Chris menutup pintu kamarnya.

“Mau minum apa, sayang?” tanya Chris.

“Hmm, Wine?”

“Oke.”

Chris bergegas menuju bar di sudut kamar, menyiapkan dua gelas wine. Aku duduk di ujung ranjang kamar Chris. Mataku menatap Chris yang menuju ke arahku, membawa dua gelas berisi wine.

“Ini” Chris memberikan wine untukku.

Aku tersenyum menatap Chris meminum wine. Aku meminumnya setelah Chris.

“Aku minta maaf, Chris.”

“Sudah, jangan dibahas lagi, sayang.”

“Aku nggak bermaksud.”

“Aku tidak ingin membahas hal itu. Aku hanya ingin berdua denganmu.”

Chris mendekatiku, mencium keningku. Aku masih duduk di ranjang kamarnya. Dia semakin mendekatiku hingga wajahku menyentuh perutnya yang six pack. Aku menciumi perutnya, membuat bulu-bulu di perut Chris berdiri, menegang. Chris meminum wine sembari merasakan aku menciumi perutnya, gelas berisi wine yang ada di tanganku kubiarkan jatuh, kedua tanganku memegang pinggang Chris, masih menciumi perut Chris. Mataku melirik ke arah Chris yang menikmati sentuhanku sambil menghabiskan wine. Chris membiarkan gelas yang sudah kosong jatuh ke lantai.

“Terus sayang, aku menikmati” Kata Chris dengan suara mendesah.

Aku hanya diam, lalu membuka celana pendeknya, kuturunkan sampai ke pergelangan kaki. Lalu Chris mengangkat kedua kakinya untuk melepaskan celana pendeknya. Sebentar aku memandangi penis Chris yang ada di depanku, Chris memajukan bokongnya ke wajahku, aku menatap Chris yang masih berdiri, tersenyum nakal lalu memegang penisnya yang mulai menegang. Chris memberikannya untukku.

“Malam ini milik kita berdua sayang.”

Aku tidak menjawab ucapan Chris, penis Chris sudah masuk di mulutku. Aku menikmati situasi ini, dengan bokong Chris yang maju mundur. Chris mendesah. Aku juga.

Aku selalu bahagia bersamanya, Chris sama denganku punya dada yang bidang, perut six pack dan kepala yang botak.


“Gantian aku, sayang.” Kata Chris, menuntunku berdiri.

Tuesday, October 13, 2015

Tanpamu, Aku Jatuh Cinta

Tigapuluh sembilan hari tanpamu, aku mulai terbiasa merasakan ketidakmungkinan yang membentang diantara kita, aku menikmatinya sekaligus tersakiti oleh sekat yang terlalu tinggi kau bangun. Rasa sakit itu sedikit membuatku takut. Tapi, jauh lebih menyakitkan jika aku tak tersakiti olehmu. Ada satu perempuan yang masih terngiang di otakku hingga kini, entah sampai kapan akan hilang, Dia yang menjadi budak rutinitas dan agaknya mengaku bosan dengan apa yang dia lakukan setiap hari.

Sore itu dia seperti pencuri bagiku, berbicara dengan nada yang semangat namun lembut lalu pergi, meninggalkan bekas yang teramat dalam, tak bisa ku tinggal barang sedetik. Aku yakin pertemua di kafé itu bisa terjadi karena kami saling menghargai, karena jika tidak pertemuan itu akan terasa hambar dan aku akan menyesal karena telah menghabiskan enam jam hanya untuk berbicara dan menikmati kopi sembari menahan rasa pahitnya. Semua orang pasti sangat paham cara mencintai, karena rahmat itu menyertai setiap manusia dari mereka lahir ke dunia. Sama dengan perempuan itu, aku menemukan cahaya yang tidak ku temukan pada perempuan lain. Aku terlahir lagi secara emosional setelah pertemuan itu, dan aku masih menunggu pertemuan itu datang lagi.

