Monday, April 4, 2016

AKU INGIN KAMU

Aku menantimu di ujung gang
Bersama air mata yang mengering
Wajahmu menjelma rindu yang mengganggu otakku
Suaramu menggema kasih yang mengganggu telingaku
Nafasmu membekas disetiap nafasku

Aku ingin kamu, sayangku
Membelaiku dibalik selimut
Aku ingin kamu, sayangku
Menciumku penuh malu
Aku ingin kamu, sayangku
Memelukku diantara hujan
Aku ingin kamu, sayangku
Menggenggam tanganku tanpa ragu

Masih adakah kamu disana?
Menungguku penuh senyum
Aku ingin kamu yang dulu
Yang merinduiku tanpa ampun




PUAS?

Ada gerimis di pelupuk matamu,
Ada hujan di rongga dadamu,
Ada hampa di matamu
Aku melihat sepi yang mengering,

Bibirmu purnama pertama
Arah semua pria mengadu
Kau simpan rahasia hati
Yang menyakitimu sendiri
Ku bisikkan kenangan, kamu menolak

Puaskah kamu, membuatku menunggu?
Puaskah kamu, membuatku merindu?
Puaskah kamu, membuatku meragu?
Puaskah kamu?


MALAM ITU

aku rindu malam itu
malam saat hujan menyamarkan suaramu
saat kuciumi lehermu
kugigit bibirmu
dan kau menggigit lidahku
ingatkah kau malam itu?

adakah aku di matamu?
adakah aku dalam tangismu?
adakah aku di setiap rindumu?
sekali lagi ku tanya, adakah aku?

kini bibirmu bau tembakau
bekas ciumku yang menggoda gairahmu
bangkitlah...
balas aku...
cium aku, sayangku...


TANYA

Ada apa dengan polaris? 
Ursa minoris menantinya di utara
Sirius pergi karenannya
Racun jingga wajah canopus

Bulan terlelap di jantungmu
Arcturus merinding kelam
 
Menanti beta leonis datang
Menilik sirius dari jauh

Ada apa dengan polaris?
meninggalkan hati yang dicaci
Ada apa dengan sirius?
terangnya tak tampak lagi
Ada apa dengan arcturus?
kenapa meninggalkan bootes
Ada apa denganku?
Puisi macam apa ini...


KAU

Engkaulah rintangan dalam benak, menyusuri yang tak tersentuh

Engkaulah raga yang terpasung, mencari tubuh yang tak berbentuk

Engkaulah jiwa yang tersudut, mencari malu dalam bias tak menentu

Engkaulah tubuh yang terkesima, mencari batas yang kau beri sendiri

Engkaulah langit yang membiru, menyilaukan mata yang mencarimu

Engkaulah awan yang mengabu, mengganggu hasrat yang merajuk

Engkaulah, wanita malang yang merubah langitmu jadi abu

Dan akulah, yang siap merubah abumu jadi haru yang membiru

Semarang, 1 Maret 2016


PUISI TENTANG SENJA

Jika aku jadi senja, aku senja yang menautkan dua pasang mata yang saling menatap

Jika aku jadi senja, aku senja yang melabuhkan dua hati yang saling mencintai

Jika aku jadi senja, aku senja yang mengebiri waktu saat kita bersama

Jika aku jadi senja, aku senja yang menghapuskan jarak sepasang kekasih yang merindu

Jika aku jadi senja, aku senja yang menghangatkan tubuh tanpa peluk

Jika aku jadi senja, aku senja yang menghapus tangis perpisahan

Jika aku jadi senja, aku senja yang memelukmu tanpa ragu

Jika aku jadi senja, aku senja yang rela selamanya redup untukmu

Akhirnya, akulah senja yang menemanimu bersama kekasih yang kau cium dibibir pantai, sore itu.

Puisi tentang Senja,
Semarang, 2 Maret 2016.


MAMPUS

Dalam bentang yang tak mengembang

Kenangan jatuh kelubang yang sama

Mengais rindu yang pecah diantara luka

Takadaguna,menataptanpamenetap

Takadaguna,akumerindu

Takadaguna,merindutanpabertemu

Takadaguna,akumenunggu

Takadaguna,cintatanpameragu

Takadaguna,akumembisu

Tak ada guna, kata tanpa jeda

Tak ada guna, semuanya

Mampus kau membacanya