Friday, April 17, 2015

ARTHUR (Episode 5)


Pagi ini Arthur berniat pergi ke rumah Ana di lepas pantai Nanoi. Mimpinya semalam menggugahnya untuk mencari kebenaran tentang ayahnya. Arthur sengaja pergi kerumah Ana untuk menemui Prof. Uru dan bertanya tentang ayahnya. Ibu Arthur belum bangun dari tempat tidurnya, ini hari minggu. Ibunya bebas tidur sampai kapanpun asal tidak diganggu oleh siapapun termasuk Arthur.

Arthur Masih duduk dibangkunya, melihat petugas loper koran yang mengendarai sepeda melemparkan koran ke pintu rumah Arthur. Koran dikota Nanoi diberikan secara Cuma-Cuma oleh pemerintah kota. Tidak pernah ada berita buruk di koran, pemerintah kota selalu mengisi berita tentang kemajuan Kota diberbagai sektor, meskipun terkadang yang diberitakan tidak pernah ada faktanya. Mungkin itu tujuan kenapa koran di Kota Nanoi diberikan secara Cuma-Cuma, sebagai alat pencitraan atau alat provokasi publik. Arthur tidak beranjak mengambil koran itu. Arthur tidak pernah membaca koran Kota. Koran itu hanya dibaca sekali oleh ibunya lalu dibuang atau terkadang menjadi pembungkus makanan.

Setelah bersiap-siap Arthur segera beranjak pergi, di tuliskannya pesan untuk ibunya di selembar kertas putih yang berisi: “Bu Arthur pergi kerumah Ana dulu”. Diselipkannya di sela-sela jari ibunya.. 
Arthur pergi jalan kaki sesekali melambaikan jempolnya untuk meminta tumpangan. Musim kemarau telah lewat, udara panas di Kota Nanoi berubah dingin dan sejuk.. Pemandangan pagi di Kota Nanoi selalu indah memberikan rasa nyaman pada setiap orang yang lewat, belum banyak gedung-gedung pencakar langit yang terlihat. Hanya ada beberapa gedung pemerintahan yang tidak lebih dari 4 lantai..

Jarak rumah Arthur dan Ana lumayan jauh, menempuh waktu sekitar setengah jam naik kendaraan, bisa cukup lama jika Arthur jalan kaki.. Setelah beberapa menit Arthur jalan kaki. Arthur melambaikan tangan ke arah mobil pick-up yang mengangkut sayur mayur, diberhentikannya mobil itu lalu Arthur bertanya pada sopir kemana arah pick-up itu pergi. Arthur naik pertanda pick-up searah dengan rumah Ana.

Setelah setengah jam perjalanan, melewati hamparan kebun sayur dan pohon-pohon kelapa, mobil pick-up itu menurunkan Arthur di pinggir jalan besar lalu pergi meninggalkan kepulan asap knalpot yang bau dan berwarna hitam pekat. Arthur membalikan badan, diam, Menatap jalan menuju rumah Ana, tiba-tiba Arthur larut dalam kenangan masa kecilnya bersama Ana. Tempat Arthur dan Ana bermain perak umpet masih sama, dipinggirnya masih menjulang pohon-pohon kelapa. Arthur menyusuri jalan itu, Arthur melihat sosoknya bermain petak umpet bersama Ana dan teman masa kecilnya yang lain. Matanya berkaca-kaca menatap langit-langit dan kelapa yang ijo royo-royo, bibirnya tersenyum lebar. Diujung jalan itu ombak meraung-raung, angin menggoyangkan daun-daun kelapa, pasir pantai yang halus sudah bisa dirasakan kaki Arthur ,.Arthur menghirup nafas panjang, matanya menyapu laut lalu melihat rumah Ana yang menghadap langsung ke arah Laut.

Arthur mendekati rumah Ana, rumah dengan desain klasik dengan dinding batu bata yang agak kecokelatan,  dan cerobong asap yang mulai menghitam di bagian atas. Ayunan kayu di depan rumahnya bergoyang seperti baru saja dipakai orang. Tidak banyak orang berlalu lalang hingga Arthur melihat Ana melambaikan tangan penuh semangat. Arthur enggan mendekat, pakaian renang yang dipakai Ana membuat Arthur merinding, kulitnya yang putih halus membuat mata Arthur melotot tidak karuan. Ana menyambut Arthur hangat, memeluk Arthur seperti lama tak bertemu padahal baru kemarin dia menghantarkan Arthur ke penimbangan.

“Jadi, kamu mengiyakan perkataan ibumu untuk menemaniku sesekali?” Tanya Ana melepaskan pelukannya.
“Hahaha, aku tidak mau menjawab pertanyaanmu sebelum kamu mengganti pakaianmu, Ana.”
“Ah, kamu masih saja sama seperti dulu, selalu berlebihan menghormati wanita. Santai sajalah, aku ini kan temamu, anggap seperti saudara sendiri” Ana mengedipkan mata.
“Kamu Nampak jelek dengan pakaian seperti itu Ana, cepatlah ganti. Aku lebih suka melihatmu mengenakkan blus warna putih.”
“Okelah Arthur, aku masuk dulu kamu jangan ikutan ya. Duduk di situ saja, tunggu aku” Ana menunjuk kursi kayu yang menghadap laut didepan rumahnya.

Ana memang aneh, hanya dengan Arthur dia bisa bersikap santai dan nakal. Mungkin karena Arthur teman masa kecilnya. Ana sudah menganggap Arthur seperti keluarganya. Tidak ada yang berubah di tempat ini, tetap seperti dulu, tempat yang hangat untuk berbincang. Arthur duduk, menunggu Ana dan berharap Prof Uru ada dirumah.

“Arthur” Ana keluar dari rumahnya membawa kelapa muda dan biskuit kelapa kesukaan Ana. “Hey Ana, nah gini dong kamu jadi kelihatan cantik kan kalo gini” Ana memberikan Kelapa muda pada Arthur lalu duduk disebelah Arthur. Biskuit kelapa menjadi pembatas Ana dan Arthur.

“Aku mencari ayahmu, Ana. Dia ada dirumah?”
“Jadi kamu mencari ayahku? Aku kira kamu kesini mencariku, Arthur..Ayahku sudah tiga hari ini tidak pulang, ayah bilang masih banyak pekerjaan di Balai Kota. Memangnya kenapa, Arthur?”
“Aku ingin bertemu ayahmu, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Tapi kalo tidak ada, maksudku kesini jadi berubah untuk menemuimu, Ana” Kontak mata yang diberikan Arthur sangat dalam membuat Ana menjadi salah tingkah. Tingkahnya memberikan tanda kesukaannya pada Arthur, perasaan masa kecilnya terhadap Arthur masih sama. Ana membalas pergerakan mata Arhtur, dengan senyuman yang selalu dirindukan Arthur.


(Bersambung)
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar