Monday, June 11, 2018

Tentang Mimpi-Mimpi yang Beku


Aku terbangun, sekali lagi. Pada sebuah perjalanan waktu yang gagal total. Kali ini, setelah berkedip berulang kali, aku menyadari ada di sebuah perkantoran. Aku berdiri di antara meja dan kursi kayu cokelat yang ditata rapi. Di sekelilingnya dinding kaca menghalangi warna senja yang agak muram karena mendung sore itu. Aku duduk di satu meja dengan peralatan komputer terbaru, awalnya, kupikir aku sendirian. Tapi setelah mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, aku menyadari ada seorang perempuan duduk di belakangku, tak jauh dari situ.

Aku mengenalnya, ia dengan rambut menyentuh pundak tersenyum sebelum aku sempat mengirim senyumku. Bibirnya merah merona, matanya gelap sempurna, ia cantik dengan blus longgar berwarna putih dengan jam mungil di tangan kanannya.

“Hai,” ia menyapaku, melambaikan tangan seolah kami berjauh-jauhan.

“Loh kamu kok di sini?” kataku setelah mengolah informasi di otakku tentang keberadaannya yang tiba-tiba.

“Aku kerja paruh waktu di sini.”

“Serius?” tanyaku sedikit menarik tubuh—tak percaya.

“Iya, jadi aku dulu di sini, sebelum kamu,” ia masih dengan senyum di balik bibir meronanya. Mengabaikan layar komputer yang tak kuketahui menampilkan apa.

Aku bangkit dari tempatku, menghampirinya. Aku melihat matanya yang membesar indah, seperti seorang yang akhirnya bertemu sang kekasih setelah sekian lama tak bertemu. Aku mengulurkan tangan, ia menyambutnya dengan senang hati. Sedetik saat tangan kami bersentuhan, ruangan tiba-tiba luruh, kami tak lagi berada di perkantoran dengan dinding-dinding kaca. Aku bingung menatap sekitar, perempuan itu tetap diam—tenang, ia memelukku di antara hiruk-pikuk pesta dansa.

Satu tangannya menyentuh lembut pundakku, ia berbisik di telingaku;

“Nikmati malam ini, sayang. Bawa aku pergi dari ruang mimpimu,” aku menatapnya, mata itu menghindar. Masih dengan sentuhan lembut itu, ia menempelkan hidungnya pada pundak lainnya. Alunan musik klasik pelan-pelan terdengar sporadik di telingaku. Aku melingkarkan tangan pada pinggangnya, kami sempurna seperti penari dansa profesional di tengah hiruk pikuk kebisingan orang-orang.


Kupejamkan mata, ia masih bisa kurasakan di sekujur tubuh, gerak-geriknya yang pelan-mempesona, hingga deru napasnya yang menyentuh leherku. Aku merasa berada di rumah; tempat segala rasa nyaman ditemukan. Lalu saat aku membuka mata, ruangan itu sepi, tak ada lagi perempuan itu. Hanya aku sendiri.

Kupejamkan mata sekali lagi, berharap semuanya kembali. Namun tak lagi terjadi apa-apa, aku berkedip cepat, hingga menemukan diriku berada di jalanan malam, aku melihat perempuan itu menggandeng tanganku, ia ada di depan--mengajakku berlari. Jalanan itu sepi, lampu lalu lintas hanya berkedip kuning setiap kali. Ia makin kencang membawaku berlari, makin kencang hingga rasanya aku memasuki sebuah portal infinite, seketika ia hilang. Sebelum aku menyadari, aku masih dalam kecepatan lari yang konstan, hingga benar-benar berhenti. Aku terbangun dalam mimpi pagi di ranjang tidurku yang berantakkan, dengan kebingungan membekukan tubuhku. 

----
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar