Sunday, September 20, 2020

Popy.

 

Apa kabar? Mimpinya masih sama atau berubah?

Gak kerasa, Pop. Seperti biasa entah kamu baca atau enggak, aku gak tahu, dan kayaknya gak peduli juga. Udah lima tahun lebih sejak terakhir kita ketemu dan ngobrol, terus aku mikir ternyata udah selama dan sejauh itu. Udah selama itu juga aku gak mencoba menghubungimu sama sekali. Iya aku selalu percaya kalo itu pilihan karena kamu juga memilih begitu. Ya, tapi gapapa, ternyata kalo dipikir gak semenakutkan itu. Hasilnya sampe 3 novel, Pop. Tetep aja aku harus bilang terima kasih, atas segala pengalaman yang sempat mampir, cerita-cerita besar dan mimpi-mimpi gila yang keluar dari kepalamu.

Sejak kita ketemu di Starbucks Citraland itu, aku baru ke sana lagi dua tahun kemudian, dan itu pun cuma sekali aja; ketemu orang, yang bakal jadi episode dua setelah ini rilis. Nanti aku ceritain, Pop. Iya, setelah lima tahun aku baru sekali ke sana, eh dua kali, satunya waktu ngerjain tugas kuliah, tapi gak lama, Cuma sebentar ya mungkin karena kita sama-sama seneng kalo dapet tugas yang menantang, kelarnya malah cepet, dan waktu itu aku di luar belum berani duduk di dalem, apalagi di deket bar waktu kita ngobrol dan duduk di sana lebih dari enam jam.

Memorinya masih basah, Pop. Tapi ya gapapa, aku juga udah gak merasakan sentimental apapun. Seneng aja akhirnya bisa melewati segalanya dengan baik, meski harus jatuh bangun, sedih, ngerasa sendiri, tapi aku selalu inget kata-katamu yang memang selalu powerful itu, entah kamu inget apa enggak, tapi aku inget betul, kalo kita semua—manusia ya udah sendiri sejak di dalam kandungan jadi ya harus terbiasa, tapi waktu itu aku bilang kalo aku kembar, jadi aku gak sendiri di dalam kandungan, terus kita ketawa sama logika di baliknya. Tapi aku ngerti point obrolanmu. Inget itu aja aku masih ketawa, pas nulis ini juga senyum-senyum.

Udah pernah kubilang, kalo kamu risih aku cuma bisa minta maaf, Pop. Gak bisa apa-apa lagi, ya mau gimana lagi, cara orang untuk menyembuhkan dirinya sendiri beda-beda, persis katamu. Tapi ketika aku mikir ulang, aku termasuk buru-buru untuk secara gak langsung bilang tertarik sama kamu. Itu, loh, waktu ketemu kedua kalinya di tempat yang sama, kamu sama si ketua rohis ternyata udah duduk di sana, baru dari pameran buku katamu. Aku sempet semacam jeles, hahaha, pikirku karena kita sama-sama tahu, seisi sekolah sama-sama tahu kalo ketua rohis ini pinternya setengah mati, ya aku ciut lah. Seleramu ngeri. Ngeri in a good way ya.

Anyway, dalam waktu lima tahun itu aku gak bener-bener diem dan menerima kenyataan gitu aja. Aku berusaha untuk berkomunikasi lagi tapi gak secara langsung, paling enggak kamu bisa notice kalo aku bikin sesuatu, kalo aku masih spontanius, gila kalo katamu. Intinya aku tahu apa yang kamu lakuin untuk bikin dunia ini paling tidak jadi lebih baik dari tanganmu, untuk yang satu itu aku sepenuhnya bangga.

Gila ya, waktu itu aku kaget tiba-tiba kamu komen di instragamku setelah baca tulisan di blogku, dan kamu bilang suka, pengen nulis bareng. Akhirnya berlanjut di DM dan whatsapp, aku tuh kayak di jatuhin harta karun, bener-bener. Waktu itu aku masih diem-diem aja karena gak bilang kalo sebelum kamu DM pun aku udah merhatiin kamu tiap balik sekolah. Seneng aja rasanya gitu, waktu itu meskipun cuma bisa ngobrol sebentar di bangku deket ruang-ruang sekolah. Tapi dari situ aku paham, kamu tuh orang yang punya integritas, kalo banyak orang baru sadar kalo makin dewasa temen mereka makin dikit karena kefilter. Kamu—kita udah sadar sejak masih sekolah, gak suka sama yang basa-basi atau yang gak bikin kita secara pemikiran naik level. Tapi ya tetep berteman, biar gak dibilang aneh.

Fyi aja, Pop. Waktu aku nulis novel pertama itu rasanya healing banget. Menenangkan dan menyenangkan, aku berlagak jadi tokoh utama yang namanya Mara, dan dari imajinasi itu aku merasa seneng aja, gak tahu ada perasaan dan psikologis yang nyaman dan gak seperti biasanya. Itu somehow membentuk aku, aku gak berubah, aku masih sama. Orang yang sensitif, ya orang bilang baperan, kamu tahu betul kalo aku sebenernya introvert, gak yang seperti dibilang orang-orang. Aku belajar cuek juga dari kamu itu, Pop. Ya meskipun kadang menyakitkan karena aku gak terbiasa cuek. Hahaha. Emang anaknya jamet aja aku tuh.

Tapi gimana ya kabarmu sekarang, penasaran aku. Semoga sehat-sehat aja ya, semoga yang dulu sempat kamu ceritain, yang bikin kamu takut, gak bener-bener terjadi. Aku selalu berdoa begitu sejak tahu bagian dari ceritamu itu, yang gak pernah mau kamu ceritain ke temen-temen kelasmu. Ya pokoknya semoga segalanya sesuai jalurnya ya, Pop. Semangat terus, kejar terus yang memang jadi pengharapanmu. Aamiin lah pokoknya.

Aku gak mau cerita banyak sebetulnya, tapi aku baru sadar udah sampe sini tulisannya, hahaha. Suka gitu aku tuh, gak sadar, ngalir aja tiba-tiba udah sebanyak ini. Tapi Pop, kamu inget gak sih waktu malem-malem di sekolah lagi hujan, kebetulan kita sama-sama gak bisa balik, kita ngobrolin banyak hal. Aku masih inget kamu pake tas merah Manchester United. Terus dulu aku pake nama “Sophie” untuk menyembunyikan identitasmu setiap aku nulis tentang kamu di blog. Terus temen-temenku yang memang suka baca blogku bertanya-tanya Sophie ini siapa. Hahaha. Kadang suka ketawa-ketawa sendiri kalo inget waktu itu. Ya meskipun akhirnya semuanya tahu. Tapi gapapa, ya itu bagian dari cerita hidup yang memang sudah ada pada tempat dan garisnya, aku cuma perlu melewatinya baik-baik.

Kalo kamu tanya kabarku, kabarku lumayan baik, Pop. Hahaha meskipun gak tanya ya whatever lah, pokoknya lumayan baik. Mimpiku yang waktu itu sempet aku omongin untuk bikin minimal lima novel sebelum umur 25 sebentar lagi tercapai. Tulisan ini jadi bagian pengantarnya sebelum nanti bener-bener rilis, sekaligus nabung dulu hahaha, karena saya bukan sultan atau rafathar jadi tetep perlu nabung buat menghidupkan karya yang sekarang masih ada di kepala dan jadi draft-draft.

Ohiya, aku gak pernah ke coffee toffee yang kamu rekomendasiin di Tembalang itu, Pop. Aku pernah sempat mau ke sana tapi udah keburu tutup. Jadi ya gak pernah ke sana, paling-paling kalo lagi pengen inget momen-momen itu aku tinggal baca Dhanurveda atau Tentang Anna. Ya aku udah biasa aja, gak ada perasaan sentimental yang tertinggal. Udah bener-bener kayak bayi baru lahir yang gak tahu apa-apa. Seneng aja rasanya, ternyata begini situasinya, ternyata seperti itu move on, ikhlas, ketawain aja, Pop. Sama kayak kata-kata kita waktu itu. Eh kamu masih inget gak ya kira-kira.  Yaudahlah ya, udah lama juga. Gak penting. Hahaha.

Udah ah, Pop, gitu aja. Ohiya di Netflix banyak sitkom yang bagus-bagus. Tonton gih, nyenengin, aku lagi nonton Modern Family. Dah gitu aja, gak berhenti-berhenti malah, makasi, Popy. Sehat-sehat ya, baik-baik juga. Aamiin

 

Semarang, 21 September 2020

#PeopleSeries adalah pengantar untuk novel kelimaku

Rilis setiap senin. Bercerita tentang orang-orang yang memang pengen aku ceritain.

Bisa siapa aja.

Saturday, September 19, 2020

aku selalu menjadi pengalaman pertama;

 

Makin lama aku makin sadar, tidak ada yang benar-benar memegang teguh ucapannya. Mei lalu akhirnya aku bertemu seorang perempuan, yang sudah delapan bulan sebelumnya membuatku jatuh hati. Saat pertemuan kali pertama itu, ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah meninggalkan seseorang yang sedang dekat dengan dirinya, ia mengaku selalu dirinya yang disakiti atau ditinggalkan. Satu bulan kemudian ia justru melakukan hal sebaliknya, ia lakukan itu untuk pertama kalinya. Ia melakukan itu padaku.

Dan ketika aku berpikir ulang, ternyata bukan cuma dia yang melanggar ucapannya sendiri. Aku seharusnya tidak kaget; karena sebelumnya sudah lebih banyak perempuan yang melakukan itu padaku. Untuk hal ini, aku selalu menjadi pengalaman pertama bagi orang lain.


Semarang, 19 September 2020

Tuesday, September 15, 2020

kita; selalu kembali ke tempat semula.

 

Kita mungkin sama-sama sering membaca atau mendengar sebuah kalimat yang terus berulang kali banyak orang katakan, banyak orang tulis. Bahwa ketika kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, kita juga harus berlaku baik. Berulang kali aku memikirkan untuk memberikan kontra-argumen dari pernyataan itu. Karena dalam hidupku, aku seringkali menemukan seseorang yang memang terlahir dengan sifat suka seenaknya yang menempel pada tubuhnya mungkin sejak dalam kandungan. Orang-orang ini entah hidup dan merasa bahwa segala yang ada di sekelilingnya harus tunduk pada aturan mainnya.

Aku seringkali melihat, menemukan, bahkan merasakan bahwa seseorang tidak mengingat kebaikan-kebaikan (meski kecil) yang diberikan orang lain pada dirinya. Jika kita memegang teguh dengan pernyataan yang pertama; jika kita berlaku baik, berlaku adil pada orang lain, seharusnya kita mendapatkan perlakuan sejenis dari orang itu. Kalau detik ini kamu bilang itu artinya tidak ikhlas atau kita mengharap balasan, tunggu dulu. Simpan pernyataanmu, karena kita sedang akan membedah pernyataan pertama.

Mungkin kamu juga pernah merasakan, berbuat baik pada satu orang, let’s say kita bilang Si A. Kita selalu ada saat Si A merengek, membutuhkanmu, meski sekadar bercerita atau memintamu mendengarkannya. Namun Si A menganggap kamu hanya kutu di rambutnya, antara mengganggu atau dibunuh langsung di awal cerita. Si A tidak pernah menganggapmu ada, bahkan ia tidak mengingat kebaikan-kebaikan kecilmu, yang mungkin sangat mempengaruhi kesehatan mentalnya, bahkan bisa kubilang sikap dan perbuatan baikmu itu mampu menyelamatkannya dari percobaan bunuh diri.

Orang-orang yang berlaku tidak adil pada sesamanya, mungkin memang sejak lahir punya ego problem yang besar dan tidak terkendali. Alih-alih mengingat kebaikan dengan baik, ia justru melemparmu saat kamu benar-benar membutuhkannya. Di momen ini mungkin kamu biasa saja, karena kamu pemaaf, dan kamu merasa memaafkan membuat tubuh dan jiwamu tenang. Tapi kadang kamu jengkel juga, karena Si A benar-benar hidup seenaknya, ia merasa manusia lain tidak memiliki perasaan, sehingga bebas ia perlakukan seenaknya. Dan menganggap asal perasaanku baik-baik saja, it’s oke. Tidak peduli orang lain.

Beberapa tahun belakangan aku bertarung pada perasaan-perasaan ini, bagaimana jika ada banyak Si A dalam hidupmu. Dan kamu kewalahan mekanisme koping apa yang perlu kamu gunakan untuk setidaknya membuat dirimu tenang, dan tidak meluap-luap. Ada sebuah argumen yang bilang bahwa ketika kamu dewasa ada baiknya semua masalah hidupmu dipendam saja. Tapi coba pikirkan jika masalah hidupmu adalah sebuah debu, yang kamu pendam di dalam sebuah karpet, jika debu itu terus bertambah banyak, karpet itu akan menciptakan bentuk yang tidak rata lagi, debu-debu itu akan menonjol. Ketika itu terjadi kemungkinannya hanya ada dua, orang tersandung, atau orang membersihkannya. Masalahmu tetap tidak selesai meski dipendam sekalipun. Orang yang tersandung akan kesakitan, yang membersihkannya tidak akan peduli selain karpet itu menjadi bersih lagi.

Aku sering menghapus banyak hal saat merasakan amarah yang tumbuh di kepala, aku mematikan notifikasi, aku memblokir banyak orang meski selanjutnya aku akan membuka blokir itu lagi. Atau berhenti mengikutinya di sosial media, meski aku akan kembali mengikutinya setelah amarah itu mereda. Seringkali aku melakukannya secara random. Karena jika aku melakukannya dengan niat hanya pada satu orang, itu berarti amarahku sudah benar-benar meluap karena hanya dipendam setelah sekian lama. Apalagi orang yang membuatmu marah telah berulang kali membuatmu kecewa namun kamu tetap memaafkannya karena kamu tahu kamu tetap perlu bersikap dan berlaku adil juga baik meski orang itu tidak.

Banyak orang yang melakukan itu padaku. Mereka menceritakan segalanya yang membuat pikirannya hampir gila, karena orang lain akan menghakiminya, sedang mereka percaya jika cerita itu diungkapkan padaku, aku tidak akan sama sekali memberi penghakiman, alih-alih memberikan tempat aman. Sayangnya banyak orang memang terlahir dengan sifat keras kepala dan seenaknya, meski berulang kali aku meluapkan emosiku entah secara terang-terangan atau tersirat orang-orang itu akan mengulangi hal yang sama.

Dan aku akan tetap menerimanya karena percaya dengan pernyataan di awal tadi. Bahwa untuk mendapatkan perlakuan baik kita juga harus berbuat baik. Lantas bagaimana jika kita telah berulang kali berlaku dan bersikap baik tapi tidak mendapatkannya seperti yang kita beri ke orang-orang?

Emosi? Mungkin. Tapi untuk orang-orang yang pintar, keadaan itu akan membuatmu belajar mengendalikan emosimu. Belajar bahwa orang-orang bajingan nan gila jelas ada dan hidup di sekitarmu. Orang-orang ini tidak tahu terima kasih, sama sekali tidak memberi belas kasihan pada orang lain. Aturan dalam hidupnya adalah asal perasaan hatinya baik, ia tidak peduli dengan perasaan orang lain. Namun saat perasaan hatinya kalang-kabut, ia akan mati-matian kembali dan menganggapmu ada sebagai tempat bercerita paling aman. Namun kamu akan tahu apa yang akan selanjutnya terjadi. Kita; selalu kembali ke tempat semula.

