Sunday, March 7, 2021

para pria bangsat

 

Temanku diperkosa. Sungguh aku tidak bisa lagi menyusun kalimat pembuka selain itu. Awal Februari temanku diperkosa, dan orang pertama yang ia ceritakan tentang masalah ini adalah aku, ia baru menceritakannya sekitar seminggu yang lalu, kira-kira hampir sebulan setelah kejadian itu. “Diperkosa” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian itu, meski temanku ini membuka cerita dengan “aku dilecehin sama orang,” tentu aku tidak mencari detail dari peristiwa itu. Untukmu belajar juga, jangan bertanya tentang detail pemerkosaan pada korban, selain itu bukanlah hal bijak, sebenarnya juga tidak perlu ditanyakan.

Ini bukan cerpen, semua hal yang aku ceritakan adalah realita sesungguhnya, ini benar-benar terjadi, dan aku merasa perlu menceritakan ini. Malam itu, kami makan sate taichan di konicipi daerah Bergota, kalau kamu tahu, lalu menikmati kopi di Lika-Liku daerah Veteran. Waktu itu sudah jam sembilan, dan kami mencari tempat ngobrol yang paling tidak, tutup jam sebelas malam, karena kebijakan pemerintah tentang PPKM yang mewajibkan usaha untuk tutup lebih awal dari jam operasional biasa.

Malam itu adalah pertemuan kami secara langsung untuk kedua kalinya, kami saling mengenal setahun lebih dan hampir tidak pernah bertemu. Entah kenapa, ada energy yang menggerakkanku untuk bertemu perempuan ini. Pertemuan kami terjadi hari rabu di canofee daerah tembalang, kalo kamu tahu. Lalu pertemuan kedua terjadi tiga hari setelahnya, malam minggu. Temanku ini belum menceritakan masalah itu sampai kami memutuskan untuk pulang tepat di jam sebelas malam, karena para pekerja sudah mengingatkan kami bahwa coffeeshop itu akan tutup dalam lima belas menit lagi.

Aku tidak akan menceritakan latar belakang temanku ini, di mana dia tinggal, dan sebagainya. Aku ingin siapapun yang membaca ini fokus pada inti yang ingin aku sampaikan. Kira-kira sepuluh menit sebelum sampai di tempatnya, di atas montor malam itu, ia mendekatkan diri, ucapnya pelan, tapi aku masih sanggup mendengar. Aku masih ingat suaranya bergetar malam itu, ia nyaris tidak jadi menceritakannya. Namun pada akhirnya ia cerita, dan kecepatan montor berkurang saat ia memberitahuku, aku bahkan tidak sadar bahwa kecepatan laju montorku berkurang. Aku shock. Ada amarah membuncah.

Seolah, cerita dia adalah jawaban tentang suatu energy yang membawaku bertemu dengannya. Aku seringkali mengalami hal-hal aneh seperti ini. Seolah ada kekuatan dari alam lain yang ingin aku mendengarkan cerita orang, bukan hanya sekali ini. Aku bahkan hampir tidak bisa menghitungnya.

Aku ingin menggambarkan keadaanku saat ia menceritakannya, namun saat menulis ini pun aku menahan tangis, karena tiap kali seorang perempuan menceritakan pengalamannya dilecehkan oleh pria, aku selalu teringat kembaranku di rumah yang juga seorang perempuan, rasanya menyakitkan. Kupikir ia baik-baik saja, tapi seperti perempuan lain yang menceritakan kisahnya padaku, mereka menutup diri dan terlihat baik-baik saja, padahal ada hal buruk yang membuatnya hancur, di dalam.

Aku tidak akan menyebutkan namanya, aku ingin kamu memahami apa yang akan aku sampaikan. Perempuan ini masih menyimpan semua chat dari pria itu, yang pada awalnya aku menyarankan untuk memblokir dan berusaha menjauh, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika pria itu masih tanpa malu menghubunginya. Namun dia punya alasan kuat mengapa ia tidak melakukan itu, ia menyimpan semua foto hasil kekerasan yang dilakukan pria itu, iya, pria itu melakukan kekerasan, makin melihat fakta-fakta itu aku makin terdiam, ia terus menceritakannya.

Di satu titik, aku benar-benar makin terdiam, jantungku berdebar hebat, ia cerita dengan menahan tangisnya, bahwa pria itu mengancam jika dirinya melawan atau berteriak pria itu akan mengeluarkannya di dalam. Di titik cerita itu, aku sadar, ia diperkosa. Aku tidak bisa berbuat banyak, aku menahan diri untuk memeluknya, aku tidak bisa melakukan itu. Aku berusaha membuatnya tenang, mengelus lengan dan punggungnya, ia masih menahan tangis meski pada akhirnya tangis itu pecah juga. Berulang kali aku menghapus air mata itu. Dan aku hampir tidak percaya bahwa air mataku akhirnya keluar juga.

Ada penyesalan darinya bahwa ia menceritakan kejadian itu padaku, ia tidak ingin terlihat menangis di depan orang lain. Aku tidak banyak mengeluarkan kata-kata, selain meminta ia menunjukkan pria itu. Aku tahu namanya, aku tahu Instagram dan twitternya. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa sampai tulisan ini ditulis, dan aku membenci itu, aku membenci saat aku tidak bisa melakukan apa-apa, meski sebetulnya aku sangat mungkin mengkonfrontasi pria itu. Tapi untuk apa? Perempuan itu bahkan lebih kuat, ia tidak ingin membahasnya dan menganggapnya sebagai angin lalu, meski aku percaya ia sedang menyiapkan sesuatu untuk menyerang balik pria itu.

Sebelum aku pulang, aku mengatakan padanya untuk tidak “menyebur ke kolam” karena akibat dari kejadian itu, ia menganggap dirinya hina, ia lalu memahami dirinya sebagai perempuan gampangan dan murahan. Aku marah mendengar itu, tapi kutahan. Aku bilang bahwa kejadian ini bukan salahnya, dan seperti hal yang pernah kulakukan pada setiap perempuan yang menceritakan hal serupa, aku mengatakan padanya, bahwa ponselku 24 jam aktif jika ia memerlukanku. Saat itu jam 12 malam, dan aku pulang dengan kenyataan pahit yang baru aku dengar, laju montorku tidak secepat biasanya, aku memikirkan semuanya, aku memikirkan jika kejadian itu terjadi pada kembaranku.

Kadang aku berpikir mengapa aku sering mendengar cerita-cerita semacam ini, sudah terlalu banyak, dan aku tidak sanggup menanggungnya, aku cerita kepada beberapa teman dan rasanya kurang, aku hanya ingin menetralkan kepalaku, agar tak meledak dan menyerang diriku sendiri, termasuk aku cerita pada ibuku, namun energy itu masih membuatku kalut, berhari-hari aku memikirkannya, berhari-hari aku berusaha menemaninya.

Tulisan ini dibuat sebagai kopingku, sudah saatnya cerita-cerita itu keluar dari kepalaku, sepanjang maret ini, aku akan menceritakan semuanya, supaya kita sama-sama mengerti bahwa ada banyak pria bangsat dengan kedok-kedok serupa, supaya kamu para perempuan yang membaca ini mengerti bagaimana tingkah laku pria sesaat sebelum kemungkinan hal itu terjadi.

Awalnya temanku ini mengalami musibah, montornya tidak bisa menyala, dan ia meminta tolong pria itu. Pria itu sigap menolong, membawanya ke bengkel, karena pengerjaan kerusakan montor tidak bisa ditunggu cepat, pria itu mengajak temanku ke kosnya untuk menunggu. Dan di sana hal itu terjadi. Aku sama sekali tidak memberikan judgement apa-apa sata kudengar kenyataan itu darinya, namun dari cerita ini kita bisa sama-sama belajar; Jangan percaya pada seseorang yang mengajakmu ke “save placenya,” terlebih jika seseorang itu mengajak ke tempat yang tidak kamu ketahui. Ajak ke tempat netral; tempat yang ramai, tempat yang di sana bukan hanya ada kamu dan orang itu.

Jangan merasa gak enakan, tolak aja. Biasanya pria seperti itu masih akan berusaha sampai hal yang diinginkan berhasil ia capai, saat itu terjadi jangan biarkan siapapun berhasil menguasaimu, memanipulasimu. Biasanya jika ditolak para pria bangsat ini akan bermain kasar entah fisik atau verbal, kamu harus siap itu. Dan jika itu terjadi tinggalkan dia, atau lari dan teriak sekencang mungkin. Jangan takut!

Aku paham polanya, aku belajar dari banyak cerita serupa yang aku dengarkan. Tidak berpikir negatif memang tidak salah, tapi menjaga diri dari segala kemungkinan sungguh sangat diperlukan.

 

Saturday, March 6, 2021

pagi yang tegang

 

“for me, it's an absolute win, honey.”

“No! Kamu harus coba gendar pecel, War.”

“Gak perlu, Tania, ini udah tinggi banget standardnya.”

“Ini gendar pecel langganan ibu aku, bahkan sejak aku belum lahir.”

“Oh really? Can you explain? Gimana rasanya?”

“No…”

“Ah! Na na na! Kalo gak bisa kamu jelasin dalam cara yang mudah dimengerti berarti gak seenak itu.”

“Yes I know, makanya aku milih ngajak kamu untuk rasain langsung. Can we?”

“Hmm…”

“Being fair, come on, itu kan yang selalu kamu bilang ke orang-orang. Adil sejak dalam pikiran.”

“Yeah, Pram… Oke let’s go. Tapi kamu yang nyetir ya.”

“No problem.”

Hari itu udara masih sangat segar, minggu yang sejuk untuk memulai aktifitas. Keduanya beranjak dari meja makan, setelah perdebatan mereka tentang pecel yang baru saja dibawa Anwar setelah ia menyelasaikan olahraga paginya.

“Mau ngapain?” tanya Anwar melihat Tania mengambil kunci mobil.

“Ke pasar, kan?”

“Naik montor aja, udaranya seger banget ini.”

“Ah, ini mah aku dikerjain, kan kamu tau aku gak terlalu bisa naik montor,” keluh Tania, mengembalikan kunci mobil, lalu mengambil kunci montor di tempat yang sama.

“Come on, kamu bisa. Pelan-pelan aja,” Anwar meyakinkan Tania, ia merangkul pundak Tania.

“Kenapa gak sekalian naik sepeda?” tanya Tania setengah kesal.

“Oh mau?”

“Eh enggak-enggak. Udah ayok,” Tania sudah berada di atas vespa matic warna kuning yang setengah tahun lalu dibeli oleh Anwar karena warnanya imut.

“Yes, kalo gini kan aku jadi bisa meluk kamu,” Anwar membonceng, memeluk Tania dari belakang.

“Ishh jangan gitu, nanti oleng.”

“Ih biar lah, kapan lagi, kan,” seperti pasangan yang baru dimabuk cinta, Anwar menempelkan pipinya pada punggung Tania, tetap memeluk sampai keduanya sampai di pasar yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.

Tania memakirkan montor, pasar sudah ramai saat keduanya datang, deretan montor yang terpakir sampai ke badan jalan, para pedagang yang tidak menetap di dalam pasar menggelar dagangannya di depan, nyaris mendekati jalan besar.

“Orang pada ngelihatin montor imut kamu,” Tania membentuk tanda petik pada jarinya untuk menegaskan kata imut yang baru saja ia ucapkan.

“Lah, memang imut, kan,” jawab Anwar mengikuti Tania sambil sesekali melihat vespa kuningnya.

“Orang pasti juga gak terima kalo kuning itu warna imut, top of mindnya pasti warna kotoran,” Tania mempercepat langkahnya.

“Nah itu, eek itu imut.”

“Mana ada orang ngeliatin kotorannya sendiri waktu berak di kamar mandi,” Tania menahan tawa.

“Ada… Aku!” ucap Anwar bangga, Tania menampar pundak Anwar—setelah gagal menahan tawa.

Meski Anwar sering menemani Tania pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan yang akan ia masak, baru kali ini Anwar luluh untuk akhirnya membeli gendar pecel. Selama ini Anwar selalu menolak karena baginya pecel terbaik ya pecel pakai nasi, sederhana, tidak perlu dibuat aneh-aneh. Anwar ini memang pria yang aneh, namun karena keanehannya itu, Tania mencintainya lahir batin. Anwar tidak selalu setuju dengannya, dan itu adalah hal yang Tania sukai.

Bagi Anwar berjalan di tengah pasar, di antara keramaian dan berisiknya para ibu yang tawar menawar adalah sebuah pelarian paling menyenangkan, matanya terpuaskan oleh sayur-sayur hijau yang segar, juga buah-buah yang baru turun dari truk para petani yang mengantarnya langsung. Atau bau-bau ikan yang amis, kucing-kucing liar yang hidup bugar karena dipelihara oleh seisi pasar. Anwar seringkali mengelus kucing-kucing itu, meski seringkali juga Tania melarangnya. Bahkan kucing-kucing itu tampak mengenal Anwar, terlihat saat keduanya sampai di kios penjual gendar pecel dan kucing-kucing itu menempel pada kaki Anwar.

“Sayang,” ucap Anwar pada Tania, melihat kucing-kucing kecil di kakinya yang mulai menggeliat.

“Nih coba dulu,” Tania memasukan satu suapan gendar pecel langsung ke mulut Anwar tanpa aba-aba. Anwar tak sempat menghindar, ia kaget—melihat Tania seketika, lalu mulai mengunyah pelan-pelan. Tania benar-benar menatap Anwar tanpa cela, ia ingin melihat perubahan ekspresinya.

“I see an absolute win,” Tania tersenyum, melihat mata Anwar yang berbinar. Ia mengunyah pelan, seperti tidak rela gendar pecel itu habis di mulutnya. “Masih banyak, aku beliin kamu sekarung sekalian,” Anwar memeluk Tania sesaat kunyahan terakhir di dalam mulutnya. Dan seisi pasar melihat keduanya dengan senyum sumringah.

“ini yang namanya jatuh cinta pada kunyahan pertama. Jadi pengen kunyah kamu,” Anwar menggoda Tania, penjual gendar pecel itu tertawa.

“Husss,” pipi Tania memerah, keduanya meninggalkan kios itu setelah menyelesaikan pembayaran. Anwar menggandeng Tania. Jari-jemarinya bermain, terus menggoda Tania. “Heh jangan di sini... Nih kamu yang nyetir,” Tania memberikan kunci pada Anwar.

“Bisa bahaya ya kalo kamu yang nyetir,” ucap Anwar dengan tawa mesum yang membuat Tania tampak mulai tergoda.

“Bonceng juga bahaya,” Tania duduk dengan menempelkan dadanya pada punggung Anwar. Tubuh Anwar bergetar sesaat, ia menyalakan vespa itu dengan gerakan yang lambat, seolah tidak ingin sentuhan lembut itu berakhir cepat.

“an absolute win,” desis Anwar saat vespa mulai berjalan

“Apa?” Tania pura-pura tidak mendengar.

“Absoulute Win!” teriak Anwar, mendengar itu Tania makin memainkan dadanya pada punggung Anwar.

“Oh boy,” Anwar memacu vespanya, ia ingin cepat sampai rumah dan menyelesaikan pagi yang tegang dengan santapan terakhir yang tiada duanya.

Anwar buru-buru memakirkan vespa, mengambil gendar pecel dari tangan Tania, mengambil piring dan sendok. Mengucap doa sekenanya, lalu mulai memakan santapan di depan matanya, gendar pecel yang membuka cakrawala rasa yang selama ini tergembok dan tak tersentuh.



Semarang, 7 Maret 2020

 

 

 

Tuesday, March 2, 2021

Seorang Pria yang Mati di antara Percakapan Kita


Aku mendengar percakapan lama kita 

di antara deru mesin 

yang lalu-lalang di jalan utama.


Musim hujan tahun lalu 

cerita-cerita ini kembali mengusikku. 

Ia seperti cambuk yang menghapus niat buruk manusia.


Kemarin jalanan basah, 

tak ada lagi air mata, 

semua tak terlihat, 

menyatu dengan aspal hitam. 


Hari ini, aku berada di antara keramaian 

seperti perperangan yang tak kunjung selesai 

karena konfliknya bahkan belum ditemukan.


Kupikir aku bisa berdiri kuat, 

mendengar semua cerita yang masih basah,

atau semua cerita yang menjadi kering, 

semua cerita yang lupa punya tuan.


Nyatanya aku sama saja, 

makin dalam aku merasuki cerita-cerita itu, 

aku makin tak merasakaan diriku sesungguhnya.


Saat cerita-cerita itu selesai, lalu pulang pada pemiliknya, 

aku akan tetap berdiri, sendirian, seperti sediakala, 

dan sama sekali tak tahu 

ke mana isi kepala ini harus muntah dan berlabuh.


Faktanya aku tak sekuat itu.

Seperti kamu; aku juga butuh aku.


aku yang dulu

aku yang semu

aku yang kini buntu



Semarang, 3 Maret 2021

Sunday, February 14, 2021

Lily's Valentine.

 

Valentine day’s tiga tahun lalu aku berkeringat setelah mengejar pesawat pagi dimana aku harus pergi untuk merayakan hari anjing ini bersama seseorang yang bahkan bukan kekasihku.

Urutan sumpah serapah terdaftar secara otomatis di dalam kepalaku. Serapah apa yang paling cocok untuk menyumpah seseorang yang telah berhasil membuat 14 Februari sepanjang tiga tahun terakhir di hidupku begitu terkutuk seperti ini. Seharusnya, aku tak meratapi seperti kelinci kecil begini. Tidak di kafé kecil yang ingar-bingar penuh kebahagiaan di hari kasih sayang ini. Mengenang seseorang yang bahkan tak pernah mengenangku.

Aku terus bertanya pada sebuah tanaman di ruang tunggu bandara, bagaimana ia bisa hidup—tegak berdiri di antara lalu-lalang orang-orang yang pergi dengan buru-buru. Apakah tanaman ini punya tuan? Atau apakah tanaman ini merayakan hari kasih sayang? Atau kapan terakhir kali orang mengajaknya bicara? Entah. Lamunanku terhenti saat ponsel di saku celanaku bergetar. Perempuan itu, yang kupikir akan memperbaiki moodku minggu ini mengirim sebuah foto. Foto kencan pertama kita, kencan yang mendadak, karena kita bertemu pada situasi yang tak terduga.

Dalam foto itu ia tertawa lebar, tawa yang masuk dari telinga kanan, mengisi ruang kepalaku lalu keluar ke telinga kiri, yang sampai saat ini masih bisa kulihat dan kudengar jelas dalam mimpiku. Di foto itu, ia memakai gaun pendek selutut warna lila. Kuharap ia masih ingat bagaimana ia mengomel tentang betapa bencinya ia memakai gaun yang warnanya serupa permen karet itu. Atau alasan mengapa ia harus memakainya.

“Lo tahu, nggak, bridesmaids itu bukan budaya kita, budaya kita itu ngantri makanan dua kali di kawinan sahabat sendiri. Nih pegangin piring gue, gue mau ambil makan lagi,” kelakarku. Kuharap, ia juga masih ingat, bahwa ia pernah berkata bahwa pernikahan sahabatnya adalah satu-satunya pernikahan yang tak membosankan untuk dihadiri. Bukan karena ini adalah hari bahagia untuk sahabatnya. Tapi karena di sini, di sinilah dia bertemu denganku.

Waktu itu aku mengantri sate ayam tepat di belakangnya, masih terekam jelas rambut panjang yang ia biarkan tergerai bebas, juga aroma bunga lily yang membuatku berani membuka percakapan.

“Mba suka lily, ya?” tanyaku menepuk pundaknya.

“Sorry?” ia berbalik, dan saat itu, aku merasakan lalu-lalang orang berhenti seketika, musik yang terputar dari speaker besar itu seperti tidak terdengar, hanya dentuman-dentuman keras yang kurasakan. Ia sempurna di balik gaun itu, dengan lipstick merah muda dan mata yang kecokelatan.

“Parfumnya, wangi lily,” senyumku.

“Ohiya, Mas. Mas juga suka lily?” lalu percakapan itu berlanjut sampai sate ayam di piring kita habis tanpa sisa.

Lily, seperti itulah dia. Selalu ada kerapuhan dan ketulusan yang dibalut dalam keindahan, layaknya kelopak bunga lily. Masih segar di kepala, ingatanku berbulan-bulan setelah percakapan yang menggemaskan itu. Juga tentang bagaimana aku meminta izin untuk memanggilnya Lily.

“Kenapa Lily, sih? Karena gue mirip Lily Collins?”

“Itu panggilan sayang… Boleh, kan?” pintaku.

“Dih, emang lo sayang sama gue?” tanyanya sambil berlalu. Kurasa saat itu ia tahu jawabannya. Dan kurasa, ia juga tak ingin aku menjawab pertanyaan itu. Karena tanpa ungkapan apapun itu, aku yakin, ia pasti menjawab “iya.”

Hujan turun pelan-pelan saat petugas bandara memanggil para penumpang untuk segera masuk ke dalam pesawat, Aku membawa tas ransel di punggungku, memakai sepatu adidas pemberiannya di valentine tahun lalu. Aku tersenyum, memberikan tiket pesawatku pada petugas bandara lalu mengucap terima kasih karena petugas itu mendoakan keselamatan dalam perjalananku. Sesuatu yang ia juga lakukan pada penumpang lain. Pesawat itu hanya menempuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di kotamu, Yogyakarta, Tempat kau biasa menepi dari yang hiruk dan pikuk. Kota tempat pertama kali ciuman itu terjadi. Tak akan pernah kulupa, bagaimana kau menjelajahi bibir basahku kala itu.

Aku tak berharap banyak, tak berharap aku bisa merasakan ciuman hangatmu lagi. Tak berharap memelukmu di hari kasih sayang lagi. Melihatmu dan membisikkan tiga kata itu sudah cukup untukku sebelum kau berjalan menyusuri altar menuju pria itu. Pria yang esok pagi akan berdiri di ujung altar, di depan pendeta, menunggumu, dan akhirnya mengucap janji sehidup, semati itu denganmu. Tapi sebelum fajar menyingsing esok pagi, sebelum kau kenakan gaun pernikahanmu yang secantik lily itu, bisakah sekali lagi, untuk terakhir kalinya kau ucapkan tiga kata itu untukku?

Jogja belum begitu ramai pagi itu. Kau menungguku. Kulihat senyum itu, senyum yang sama sekali tak berubah sejak kali pertama kita bertemu. Kau memelukku, bertanya kabarku, dan menawarkan untuk mencari sarapan lebih dulu sebelum kita menuju venue pernikahanmu, hotel di pusat kota, tempat semua tamu undangan menginap. Lima menit pertama kita saling diam, kau menolak tawaranku untuk menyetir. Bahkan di saat-saat itu kau masih memperhatikanku, yang katamu pasti kelelahan karena mengejar penerbangan pertama hari itu. Kita menuju ke sebuah warung pinggir jalan yang menjual nasi ayam, "terlalu pagi untuk makan gudeg," kataku. Nasi ayam itu adalah salah satu saksi kedekatan kita. Lalu untuk mengisi situasi yang kosong karena kita tak saling bicara, aku memutuskan memutar lagu favoritmu.

“Masih inget aja lo lagu kesukaan gue,” aku terdiam mendengar ucapannya. Tentangmu? Memangnya apa yang bisa kulupakan? Bahkan aku masih ingat noda yang menempel di bajumu saat pertama kali kita bertemu.

“Makasih ya udah dateng. Gue seneng,” ucapnya sedikit bergumam. Aku menelan ludah dengan susah payah, berpikir tentang bagaimana aku akan melewati hari ini dan besok, dengan kenyataan bahwa aku akan kehilangan dia selamanya. Bagaimana aku akan menahan keinginan untuk tak berteriak pada pendeta, saat pak tua itu bertanya pada hadirin untuk mengajukan diri ketika ada yang keberatan atas ikatan suci kedua mempelai. “Lily, jangan lakukan itu, aku mohon. Aku sayang kamu. Akulah yang seharusnya mengucap janji suci itu bersamamu,” rasanya aku ingin mengucapkan itu setelah lagu favoritnya berhenti berputar; akan kunyatakan semuanya.

“Pernah kebayang gak sih gue kawin? Gue gak pernah kebayang ketemu orang yang tepat kayak Michael. Ini kali ya yang dinamakan jodoh?” mendengarnya aku terhenyak. Lagu itu berhenti, kita telah sampai.

“Yuk sarapan, gue laper,” dan kata-kata yang telah tersusun rapi itu tak pernah keluar dari bibirku.

Ia merapikan bajunya, melihat pantulan dirinya pada cermin di atasnya. Ia membubuhkan lipstick di bibir mungilnya itu. Ia mencecap bibirnya berulang kali, dan aku masih memikirkan kata-kata yang pada detik itu mulai tenggelam jauh, aku menatapnya saat ia mengecek ponsel untuk melihat beberapa pesan yang masuk. Saat ia memasukkan ponsel itu ke dalam tas, aku menyentuh lengannya, di detik-detik itu kita saling menatap, jantungku berdebar makin kencang, ia mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Saat kulihat matanya terpejam, kusentuh bibir itu dengan jari, jemariku, mengusapnya lembut dan ia makin menempelkan bibir itu pada jemariku. Ia membuka mata, lalu bibirnya mendarat lembut pada bibirku. Pelan, tanpa tergesa. Diiringi lagu Coldplay, Fix You, yang seolah menjadi soundtrack kisah ini, soundtrack dari apa yang terjadi saat ini.

“aku pernah berjanji akan ‘meperbaikimu’ seperti makna lagu ini,” di antara janji-janji lain yang belum sempat kuwujudkan padamu. Aku bertanya dan penasaran, “Beginikah akhirnya?” Michael yang akan menepati janji-janji itu? Haruskah kubiarkan begitu?

“Gue juga, Rey,” ujarnya tiba-tiba, melepas ciuman itu—tangannya menyentuh sebelah wajahku.  “Gue juga sayang lo, dan akan selalu begitu,” matanya melembut, senyumnya tampak rapuh.

“Di kehidupan selanjutnya, temui gue lagi di depan antrian sate, ya… dan bilang langsung ke gue kalo lo sayang sama gue, dan jangan pernah biarin gue pergi selamanya…” aku menyeka titik-titik air mata yang mulai tampak di wajah cantiknya, “tapi di kehidupan ini, please maafin gue… cuma sebatas ini lo bisa sayang sama gue.”

Hari itu, di kota sialan itu, aku tersadar, yang kata orang near death experience, ternyata tak harus selalu langsung berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Menyadari bahwa aku tak bisa memilikinya sudah lebih dari near death experience untukku.

 

 

(Cerita kolaborasi oleh; Lintang @nyebeliiin & Zahid Paningrome)

Ditulis spontan di Kofitiere, saat kami berdua merayakan Valentine’s day yang menyedihkan.

Tuesday, January 19, 2021

yang dilakukan sepasang kekasih di atas flyover jatingaleh

 

Jadi waktu itu aku lagi perjalanan balik dari kantor, ya sekitar jam sepuluh malam, karena kebetulan hari itu lembur mengerjakan berkas-berkas yang sebetulnya bisa dikerjakan keesokan harinya. Tapi karena aku tipe orang yang sendirian, jadi aku lebih memilih kerja lembur daripada menyadari kenyataan bahwa ponselku adalah kuburan paling sepi di muka bumi.

Kata banyak orang sudah waktunya aku cari pacar, karena sudah hampir enam tahun hanya mencium bantal guling buluk di rumahku, ya jawabanku selalu sama, aku tidak lagi punya obsesi untuk memiliki, aku lebih butuh kaleng khong guan di rumahku berisi wafer-wafer enak daripada kerupuk terung atau rengginang basi, bekas lebaran tahun lalu.

