Saturday, April 11, 2015

Review Film Guru Bangsa: Hos Tjokroaminoto

Guru Bangsa: Hos Tjokroaminoto. Film Indonesia ke dua yang saya tonton di bulan ini. Tentu saja saya punya ekspetasi yang tinggi untuk film bergenre drama biografi ini. Bercerita tentang perjalanan Hijrah seorang Oemar Said Tjokroaminoto yang diawal film digambarkan sedang di intograsi disebuah penjara pada tahun 1921. Film yang diproduseri oleh Christine Hakim, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Didi Petet, Nayaka Untara dan Ari Syar ini menggugah kesadaran berbangsa diri saya. Saya seperti menemukan jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya dalam film garapan Garin Nugroho ini.

Satyagraha (perjuangan tanpa kekerasan) sangat kental dalam film ini meskipun di akhir film saya tidak melihat hasil dari Satyagraha, mungkin karena ini film sejarah pembuat filmnya harus benar-benar berhati-hati dalam meletakan plot-plot cerita agar tidak menyimpang dari fakta sejarah yang ada dan bagi saya film sekelas Tjokroaminoto tidak cukup jika hanya berdurasi sekitar 160 menit.

Jiwa teater dari seorang Garin Nugroho sangat terlihat pada film ini, tebrukti dengan beberapa adegan yang membuat saya seperti menonton pertunjukan teater, seperti adegan Tjokroaminoto dan Agus salim yang berbincang setelah kematian istri Tjokro “sudah sampai mana Hijrah kita?” . Film ini sukses membuat saya bertanya-tanya mengenai tempat-tempat yang ada di film ini. tampak jelas keadaan yang digambarkan sangat klasik dan tempo dulu. Gambar yang epic menambah kesan klasik untuk film ini, akting dari semua aktor dan aktrisnya sangat bagus utamanya Reza Rahadian dan Tanta Ginting yang memang tidak bisa dipungkiri bahwa aktingnya jempolan. Musik paduan suara memberikan kesan ceria di film ini. Komedi yang diselipkan lewat pedagang kursi membuat penonton tidak merasa bosan, utamanya saya. Bahasa daerah yang digunakan juga terkadang menggelitik.

Hanya saja saya kurang bisa menemukan arti “Guru Bangsa” dalam film ini, saya berharap ada perdebatan hebat Tjokroaminoto dengan murid-muridnya di film ini, masalah ideologi yang selama ini kerap dibicarakan banyak orang. Komunis, Sosialis  atau lainya. Film ini juga mengkritik politikus yang ada di negeri ini, lewat ucapan “Politik balas budi”, “Politik Iming-iming” . Film yang bermuatan agama, politik, etika dan perjuangan berhasil menggugah kesadaran berbangsa saya.. Semakin membuat saya cinta akan tanah ini.


Overall saya memberi nilai 8 dari 10 untuk Film Tjokroaminoto dan mungkin film ini akan mendapatkan beberapa ataupun nominasi penghargaan seperti Film terbaik, sutradara terbaik, Aktor terbaik sinematografi terbaik, pemeran pendukung wanita terbaik lewat Christine hakim dan pemeran pendukung pria terbaik lewat akting ibnu jamil/ tanta ginting.. Bangga Film Indonesia, Ayo Nonton Film Indonesia..

Friday, April 10, 2015

ARTHUR (Episode 4)

Malam ini Arthur merenung, duduk di bangku kayu berwarna cokelat yang mengkilap karena pantulan cahaya lampu. Ibunya sudah tidur satu jam lalu sejak perdebatan masalah upah yang diterima. Tiba-tiba terdengar rintik hujan yang jatuh di atap rumah Arthur. Suaranya makin keras menyentuh genting rumah yang umurnya sudah tidak tua.

Arthur menatap langit-langit rumah, jarinya beradu sapuan hujan membuatnya mengingat kenangan masa kecilnya bersama ayahnya.. Witson. Dulu Arthur sering diajak ayahnya memanjat pohon kelapa di pantai dekat rumah Ana. Ayahnya mengenalkannya pada Ana, perempuan yang menjadi satu-satunya tempat mengadu bagi Arthur selain ibunya.

Bagi Arthur ayahnya bagaikan kaktus di gurun yang luas, yang mampu menyerap air di tubuhnya. Ayahnya mampu bertahan hidup di suasana yang serba tidak jelas. Ayahnya mampu menganalisa setiap masalah yang dihadapinya, mampu membaca gerak-gerik lawan bicaranya, tenang dan pemikir. Ayahnya sangat pintar menerapkan teori gauche, tidak heran banyak orang yang dengan mudah terpikat dengan ucapannya. Bahwa tanpa disadari orang-orang ada dibawah pengaruhnya.

Ayah Arthur seorang kidal. Ayahnya sangat menyayangkan adanya diskriminasi yang ditujukan kepada mereka yang kidal. Di kota Nanoi kidal dianggap tidak baik. Padahal sebagian kegiatan yang dilakukan manusia berorientasi dari kiri ke kanan, seperti : menulis, membaca, turun dari angkot, bahkan seorang ibu yang menyusui anaknya lebih sering menggunakan payudara sebelah kiri untuk menyusui anaknya.

Witson selalu mengajarkan Athur tentang kedisiplinan, kejujuran, dan keberanian baginya dengan tiga hal itu manusia dapat hidup sebagai manusia seutuhnya yang dicintai tuhannya.. Kota Nanoi sudah sejak lama membutuhkan orang dengan tiga sifat itu. Bagi Witson masalah yang paling bahaya di kota Nanoi adalah korupsi. Terutama oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan. Berkembangnya budaya korupsi di kota Nanoi dikarenakan minimnya kejujuran. Bagi Witson, tanpa kejujuran segala peraturan hanya akan menjadi hiasan tanpa mampu memberi kontribusi bagi perbaikan nasib rakyat di Kota Nanoi. Kejujuran seakan menjadi barang langka bagi para Birokrat dan Anei. Sebaliknya tindakan culas dan tipu-tipu menjadi trend baru yang wajib dilakukan…

Arthur merebahkan dirinya dikursi panjang yang tidak jauh dari kursi kayu yang didudukinya tadi. Matanya masih memandangi langit-langit rumah. Dia melihat sosok ayahnya yang tergambarkan pada atap rumah yang berwarna putih. Nampak nyata, Arthur menyapanya, tapi bayangan itu tidak menjawab. Arthur tersadar itu hanya imajinasinya.

Hujan makin deras, angin makin kencang, sapuan hujan membuat pemandangan diluar rumah tertutup kabut putih halus. Arthur ingat lagi, dia mengingat percakapan bersama ayahnya di suatu sore di taman kota. Dibawah langit tanpa noda ayahnya bercerita tentang para anei yang menyalahgunakan kekusaannya. Sebelum menjadi Wali Kota, Witson adalah salah satu anei yang mengurusi sistem birokrasi dan aspirasi rakyat. Juga sesekali menjadi pengawas kebijakan dan proyek-proyek yang ada di kota Nanoi.

Witson bercerita tentang proyek pengembangan kawasan terpadu untuk para anei. Ada percobaan Mark-Up dana yang tercium oleh Witson. Witson mempertanyakan kebenaran informasi itu kepada anei lainnya. Anei menertawakan Witson yang hidup terlalu jujur. Mereka mencemooh Witson mengatakan bahwa: berbohong itu menyenangkan dan jujur itu menyakitkan . Witson membalas nyinyiran para anei “Kejujuran memang menyakitkan tapi tidak mematikan, Kebohongan memang menyenangkan tapi tidak menyembuhkan.”

Arthur tersentak. Prinsip ayahnya mengajarkan dia untuk berani jujur dan berani mengungkap kebenaran. Arthur ingat nasehat ayahnya di taman kota sore itu.
“Arthur, kamu tahu kenapa kejujuran jadi barang langka bagi orang-orang?”
“Karena kejujuran bukan barang yang murah, ayah”
“Benar, maka dari itu kamu harus menghargai kejujuran setiap orang meskipun kecil dan sederhana. Kejujuran itu menyangkut masalah hati, hanya manusia yang hatinya bersih yang mampu berkata jujur. Kejujuran adalah perhiasan jiwa yang lebih bercahaya daripada berlian. Kamu harus ingat itu, Arthur”

Arthur terbangun, tiba-tiba tubuhnya mengajaknya untuk duduk. Matahari mulai muncul. Sinar matahari perlahan menerpa menembus jendela-jendela kaca. Lukisan besar didepan Arthur mendadak mendapatkan pencahayaan yang kuat dan menjadikannya lebih hidup. Itu adalah Lukisan Ayahnya. Arthur berdiri menghampiri lukisan itu. Menghelai nafas panjang. Mengajak lukisan berbicara.

“Ayah, kejujuran memang membutuhkan pengorbanan dan pengorbanan membutuhkan kesabaran. Izinkan aku untuk meneruskan perjuanganmu, Akan kubuktikan bahwa kejujuran tidak akan menjadi barang langka lagi”


Thursday, April 9, 2015

Review Filosofi Kopi Movie

Filosofi Kopi Movie, film Indonesia pertama yang saya tonton bulan ini. Film yang diangkat dari kumpulan cerita satu dekade karya Dewi “Dee” Lestari ini bercerita tentang seorang barista handal dan idealis yang bernama Ben (Chico Jerikho) dan sahabatnya Jody (Rio Dewanto) yang membangun kedai “Filosofi kopi” bersama.

Diawal film saya disuguhkan musik opening yang menggairahkan, menggugah hati saya untuk ikut dalam sebuah petualangan yang dihadirkan Angga Dwimas Sasongko selaku Sutradara. Didukung dengan pemain-pemain yang tampil bagus dan membawakan perannya dengan baik. Terutama Chico Jerikho yang memerankan Ben,tapi setalah saya menyelami akting Ben saya menjadi bingung watak macam apa yang dihadirkan pada sosok Ben yang nyeleneh, menjengkelkan, jenius tapi juga punya sisi humanisme yang tinggi dengan bukti bahwa dia termotivasi untuk ikut Jody mencari kopi tiwus karena suami dari karyawannya harus menjalani operasi karena mengalami kecelakaan.

Pilihan untuk menjadikan Rio Dewanto sebagai tokoh Jody juga sangat tepat, akting yang bagus dan tidak berlebihan menambah kesan mengaggumkan untuk film ini. saya paling suka akting Jody ketika berdebat dengan Ben di sebuah penginapan. Terasa nyata dan emosi saya ikut  bercampur aduk ketika adegan itu terjadi.

Untuk peran El yang diperankan oleh Julie Estelle tidak banyak yang bisa saya komentari, karena kecantikan Julie Estelle dalam film ini berhasil membuat saya tak mampu mengedipkan mata barang sekalipun. Perannya yang halus, menggemaskan juga cerdas berbeda jauh ketika dia memerankan Hummer Girl dalam film The Raid 2 “Berandal”.. I Love You, EL”

Soundtrack yang mengisi juga sangat mendukung film ini, hingga membuat Saya semakin terbuai menyaksikan Filosofi Kopi. Ada Maliq & d’Essentials, Gilbert Pohan, Payung Teduh, Dewi Lestari dan Svarna Band, Glen Fredly yang mengisi alunan cantik pengiring Filosofi Kopi Movie.

Penampilan singkat dari Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Tanta Ginting dan Joko Anwar juga cukup berkesan dan memberi nilai tambah bagi film Filosofi Kopi. Hanya peran Joko Anwar saja yang sedikit saya beri koreksi karena ketika adegan dia bercakap-cakap dengan Jodhi di kedai Filosofi Kopi untuk menagih hutang yang sudah 3 bulan tidak dibayar. Ada ucapan yang Nampak belepotan di ucapkan namun tetap diteruskan. Tapi untungnya Joko Anwar bisa menutupinya dengan sangat baik membuat seakan tidak ada masalah dengan percakapan tersebut.

Overall Filosofi Kopi Movie Hasilnya tidak mengecewakan. ringan dan menghibur. Banyak pengetahuan tentang kopi yang bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi para penonton. Saya sangat menikmati filmnya, santai, terasa rileks meski terkadang emosi saya ikut terkuras ketika disuguhkan masa lalu dari para pemain yang diceritakan cukup baik dan dengan plot yang pas.

Saya meyakini Dewi “Dee” Lestari sangat puas dengan hasil film garapan Angga Dwimas Sasongko daripada film-film sebelumnya yang diangkat dari buku karyanya.

Saya juga meyakini film ini juga akan mendapatkan banyak nominasi dan penghargaan. Seperti Aktor Terbaik, Pemeran pendukung pria terbaik, Sutradara terbaik dan Soundtrack Film terbaik.

Terimakasih untuk semua crew Filosofi Kopi Movie yang berhasil menyajikan tontonan bagus dan bermanfaat untuk pecinta dan penikmat film Indonesia.. Ayo Nonton film Indonesia, Bangga Film Indonesia..


Friday, April 3, 2015

ARTHUR (Episode 3)

Ibu Ana meninggal sejak Ana lahir. Entah tidak begitu jelas apa penyebabnya. Prof. Uru sangat pintar menutupi penyebab kematian Istrinya. Sejak kecil Ana tidak mendapakan ASI seperti bayi lainnya, dia disusui oleh bibinya yang hingga kini masih sering mengunjungi rumah Ana untuk sekedar mengurus rumah ataupun menemani Ana. Bibinya adalah Koki balai Kota, dia juga merahasiakan penyebab kematian Ibu Ana. Hingga kini Ana masih mempercayai bahwa ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil ketika Ana berumur 6 bulan.

Arthur kaget mendengar cerita singkat dari ibunya. Arthur tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya. Ibunya memohon pada Arthur untuk tidak menceritakannya pada Ana.

Arthur dan ibunya mulai mengantri utnuk meninmbang hasil panen yang mereka bawa.
Dua orang didepan mereka juga ikut mengantri. Seorang kakek tua Nampak berdebat masalah upah yang diberikan Anei. Upah yang diterima kakek itu tidak sesuai dengan hasil yang dia dapatkan. Anei mengusir kakek tua itu dengan memanggil petugas penjaga yang berdiri tidak jauh dari tempat kejadian. Si kakek menggerutu, dahinya mengkerut, alisnya beradu, matanya memerah memandangi Anei dalam-dalam ketika penjaga menarik kakek tua itu. Arthur bertindak tapi ibunya mencegah. “Tidak usah ikut campur urusan orang lain, apalagi dalam keadaan seperti ini” bisik ibu Arthur pelan. Arthur hanya menunduk memandangi tanah cokelat yang basah diguyur air.
Seorang perempuan yang berada di depan Arthur, langsung pergi setelah melihat upah yang diberikan Anei.

“Hallo Nyonya Witson, sepertinya makin hari makin banyak hasil yang kau bawa”
“Ini berkat bantuan, Arthur. Dia juga ikut membantuku”. Nyonya Witson menyerahkan hasil panennya untuk ditimbang. Arthur nampak tidak suka dengan sikap Anei yang menggoda ibunya, matanya mengikuti pergerakan Anei. Dia akan marah jika Anei memberi upah yang tidak sesuai seperti nasib kakek tua tadi. Nyonya Witson merangkul pundak Arthur untuk mecegahnya berbuat sesuatu seperti kakek tua tadi. “Ini upah untukmu, sesuai dengan hasil yang kau dapatkan, anak itu bisa menjadi jimat keberuntungan untukmu, Nyonya Witson” Arthur tidak mengetahui jumlah persis upah yang didapatkannya dari Anei. “Terimakasih, saya pulang dulu”.

Arthur dan ibunya bergegas meninggalkan tempat penimbangan tanpa memberikan jabat tangan yang sudah biasa dilakukannya setiap pergi menimbang hasil panen. Arthur bertanya tentang upah yang diberikan Anei. Ibunya lama terdiam. Menjawab pertanyaan Arthur ketika mereka sudah sampai rumah yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat penimbangan tadi. Ibu Arthur menaruh upah di meja kayu yang sudah reot.

“Apa?, hanya segini upah yang kita terima,bu?” Arthur medobrak meja, meja kayu itu terlihat makin reot. “Tenanglah Arthur, ini lebih dari cukup untuk kebutuhan kita” jawab ibunya halus. “Kenapa ibu tidak protes?, kenapa ibu menahanku untuk menolong kakek tua tadi?”

“Kamu harus berfikir jernih sebelum bertindak Arthur. Pekerjaan kita bisa hilang jika kita gegabah. Belajarlah dari seekor burung hantu yang duduk di sebatang pohon, semakin banyak dia melihat, semakin sedikit dia berbicara, semakin sedikit dia berbicara, semakin banyak dia mendengar”
“Mengapa ibu mengijinkan orang yang ibu baiki tidak berlaku baik pada ibu?”

“Karena ibu tahu ini pasti untuk kebaikan ibu”

Arthur terdiam, dagunya mengeras, tanganya membersihkan keringat di keningnya, menunduk menatap meja dalam-dalam. Hari ini dia diajarkan arti Bijaksana. Arthur merasa beruntung memiliki ibu yang tidak pernah memaksanya untuk mengerti arti kehidupan.




Friday, March 27, 2015

ARTHUR (Episode 2)

Jalan panjang bertanah halus itu memang sering dilewati Arthur dan ibunya, dikelilingi hamparan perkebunan, persawahan dan ladang gandum yang luas. Terlihat para polisi kota mulai berdatangan dari arah yang berlawanan. Satu lagi peraturan di kota Nanoi yang tidak boleh dilanggar, Penduduk tidak boleh keluar rumah ketika matahari sudah terbenam. Mulai dari bayi sampai orang dewasa, hanya para polisi kota, para Anei dan Natalie yang boleh keluar.

“Ibu, polisi kota sudah mulai keluar kita harus bergegas untuk sampai ke tempat penimbangan” Arthur menarik tangan ibunya.
“Tenang Arthur, selama kita masih membawa persediaan untuk para Anei mereka tidak akan mengganggu kita”
“Tempat penimbangan masih jauh, kita butuh tumpangan sampai kesana sebelum matahari terbenam,bu” Arthur gelisah.
“Tidak akan ada yang bersedia menumpangi kita,Arthur”
“Kenapa tidak? sudah banyak mobil yang melewati kita, masa sih tidak ada satupun?” Arthur berjalan mundur untuk menghadang mobil dengan tanganya dari pinggir jalan.

Di kota Nanoi tidak banyak yang memiliki mobil dengan atap yang terbuat dari kain dan bisa di buka-tutup, Para Anei memproduksi mobil itu hanya untuk kalangan tertentu saja, penduduk tidak bisa sembarangan memiliki mobil, hanya dengan persetujuan Natalie penduduk Nanoi baru bisa memilikinya.

Tiba-tiba dari jarak yang tidak jauh, terdengar suara klakson mobil yang membuat Arthur dan ibunya berhenti.

“Akhirnya ada juga yang bersedia memberikan tumpangan untuk kita,bu”
“Belum tentu mereka akan memberi tumpangan untuk kita, Arthur” mobil itu berhenti tepat di depan Arthur dan ibunya..
“Arthur!” teriak seseorang dari dalam mobil
“Ana?” Arthur kaget melihat seseorang yang memanggilnya.
“Arthur sama ibu mau kemana?” Tanya Ana.
“Ini dari perkebunan, mau ke tempat penimbangan” Jawab ibu Arthur.
“Ana, beri kami tumpangan sampai ke tempat penimbangan ya?” Arthur memohon.
“Arthur!, tidak perlu Ana” sahut ibu Arthur
“Dengan senang hati, Arthur” Ana tersenyum, menandakan kesediannya untuk memberi tumpangan.
“Terimakasih Ana, ayo bu kita pulang. Jangan menolak pertolongan Ana” Arthur tersenyum.

