Friday, February 9, 2018

Cerita tentang Cerita


Sabtu itu gerimis masih awet sejak malam, pengunjung pasar gempar mengetahui seorang pria ditemukan mati di tumpukan sampah tidak jauh dari pasar. Pria itu berbalut seragam satpam dengan atribut yang lengkap. Seorang pria dengan rompi oranye dan sebuah peluit yang terkalung di lehernya menghubungi kepala pasar, tampaknya ia yang paling tenang di antara ibu-ibu yang terus mengobrolkan kejadian yang mereka lihat di depan mata. Lima belas menit kemudian polisi datang setelah kepala pasar menelpon. Garis kuning dipasang, orang-orang semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Pria itu meninggalkan seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun dan istri yang tengah hamil tua. Namanya Abdul, ia bekerja shift malam di gedung DPR. Setiap pukul tujuh malam ia berangkat dari rumahnya yang berjarak 10 kilometer menggunakan vespa peninggalan ayahnya—seorang veteran yang baru wafat setahun lalu. Sejak kabar kematiannya anaknya terus menangis dan tidak mau keluar dari kamarnya. Si Ibu terus mencoba menenangkan dan terus saja gagal.

Polisi terus menyelidiki kasus ini, hipotesis mereka mengatakan Abdul wafat akibat pukulan benda tajam di kepalanya. Sehari sebelumnya demo besar-besaran terjadi di pusat kota, masa serba putih itu terus bertahan hingga malam hari, membuat kerusuhan yang menyebabkan kerusakkan di mana-mana. Sebuah mini market habis dijarah masa, mereka merusak gerbang geser yang terbuat dari besi kuat—mendorong dan menariknya bersama-sama. Semua isi mini market ludes bahkan kondom yang ada di rak obat-obatan.

Demo itu adalah kedua kalinya yang melibatkan lebih dari tujuh juta masa, begitu yang disiarkan media arus utama. Ibu Kota memutih, berita itu terdengar hingga luar dan diliput oleh media internasional. Seorang yang dihormati dengan sorban putih berdiri di atas mimbar bersama lima pengikutnya, ia berteriak lantang—berorasi menyuarakan supaya gubernur mundur dari jabatannya. Demo itu buah dari pidato Pak Gubernur di salah satu daerah di Ibu Kota.
----
Pape—begitu teman-temannya memanggil baru saja tiba di rumahnya setelah mengantarkan para pendemo serba putih itu ke rumahnya masing-masing menggunakan pick up hitam yang dipinjamkan oleh seorang pejabat pemerintahan. Ia menempati sebuah rumah seorang diri dengan tiga kamar. Pape adalah ketua komplotan bersenjata, ia adalah pembunuh bayaran yang terkenal dan paling ditakuti. Ia adalah pembunuh bayaran dengan tarif paling tinggi, bahkan hanya pejabat kelas atas yang mampu menyewanya.

Di kamar kedua di rumahnya, ada ponsel yang disusun sejajar di sebuah papan besar berukuran tiga kali tiga. Ponsel itu terus menyala dengan kabel daya yang masih menancap, totalnya lebih dari seratus ponsel. Selain pembunuh bayaran ia juga menjalankan bisnis pesanan untuk membuat berita palsu bagi lawan politik yang menyewanya. Ia bermain di semua sosial media, mulai dari facebook hingga twitter. Tarifnya juga tidak main-main, sekali posting Pape bisa mengantongi uang lima milyar rupiah.
-----
Di luar jendela Detektif Tora satu batang rokok dan menyalakannya, lelatu tampak membakar dan asap keluar dari hidung juga mulutnya. Sore itu langit mendung, sejak pagi dan tidak juga turun hujan, kasus kematian Abdul tak terjawab setelah setengah tahun. Detektif Tora dipanggil dari liburannya di Swedia, setelah mendengar semua keterangan dari petugas yang mengurusi kasus itu, Detektif Tora menyimpulkan satu hal. Kematian Abdul tidak disengaja. Tapi satu polisi mencoba meyakinkan bahwa kematian itu sudah direncanakan jauh sebelumnya.

Hipotesis pertama Abdul adalah korban salah bidik oleh para pendemo yang menganggapnya sebagai pihak pro gubernur. Hipotesis kedua yang datang dari benak Detektif Tora sendiri adalah, Abdul tidak sengaja masuk ke gerombolan pendemo dan dianggap sebagai penyusup yang akhirnya dihabisi. Hipotesis ini diyakinkan sekali lagi karena setelah ditelusuri latar belakang Abdul, tidak ditemukan sesuatu yang penting. Abdul si petugas keamanan di DPR adalah orang biasa yang tidak mempunyai kepentingan apa pun.

Tora adalah Detektif dengan tingkat penyelesaian kasus bintang lima. Ia tidak pernah gagal mengungkap sebuah kasus, bahkan kasus yang dinilai paling sulit atas kematian presiden ketujuh. Dua tahun lalu Detektif Tora memutuskan pensiun dan memutuskan pindah untuk menjalani hari tuanya di Australia, negara yang baginya lebih tenang. Semasa hidupnya Tora tidak menikah juga tak memiliki anak. Ia hanya menjawab ini soal prinsip pada setiap orang yang bertanya padanya. Sejatinya ia ditinggal kekasihnya mati saat mereka sudah akan melangsungkan pernikahan. Sejak itu Detektif Tora meyakinkan diri sudah menikahi sang kekasih meski tubuhnya tidak ia miliki. Ia percaya jiwa kekasihnya menyatu dengan dirinya.
-----
Pagi di tahun ajaran baru, saat semua ibu sibuk menyiapkan peralatan sekolah anaknya. Datang seseorang ke rumah Abdul, anak dan istrinya yang tengah sarapan dikagetkan oleh suara ketukan pintu. Istri Abdul membuka pintu dan melihat seorang yang tinggi besar dengan jengot yang seperti tidak pernah dicukur itu tersenyum menatapnya. Istri Abdul bertanya tentang keperluannya, orang itu lalu menunjukkan kartu nama juga lencana kepolisian. Istri Abdul menyilakannya untuk masuk dan duduk.

Ia menghampiri anaknya, menyuruhnya untuk cepat menghabiskan sarapan lalu bergegas berangkat sekolah. Di ruang tamu, Istri Abdul memperkenalkan diri, Detektif Tora mengangguk sesaat mendengar nama Mulan. Detektif Tora tanpa basa-basi menerangkan bahwa kasus kematian Abdul akan dibuka kembali, Mulan yang waktu itu hanya mengenakan daster terkaget, matanya berkaca-kaca seolah bertemu malaikat penyelamat. Ia mengucapkan terima kasih dan hampir menangis.

Anak Abdul yang sudah menghabiskan sarapan menghampiri ibunya, ia melihat Detektif Tora dengan pandangan yang tak mampu diterjemahkan. Detektif Tora mencoba menebak apa makna tatapan itu. Rasanya seperti tatapan seseorang yang sudah sering bertemu dirinya. Ia menyalami ibunya juga Detektif Tora sebelum ke luar rumah. Sorot matanya terus memandangi Detektif Tora, anak itu berkedip pada Detektif Tora sebelum ia benar-benar hilang—berlari menuju sekolahnya yang tidak jauh dari situ.

Detektif Tora meminta semua keterangan dari penyelidikan sebelumnya dengan sangat detail, terus mengulangnya supaya tidak ada yang terlewat satupun. Pertemuan itu berlangsung hampir tiga jam, Mulan lupa untuk membawakan minuman. Ia minta izin untuk menyiapkan minuman. Di ruang tamu itu Detektif Tora melihat deretan foto keluarga, juga foto Abdul yang gagah mengenakan seragam keamanan DPR. Ia meletakkan bingkai foto saat melihat Mulan membawa secangkir teh di atas nampan. Pertemuan itu berakhir, teh sudah habis terminum.

-----
Detektif Tora berlalu meninggalkan rumah Mulan, menuju ke ujung gang tempat mobilnya parkir. Ia mendapati anak Mulan yang tadi menatapnya di ruang tamu, anak itu berdiri di depan mobil SUV Hitam, ia bersandar dengan kedua tangannya yang ditarik ke belakang. Sedikit bingung, Detektif Tora bertanya, ia sedikit membungkukkan badan untuk melihat matanya. Detektif Tora menanyakan nama, ia mengangguk saat anak itu menjawab. Putri menguncir rambutnya, ada lesung pipit di pipi kanannya. Ia sesenggukan berharap ayahnya bisa kembali. Detektif Tora hanya bisa mengelus lembut ubun-ubunnya—menenangkan Putri yang mulai menangis.