Belakangan aku marah pada banyak hal, dan akhirnya meluap, meski luapanku berada pada tempatnya, aku tidak meluapkan pada orang lain. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana respon orang. Aku seringkali diam ketika menulis untuk seseorang, karena aku takut dengan segala respon yang akan muncul. Aku butuh tiga tahun untuk memberi tahu tiga novelku ditulis untuk siapa, butuh setahun untuk mendamaikan diri sendiri bahwa novel keempatku ditulis untuk siapa. Kesamaan dari keempatnya adalah orang-orang yang kumaksud tidak pernah sama sekali membacanya. Setidaknya itu yang aku tahu. Dan aku merasa baik-baik saja, bahwa itu bagian dari respon yang harus aku terima. Artinya orang itu juga sudah move on, dan itu juga yang perlu aku lakukan. Mengikhlaskan.

Namun bagaimana jika kamu terang-terangan memberitahu seseorang bahwa kamu pernah menulis untuk orang itu. Dan sialnya respon orang itu benar-benar menusukmu, menyakitimu, sialnya ini bukan kali pertama ia menyakitimu. Iya, aku sudah mengakomodir mungkin ia juga sedang menjalani hari yang buruk. Aku paham itu. Tapi aku tidak bisa lupa, ia melakukan ini tidak hanya sekali, dua atau tiga kali. Memori itu lebih kencang masuk ke pikiranku daripada keinginan untuk mengakomodir perasaannya.

Aku hanya ingin jujur, oleh apa yang aku rasakan. Dan tulisan-tulisan itu menurutku sama sekali tidak menyakitinya, tapi mengapa ia memilih kalimat-kalimat sebaliknya sebagai respon yang sangat menyakiti. Ya mungkin lain kali aku tidak perlu menjadi jujur, karena kita hidup di antara orang-orang yang lebih suka manipulasi. Aku merasa akan selalu kembali ke tempat semula. Karena aku hanya perlu menulis lagi untuk merasa tenang dan memaafkan perlakuannya, terlebih memaafkan diri sendiri.

Kita; manusia tidak pernah berubah. Kita sudah seperti itu sejak dilahirkan.


Semarang, 16 September 2020

Sunday, September 13, 2020

beberapa objek tidak berada pada tempatnya;

Aku selalu penasaran pada banyak hal. Termasuk apa yang dipikirkan orang-orang di kepalanya, dan setiap kali aku menaruh fokus pada seseorang, aku hampir selalu bisa menebak apa yang ada di pikirannya dan bagaimana itu akan berjalan dan memengaruhi orang itu. Entah, ini semacam gift, yang aku juga tidak memahami kapan itu menempel di tubuhku. Ini semacam kemampuan yang otomatis keluar tapi tidak bisa sengaja kukendalikan untuk keluar, selalu harus ada objek dan subjek lain yang memancing itu. Saat semua objek berada pada tempatnya, ini seperti mesin otomatis yang akan berjalan sendiri ketika tombol on dinyalakan. Dan tiap kali itu berlaku untuk satu orang aku selalu takut pada apa yang aku pikirkan untuk menjadi kenyataan, terlebih jika yang muncul adalah pikiran-pikiran dan kejadian-kejadian buruk.

Oktober tahun lalu, aku tertarik pada seseorang yang pertama kali kulihat di Instagram. Dan ini bagian yang paling kusuka; menunggu. Untuk berinteraksi dengan orang itu aku perlu menunggu sekitar tujuh bulan, untuk akhirnya berani dan bergerak mengirimkan teks padanya. Itu pun karena aku membalas sebuah story, dan lucunya itu adalah postingan tiktok. Iya, beberapa hal datang dengan cara yang tidak terduga. Tujuh bulan sebelumnya aku tertarik karena ketika aku melihat potret dirinya bersama teman-temannya, aku melihat ada cerita yang ia tanggung sendirian, dan coba ia tutupi dari orang lain, bahkan dari teman-teman terdekatnya.

Aku perlu dua hari untuk mendapatkan nomor whatsappnya, sudah kubilang; menunggu adalah skill yang tidak semua orang mampu melakukannya. Kebanyakan laki-laki akan buru-buru meminta nomor whatsapp pada setiap perempuan yang mereka temui di internet, kalo kamu perempuan dan sedang membaca ini, dan pernah digoda seorang pria di internet, kamu pasti setuju. Seolah para pria itu tidak memiliki sense of conversation yang baik. Mereka tidak pernah mampu dengan tepat dan benar menganalisis apa yang sedang terjadi, dan merespon apa yang baru saja terjadi. Dan untuk itu mungkin aku bukan salah satu dari stereotip pria yang baru saja kusebutkan.

Singkat cerita, perempuan itu memberikan nomornya, dan kami berpindah interaksi melalui whatsapp. Ini terjadi bulan mei tahun ini, saat puasa dan pandemi sudah terjadi lebih dari dua bulan. Dan dalam tujuh bulan itu aku benar-benar masih tertarik apa cerita yang ia simpan di kepalanya. Beberapa pria tidak mampu memberikan rasa aman pada seorang perempuan untuk memuntahkan semua yang ada di kepalanya. Dari banyak hal yang tidak bisa kulakukan memberikan rasa aman yang tidak banyak diberikan para pria di luar sana adalah sesuatu yang secara gratis bisa kutebar cuma-cuma. Singkat cerita kami bertemu di malam lebaran. Aku menemaninya yang tidak bisa balik ke Kalimantan karena pandemi sialan.

Ia berterima kasih, karena aku menemaninya di malam yang seharusnya menjadi malam keluarga berkumpul. Kami baru bertemu pertama kali, dan ia menceritakan segala yang membuatku tertarik dan penasaran. Dalam satu malam saja, dan aku harus menunggu selama tujuh bulan. Perempuan itu empat tahun lebih muda, dan namanya sempat kujadikan judul di beberapa postingan sebelum ini. Apa yang terjadi setelahnya adalah cerita lain, cerita sedih akibat dari rasa penasaran dan tertarikku pada perempuan ini. Iya, tetap selalu ada risiko. Dan aku menyesali itu, sudah kubilang selain menunggu, penyesalan agaknya menjadi sesuatu yang sering menempel di benakku.

Jauh sebelum itu, tahun 2018 aku bertemu seorang perempuan di sebuah coffeshop yang namanya diambil dari nama bentuk-bentuk. Sebelumnya kami saling mengikuti di twitter, dan ketertarikanku padanya dimulai dari hal-hal yang ia bagikan di twitter dan instagramnya. Aku perlu mencari banyak alasan untuk bisa bertemu dan membuka percakapan dengan perempuan ini. Aku benar-benar tertarik sekaligus penasaran apa yang ada di kepalanya, aku seperti merasakan ada objek yang hilang dan tidak berada di tempatnya, aku melihat itu dari beberapa postingan yang ia bagikan.

Singkat cerita, kami bertemu, aku beralasan menjadikannya responden tugas kuliah, sesungguhnya aku tidak peduli dengan tugas-tugas itu. Aku hanya peduli apa cerita yang akan ia bagikan, yang kemudian aku benar-benar terlena pada teduh matanya. Dan lebih dari itu, satu jam pertama ia tidak mau menceritkan apa yang sedang terjadi di hidupnya, tentu dengan cara-cara yang biasa aku pakai, tidak dengan paksaan, namun memberikan ilusi rasa aman, supaya cerita berhasil dibagikan tanpa perlu takut rahasia itu tersebar kemana-mana. Menunggu, menyesal, dan menjaga rahasia adalah keahlian yang bisa kamu percayakan padaku. Bahkan pada setiap cerita yang mampir di whatsappku, aku selalu menghapusnya setiap kali orang itu selesai dan mengucapkan terima kasih karena aku ada dan mendengar ceritanya. Aku menghapus untuk menjaga privasinya, dan aku menyimpan cerita-cerita itu di memori jangka pendekku. Aku tidak akan mengulik lagi.

Apa yang perempuan itu ceritakan adalah persoalan lain, aku tidak akan menceritakannya di sini. Tapi pada pertemuan itu aku hanya mendapatkan 50% dari rasa penasaranku. Sisanya aku mendapatkannya dua tahun kemudian. Dan kupikir jika aku tidak sabar menunggu aku akan kehilangan cerita itu, dan rasa penasaranku akan menghancurkanku pelan-pelan. Padahal perempuan ini sudah beberapa kali membuatku kecewa. Tapi untuk apa terus menyimpan dendam, kalo memaafkan bisa bikin kamu tenang. Perempuan ini beberapa kali bertanya apakah tulisanku di sini adalah tulisan yang ditunjukkan untuknya. Sialnya aku harus menjawab tidak, meski yang ia tanyakan sebetulnya tidak salah juga. Aku hanya tidak ingin membuatnya kentara sebelum tulisan ini dibuat. Iya aku butuh dua tahun, untuk memasang pecahan puzzle yang tidak pada tempatnya, dan untuk menyadari bahwa beberapa objek tidak berada pada tempatnya.

Ketertarikan, rasa penasaran, menunggu, menanggung penyesalan, dan menjaga rahasia adalah objek-objek yang aku bangun untuk mengerti dan memahami orang lain. Aku sangat terganggu jika objek-objek itu tidak berada di tempatnya. Dua perempuan tadi hanyalah contoh, yang bisa aku ambil adalah, cerita-cerita mereka justru menguatkanku, aku menemukan bahwa mekanisme koping dari setiap masalahku adalah dengan mendengarkan orang lain. Sehingga aku bisa bertukar cerita dan mensyukuri apa yang terjadi di hidupku, sekaligus menyadari bahwa ada banyak orang yang masalah hidupnya lebih kompleks dan sebetulnya mencari tempat aman untuk bercerita. Dan selagi aku bisa memberikan tempat aman itu, aku akan terus melakukannya, meskipun harus sesekali menanggung penyesalan bahwa aku harus memendam perasaanku. Supaya apa yang telah dibangun dengan rasa aman tetap menjadi aman. Karena jelas kita sama-sama tahu bahwa membangun kepercayaan bukan perkara mudah.

Ini harus aku tulis, selain karena sudah tepat pada waktunya. Tulisan ini juga menjadi salah satu objek atau pion dalam permainan catur sebelum novel kelima, novel terakhirku rilis. Aku juga akan menulis “people series,” aku akan secara terang-terangan menulis untuk nama-nama yang selama ini ada di hidupku. Dengan judul yang diambil dari nama orang itu, dan sebuah pertanyaan atau pernyataan untuk orang itu juga. Setidaknya ketika aku merasa tidak dicintai siapa-siapa aku bisa memberikan sesuatu untuk membuat orang merasa aman. Atau minimal aku bisa mengungkapkan perasaanku entah diketahui atau tidak.


Semarang, 14 September 2020

Tuesday, September 8, 2020

Tuesday, August 18, 2020

jangan menunda pertemuan;

 

Aku lagi gak enak badan, setelah bangun dan menyadari bahwa realita ideal yang kuinginkan ternyata baru sebatas mimpi pengantar tidur. Lalu satu menit kala mengumpulkan nyawa rasanya aku ingin melakukan perjalanan waktu, dan melihat realita apa yang terjadi di hidupku dalam lima tahun ke depan. Paling tidak aku memahami apa yang sudah kulakukan sehingga menjadi efek domino atas apa yang terbentuk di masa depan. Sekalipun buruk, penerimaan adalah satu-satunya jalan dari pilihan berisiko yang dijalani.

Ah, tampaknya kita suka membicarakan hal-hal baik padahal kita tidak benar-benar melakukan itu, kita sering membagikan sesuatu yang tampaknya sering kita lakukan padahal tidak, sebetulnya kita sangat menginginkan itu ada di hidup kita. Kita memproyeksikan segala sesuatu yang baik tanpa pernah benar-benar menjalaninya.

Kita jatuh cinta, kita tertarik, kita menyukai seseorang atau sesuatu yang dilakukan tanpa berkata pada diri sendiri, apakah ini benar-benar perasaan yang muncul atau sekadar rasa penasaran yang kadang mengganggu. Kita terlanjur mengucapkannya lantas kita tersadar bahwa ternyata benar, itu hanya rasa penasaran karena kegabutan kita yang tidak pernah diisi apa-apa. Kita terlanjur, dan kita tidak sama sekali merasa bersalah. Malah kita merasa tenang-tenang saja, sama sekali tidak sensitif.

Jangan pernah menunda pertemuan, untuk alasan apapun. Karena ketika kamu benar-benar tertarik pada seseorang, kamu akan memberikan waktu dan tenagamu untuk orang itu. Menunda pertemuan hanya akan menghilangkan perasaan-perasaan yang terbentuk dan akhirnya luruh tak membekas. Mungkin bagimu itu hal biasa, mungkin bagimu tak ada pengaruhnya. Lalu coba kamu pikirkan baik-baik bagaimana dengan perasaan orang tersebut.

Kau janjikan pertemuan, namun kau gagalkan tanpa ampun. Kau memintanya untuk memberikan waktu sekadar untuk mendengar kamu bercerita, lalu kau saat itu juga tidak ada kabar, atau tidak serius menanggapi balasannya, padahal kamu yang meminta. Bagaimana jika orang itu masih terus menunggu dan kamu malah asik dengan yang lainnya. Dan bagaimana jika orang itu merasakannya berjuta-juta kali, dan kamu hanya orang ke sejuta kalinya yang memperlakukan dirinya seperti sampah.

Tidakkah kamu berpikir mungkin orang itu akan merasa dirinya tidak pantas untuk siapa-siapa, lalu bagaimana jika ia terus berjuang dari pikiran bodoh untuk mengakhiri hidup, tapi kehadiranmu justru menguatkan niatnya itu? Apakah kamu masih ingin keras kepala, arogan, dan egois. Bahwa jika kamu tidak bisa mengharagai waktu orang lain, barangkali kamu juga tidak bisa mengharagai segala bentuk kehidupan di dunia.

Apakah kamu tidak malu pada seorang yang masih bersikap baik padamu, padahal kamu tidak sekali dua kali mengecewakannya? Membuatnya sedih? Atau sampai mebuatnya marah. Dan lebih parahnya lagi kau seenaknya, tidak tahu terima kasih, tidak sempat minta maaf. Atau jika pun kamu memaafkan, kamu akan mengulanginya lagi dan lagi, seolah permintaan maaf itu hanya angin lewat dengan debu-debu kotor yang beterbangan.

Tidakkah kamu malu jika orang itu masih berbuat baik, tanpa merasa dendam. Ia pemaaf dan kamu masih seenaknya, merasa semua orang berlaku jahat dan tidak adil padamu. Padahal kamu juga begitu. Jangan menunda pertemuan untuk meminta maaf, jangan menunda pertemuan untuk jatuh cinta, jangan menunda pertemuan untuk saling memuji, jangan menunda pertemuan untuk berteman. Pertemuan adalah satu-satunya jalan untuk mengenal, untuk mengasihi, untuk saling mencintai. Jika dengan saling bertatapan saja kamu enggan, jangan terus-terusan meminta tolong, datang saat butuh, dan jadi bajingan saat merasa aman.

Jangan sampai penyesalan paling buruk harus kamu rasakan, kehilangan adalah sifat yang paling sulit diterima jiwa manusia. Saat kita bicara tentang kehilangan, kamu baru akan merasakan betapa jahatnya kamu, bukan hanya pada diri sendiri tapi juga orang lain. Menunda pertemuan hanya akan mendatangkan penyesalan. Apalagi jika kamu hanya memberikan janji iya, namun sama sekali tidak berniat menemuinya, berjumpa, bertemu. Jaga sikapmu, jaga mulutmu. Karena itu adalah cerminan dari siapa temanmu, siapa keluargamu, bahkan siapa jodohmu.

Jangan sampai dengan sifat seenakmu itu, kamu menghilangkan orang-orang baik dari dunia, dari kehidupanmu, dari lingkunganmu. Karena mendapatkan perlakuan baik dari orang lain adalah sebuah privilege, membalasanya dengan perlakuan baik juga bagian dari privilege, karena tidak semua orang mampu. Kebanyakan dari kita berkekspektasi untuk mendapat balasan dari kebaikan yang kita lakukan.

Tidakkah kamu mampu untuk sekadar berbuat baik? Bahwa dengan perbuatan baik itu, kamu merasa tenang dan nyaman untuk menjalani hari-hari yang mungkin buruk. Tidakkah perbuatan baik adalah hal paling mudah yang mungkin bisa kita lakukan. Kenapa kita tidak bisa sekadar berbuat baik, kenapa orang lain tampaknya mudah melakukannya tapi kita tidak. Atau jangan-jangan kita terlalu berharap dan berekspektasi untuk mendapatkan perlakuan baik tanpa memberikan itu pada orang lain. Kita masih egois, arogan, dan keras kepala. Tanpa menyadari bahwa mungkin kita merasakan itu semua, ya karena kita sendiri

Jangan pernah menunda pertemuan, karena sebelum itu dilakukan kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang lain atau bahkan bagaimana perasaan kita sendiri. Jangan pernah menunda pertemuan tanpa belajar bagaimana merespon reaksi orang lain. Bahwa jawaban dari segala yang kamu inginkan tidak selalu tentang iya dan persetujuan yang lain. Penolakan dan kata tidak juga bentuk jawaban dan respon dari reaksi orang lain. Dan kamu harus terbiasa akan hal itu. Jangan arogan, jangan egois, jangan keras kepala untuk hanya ingin mendengar kata iya.

Penolakan hanyalah bagian dari hidup yang tiap hari berkeliaran di sekitar kita, pahami itu, biasakan diri. Jangan seenaknya, hidup bukan milikmu seorang. Kamu cuma numpang, ikuti aturan mainnya, jangan pakai aturan main sendiri dan memaksa yang lainnya untuk ikut aturan mainmu.

Pertemuan adalah privilege, makin banyak kamu memahami segala perspektif, makin baik juga kamu merespon segala reaksi, bahkan yang belum pernah kamu lalui. Jangan pernah menunda pertemuan, jangan pernah gengsi, tapi tetap bawa dirimu, jaga dirimu. Jangan terlena, percayakan segala sesuatunya pada insting-insting baik. Bahwa jika dengan niat baik segala yang baik pasti akan mengikuti. Jangan pernah menunda pertemuan. Lebih baik tidak dipikirkan tapi kamu melakukannya, daripada tidak melakukannya tapi kamu tidak henti-hentinya memikirkan.


Semarang, 19 Agustus 2020

Sunday, August 16, 2020

di dunia ini kesedihan bukan hanya milikmu seorang; kesedihan menghancurkan semua orang.

Barangkali kita merasa orang lain tidak pernah peka bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Tapi jangan jadi alpa, kita juga sering lupa bahwa orang lain mungkin juga merasakan apa yang sedang kita rasa; sedang tidak baik-baik saja. Justru dalam keadaan paling terpuruk, kita seringkali tidak ingin mengerti dan memahami orang lain. Kita bukan hanya tidak peduli pada sesama saat sedang baik-baik saja, bahkan juga dalam keadaan sedang tidak baik.

Bayangkan seseorang mengirimkan sebuah pesan di ponselmu dan mengaku akan mengakhiri hidupnya dalam dua tahun jika ia masih tidak menemukan seseorang yang baik. Sosok yang akan menuntunnya dan menjadi pengantar setiap hidup dan tidurnya. Dan tiba-tiba kamu merasa seseorang itu menginginkan dirimu, karena orang itu menganggap kamu adalah sosok ideal yang ia maksud.

Bagaimana tentang beban yang tiba-tiba menimpamu jika kamu mengatakan hal jujur bahwa kamu sedang tidak tertarik bahkan sama sekali tidak memikirkan relationship apapun. Ia menginginkan kamu menjadi apa yang ingin dia mau. Sedang kamu sedang terus berusaha untuk mencintai dirimu terlebih dahulu sebelum kuat mencintai yang lain.

Orang seringkali lupa, bahwa kita akan mendapatkan sesuatu jika kita memberikan sesuatu. Jadilah baik untuk mendapatkan apa yang baik untukmu. Jangan menyebut orang lain jahat jika ia dalam kalimatnya menyiratkan penolakan, karena mereka juga manusia, punya segala jenis masalah yang sedang mereka usahakan untuk cepat berlalu dan selesai. Di dunia ini kesedihan bukan hanya milikmu seorang. Kesedihan menghancurkan semua orang.

Value hidupmu mengantarkan kamu ke sebuah realitas, kadang memang tidak ideal menurutmu, yaa mungkin karena kamu belum pantas mendapatkannya, karena kamu tidak menjadi ideal untuk diri sendiri. Jika kamu menginginkan sosok yang baik, tangguh, dan mengerti keadaanmu seutuhnya, barangkali kamu juga harus seperti itu lalu kamu baru bisa mendapatkannya. Bukan menjadi arogan untuk mendapatkan semua tanpa melihat value diri sendiri, tanpa memberi kebaikan. Jika tiap hari yang kau tebar hanyalah kesedihan-kesedihan yang sama dan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tidak nyata karena pasti bisa kamu lalui, aku harus bilang kamu hanya akan mendapatkan sosok yang setipe dengan keadaan dirimu yang sekarang. Tuhan baik, tapi tidak bodoh.

Lalu aku berpikir, tidakkah seorang manusia mampu berbuat baik tanpa berharap apapun? Ia hanya berbuat baik saja. Ia tidak egois, karena aku masih sangat setuju bahwa segala kebaikan itu sifatnya egois, kita selalu mengharapkan balasan, atau paling tidak kita merasa senang melakukan itu. Tidak perlu ada yang dirugikan kalau semua bisa beriringan dan saling melihat, mengingatkan jika salah satu dari kita keluar jalur dari apa yang kita sendiri yakini.

Kita punya mekanisme koping masing-masing, pernahkah kita berpikir bahwa cara kita menyembuhkan luka akan makin cepat ketika kita sama-sama memperhatikan satu sama lain? Tentu tanpa berniat menghakimi, yang perlu kita pahami pertama adalah mengapa seseorang sampai perlu menyembuhkan dirinya, alasan apa yang membuatnya ada di titik itu. Jika alasan mereka sama, mungkin kita bisa saling berbagi cara untuk sembuh lebih cepat. Dan jika alasan yang membentuk kesakitan dan luka itu sama sekali berbeda, paling tidak kita ada di sampingnya, sekadar untuk mendengar, atau sampai memberi saran jika diminta.

Selain menyadari bahwa hidup ada baiknya dijalani sekaligus dinikmati dan tentu tidak lupa disyukuri. Tapi ada hal lain yang perlu kita sadari, bahwa setiap hari dalam hidup adalah arena berjuang sekali lagi, tanpa henti, terus menerus. Ada yang hari ini melewati rintangan lebih berat dua kali lipat dari hari kemarin. Ada yang berhasil melaluinya dengan baik karena punya startegi dan kecerdasan karena ia selalu belajar dari yang sebelumnya ia alami. Ada yang masih keras kepala tidak pernah ingin belajar dan selalu mengeluh atas rintangan yang ada dan menyalahkan ketidak-pekaan orang lain karena ia tidak dibantu dan ditolong.

Padahal kalau kita yakin dan percaya pada kemampuan diri sendiri, kita tidak akan sampai menyalahkan orang lain, menyebut orang lain jahat, bahkan mungkin tidak ada waktu untuk berkeluh pada apa yang terjadi, karena kita sendiri yakin, segala rintangan hanyalah pion dari permainan catur. Ringan tapi punya pengaruh jika kita mau memahami bahwa pion-pion itu adalah pembuka dari segala yang besar, segala yang kuat.

Kesakitan yang kamu alami sekarang, barangkali orang lain juga merasakannya. Jangan berulah apapun sebelum sama-sama kita bisa menyembuhkannya. Kesedihan yang mendalam memang akan sulit kita lewati, namun sulit bukan berarti tidak bisa. Kita bisa jadi bom waktu atau jadi bunga yang mekar di taman-taman. Jika kesakitan, luka, dan kesedihan itu menjadi bom waktu, saat ia meledak yang dirugikan bukan hanya kamu, tapi orang-orang di sekitarmu, orang-orang terdekatmu. Jika kesedihan, luka, dan kesedihan mampu kamu pahami sebagai bahan belajar dan merenung, bahwa memang seperti itulah realita hidup; harus belajar terus menerus, mengenal diri sendiri, apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Apa yang baik, apa yang buruk, apa yang tidak, apa yang iya.

Kita adalah pilot bagi tubuh, pikiran, dan jiwa kita sendiri. Kalau kamu pikir tidak ada penumpang dan kamu hanya satu-satunya, aku harus bilang kamu salah besar. Tubuhmu dibentuk oleh kedua orang tuamu, pikiranmu penuh orang-orang, yang membuatmu belajar menjadi seperti sekarang, jiwamu tentu terbentuk dari segala pengalaman baik dan buruk. Kita tidak berdiri sendiri, selalu ada orang lain, namun kendali penuh tetap menjadi keputusanmu. 

Pilihannya ada dua mau terjerumus atau membuat rumus bagaimana seharusnya hidup berjalan dengan baik. Dan merespon segala hal-hal yang baik tanpa perlu reaktif atau emosi. Segala hal baik itu pasti, jahat itu selalu relaitf; karena kejahatan bisa dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan. Kejahatan tidak pernah bisa menghapus hal-hal baik. Meski kita rentan dan rapuh, kita tetap tidak bodoh. Kita selalu mengingat hal-hal baik, dan memaafkan segala yang jahat. Karena memaafkan adalah hal baik yang paling mudah dilakukan jika kita mengerti bagaimana mengendalikan diri.

Aku punya kebiasaan untuk membaca ulang pesan-pesan, pesan-pesan baik, pesan-pesan buruk. Akan aku ingat dalam memoriku, sebelum semuanya aku hapus, lalu hilang dari memori ponselku. Jangan lupa bahwa otakmu adalah tempat penyimpanan paling baik, paling besar dan utuh. Jangan hanya ponsel yang kamu penuhi dengan memori, ada baiknya pikiranmu juga.

Ingat, tiap hari adalah wahana permainan baru, yang kita butuhkan sebetulnya sederhana, menjalaninya, menikmatinya, bersyukur atas segala yang terjadi; baik dan buruk. Lalu belajar dari apa yang telah terjadi, untuk menghadapi wahana-wahana baru lainnya. Hidup hanya tentang bagaimana kita memahami, merespon, dan bertindak. Sisanya biarkan alam semesta bekerja, biarkan Tuhan mengambil perannya. Semua tepat pada waktunya, semua tepat pada tempatnya. Tidak kurang, tidak lebih. Tepat.



Semarang, 17 Agustus 2020

Merdekakan dirimu dari segala belenggu.