Saturday, March 26, 2016

THE AFTERNOON COFFEE


Sudah seminggu lamanya televisi terus menyiarkan kasus yang menggemparkan masyarakat. Kematian seorang wanita muda bernama Rina, setelah meminum secangkir kopi di salah satu gerai kopi terkenal di Jakarta. Polisi terus mendalami kasus, bekerjasama dengan polisi Australia untuk ikut menyelidiki. Dari rekaman CCTV polisi belum bisa menyimpulkan pelaku dibalik kasus ini.

Tiga orang yang berada dekat dengan korban saat kejadian, telah dimintai keterangannya. Tiga orang tersebut masih berstatus menjadi saksi. Seorang diantaranya adalah kekasih Rina bernama Panji, yang dalam kesaksiannya mengatakan bahwa dia menjemput Rina di rumahnya. Panji adalah seorang mahasiswa semester lima  jurusan kedokteran.

Kedua wanita yang juga berada satu meja dengan Panji adalah Siska dan Fina. Siska sama dengan Rina mahasiswi semester lima jurusan ilmu kimia, sedangkan Fina adalah bartender di gerai kopi tempat Rina meregang nyawa. Fina adalah kakak kelas Rina di SMA. Fina baru satu bulan bekerja di gerai kopi itu, setelah menyelesaikan sekolah barista di Singapura.

------

Sabtu siang, pukul dua. Rina menerima kabar bahwa Fina bekerja di gerai kopi yang biasa di datangi Rina dan teman-temannya. Rina menghubungi Fina untuk bisa bertemu di tempat Fina bekerja, Fina mengiyakan ajakan Rina dengan sedikit terpaksa. Fina adalah salah satu orang yang membenci Rina saat di SMA, Rina yang menjadi ratu di SMA, membuat aura kebintangan Fina tertutup dengan kecantikan Rina yang menarik perhatian banyak pria. Fina masih mengingat bahwa Rina-lah penyebab kandasnya hubungan antara Fina dan Rio, kekasih masa SMAnya. Dan hingga kini, Fina belum bisa melupakan Rio yang telah menjadi kekasihnya selama hampir tiga tahun. Seminggu setelah putus, Fina mendengar kabar yang tidak mengenakkan, bahwa Rio dan Rina berpacaran. Sebulan kemudian tawa Fina kembali, setelah mendengar Rio dan Rina putus hubungan.

Sabtu siang, pukul dua. Rina menelpon Siska, mengajaknya bertemu Fina sambil ngopi. Siska adalah sahabat baiknya di kampus, mahasiswi yang digilai banyak mahasiswa di kampusnya. Siska menyimpan rasa cinta pada Panji, kekasih Rina. Baginya Rina adalah wanita paling beruntung, karena bisa bersanding manis dengan pria paling tampan di kampus. Siska mengiyakan ajakan Rina dengan girang, karena seingat Siska sudah lebih dari sebulan dia tidak ngopi bareng Rina. Siska masih belum memilikki kekasih sejak dia mengetahui sahabatnya sendiri mendapatkan pria incarannya sejak semester pertama.

Sabtu siang, pukul dua. Siska mengirim pesan untuk Panji. Sudah tiga hari Rina dan Panji tidak dalam keadaan yang harmonis. Siska yakin bahwa Rina tidak mengajak Panji. Rina-pun tidak tahu bahwa sudah tiga hari juga, Siska dan Panji tampak mesra, melalui percakapannya di whatsapp. Siska dan Panji tampak seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Panji membalas pesan Siska dengan sangat menggoda, menawarkan untuk menjemput, tapi Siska menolak. Siska tidak ingin Rina curiga dengannya. Akhirnya, Siska menyuruh Panji untuk menjemput Rina sebelum menjemputnya.

------

Dengan mercedez hitamnya, Panji keluar dari basement apartemennya, menuju rumah Rina untuk mejemput. Panji baru memberitahu Rina di setengah perjalanan menuju rumah Rina, setengah kesal Rina mengiyakan ajakan Panji untuk menunggunya sepuluh menit lagi. Di dalam mobil, Panji asik menerima telpon dari Siska, bercanda dengan menggodanya penuh nafsu dan hasrat membabi buta. Siska menerimanya sebagai ajakan serius, untuk bercinta di apartemen Panji nanti malam. Panji tersenyum puas, memberi kecupan, lalu menutup telponya ketika balkon lantai dua rumah Rina sudah terlihat dari mulut gang.

Klakson mobil Panji sudah berbunyi tiga kali setelah Rina keluar dan menutup pagar rumahnya. Setelah duduk di samping Panji, Rina menyuruh Panji untuk menjemput Siska. Panji tersenyum, dia tidak perlu mencari alasan untuk menjemput Siska. Rumah Siska tidak terlalu jauh dari rumah Rina, hanya butuh sepuluh menit untuk sampai. Di dalam mobil Panji sengaja tidak membuka obrolan, Rina juga malas mengajak Panji ngobrol. Sebenarnya Rina telah mengetahui bahwa Panji—kekasihnya, selingkuh dengan sahabatnya sendiri—Siska. Rina ingin melihat gerak-gerik Panji dan Siska ketika ada dirinya.

Setelah menjemput Siska, Rina semakin yakin bahwa ada sesuatu diantara Panji dan Siska. Cara Panji mengajak ngobrol Siska dan cara Panji melirik Siska lewat cermin di atas kepalanya. Rina mencoba bersikap normal dan menahan tanya yang ingin dia lontarkan. Jarak dari rumah Siska dengan gerai kopi lumayan jauh, memakan waktu setengah jam. Selama itu juga kesunyian mengendap di dalam mercedez hitam milik Panji.

------

Mercedez hitam milik Panji, sampai di pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, tempat gerai kopi yang dimaksud. Ketiganya turun bersamaan, Panji mencari petugas Valet Parking, Rina dan Siska meninggalkan Panji, memilih untuk langsung menuju gerai kopi. Setelah urusan Panji dan petugas Valet Parking selesai, Panji buru-buru mengejar Rina dan Siska, merangkul tengkuk Rina dan Siska. Rina langsung melepas rangkulan Panji, diikuti Siska yang awalnya tersenyum menatap Panji dan memegang jari-jarinya. Gerai kopi terlihat dari kejauhan, Rina mempercepat langkahnya diikuti Panji yang buru-buru mencium pipi kiri Siska—menggodanya. Siska ikut mempercepat langkahnya, menutup mulutnya—menahan tawa.

“Hai Rina,” sambut Fina, melambaikan tangan.

“Fina!! long time no see,” balas Rina, memeluk Fina.

“Rina!! Kangen aku sama kamu… Loh, ada Siska juga?” Fina menatap Siska, sahabat satu kelas masa SMAnya.

“Eh, Fina? Sekarang kerja disini?” Tanya Siska, memeluk sahabat masa SMAnya, terlihat seperti dua orang yang suda sangat lama tidak bertemu.

“Baru sebulan kok,” Senyum Fina.

“Kamu kok nggak kasih tahu aku kalau mau ketemu Fina,” Tanya Siska pada Rina.

“Surprise!!” Jawab Rina girang.

“Eh iya, ini… Kenalin pacar ak… Pacarnya Rina!” Kata Siska, tersenyum pahit.

“Panji,” Ucap Panji, menyalami Fina.

“Fina,” Kata Fina, membalas salam Panji.

Dalam sekejap pertemuan yang sedikit membuat canggung itu selesai dengan Siska yang menawarkan tempat duduk di sudut gerai Kopi. Awalnya Rina menolak untuk duduk di sudut gerai kopi. Tapi, Siska dan Panji memaksanya. Rina terpaksa mengiyakan. Gerai kopi tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasang kekasih dan orang-orang yang sedang meeting bersama klien.

Sabtu sore, pukul tiga. Siska menghampiri Fina yang sedang meracik kopi, meninggalkan Rina dan Panji. Seperti dua orang yang baru bertemu sejak lama. Siska dan Fina justru seperti dua orang yang sering bertemu setiap hari. Fina sedikit bercerita tentang sekolahnya di Singapura, Siska menceritakan soal Rina yang lagi-lagi menang dari dirinya. Fina tersenyum sinis, mengatakan bahwa Rina memang bukan sahabat yang baik dan pantas mati. Siska terkekeh, mengiyakan ucapan Fina.

Dua cangkir capucino yang dipesan Panji dan Rina, selesai diracik Fina. Siska tersenyum menatap Fina, Siska meminta Fina untuk bisa menghantarkannya pada Panji dan Rina yang sedari dulu masih saling diam, tidak membuka pembicaraan. Siska selesai menaruh dua cangkir kopi, menaruh kopi Panji sebelum kopi Rina. Mengedipkan mata ke arah Panji, lalu kembali menuju Fina yang sedang membersihkan cangkir kopi. Siska mengacungkan ibu jarinya pada Fina, Fina membalasnya dengan menempelkan ujung ibu jari dan ujung jari telunjuknya.

Beberapa detik setelahnya, Panji beranjak dari kursinya, menuju bar—tempat Siska dan Fina bercakap-cakap.

“Aku kan nggak pesan Capucino,” Kata Panji, menyerahkan secangkir capucino pada Siska.

“Oh… sorry, sayang. Aku lupa… Kamu sama kaya aku kan?” Tanya Siska, mengambil capucino dari tangan Panji.

“Caramel Machiato,” Bisik Panji, dekat telinga Siska.

Fina tersenyum bergairah melihat pemandangan di depannya. Siska melihat Rina yang tersenyum pahit melihat Panji dan Siska dari tempatnya duduk, lalu melihat Rina merogoh tasnya. Beberapa menit Rina duduk sendiri, Panji, Fina dan Siska seru mengobrol di meja bar. Persis di depan Fina yang masih meracik Caramel Machiato untuk Panji dan Siska.

Dua cangkir Caramel Machiato sudah selesai diracik Fina, Panji dan Siska mengucapkan terimakasih lalu meninggalkan Fina, menuju Rina yang memegang cangkir, lalu meminum capucinonya di setengah perjalanan Panji dan Siska menuju sudut gerai kopi. Fina menyusul Panji dan Siska.

Beberapa langkah sebelum Panji dan Siska sampai ditempat Rina duduk. Cangkir Rina lepas dari tangannya, jatuh menghantam lantai lalu pecah, seketika Panji berlari menuju Rina yang kejang di tempatnya duduk. Siska dan Fina menyusul, buru-buru mempercepat langkahnya, setelah melihat mulut Rina yang mengeluarkan busa.

“Telpon ambulans!!” Teriak Panji.

------

Dua hari setelah kejadian di gerai kopi, jenazah Rina dimakamkan. Sebelum dimakamkan, penyidik melakukan autopsi terhadap jenazah Rina. Penyidik menemukan zat korosif di lambung Rina. Sehari setelah pemakaman, penyidik melakukan prarekontruksi, dengan membawa serta Panji, Siska dan Fina. Dari rekaman CCTV penyidik menemukan kejanggalan dari diri Siska yang menemui Fina saat sedang meracik kopi, dari rekaman CCTV yang ada Siska dan Fina nampak akrab. Prarekontruksi yang dilakukan Siska dan Fina sedikit berbeda dengan fakta CCTV yang ada. Dua hari setelah prarekontruksi, rumah Siksa dan Fina digeledah oleh pihak penyidik. Tidak ditemukan barang-barang mencurigakan dari kedua rumah.

Penyidik mengaku memilikki cukup bukti untuk menahan Siska dan Fina. Gelar perkara di kejaksaan dilakukan sepuluh hari setelah kejadian yang membunuh Rina sore itu. Kuasa Hukum Siska dan Fina meminta penyidik melakukan autopsi ulang terhadap jasad Rina. Tapi jaksa, menolak permintaan Siska dan Fina.

Siska dan Fina dijerat dengan pasal 340 KUHP atau pembunuhan berencana dengan ganjaran Hukuman mati. Muncul kegaduhan di televisi, banyak media yang memanggil narasumber ahli untuk mengadakan diskusi tentang kasus ini. Pro-kontra menyelimuti kasus, mulai dari pihak kepolisian yang tidak terbuka dengan alat bukti yang ada hingga keganjalan dari dugaan fakta-fakta yang dipaparkan pihak penyidik. Berita acara penahanan Siska dan Fina sudah dilakukan, untuk sementara Siska dan Fina ditahan sampai penyelidikan selesai dilakukan.

Dua minggu setelah pemakaman Rina, Panji didatangkan untuk menjadi saksi. Pihak kepolisian mengatakan bahwa Panji adalah saksi kunci dari kasus yang membunuh Rina. Hubungan terlarang Panji dan Siska menjadi patokan kepolisian untuk membuka titik terang kasus ini. Kesaksian Panji menjadi viral di sosial media, banyak yang berkomentar bahwa pembunuhan berencana juga dilakukan oleh Panji.

Sebulan setelah kasus Rina mencuat, polisi Australia mengundurkan diri dari penyidikan. Belum diketahui jelas penyebab mundurnya. Media massa berspekulasi atas berita ini, banyak media yang memberitakan adanya perbedaan hasil penyelidikan antara penyidik dan polisi Australia. Adanya keanehan yang ditutupi dari kasus ini.

Panji masih berstatus menjadi Saksi kunci kasus ini. Spekulasi tercipta, polisi mengatakan bahwa kecemburuan Siska terhadap Rina membuatnya berencana membunuh Rina dengan Zat Sianida yang bisa didapatnya di Lab Kimia, di kampusnya. Ditambah lagi dengan cerita masa SMA Fina. Saat kesaksian berlangsung di kepolisian, ada kesamaan nasib yang dialami Siska dan Fina, bahwa mereka berdua diam-diam membenci Rina.

Empatpuluh hari setelah kasus Rina, polisi baru membuka bukti baru, kesaksian baru dari Ayah Rina yang baru saja bercerai dengan Istrinya, seminggu sebelum Rina meregang nyawa. Ibu Rina jatuh miskin setelah perceraian, Rina terpaksa hidup dengan ayahnya. Ayah Rina jarang berada dirumah. Polisi baru memeriksa Ayah Rina sehari setelah pulang dari London untuk urusan pekerjaan.

Menurut pakar psikologi yang didatangkan oleh salah satu stasiun televisi, Jiwa Rina terguncang karena perceraian kedua orangtuanya, ditambah lagi perceraian itu terjadi hanya karena Ibu Rina sakit-sakitan. Ayah Rina tutup mulut ketika wartawan menanyai kelanjutan kasusnya.

Dua bulan kasus Rina ramai dibicarakan, polisi menutup kasus Rina, dengan menjatuhi hukuman seumur hidup kepada Siska dan Fina. 

------

Seminggu setelah kasus Rina ditutup, salah satu stasiun televisi mendapatkan rekaman CCTV pusat perbelanjaan, rekaman CCTV yang berbeda—tidak dimilikki oleh penyidik kepolisian. Rekaman ini ramai diperbincangkan, karena diduga Rina bunuh diri dengan meracuni kopinya sendiri. Mahasisiwi semester lima Ilmu Kimia ini, merogoh tasnya, mengambil cairan yang diduga Zat Sianida dalam tabung kecil saat duduk sendiri, lalu menuangkannya pada kopinya.
Spekulasi-pun mencuat. Rina bunuh diri karena sedih melihat ibunya jatuh miskin, menjadi gila karena hubungannya dengan Panji yang meregang, dan mengetahui bahwa Panji menjalin hubungan terlarang dengan Siska. Ditambah kenyataan bahwa Ayah Rina menceraikan ibunya dan menikah lagi dengan wanita berkebangsaan Inggris. Spekulasi itu menjadi kuat karena asuransi kematian Mirna sejumlah satu tirliyun rupiah telah diterima oleh Ibu Rina dua minggu setelah kasusnya ditutup.

------

Mengetahui kabar tersebut, seminggu kemudian kepolisan kembali membuka kasus Rina, membebaskan Siska dan Fina seminggu setelah kasus dibuka kembali. Menyatakan bahwa kasus Rina adalah kasus murni bunuh diri. Setelah itu, kasus benar-benar ditutup.

------

Sabtu malam, pukul tujuh. Tiga bulan sejak kematian Rina. Mercedez hitam milik Panji meluncur dari rumah Siska, menuju apartemen Panji di Jakarta Pusat. Ada janji yang belum ditepati Siska, bercinta dengan Panji. Di dalam mobil Senyum mereka merekah, saling tatap penuh nafsu, saling menggoda. Sampai basement apartemen, Panji dan Siska buru-buru menuju lift, masuk, menekan tombol 14—lantai empat belas. Siska menyambar bibir Panji—Panji membalasnya dengan ganas.

Bunyi lift menghentikan ciuman mereka, Panji dan Siska merapikan baju lalu keluar dengan santai, Panji menggandeng Siska menuju apartemennya. Membuka pintu dengan kunci khusus apartemen, kartu bertuliskan nomor kamar. Buru-buru Panji menutup pintu, melumat bibir Siska. Siska meloncat merangkulkan kakinya pada pinggang Panji. Panji membawa Siska ke kamarnya, lalu merebahkannya di kasur ber-sprai putih. Panji menciumi leher Siska, bersamaan dengan itu, Siska mulai melepas kacamata dan membuka kancing blus putihnya. Ciuman Panji menjalar sampai dada Siska, menggigit puting Siska setelah melepas Branya dengan gigi. Ciuman Panji semakin ganas, melewati dada Siska hingga pusar. Siska menahan Panji ketika Panji hendak membuka rok hitamnya.

“Kenapa?” Tanya Panji.

“Makasii,” Jawab Siska

“Untuk?” Kata Panji, membelai rambut Siska

“Rekaman yang bebasin aku sama Fina.”

“Oh itu… Kamu yang pinter, masukin cairan itu, ke cangkir Rina tanpa Fina tahu,” Panji tersenyum menatap Siska.

“Ya paling enggak, kebiasaan Rina bawa gula cair, bisa bikin orang-orang mikir, kalau dia bunuh diri,” Kata Panji mengecup bibir Siska.

“I Love You, Beib,” Kata Siska menggoda.
---



Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar