Thursday, December 10, 2015

SELEPAS SENJA

Selepas senja aku masih menatapmu di balik jendela yang tertutup embun hasil hujan sore tadi. Malam tadi aku memimpikanmu lagi, entah sudah berapa malam yang kuhabiskan untuk memimpikanmu. Aku melihatmu menyeka air mata yang terlampau deras membasahi pipi, matamu tak sekalipun menatap mataku, seakan aku tak pernah ada di depanmu. Di mimpi itu kau mengenakan gaun putih, rambutmu kau ikat dengan karet gelang pemberianku setahun yang lalu.

“Are you oke?”

“I’m Fine.”

Aku terbangun dari mimpi, setelah kamu pergi bersama seorang pria yang tak tampak jelas raut mukanya. Sudah sepuluh jam aku duduk di balik jendela ini. Menatapmu yang berbahagia menerima tamu yang datang di pernikahanmu. Aku tak sekuat yang kau kira, melihatmu bersanding bersama orang lain, mengucapkan janji sehidup—semati. Tidakkah kau lihat gelisah hati ini? Yang meminta kau kasihani meski hanya sedetik tersenyum dan menatapku manis. Aku bukan lautan yang berjarak dengan ombak, aku hanyalah hujan yang meneteskan air dari kesedihannya yang sudah tak bisa ia tahan sendiri.

Selepas senja, aku selalu bisa melihat wajahmu di buku-buku yang ku baca, melihatmu menjelma senja yang terbit di setiap halamannya. Asaku terpuruk ketika tahu itu hanyalah imajinasi yang tanpa ujung. Aku lelah membiarkan hujan memakan semua air mataku, mengingatkan diri pada perjuangan yang akhirnya mati hanya karena gengsi.

“Tak ada pertemuan tanpa perpisahan, sayang.”

“Aku tak ingin ada pertemuan.”

“Apa yang kamu mau?”

“Aku ingin perpisahan yang mengharap pertemuan.”

“Itu mustahil.”

“Aku tahu, aku terlalu lelah mengatakan aku kuat karena berpisah denganmu, padahal aku sangat mengharapkan pertemuan itu lagi.”

“Sayang, aku tak benar-benar berpisah darimu, aku hanya memberi jarak diantara kita.”

“Jarak menghasilkan ruang, kamu harus bertanggung jawab karena ada ruang yang kosong—tak terisi.”

“Biarkan ruang itu kosong, ada saat yang tepat untuk diisi oleh orang yang tepat. Kamu hanya perlu menantinya dan menunggu.”

“No!! cinta bukan soal menanti apalagi menunggu. Cinta soal menemukan dan ditemukan.”

“Kalau begitu, temukanlah.”

“Aku sudah menemukanmu.”

“Kau tahu, ini semua tidak mungkin. Aku sudah ditemukan oleh orang lain.”

“Tapi, aku yang menemukanmu dulu.”

“Tidak, kamu salah. Kamu menemukanku bukan disaat yang tepat. Tapi dia, menemukanku  disaat yang tepat.”

Selepas senja, aku menyadari kenangan tak pernah berubah menjadi apa-apa, kenangan akan tetap sama seperti semula. Aku yang terlalu berharap kenangan berubah menjadi apa yang aku mau.

Selepas senja, aku butuh hujan untuk menyamarkan air mata. Kenanganmu hanya membuatku merasa ada bukan memiliki. Ini menyakitkan, sekeras apapun aku mencoba melupakanmu, hatiku selalu mudah menemukanmu lagi.

Selepas senja, aku menyadari. Aku tak pernah bisa memberikan apa yang kau mau dan kamu selalu memberikanku apa yang aku mau, Aku sadar, kau lebih mencintaiku karena kau menerima apa yang tak ada di antara kita.

Selepas senja, aku tahu ini tak semudah yang aku bayangkan. Aku masih rajin menatap ponsel, berharap ada pesan masuk darimu. Senja tak pernah sama, selalu ada garis yang berbeda warna, selalu ada awan yang berbeda bentuk. Yang sama hanya satu, kesetianku dalam menatapmu. Menanti dan menunggu dalam ketidakmungkinan yang sengaja kau ciptakan untuk menyakitiku.

Selepas senja aku bertanya, apakah aku akan berhenti jika penantianku ditumbuhi sepi. Aku selalu takut malam. Aku tak ingin mengulangi kejadian malam itu, aku memilih menghindari malam dengan memimpikanmu selepas senja.

Selepas senja, tidakkah kau melihat lumpur-lumpur yang menyelimuti rindu, aku belum siap untuk tidak merinduimu.

Selepas senja, aku memutuskan membiarkan hatiku tersesat, memilih ditemukan tidak lagi menemukan. Aku memaksa merawat hatiku yang luka untuk menjaga kenanganmu yang terlanjur berakar di pikiran.

“Kamu salah, melepaskan bukan sebuah kesalahan.”

“Aku tak pernah punya niat untuk melepaskanmu.”

“Kamu justru akan menyakiti hatimu sendiri.”

“Hatiku sudah terbiasa dengan luka yang kamu beri.”

“Tapi hatiku tak terbiasa melihat luka di hatimu.”

“Aku cemburu melihatmu bersanding pada seseorang yang tak pernah berusaha keras mendapatkanmu, tapi  bisa mendapatkan perhatianmu.”

“Kamu butuh waktu yang tepat, sayang.”

“Waktu tak pernah memihakku, waktu selalu menahanku maju, waktu memaksaku menggadaikan rasa.”

Selepas senja, kau mendatangiku mengobati seduh yang teramat pedih, aku terpaksa merebahkan cemas. Aku tak pernah ingin pergi dan menjadi orang asing, kau perempuanku yang lahir dari sajak-sajak pengganti rindu. Kisah kita belum usai, aku butuh pemeran utama untuk membuat ending. Karena kisah tanpa ending bukanlah sebuah kisah.

“Aku kembali, kini menjadi istrimu. ”

“Aku tahu kau bosan. Tapi bosan tidak bisa kau jadikan alasan untuk berpisah.”

“Aku tak bosan, sayang. Aku hanya butuh kita kembali, mengulang semua dari awal, lalu saling mengenal lagi, lewat pernikahan kita.”

“Aku berhak atas tubuhmu, aku suamimu.”

“Tenang, sayang. Kau tak pernah benar-benar kehilanganku.”

Selepas senja, kau membiarkanku merebahkan tubuhmu. Aku rindu bibir yang pernah melumatku. Kau memberikannya malam ini. Hujan menyembunyikan sunyi. Malam ini jadi malam pertamaku melihat perubahanmu, dan jadi malam pertamamu melihat aku yang kau mau. Aku berubah jadi sosok yang selalu kau inginkan—tak seperti dulu. Kau berubah jadi sosok yang selalu ku tunggu.

“Aku ingin merubah kebencianmu terhadap malam. Lupakan kejadian malam itu—ada aku di sini.”

Selepas senja, aku menyetubuhimu—melupakan semua yang sempat menghalangi kita untuk saling mencinta, merobohkan dinding yang terlampau tinggi untuk dipanjat. Menghapuskan jarak yang terlalu lama tercipta. Kau tertidur setelah dua jam kau membiarkanku menikmati tubuhmu. Ponselku berdering melihat satu pesan yang tak asing.

“Lihat keluar jendela, sayang. Aku rindu kamu.”

Aku menatap ke luar jendela, perempuan yang membuatku memandanginya sepuluh jam dari balik jendela selepas senja melambaikan tangan ke arahku, aku tersnyum.


“Aku tak pernah mengenal angka, dalam mencinta.”


Wednesday, December 9, 2015

Tunggu?

Pukul sembilan
Di keramaian yang menggema, aku menunggu
Kamu janji menemuiku pukul tujuh
Dahiku mengerut, menahan kramnya perut.

Jarak menggores waktu yang dilukai
Sialan! Berapa lama lagi aku harus menanti
Aku lepas kendali, menantimu yang tak kembali
Haruskah aku menunggu lebih lama lagi?

Semarang, 10 Desember 2015

Sunday, November 29, 2015

Menyentuh Masa Lalu



Aku menyadari, keputusanku melepas Laura adalah keputusan terburuk yang pernah ku hadapi selama hidupku. Kesadaran yang datang terlambat telah membuatku merasa jadi manusia paling bodoh. Aku masih duduk kaku, bingung, salah tingkah. Laura duduk di depanku dengan senyum yang terasa neurotik bagiku. Perpaduan tatapan dan senyumnya berhasil meluluhkanku, mematahkan amarah yang batal tersampaikan. 

Menyadari kesalahan terbesar yang telah ku perbuat sendiri justru membuatku semakin tersakiti, bukan karena perbuatan orang lain. Tapi, karena perbuatanku sendiri. Aku tak pernah bisa berpikir jernih setelah kejadian itu, aku selalu teringat kenangan bersama Laura, dan itu menyakitkan. Meskipun kenangan kita jauh dari rasa menyakitkan. 

Malam ini kita tak semeja berdua, Laura mengajak sahabatku, Alva.

“Nat?”

“Nathan!?”

“Eh iya, sorry-sorry. Kenapa, Laura?”

“Kok bengong?”

“Enggak kok, Cuma mikirin bisnis aja.” Aku benci berbohong.

“Oh iya, Nat. Gimana bisnis kontraktor barumu?” Tanya Alva.

“Lancar, ada beberapa pekerjaan baru tahun depan.” Aku tersenyum. Senyum seorang sahabat.

“Wauw, tambah sukses dong kamu, Nat” Laura menambahi.

“Ya... bisa dibilang gitu. Kalo kamu gimana Laura?”

“Kami sudah resmi berpacaran, Nat” Jawab Alva, Laura tersenyum menatapku.

Apa yang barusan terjadi? Aku seperti ditimpa beban yang paling berat. Kalimat itu mengacaukanku, membuat isi otak berputar-putar entah kemana. Ini terlalu cepat, aku baru dua bulan berpisah dengan Laura, itupun bukan karena kita sudah tak saling mencintai. Kami sepakat untuk berhenti saling menyakiti, status membuat semuanya jadi tidak mudah. Ada batas yang tak boleh kita lewati. Ada jarak yang tak boleh terlampau jauh. Ada dua perasaan yang juga tak mudah untuk dijaga. 

“Oh wauw, selamat ya. Alva—Laura.”

“Terimakasih, Nathan” Jawab Laura.

Makanan yang kami pesan datang, Laura dan Alva memesan makanan yang sama. Makanan yang sering aku dan Laura makan saat masih bersama dulu. Dan kini Laura menikmatnya bersama orang lain, tepat di depanku dan Ini menyakitkan, sangat.

“Nat?” Tanya Alva.

“Ya?”

“Kamu tidak marah?”

“Marah? Untuk apa?”

“Kita berpacaran?”

“Kamu lucu, Va. Aku bahagia kalau sahabatku bahagia, apalagi kalau Laura bahagia” Aku tersenyum, Laura membalas senyumku.

Percakapan ini hanya membuang waktuku saja. Tapi, aku juga tidak mungkin pergi meninggalkan mereka. Laura bisa menganggapku cemburu. Kalau itu terjadi Laura akan menang, membuatku menyesal telah meninggalkannya.

“Nat?” 

“Iya Laura?”

“Aku tahu ini susah untukmu, aku tidak bermaksud mentyakitimu.”

“Tenang aja, Laura. Kita memang harus bisa menerima satu sama lain, bukan untuk kita 
 yang dulu. Tapi, untuk kita yang sekarang.”
 
“You’re my bro. Nat” Balas Alva.

“Kita berteman sejak kecil, rasanya munafik pertemanan kita hancur hanya karena salah satu dari kita mencoba membuka hati untuk orang lain” Alva dan Laura menatapku.

“Aku selalu suka setiap jawabanmu. Nat”  Laura tersenyum.

Aku tak perlu panik, apalagi khawatir. Mereka berdua hanya berpacaran. Laura bukan perempuan yang bisa diajak serius ke jenjang yang lebih luas, seperti pernikahan. Dia menolak ketika aku melamarnya ketika kami berlibur di Bali. Handphone Alva berdering, dia meminta izin untuk menerima panggilan itu. Laura menyentuh tanganku ketika Alva sudah cukup jauh dari meja kami.

“I’m Sorry, Nathan” Tangan Laura memegang tanganku.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Laura. Kamu tidak salah.”

“Kamu bohong.”

“Kamu sok tahu, Laura.”

“Aku kenal betul sama kamu, Nat. Kita udah sama-sama hampir tiga tahun.”

“Oke, oke, Fine!!” aku melepaskan gengaman tangan Laura. “Ini yang mau kamu kasih ke aku, setelah tiga tahun kita berpacaran? Perempuan macam apa kamu ini?”

“I’m Sorry, Nathan. Aku dan Alva akan bertunangan. Alva sudah melamarku.”

“What? Tapi, dulu.....”

“Aku minta maaf, Nathan.”

“Kamu membunuh kepercayaanku terhadapmu kurang dari satu menit, Laura. Lidahmu sungguh tajam. Perempuan macam apa kamu ini?? Aku bisa terima kalau kamu menikah dengan orang lain. Tapi ini..... Alva, sahabatku sendiri, teman kita sejak kecil.”

“Memang apa masalahnya?” tanya Laura.

“Apa masalahnya? Kamu masih tanya? Kamu menyakitiku bertubi-tubi detik ini. Aku tidak mungkin meluapkan emosiku di depan Alva. Kamu justu memancingku, bahkan di saat Alva tidak ada di sini.”

“Maafin aku, Nathan.”

“Perempuan macam apa kamu ini, Laura.”

“Ikhlaskan, Nat.” Laura menggenggam tanganku. Aku melepaskannya.

“Aku tidak bisa, Ikhlas pelajaran paling susah di dunia, Laura. Kamu tahu itu.”

“Nat.” Mata Laura berkaca-kaca.

“Aku selalu berharap bisa menjadi seseorang yang sedang bersamamu, Laura. Tapi waktu nggak pernah mengijinkanku, waktu nggak pernah berpihak, waktu selalu menahanku maju.”

“Terus, kenapa kamu tinggalin aku, Nat. Justru disaat aku mulai percaya?”

“Aku ingin membunuh waktuku, Laura.”

“Buat apa? Kamu kan tahu, nggak bakal ada yang bisa memutar waktu apalagi membunuhnya.”

“Bisa, Laura.”

“Dengan cara apa?”

“Membunuh waktuku, bersamamu... Laura” Alva kembali sebelum Laura sempat membalasku.

“Sorry, biasa urusan pekerjaan.” Alva duduk dengan senyum yang mengarah ke Laura.

“Sorry, Alva—Laura aku harus pergi. Permisi.” Nathan meninggalkan Laura dan Alva dengan perasaan yang kabut. Alva dan Laura menatapnya hingga Nathan menghilang dari pandangannya.

“Gimana, Laura? Nathan Cemburu?” Tanya Alva.

“Kita berhasil.”

“Apa aku bilang, Nathan bakal sulit melupakanmu apalagi mengikhlaskanmu.” Jawab Alva.

“Apa yang harus aku lakukan, Alva?”

"Sentuh hatinya lagi. Laura.” 

“Tapi....”

“Kamu nggak perlu jauh-jauh cari orang baru buat memperbaiki perasaanmu kalau masa lalumu bisa melakukannya.”

“Tapi, aku sama saja baca cerita di buku yang sama, endingnya sama jalan ceritanya sama.”

“Kenapa harus baca cerita di buku yang sama, kalau kamu dan Nathan bisa menulis cerita kalian sendiri, bersama-sama?”

Sunday, November 22, 2015

Connecting

Aku duduk bersebelahan dengan seorang perempuan yang terlihat seumuran denganku di dalam pesawat yang menuju ke Bali. Aku tersenyum ketika dia menemukan nomor tempat duduknya setelah bingung mencari dan berkali-kali melihat boarding pass ditangannya. Setelah beberapa detik dia meletakkan barang bawaannya di bagasi atas, dia duduk dengan senyum antusias yang mendarat di mataku. Gincu merah muda di bibirnya terlihat cocok dengan bentuk bibir dan kulit putihnya. Warna matanya terlihat terang tanpa garis merah yang biasanya ada di pinggir bola mata.

“Hai” tangannya antusias menjabat tanganku.

“Oh, hai” aku tersenyum menyambut jabat tangannya.

“Mau liburan?” perempuan itu melepaskan jabat tangannya.

“Iya, Ubud.”

“Ubud? Sama dong, aku juga mau ke sana.”

“Liburan juga?”

“Iya, sekalian jenguk nenek. Sendirian aja?”

“Iya nih, sendiri. Kamu juga?”

“Tadinya sendiri, sekarang udah duduk berdua sama laki-laki yang sama-sama mau ke Ubud.” Dia tertawa kecil.

“Haha, ohiya aku Leo” aku menjabat tangannya.

“Aku Carina” dia tersenyum.

Carina memakai T-Shirt bermotif garis horizontal berwarna putih—biru yang ditekuk di ujung lengan T-Shirt. Memakai celana jeans yang juga ditekuk di ujungnya. Celana jeans yang berlubang di beberapa bagian itu sedikit menggangguku, paha putihnya tidak bisa ku pungkiri terlihat oleh mataku. Carina memakai sepatu dr. Martens warna merah maroon dengan tiga lubang tali, tanpa kaos kaki. Membawa tas hitam kecil, jam tangan cassio warna cokelat dan beberapa gelang menghiasi tangan kirinya. Setelah beberapa menit dalam keheningan dan saling diam, Carina mengambil ipod dan earphone hitam dari tasnya.

“Suka musik apa?” tanya Carina.

“Relatif, tapi paling suka musik jazz sih.”

“Louis Amstrong?” Carina memakai earphone hitamnya.

“Iya, tapi aku paling suka Jimy Rushing.”

“Really? Jimy Rushing? Nenek aku suka banget sama Jimy Rushing” Carina melepas earphone hitamnya.

“Ohiya?”

“Iya, gara-gara nenek, aku juga jadi suka Jimmy Rushing.”

“Aku masih sering lihat perfomancenya di youtube, waktu dia duet sama Dizzie Gillespie Quintet.”

“Aku tahu! Blues After Dark kan?” Carina antusias.

“Iya, Perancis 1959” aku tersenyum menatapnya.

“Gendut, botak, hitam manis, suaranya bagus gemesin kalo lihat dia jalan di video-videonya” Carina tertawa lepas.

“Haha, sssstttt. Jangan ketawa keras-keras.” Jari telunjukku mengacung di depan bibir.

“Ohiyaya, ssstttt” Jari telunjuk Carina ikut mengacung di depan bibir.

“Mau dengerin lagi?”

“Boleh” Jawab Carina.

Aku mengambil Ipad di tasku, lalu membuka file video yang sudah ku download. Memakai earphone di telinga kiri lalu memakaikan earphone di telinga kanan Carina.

“Terimaksih” Carina membuka rambut yang menutup telinganya, menggiringnya ke belakang telinga.

“Sama-sama, Carina”.

Aku baru mau menekan tombol play, Carina sudah mendahuluiku. Menekan tombol play lalu mencubit jariku. Aku hanya tersenyum, Carina juga. Aku dan Carina melihat video itu bersama, hanya berdua. Sesekali Carina berkomentar lucu soal tubuh Jimmy Rushing yang gendut. Tangan kiriku yang menopang punggung Ipad mulai goyah, “Capek, Leo?” Tanya Carina. Tangan kanan Carina ikut menopang punggung Ipad tepat di bawah tangan kiriku. Tangan kami bersentuhan, beberapa detik setelahnya jari-jari Carina mulai bergerak di punggung jari-jariku. Aku meliriknya yang tersenyum dengan matanya yang masih terpaku pada video. Jari-jari Carina masih bergerak mengelus jari-jariku. Aku membiarkannya.

“Nah, selesai juga videonya.” Carina menarik tangannya.

“Yah, kok udah selesai” keluh Carina.

“Haha, emang cuma segitu, Carina.” Aku memasukan Ipad ke dalam tasku.

“Sekarang, kita dengerin lagu-lagu yang ada di Ipod ku ini ya” Carina menunjukkan Ipodnya padaku.

“Boleh, kita lihat seberapa bagus musikalitasmu.”

“Haha, oke. Kita lihat bareng, Le—O” balas Carina.

Carina memakaikan earphone di telinga kiriku, lalu aku memegang tangannya membantu memakaikan earphone, aku sengaja melakukannya, agar Carina merasakan apa yang aku rasakan ketika dia menyentuh tanganku tadi. Lalu Carina memakai earphone di telinga kanannya.

“Udah?” Tanya Carina.

“Play” Jawabku.

“Lagu pertama nih, Leo.” Carina tersenyum menatapku.

“Asiik, Billie Holiday.”

“Gloomy Sunday, Leo. Lagu wajib sebelum aku tidur.”

“Jadi, sekarang kamu mau tidur?” tanyaku bingung.

Belum Carina menjawab pertanyaanku, matanya sudah terpejam. Aku masih terus mendengarkan lagu dari Ipodnya. Sudah lagu ke enam setelah Gloomy Sunday milik Billie Holiday berhasil membuat Carina tertidur. Pundakku berubah hangat, melihat kepala Carina tersandar halus dipundakku. Aku melihat Carina masih nyenyak dalam tidurnya. Limabelas menit lagi pesawat akan mendarat. Aku masih membiarkan pundakku dikuasai Carina. Jari-jariku menyentuh rambutnya, keningnya, pipinya, bibirnya. Carina terbangun, membuatku cepat-cepat menarik tanganku.

“Aku ketiduran ya?” tanya Carina.

“Iya, Carina. Billie Holiday berhasil lagi bikin kamu tidur.”

“Haha kamu, iih. Berapa lama aku tidur?”

“Setengah jam, mungkin.”

“Lama juga ya.”

“Kita udah mau mendarat, Carina. Jangan lupa safety belt.”

“Thankyou, Leo.”

Pesawat sudah mendarat, Aku dan Carina turun dari pesawat bersama. Sebelum mengambil barang aku meminta nomor handphone Carina. Carina memberikannya dengan senang hati.

“Kamu dijemput siapa, Leo?” tanya Carina.

“Sepupuku, Kamu Carina?”

“Itu” Carina menunjuk sesorang yang melambaikan tangan ke arahnya, “Suamiku. Aku duluan ya, Leo.”