Detektif Tora memutuskan untuk menghantarkan Putri sampai sekolahnya. Putri melambaikan tangan saat turun dari mobil, tak ada satupun teman yang menyambut anak itu. Melihat anak-anak lain berkelompok memasuki sekolah yang tak punya atap pada gerbang depannya. Detektif Tora terus memandangi Putri sampai sosoknya ditelan dinding kelas. Detektif Tora merenungi kata-kata Putri sebelum keluar. “Hati-hati, jaga diri, om,” katanya dengan nada yang melemah.

Kemacetan masih menghiasai jalanan kota, Detektif Tora menyalakan radio, memutar frekuensi—mendengar suara yang familiar baginya. Suara penyiar perempuan itu renyah, ia tersenyum meyakinkan dirinya bahwa yang ia dengar adalah suara teman lamanya. Ia mencari alamat radio itu untuk menemuinya—radio itu tak jauh dari tempatnya sekarang. Setelah melewati lampu merah Detektif Tora putar balik, jalanan itu lancar, tak seperti jalanan di sampingnya. Lima belas menit kemudia  ia sampai di depan radio.

-----
Di tempatnya duduk Putri menekur. Ia duduk paling belakang di kelasnya, seperti biasa ia tidak fokus pada pelajaran. Ia menggambar di buku pelajaran, beberapa teman menoleh saat ibu guru menegurnya beberapa kali. Putri tak mendengar, ia terus menggambar, ibu guru menghampirinya—kepalanya miring melihat sesuatu yang tergambar di atas kertas bertulisan itu. Sebuah gambar mobil yang menabrak tiang listrik.

Ibu guru bertanya maksud gambar itu, Putri hanya tersenyum. Ibu guru menyita pensil yang dipakai Putri untuk menggambar, lalu melanjutkan menulis di papan tulis. Putri melipat kedua tangannya di atas meja. Tiba-tiba sebuah gambaran masuk di pikirannya, saat ia memejamkan mata gambaran itu makin jelas dengan background hitam. Ia merasa ketakutan, semakin memejamkan mata sampai suara kerasnya yang melengking mengisi seluruh ruangan membuat orang-orang di sana menutup kedua telinganya termasuk ibu guru.

-----
Detektif Tora menunggu hampir satu jam sebelum yang ia tunggu-tunggu datang. Perempuan itu sedikit menarik tubuhnya saat bersalaman dengan Detektif Tora. Ia mencoba memutar ingatan di dalam kepala tentang seorang pria yang berdiri di depannya. Ia baru ingat seperti menemukan lampu bohlam kuning di pikirannya saat Detektif Tora mengingatkan perempuan itu bahwa ia pernah mengompol di celana karena ketakutan kena marah guru PKn.

Mereka mengobrol sebentar sebelum perempuan yang punya nama udara CJ itu menyuruhnya menunggu dan kembali ke kabin siaran untuk menyelasikan siaran paginya. Setelah satu jam lagi menunggu, CJ menghampiri Detektif Tora yang menghabiskan batang rokok terakhirnya di bawah pohon mangga yang tumbuh subur di depan kantor itu. Detektif Tora menawarinya untuk mencari kerak telor dengan maksud membuka obrolan lebih panjang lagi. CJ mengiyakannya dengan sukacita. Tak lama setelah itu SUV Hitamnya meluncur ke pusat kota meninggalkan kantor, CJ tersenyum, melambaikan tangan ke arah satpam.

Di dalam mobil keduanya membicarakan kenangan lama masa-masa SMA. Sesekali Detektif Tora batuk, meraskan sesak di dadanya. CJ menebak itu karena rokok yang baru  saja dihisap. Meski Detektif Tora meyakinkan batuknya adalah sebuah kebetulan. Tidak seperti biasanya, karena Detektif Tora selalu menjaga kesehatannya. Masalah rokok itu soal lain bagi Detektif Tora yang tidak bisa diselesaikan oleh ilmu kesehatan. Justru dengan rokok ia merasa sehat. CJ hanya tertawa mendengar kata-kata itu.

Tapi batuk itu semakin menjadi-jadi, di bangku kemudi Detektif Tora terus berusaha menahan batuknya, CJ makin khawatir. Detektif Tora menolak tawaran CJ yang menyuruhnya untuk pergi ke Rumah Sakit. Batuk panjang ke luar dari tubuh Detektif Tora, sontak ia terkaget menginjak pedal gas membuat mobil melaju kencang, saat batuknya terhenti Detektif Tora kehilangan kesadaran, tubuhnya melemas, klakson mobil keras terdengar tertekan tubuh. Suara teriakan CJ menggema saat mobil keras membentur tiang listik di pinggir jalan.

-----
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar