Friday, January 1, 2016

Ran Fleuriste #2 Episode 1


Aku berharap semesta bertasbih mendengar doaku. Sejak kejadian di Keukenhof dua bulan lalu, Ranum berubah. Wanita memang selalu membingungkan, sedetik yang lalu kita bisa melihat seorang wanita dengan mood yang bombastis, sedetik kemudian mood bombastis itu bisa hilang seketika, makhluk tuhan yang satu ini memang harus diperlakukan spesial. Kini Ranum menciptakan jarak, dia tak semanis dulu, tak seceria dulu.

Aku paham, ungkapan perasaanku terlalu dini untuk dibilang cinta sejati, wanita macam Ranum butuh lebih dari sekedar cinta untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Para wanita hanya punya dua pilihan ketika seorang pria mengungkapkan perasaannya. Mencoba berpura-pura cinta lalu benar-benar cinta atau berpura-pura lupa bahwa kejadian itu tak pernah terjadi lalu perlahan memberi jarak dan meninggalkan semua yang telah terjadi, aku paham—meski tidak semua wanita punya sifat seperti Ranum.

Aku mencintai Ranum lebih dari yang bisa ku tanggung, aku tak punya alasan, kenapa aku mencintainya. Aku bingung, aku rasa untuk urusan cinta alasan adalah hal yang tabu untuk dibahas. Aku memutuskan membuka cabang baru Rain Coffee tepat di samping Queen Of Sean. Aku dan Sean bersekutu soal Ranum, Sean bersedia membantuku dalam hal apapun soal Ranum. Meskipun awalnya Sean bilang ini gila,

“Ranum itu nggak kaya wanita kebanyakan” Kata Sean.

“Iya aku tahu, Sean. Makanya aku butuh bantuanmu.”

“Kamu mau apa, Rain?”

“Aku cuma butuh kamu meyakinkan Ranum, soal perasaanku.”

“Kamu gila, Rain.”

“Ayolah, Sean.”

Sean berpikir panjang soal hal ini, bagaimanapun juga dia tak ingin melihat sahabatnya menderita lagi karena pria, kejadian di Tropea Beach beberapa tahun lalu cukup jadi pengalaman buruk Ranum untuk terakhir kali. Sean tahu betul Ranum luar-dalam, itu alasan kenapa aku meminta tolong padanya.

“Oke, aku coba. Tapi dengan caraku bukan caramu.” Kata Sean.

“Oke.”

“Rain, kamu ini CEO perusahan besar, kamu kelihatan berwibawa ketika Ranum pertamakali melihatmu, Ranum selalu bilang kalau kamu orang yang paling bijak dan wibawa yang pernah dia temui… Aku nggak melihat itu lagi sekarang. Aku baru tahu kalau cinta bisa merubah sifat manusia.”

“Ayolah Sean, jangan menceramahiku. Ini bukan saatnya.”

“Kenapa kamu mencintai Ranum?”

Pertanyaan Sean bukanlah pertanyaan yang musti djawab. Aku adalah orang yang percaya bahwa cinta tak butuh alasan. Karena ketika cinta beralasan seluruh semesta akan mengingat alasan kita dan mau tidak mau, kita harus bersusah payah memegang janji-janji yang keluar dari mulut kita, memelihara alasan yang kita ucapkan.

“Ranum pasti butuh alasan kenapa kamu mencintainya” Kata Sean.

“Apakah cinta butuh alasan? Apa cinta pernah menagih alasan?”

“Kamu harus membayar cintamu dengan alasan, Rain.”

“Kamu salah. Aku membayar cintaku dengan kesetiaan.”

“Terserahlah, laki-laki memang bikin bingung.”

“Jadi?”

“Beri aku nomor ponselmu, aku akan menghubungimu lagi” Kata Sean.

Sisi lain kota ini, menyisakan luka yang meradang. Malam di Amsterdam terasa mencekam bagi mereka yang terpenjara dalam kesendirian dan terlalu lama merasakan kesepian. Aku masih bisa merasakan ada jeda yang mengukur kata, membuatnya jadi bisa terbaca. Jarak yang dibangun oleh Ranum membaurkan luka, membuatku hilang kesadaran penuh sesal. Aku tahu selalu ada batas yang mengikat rasa, membuatku selalu bertanya pada diriku sendiri “Sanggupkah aku melewati batas diantara rasa yang tak saling mengikat?” Hanya Ranum yang bisa menjawabnya.

 

Musim panas mendatangi Belanda, tanda bahwa Daylight Saving Time mulai diterapkan di belahan Eropa. Daylight Saving Time adalah perubahan atau pergeseran waktu pada musim panas. Daylight Saving Time dilakukan secara resmi dan serentak di belahan Eropa. Waktu dimajukan selama satu jam lebih awal dari zona waktu resmi yang diberlakukan pada musim semi dan musim panas. Daylight Saving Time bertujuan untuk menyesuaikan kegiatan kerja dan sekolah, Di musim panas, siang hari jau lebih lama dibanding malam hari. Letak geografis eropa membuat matahari tidak meyinari kawasan eropa secara merata.

 

Pagi ini aku melihat Ranum mengendarai sepedanya, memakirkan persis di samping Ran Fleuriste, aku melihatnya dari cctv yang aku pasang di luar Rain Coffee, kamera khusus yang menghadap teras Ran Fleuriste. Aku terpaksa memasangnya, Ranum selalu menghindar ketika dia melihatku, berpura-pura sibuk ketika aku mulai mengajaknya bicara. Aku selalu merindukannya seperti mentari yang merindukan pagi, seperti senja yang merindukan malam, juga seperti rindu awan pada langit. Aku ingin menjadikannya sebatas jantung yang mencari nafas, sebatas urat yang mencari nadi, tanpa sekat, tanpa ampun dalam mengasihi.

 


09.30, ponsel di saku celanaku bergetar, satu pesan masuk dari Sean. Buru-buru aku membacanya…


(BERSAMBUNG)
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar