Tuesday, December 15, 2015

After The Rain


Sudah dua jam aku menatap hujan dari balik jendela kamarku yang mengembun. Aku leluasa menuliskan satu nama di antara embun yang menyelimuti jendela kamarku. Jari-jariku tak pernah menuliskan nama yang lain, selain namamu. Aku merindukanmu, bukan karena hujan pagi ini. Aku rindu percakapan kita diantara bait yang mengganti rima. Batas antara kenangan dan rasa rindu telah terlalu lama kamu pegang. Kamu tak pernah membagi batas itu padaku. Aku masih ingat percakapan kita sore itu, di antara orang-orang yang mengais rindu kau bertanya.

“Menurut kamu, arti cinta buatmu itu apa?”

“Pertanyaanmu berat sekali.”

“Yah...” Dia menatapku dengan wajah memohon.

“Are you okay?

“I’m fine.”

“So, kenapa kamu tanya soal ini?”

“Aku butuh jawaban dari kamu.”

“Well, cinta.” Aku menghela nafas.

Sampai detik ini kau tak pernah setuju arti cinta menurutku. Kamu tak pernah mengiyakan apa kataku bahwa cinta ibarat pesulap yang tampil di atas panggung megah. Semuanya hanya trik untuk membuat penonton terhibur, menghasilkan senyum, kekaguman dan kegembiraan lalu para penonton menjadi kecanduan akan pertunjukan yang dihadirkan pesulap itu. Penonton itu meminta lagi, terus meminta—sampai si pesulap kehabisan trik, lalu para penonton meninggalkannya dan mencari pesulap lain.

“Kamu salah, kamu bilang gitu karena kamu belum pernah merasakan nikmatnya dicintai.”

“Mungkin.”

“Coba kalau kamu udah merasakan nikmatnya dicintai, kamu bakal merubah perspektifmu soal cinta.”

Yang bisa merubah perspektifku tentang cinta hanya kamu. Sialnya, kamu tak pernah menyadari ketertarikanku padamu. Aku bingung, banyak orang yang saling jatuh cinta, saling menyayangi, saling mencintai. Tapi, kenapa mereka masih sempat sakit hati? Bukankah hatinya sudah dipelihara dengan baik oleh orang yang mereka pilih sendiri? Lalu kenapa terkadang mereka merasa sendirian? Padahal mereka punya cinta—cinta yang mereka pilih sendiri.

“Kamu jatuh cinta sama seseorang?”

“Yap.”

“Harusnya kamu enggak tanya apa arti cinta ke orang lain.”

“Kenapa enggak?”

“Kalau kamu masih tanya sama orang lain, berarti kamu belum benar-benar tahu apa itu cinta.”

“Aku tahu, aku merasakan.”

“Merasakan bukan berarti tahu, kan? Kamu memaksa hatimu untuk merasakan cinta tanpa memahaminya dulu.”

“Tapi, buat apa memahami cinta kalau kita udah bisa merasakannya?”

“Buat apa kamu tanya apa arti cinta, kalau kamu udah bisa merasakannya?”

Kamu tidak benar-benar menemukan cinta, kalau kamu masih belum tahu apa artinya. Kamu hanya memaksakan hal yang fana untuk dirasakan hati tanpa diartikan. Kemunafikan terhadap hati bermula darimu, kamu tidak tahu arti cinta, tapi kamu nekat mempertanyakan arti cinta pada orang lain. Sebenarnya... Apa yang kamu rasakan selama ini?

Hujan masih belum berhenti, kenangan yang mengalir deras masih menatap dari langit-langit kamar. Sepi merayap di dinding kamarku. Rindu ini mengeras bak bunga es di ruang pendingin. Aku tak bisa mencairkannya sebelum lemari es dimatikan. Sebelum ada seseorang yang mengambilnya... Rindu ini akan tetap mengeras.

Namamu belum hilang di jendela kamarku yang mengembun. Bait dalam puisi itu berubah tanpa makna, puisiku kehilangan rima. Kamu menciptakan perasaan yang liar—kamu menanaamkanya di hatiku lalu kau tinggalkan. Dengan segenap pucuk pengharapanku aku bertanya, kapan kamu memetik semua yang telah kamu tanam dalam-dalam di hati ini. Aku masih menunggumu memetiknya sebelum aku membiarkan orang lain mencabutnya.

“Kenapa kamu menerimanya? Kamu tahu dia bukan orang yang baik untukmu.”

“Tapi, dia rela berubah untukku.”

“Apakah kamu rela berubah untuknya?”

Aku sulit percaya pada seseorang yang rela berubah demi mendapatkan orang yang dia cinta. Karena ketika itu terjadi, kamu akan mendapatkan tugas yang sangat berat. Kamu harus benar-benar menjaganya untuk tidak berubah menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak pernah kamu harapkan. Karena ketika kamu meninggalkannya—kamu justru akan merubahnya menjadi monster yang sangat berbahaya untuk dilepas. Kamu terjebak dalam hubungan yang kamu bangun sendiri.”

“Kita berdua punya banyak kesamaan. Bukankah itu sebuah kelebihan?”

“Tapi, Itu enggak menjamin keberhasilan hubunganmu di kehidupan. Hidup ini lebih rumit dari apa yang kamu kira. Kamu enggak bisa merancang hidupmu sendirian.”

Hujan pagi ini membuat selimut jadi teman melawan dingin. Dingin pagi ini menusuk tulangku, merebahkan sepi yang mencari rindu. Aku mencoba melawan bayang-bayangmu di pikiranku. Tapi, ketika aku mencobanya, aku selalu menemukan tembok tinggi yang menghalangi. Dan sialnya kamu ada di balik tembok itu. Aku tak mungkin menghancurkannya, karena tembok itu mungkin saja menimpamu. Aku bisa saja mencoba memanjatnya. Tapi, aku takut kau menghilang ketika aku sampai di balik tembok. Jadi apa yang harus aku lakukan?

Hujan berhenti, embun di jendela kamarku perlahan menghilang bersama sepi yang merayap di dinding kamarku.  Aku melihatmu di balik jendela—tersenyum menatapku. Tanganmu menyentuh jendela yang menyentuh tangankuku. Kita menghapus embun itu seirama.
Aku membuka jendela, jeda antara kesunyian dan rasa sepi menghalangiku untuk berbicara. Lidahku kelu. Aku tak pernah bisa menjadi orang normal ketika berhadapan dengamu. Bersama angin yang berhembus kamu berkata.

“Aku hanya ingin pergi, jangan cari aku. Aku tidak ingin ditemukan.”

“Tapi, kenapa?”


“Because, if you look with your heart. You will know... I always be with you.”
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar