Friday, September 18, 2015

Di Pinggir Jalan Malam Itu


Tak ada cahaya di ruangan itu, gelap juga bukan
Nyaris tanpa luka yang meredam, membekas keras di teras rumah
Nyanyian kota keras terdengar, memekikan telinga yang tak lagi bisa mendengar
Suara lonceng gereja memecah gemuruh petir
Ku lihat matamu yang kosong, mencari pilu yang tak dicari

Garis-garis merah beradu dengan moncong pistol

Matamu membunuhku, hampa tiada tara
Nafasmu mengincarku, lahan kekosongan antara pangkal
Bibirmu membisuku, ujung teriak beriak dalam liur yang mengeras
Deretan aksara berubah jadi nada tanpa irama
Irama metafora yang berujung keheningan
Masih adakah kau di tepi jalan itu?

Satir, gelembung sabun meletup bak nyanyian di tepi danau
Menuliskanmu membuatku mati suri
Hidup dalam naungan malaikat, yang siap mengikat
Aku tak lagi menemukanmu
Di antara senja
Di sekitar malam yang mencekam
Di pagi yang membagi angin
Hanya ada bayangmu yang ricuh
tak terduga datang di pinggir jalan itu

Di pinggir jalan itu
Lampu jalan itu tak ubahnya jadi tempat mengadu
Menerangi  air mata yang mengering getir
Lampu jalan mati tanpa requiem, sengsara tiada arti
Hatiku ngilu, jalanan berubah jadi tafsir yang tergelincir air
Dinding rumahmu masih bisa ku lihat
Pagar hitam terhempas sinar bulan malam ini, menantangku tanpa ampun

Tak terasa lagi getaran suaramu di jalanan kota
Tawamu diredam aspal hitam, mencabut kenangan yang terangan
Aku mencarimu di antara dingin yang mencekam malam
Sepi bergetar di iringi alunan gitar
Gitar pengamen tua yang duduk di pinggir jalan malam itu
Masih adakah kau di pinggir jalan malam itu?

Semarang, 18 September 2015 
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar