Monday, May 11, 2015

Malam Bersama Sophie

Pagi ini dingin menusukku
Membuatku enggan menyambut
Aku bukan emphasis
Aku tidak bisa mengarahkan mataku
Objek itu terlalu fana
Aku hanya bisa menjadi rana
Terdiam menunggu di gerakan
Aku menunggu momentum
Momentum yang membukakan medium
Aku bergetar
Ada sesuatu yang menarikku

Sophie
Wanita tenang mencintai sepi
Aku tidak menemukannya lagi
Ketenangannya berubah jadi api
Pertemuan malam itu.....
Malam yang diselimuti dingin
Kau memelukku
Hangatnya dalam kain berselimut abu

Sophie, berbaringlah bersamaku
Habiskan malam ini dengan kasih yang tak berujung
Aku menderita, setiap kali kamu berpaling
Punggungmu tak bisa aku rasakan
Dinding-dinding menjadi masif
Mengajak kita menyelami masing-masing
Kau mengajakku menikmati malam ini
Malam pertama dan terakhir kita
Semuanya diam, mematung, tak berani
Matahari bersembunyi dibalik tirai hitam yang panjang
Bulan dan bintang mesra menyetubuhi langit
Aku ingin menciummu dari Manhattan hingga Gibraltar

Meski kau tak mecintaiku dalam benar
Tapi aku mencintaimu benar-benar
Malam ini sebuah palu menancap di kolam berisi susu
Kau mendorongnya
Kau menariknya
Aku hanya melihat, merasakanmu bermain-main
Sejak saat itu aku memelukmu
Dalam bias yang tak menentu
Gunung kembar yang digambar anak-anak TK menemani tanganku
Kau masih asik dengan permainamu
Aduh, Sophie kau ganas sekali.....
Aku mencintaimu meski ini malam terakhir
Dan itu Menyakitkan.....

Semarang, 11 Mei 2015



Friday, May 8, 2015

ARTHUR (Episode 8)

Setelah satu jam menunggu, Prof. Uru akhirnya datang, mengendarai mobil dengan atap terbuka khas Balai Kota. Prof. Uru disambut hangat Ana yang menghampirinya dengan girang lalu membawakan barang yang dibawa. Prof. Uru. Menyapa Arthur yang masih bertahan duduk di sofa ruang tamu. Arthur bediri, memberi salam. Prof. Uru menjawabnya lalu meminta Arthur untuk menunggu dia mengganti pakaian. Prof. Uru tahu kenapa Arthur mendatangi rumahnya. Rasa penasaran yang mengeras di otak Arthur  membawanya datang kemari.

Rambut Prof. Uru semakin memutih sejak Arthur terakhir bertemu, jenggot dan kumisnya masih terjaga rapi  dan bersih. Kacamata dengan lensa berbentuk bundar dan frame berwarna hitam juga rantai pengikat masih selalu dipakainya. Perjumpaan Arthur dan Prof. Uru kali ini adalah misteri.
Belum sepuluh menit Arthur menunggu, Prof. Uru sudah keluar dari balik pintu kamarnya memakai kaus putih lengan pendek dan celana panjang training warna biru dengan tiga garis berwarna putih di sisi kanan dan kiri. Arthur basa-basi, menanyakan kabar dan hal klise yang bisanya di lontarkan oleh orang yang sudah lama tidak bertemu. Prof Uru bercerita panjang lebar tentang pengalaman bekerja di Balai Kota, Prof. Uru juga bercerita tentang semua buku pemberian Witson yang dia baca. Betapa buku-buku itu menjadi inspirasi penyemangat hidupnya juga membuka jalan berpikirnya. Prof. Uru juga berbagi cerita tentang film-film eropa yang baru ditontonya. Tidak lupa Prof. Uru menanyakan kabar Nyonya Witson, Ibu Arthur.

Basa-basi yang lama ini, hampir membuat Arthur ingin pulang dan melupkan pertanyaan yang selama ini menggantung di pikirannya. Sampai Prof. Uru tiba-tiba menjelaskan sebab kematian Witson, Ayah Arthur.

“Ayahmu di bunuh, Arthur. karena dia mengetahui permainan kotor para Anei, para Anei mencoba menggulingkan ayahmu tapi tidak bisa, ayahmu terlalu kuat dan bersih untuk digulingkan. Akhirnya para Anei menugaskan satu prajurit untuk membunuhnya”

“Tunggu, jadi Prof. sudah tahu maksud kedatanganku kesini?”

“Lalu alasan apalagi yang bisa membawamu kesini selain ingin bertemu Ana? Kamu sudah bertemu Ana, seharusnya kamu sudah pulang daritadi kan?, kamu mudah ditebak Arthur”

“Permainan kotor apa yang Prof. maksud?, lalu, siapa prajurit yang Prof. maksud?

“Tentang proyek pengembangan kawasan terpadu untuk para anei. Bukan sekedar percobaan Mark-Up dana, Arthur. Para Anei juga menjual Narkoba ke kota-kota lain, hasilnya untuk dibagi sama rata dan pendanaan misil untuk perang, merebut wilayah, menjajah, memborbadir wilayah yang bukan kekuasaannya.”

“Lalu, siapa yang membunuh ayah?” Arthur memburu jawaban dari Prof. Uru, tanpa mempedulikan masalah yang barusan di ceritakan Prof. Uru.

“Kode Namanya, Askar Kecha, dia prajurit paling berbahaya yang dimiliki para Anei, meskipun para Anei tidak bisa menguasai kota, tapi mereka bisa menguasai prajurit-prajurit handal dan polisi kota. Dia hanya beraksi pada malam hari, tidak terlihat, susah ditemukan dan berbahaya”

“Apa yang berbahaya dari dia?” Tanya Arthur.

“Dia pandai menyamar, kecantikannya bisa membuat orang-orang diam dan mentapnya lama, pesonanya begitu memikat, Arthur. Dia selalu memakai topeng ketika beraksi.”

“Hanya itu saja? Tidak begitu bahaya bagiku, apalagi dia perempuan” Arthur tekekeh.

“Mungkin kamu bisa memakai rompi anti peluru jika dia bersenjatakan pistol tapi dia tidak menggunkan senjata macam itu. Dia ahli memanah. Ayahmu wafat terkena anak panahnya yang tajam, aku yang mengurus jenzahnya, Anak panah itu menembus jantung ayahmu, Arthur ”
Arthur kaget, terdiam lama, matanya menatap lantai ruang tamu.

“Lalu, kenapa Prof. diam dan tidak melaporkan masalah ini ke pengadilan kota?” Tanya Arthur

“Percuma, Arthur. Para Anei menguasai Aparatur yang ada di Kota ini, bahkan bisa dibilang kekuasaan mereka melebihi Natalie, Walikota Nanoi. Tangan dan mata mereka ada dimana-mana”
Lama Prof. Uru dan Arthur berbincang, Ana datang membawakan minuman dan biskuit kelapa. Lalu pergi dan menguping pembicaraan Arthur dan Prof. Uru dari balik tembok yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah kamu mengetahui semuanya,Arthur? Tanya Prof. Uru sambil mengambil Cangkir minuman yang ada di meja. Menatap Arthur sebelum meminumnya.

“Aku ingin membalas kematian ayahku, dan membongkar masalah ini ke seluruh penduduk kota, menyeret mereka ke pengadilan negara jika pengadilan kota tidak bersedia menerima tuntutanku” Mata Arthur memerah, kemarahanya memuncak, tanganya memukul meja, menggetarkan cangkir dan membuat minuman yang ada dicangkirnya meloncat tumpah membasahi meja. Ana yang menguping ketakutan, tanganya gemetar, lalu pergi.

“Aku bisa membantumu, tapi hanya untuk mengantarmu masuk ke Balai Kota, penjagaan disana sangat ketat, tidak boleh sembarang orang masuk. Tapi kamu harus tenang Arthur, Jangan gegabah. Jangan mudah menampakan diri. Harus kamu pikirkan dulu, strategi apa yang ingin kamu pakai. Aku akan membawamu ke Balai Kota tiga hari dari sekarang. Itu waktu yang cukup untukmu memikirkan semuanya. Aku tidak bisa melarangmu, mungkin ini jalan terbaik menuju kebenaran”

Beberapa jam setelah itu Arthur pamit pulang, membawa amarah yang siap mengendalikan pikirannya. Siap menjadi bumerang atau senjata mematikan baginya..

(Bersambung)


Wednesday, May 6, 2015

Review Film Toba Dreams

Toba Dreams. Saya akan mecncoba me-review film yang membuat saya tidak berhenti meneteskan air mata, tersentuh akan plot-plot cerita yang disajikan dan merinding sepanjang film. Toba Dreams bercerita perjuangan Sersan TB Silalahi (Mathias Muchus) dengan penuh perjuangan mengurus anak-anaknya. Dia harus mengalami kesulitan saat anak sulungnya Ronggur (Vino Bastian) berbeda pandangan dan keras kepala. Ronggur sangat pemberontak. Hal tersebut karena adanya rasa cemburu dan perasaan tak dianggap dalam keluarga. Film ini mencakup berbagai sisi kehidupan dan mempunya nilai humanis dan toleransi antar umat ber-agama, terbukti ketika Oppung Boru (Jajang C Noer) mengatakan bahwa “semua doa itu baik” kepada Coki yang dipersilahkan memimpin doa makan malam.

Saya mencintai konflik dalam film ini, Konflik antara TB dan Ronggur, TB dan Istrinya, Ronggur dan Sumurung (Haykal Kamil). Konflik antara Ronggur dan Andini (Marsha Timoty) serta Konflik batin yang dirasakan Ronggur untuk mengejar cita-citanya menjadi orang yang kaya dan sukses dengan menjadi pengedar Narkoba.

Keindahan tanah toba lebih di epxplore di film Toba dreams, berbeda dengan film Bulan diatas Kuburan yang tidak terlalu mengexplore tanah toba. Meskipun dari pemain-pemainya tidak ada yang menguasai logat batak kecuali Togur yang diperankan oleh boris bokir yang mewarnai film ini dengan celotehan yang masih saya ingat sampai sekarang “Hey Bangsat, seburuk-buruknya kau. Kau tetap saudaraku” serta lawakannya yang membuat penonton tak hanya meneteskan air mata, namun juga tertawa. Lawakan khas orang-orang desa, lawakan cerdas dari tanah toba seperti “macam sempak baru saja kau, ketat sekali” dalam salah satu dialog antara Togar dan Ronggur  

Meskipun Film Toba Dreams, kurang rasa batak namun Tetap Menggigit!, tetap bisa membuat saya tercengang dengan keseluruhan film ini. Dengan melihat pemain yang membintangi film ini saya tidak bisa meragukan kualitas akting mereka. Contohnya artis kawakan Matias Muchus yang beberapa kali dalam satu layar bersama Vino G Bastian. Kedua aktor ini sukses memerankan hubungan ayah-anak yang berbeda pandangan dan idealisme. Lalu intensitas hubungan antara ayah dan anak yang biasanya terlihat kaku dibandingkan dengan Ibu. Seorang anak laki laki biasanya dapat mengutarakan apa saja kepada ibunya dibandingkan kepada ayahnya. Lalu ayah yang sangat gengsi untuk memeluk anak laki-lakinya yang sudah dewasa dan teramat susah mengatakan rasa sayangnya. Semuanya sukses diperankan oleh Mathias Muchus bersama Vino. Satu adegan yang paling menyentuh hati adalah ketika Mathias Muchus mendatangi persembunyian Ronggur, keduanya akhirnya saling meminta maaf hingga menangis meraung. Ini menurut saya menjadi salah satu adegan terbaik karena mampu menguras emosi penonton. Akting Ramon.Y.Tungka juga pas dan tidak berlebihan untuk aktor yang sudah lama tidak bermain di sebuah film, Stabil.

Meskipun saya mendengar musik dari Vicky Sianipar yang agak mirip dengan film Bulan diatas Kuburan, tapi hal itu tidak menjadi persoalan yang besar untuk dipermasalahkan. Saya justru lebih mempertanyakan adegan ketika Ronggur bertemu dengan tiga pengedar narkoba disebuah diskotik, saya merasakan ada adegan yang disensor atau dipotong sangat kasar ketika tiga pengedar narkoba digambarkan mati, menjadi agak mengganggu kenikmatan saya dalam menonton film Toba Dreams.
Berbicara mengenai pesan moral, ada banyak sisi positif yang di dapat dari film ini. Diantaranya pentingnya menjaga hubungan baik keluarga,  bahaya penyalahgunaan Narkoba dan bahkan film ini juga mengajarkan toleransi beragama. Saya paling suka dengan salah satu dialog yang dikatakan Togar pada Ronggur bahwa “Menutupi kejahatan itu salah” ataupun yang dikatakan sersan TB pada Ronggur ditempat persembunyian Ronggur, bahwa “Tak ada tempat untuk bersembunyi bagi para penjahat”. Ending film ini juga tidak terduga oleh saya, cukup membuat saya semakin kagum dengan film ini.

Overall film ini saya beri Nilai 9 dari 10. Tidak aneh jika saya memberi nilai tersebut karena saya merasakan ikut dalam pergulatan konflik yang disajikan, saya merinding sepanjang film dan keluar dengan mata merah karena terharu dan menetsekan air mata.. Saya memprediksi film ini akan masuk beberapa Nominasi di Festival film. Untuk Nominasi Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik lewat akting Vino.G.Bastia, Pemeran pendukung pria terbaik lewat peran Mathias Muchus, .. Sekian. #BanggaFilmIndonesia, ayo nonton film Indonesia..
            

Friday, May 1, 2015

ARTHUR (Episode 7)

Sudah 10 menit sejak kelembutan Arthur dan Ana saling bertemu, suasana menjadi sangat canggung, lautan yang tenang berubah. Ombak mulai ganas menyapu pantai, angin besar datang dari selatan membuat pohon-pohon kelapa menari. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan, Ana hanya terdiam menatap lautan yang tidak lagi tenang. Arthur sibuk merapikan rambut dan bajunya pertanda tidak ada yang bisa dilakukan Arthur selain basa-basi yang tidak jelas. Sesekali Arthur menatap Ana dan tersenyum meski Ana tidak membalas senyum Arthur. Ana masih tidak percaya setelah apa yang terjadi diantara mereka. Nafasnya tidak teratur, dadanya seperti dimasuki batu besar. Sesak.

“Dia Ana yang baru, baru kukenal tatapan matanya yang indah begitu membuai. Membuat keinginan, menjadi hal yang tidak bisa ditolak. Tatapan matanya belum pernah seindah ini, rasa ini bertahan lama untuk memandanginya, dadaku sesak, jantungku tidak mau kompromi, Ana kini hadir dengan pesonanya yang bertambah anggun seiring waktu. Tidak jera mata ini untuk memandanginya” suara hati Arthur melambangkan ketertarikan pada Ana.

“Sinar matamu menari-nari, menyinari jiwa yang terguncang, menerangi perasaan yang gusar. Aku tak berdaya. Ingin rasanya menyingkap apa yang ada dibaliknya, aku ingin merasakan kelembutannya, kehangatannya. Beberapa kali ingin membawanya masuk ke kamarku dan bercumbu barang sekali. Apa itu tadi? Berapa lama waktu yang harus kutempuh untuk menyentuhnya lagi?” suara hati Ana seakan membalas Arthur tanpa sadar.

“Arthur, aku ke kamar mandi sebentar ya” Ana berdiri, meminta ijin lalu pergi. Ana berlari kecil membuka pintu sambil menatap punggung Arthur lalu tersenyum, pipinya memerah, matanya berkaca-kaca. Arthur tahu Ana tidak pergi ke kamar mandi, hanya basa-basinya untuk menghindari suasana canggung yang semakin menjadi-jadi. Di dalam Ana hanya mondar-mandir merayakan kegembiraannya, wajahnya sumringah, bibirnnya tersenyum, berbicara sendiri “Apa itu tadi tuhan” berulang-ulang membuat jantungnya semakin bedebar kencang. Sampai bunyi langkah kaki Arthur yang mendekati pintu, Ana berpura-pura menutup pintu kamar mandi dengan keras untuk menimbulkan bunyi, ketika Arthur tepat membuka pintu rumah Ana.

“Ana?,..Ana?” Arthur masuk, melangkah pelan sambil memandangi perabotan rumah Ana. Berhenti pada satu foto dengan frame hitam didekat piano hitam. Arthur memandanginya beberapa detik hingga Ana keluar dari kepura-puraanya lalu menghampiri Arthur yang berdiri di depan piano hitam
.
“Maaf Arthur aku lama ya?” Ana menatap mata Arthur dari samping.

“Siapa disamping ayahmu, itu?” Arthur membalas tatapan Ana sambil menunjuk foto yang ada didepannya.

“Oh itu, itu ibuku Arthur, meninggal dalam kecelakaan ketika umurku 6 bulan” Arthur terdiam sejenak, Arthur ingat cerita ibunya tentang ibu Ana malam itu.

“Hey, Arthur. kenapa kamu diam?” Ana bertanya sambil memegang pundak Arthur.

“Ibumu terlihat cantik sepertimu, Ana. Aku bisa melihat kelembutan dari sorot matanya, kehangatan dari senyumannya” mata Arthur berkaca-kaca.

“Mulai deh, puitisnya keluar. Terus aku gimana?” Ana sebal, duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Arthur berdiri..

“Aku tidak bercanda, Ana. Aku hanya memuji, kenapa kamu jadi cemburu gitu?” Arthur menghampiri Ana duduk di ujung sofa yang sama.

“Eh, eh, eh.. siapa yang cemburu, kamu terlalu pede, Arthur”

“Kamu tidak pandai berbohong, Ana”

Arthur dan Ana menghabiskan pagi bersama, sesekali memainkan piano dan bernyanyi bersama. Menunggu Prof. Uru yang masih belum datang. Bercerita tentang masa kecilnya dulu. Sesekali Arthur berfikir untuk menceritkan tentang Ibu Ana yang diceritakan ibunya tempo hari, tapi niat itu urung dilakukan untuk menjaga suasana tetap nyaman. Arthur takut Ana jadi membencinya karena menyembunyikan sesuatu tentang ibu Ana.

Telefon rumah Ana berdering, Ana mengangkatnya setelah dering ke dua. Ayahnya memberi kabar akan pulang dalam satu jam. Ana menyambut kabar itu dengan antusias, Arthur tersenyum bahagia karena tujuannya kerumah Ana untuk menemui Prof. Uru sebentar lagi akan terpenuhi.


(Bersambung)

Friday, April 24, 2015

ARTHUR (Episode 6)

Arthur dan Ana duduk semakin dekat, seperti ada medan magnet diantaranya. Arthur mengambil biskuit kelapa dan dipegangnya ditangan kiri, Arthur memakannya beberapa. Arthur cerdik, dia sengaja menyingkirkan biskuit kelapa itu agar tidak ada lagi jarak antara dia dan Ana.

“Apa yang sedang kamu cari Arthur?” Ana bertanya. Lautan yang dipenuhi dengan ombak besar berubah menjadi tenang, suara angin nampak jelas bertabrakan dengan pohon-pohon kelapa.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Ah, mukamu tidak bisa membohongiku, Arthur. Kamu tidak pandai berbohong, kamu ingin menemui ayahku kan?. Apalagi kalau bukan ada sesuatu yang ingin kamu cari dari ayahku?” Ana mengmbil biskuit kelapa yang sudah dimakan setengahnya ditangan Arthur.

“Kamu memang satu-satunya orang yang selalu bisa menebak tentangku” Arthur tertawa, merasa bangga mempunyai teman seperti Ana. “Aku ingin mencari informasi dari ayahmu tentang kematian ayahku, Ana” Arthur menatap lembut mata Ana.
“Apalagi yang ingin kamu cari, Arthur? bukankah para Anei sudah pernah menjelaskan tentang kematian ayahmu?” Ana menolak tatapan lembut Arthur.
“Ada yang mengganggu pikiranku, Ana. Semalam aku bermimpi tentang ayahku. Di mimpi itu semua nampak jelas, seperti nyata. Seperti ada pesan yang ingin disampaikan ayahku. Aku ingin mencaritahu apa maksud mimpi itu, Ana.”

“Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah kamu mengetahui semua tentang kematian ayahmu, Arthur?” Ana menatap lautan luas. Mencoba menghindar dari tatapan Arthur. Ana tidak pernah kuat berlama-lama menatap mata Arthur. Hatinya selalu berdebar setiap Arthur mentapnya.

“Aku ingin menuntut kematian ayahku, aku yakin ayahku mati bukan karena usianya yang sudah tua, pasti ada sesuatu yang disembunyikan para Anei dariku.”Arthur mendekati Ana, kini tidak ada lagi jarak diantara kedunya, paha dan bahunya bertemu. Ana merasa canggung dengan situasi yang dia hadapi sekarang, Arthur benar-benar mentapnya dari dekat meski Ana tidak membalas tatapan Arthur. Jantung Ana berdebar keras, nafasnya tidak beraturan, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Ana tidak bisa menghindar, dia tidak mungkin, dia tidak ingin salah bertingkah di hadapan Arthur.

“Arthur, kamu tidak perlu cari tahu sejauh itu, kamu masih muda, nyawamu bisa terancam” jemari Ana saling beradu, matanya menatap gambar di baju Arthur..
“Kamu tidak perlu khawatir nyawaku, Ana. Aku akan baik-baik saja, aku akan bertanya pada ayahmu, cara masuk ke Balai Kota dengan aman, tanpa ada curiga dari penjaga” Arthur melingkarkan tanganya ke pundak Ana.

“Kamu tidak kasihan dengan ibumu Arthur?, aku yakin kamu belum bilang ibumu kan?” Ana menjadikan pundak Arthur sebagai bantalnya, moment ini yang selalu di inginkan Ana sejak lama. Arthur membenarkan letak duduknya, membuat Ana melingkarkan tanganya pada punggung Arthur.
“Setelah ini, aku akan memberitahu ibuku, kamu tidak usah khawatir Ana, kamu terlalu romantis untuk bersikap khawatir padaku” Arthur tertawa kecil, tangannya mengusap pundak Ana.. Pipi Ana memerah belum pernah dia sedekat ini dengan Arthur, terakhir dia dan Arthur tidur bersama dirumah Ana, itu pun 15 tahun yang lalu ketika Ana dan Arthur masih sangat kecil, hanya sebatas takut tidur sendirian karena ditinggal kerja orang tuanya.”Lalu, apakah kamu mau ikut mencari tahu bersamaku, Ana?” Arthur bertanya, tatapannya nampak serius, mata Ana melirik menatap Arthur yang menunggu jawabannya.

“Aku belum bisa jawab, tapi asalkan bersamamu aku tidak bisa menolak ajakanmu, Arthur” Arthur dan Ana melepaskan situasi yang tadi mereka ciptakan, kini mereka duduk seperti biasa, saling tersenyum dan menatap, Arthur tidak menjawab perkataan Ana. Tangan mereka memegang erat ujung kursi. Arthur mendekati wajah Ana, hidung dan dahi keduanya bersentuhan, saling beradu, mereka berdua tertawa. Arthur masih belum menjawab perkataan Ana, sampai Ana bertanya kenapa Arthur diam. Arthur hanya tersenyum, senyuman khas yang dimimpikan Ana setiap malam. Arthur menciumnya membuat mata Ana terpejam..


(Bersambung)

Saturday, April 18, 2015

Review Film Bulan diatas Kuburan

Bulan diatas Kuburan, Film Remake berjudul sama karya Asrul Sani di tahun 1973.  Kisah yang diadaptasi dari sajak karya Sitor Situmorang ini menceritakan kisah dua pemuda Samosir yang merantau ke ibu kota. Sahat (Rio Dewanto) dan Tigor (Donny Alamsyah). Sebagai versi baru, BULAN DI ATAS KUBURAN  menyuguhkan kwalitas yang lebih istimewa untuk para penontonnya.

Saya bisa merasakan bahwa Edo WF Sitanggang yang menjadi Sutradara film ini menggarap film ini dengan penuh perasaan, kecintaannya terhadap bapaknya menjadi alasan film “Bulan diatas Kuburan” hadir lagi di tahun ini. Keindahan tanah Samosir, musik yang dihadirkan Vicky Sianipar, dan kritik sosial yang dihadrikan di film ini menurut saya menjadi nilai lebih untuk film ini.
Saya kagum dengan Sinematografi dan musik dalam film ini, musik batak menjadi raja di film ini, saya bisa merasakan kedalaman lirik-liriknya dengan membandingkan suasana hati 3 sahabat yang merantau ke Jakarta.

Meskipun Akting Rio Dewanto agak tidak konsisten di film ini, kadang terlihat bagus, kadang terlihat kurang bagus, kadang membuat saya kagum dan kadang membuat saya merasa melihat sesuatu yang kurang dari akting Rio Dewanto. Adegan marah Sahat terhadap Mona (Atiqah Hasiholan) salah satu akting Rio yang menurut saya keren dengan tambahan adegan menarik dasi dan dengan raut muka yang pas dan tidak berlebihan.

Saya tidak mengomentari banyak tentang akting aktor senior di film ini seperti Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy. Mereka berdua membawakan perannya dengan sangat baik pas dan dapat dinikmati utuh tanpa mencari kekurangan dari akting mereka, hanya saja saya kurang bisa menikmati akting Ria Irawan yang menurut saya agak kurang berhasil membawakan tokoh Istri “Sabar” tapi hal itu tidak menjadi kekurangan dalam film ini. Kekurangannya hanya satu menurut saya dan mungkin hanya saya saja yang memikirkan hal ini : Yaitu adik Mona yang hamil, yang muncul pada awal film ini lalu tidak diceritakan lagi. Lucu memang pikiran saya..

Satu lagi kelebihan film ini, akting dari Andre Hehanusa, meskipun baru pertama kali dia main film, aktingnya sudah menggelegar saya seperti melihat preman gedongan di dunia nyata. Di film ini Saya lebih suka akting Donny Alamsyah, entah kenapa. Tapi saya suka, Aura kesedihan yang terpancar dari Tigor juga bisa saya rasakan. Penggambaran kesedihan tigor atas kematian Sabar dan kesdihan Sahat atas kematian dua orang sahabatnya sangat jelas tersampaikan. Tapi maaf, Saya tidak mau mengomentari akting dari Atiqah Hasiholan kecantikannya menghalangi penilaian saya terhadapnya. Raut muka jatuh cinta seorang Wanita bisa dilihat pada akting Atiqah, sangat terlihat. Dan pasti tidak ada tantangan yang berat untuk Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan menjadi pasangan dalam film ini.

Yang Membunuh manusia adalah kerakusan dan ketidakpedulian….Itulah kawah-kawah sesungguhnya, gunung-gunug berapi yang sesungguhnya tinggal di dalam diri manusia.. *Sahat (Rio Dewanto)


Overall saya memberi nilai 8 dari 10 untuk film “Bulan diatas Kuburan” dan jika saya menjadi juri penghargaan film. Bulan diatas Kuburan akan masuk dibeberapa Nominasi. Seperti : Pemeran pendukung pria terbaik (Tio Pakusadewo), Sutradara terbaik (Edo WF Sitanggang), Soundtrack film terbaik, Sinematografi terbaik, Penata Musik terbaik, Aktor terbaik (Rio Dewanto) dan Naskah adaptasi terbaik..Sekian, Bangga Film Indonesia, Ayo Nonton Film Indonesia.. Horassss!!

Friday, April 17, 2015

ARTHUR (Episode 5)

Pagi ini Arthur berniat pergi ke rumah Ana di lepas pantai Nanoi. Mimpinya semalam menggugahnya untuk mencari kebenaran tentang ayahnya. Arthur sengaja pergi kerumah Ana untuk menemui Prof. Uru dan bertanya tentang ayahnya. Ibu Arthur belum bangun dari tempat tidurnya, ini hari minggu. Ibunya bebas tidur sampai kapanpun asal tidak diganggu oleh siapapun termasuk Arthur.

Arthur Masih duduk dibangkunya, melihat petugas loper koran yang mengendarai sepeda melemparkan koran ke pintu rumah Arthur. Koran dikota Nanoi diberikan secara Cuma-Cuma oleh pemerintah kota. Tidak pernah ada berita buruk di koran, pemerintah kota selalu mengisi berita tentang kemajuan Kota diberbagai sektor, meskipun terkadang yang diberitakan tidak pernah ada faktanya. Mungkin itu tujuan kenapa koran di Kota Nanoi diberikan secara Cuma-Cuma, sebagai alat pencitraan atau alat provokasi publik. Arthur tidak beranjak mengambil koran itu. Arthur tidak pernah membaca koran Kota. Koran itu hanya dibaca sekali oleh ibunya lalu dibuang atau terkadang menjadi pembungkus makanan.

Setelah bersiap-siap Arthur segera beranjak pergi, di tuliskannya pesan untuk ibunya di selembar kertas putih yang berisi: “Bu Arthur pergi kerumah Ana dulu”. Diselipkannya di sela-sela jari ibunya.. 
Arthur pergi jalan kaki sesekali melambaikan jempolnya untuk meminta tumpangan. Musim kemarau telah lewat, udara panas di Kota Nanoi berubah dingin dan sejuk.. Pemandangan pagi di Kota Nanoi selalu indah memberikan rasa nyaman pada setiap orang yang lewat, belum banyak gedung-gedung pencakar langit yang terlihat. Hanya ada beberapa gedung pemerintahan yang tidak lebih dari 4 lantai..

Jarak rumah Arthur dan Ana lumayan jauh, menempuh waktu sekitar setengah jam naik kendaraan, bisa cukup lama jika Arthur jalan kaki.. Setelah beberapa menit Arthur jalan kaki. Arthur melambaikan tangan ke arah mobil pick-up yang mengangkut sayur mayur, diberhentikannya mobil itu lalu Arthur bertanya pada sopir kemana arah pick-up itu pergi. Arthur naik pertanda pick-up searah dengan rumah Ana.

Setelah setengah jam perjalanan, melewati hamparan kebun sayur dan pohon-pohon kelapa, mobil pick-up itu menurunkan Arthur di pinggir jalan besar lalu pergi meninggalkan kepulan asap knalpot yang bau dan berwarna hitam pekat. Arthur membalikan badan, diam, Menatap jalan menuju rumah Ana, tiba-tiba Arthur larut dalam kenangan masa kecilnya bersama Ana. Tempat Arthur dan Ana bermain perak umpet masih sama, dipinggirnya masih menjulang pohon-pohon kelapa. Arthur menyusuri jalan itu, Arthur melihat sosoknya bermain petak umpet bersama Ana dan teman masa kecilnya yang lain. Matanya berkaca-kaca menatap langit-langit dan kelapa yang ijo royo-royo, bibirnya tersenyum lebar. Diujung jalan itu ombak meraung-raung, angin menggoyangkan daun-daun kelapa, pasir pantai yang halus sudah bisa dirasakan kaki Arthur ,.Arthur menghirup nafas panjang, matanya menyapu laut lalu melihat rumah Ana yang menghadap langsung ke arah Laut.

Arthur mendekati rumah Ana, rumah dengan desain klasik dengan dinding batu bata yang agak kecokelatan,  dan cerobong asap yang mulai menghitam di bagian atas. Ayunan kayu di depan rumahnya bergoyang seperti baru saja dipakai orang. Tidak banyak orang berlalu lalang hingga Arthur melihat Ana melambaikan tangan penuh semangat. Arthur enggan mendekat, pakaian renang yang dipakai Ana membuat Arthur merinding, kulitnya yang putih halus membuat mata Arthur melotot tidak karuan. Ana menyambut Arthur hangat, memeluk Arthur seperti lama tak bertemu padahal baru kemarin dia menghantarkan Arthur ke penimbangan.

“Jadi, kamu mengiyakan perkataan ibumu untuk menemaniku sesekali?” Tanya Ana melepaskan pelukannya.
“Hahaha, aku tidak mau menjawab pertanyaanmu sebelum kamu mengganti pakaianmu, Ana.”
“Ah, kamu masih saja sama seperti dulu, selalu berlebihan menghormati wanita. Santai sajalah, aku ini kan temamu, anggap seperti saudara sendiri” Ana mengedipkan mata.
“Kamu Nampak jelek dengan pakaian seperti itu Ana, cepatlah ganti. Aku lebih suka melihatmu mengenakkan blus warna putih.”
“Okelah Arthur, aku masuk dulu kamu jangan ikutan ya. Duduk di situ saja, tunggu aku” Ana menunjuk kursi kayu yang menghadap laut didepan rumahnya.

Ana memang aneh, hanya dengan Arthur dia bisa bersikap santai dan nakal. Mungkin karena Arthur teman masa kecilnya. Ana sudah menganggap Arthur seperti keluarganya. Tidak ada yang berubah di tempat ini, tetap seperti dulu, tempat yang hangat untuk berbincang. Arthur duduk, menunggu Ana dan berharap Prof Uru ada dirumah.

“Arthur” Ana keluar dari rumahnya membawa kelapa muda dan biskuit kelapa kesukaan Ana. “Hey Ana, nah gini dong kamu jadi kelihatan cantik kan kalo gini” Ana memberikan Kelapa muda pada Arthur lalu duduk disebelah Arthur. Biskuit kelapa menjadi pembatas Ana dan Arthur.

“Aku mencari ayahmu, Ana. Dia ada dirumah?”
“Jadi kamu mencari ayahku? Aku kira kamu kesini mencariku, Arthur..Ayahku sudah tiga hari ini tidak pulang, ayah bilang masih banyak pekerjaan di Balai Kota. Memangnya kenapa, Arthur?”
“Aku ingin bertemu ayahmu, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Tapi kalo tidak ada, maksudku kesini jadi berubah untuk menemuimu, Ana” Kontak mata yang diberikan Arthur sangat dalam membuat Ana menjadi salah tingkah. Tingkahnya memberikan tanda kesukaannya pada Arthur, perasaan masa kecilnya terhadap Arthur masih sama. Ana membalas pergerakan mata Arhtur, dengan senyuman yang selalu dirindukan Arthur.


(Bersambung)