Ana adalah anak dari Prof. Uru, dokter untuk para Anei semasa Witson memimpin kota Nanoi, Ana kenal baik dengan Arthur dan ibunya. Dulu, ayahnya sering bercakap-cakap masalah pembangunan kota Nanoi bersama Witson. Meskipun Prof. Uru hanya seorang dokter pada waktu itu. Tapi, Witson menganggap Prof. Uru sebagai tangan kanannya. Persahabatan yang mereka jalin sejak kecil membuat mereka Nampak seperti saudara. Di dalam mobil mereka bercakap-cakap hangat, kebiasaan yang selalu dilakukan ketika mereka bertemu.

“Gimana kabarmu Arthur?” Tanya Ana.
“Baik, Ibu juga baik.. Gimana kabar Prof. Uru?” jawab Arthur
“Ayah masih menjadi dokter untuk para Anei”
“Rumahmu masih di pinggir pantai, Ana?” Tanya ibu Arthur
“Masih, sekarang Ana sering kesepian karena jam kerja ayah ditambah, ayah sering pulang pagi bahkan terkadang tidak pulang” keluh Ana.
“Nanti biar Arthur menemanimu ketika kamu kesepian”
“Tidak perlu repot-repot bu. takutnya jadi membebani Arthur”
“Aku tidak merasa terbebani kok, kita jadi bisa sering-sering bermain dipinggir pantai seperti saat kita kecil dulu, Ana” Arthur, memukul halus pundak Ana.
“Terimakasih Arthur, ibu. Ana seperti mempunyai keluarga yang utuh lagi” jawab Ana.
“Kamu sudah Ibu anggap sebagai keluarga, Ana”.

Tidak lama kemudian mobil Ana telah sampai ke tempat penimbangan. Arthur dan ibunya berterimakasih kepada Ana. Mereka langsung bergegas menuju tempat penimbangan yang mulai sepi, sambil membicarakan ibu Ana yang meninggal sejak Ana lahir.


Friday, March 20, 2015

ARTHUR

(Episode 1)

Pria itu masih membantu ibunya menanam dan memanen sayur untuk kebutuhan para Anei. Anei, sebutan para penguasa kota yang berkuasa atas semua yang ada di Kota Nanoi. Nanoi, kota dengan lahan paling luas dari kota yang lainnya. Kota dengan kekayaan alam yang paling berlimpah dan indah. Penduduk di kota Nanoi tidak semuanya hidup bahagia. Mereka terbagi menjadi dua kubu. Kubu pendukung kebijakan para Anei dan penentang kebijakan para Anei.

Penduduk desa yang tidak menuruti apa kata Anei menjadi pekerja rendahan, seperti penyapu jalan, pembersih sampah, petani sayur ataupun buah. Berbeda jauh dengan para pendukung anei, mereka diperkejakan sebagai pegawai pajak, dan pemantau pekerja rendahan. Kebijakan anei membuat beberapa dari penduduk Nanoi berang. Hukum yang berlaku tidak adil membuat kaum miskin semakin tertindas. Pajak penghasilan untuk para kaum miskin tidak manusiawi, mereka diwajibkan membayar 20% untuk pajak penghasilan dari upah yang mereka terima setiap bekerja. Kaum kaya hanya 5% dari upah. Sedangkan kubu penentang anei banyak berasal dari kaum miskin. Pekerjaan diatur oleh anei, upah diberikan oleh anei, dan pajak dipunggut sendiri oleh anei.  

Para anei hanya tunduk pada perintah Natalie, Wali Kota Nanoi. Perempuan yang dipilih para anei untuk menggantikan Witson walikota sebelumnya yang tewas saat berpidato di hari jadi Kota Nanoi ke 856. Para anei mengatakan bahwa kematian Witson murni karena umurnya yang sudah tua.

“Arthur, ayo pulang. Kita sudah selesai disini.”

“Iya,bu tunggu  sebentar. Arthur akan mengembalikan wadah ini ke penjaga pos”
Arthur berlari ke arah pos penjaga, mengembalikan tempat bibit  tanaman.

“Cepat Arthur, jangan terlalu lama hari sudah mulai gelap” teriak ibu Arthur

“Ayo bu, mari kita pulang” Arthur membawakan hasil panen sayur yang diberikan ibunya untuk dibawa ke para Anei.

“Kita membawa cukup banyak sayur, Arthur. Kita bisa berharap para anei memberikan upah yang lebih banyak dari hasil panen kita kemarin”.

“Berharap dari para anei? Mereka itu licik, bu. Mereka mungkin memberi upah banyak tapi mereka juga memungut pajak yang tinggi dari upah yang kita dapat, bu.”

“Setidaknya kita masih bisa mendapatkan uang untuk kehidupan kita, Arthur. Para anei itu baik."

“Ibu, masih saja menganggap para anei seperti itu, kenapa ibu justru dijadikan sebagai petani sayur? Padahal jelas-jelas ibu pendukung para anei licik itu? Harusnya ibu mempertanyakan hal itu”  jawab Arthur dengan nada yang kesal.

“Sudahlah, Arthur. Jangan membahas hal itu lagi, kita tidak boleh berprasangka buruk, kamu harus menjadi bijaksana itu tujuan ayahmu memberi nama Witson dibelakang namamu.”

“Maaf bu” jawab Arthur.

Jarak ladang sayur dengan tempat penyimpanan sayur sangat jauh. Arthur dan ibunya masih berjalan kaki sambil menunggu kendaraan lewat yang bisa mereka tumpangi gratis.


Sunday, March 1, 2015

Review Film 2014

“Siapa diatas Presiden?” kalimat itu yang menjadi pertanyaan saya, setelah saya merampungkan tontonan menarik berjudul “2014”. Film yang awalnya dijadwalkan tayang di bioskop pada agustus 2013, lalu diundur januari 2014, dan akhirnya baru bisa mulai tayang serentak di bioskop 26 februari 2015 ini membuat saya merasa harus menjadi negarawan.

Cerita yang dibungkus sangat kuat dibumbui drama action ditengah geliat politik dan pemilihan presiden, pemilihan actor yang tepat membuat pesan pada film “2014” menjadi lebih tersampaikan. Hanya saja saya kurang suka dengan akting maudy ayunda pada film ini,terlihat agak canggung berpasangan dengan Rizky Nazar yang memerankan Ricky. Selebihnya saya tidak meragukan akting dari seorang Ray sahetapy, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto ataupun Donny damara.

Musik yang disajikan membawa emosi saya masuk dalam cerita yang disajikan, ke brutalan seorang penguasa dikemas sangat apik dan cantik, tanpa pandang bulu bunuh sana, bunuh sini. Opini penonton termasuk saya dimainkan, dibawa untuk menebak-nebak “siapa diatas presiden?”. Nampaknya penulis naskah sengaja memainkan opini penonton untuk mencurigai seorang Faisal Abdul Hamid yang berada dibalik itu semua, tapi untuk saya penulis naskah kurang jago memainkan opini penonton, karena sejak awal saya sudah bisa mengira siapa yang ada dibelakang kasus yang menimpa bagas notolegowo (Ray sahetapy).

Hilangnya bukti yang dikumpulkan penyidik di kantor kepolisian, berhasil masuknya satrio (Rio dewanto) ke penjara untuk membunuh bagas membuat saya berpikiran bahwa yang ada dibalik kasus tersebut adalah orang yang berpengaruh di institusi polri.

Ending film 2014 juga sangat apik, dilambangkan dengan cincin batu akik  yang dipakai menandakan bahwa penjegal pemerintahan yang bersih belum habis, rantai mafia belum putus, kegelisahan dari penulis naskah disajikan Nampak begitu kentara, nyata dan terlihat, selain itu menarik lagi ke-aslian cerita dan sudut pandang cerita serta musik yang disajikan pada film 2014.. yang terpenting pesan dalam film ini tersampaikan dengan baik, selama ini kita tidak sadar bahwa kita berhak atas kebebasan berpendapat, kebanyakan dari kita takut menilai dan berpendapat atas penguasa, kita lebih memilih tidak peduli, padahal itu pilihan yang salah..


Jangan takut untuk mengungkapkan kebenaran, buktikan bahwa yang benar adalah benar. ini bukan mengenai kuat atau lemahnya musuh kita tapi seberapa berani kita melawan musuh itu. Semoga melalui film 2014, Indonesia bisa menjadi negara yang jauh dari korupsi dan praktek kriminal lainnya. Amin J