Monday, September 25, 2017

Recitativo #2


Aku menangis di malam pertamaku meninggalkan negeri dongeng, malam dimana aku menemukan sebuah melodi sempurna yang kucari seumur hidup. Bahkan dengan kesempurnaanmu dan segala kekuranganku tidak sanggup meruntuhkan batas antara keinginan dan realita bahwa kamu tetap tinggal dan aku harus pergi.

Aku sadar bahwa hari-hari setelah ini, tidak mudah untuk bilang rindu dan ingin bertemu. Pertemuan itu adalah hal yang akan menghantui hari-hariku di sini. Pertemuanku denganmu; tidak akan pernah kusesali—sampai kapan pun.

Jumat, 11 Agustus 2017, aku tidak berharap banyak hari itu. Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan, mengajak bertemu karena aku tahu hati ini rindu pada sosok asing yang belum pernah kutemui.

Aku bahkan tidak mengerti apa yang kurasa. Aku tahu seberapa kencang jantung berdetak, memikirkan segala skenario terbaik untuk menutupi perasaan yang menggebu-gebu, memaksa agar pandanganku tidak melulu tertuju padamu.

Recitativo adalah sebuah kata bernoda yang terinspirasi oleh aroma kopi sore itu dan setumpuk kerinduan padamu. Dalam tulisan ini aku ingin mengabadikan kamu, dan semua pertemuan kita; segala kata-kata, baik yang terucap dan yang tidak terucap.  Tulisan ini terinspirasi dari mata cokelatmu dan rasa gugupku. Ia berhulu pada detak jantung yang saling beradu, dan segala perasaan yang bercampur menjadi satu.

Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku ingat, pada sebuah sore tahun lalu; aku berjanji, akan pulang musim panas nanti. Aku tidak habis pikir, kalimat itu selalu terngiang-ngiang. Aku selalu membayangkan, apa jadinya jika kita akhirnya bisa bertemu. Apakah satu pertemuan mampu mengubah hal yang seharusnya kita simpan sendiri?

Hatiku hangat, bahkan hanya dengan mengingat lekuk wajahmu, tarikan senyummu, tatapanmu, bahkan hanya dengan caramu menyebut namaku. Aku benci saat mengingat bahwa aku tidak bisa memberi apa-apa, harapan pun bahkan tidak. Aku tidak mengerti, sampai kapan perasaan ini akan terus tumbuh, dan kapan aku harus berhenti. Karena bagaimana pun kamu pantas mendapatkan hal yang  lebih baik dari apa yang aku punya.

Kamu itu layaknya mimpi, begitu sempurna, aku tidak sanggup menyimpanmu sendirian. Di tulisan ini, aku akan membagi seluruh perasaanku yang hampir tumpah. Jumat, 11 Agustus 2017, sampai kapan pun aku tidak akan pernah lupa hari itu. Hari di mana penantian panjangku menemukan ujung. Hari dimana aku akhirnya bisa menatapmu di kesunyian kedai itu.

Aku gugup, jantungku berdetak kencang, aku takut kamu mendengarnya. Kamu sebaliknya, terlihat tenang, bahkan pada tiap detik yang kita lalui tanpa saling cakap. Kamu bilang; kamu menikmati saat-saat itu. Saat kita berdua tidak tahu apa yang harus kita ucapkan. Saat detik berganti menit berlangsung dalam kesunyian.

Aku  bercerita tentang apapun yang bisa kuceritakan. Kadang, rasa bersalah itu masih terasa berat, bagaimana aku menutup portal imajinasi yang ada di antara kita, dan meninggalkanmu di seberang sana—sendirian.  Aku berusaha menyembunyikan seluruh perasaanku, takut kalau-kalau kamu sudah menutup hatimu untukku. Bagaimana pun, aku harus menjaga diriku sendiri.

Aku menebak-nebak, apa yang ada dipikiranmu saat pertama kali melihatku? Masih adakah aku dalam gema dadamu? Masihkah debaran jantungmu tertuju padaku? Masihkah kamu menunggu? Satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku mengerti jika kamu sudah menutup pintu. Aku tersenyum dan berusaha terlihat ceria. Terbesit di pikiranku untuk memelukmu, menumpahkan semuanya.


Setiap aroma kopi mengingatkanku padamu. Bagaimana kamu menyentuh lembut tanganku, bagaimana hangatnya hatiku,  diselimuti dengan sejuta kenangan manis. Empat puluh tiga hari tidak cukup  untuk memuaskan hati ini, untuk menikmati setiap debaran jantung kala bertemu denganmu. Perasaanku tumpah, aku kalah. Aku menginginkanmu, apa yang harus aku lakukan untuk bisa ada di sampingmu?

-----
Zahid Paningrome Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Ayo Beri Komentar