Sunday, August 16, 2020

di dunia ini kesedihan bukan hanya milikmu seorang; kesedihan menghancurkan semua orang.

Barangkali kita merasa orang lain tidak pernah peka bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Tapi jangan jadi alpa, kita juga sering lupa bahwa orang lain mungkin juga merasakan apa yang sedang kita rasa; sedang tidak baik-baik saja. Justru dalam keadaan paling terpuruk, kita seringkali tidak ingin mengerti dan memahami orang lain. Kita bukan hanya tidak peduli pada sesama saat sedang baik-baik saja, bahkan juga dalam keadaan sedang tidak baik.

Bayangkan seseorang mengirimkan sebuah pesan di ponselmu dan mengaku akan mengakhiri hidupnya dalam dua tahun jika ia masih tidak menemukan seseorang yang baik. Sosok yang akan menuntunnya dan menjadi pengantar setiap hidup dan tidurnya. Dan tiba-tiba kamu merasa seseorang itu menginginkan dirimu, karena orang itu menganggap kamu adalah sosok ideal yang ia maksud.

Bagaimana tentang beban yang tiba-tiba menimpamu jika kamu mengatakan hal jujur bahwa kamu sedang tidak tertarik bahkan sama sekali tidak memikirkan relationship apapun. Ia menginginkan kamu menjadi apa yang ingin dia mau. Sedang kamu sedang terus berusaha untuk mencintai dirimu terlebih dahulu sebelum kuat mencintai yang lain.

Orang seringkali lupa, bahwa kita akan mendapatkan sesuatu jika kita memberikan sesuatu. Jadilah baik untuk mendapatkan apa yang baik untukmu. Jangan menyebut orang lain jahat jika ia dalam kalimatnya menyiratkan penolakan, karena mereka juga manusia, punya segala jenis masalah yang sedang mereka usahakan untuk cepat berlalu dan selesai. Di dunia ini kesedihan bukan hanya milikmu seorang. Kesedihan menghancurkan semua orang.

Value hidupmu mengantarkan kamu ke sebuah realitas, kadang memang tidak ideal menurutmu, yaa mungkin karena kamu belum pantas mendapatkannya, karena kamu tidak menjadi ideal untuk diri sendiri. Jika kamu menginginkan sosok yang baik, tangguh, dan mengerti keadaanmu seutuhnya, barangkali kamu juga harus seperti itu lalu kamu baru bisa mendapatkannya. Bukan menjadi arogan untuk mendapatkan semua tanpa melihat value diri sendiri, tanpa memberi kebaikan. Jika tiap hari yang kau tebar hanyalah kesedihan-kesedihan yang sama dan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tidak nyata karena pasti bisa kamu lalui, aku harus bilang kamu hanya akan mendapatkan sosok yang setipe dengan keadaan dirimu yang sekarang. Tuhan baik, tapi tidak bodoh.

Lalu aku berpikir, tidakkah seorang manusia mampu berbuat baik tanpa berharap apapun? Ia hanya berbuat baik saja. Ia tidak egois, karena aku masih sangat setuju bahwa segala kebaikan itu sifatnya egois, kita selalu mengharapkan balasan, atau paling tidak kita merasa senang melakukan itu. Tidak perlu ada yang dirugikan kalau semua bisa beriringan dan saling melihat, mengingatkan jika salah satu dari kita keluar jalur dari apa yang kita sendiri yakini.

Kita punya mekanisme koping masing-masing, pernahkah kita berpikir bahwa cara kita menyembuhkan luka akan makin cepat ketika kita sama-sama memperhatikan satu sama lain? Tentu tanpa berniat menghakimi, yang perlu kita pahami pertama adalah mengapa seseorang sampai perlu menyembuhkan dirinya, alasan apa yang membuatnya ada di titik itu. Jika alasan mereka sama, mungkin kita bisa saling berbagi cara untuk sembuh lebih cepat. Dan jika alasan yang membentuk kesakitan dan luka itu sama sekali berbeda, paling tidak kita ada di sampingnya, sekadar untuk mendengar, atau sampai memberi saran jika diminta.

Selain menyadari bahwa hidup ada baiknya dijalani sekaligus dinikmati dan tentu tidak lupa disyukuri. Tapi ada hal lain yang perlu kita sadari, bahwa setiap hari dalam hidup adalah arena berjuang sekali lagi, tanpa henti, terus menerus. Ada yang hari ini melewati rintangan lebih berat dua kali lipat dari hari kemarin. Ada yang berhasil melaluinya dengan baik karena punya startegi dan kecerdasan karena ia selalu belajar dari yang sebelumnya ia alami. Ada yang masih keras kepala tidak pernah ingin belajar dan selalu mengeluh atas rintangan yang ada dan menyalahkan ketidak-pekaan orang lain karena ia tidak dibantu dan ditolong.

Padahal kalau kita yakin dan percaya pada kemampuan diri sendiri, kita tidak akan sampai menyalahkan orang lain, menyebut orang lain jahat, bahkan mungkin tidak ada waktu untuk berkeluh pada apa yang terjadi, karena kita sendiri yakin, segala rintangan hanyalah pion dari permainan catur. Ringan tapi punya pengaruh jika kita mau memahami bahwa pion-pion itu adalah pembuka dari segala yang besar, segala yang kuat.

Kesakitan yang kamu alami sekarang, barangkali orang lain juga merasakannya. Jangan berulah apapun sebelum sama-sama kita bisa menyembuhkannya. Kesedihan yang mendalam memang akan sulit kita lewati, namun sulit bukan berarti tidak bisa. Kita bisa jadi bom waktu atau jadi bunga yang mekar di taman-taman. Jika kesakitan, luka, dan kesedihan itu menjadi bom waktu, saat ia meledak yang dirugikan bukan hanya kamu, tapi orang-orang di sekitarmu, orang-orang terdekatmu. Jika kesedihan, luka, dan kesedihan mampu kamu pahami sebagai bahan belajar dan merenung, bahwa memang seperti itulah realita hidup; harus belajar terus menerus, mengenal diri sendiri, apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Apa yang baik, apa yang buruk, apa yang tidak, apa yang iya.

Kita adalah pilot bagi tubuh, pikiran, dan jiwa kita sendiri. Kalau kamu pikir tidak ada penumpang dan kamu hanya satu-satunya, aku harus bilang kamu salah besar. Tubuhmu dibentuk oleh kedua orang tuamu, pikiranmu penuh orang-orang, yang membuatmu belajar menjadi seperti sekarang, jiwamu tentu terbentuk dari segala pengalaman baik dan buruk. Kita tidak berdiri sendiri, selalu ada orang lain, namun kendali penuh tetap menjadi keputusanmu. 

Pilihannya ada dua mau terjerumus atau membuat rumus bagaimana seharusnya hidup berjalan dengan baik. Dan merespon segala hal-hal yang baik tanpa perlu reaktif atau emosi. Segala hal baik itu pasti, jahat itu selalu relaitf; karena kejahatan bisa dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan. Kejahatan tidak pernah bisa menghapus hal-hal baik. Meski kita rentan dan rapuh, kita tetap tidak bodoh. Kita selalu mengingat hal-hal baik, dan memaafkan segala yang jahat. Karena memaafkan adalah hal baik yang paling mudah dilakukan jika kita mengerti bagaimana mengendalikan diri.

Aku punya kebiasaan untuk membaca ulang pesan-pesan, pesan-pesan baik, pesan-pesan buruk. Akan aku ingat dalam memoriku, sebelum semuanya aku hapus, lalu hilang dari memori ponselku. Jangan lupa bahwa otakmu adalah tempat penyimpanan paling baik, paling besar dan utuh. Jangan hanya ponsel yang kamu penuhi dengan memori, ada baiknya pikiranmu juga.

Ingat, tiap hari adalah wahana permainan baru, yang kita butuhkan sebetulnya sederhana, menjalaninya, menikmatinya, bersyukur atas segala yang terjadi; baik dan buruk. Lalu belajar dari apa yang telah terjadi, untuk menghadapi wahana-wahana baru lainnya. Hidup hanya tentang bagaimana kita memahami, merespon, dan bertindak. Sisanya biarkan alam semesta bekerja, biarkan Tuhan mengambil perannya. Semua tepat pada waktunya, semua tepat pada tempatnya. Tidak kurang, tidak lebih. Tepat.



Semarang, 17 Agustus 2020

Merdekakan dirimu dari segala belenggu.

Wednesday, August 12, 2020

akhir dari kesedihan adalah takdir buruk yang diberi cuma-cuma

Kesedihan melalang-buana pada seperempat peristiwa

Sedang usiamu baru menginjak kepala dua,

kau belum cukup tahu bagaimana cara membunuh pikiran gila

yang datang tiba-tiba saat malam dingin penuh luka


atau membawa seorang anak ke penjara paling dalam

di bawah lutut seorang ibu,

anak-anak malang yang tak tahu ia pernah punya bapak

 

atau kau hanya penasaran apa yang sedang terjadi

pada diri seorang kakek yang menyebrang jalan

di keramaian orang-orang berangkat kerja

 

aku sendiri sibuk menulis kepulanganmu,

berharap semua itu benar adanya,

dan berharap menjadi satu-satunya manusia

yang tersenyum lebar di akhir cerita.

 

akhir dari segala akhir,

akhir pertengkaran,

akhir perang dingin,

akhir tempat kita tertulis di batu nisan perak

di kaki gunung tempat pertama kali kita bertemu.

 

Tak adalagi kita

Tak adalagi kamu

Tak adalagi aku

Hanya ada kepastian yang tertunda

Dan takdir buruk yang diberi cuma-cuma

 


Semarang, 12 Agustus 2020

 


Sunday, August 9, 2020

irma sedang tidak baik-baik saja; dan aku memahami itu

Aku merasa tidak pernah bisa mencapai titik dewasa dalam relationship apapun. Aku masih merasa takut pada romantic relationship. Aku dibilang sebagai orang yang dewasa, tapi sebetulnya pada waktu yang sama aku sangat tidak setuju dengan itu.

Aku tidak pernah dewasa dalam perkara cinta, aku takut ketika seseorang memberikan energi yang kuat aku tidak bisa menampungnya dan justru dibuat kewalahan yang pada akhirnya merasa takut. Iya, ketakutan yang dirasakan semua orang: takut kehilangan, takut tidak ideal. Kita selalu mencari takaran yang pas, namun tidak pernah benar-benar menemukannya.

Kupikir semua orang merasakan hal yang sama; tidak pernah dewasa dalam perkara cinta. Mungkin karena untuk urusan ini kita tidak memiliki standar atau contoh yang nyata. Kita selalu seperti seorang anak kecil yang haus kasih sayang, haus interaksi, haus afeksi, haus apapun yang membuat ia nyaman. Romantic relationship somehow mendatangkan rasa takut, namun perasaan takut itu tidak benar-benar tampak. Sialnya dia sembunyi dengan cara yang cerdik. Hingga membuat kita terbuai. Lalai

Aku rapuh. Aku selalu kehilangan seseorang dan sesuatu saat aku menginginkannya menjadi ideal. At least aku merasa nyaman. Alih-alih membuat orang itu merasa aman dan nyaman, ternyata aku terlalu berlebihan pada rasa takutku. Aku tidak benar-benar bisa menjalaninya dengan baik. Aku hanya manusia penghamba pada teori. Orang-orang yang datang dan memuntahkan semua isi kepalanya menganggap perkataanku benar dan logis. Namun pada waktu yang sama aku selalu mengutuk diri sendiri, mengapa itu semua hanya sebatas teori di kepala, yang bahkan tidak pernah berhasil kupakai.

Aku mulai berpikir, apakah sebenarnya tidak akan pernah ada yang ideal? Aku pernah berkata pada seorang teman; jangan sampai pacaran membuat dunia seolah hanya menjadi milik berdua. Aku mengatakan itu dengan penuh kesadaran. Karena ketika seseorang merenggut duniamu sebelum ia datang, ia hanya akan jadi bom waktu yang saat meledak ia bukan hanya membuatmu menyesal tapi juga merusak.

Aku menemukan seseorang, yang membuatku berhati-hati mengambil langkah dan memilih pilihan yang ada. Dan saat aku menggunakan insting kehati-hatian itu untuk tidak terlalu buru-buru memenuhi keinginan di kepala, aku justru kehilangan dirinya. Lagi dan lagi. Aku selalu mengarungi hubungan yang singkat bahkan sebelum terikat. Selalu muncul pertanyaan bagaimana nanti akhirnya, bagaimana itu akan berjalan dengan baik. Apakah itu worth it untuk dijalani. Atau apakah itu yang benar-benar kita cari.

Aku percaya relationship itu perkara probabilitas. Teorinya adalah jangan mengulang suatu hubungan yang jenis dan karakternya sama dengan relationship yang kita jalani sebelumnya. Karena akhirnya akan sama saja. Kalau kamu masih keras kepala menjalani relationship dengan seorang yang tidak menghargai pergerakan perempuan sama seperti seseorang pada relationship sebelumnya aku bahkan sudah paham bagaimana endingnya. Atau let say kita bilang kamu adalah penghamba pria-pria berseragam, dan tiga kali gagal menjalani hubungan, lalu yang keempat kalinya kamu masih keras kepala menjalaninya lagi. Tidakkah kamu berpikir? Mungkin caramu yang salah? Mungkin kamu terlalu keras kepala? Intinya aku selalu percaya jika orang itu memang jodohmu semua akan dimudahkan, semua. Kamu tidak akan dirumitkan.

Aku selalu menyesali, mengapa banyak orang tidak pernah ingin belajar dari apa yang mereka alami. Tidak ada yang esa dalam romantic relationship. Selalu ada dosa besar yang tidak boleh dilakukan, bagiku selingkuh adalah salah satu dosa besar itu. Dan kalau kamu memafkan dosa sebesar itu, artinya hubunganmu ada di lautan dengan ombak besar, alih-alih kamu bisa mengalahkan ombak itu kamu justru mati karena tidak ada  tempat berlindung dan seorang pelindung. Kamu tidak merasa aman, karena tidak pernah terbebas dari pikiran bahwa dosa besar itu tidak akan dilakukan. Tidak ada yang esa. Kalau romantic relationship diibaratkan sebuah perahu kayu. Kamu selalu punya pilihan ketika perahu itu rusak dan tenggelam. Bukan justru terus mengendarainya dengan menambalnya terus menerus. Perahu kayu tetap perahu kaya, yang rusak tetap akan rusak juga. Karena dia sudah kehilangan bentuk aslinya.

Atau barangkali pada titik ini kamu merasa hubunganmu hanya sebatas transaksional saja, segalanya berhubungan dengan angka lalu kamu bilang itu relationship. Kalau begitu dimana letak perasaan cinta di antara segala yang kamu sebut realistis itu? Aku bisa bilang transaksional adalah sesuatu yang buruk. Tidak baik. Tapi aku tidak bisa memaksakan value hidupku dan value hidupmu. Mungkin dengan hubungan transaksional itu kamu merasa aman. Tapi mau sampai kapan?

Atau kamu kembali pada seseorang yang melakukan dosa besar itu, karena kamu tidak tega, atau karena kamu berpikir hubungan ini sudah lama dan kamu merasa akan buang-buang waktu ketika akhirnya benar-benar putus di tengah jalan. Ketika aku membayangkan ada di posisi itu, aku selalu berpikir mungkin aku butuh belajar satu hal dari waktu yang lama itu. Bukan justru mengorbankannya lagi untuk sesuatu yang sebetulnya sia-sia. Atau jangan-jangan tidak semua orang yang pacaran benar-benar saling jatuh cinta, mungkin di antara mereka ada yang takut kesepian atau sendirian. Atau hanya memenuhi gengsi belaka. Waktu tidak pernah ramah, ia tidak menunggumu. Ia punya orbitnya sendiri, dan ia sama sekali tidak ingin orbitmu yang tidak sempurna itu merusak orbitnya, orbit yang dipakai jutaan orang.

Irma sedang tidak baik-baik saja; dan aku memahami itu. Itu kenapa dengan segala ketakutan yang tidak pernah sempat benar-benar kuceritakan, akhirnya aku harus menerima risiko yang sebelumnya pernah aku alami. Cerita itu tidak akan pernah muncul, dan segala ketakutan tetap menjadi ketakutan yang merusak. Irma sedang tidak baik-baik saja; aku memahami itu sejak pertemuan kami pertama kalinya. Aku masih tertawa saat mengingat itu, aku butuh satu tahun untuk berada di depannya, mendengarkan ceritanya, menceritakan segala yang pernah menimpaku. Irma sedang tidak baik-baik saja, jauh dilubuk hatinya. Jauh dilubuk hatiku, aku tidak ingin membuatnya semakin tidak baik-baik saja. Mungkin itu takdirnya; cerita singkat yang lain.

Akhirnya aku harus menuliskan ini. Mungkin segalanya memang sudah tepat pada jalannya. Tapi jangan menganggapku tidak ada. Aku bukan orang jahat seperti pria lain yang sempat kamu ceritakan. Aku hanya seorang yang terlalu takut, dan membutuhkan seseorang untuk membebaskanku dari perasaan itu. Aku benar-benar mendengarkan kata hatiku sendiri untuk menulis ini, tidak dalam paksaan orang lain, tidak dalam pengaruh orang lain yang kadang tidak benar-benar mengerti apa yang sedang kita jalani.

Aku belajar, bahwa dalam segala yang terjadi di antara kita, aku hanya mengingat kebahagian dan senyum dari wajahmu. Aku akan selalu mengingat kenangan-kenangan baik itu, dan terima kasih kamu hanya menyisipkan perasaan dan kenangan-kenangan baik. Aku jatuh cinta pada caramu berdiri kuat dari segala masalah yang pernah menimpamu. Aku belajar dari itu. Dan semoga kamu membaca ini. Kita tidak ideal tapi bukan berarti kita tidak bisa saling mengenal.

 

Semarang, 10 Agustus 2020

Wednesday, July 22, 2020

seseorang mati di kepalamu;

Hari ini aku menemukan seorang mati di kepalamu, 
sebelumnya ia tumbuh dari mata air yang kau ukir 
di antara kesedihan dan pelupuk mata yang tak kunjung kering.

Katamu ia telah hidup seribu tahun
di pedalaman bumi paling gelap,
tempat segala dendam kesumat.

Kau memungutnya dari orang-orang sadis
yang mencoba membunuhnya dengan jari-jari penuh darah
dan pisau-pisau tumpul berkarat
yang telah merenggut sembilan ratus nyawa.

Ia berteman dengan harimau di hutan, katamu.
Setiap selasa malam kamu membawakan daging merah segar
untuk mengisi perut lalu kalian bercinta sampai pagi buta

Harimau itu bahkan bukan manusia,
kau robek perut penuh buruan itu,
kau mengadu pada seorang pria
yang berdiri di persimpangan jalan dengan payung hitam dan sepatu putih basah

Pada akhirnya kau pikir mungkin benar,
kesedihan lama tentang harimau di hutan
dan seorang pria bisa membunuhmu perlahan

Dan pada awalnya
kupikir kau hanya jadi salah satu santapan,
yang tak ada arti setelah tiada. 

Aku tak ingin itu,
aku hanya ingin tiada dan kau mengingat kematianku
seperti kau mengingat kecupan terakhir kekasihmu

Kekasihmu yang mati di dialog pertama puisi ini,
atau yang benar-benar mati di kepalamu sejak awal dari segala mula

Tidakkah kau melihat aku?
Yang mati di kepalamu
sebelum kau mengingat aku.


Semarang, 22 Juli 2020

Tuesday, July 21, 2020

cerita kita tidak didengar;


Aku sejujurnya selalu memikirkan hal ini; apakah mendengarkan adalah aktifitas paling sulit selama kita mencicipi hidup di dunia? Apakah mendengarkan memang butuh keahlian khusus? Kalau kamu merasa ceritamu tidak pernah didengar, mungkin kita bisa membuat lingkaran, saling berpegang tangan, dan mengucap doa; semoga tuhan selalu mendengar kita. Ada hal-hal yang gak sanggup kita ungkapkan, kadang kita lebih memilih diam karena kita terlalu takut pada respon orang tentang apa yang kita ceritakan. Namun ketika kita pikir ulang, sebetulnya ketakutan kita bukan tentang respon orang terhadap cerita kita. Kita takut orang itu jadi seenaknya, kita percayakan satu cerita pada seseorang, detik itu juga kita was-was cerita itu akan menjadi bola liar sampai pada titik yang mana. Itu mengapa kita lebih sering memilih diam.

Aku sejujurnya selalu memikirkan hal ini; mengapa cerita kita tidak pernah benar-benar didengarkan, ruang-ruang selalu penuh dengan cerita-cerita sampah dari orang-orang yang haus spotlight. Sehingga apa yang kita butuh untuk dengar tertutup oleh kebisingan-kebisingan tanpa arti. Ada banyak cerita yang tidak kita pedulikan, namun pada akhirnya kita terpaksa mendengarkan, karena cerita itu disampaikan dengan sangat lantang. Tidak ada ruang bagi kita untuk menghindar.

Cerita kita tidak didengar, aku sejujurnya selalu memikirkan hal ini; aku menggunakan kata kita sebagai pengganti kata aku. Karena barangkali aku tidak sendirian, orang seringkali jadi seenaknya, ketika ia menceritakan segala yang membuatnya gila, kita mendengar dengan seksama dan hati-hati, karena takut menyakiti. Saat wejangan kita menemukan titik terang dan mampu membuat orang lain tercerahkan, orang itu justru kembali ke sifat aslinya. Iya, yang suka seenaknya. Saat kita membutuhkan dia untuk mendengar cerita kita, orang itu menghilang. Tidak peduli, tidak ingin mendengar cerita kita.

Aku selalu memikirkan hal ini; pada banyak perempuan yang mengaku dirundung hanya karena kekasihnya melanggar apa yang sudah keduanya yakini sejak awal. Aku bisa paham hati wanita selalu menjadi bagian tubuh yang sangat rentan. Mereka bisa sedetik yang lalu mengaku tersakiti lalu sedetik kemudian menjadi seseorang yang paling tidak apa-apa. Ia rapuh dan lupa jalan pulang. Saat kekasihnya menyakiti dirinya untuk pertama kali, ada penolakan dari dalam dirinya; ia tidak percaya pada realita bahwa kekasih yang sangat ia cintai itu mampu melukai perasaannya.

Aku sejujurnya selalu memikirkan ini; mungkin kamu harus pasang telinga baik-baik, mengapa lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang sadar dan mau memberikan kesempatan kedua bahkan ketiga pada sosok yang benar-benar menyakiti dirinya sampai ke tulang. Aku memikirkan ini baik-baik; mungkin karena memaafkan adalah human nature seorang perempuan, seorang ibu. Seperti saat kamu terlibat cekcok pada ibumu, ibumu akan lebih mudah memaafkanmu, daripada ketika kamu terlibat cekcok pada bapakmu. Tapi orang seringkali lupa, tak akan ada aksi tanpa sebab, ketika kata maaf masuk ke otak dan memengaruhi pola bertindak kita, apa yang harus dilakukan setelahnya?

Mungkin saatnya kamu mendengarkan cerita orang lain, karena dirimu yang keras kepala itu, hanya ingin didengar. Saatnya kamu mendengarkan cerita ini. Tidak ada yang baik tumbuh dari perasaan hancur. Balas dendam adalah sesuatu yang pasti, meski tiap orang punya caranya masing-masing. Tiap kali mendengarkan seorang perempuan menceritakan kisahnya, pengalamannya dengan seorang pria yang diakuinya brengsek, aku selalu memasang badan pada dua kemungkinan. Perempuan itu sedang mengalami shock, yang berimbas ia melakukan penolakan pada apa yang terjadi. Itu mengapa lebih banyak perempuan yang berani memaafkan kekasihnya dan kembali bersama. Ia menerjemahkan penolakan itu dengan kembali pada sosok brengsek yang menyakitinya.

Barangkali kita selalu jadi sosok yang tidak pernah sempat mendengarkan cerita orang lain, tapi apakah benar kita sudah benar-benar mendengarkan cerita kita sendiri? Apa yang kita ingin, apa yang kita butuh. Apakah benar pilihan-pilihan itu ada karena kesadaran kita sendiri, atau dipengaruhi oleh mulut orang lain. Atau cara kita bertahan hidup adalah dengan kembali mengarungi cerita yang sama dari awal? Tapi apakah kita berpikir itu artinya kita membuang-buang waktu.

Aku sejujurnya memikirkan hal ini; apa yang harus kita lakukan saat cerita kita tidak didengar? Kita harus merilis semua yang menganggu di kepala, kita tidak bisa selamanya diam pada pengalaman hidup yang merusak kita pelan-pelan dari dalam. Kita butuh sosok oase, yang bersedia duduk dan mendengar cerita kita meski cerita itu mungkin cerita paling sampah yang pernah ada. Namun sampah bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Kita butuh sosok itu, saat cerita kita tidak didengar, ia menjadi sosok yang selalu siap mendengar apapun celotehan yang keluar dari bibir penuh tangis itu.

Namun aku sejujurnya memikirkan hal ini; seorang pendengar pasti juga membutuhkan pendengar yang baik. Kita semua seperti sebuah mobil yang butuh netral untuk berhenti. Kita perlu menetralkan kesedihan kita dulu sebelum melanjutkan perjalanan yang gelap dan terjal. Tapi apakah kita peduli pada sosok pendengar yang selalu ada untuk menampung ceritamu, atau apakah kita sama saja seperti yang lain. Tidak sempat dan tidak ingin mendengar yang lain, asal cerita kita sudah netral dan kita siap berangkat. Tidak ada yang bisa menghadapi kesedihan sendirian. Kita bisa mengambil peran untuk menjadi sosok itu; yang mendengar dan menetralkan apapun yang menganggu kepala.

Namun, sejujurnya aku memikirkan hal ini; apakah saat cerita kita tidak didengar kita boleh memberontak selain menangis? Kesedihan tidak memiliki obatnya, ia adalah virus mematikan yang tidak terhindarkan. Dan manusia adalah satu-satunya penawar ampuh yang bisa menetralkan itu semua hanya dengan mendengarkan.


Semarang, 21 Juli 2020


Tuesday, July 14, 2020

sudah kupikirkan baik-baik;


Sudah kupikirkan baik-baik, tidak ada yang benar-benar merasa baik, saat apa yang kamu yakini harusnya berjalan baik. Untuk standard yang kita yakini menjadi kabur, dan menemui jalan buntu saat ia dipertemukan oleh seseorang yang standard hidupnya ditentukan oleh orang lain. Sudah kupikirkan baik-baik, tidak ada yang benar-benar merasa baik, saat apa yang kamu yakini harusnya berjalan baik. Namun ternyata menjadi baik adalah posisi yang sangat tidak ideal, baik memilih kamusnya sendiri. Dan aku bukan bagian dari isi kamus itu, bahkan sampulnya, bahkan judulnya. Aku di luar konstelasinya.

Kupikir segala yang buruk seharusnya tidak ikut campur, buruk adalah kata sifat paling mematikan, ia sembunyi di balik kata baik. Orang-orang menggunakan kata itu sebagai kartu terakhir, kita memutuskan segala sesuatunya tiba-tiba sebelum tepat pada waktunya, kita buru-buru memilih dan menilai, sampai akhirnya harus terang-terangan membenci hanya untuk sekadar lupa. Padahal di lubuk hati paling dalam, membenci adalah perasaan yang perlu kita buang jauh-jauh. Namun apa boleh buat, melupakan seseorang yang selalu memberi memori-memori baik seperti berdiri di atas rel kereta api dan berharap tidak mati saat gerbong-gerbong itu melintas.

Kita pikir kita baik, saat berpikir semua ini demi diri, pikiran dan hati, namun belakangan muncul satu hal di detik terakhir; bagaimana jika kita tidak sedang menyelamatkan diri sendiri, justru sedang menghancurkan apa yang hendak kita perbaiki. Mekanisme dibentuk dari pengalaman yang selama ini kita pelajari, bahwa tanpa adanya kemampuan analitik yang baik, pengalaman hanyalah busa pada air cucian baju ibu, dibuang, dimainkan oleh anak ibu paling kecil, atau paling buruk merusak lingkungan.

Sudah kupikirkan baik-baik, cerita ini ditulis saat kesedihan memasuki hari ke sembilan belas. Aku tidak paham lagi apakah kesedihan bentuk dari sifat baik atau buruk, sedih pada sesuatu yang buruk adalah mesin penghancur yang membabi-buta pikiranmu. Sedih pada pengalaman buruk yang harusnya membentukmu ternyata justru menenggelamkanmu pada badai penuh intrik di dalam kepala. Kesedihan mengambil alih tubuhku, ia menguras seluruh energy lalu pergi. Tanpa pamit, tanpa mengucap hati-hati.

Aku waktu itu merasa ingin menjadi anak kecil. Yang tidak mengenal kesedihan sebagai pembentuk sifat manusia, kesedihan hanya sebagai bagian dari permainan yang ibu akan membantumu untuk tidak lagi menangis. Anak kecil memahami kesedihan lebih hebat daripada kita yang hidup di dunia dengan orang-orang yang tidak tahu diri; meminta maaf tanpa hati, meminta tolong tanpa peduli. Sudah kupikirkan baik-baik, cerita ini ditulis saat amarah memasuki minggu keduanya bernyawa, ia selalu lebih butuh makan daripada inangnya sendiri. Sudah benar-benar kupikirkan. Benar-benar.

Aku sedang berusaha menyembuhkan diri saat cerita ini terjadi, aku yakin, aku hampir merampungkan proses itu. Aku hampir selalu mendengar tiap tangis di detik-detik pergantian malam tiap harinya, tangis-tangis yang menggambarkan sifat buruk dari perpisahan, atau sifat buruk dari mengetahui sesuatu tapi memilih untuk diam dan tidak mengerti apa-apa. Kesedihan-kesedihan membawa kita pada ruang-ruang baru, saat kita pikir, kita butuh orang lain; kita lupa berpikir orang lain juga butuh yang lainnya. Karena mekanisme pertahanan diri yang rentan mudah dihancurkan saat kerapuhan dalam diri membungkus kepalamu, atau bahkan matamu.

Sudah kupikirkan baik-baik pertanyaan ini, setiap kali aku merebahkan tubuh pada malam-malam dingin di kamar tidurku, aku selalu bertanya, mengapa tiap kali rasa sedih datang, kita tidak menemukan bagian dari diri kita yang selalu hadir saat perasaan bahagia menyetubuhi. Aku berpikir seolah ada sosok lain yang sembunyi di dalam tubuh ini, dan ia hanya ingin merasa bahagia, saat kesedihan datang ia pergi, membiarkan kita merasakan sendiri. Aku lelah karena setiap kali aku harus merasakan sendiri aku selalu kalah. Kesedihan selalu menjadi musuh utama umat manusia. Pertanyaan itu sudah kupikirkan baik-baik, mengapa sosok-sosok yang biasanya hadir untuk semua perasaan bahagia menghilang bersamaan dengan perasaan itu. Sudah kupikirkan baik-baik, dan masih kupikirkan baik-baik.

Apa yang akan kita katakan, saat seseorang hadir dan meminta tolong. Apa yang akan kita katakan, saat seseorang itu ternyata baru saja merasakan pengalaman hidup paling pahit dalam sepanjang hidupnya. Aku selalu bertanya-tanya, apa kata-kata yang paling ideal untuk menyembuhkan seseorang dari rasa sakitnya, atau paling tidak membuat orang itu sedikit merasa baik-baik saja. Sejak dulu hingga kini masih kupikirkan baik-baik apa yang seharusnya aku lakukan saat itu terjadi dan mendatangiku. Jangan kau biarkan saat seseorang datang dan menceritakan kesedihannya, karena kau pun butuh orang lain untuk menetralkan kesedihanmu.

Sudah kupikirkan baik-baik, segala hal tentang kesedihan ada baiknya di buang jauh-jauh, namun ternyata merasakan kesedihan sampai benar-benar kering dan habis adalah jalan satu-satunya berdamai pada kesedihan itu. Kita tidak bisa melawan sesuatu dengan mata tertutup atau wajah yang tertunduk. Kita butuh sadar untuk membuka mata, membuatnya ciut dan lari entah ke mana. Sudah kupikirkan baik-baik sampai pada akhirnya kesedihan telah berteman baik dengan diriku, mungkin sebaiknya kamu juga. Sudah kupikirkan baik-baik, menganggap kesedihan sebagai perasaan biasa yang pasti datang, entah apakah pikiran itu akan berujung baik atau buruk. Tapi, sudah kupikirkan baik-baik.

Sudah kupikirkan baik-baik, mulai hari ini. Aku akan merasa baik-baik saja, tetap baik-baik saja, saat hal-hal buruk mampir menghantuiku. Semoga kamu juga baik-baik saja saat itu terjadi di hidupmu. Sudah waktunya kita menang lagi dalam pertarungan antara kesedihan dan perasaan baik-baik saja. Sudah kupikirkan baik-baik, bahwa saat seluruh tubuh, pikiran, dan jiwaku menghendaki baik-baik saja, semua akan bisa kulewati juga dengan baik-baik saja. Sudah kupikirkan baik-baik, semoga kamu juga memikirkannya baik-baik.


Semarang, 15 Juli 2020


Wednesday, July 31, 2019

Cara-Cara Terakhir Untuk Tersesat.


Tiap kali hal ini terjadi, aku selalu berharap bahwa aku tidak menuliskannya. Karena ketika tulisan seperti ini benar-benar eksis dan lahir artinya aku tidak sedang baik-baik saja. Aku selalu memimpikan kesempatan kedua, aku memimpikan lebih dari beribu kali. Ada banyak hal yang selalu aku sesali, meski sudah kuniatkan untuk diputuskan. Mengambil langkah-langkah yang sejak awal sudah kumengerti akan menjadi sakit, akan jatuh sekali lagi. Sungguh bagaimanapun aku tidak pernah mengharapkan hal-hal seperti ini terjadi lagi. Aku selalu terjebak pada hubungan yang tidak adil. Hubungan-hubungan yang membawaku pada garis batas tapi aku terkunci di dalam, saat aku melewati batas itu aku tetap berada di jeruji yang sama. Dan terus terulang entah sampai kapan.

Aku hilang kendali, satu hal aku ingin kamu, lain hal aku menyadari hal itu tidak mungkin terjadi. Barangkali bagimu tidak ada yang salah, tapi kamu selalu lupa—aku masih manusia, yang punya hati, punya perasaan. Sungguh ini tidak adil, saat aku mulai membuka kemungkinan untuk siapapun, membuka segala yang ditutup oleh yang lalu, aku selalu menemukan hal yang sama; sebuah hubungan yang terlanjur dimiliki orang lain. Barangkali benar, nyaman adalah jebakan. Tapi sesungguhnya aku merasa nyaman sejak pertemuan kita pertama kali. Caramu tertarik pada segala hal yang keluar dari bibirku, sentuhan-sentuhan yang sudah lama tidak kuterima dari siapapun, atau caramu memborbardir ruang obrolan di whatsappku. Aku takut kehilangan itu saat aku terpaksa memutuskan. Biasanya memutuskan hal yang ternyata buruk bagiku, namun tetap perlu kutempuh. Rasanya seperti ditelan hidup-hidup.

Percayalah, aku masih rentan, sejak hubungan yang terakhir membuatku berhenti. Mengalami fase-fase menyebalkan, fase di mana aku butuh namun tidak berani mengungkap apa yang ada. Saat di mana aku berada dalam ruang hitam, dan aku butuh cahaya yang menuntunku ke luar. Saat kenangan yang terakhir membuatku memikirkan bahwa pertemuan adalah hal yang penting dan kubutuhkan, namun aku selalu memikirkan posisiku. Di mana aku, dan sebagai apa aku. Ini selalu menjadi tidak adil untukku. Aku berusaha mengendalikan semuanya, berharap ketika yang satu hilang, aku tidak kehilangan yang lainnya, namun kenyataannya aku yang ditinggalkan, entah dengan terang-terangan, atau dengan cara-cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Yaa barangkali kecewa adalah kata yang pas untuk disematkan menjadi nama tengahku.

Aku adalah sisa-sisa kerapuhan dari dinding kokoh yang dulu pernah ada dan sempat melindungiku dari perasaan-perasaan ingin. Ingin memiliki, ingin menyayangi, ingin mencintai, atau ingin-ingin yang lain. Kubiarkan perasaanku tenggelam pada segala kondisi yang membawaku ke ruang paling tenang, ruang paling nyaman, sampai aku tersadar; aku lupa jalan pulang. Bahkan setelah aku ingat ke mana jalan pulang, aku tersadar, aku tak punya rumah. Di situasi seperti itu, aku butuh kamu. Namun kamu punya rumah yang selalu menunggumu, selalu siap kapanpun, dimanapun kamu butuh. Aku; hanya pria yang tersesat jauh entah ke mana. Hilang kendali, hilang diri, hilang hati.

Setiap kali hubungan itu berakhir, aku selalu ingin hubungan itu kembali lagi. Aku selalu bernafsu untuk memperbaiki hal-hal yang rusak dan hancur karenaku sendiri. Yaa, aku terlalu naif untuk menyadari bahwa hal-hal yang kuinginkan hanya akan menjadi debu yang beterbangan, tertiup angin—hilang. Aku naif, menginginkanmu kembali, menginginkanmu untuk meninggalkan kekasihmu saat ini, terlalu naif untuk memiliki hubungan yang baik-baik saja, tanpa perlu risau tentang keberadaan, tidak perlu risau bahwa aku hanya menjadi orang ketiga—sekali lagi. Dan terus terulang. Meski pernah kubilang, relationship itu persoalan human experience, ternyata aku menyadari, pengalaman ini mungkin hanya aku yang pernah dan mampu mengalami. Ditinggalkan, diacuhkan, dilupakan, atau hanya menjadi pilihan. Sesungguhnya aku rindu, aku yang dulu.

Yang menentang segala hal, yang tidak peduli bahwa ada cinta yang butuh dibalas. Aku bersikap seolah semua tidak pernah terjadi, namun sayangnya aku salah mengambil sikap, lupa bahwa segala hal adalah persoalan momentum. Yang ujung-ujungnya aku hanya menyesali, atas sesuatu yang tidak adil. Menangis di tengah malam, di atas roda dua berkecepatan tinggi, dan berharap ada kendaraan lain yang menabarakku, menghancurkanku sekalian. Daripada aku harus merasakan dejavu berulangkali. Kupikir aku terselamatkan dengan keberadaanmu, tapi aku menyadari satu hal, makin dalam aku terlibat, makin jauh aku tersasar—tidak tahu jalan pulang. Aku hanya ingin kamu ada, di tempat dan waktu yang tepat. Bukan dalam setiap kesedihan yang lagi-lagi harus terulang.

Tapi, semua yang pernah aku alami, sungguh tidak ingin kulupakan sama sekali. Aku menikmati masa-masa itu, masa tidak menjadi pilihan, masa menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, masa-masa menjadi ramah untuk tidak dianggap asing. Atau masa-masa saat kebahagiaan dan rasa sedih hanya berjarak satu jengkal. Aku akan mengingatnya sampai aku tidak lagi mampu merasakan apa itu jatuh cinta, apa itu rindu, apa itu cemburu, apa itu sakit hati, apa itu kecewa. Saat tulisan ini muncul dan di titik ini kamu membacanya, barangkali aku telah menghilang dari radar, dan cukupkan dirimu. Aku tidak ada di mana-mana, aku berada jauh dalam jangkauanmu jika yang ada dipikiran dan hatimu hanyalah laki-laki lain.

Aku terlalu larut dalam ceritamu, sampai aku melupakan cerita yang ingin kutulis sendiri, dan kamu menolak menjadi tokoh dalam cerita itu. Tidak ada yang terlalu perlu disesali, aku hanya kepingan kecil dari kepingan penting dalam ceritamu—kisah cintamu yang menyenangkan, yang kubantu untuk menjadi sempurna. Aku hanya tokoh pengganti—yang mendukung keberadaanmu, saat kamu dan laki-laki itu terlibat dalam situasi menyebalkan atau bahkan pertengkaran hebat. Aku tidak akan sembunyi, meski keberadaanku selalu berusaha kamu sembunyikan. Aku ada, meski kamu tidak ada di mana-mana. Aku hanya butuh udara, butuh sesekali bernapas dari keadaan yang makin hari makin membuatku gila.

Aku akan menghilang tepat setelah pesan terakhir laki-laki itu masuk ke ponselmu. Aku hanya sedih, aku hanya kecewa pada diri sendiri—yang terlalu larut dan emosional pada hubungan yang tidak mampu kukendalikan, karena aku bukan pilotnya atau bahkan co-pilot. Aku hanya pemain cadangan, dan saat aku berada dalam permainan aku hanya bisa mengacaukan, tentu kamu menyadari itu. Aku adalah kekacauan yang teratur, selalu menghancurkan segala hal yang seharusnya ada untuk menjadi obat bagi setiap napas yang kamu ambil dari hiruk-pikuk yang membuatmu jenuh.

Tapi aku tetap manusia, punya perasaan yang seharusnya tetap kamu jaga. Punya perasaan takut kehilangan, sehingga bersikap seolah semua harus sesuai iramaku. Aku adalah penghancur bagi diriku sendiri, aku adalah bom waktu dan racun dalam diri. Aku hanya rindu, merasakan diri yang baik-baik saja, tanpa perlu berpikir kita ini apa, tanpa perlu berpikir besok akan jadi seperti apa. Aku rindu kamu, sungguh. Aku rindu diriku yang dulu. Yang selalu membantumu menulis cerita yang lugu dan membuatmu candu. Aku ingin menolong sekali lagi—bukan menjadi tokoh yang harus ditolong. Saat semuanya menghujam persis ke jantungmu, apa lagi yang perlu kamu tunggu. Selain kematian yang menunggu. Aku hanya menunggu, kamu yang datang sebagai penolong atau sebagai kematian yang tidak membawa ampun. Aku selalu menunggu bagaimana ini akan berakhir.

Satu hal yang perlu kamu tahu, apapun yang terjadi di akhir. Aku adalah pihak yang pasti akan kalah, bahkan hanya dengan menutup mata.


-----