Friday, April 23, 2021

membantu seorang pembunuh mencapai orgasme

 

Benedict Adinda membunuh adik kandungnya, Benedict Maura, setelah mengetahui bahwa Maura adalah dalang dari kematian ibunya. Adinda menggorok leher Maura dengan pisau kater berkarat yang ia temukan di gudang rumah. Benedict Adinda merencanakan pembunuhan selama empat belas hari sebelum kematian Maura. Ia memilih tanggal 23 April sebagai hari kematian Maura karena tepat di hari itu Maura berulang tahun yang ke 25.

Benedict Adinda yang sehari-harinya hanya tidur dan mendekam di rumah mulai mengikuti aktivitas Maura mulai dari lari pagi tepat pukul enam hingga menonton series kesukaan Maura sebelum Maura pergi tidur. Adinda tidak perlu bekerja, ia adalah pewaris utama kekayaan keluarga Benedict yang menguasai 85% properti di kota ini. Konon keluarga Benedict juga menjual narkoba dan ganja pada orang-orang di pinggiran kota. Adinda mengetahuinya saat ia tidak sengaja mendengar percakapan ayahnya dengan seorang tamu dari jauh saat ia hendak pergi mandi dengan handuk merah muda di bahunya. Ia lalu mendengar percakapan itu hampir satu jam dan lupa bahwa awalnya ia hanya ingin pergi mandi.

Mengetahui fakta itu, Adinda lantas memborbardir ayahnya dengan banyak pertanyaan, Adinda tampak tenang, ia justru mulai membuka negosiasi, ia ingin keuntungan dari penjualan narkoba dan ganja masuk ke kantongnya. Ancaman Adinda bukan main-main, ia menginginkan bagi hasil 50%, ayahnya lantas menolak mentah-mentah, namun Adinda adalah perempuan yang kuat dan kokoh, ia tidak mudah ditaklukkan. Saat itu ia mengambil ponsel di saku celananya dan memasukan nomer polisi, ia menggertak ayahnya. Tentu ayahnya tetap tenang, ia tidak percaya apa yang akan terjadi selanjutnya. Merespon ayahnya yang tetap diam dan justru menantang, Adinda lalu benar-benar menelpon, belum sampai pada dering kedua ayahnya sigap meraih ponsel Adinda dan mematikan panggilan itu.

Hanya dalam lima menit, Adinda mampu menyelesaikan negosiasi yang membuatnya tidak perlu keluar rumah untuk bekerja. Ia memuaskan nafsu hedonnya dari uang hasil bagi rata bisnis haram itu, ia membeli semua keperluan mulai dari tas mahal yang hanya ia pakai setahun sekali, hingga sepatu motif macan yang bahkan tidak pernah ia pakai, hanya menjadi pajangan di rak-rak tinggi yang ada di kamarnya. Benedict Adinda hanya keluar rumah untuk belanja atau menyewa pekerja seks laki-laki untuk menuntaskan nafsu birahinya.

Iya, di kota ini apapun yang dibutuhkan ada, termasuk para pria yang mencari uang tambahan dari menjajakkan tubuhnya, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa semester akhir yang kalap karena menerima uang banyak dengan mudah sehingga meninggalkan kuliahnya. Adinda tidak berbeda dari perempuan kebanyakan, ia juga memiliki fantasi yang selama ini hanya tertanam di kepalanya, ia tahu tidak banyak tempat untuk perempuan bebas memuntahkan isi kepalanya tentang seks, seperti yang dilakukan para pria di setiap kolom komentar selebgram-selebgram seksi dengan payudara yang meronta dari balik dress ketat.

Adinda selalu mengikat partner seksnya, ia tidak hanya mengikat kedua tangan di ranjang, namun juga kedua kaki, membuatnya merasakan ilusi kekuasaan, menjadi penguasa di atas ranjang di malam yang tegang. Ia suka melihat prianya merengek dan memelas, itu meningkatkan gairahnya seribu kali lipat. Benedict Adinda tidak suka pada pria yang terlalu berisik saat ritual magis itu dilakukan, Adinda benci pria cerewet, ia hanya butuh pria untuk mendesah keras hingga tidak mampu menahan kenikmatan yang ia beri.

Biasanya kenikmatan itu hanya bertahan semalam, lalu Adinda berganti pria yang lain, sampai akhirnya ia bertemu seorang pria yang meremukkan hatinya sejak pertama kali ia melihatnya di apartemen miliknya di pusat kota. Adinda tidak pernah berhubungan badan selain di apartemennya, yang khusus ia sewa hanya untuk melakukan kenikmatan itu. Ia bertemu seorang pria yang membuatnya merasa bukan perempuan paling menggoda, pria itu bahkan tidak tampak tertarik pada pakaian seksi yang malam itu Adinda pakai. Ia melakukan berbagai cara, namun pria itu tetap tidak bergairah. Bahkan saat kuluman-kuluman membasahi seluruh tubuh pria berambut cepak dengan hidung mancung itu, Adinda mulai merasa hilang akal dan menyerah, pria itu hanya diam dengan tatapan kosong, tidak ada desahan yang menggema dan membentur dinding-dinding seperti biasanya.

Normalnya, Adinda tidak peduli pada nama-nama setiap pria yang ia sewa. Namun malam itu, pria di depannya menyebutkan nama, Adinda mengingat dengan jelas nama itu, Raja Santana. Adinda tanpa bertanya menyadari bahwa pria yang ia sewa malam itu adalah anak seorang pengusaha terkenal saingan bisnis ayahnya. Selain memiliki properti yang secara presentase tidak sebanyak Keluarga Benedict, namun Santana, ayahnya, memiliki properti di jantung kota, tempat-tempat yang tidak pernah tidur. Apartmen milik Adinda adalah salah satu properti milik keluarga Santana. Juga perusahaan lain dan industri ditribusi yang dimonopoli keluarga Santana.

Raja Santana tidak sedang mengalami hari yang berat, ia tidak sedang sedih, Adinda bertanya-tanya mengapa Raja Santana berada di apartemennya malam itu, ia juga tidak kekurangan uang sehingga harus melakukan pekerjaan semacam itu. Raja Santana lalu menyampaikan maksudnya setelah ia memakai kembali celana yang Adinda buka. Maria Benedict meninggal, katanya. Belum sempat benar-benar mencerna ucapan Raja, Adinda dilanda kebingungan akut, ada suara-suara bising yang keras terdengar di kepalanya. Jantungnya berdebar kencang sesaat Raja memegang lengan dan mengelus punggungnya. Adinda duduk lesu di ujung ranjang, lalu mulai menangis, dan Raja memeluknya.

Dibanding ayahnya, Adinda lebih dekat dengan ibunya. Karena sama-sama sering berada di rumah, membuatnya sering membuka percakapan, bicara dan bercerita apapun. Ibunya jenis ibu rumah tangga biasa yang dilarang suaminya bekerja, namun Maria Benedict adalah seorang pemberontak, ia tidak ingin dinikahi untuk mendekam di dalam rumah dan melayani kebutuhan suami. Maria Benedict lalu membuka sebuah salon yang dalam tiga bulan menjadi salon paling sering dikunjungi orang-orang di kota. Salon itu memasar golongan menengah ke atas, salon itu berada di lantai atas sebuah mall, dan dari situ kita bisa melihat seluruh pemandangan kota 360 derajat. Salon itu ia kelola sendiri, dibantu Adinda yang lebih sering mengurus keuangan, karena pekerjaan itu bisa ia bawa ke rumah.

Maria Benedict tewas di salon miliknya, Raja Santana berada di sana menemani ibunya menata rambut untuk pergi kondangan. Kegaduhan itu terjadi saat Raja Santana yang kuliah fashion designer dikagetkan dengan ledakan pistol pertama yang ditembakkan ke atas saat ia sedang membaca majalah fashion kenamaan ibu kota. Seluruh pengunjung reflek merunduk bersamaan, seorang pria dengan tattoo gambar spongebob di lengan kiri menarik rambut Maria Benedict dan menyeretnya keluar dari ruangannya. Pria itu menyuruh Maria Benedict duduk bersimpuh di lantai. Raja melihat kejadian itu dengan sangat jelas, tampak raut ketakutan muncul di wajah Maria Benedict.

Lalu seorang perempuan muncul dengan hodie hitam yang menutupi kepalanya, ia memegang revolver kaliber 22 di tangan kananya, moncong revolver itu diarahkan tepat ke kepala Maria. Perempuan itu membuka hodienya, dan Raja Santana mengenali seketika, Maura Benedict membunuh ibunya sendiri, ia memukul kepala Maria dengan gagang revolver, menjambak rambutnya dan mengeluarkan pisau kater dari saku hodie. Dari belakang Maura menggorok leher Maria tanpa ampun, gorokkan itu tidak mulus karena karat yang mulai muncul pada pisau, sempat tertahan beberapa kali, namun akhirnya Maura berhasil menuntaskan hingga hampir setengah bagian leher.

Maura dan komplotannya pergi setelah menembakkan beberapa peluru ke atap-atap. Maura sempat melihat Raja Santana beberapa saat. Maura sama seperti orang-orang di kota yang mengetahui Raja Santana hanya dari namanya saja. Raja Santana tidak pernah sama sekali mengenalkan diri ke publik dan menunjukkan wajahnya. Tampaknya keluarga Santana mengerti bahwa tidak dikenali adalah pilihan aman untuk bertahan hidup di antara kehidupan bisnis yang saling sikut bahkan saling bertukar nyawa.

Malam yang panjang untuk mendengar fakta kematian ibunya, Benedict Adinda lantas pulang tanpa membalas Raja. Seminggu berkabung Adinda masih belum bertemu adiknya, Maura. Ayahnya terlihat normal, tampak tidak merasa kehilangan, dan Adinda membenci realita itu. Hari kedelapan, Adinda menghubungi mucikari yang biasa menyediakan pria-pria pemuas nafsu untuknya. Adinda ingin bertemu orang terakhir yang ia pesan, ia tidak menyebut nama Raja. Muncikari itu menyanggupi.

Kamis malam, Raja dengan kaos putih longgar dan celana bahan berwarna hitam muncul di apartemen Adinda.

“Aku hanya ingin ditemani,” ucap Adinda, menyesap rokok kretek di tangan kananya. Raja tidak menjawab, ia duduk di sudut ranjang, tidak jauh dari tempat Adinda duduk.

“Bagaimana bisa kau mengetahui aktivitasku di sini?” tanya Adinda setelah mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

“Well, kau tidak pernah menemui muncikarimu,” Adinda terdiam, ia melihat Raja Santana, ada keinginan untuk mematikan rokok, namun Adinda tidak ingin menunjukkan respon kagetnya. Ia lalu kembali menyesap rokoknya dalam-dalam.

“Kau harus balas dendam,” lanjut Raja Santana setelah terdiam beberapa saat.

“Sedang dipikirkan.”

“Maura membunuh lebih sadis dari banyak pembunuhan yang pernah kulihat, adikmu memegang revolver, tapi memilih pisau kater untuk menggorok leher ibumu. Seolah itu pertunjukkan kolosal.”

“Aku sedang merencanakan pembunuhan, aku harus membunuhnya dua minggu lagi, dan kau harus membantuku.”

“Membunuh bukan pekerjaanku.”

“Tapi kau harus membantuku, kau yang memberitahuku pertama kali.”

“Kalau kau menyuruhku menyediakan pria-pria, itu bisa kulakukan. Pekerjaan mudah.”

“Kau harus membantuku, atau semua orang akan mengenalimu,” Adinda mengarahkan ponsel pada Raja, lalu memotretnya. Raut muka Raja menjadi tegang, tidak adalagi ketenangan di wajahnya. Adinda menyesap lagi rokoknya, sesapan terakhir dan ia mematikan rokok itu pada dasar asbak. Ia meminum satu gelas air mineral hingga habis tidak tersisa.

Mata Raja awas mengikuti pergerakan Adinda, ia melihat lekuk tubuh Adinda pada balutan blus putih dan rok span hitam di atas lutut, Adinda berdiri di depan Raja, memegang kepalanya, mejambak rambut lalu membenamkan kepala Raja pada payudaranya.

“Sebelum membunuh, mari kita nikmati dulu malam ini, Raja Santana,” ucap Adinda di antara desahan dan sentuhan juga gigitan di putingnya. Malam baru saja dimulai, dan Raja tahu ia tidak akan berdaya, dan ia membenci itu.



Semarang, 23 April 2021

 

Wednesday, April 21, 2021

waktu yang tepat untuk patah hati

 

Pagi baru saja singgah malu-malu di jendela rumah Dini, persis seperti kura-kura yang menghindari mangsanya. Dini bangun dan membuka tirai setelah tidur malam yang panjang, ia menyipitkan matanya saat sinar matahari lembut menyentuh wajahnya. Hari biasa lainnya, gumam Dini dalam hati. Tidak ada yang menarik, selain suara lagu dangdut yang diputar keras-keras oleh tetangga samping rumah. 24 Jam seolah dangdut adalah tiket VIP menuju surga. Dini kehabisan kata untuk mengumpat atau sekadar menegur bahwa suara lagu itu sudah melebihi terompet akhir zaman, terlebih Pak Samsul yang giginya hampir habis itu selalu memutar satu album dangdut yang sama.

Dini menuju kamar mandi, mengambil handuk merah muda yang dibelinya dari toko peralatan rumah tangga tidak jauh dari rumahnya, toko itu dibangun di atas lahan sengketa yang diperebutkan oleh mantan kepala desa dan sebuah perusahaan IT dari Jakarta. Baru dua bulan toko itu berdiri setelah Pak Bowo, mantan kepala desa memenangkan kasus sengketa itu di pengadilan. Warga menduga lahan itu bagian dari korupsi aparat desa saat Pak Bowo menjabat.

Handuk itu terbuat dari katun premium yang langsung diimport dari India, negara penghasil katun nomor satu di dunia. India juga salah satu tempat yang ingin Dini kunjungi, bukan karena keindahan Taj Mahal, atau metropolitannya New Delhi. Dini kegilaan dengan India setelah ia menonton Slumdog Millionaire. Film itu banyak mengubahnya, Dini sempat mendaftar untuk mengikuti kuis Who Wants To Be a Millionaire namun selalu gagal, meski ia sudah mencobanya 42 kali.

Dini memiliki selusin handuk katun dari India di lemarinya, secara berkala ia mengganti handuk itu dua hari sekali, warna merah muda dipakai Dini setiap weekend, ia percaya merah muda adalah mood yang baik, apalagi hari ini ia akan pergi bersama seorang pria yang ia temui dari aplikasi pencarian jodoh. Sudah seminggu Dini saling bertukar pesan, saling menanyai kabar, saling mengirimkan foto dan pesan-pesan menggoda. Dilihat dari fotonya, pria itu punya jenggot rapi yang baru saja dicukur, alis tebal, juga rambut hitam lebat dan mata hitam bercahaya mirip Dev Patel, aktor yang memerankan Jamal Malik di film Slumdog Millionaire. Saat itu Dini tidak berpikir dua kali, ia langsung menyukainya di detik pertama.

Tidak seperti biasanya, hari ini Dini melakukan hal-hal yang tidak biasa ia lakukan saat mandi. Ia menggunakan dua jenis sabun, pertama sabun batang aroma lavender kedua sabun cair aroma Lily, ia juga menggunakan dua jenis pasta gigi yang berbeda, pasta gigi berbahan kimia dan organik yang juga ia beli di toko milik Pak Bowo. Tidak hanya itu, Dini bershampoo juga dengan dua jenis shampoo yang berbeda, pertama ia menggunakannya di pembukaan ritual mandinya sebelum sabun batang menempel di tubuhnya, yang kedua ia gunakan sebagai hidangan penutup mandi paginya. Ia menghabiskan dua jam di dalam kamar mandi, dan keluar dengan senyum lebar, meski moodnya sedikit berantakan sebab lagu dangdut dari Pak Samsul masih terdengar kencang.

Tiga tahun lalu Dini menolak menggunakan aplikasi pencarian jodoh, karena baginya itu seperti menyerah dan mengakui bahwa dirinya tidak laku dan tidak ahli dalam menggaet hati para Pria. Di tongkrongan ia selalu meledek teman-temannya yang ia tahu memakai aplikasi itu, atau yang pergi kencan dan menemukan pasangan dari aplikasi hina itu. Ia bahkan menjauh dari orang-orang yang menggunakan aplikasi serupa yang kini ia pakai. Namun tiga tahun rasanya cukup cepat untuk mengubah laku manusia.

Dini menjadi adiktif, setelah seorang teman perempuan yang menurutnya tidak lebih cantik dari dirinya dinikahi seorang pria tampan kaya yang ditemui dari aplikasi itu. Dini bahkan tidak ingin menyebut nama aplikasi itu, ia menolak bahwa tinder telah banyak mewujudkan mimpi banyak perempuan untuk memiliki pasangan yang mereka idam-idamkan.

Dini membubuhkan segala jenis make up untuk mempercantik dirinya setelah ia selesai memilih baju apa yang akan ia pakai. Setengah jam berada di depan cermin untuk mencocokan pakaian mana yang paling pas ia pakai untuk kencan pertama, ia memilih dress merah gelap tanpa lengan yang menonjolkan kedua lengannya yang mulus tanpa cacat. Ia membubuhi bibirnya dengan gincu berwarna serupa lalu beberapa kali mencecap untuk merapikan gincu di bibirnya. Hampir tiga jam waktu yang diperlukan Dini untuk merias diri. Ia kini tampak seperti Anne Hathaway dalam film The Intern.

Pukul sembilan lebih tiga puluh menit, Dini menunggu dengan sabar pria yang akan menjemputnya. Keduanya masih saling bertukar emotikon cium dan peluk, seolah tidak ada waktu jeda bagi mereka untuk saling menggoda. Tentu masih dengan satu album dangdut populer yang diputar keras-keras seperti menjadi alarm untuk membangungkan seluruh warga kampung.

Dini sama sekali tidak gugup, ia tahu bagaimana menaklukan pria, bahkan ia selalu membagikan cara itu kepada semua teman perempuannya yang masih tidak memiliki pasangan, meski Dini juga belum memiliki kekasih karena ekspektasinya selalu tidak terpenuhi oleh setiap pria yang ia temui di tinder. Dini menulis pada sebuah caption di second account instagramnya tentang bagaimana mendapatkan hati seorang pria idaman. Ia menulis itu di second accountnya bukan hanya karena lebih privat, tapi juga ia menjaga image, ia pikir itu kenapa banyak perempuan punya second account, untuk lebih bebas memosting apa yang ia ingin tanpa filter, karena di negara ini menjadi perempuan bukan hanya pekerjaan yang sulit, namun juga membutuhkan mental kuat yang seringkali harus siap menerima komentar-komentar tidak mengenakan.

Lima menit scrolling Instagram, Dini dikagetkan oleh Honda Civic hitam yang pelan-pelan terparkir di depan rumahnya, beberapa tetangga termasuk Pak Samsul bahkan sampai penasaran siapa yang mengendarai mobil itu. Beberapa detik kemudian nama Rizal Syarif muncul di notifikasi ponselnya, “aku di depan,” Dini lalu bergegas keluar rumah, menutup pintu, dan merapikan dressnya, seperti seorang yang mengusir debu yang menempel.

“Hey,” Rizal Syarif menyapa. Dini membalas sapaan itu dengan memeluk Rizal Syarif yang membuatnya sedikit gagap karena tidak menduga pelukan itu.

“Hallo,” Dini melemparkan senyum, seluruh jiwa dan pikirannya pelan-pelan ia berikan pada pria dengan jam rolex keluaran terbaru yang tampak berkilau. Rizal Syarif berpakaian rapi dengan kemeja hitam dan celana chinos cokelat, juga Adidas Yeezy warna hitam. Hanya rambutnya saja yang tampak tidak rapi, ia benar-benar mirip Dev Patel dalam series Modern Love keluaran Amazon Prime.

Keduanya lalu meninggalkan jalanan rumah Dini, menyisakan Pak Samsul yang masih terpana dengan Honda Civic kinclong yang baru saja ia lihat. Sesaat lagu dangdut favoritnya tidak lagi terdengar di telinganya.

Persis seperti situasi canggung pada umumnya, Dini dan Rizal Syarif masih terdiam setelah sepuluh menit keduanya meninggalkan rumah Dini. Masing-masing menunggu dan berharap bukan dirinya yang membuka obrolan. Hanya terdengar suara-suara Rizal Syarif menelan ludah, atau Dini yang pura-pura batuk seolah kerongkongannya gatal.

Lagu Ordinary People milik John Legend terdengar di radio, dan secara bersama keduanya menyanyikan lirik pertama setelah intro selesai,

“Suka lagu ini juga?” tanya Dini, meruntuhkan dinding gengsinya untuk bertanya.

“Lumayan, sering dengerin juga. Kamu?” Rizal Syarif tampak tenang, ia benar-benar idaman yang perempuan suka, tipikal misterius dari pria.

“Suka juga,” Dini sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, ia tahu ini bagian dari cara menaklukan hati pria yang ia yakini, rules nomer satu adalah menjadi misterius ketika seorang pria terlihat misterius. Karena banyak pria yang pura-pura menjadi misterius hanya karena ingin memberikan kesan pertama yang mengenang.

Obrolan itu lalu berlanjut saat Rizal Syarif menanyakan lagu dangdut yang ia dengar tadi, Dini menjelaskan dengan sukacita, tubuhnya menghadap Rizal Syarif, menunjukkan ketertarikan yang lebih. Rules nomer dua adalah berikan tanda atau kode supaya para pria dapat dengan mudah mengenali situasi dan perasaan apa yang seorang perempuan inginkan. Tentu bukan karena Pak Samsul ia menjadi girang menjelaskan, namun karena Rizal Syarif yang sedari tadi duduk di kursi kemudi membuat hatinya bergetar kencang.

Dini menyentuh lembut lengan Rizal Syarif, entah karena alasan apa, Dini melakukan itu sebagai bentuk aktifitas pada rules nomer ketiga yang ia percayai, yaitu afeksi. Setiap pria menyukai sentuhan, Dini meyakini itu, dan tiga cara itu selalu berhasil membuat pria-pria yang pernah ia temui takluk. Cara ketiga bahkan bisa langsung memperlihatkan bagaimana sifat pria.

Rizal Syarif tiba-tiba berbelok masuk ke tol dalam kota, Dini bertanya dan Rizal Syarif tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Dini penasaran kejutan apa yang akan dibuat Rizal Syarif, ini adalah bagian yang Dini sukai, menjadi penasaran karena Dini bermain-main pada ekspektasi, ia menyukai para pria yang berhasil mematahkan tebakan atau ekspektasinya.

Lima belas menit berada di jalan tol dalam kota, Rizal Syarif keluar menuju ke pinggiran kota, Dini mulai familiar dengan jalanan yang dilalui, jalanan menuju sebuah resort terkenal yang menyuguhkan pemandangan indah. Dini tidak menduga Rizal Syarif akan membawanya ke tempat itu, ia memakirkan mobilnya di depan sebuah villa megah dengan kolam renang besar yang terlihat dari dalam mobil. Dini melihat Rizal Syarif yang tampak tenang melepas sabuk pengamannya.

“Yuk,” ucap Rizal Syarif menatap Dini.

“Ha? Mau ngapain?” tanya Dini, raut mukanya berubah, ia bingung.

“Nginep, sama aku,” Rizal Syarif mencoba memegang paha Dini, namun Dini menghindar. Dini menyandarkan tubuhnya pada kursi, mengambil nafas panjang, membuangnya pelan-pelan, ada banyak sumpah serapah yang tertanam di kepalanya dan siap keluar membabi buta. Kini, raut muka Rizal Syarif berubah, tidak lagi misterius, tidak lagi menyenangkan, bagi Dini lebih seperti pria-pria sange yang sebelumnya selalu ia temui di tinder.

“Anjing, gila lo ya,” Dini berusaha membuka pintu, ia ingin keluar, namun pintu masih terkunci, Rizal Syarif mendekat, berusaha meraih tubuh dan rambut dini.

“Ayolah, gak usah munafik,” Rizal Syarif meraih tangan Dini cepat mengarahkannya pada penis yang mulai tegang, Dini berusaha menarik, semakin Dini menolak Rizal Syarif makin membabi buta. Dini melempar pandangan keluar, ia teriak sekuat tenaga, Rizal Syarif membenturkan kepala Dini pada kaca mobil, membuat Dini terdiam menahan sakit.

“Oke, kalo gak mau nginep,” Dini menoleh melihat Rizal Syarif sudah menurunkan celananya, dan penis yang tegang itu berdiri, Dini menatap Rizal Syarif, melotot, ada tangis yang hampir pecah. Rizal Syarif menyeringai, berusaha kembali meraih tangan Dini. Dengan kekuatan tiga kali lipat, Rizal Syarif berhasil mendaratkan tangan Dini pada penisnya, tangan Dini tidak bergerak, Rizal Syarif mencengkeram kuat tangan Dini berusaha menggerakkannya naik turun, Dini terus menolak dan berusaha manarik tangannya.

Dini mulai menangis, tubuhnya seolah kehilangan kekuatan, ia melemah, Rizal Syarif masih berusaha memenuhi nafsu birahinya dengan tangan Dini yang masih ia cengkeram. Tangis Dini pecah, ia berusaha dengan sisa tenanga menarik tangannya. Melihat Dini melempar muka ke arah luar, dan mendengar tangis yang mulai menganggunya, Rizal Syarif melepaskan cengkeramannya, ia berusaha menenangkan Dini, namun Dini terus menghindar.

Rizal Syarif menunggu Dini untuk berhenti menangis, ia masih berusaha mendapatkan yang ia mau, namun tangis Dini tak kunjung berhenti, gairahnya hilang berubah jadi emosi yang membuncah di kepala. Rizal Syarif menjambak rambut Dini dan membenturkannya sekali lagi ke kaca mobil. Ia menyalakan mobilnya, mengambil arah jalan pulang.

Dini buru-buru turun saat mobil Rizal Syarif terparkir di depan rumahnya, Pak Samsul yang masih menyetel musik dangdut keras-keras melihat Dini yang tertunduk menuju rumahnya. Rizal Syarif lalu bergegas memacu mobilnya dengan kecepatan kencang membuat Pak Samsul berteriak menyuruhnya pelan-pelan.

Dini langsung menuju kamarnya, menutup pintu, satu hari lagi ia habiskan dengan patah hati. Hal-hal yang semakin membuatnya mengerti, rules nomer empat adalah segalanya meski ia selalu berusaha positif thinking. Rules untuk selalu curiga pada setiap pria, ia terlalu naif untuk percaya bahwa setiap pria itu berbeda, ia tidak ingin mengecilkan para pria baik yang keberadaanya tertutup oleh kumpulan pria brengsek yang seringkali eksis dan lebih mudah ia temukan. Jika ada satu keahlian yang ingin ia pelajari, Dini ingin memiliki kemampuan membedakan mana pria baik dan brengsek hanya dari sekali tatap.

Para pria brengsek itu tidak pernah memahami satu hal yang selalu dirasakan setiap perempuan di dunia, bahwa para perempuan merasakan patah hati seribu kali lebih dahsyat daripada yang dialami oleh para pria.



Semarang, 22 April 2021

*cerita ini didasari pada kejadian nyata

kunjungi https://bullyid.org/revenge-porn-help-centre/ jika ada orang yang mengancam akan menyebarkan foto/video pribadimu.

kunjungi https://safenet.or.id jika kamu pernah mengalami tindakan kekerasan seksual

Friday, March 26, 2021

dari sudut ketiak kiri

 

Tahukah kamu, di ketiak kirimu ada sebuah tombol untuk membuka sebuah portal. Letaknya kira-kira dua jari jika diukur dari bagian atas, batas antara ketiak dan lengan. Biasanya tombol itu aktif setelah pukul dua belas malam, aku sendiri belum pernah berhasil membukanya, ada sebuah pola yang katanya tiap hari berganti, pola itu adalah kunci untuk membukanya. Kadang aku juga melihat pola kunci itu berganti dengan pola angka.

Aku pernah mendengar kabar dari orang-orang asing, bahwa pintu itu akan terbuka ketika ketiakmu penuh keringat dan memancarkan bau tidak sedap, lalu sempat kupikirkan, siapa yang berkeringat pukul dua belas malam? Aku tidak pernah olahraga pada jam-jam itu. Konon ketiak yang basah membantu melumasi mur-mur pada pintu itu agar mudah terbuka, maklum pintu itu sudah berusia ratusan tahun, bahkan sudah ada jauh sebelum kita dilahirkan.

Ibuku bilang, dulu pernah ada legenda dari Kerajaan Kutai yang berhasil membuka pintu itu, ia bekeringat karena meniduri 1500 pelayan sebelum pukul dua belas malam, namun legenda itu tidak pernah kembali. Dari kejadian itu orang-orang meyakini bahwa pintu itu adalah portal menuju surga. Orang-orang mulai mencoba mengikuti jejak legenda itu, namun sayangnya tidak ada yang berhasil meniduri lebih dari satu orang, rata-rata mereka keok sebelum lima menit. Tidak ada pria lain yang berhasil melewati pintu itu selain sang legenda, Pangeran dari Kerajaan Kutai.

Konon, ada kabar liar yang mulai jadi bahan pembicaraan, bahwa pintu itu dijaga oleh para pelayan perempuan. Para pelayan itu tidak akan membiarkan para pria berkeringat, pelayan-pelayan itu dilatih untuk menaklukan para pria kurang dari tiga menit. Sehingga jika ada seseorang yang bisa melewati pintu itu berarti ia adalah orang yang terpilih dan layak.

Pria-pria tidak bisa sembarangan meniduri para perempuan, meskipun mereka berkeringat, jika perempuan yang ditiduri bukanlah pelayan yang ditunjuk, keringat itu akan menjadi sia-sia. Pelayan-pelayan itu memiliki ciri, mereka memiliki tanda dua titik merah di pergelangan tangan kirinya. Katanya tanda itu akan membantu para pria untuk membuka pintu dengan menempelkannya pada ketiak kiri. Para pelayan tersebar di berbagai penjuru negeri, mereka menyamar, ada yang menyamar menjadi CEO sebuah perusahan ­startup, ada juga yang menjadi Walikota, hingga menyamar sebagai polisi.

Sebelum bertugas mereka diberi pilihan untuk bisa menyamar sebagai siapapun kecuali menyamar sebagai pekerja seks komersial, karena dengan menyamar sebagai PSK mereka akan mudah terlihat, dan pintu akan mudah terbuka. Mereka harus menyamar sebagai seseorang yang sulit didekati.

Tujuh belas abad kemudian legenda dari Kerajaan Kutai itu ditemukan di sebuah pantai di selatan Pulau Kalimantan, ia kebingungan, nelayan menemukannya dalam keadaan telanjang bulat. Berita ini menggemparkan bukan hanya di dalam negeri, namun seluruh dunia. Rumor tentang keberadaan sebuah portal di ketiak kiri para lelaki menjadi hangat dan kembali dibicarakan. Adalah seorang peneliti muda yang pertama kali menulis argumen itu pada sebuah portal berita online. Banyak yang menganggapnya hanya sekadar racauan belaka, namun lebih banyak yang meyakini bahwa itu adalah kebenaran yang selama ini coba ditutupi oleh orang-orang yang hidup sebelum generasi ini.

Pangeran dari Kerajaan Kutai itu hanya terlihat sekali, setelah orang-orang perwakilan pemerintah menjemputnya, tidak ada lagi yang mengetahui keberadaan Sang Pangeran, spekulasi bermunculan, media-media online menulis kemungkinan keberadaannya. Yang paling logis, pangeran itu kini menjadi aset negara, dan ia mungkin sedang diinterogasi. Hingga hampir sepuluh tahun setelah kejadian, tidak ada yang tahu di mana keberadaannya.

Di tahun kesepuluh, seorang aktor baru dipromosikan pada sebuah film hasil rumah produksi yang pertama kali mempopulerkan  nama Reza Rahadian. Namanya Zahid Paningrome, ia lebih tampan dari Reza Rahadian, lebih jago dalam berakting daripada Reza Rahadian. Film debutnya bercerita tentang keadaan bumi di tahun 2050 yang mulai sepi, karena lebih dari 50% penduduk bumi sudah pindah ke planet mars. Hanya tersisa penduduk miskin yang harus berjuang hidup di lingkungan yang sudah tidak lagi sehat karena racun akibat limbah produksi yang tidak lagi terkontrol.

Para penduduk miskin diberi kesempatan untuk bisa tinggal di mars dengan biaya gratis. Syaratnya harus mengikuti sebuah pelatihan di dalam camp yang dibangun oleh negara. Camp-camp itu menyiapkan seseorang untuk diberangkatkan ke planet mars menjadi tentara yang memetakan planet mars, planet itu masih harus dipetakan karena tergolong baru untuk ditempati. Orang-orang yang masih tertinggal di bumi tidak menyangka bahwa jumlah penduduk miskin hampir sama dengan jumlah penduduk tidak miskin yang mampu membeli tiket sekali jalan ke planet mars.

Film itu memenangkan banyak kategori di Festival Film Indonesia, termasuk aktor terbaik untuk penampilan outstanding dari debut Zahid Paningrome, film terbaik, sinematografi, sutradara, skenario asli, tata suara, tata musik, dan efek spesial terbaik. Film itu bahkan mewakili Indonesia di ajang Academy Award sebagai Best Foreign Film dan berhasil lolos hingga lima nominasi terakhir di malam puncak, meskipun tidak membawa piala botak itu.

Sejak Zahid Paningrome mulai mendapatkan sorotan orang-orang mulai curiga bahwa dirinya adalah pangeran dari Kutai yang sepuluh tahun lalu ditemukan, paras tampannya persis, membuat orang-orang semakin yakin bahwa ia dan pangeran itu adalah orang yang sama.

Zahid Paningrome yang selalu ditanyai fakta itu dalam setiap kesempatan wawancara menolak untuk menjawab, ia hanya diam dan meminta untuk mengajukan pertanyaan lain. Hal itu semakin membuat masyarakat yakin bahwa dirinya adalah pangeran Kutai yang hilang itu.

Karena warga merasa ada keanehan, dan yakin 100% bahwa ada fakta dan kebohongan yang coba ditutupi, mereka melakukan protes dengan turun ke jalan, aliansi pembela kebenaran terbentuk dan mereka bertelanjang dada untuk melakukan protes itu, pria dan perempuan turun ke jalan, memamerkan ketiak kiri mereka yang berkeringat. Media internasional memberitakan anomali unik itu, hingga hampir enam bulan lamanya protes itu selalu digelar hampir setiap hari. Protes itu selalu berjalan damai, tidak ada alasan bagi pihak kepolisian untuk membubarkan. Selama enam bulan juga tidak ada jawaban yang memuaskan mereka. Zahid Paningrome tetap diam, bahkan merilis film keduanya yang kali ini ia tulis dan ia sutradarai.

Sejak pertama kali poster film itu dirilis, film itu langsung jadi pembicaraan. Seakan menjawab para demonstran yang melakukan protes. Film itu berjudul dari sudut ketiak kiri, bertahan di bioskop selama lebih dari dua bulan. Film itu menjawab seluruh pertanyaan orang-orang tentang kebenaran kisah portal pada ketiak kiri. Meski film itu tidak sesukses film pertama Zahid Paningrome dalam urusan penghargaan, namun film itu memecahkan film Box Office Indonesia hampir sebelas kali lipat dari film paling laris sebelumnya.

Film itu membicarakan hal-hal yang lama diyakini banyak orang, seperti rumor tentang pelayan perempuan dan tanda dua titik merah di pergelangan tangan kiri. Banyak orang mulai mencurigai para Polwan, CEO dan Walikota perempuan, film itu bahkan memberitahu dengan detail bagaimana cara membuka portal itu dengan menaruh adegan di ending. Adegan itu sangat ekonik dan terus dibicarakan, lima ratus pasangan bercinta di jalanan sebelum pukul dua belas malam hingga berkeringat. Lalu film itu berakhir dengan cahaya terang muncul dari langit dan seeorang pria dengan jubah putih berambut gondrong turun ke bumi.

Para demonstran yakin itu adalah cara Zahid Paningrome berkomunikasi dan menjawab bahwa rumor tentang dirinya yang seorang pangeran dari Kerajaan Kutai adalah benar adanya. Mereka melakukan protes lagi, dan turun ke jalanan, kali ini dengan jumlah masa dua kali lipat lebih banyak. Dan mereka bercinta bersama-sama di jumat yang dingin satu jam sebelum pukul dua belas malam.

Adegan itu direkam oleh banyak mata kamera, bahkan tanpa menunggu lama sudah tersedia di situs video dewasa seperti pornhub. Dari kejadian itu orang-orang mulai sadar bahwa ternyata banyak pejabat dan orang penting yang juga mempercayai rumor dan cerita melegenda itu. Terlihat banyak menteri, pejabat daerah, para polisi dan CEO perusahan startup yang ikut turun ke jalan untuk bercinta dan bertukar pasangan. Mereka saling memberi semangat untuk tetap bertahan agar mencapai orgasme bersama-sama. Teriakan untuk menahan menggema di langit-langit.

Mereka meneriakkan sumpah serapah saat mulai merasakan orgasme hebat, keringat mulai membasahi tubuh para demonstran, menempel dari satu tubuh ke tubuh lainnya, di antara mereka ada para perempuan yang menempelkan pergelangan tangan kirinya pada ketiak kiri para pria. Makin lama adegan itu makin tidak terkendali, orang-orang mulai lupa pada tujuan awal, mereka memuaskan diri sendiri dengan terus bercinta sampai orgasme berkali-kali.

Tepat jam dua belas malem terdengar dentuman keras yang membuat para demonstran berhenti bergerak, seperti sebuah patung selamat datang. Mereka saling bertanya dari mana datangnya suara dentuman itu, keadaan menjadi hening, seperti pagi dingin sebelum azan subuh terdengar. Lima menit kemudian dentuman kedua, lebih keras dari dentuman pertama, mengangetkan semuanya. Mereka menyadari bahwa suara dentuman itu terdengar dari langit malam. Mata mereka tertuju pada satu titik di langit, sesuatu yang sangat terang muncul membuat mata-mata menghindar untuk langsung melihatnya, beberapa dari mereka menahan cahaya itu dengan tangan agar tak langsung menerpa mata. Banyak juga di antara mereka yang tetap menatap cahaya terang itu dengan mata terbuka.

Orang-orang mulai memberi ruang mendarat untuk cahaya yang mulai melebar. Cahaya itu seperti cahaya senter yang ditumpahkan ke dinding-dinding. Di dalam kepala mereka muncul pertanyaan yang sama, dengan senyum yang sumringah, apakah ini jawabannya.

Seseorang dari demontran menginjakkan kaki pada cahaya yang menempel di aspal hitam, demonstran itu mulai melayang, kakinya tidak lagi menapak pada jalanan. Ia terbang pada alur cahaya itu meunju ujungnya lalu menghilang. Yang lainnya saling menatap, lalu satu persatu mengikutinya, masuk ke cahaya itu, melayang—terbang lalu hilang. Sampai pada orang terakhir, cahaya terang itu pelan-pelan naik dan ikut menghilang.

Jalanan kembali sepi, menyisakan cairan-cairan yang keluar dari kelamin para demonstran, membanjiri jalanan seperti banjir setiap awal tahun di ibu kota.


Semarang. 27 Maret 2021

dari sudut ketiak kiri oleh Zahid Paningrome

 

Sunday, March 7, 2021

para pria bangsat

 

Temanku diperkosa. Sungguh aku tidak bisa lagi menyusun kalimat pembuka selain itu. Awal Februari temanku diperkosa, dan orang pertama yang ia ceritakan tentang masalah ini adalah aku, ia baru menceritakannya sekitar seminggu yang lalu, kira-kira hampir sebulan setelah kejadian itu. “Diperkosa” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian itu, meski temanku ini membuka cerita dengan “aku dilecehin sama orang,” tentu aku tidak mencari detail dari peristiwa itu. Untukmu belajar juga, jangan bertanya tentang detail pemerkosaan pada korban, selain itu bukanlah hal bijak, sebenarnya juga tidak perlu ditanyakan.

Ini bukan cerpen, semua hal yang aku ceritakan adalah realita sesungguhnya, ini benar-benar terjadi, dan aku merasa perlu menceritakan ini. Malam itu, kami makan sate taichan di konicipi daerah Bergota, kalau kamu tahu, lalu menikmati kopi di Lika-Liku daerah Veteran. Waktu itu sudah jam sembilan, dan kami mencari tempat ngobrol yang paling tidak, tutup jam sebelas malam, karena kebijakan pemerintah tentang PPKM yang mewajibkan usaha untuk tutup lebih awal dari jam operasional biasa.

Malam itu adalah pertemuan kami secara langsung untuk kedua kalinya, kami saling mengenal setahun lebih dan hampir tidak pernah bertemu. Entah kenapa, ada energy yang menggerakkanku untuk bertemu perempuan ini. Pertemuan kami terjadi hari rabu di canofee daerah tembalang, kalo kamu tahu. Lalu pertemuan kedua terjadi tiga hari setelahnya, malam minggu. Temanku ini belum menceritakan masalah itu sampai kami memutuskan untuk pulang tepat di jam sebelas malam, karena para pekerja sudah mengingatkan kami bahwa coffeeshop itu akan tutup dalam lima belas menit lagi.

Aku tidak akan menceritakan latar belakang temanku ini, di mana dia tinggal, dan sebagainya. Aku ingin siapapun yang membaca ini fokus pada inti yang ingin aku sampaikan. Kira-kira sepuluh menit sebelum sampai di tempatnya, di atas montor malam itu, ia mendekatkan diri, ucapnya pelan, tapi aku masih sanggup mendengar. Aku masih ingat suaranya bergetar malam itu, ia nyaris tidak jadi menceritakannya. Namun pada akhirnya ia cerita, dan kecepatan montor berkurang saat ia memberitahuku, aku bahkan tidak sadar bahwa kecepatan laju montorku berkurang. Aku shock. Ada amarah membuncah.

Seolah, cerita dia adalah jawaban tentang suatu energy yang membawaku bertemu dengannya. Aku seringkali mengalami hal-hal aneh seperti ini. Seolah ada kekuatan dari alam lain yang ingin aku mendengarkan cerita orang, bukan hanya sekali ini. Aku bahkan hampir tidak bisa menghitungnya.

Aku ingin menggambarkan keadaanku saat ia menceritakannya, namun saat menulis ini pun aku menahan tangis, karena tiap kali seorang perempuan menceritakan pengalamannya dilecehkan oleh pria, aku selalu teringat kembaranku di rumah yang juga seorang perempuan, rasanya menyakitkan. Kupikir ia baik-baik saja, tapi seperti perempuan lain yang menceritakan kisahnya padaku, mereka menutup diri dan terlihat baik-baik saja, padahal ada hal buruk yang membuatnya hancur, di dalam.

Aku tidak akan menyebutkan namanya, aku ingin kamu memahami apa yang akan aku sampaikan. Perempuan ini masih menyimpan semua chat dari pria itu, yang pada awalnya aku menyarankan untuk memblokir dan berusaha menjauh, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika pria itu masih tanpa malu menghubunginya. Namun dia punya alasan kuat mengapa ia tidak melakukan itu, ia menyimpan semua foto hasil kekerasan yang dilakukan pria itu, iya, pria itu melakukan kekerasan, makin melihat fakta-fakta itu aku makin terdiam, ia terus menceritakannya.

Di satu titik, aku benar-benar makin terdiam, jantungku berdebar hebat, ia cerita dengan menahan tangisnya, bahwa pria itu mengancam jika dirinya melawan atau berteriak pria itu akan mengeluarkannya di dalam. Di titik cerita itu, aku sadar, ia diperkosa. Aku tidak bisa berbuat banyak, aku menahan diri untuk memeluknya, aku tidak bisa melakukan itu. Aku berusaha membuatnya tenang, mengelus lengan dan punggungnya, ia masih menahan tangis meski pada akhirnya tangis itu pecah juga. Berulang kali aku menghapus air mata itu. Dan aku hampir tidak percaya bahwa air mataku akhirnya keluar juga.

Ada penyesalan darinya bahwa ia menceritakan kejadian itu padaku, ia tidak ingin terlihat menangis di depan orang lain. Aku tidak banyak mengeluarkan kata-kata, selain meminta ia menunjukkan pria itu. Aku tahu namanya, aku tahu Instagram dan twitternya. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa sampai tulisan ini ditulis, dan aku membenci itu, aku membenci saat aku tidak bisa melakukan apa-apa, meski sebetulnya aku sangat mungkin mengkonfrontasi pria itu. Tapi untuk apa? Perempuan itu bahkan lebih kuat, ia tidak ingin membahasnya dan menganggapnya sebagai angin lalu, meski aku percaya ia sedang menyiapkan sesuatu untuk menyerang balik pria itu.

Sebelum aku pulang, aku mengatakan padanya untuk tidak “menyebur ke kolam” karena akibat dari kejadian itu, ia menganggap dirinya hina, ia lalu memahami dirinya sebagai perempuan gampangan dan murahan. Aku marah mendengar itu, tapi kutahan. Aku bilang bahwa kejadian ini bukan salahnya, dan seperti hal yang pernah kulakukan pada setiap perempuan yang menceritakan hal serupa, aku mengatakan padanya, bahwa ponselku 24 jam aktif jika ia memerlukanku. Saat itu jam 12 malam, dan aku pulang dengan kenyataan pahit yang baru aku dengar, laju montorku tidak secepat biasanya, aku memikirkan semuanya, aku memikirkan jika kejadian itu terjadi pada kembaranku.

Kadang aku berpikir mengapa aku sering mendengar cerita-cerita semacam ini, sudah terlalu banyak, dan aku tidak sanggup menanggungnya, aku cerita kepada beberapa teman dan rasanya kurang, aku hanya ingin menetralkan kepalaku, agar tak meledak dan menyerang diriku sendiri, termasuk aku cerita pada ibuku, namun energy itu masih membuatku kalut, berhari-hari aku memikirkannya, berhari-hari aku berusaha menemaninya.

Tulisan ini dibuat sebagai kopingku, sudah saatnya cerita-cerita itu keluar dari kepalaku, sepanjang maret ini, aku akan menceritakan semuanya, supaya kita sama-sama mengerti bahwa ada banyak pria bangsat dengan kedok-kedok serupa, supaya kamu para perempuan yang membaca ini mengerti bagaimana tingkah laku pria sesaat sebelum kemungkinan hal itu terjadi.

Awalnya temanku ini mengalami musibah, montornya tidak bisa menyala, dan ia meminta tolong pria itu. Pria itu sigap menolong, membawanya ke bengkel, karena pengerjaan kerusakan montor tidak bisa ditunggu cepat, pria itu mengajak temanku ke kosnya untuk menunggu. Dan di sana hal itu terjadi. Aku sama sekali tidak memberikan judgement apa-apa sata kudengar kenyataan itu darinya, namun dari cerita ini kita bisa sama-sama belajar; Jangan percaya pada seseorang yang mengajakmu ke “save placenya,” terlebih jika seseorang itu mengajak ke tempat yang tidak kamu ketahui. Ajak ke tempat netral; tempat yang ramai, tempat yang di sana bukan hanya ada kamu dan orang itu.

Jangan merasa gak enakan, tolak aja. Biasanya pria seperti itu masih akan berusaha sampai hal yang diinginkan berhasil ia capai, saat itu terjadi jangan biarkan siapapun berhasil menguasaimu, memanipulasimu. Biasanya jika ditolak para pria bangsat ini akan bermain kasar entah fisik atau verbal, kamu harus siap itu. Dan jika itu terjadi tinggalkan dia, atau lari dan teriak sekencang mungkin. Jangan takut!

Aku paham polanya, aku belajar dari banyak cerita serupa yang aku dengarkan. Tidak berpikir negatif memang tidak salah, tapi menjaga diri dari segala kemungkinan sungguh sangat diperlukan.

 

Saturday, March 6, 2021

pagi yang tegang

 

“for me, it's an absolute win, honey.”

“No! Kamu harus coba gendar pecel, War.”

“Gak perlu, Tania, ini udah tinggi banget standardnya.”

“Ini gendar pecel langganan ibu aku, bahkan sejak aku belum lahir.”

“Oh really? Can you explain? Gimana rasanya?”

“No…”

“Ah! Na na na! Kalo gak bisa kamu jelasin dalam cara yang mudah dimengerti berarti gak seenak itu.”

“Yes I know, makanya aku milih ngajak kamu untuk rasain langsung. Can we?”

“Hmm…”

“Being fair, come on, itu kan yang selalu kamu bilang ke orang-orang. Adil sejak dalam pikiran.”

“Yeah, Pram… Oke let’s go. Tapi kamu yang nyetir ya.”

“No problem.”

Hari itu udara masih sangat segar, minggu yang sejuk untuk memulai aktifitas. Keduanya beranjak dari meja makan, setelah perdebatan mereka tentang pecel yang baru saja dibawa Anwar setelah ia menyelasaikan olahraga paginya.

“Mau ngapain?” tanya Anwar melihat Tania mengambil kunci mobil.

“Ke pasar, kan?”

“Naik montor aja, udaranya seger banget ini.”

“Ah, ini mah aku dikerjain, kan kamu tau aku gak terlalu bisa naik montor,” keluh Tania, mengembalikan kunci mobil, lalu mengambil kunci montor di tempat yang sama.

“Come on, kamu bisa. Pelan-pelan aja,” Anwar meyakinkan Tania, ia merangkul pundak Tania.

“Kenapa gak sekalian naik sepeda?” tanya Tania setengah kesal.