Nah kebetulan aku sudah lama jomblo jadi aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya pacaran, aku bahkan sering bertanya-tanya apa enaknya pacaran di flyover, nah rumahku ke kantor selalu melewati sebuah flyover yang bentuknya agak tidak jelas, namanya flyover jatingaleh, disebut flyover kayaknya kok kurang flyover, tapi kalo gak disebut flyover aku sendiri bingung mau menyebutnya apa.

Pernah kubilang pada ibuku bahwa flyover jatingaleh bentuknya lebih aneh daripada celana dalem merek Indomaret, kenapa gitu Indomaret yang notabene menjual barang-barang kebutuhan pokok sampai harus menjual celana dalem. Bayangin ada label indomaretnya di belakang, ada warna abu-abu dan item, mulai dari ukuran s sampai XL, aku tahu karena aku juga memakainya. Bukan apa-apa, selain murah ternyata bahannya bukan kaleng-kaleng, adem.

Nah kebetulan waktu aku balik lembur itu aku memakai celana dalam indomaretku, tapi aku lupa aku pakai yang warna apa, daripada kepalaku dipenuhi pertanyaan tentang warna sempak apa yang aku pakai, akhirnya aku berhenti di pinggir jalan, waktu itu jalanan mulai sepi, cuma ada beberapa mobil dan kendaraa roda dua yang lewat, aku berhenti dan membuka sedikit celanaku, oh ternyata aku pakai celana dalam indomaret warna abu-abu. Aku merasa lega, lalu menggaruk anuku yang agak gatal. Ya gimana masa gak digaruk.

Nah waktu aku mau jalan lagi, aku lihat sepasang kekasih berdiri tepat di pagar flyover jatingaleh, aku penasaran kenapa sepasang kekasih itu ada di tengah flyover malam-malam, aku mematikan montorku, lalu jalan pelan-pelan mendekati keduanya. Si perempuan berdiri di atas pagar, ia menangis sambil mengatakan hal-hal yang sayup-sayup terdengar seperti amarah dan penyesalan. Kulihat kekasihnya mencoba menahannya, laki-laki itu berulang kali menyuruh kekasihnya turun.

Aku berhenti sebentar, kali ini bokongku yang gatal, tidak biasanya aku merasa gatal ketika memakai sempak indomaret, mungkin karena tersugesti tadi menggaruk anuku. Setelah menggaruk tidak lupa aku menghirup aroma apek bokongku yang menempel di tanganku. Tenang ini bukan karena bahan dari sempak indomaret, kamu harus tahu, sempak indomaret adalah sempak terbaik yang pernah ada, bahkan kualitasnya melebihi sempak Cristiano Ronaldo yang sering dia pakai waktu tanding. Rasanya aku ingin menjadi brand ambassador sempak indomaret, semoga pemilik indomaret membaca ini. Aamiin.

Waktu itu bahkan aku berpikir pria yang menahan kekasihnya itu juga memakai sempak merek indomaret, aku membayangkan pria itu tidak memakai celana jeans, dan label indomaret jelas terpampang di bagian belakangnya, kalau beneran dia memakai sempak indomaret rasanya aku perlu membuat sebuah sekte penyembah sempak indomaret dan menjadikannya legenda.

Waktu aku semakin mendekat, aku merasa pria itu tidak benar-benar menahan yang ternyata sebuah percobaan bunuh diri. Perempuan itu semakin menangis, tentu aku tidak berpikir dan bertanya apakah perempuan itu juga memakai celana dalam merek indomaret, karena setahuku indomaret hanya memproduksi sempak untuk laki-laki, lagian ngapain perempuan beli sempak di indomaret, beli di alfamart lah! Agak mahalan dikit.

Beberapa detik aku mendengar percakapan mereka, aku buru-buru lari dan menggapai tangan perempuan itu, satu detik sebelum perempuan itu benar-benar loncat karena telah mengangkat satu kakinya. Kakinya mulus banget, putih kinclong. Malam itu ia memakai rok longgar warna hitam yang membuat angin sepoi-sepoi bisa masuk ke dalamnya. Hmmm semriwing.

Saat kugapai perempuan itu seperti di sinetron-sinetron Indonesia, di kepalaku muncul musik-musik menggema yang membuatnya semakin tampak terlihat seperti drama, saat aku berhasil menatap perempuan itu, seorang meneriakiku

“Anjing! Goblok! Lagi shooting cok!”

Aku melihat ke bawah, peralatan shooting lengkap dengan kamera dan lighting juga para crew mengarah padaku dan ke sepasang kekasih di atas flyover jatingaleh. Ternyata aku sedang benar-benar berada di antara shooting sinetron.

Aku malu, lalu meminta maaf, sebelum sempat meninggalkan tempat, pria itu mengingatkanku bahwa resleting celanaku terbuka, aku makin malu, lalu buru-buru kututup. Pria itu justru tertawa “Sempak indomaret juga ya, mas?” aku mengangguk pelan lalu tersenyum, “saatnya membuat sekte baru.” pikirku di tengah perasaan malu.

Tuesday, January 12, 2021

yang dilakukan sepasang kekasih di atas honda astrea

 

Jadi, waktu itu aku sedang mengendarai scoopy merahku, aku baru saja selesai menikmati satu gelas jahe rempah yang nikmatnya sampai meninabobokan asam lambungku. Hari rabu, dan hujan berhenti pukul tujuh, setiap rabu aku terbiasa mengendarai scoopy pemberian ibuku. Orang sering menyebutnya “night ride,” aku lebih suka menyebut jalan-jalan malam.

Yaaa, biasa, jalan-jalan malam seringkali memberiku waktu untuk banyak berpikir dan merenung. Pernah suatu ketika aku dihadapkan sebuah pilihan yang membuatku bingung, antara membeli mogu-mogu rasa leci atau melon, orang bisa saja menyebutku gila, karena katanya rasa leci adalah varian paling enak dari mogu-mogu, yaa tapi kan aku sudah sering membelinya. Aku merasa empati dengan mogu-mogu rasa melon yang tiap kali aku ke indomaret varian itu selalu menjadi varian yang stoknya paling banyak.

Nah, waktu aku berhenti di persimpangan untuk menunggu lampu merah, aku berpikir bagaimana perasaan mogu-mogu melon jika orang-orang lebih memilih varian lain? Dari pikiran itu aku makin mantap untuk membeli mogu-mogu melon, terlebih warna hijau dari lampu lalu lintas seperti memberikanku tanda bahwa aku harus membeli mogu-mogu melon daripada rasa leci, karena tidak ada warna putih di lampu lalu lintas, jadi aku semakin kuat untuk membeli dan menghabiskan mogu-mogu melonku nanti.

Saat aku hendak mampir ke indomaret sebelum akhirnya pulang dari jalan-jalan malam yang lumayan panjang, aku melihat sepasang kekasih berboncengan mengendarai Honda astrea hitam yang tampak bersih dan kinclong, aku bahkan sempat naksir. Sepertinya itu adalah Honda astrea keluaran tahun 1991, pikirku sekelebat. 

Aku memperlambat kecepatan scoopy merahku untuk melihat keseksian montor antik itu, bahkan aku tidak sama sekali peduli pada sepasang kekasih yang tampak makin mesra di atas Honda astrea itu, sesuatu yang membuatku muak. Aku sendiri juga tidak bisa menebak kisaran umur mereka, karena keduanya memakai helm yang sama-sama antik tampaknya helm sepaket dari pembelian Honda astrea itu. Mereka juga memakai jaket oversized yang bisa memantulkan cahaya jika tersorot oleh lampu jalan.

Hampir lima menit aku mengikuti Honda astrea itu, perempuan yang membonceng di belakang memeluk pria di depannya. Aku seketika lupa kenikmatan rasa mogu-mogu, waktu itu yang ada di pikiranku hanyalah Honda astrea 1991 yang auranya mirip mantan pacarku dulu. Aura itu meneduhkan selalu membuatku senyum, sama sekali tidak sempat membuatku bosan. Aku bahkan sudah melewati dua Indomaret yang bukan 24 Jam.

Aku heran, mengapa Indomaret harus buka 24 jam, orang macam apa yang membeli indomie atau kondom saat jam dua pagi. Tapi sudahlah, tidak penting juga, aku lebih sering ke superindo daripada indomaret, meski sama-sama indo superindo jelas lebih lengkap dan luas, apalagi aku bisa memandangi setumpuk BH dan celana dalam wanita yang digelar di tengah-tengah gerai antara lorong tempat menaruh sereal dan susu, juga lorong tempat menaruh parfum dan alat-alat keperluan pria seperti pisau cukur kumis.

Aku jadi kepikiran celana dalam di superindo karena perempuan yang membonceng itu duduk makin maju, namun posisi bokongnya tetap sama, itu membuat celana dalam warna kuningnya sedikit terlihat. Aku bisa menebak itu bukanlah jenis celana dalam yang sering dipakai para perempuan muda seumuranku. Dari situ aku sadar sepasang kekasih yang berada di atas Honda astrea itu adalah dua orang yang sudah tua, atau sepasang suami dan istri.

Aku mulai familiar dengan jalanan yang dilewati Honda Astrea 1991 itu, ini jalanan yang sama tempat aku biasa melewatinya untuk menuju pulang ke rumah setiap kali jalan-jalan malam. Ah, ia berbelok ke arah yang sama di mana rumahku berada. Lalu ia belok kiri, melewati pos penjaga perumahan yang di dalamnya dua orang satpam sedang menikmati pertandingan sepakbola antara Barcelona melawan Real Madrid. Barcelona lebih bagus, tentu. Tidak perlu diperdebatkan.

Makin lama, aku makin disadarkan, bahwa sepasang kekasih yang mengendarai Honda astrea 1991 itu sedang menuju ke rumahku yang terletak di ujung jalan buntu perumahan tempat kutinggal. Aku makin penasaran karena Honda astrea itu berhenti tepat di depan gerbang rumahku, dan perempuan yang membonceng itu turun untuk membuka pagar tinggi hitam. Di situ aku baru benar-benar sadar, sepasang kekasih yang sedari tadi aku ikuti adalah orang tuaku sendiri. Ibu bapakku juga baru sadar bahwa aku mengikuti mereka. Aku juga baru sadar, Honda astrea 1991 itu adalah montor milik bapakku.

Aku tertawa, akhirnya aku berbalik, ibuku bertanya aku mau pergi ke mana lagi, kujawab bahwa aku akan membeli mogu-mogu melon di Indomaret. Ibuku menyuruhku menunggu, ia mau nitip, ibu memberikanku uang sepuluh ribu yang diambilnya dari dalam tas, dan minta dibelikan mogu-mogu leci.

Wednesday, January 6, 2021

yang dilakukan sepasang kekasih di dalam mobil

 

Waktu itu aku sedang menyesap rokok pertamaku di depan sebuah warung masakan padang. Di seberang jalan aku melihat honda jazz silver berhenti, mesinnya masih menyala, kacanya gelap namun aku masih bisa melihat ada seorang pria duduk di kemudi. Samar-samar aku membaca gerak bibirnya, bahkan sesekali aku mengikuti apa yang ia katakan. Aku baru saja selesai memakan daging rendang hangat yang baru saja masak untuk makan siang, aku tidak pernah sarapan, bagiku sarapan hanya untuk orang-orang lemah.

