Friday, March 20, 2015

ARTHUR


(Episode 1)

Pria itu masih membantu ibunya menanam dan memanen sayur untuk kebutuhan para Anei. Anei, sebutan para penguasa kota yang berkuasa atas semua yang ada di Kota Nanoi. Nanoi, kota dengan lahan paling luas dari kota yang lainnya. Kota dengan kekayaan alam yang paling berlimpah dan indah. Penduduk di kota Nanoi tidak semuanya hidup bahagia. Mereka terbagi menjadi dua kubu. Kubu pendukung kebijakan para Anei dan penentang kebijakan para Anei.

Penduduk desa yang tidak menuruti apa kata Anei menjadi pekerja rendahan, seperti penyapu jalan, pembersih sampah, petani sayur ataupun buah. Berbeda jauh dengan para pendukung anei, mereka diperkejakan sebagai pegawai pajak, dan pemantau pekerja rendahan. Kebijakan anei membuat beberapa dari penduduk Nanoi berang. Hukum yang berlaku tidak adil membuat kaum miskin semakin tertindas. Pajak penghasilan untuk para kaum miskin tidak manusiawi, mereka diwajibkan membayar 20% untuk pajak penghasilan dari upah yang mereka terima setiap bekerja. Kaum kaya hanya 5% dari upah. Sedangkan kubu penentang anei banyak berasal dari kaum miskin. Pekerjaan diatur oleh anei, upah diberikan oleh anei, dan pajak dipunggut sendiri oleh anei.  

Para anei hanya tunduk pada perintah Natalie, Wali Kota Nanoi. Perempuan yang dipilih para anei untuk menggantikan Witson walikota sebelumnya yang tewas saat berpidato di hari jadi Kota Nanoi ke 856. Para anei mengatakan bahwa kematian Witson murni karena umurnya yang sudah tua.

“Arthur, ayo pulang. Kita sudah selesai disini.”

“Iya,bu tunggu  sebentar. Arthur akan mengembalikan wadah ini ke penjaga pos”
Arthur berlari ke arah pos penjaga, mengembalikan tempat bibit  tanaman.

“Cepat Arthur, jangan terlalu lama hari sudah mulai gelap” teriak ibu Arthur

“Ayo bu, mari kita pulang” Arthur membawakan hasil panen sayur yang diberikan ibunya untuk dibawa ke para Anei.

“Kita membawa cukup banyak sayur, Arthur. Kita bisa berharap para anei memberikan upah yang lebih banyak dari hasil panen kita kemarin”.

“Berharap dari para anei? Mereka itu licik, bu. Mereka mungkin memberi upah banyak tapi mereka juga memungut pajak yang tinggi dari upah yang kita dapat, bu.”

“Setidaknya kita masih bisa mendapatkan uang untuk kehidupan kita, Arthur. Para anei itu baik."

“Ibu, masih saja menganggap para anei seperti itu, kenapa ibu justru dijadikan sebagai petani sayur? Padahal jelas-jelas ibu pendukung para anei licik itu? Harusnya ibu mempertanyakan hal itu”  jawab Arthur dengan nada yang kesal.

“Sudahlah, Arthur. Jangan membahas hal itu lagi, kita tidak boleh berprasangka buruk, kamu harus menjadi bijaksana itu tujuan ayahmu memberi nama Witson dibelakang namamu.”

“Maaf bu” jawab Arthur.

Jarak ladang sayur dengan tempat penyimpanan sayur sangat jauh. Arthur dan ibunya masih berjalan kaki sambil menunggu kendaraan lewat yang bisa mereka tumpangi gratis.


Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

3 comments:

  1. Bagus mas, itu masih ada lanjutannya ato endak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, masih akan berlanjut.. tunggu episode selanjutnya sabtu depan

      Delete
    2. iya, masih akan berlanjut.. tunggu episode selanjutnya sabtu depan

      Delete

Ayo Beri Komentar