“Oh mau?”

“Eh enggak-enggak. Udah ayok,” Tania sudah berada di atas vespa matic warna kuning yang setengah tahun lalu dibeli oleh Anwar karena warnanya imut.

“Yes, kalo gini kan aku jadi bisa meluk kamu,” Anwar membonceng, memeluk Tania dari belakang.

“Ishh jangan gitu, nanti oleng.”

“Ih biar lah, kapan lagi, kan,” seperti pasangan yang baru dimabuk cinta, Anwar menempelkan pipinya pada punggung Tania, tetap memeluk sampai keduanya sampai di pasar yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.

Tania memakirkan montor, pasar sudah ramai saat keduanya datang, deretan montor yang terpakir sampai ke badan jalan, para pedagang yang tidak menetap di dalam pasar menggelar dagangannya di depan, nyaris mendekati jalan besar.

“Orang pada ngelihatin montor imut kamu,” Tania membentuk tanda petik pada jarinya untuk menegaskan kata imut yang baru saja ia ucapkan.

“Lah, memang imut, kan,” jawab Anwar mengikuti Tania sambil sesekali melihat vespa kuningnya.

“Orang pasti juga gak terima kalo kuning itu warna imut, top of mindnya pasti warna kotoran,” Tania mempercepat langkahnya.

“Nah itu, eek itu imut.”

“Mana ada orang ngeliatin kotorannya sendiri waktu berak di kamar mandi,” Tania menahan tawa.

“Ada… Aku!” ucap Anwar bangga, Tania menampar pundak Anwar—setelah gagal menahan tawa.

Meski Anwar sering menemani Tania pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan yang akan ia masak, baru kali ini Anwar luluh untuk akhirnya membeli gendar pecel. Selama ini Anwar selalu menolak karena baginya pecel terbaik ya pecel pakai nasi, sederhana, tidak perlu dibuat aneh-aneh. Anwar ini memang pria yang aneh, namun karena keanehannya itu, Tania mencintainya lahir batin. Anwar tidak selalu setuju dengannya, dan itu adalah hal yang Tania sukai.

Bagi Anwar berjalan di tengah pasar, di antara keramaian dan berisiknya para ibu yang tawar menawar adalah sebuah pelarian paling menyenangkan, matanya terpuaskan oleh sayur-sayur hijau yang segar, juga buah-buah yang baru turun dari truk para petani yang mengantarnya langsung. Atau bau-bau ikan yang amis, kucing-kucing liar yang hidup bugar karena dipelihara oleh seisi pasar. Anwar seringkali mengelus kucing-kucing itu, meski seringkali juga Tania melarangnya. Bahkan kucing-kucing itu tampak mengenal Anwar, terlihat saat keduanya sampai di kios penjual gendar pecel dan kucing-kucing itu menempel pada kaki Anwar.

“Sayang,” ucap Anwar pada Tania, melihat kucing-kucing kecil di kakinya yang mulai menggeliat.

“Nih coba dulu,” Tania memasukan satu suapan gendar pecel langsung ke mulut Anwar tanpa aba-aba. Anwar tak sempat menghindar, ia kaget—melihat Tania seketika, lalu mulai mengunyah pelan-pelan. Tania benar-benar menatap Anwar tanpa cela, ia ingin melihat perubahan ekspresinya.

“I see an absolute win,” Tania tersenyum, melihat mata Anwar yang berbinar. Ia mengunyah pelan, seperti tidak rela gendar pecel itu habis di mulutnya. “Masih banyak, aku beliin kamu sekarung sekalian,” Anwar memeluk Tania sesaat kunyahan terakhir di dalam mulutnya. Dan seisi pasar melihat keduanya dengan senyum sumringah.

“ini yang namanya jatuh cinta pada kunyahan pertama. Jadi pengen kunyah kamu,” Anwar menggoda Tania, penjual gendar pecel itu tertawa.

“Husss,” pipi Tania memerah, keduanya meninggalkan kios itu setelah menyelesaikan pembayaran. Anwar menggandeng Tania. Jari-jemarinya bermain, terus menggoda Tania. “Heh jangan di sini... Nih kamu yang nyetir,” Tania memberikan kunci pada Anwar.

“Bisa bahaya ya kalo kamu yang nyetir,” ucap Anwar dengan tawa mesum yang membuat Tania tampak mulai tergoda.

“Bonceng juga bahaya,” Tania duduk dengan menempelkan dadanya pada punggung Anwar. Tubuh Anwar bergetar sesaat, ia menyalakan vespa itu dengan gerakan yang lambat, seolah tidak ingin sentuhan lembut itu berakhir cepat.

“an absolute win,” desis Anwar saat vespa mulai berjalan

“Apa?” Tania pura-pura tidak mendengar.

“Absoulute Win!” teriak Anwar, mendengar itu Tania makin memainkan dadanya pada punggung Anwar.

“Oh boy,” Anwar memacu vespanya, ia ingin cepat sampai rumah dan menyelesaikan pagi yang tegang dengan santapan terakhir yang tiada duanya.

Anwar buru-buru memakirkan vespa, mengambil gendar pecel dari tangan Tania, mengambil piring dan sendok. Mengucap doa sekenanya, lalu mulai memakan santapan di depan matanya, gendar pecel yang membuka cakrawala rasa yang selama ini tergembok dan tak tersentuh.



Semarang, 7 Maret 2020

 

 

 

Tuesday, March 2, 2021

Seorang Pria yang Mati di antara Percakapan Kita


Aku mendengar percakapan lama kita 

di antara deru mesin 

yang lalu-lalang di jalan utama.


Musim hujan tahun lalu 

cerita-cerita ini kembali mengusikku. 

Ia seperti cambuk yang menghapus niat buruk manusia.


Kemarin jalanan basah, 

tak ada lagi air mata, 

semua tak terlihat, 

menyatu dengan aspal hitam. 


Hari ini, aku berada di antara keramaian 

seperti perperangan yang tak kunjung selesai 

karena konfliknya bahkan belum ditemukan.


Kupikir aku bisa berdiri kuat, 

mendengar semua cerita yang masih basah,

atau semua cerita yang menjadi kering, 

semua cerita yang lupa punya tuan.


Nyatanya aku sama saja, 

makin dalam aku merasuki cerita-cerita itu, 

aku makin tak merasakaan diriku sesungguhnya.


Saat cerita-cerita itu selesai, lalu pulang pada pemiliknya, 

aku akan tetap berdiri, sendirian, seperti sediakala, 

dan sama sekali tak tahu 

ke mana isi kepala ini harus muntah dan berlabuh.


Faktanya aku tak sekuat itu.

Seperti kamu; aku juga butuh aku.


aku yang dulu

aku yang semu

aku yang kini buntu



Semarang, 3 Maret 2021

Sunday, February 14, 2021

Lily's Valentine.

 

Valentine day’s tiga tahun lalu aku berkeringat setelah mengejar pesawat pagi dimana aku harus pergi untuk merayakan hari anjing ini bersama seseorang yang bahkan bukan kekasihku.

Urutan sumpah serapah terdaftar secara otomatis di dalam kepalaku. Serapah apa yang paling cocok untuk menyumpah seseorang yang telah berhasil membuat 14 Februari sepanjang tiga tahun terakhir di hidupku begitu terkutuk seperti ini. Seharusnya, aku tak meratapi seperti kelinci kecil begini. Tidak di kafé kecil yang ingar-bingar penuh kebahagiaan di hari kasih sayang ini. Mengenang seseorang yang bahkan tak pernah mengenangku.

Aku terus bertanya pada sebuah tanaman di ruang tunggu bandara, bagaimana ia bisa hidup—tegak berdiri di antara lalu-lalang orang-orang yang pergi dengan buru-buru. Apakah tanaman ini punya tuan? Atau apakah tanaman ini merayakan hari kasih sayang? Atau kapan terakhir kali orang mengajaknya bicara? Entah. Lamunanku terhenti saat ponsel di saku celanaku bergetar. Perempuan itu, yang kupikir akan memperbaiki moodku minggu ini mengirim sebuah foto. Foto kencan pertama kita, kencan yang mendadak, karena kita bertemu pada situasi yang tak terduga.

Dalam foto itu ia tertawa lebar, tawa yang masuk dari telinga kanan, mengisi ruang kepalaku lalu keluar ke telinga kiri, yang sampai saat ini masih bisa kulihat dan kudengar jelas dalam mimpiku. Di foto itu, ia memakai gaun pendek selutut warna lila. Kuharap ia masih ingat bagaimana ia mengomel tentang betapa bencinya ia memakai gaun yang warnanya serupa permen karet itu. Atau alasan mengapa ia harus memakainya.

“Lo tahu, nggak, bridesmaids itu bukan budaya kita, budaya kita itu ngantri makanan dua kali di kawinan sahabat sendiri. Nih pegangin piring gue, gue mau ambil makan lagi,” kelakarku. Kuharap, ia juga masih ingat, bahwa ia pernah berkata bahwa pernikahan sahabatnya adalah satu-satunya pernikahan yang tak membosankan untuk dihadiri. Bukan karena ini adalah hari bahagia untuk sahabatnya. Tapi karena di sini, di sinilah dia bertemu denganku.

Waktu itu aku mengantri sate ayam tepat di belakangnya, masih terekam jelas rambut panjang yang ia biarkan tergerai bebas, juga aroma bunga lily yang membuatku berani membuka percakapan.

“Mba suka lily, ya?” tanyaku menepuk pundaknya.

“Sorry?” ia berbalik, dan saat itu, aku merasakan lalu-lalang orang berhenti seketika, musik yang terputar dari speaker besar itu seperti tidak terdengar, hanya dentuman-dentuman keras yang kurasakan. Ia sempurna di balik gaun itu, dengan lipstick merah muda dan mata yang kecokelatan.

“Parfumnya, wangi lily,” senyumku.

“Ohiya, Mas. Mas juga suka lily?” lalu percakapan itu berlanjut sampai sate ayam di piring kita habis tanpa sisa.

Lily, seperti itulah dia. Selalu ada kerapuhan dan ketulusan yang dibalut dalam keindahan, layaknya kelopak bunga lily. Masih segar di kepala, ingatanku berbulan-bulan setelah percakapan yang menggemaskan itu. Juga tentang bagaimana aku meminta izin untuk memanggilnya Lily.

“Kenapa Lily, sih? Karena gue mirip Lily Collins?”

“Itu panggilan sayang… Boleh, kan?” pintaku.

“Dih, emang lo sayang sama gue?” tanyanya sambil berlalu. Kurasa saat itu ia tahu jawabannya. Dan kurasa, ia juga tak ingin aku menjawab pertanyaan itu. Karena tanpa ungkapan apapun itu, aku yakin, ia pasti menjawab “iya.”

Hujan turun pelan-pelan saat petugas bandara memanggil para penumpang untuk segera masuk ke dalam pesawat, Aku membawa tas ransel di punggungku, memakai sepatu adidas pemberiannya di valentine tahun lalu. Aku tersenyum, memberikan tiket pesawatku pada petugas bandara lalu mengucap terima kasih karena petugas itu mendoakan keselamatan dalam perjalananku. Sesuatu yang ia juga lakukan pada penumpang lain. Pesawat itu hanya menempuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di kotamu, Yogyakarta, Tempat kau biasa menepi dari yang hiruk dan pikuk. Kota tempat pertama kali ciuman itu terjadi. Tak akan pernah kulupa, bagaimana kau menjelajahi bibir basahku kala itu.

Aku tak berharap banyak, tak berharap aku bisa merasakan ciuman hangatmu lagi. Tak berharap memelukmu di hari kasih sayang lagi. Melihatmu dan membisikkan tiga kata itu sudah cukup untukku sebelum kau berjalan menyusuri altar menuju pria itu. Pria yang esok pagi akan berdiri di ujung altar, di depan pendeta, menunggumu, dan akhirnya mengucap janji sehidup, semati itu denganmu. Tapi sebelum fajar menyingsing esok pagi, sebelum kau kenakan gaun pernikahanmu yang secantik lily itu, bisakah sekali lagi, untuk terakhir kalinya kau ucapkan tiga kata itu untukku?

Jogja belum begitu ramai pagi itu. Kau menungguku. Kulihat senyum itu, senyum yang sama sekali tak berubah sejak kali pertama kita bertemu. Kau memelukku, bertanya kabarku, dan menawarkan untuk mencari sarapan lebih dulu sebelum kita menuju venue pernikahanmu, hotel di pusat kota, tempat semua tamu undangan menginap. Lima menit pertama kita saling diam, kau menolak tawaranku untuk menyetir. Bahkan di saat-saat itu kau masih memperhatikanku, yang katamu pasti kelelahan karena mengejar penerbangan pertama hari itu. Kita menuju ke sebuah warung pinggir jalan yang menjual nasi ayam, "terlalu pagi untuk makan gudeg," kataku. Nasi ayam itu adalah salah satu saksi kedekatan kita. Lalu untuk mengisi situasi yang kosong karena kita tak saling bicara, aku memutuskan memutar lagu favoritmu.

“Masih inget aja lo lagu kesukaan gue,” aku terdiam mendengar ucapannya. Tentangmu? Memangnya apa yang bisa kulupakan? Bahkan aku masih ingat noda yang menempel di bajumu saat pertama kali kita bertemu.

“Makasih ya udah dateng. Gue seneng,” ucapnya sedikit bergumam. Aku menelan ludah dengan susah payah, berpikir tentang bagaimana aku akan melewati hari ini dan besok, dengan kenyataan bahwa aku akan kehilangan dia selamanya. Bagaimana aku akan menahan keinginan untuk tak berteriak pada pendeta, saat pak tua itu bertanya pada hadirin untuk mengajukan diri ketika ada yang keberatan atas ikatan suci kedua mempelai. “Lily, jangan lakukan itu, aku mohon. Aku sayang kamu. Akulah yang seharusnya mengucap janji suci itu bersamamu,” rasanya aku ingin mengucapkan itu setelah lagu favoritnya berhenti berputar; akan kunyatakan semuanya.

“Pernah kebayang gak sih gue kawin? Gue gak pernah kebayang ketemu orang yang tepat kayak Michael. Ini kali ya yang dinamakan jodoh?” mendengarnya aku terhenyak. Lagu itu berhenti, kita telah sampai.

“Yuk sarapan, gue laper,” dan kata-kata yang telah tersusun rapi itu tak pernah keluar dari bibirku.

Ia merapikan bajunya, melihat pantulan dirinya pada cermin di atasnya. Ia membubuhkan lipstick di bibir mungilnya itu. Ia mencecap bibirnya berulang kali, dan aku masih memikirkan kata-kata yang pada detik itu mulai tenggelam jauh, aku menatapnya saat ia mengecek ponsel untuk melihat beberapa pesan yang masuk. Saat ia memasukkan ponsel itu ke dalam tas, aku menyentuh lengannya, di detik-detik itu kita saling menatap, jantungku berdebar makin kencang, ia mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Saat kulihat matanya terpejam, kusentuh bibir itu dengan jari, jemariku, mengusapnya lembut dan ia makin menempelkan bibir itu pada jemariku. Ia membuka mata, lalu bibirnya mendarat lembut pada bibirku. Pelan, tanpa tergesa. Diiringi lagu Coldplay, Fix You, yang seolah menjadi soundtrack kisah ini, soundtrack dari apa yang terjadi saat ini.

“aku pernah berjanji akan ‘meperbaikimu’ seperti makna lagu ini,” di antara janji-janji lain yang belum sempat kuwujudkan padamu. Aku bertanya dan penasaran, “Beginikah akhirnya?” Michael yang akan menepati janji-janji itu? Haruskah kubiarkan begitu?

“Gue juga, Rey,” ujarnya tiba-tiba, melepas ciuman itu—tangannya menyentuh sebelah wajahku.  “Gue juga sayang lo, dan akan selalu begitu,” matanya melembut, senyumnya tampak rapuh.

“Di kehidupan selanjutnya, temui gue lagi di depan antrian sate, ya… dan bilang langsung ke gue kalo lo sayang sama gue, dan jangan pernah biarin gue pergi selamanya…” aku menyeka titik-titik air mata yang mulai tampak di wajah cantiknya, “tapi di kehidupan ini, please maafin gue… cuma sebatas ini lo bisa sayang sama gue.”

Hari itu, di kota sialan itu, aku tersadar, yang kata orang near death experience, ternyata tak harus selalu langsung berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Menyadari bahwa aku tak bisa memilikinya sudah lebih dari near death experience untukku.

 

 

(Cerita kolaborasi oleh; Lintang @nyebeliiin & Zahid Paningrome)

Ditulis spontan di Kofitiere, saat kami berdua merayakan Valentine’s day yang menyedihkan.