Setiap hari aku bangun pukul sepuluh pagi, membuka ponselku tepat setelah mata terbuka dan masih agak berat karena semalam aku begadang menghabiskan drama korea yang tiap episodenya bikin mata berair karena saking lamanya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku lakukan pada ponselku tiap pagi, sama sekali tidak ada yang mengirimkan pesan, tidak ada notifikasi, tidak ada yang menarik, aku hanya scrolling sampai aku sadar jam dinding di kamarku sudah menunjuk pukul sebelas.

Aku juga tidak paham, mengapa drama korea bisa begitu lama. Mungkin itu mengapa mereka disebut drama. Aku bisa menaksir bahwa setiap satu episode, sebetulnya mereka bisa saja membuatnya menjadi setengah jam atau satu jam kurang lima belas menit. Tapi yasudah, kita semua butuh drama yang menarik, karena drama kita di hari-hari biasa jauh dari kata menarik. Drama korea membuatku berhalu-halu ria, nasib-nasib karakternya selalu saja baik dan jauh dari realitaku sendiri.

Aku selalu memikirkan nasib setiap karakter dari drama korea yang kutonton, bahkan saat aku masih melihat honda jazz silver yang lampu depannya kini mati. Aku sayup-sayup masih bisa mendengar mesin menyala, mungkin supaya orang di dalamnya tetap merasa nyaman. Perutku bungah, rendang terenak di bumi belum lama masuk dan membuat lambung, usus, dan seluruh organ dalamku bergelora, seperti memutar lagu Inikah Namanya Cinta dengan volume yang sangat keras.

Asap rokok terus keluar, bau-bau tembakau mulai tercium, aku terus menyesap rokok yang kubeli dari warung di samping masakan padang langganan tempatku bisa ngutang saat uang-uang di kantongku sedang berlibur entah ke mana. Aku melihat pria itu mulai bicara pada seseorang di sampingnya, yang kupikir pada awalnya ia hanya sendirian, ternyata seorang perempuan duduk sejak pertama aku melihat mobil itu berhenti di seberang jalan.

Mereka seperti terlibat dalam pertengkaran hebat, hampir mirip setiap pertengkaran dalam drama korea yang makin tragis karena gerak kamera dibuat berlebihan dan musik yang lebay karena diulang berkali-kali tiap pertengkaran terjadi. Aku bisa menduga apa yang mereka bicarakan, apa yang keduanya perdebatkan. Bisa jadi salah satunya ketahuan selingkuh, atau hubungan mereka tidak direstui salah satu orang tua.

Kupikir dua masalah ini selalu menjadi alasan sepasang kekasih pegat di tengah jalan. Aku setuju selingkuh merusak semuanya, aku juga setuju harusnya korban memutus hubungan itu. Selingkuh ada karena niat, ya mirip bang napi bilang kalau kejahatan datang karena niat pelaku. Bayangkan aja selingkuh itu kejahatan, dan aku membenci jika korban tetap jatuh cinta dan tetap ada di hubungan yang sebetulnya sudah rusak itu.

Ah untuk urusan orang tua, harusnya ibu bapak tidak perlu mencampuri asmara anaknya, untungnya bapak ibuku tidak begitu, yaa mereka sudah lama meninggal. Mau apalagi. Tapi pernikahan tidak hanya menyatukan sepasang kekasih saja, pernikahan juga menyatukan dua keluarga. Pernikahan adalah ekosistem yang dibuat dan harus dijaga, jika salah satu aspeknya tidak terbentuk atau tidak dipelihara dengan baik biasanya pernikahan akan berakhir tidak menyenangkan. Lagi-lagi sama seperti drama korea yang pernah kutonton. Aku heran, mengapa korea bisa membuat cerita yang beragam tapi kita tidak. Mungkin karena korea menghargai keberagaman, mereka haus hal-hal baru. Sedang kita? Selalu alergi dengan kebaruan, menolak yang beragam, bernafsu menyeragamkan lainnya.

Rokok pertamaku habis saat kulihat pria di kursi kemudi membuka kaca mobil, ia menunjuk warung masakan padang tempatku duduk. Kupikir awalnya mereka sedang membicarakanku, namun aku tersadar saat pria itu menciptakan sebuah gesture bahwa dirinya lapar dan butuh makan.

Aku mengambil rokok keduaku yang kutaruh di atas telinga, kubakar rokok di mulutku, dan melihat sepasang kekasih itu turun dari mobil, mataku terpaku, keduanya berdiri berdampingan, mereka menyebrang jalan dengan hati-hati. Keduanya masih terlibat dalam sebuah perdebatan yang tampaknya makin panas. Aku makin mendengar yang mereka perdebatkan tepat saat keduanya sampai di depan rumah masakah padang, tidak jauh dari tempatku duduk. Pria itu masuk lebih dulu, lalu diikuti kekasihnya yang tampak cantik berambut pendek dengan setelan jins longgar, sepatu putih dan hodie yang longgar.

Perdebatan mereka makin keras terdengar, dan aku terus menyesap rokokku. Ternyata keduanya memperdebatkan mana yang lebih enak di antara rendang dan ayam pop. Aku tertawa, tebakanku salah, haluku jauh entah ke mana, ini karena drama korea mempengaruhi penilaianku pada orang lain. Lalu aku teriak “Rendang!” keduanya menoleh, perempuan itu memukul pundak kekasihnya. Tanda perdebatan itu selesai, perempuan yang makin lama mirip Najwa Shihab itu memenangkan perdebatan paling tidak mutu yang pernah kulihat. Mungkin Najwa Shihab pun malu mendengarnya.