Aku ingin membalas apa yang telah dia berikan padaku, aku berpikir bahwa kedatanganku di kafe itu bukanlah sebuah kebetulan, pertemuan itu pasti sudah terencana oleh kami jauh sebelum raga kami benar-benar bertemu. Namun, aku tak yakin dia akan kembali seperti pertemuan kami sore itu. Meskipun aku tak mempersoalkannya lagi, bagiku cukuplah rasa cintaku padanya menggema dalam anganku. Aku tak berharap apapun dari rasa cintaku, sama sekali. Kubiarkan hatiku hanyut dalam arus kehidupan yang terasa terbalik, aku ingin mengulangi sore itu. Aku bingung.

Dia perempuan, seorang Independent, mestinya dia paham bahwa tujuan utama hidup adalah memahami makna cinta yang utuh, Untuk membangkitkan cinta kita butuh kehadiran orang lain sebagai objek atau bahkan subjek nyata. Dia bilang bahwa dia sudah bosan berada disini, anehnya aku sama sekali tak memahami maksud perkataannya.

Aku hanya ingin percaya bahwa aku memang benar-benar sedang jatuh cinta, rasanya sulit mengakui hal itu, selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menyangkal cinta, hasilnya justru sangat berlawanan dan malah menyakitiku. Aku telah membiarkan diriku  terpesona oleh perempuan yang menanggapiku sedikit berbeda, melihatku dari sisi yang tak pernah dilihat orang lain. Aku bisa kehilangan dia tanpa perlu menyalahkan diri sendiri karena terlalu jujur mengungkapkan perasaan yang bahkan dia ketahui sendiri. Dan kalau benar aku kehilangan dia. Setidaknya aku telah memperoleh satu hari yang sangat bahagia dan terasa ambigu dalam hidupku.

Dalam cinta, harusnya kita bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri, dan tidak bisa menyalahkan orang lain bahkan orang yang kita cintai atas apa yang kita rasakan.

Aku bukanlah tubuh tanpa cinta, cintaku tak kasat mata, belakangan ini aku menyadari bahwa cinta adalah super power. Sudah sangat lama aku tidak jatuh cinta, sudah sangat lama aku berpura-pura jatuh cinta, sudah sangat lama aku tidak berpikir soal cinta, aku merasa cinta telah melarikan diri dari tubuh dan jiwaku, aku merasa tak pernah disambut hangat oleh si super power yang menggetarkan jiwa banyak orang. Tapi, kalau aku tidak berpikir soal cinta, selamanya aku akan hidup tanpa cinta, kosong. Tanpa akar, tanpa pangkal.


Percayalah akulah yang pertama dan terakhir, yang mencintaimu dalam diam, mencintaimu tanpa mengharapkan apapun balasan. Aku mencintaimu tanpa jatuh cinta, merinduimu tanpa pertemuan, mengharapkanmu tanpa belas kasihan, aku memilikimu tanpa kau miliki.. Sudah lama sekali aku tak menatapmu atau bahkan kau yang sudah lama tak menatapku. Aku masih bisa menatapmu dari kejauhan, mendengar suaramu dari bilik handphone, mengenang pertemuan kita di kafe itu dengan mendatanginya dan duduk ditempat yang kau dudukki sore itu. 

Untukmu yang tak memikirkanku.. 

Wednesday, October 7, 2015

RINDU

Rinduku bagai telinga mencari suara
Rinduku bagai bibir mencari kening
Rinduku bagai mata mencari gelap
Rinduku bagai hidung mencari nafas

Telingaku rindu mendengar suaramu
Bibirku rindu mencium keningmu
Mataku rindu terpejam bersamamu
Hidungku rindu menyentuh hidungmu

Rinduku bagai kaki yang tak melangkah
Rinduku bagai tangan tak tergenggam
Rinduku bagai ombak menyentuh pantai
Rinduku bagai awan bertemu langit

Rinduku bagai nenek tua mencari kursi goyang
Rinduku bagai kakek tua minum kopi
Rinduku bagai sungai yang memburu laut
Rinduku bagai pendaki yang mencari puncak tertinggi

Rinduku melangkah bersamamu
Rinduku menggenggam tanganmu
Rinduku menatap matamu
Rinduku menggiggit bibirmu

Aku rindu kau bohongi
Aku rindu kau kagumi
Aku rindu kau kasihi
Aku rindu kau rindui


Semarang, 8 Oktober 2015