Thursday, July 9, 2015

BADAI NEUROSIS (Episode 4)


Cicak di plafon hotel makin bertambah ketika malam mulai meninggi. dr. Jusuf dan Andriana masih berbaring di karpet merah. Telinga mereka bersentuhan, kali ini bukan bintang atau bulan yang mereka bicarakan. Tapi, cicak. Telunjuk mereka tertuju pada sepasang cicak yang berdekatan dan saling mendekat, seperti seorang kekasih yang bertemu setelah sekian lama menjalin hubungan jarak jauh—LDR.

Ini hari terakhir Andriana mengambil cuti. Tidak ada kekhawatiran dari Andriana untuk bergegas kembali ke Jakarta. Terapi yang dilakukan dr. Jusuf hampir berhasil, dan sampai sekarang Andriana belum curiga. dr. Jusuf tinggal menanamkan cara agar Andriana mengelola rasa khawatirnya terhadap penyakit yang menghantuinya. Karena jika Andriana masih terus saja berpikir bahwa dia mengidap Neurosis, terapi yang dilakukan dr. Jusuf akan menjadi sia-sia. dr. Jusuf sedang berusaha menanamkan rasa empati dan simpati ke dalam tubuh Andriana.

dr. Jusuf hanya butuh seseorang sebagai pantulan agar Andriana terus mengingat seseorang itu hingga dia melupakan Neurosisnya. Tapi nihil, dr. Jusuf tidak menemukan satu orang-pun dari masa lalu Andriana yang bisa membuatnya lupa terhadap Neurosis yang dia idap. Hanya ada orang tua, keluarga dan kerabat. Andriana sangat tertutup untuk masalah ini. Masa lalu baginya adalah kegagalan—kegagalan yang membuatnya enggan.

“An?”

“Iya, dok?”

“Kenapa kita masih di sini? Bukankah ini hari terkahirmu cuti?”

“Ini Gili Trawangan, dok. Aku masih ingin berlama-lama di sini”.

“Lalu, pekerjaanmu?”.

“Jangan khawatir, dok. Nggak bakal mempengaruhi kinerja kantor kalau tidak ada saya disana. Lagian dokter juga kan yang memintaku mengambil cuti kerja dan pergi berlibur?”.

Suasana tenang sesaat. dr. Jusuf hanya tersenyum, jari-jarinya beradu di atas dadanya. Andriana memutuskan untuk memperpanjang liburannya di Gili Trawangan selama dua hari. Memberikan waktu lebih untuk dr. Jusuf menyelesaikan pekerjaannya. Andriana tertidur. dr. Jusuf menatapnya manis lalu mengambil selimut untuknya. Sengaja dr. Jusuf tidak memindahnya ke atas kasur, karena takut membangunkannya.

dr. Jusuf duduk di balkon hotel. Menikmati deburan angin laut dan suara ombak yang lirih terdengar. Dia mengambil buku catatannya lalu mulai menulis. “Aku membenci waktu yang terlewat begitu cepat saat rasa membaginya denganku. Terlebih aku sangat benci ketika waktu terasa begitu lambat ketika rasa melukaiku” –Gili Trawangan (00.09) 


Dalam batas buritan, Andriana seperti berada pada satu titik yang membuatnya bingung. Ketika masa lalunya meninggalkannya, ketika masa lalunya pergi tanpa izin lalu datang lagi ketika izin itu diterima dan sudah tidak berlaku lagi untuk Andriana. Terlebih ketika angin buritan menusuk tulang yang mengalami kerusakan hebat. Tulang-tulang Andriana mengeras ketika lelaki dari masa lalunya datang tanpa salam, membawa seorang perempuan di belakangnya, mengenalkannya pada Andriana. Kamu tahu siapa yang aku maksud. Andriana terkapar setelah kejadian itu. Dia mulai yakin bahwa kegagalan adalah hal yang tidak bisa dirubah. Seperti aturan tuhan yang pantang untuk dilanggar. Keyakinnanya justru membunuh perasaan yang tak lagi merasa. dr. Jusuf paham akan hal ini, sebagai seorang psikiater tidak susah menebak suasana hati seseorang hanya dari tatapan mata dan gerak-gerik. Kini tugasnya hanya satu, membuat Andriana mencintainya.

BERSAMBUNG...
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar