Thursday, July 9, 2015

BADAI NEUROSIS (Episode 6)


Mimpi dalam hati Andriana memuncak ketika seekor merpati terbang melintasi rumahnya, pandangannya tertumbuk pada tiang-tiang listrik yang terlewat oleh merpati putih itu. Kini sudah sebulan dr. Jusuf menghilang, kabar terakhir yang didapatkan Andriana—dr. Jusuf berada di London. Pesannya masih juga tak terbalas. Andriana mulai melupakan Neurosis yang diidapnya. Pikirannya berganti pada setiap guratan di wajah dr. Jusuf. Kenangan terakhirnya di Gili Trawangan masih membekas seperti permen karet yang menempel di baju. Andriana masih membisu, semua pertanyaannya masih tersimpan di lubuk hatinya. Andriana dan dr. Jusuf sama-sama terperangkap dalam permainan yang mereka buat sendiri. Antara percaya atau tidak Andriana yang lebih masuk ke permainan dr. Jusuf. Terapi dr. Jusuf benar-benar berjalan dengan baik. Waktu sebulan cukup untuknya memberi insepsi pada Andriana. Sebelum perasaan Andriana benar-benar hilang dan tak sanggup lagi merasa karena terlalu lama dibiarkan.

“Andriana, apa kabar?” (09.07).

“Nggak baik, dr. Jusuf sendiri gimana kabarnya?” (09.09).

“Selalu baik, An. Saya ada di London. Kamu mau oleh-oleh apa?” (09.12).

“Jadi, dr. Jusuf beneran ada di London?” (09.13).

“Iya, sudah seminggu yang lalu. Kenapa, An?” (09.14).

“Aku Cuma pengen dr. Jusuf balik ke Jakarta” (09.15).

Pesan dari Andriana tak terbalas. Coba tebak—apakah dr. Jusuf sengaja melakukannya atau atas kuasaku sebagai penulis kisah ini? Andriana mulai risau, perasaannya sudah tak bisa dia tahan sendiri. Jarak bukan teman baiknya.

“dr. Jusuf salah. Terapi yang dokter lakukan akan sia-sia, cara ini akan jadi bumerang untuk dokter dan tidak akan berhasil. London tempat yang sangat jauh untuk bersembunyi. Aku juga tidak akan mencari dokter. Itu terlalu jauh. Jarak bukan teman baikku”.


Ini tekad Andriana, sebelum dr. Jusuf membalas pesannya dia tidak akan mengirim pesan lagi untuk dr. Jusuf. Meski ini sangat menyiksa Andriana tapi aku sebagai penulis kisah ini punya kuasa atas nasib tokoh yang aku ciptakan. Andriana tidak bisa melawan perasaan yang sudah ditanamkan dr. Jusuf. Neurosis yang dia idap kini sudah benar-benar hilang. dr. Jusuf berhasil melakukan terapi sialannya. Pikiran Andriana sudah terpenuhi bayang-bayang dr. Jusuf dan jarak yang terbentang teramat jauh. Insepsi dari dr. Jusuf benar-benar kuat. Andriana tak cukup pintar untuk menghindar atau bahkan menghilangkan insepsi yang sudah sejak awal ditanamkan dr. Jusuf.

BERSAMBUNG...
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar