Monday, June 11, 2018

Tentang Mimpi-Mimpi yang Beku

Aku terbangun, sekali lagi. Pada sebuah perjalanan waktu yang gagal total. Kali ini, setelah berkedip berulang kali, aku menyadari ada di sebuah perkantoran. Aku berdiri di antara meja dan kursi kayu cokelat yang ditata rapi. Di sekelilingnya dinding kaca menghalangi warna senja yang agak muram karena mendung sore itu. Aku duduk di satu meja dengan peralatan komputer terbaru, awalnya, kupikir aku sendirian. Tapi setelah mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, aku menyadari ada seorang perempuan duduk di belakangku, tak jauh dari situ.

Aku mengenalnya, ia dengan rambut menyentuh pundak tersenyum sebelum aku sempat mengirim senyumku. Bibirnya merah merona, matanya gelap sempurna, ia cantik dengan blus longgar berwarna putih dengan jam mungil di tangan kanannya.

“Hai,” ia menyapaku, melambaikan tangan seolah kami berjauh-jauhan.

“Loh kamu kok di sini?” kataku setelah mengolah informasi di otakku tentang keberadaannya yang tiba-tiba.

“Aku kerja paruh waktu di sini.”

“Serius?” tanyaku sedikit menarik tubuh—tak percaya.

“Iya, jadi aku dulu di sini, sebelum kamu,” ia masih dengan senyum di balik bibir meronanya. Mengabaikan layar komputer yang tak kuketahui menampilkan apa.

Aku bangkit dari tempatku, menghampirinya. Aku melihat matanya yang membesar indah, seperti seorang yang akhirnya bertemu sang kekasih setelah sekian lama tak bertemu. Aku mengulurkan tangan, ia menyambutnya dengan senang hati. Sedetik saat tangan kami bersentuhan, ruangan tiba-tiba luruh, kami tak lagi berada di perkantoran dengan dinding-dinding kaca. Aku bingung menatap sekitar, perempuan itu tetap diam—tenang, ia memelukku di antara hiruk-pikuk pesta dansa.

Satu tangannya menyentuh lembut pundakku, ia berbisik di telingaku;

“Nikmati malam ini, sayang. Bawa aku pergi dari ruang mimpimu,” aku menatapnya, mata itu menghindar. Masih dengan sentuhan lembut itu, ia menempelkan hidungnya pada pundak lainnya. Alunan musik klasik pelan-pelan terdengar sporadik di telingaku. Aku melingkarkan tangan pada pinggangnya, kami sempurna seperti penari dansa profesional di tengah hiruk pikuk kebisingan orang-orang.


Kupejamkan mata, ia masih bisa kurasakan di sekujur tubuh, gerak-geriknya yang pelan-mempesona, hingga deru napasnya yang menyentuh leherku. Aku merasa berada di rumah; tempat segala rasa nyaman ditemukan. Lalu saat aku membuka mata, ruangan itu sepi, tak ada lagi perempuan itu. Hanya aku sendiri.

Kupejamkan mata sekali lagi, berharap semuanya kembali. Namun tak lagi terjadi apa-apa, aku berkedip cepat, hingga menemukan diriku berada di jalanan malam, aku melihat perempuan itu menggandeng tanganku, ia ada di depan--mengajakku berlari. Jalanan itu sepi, lampu lalu lintas hanya berkedip kuning setiap kali. Ia makin kencang membawaku berlari, makin kencang hingga rasanya aku memasuki sebuah portal infinite, seketika ia hilang. Sebelum aku menyadari, aku masih dalam kecepatan lari yang konstan, hingga benar-benar berhenti. Aku terbangun dalam mimpi pagi di ranjang tidurku yang berantakkan, dengan kebingungan membekukan tubuhku. 

----

Tuesday, June 5, 2018

Radikalisme dan Intoleransi Kita.


Apakah radikalisme adalah “gen” manusia? Radikalisme adalah reaksi yang timbul karena kebencian terhadap suatu ideologi. Reaksi ideologis ini memengaruhi apa yang kita sebut kemanusiaan. Radikalisme memunculkan produk-produk yang lebih banyak akan merusak lingkungan publik dan kondisi sosio-politik di suatu negara, seperti munculnya terorisme.

Pendidikan kita menciptakan manusia-manusia yang reaktif bukan responsif. Orang-orang kita akan bereaksi terhadap sesuatu yang sudah benar-benar terjadi. Padahal menjadi responsif dalam hal penangkalan radikalisme adalah hal yang penting untuk dilakukan. Dari sana dengan dukungan pemerintah mulai dari Undang-Undang yang dibuat bukan karena perilaku reaktif, juga dukungan terhadap apparat keamanan, kita bisa pelan-pelan menanggulangi radikalisme, untuk kemudian dilakukan deradikalisasi.

Saya punya pengalaman. Tahun 2015, sekitar bulan April. Saya “disidang” di sebuah ruangan oleh beberapa pengajar yang bahkan jumlahnya tidak lagi bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Ada bapak & ibu saya di ruangan itu. Saya disidang karena menulis tweet yang memojokkan institusi pendidikan tempat saya belajar. Saya tidak memasalahkan agenda “sidang” tersebut yang tampaknya membuat beberapa pejabat institusi pendidikan itu marah sekaligus takut jika kedoknya tercium; Ini soal kasus korupsi.

Yang masih saya ingat dan selalu membekas di benak saya, ketika dua pengajar mengatakan bahwa saya akan mudah direkrut oleh ISIS karena saya dinilai radikal dan berani untuk bersuara. Sialnya, pengajar lain yang ada di sana hanya diam, seolah setuju dengan kata-kata itu. Ini jelas pengalaman menyakitkan yang sekaligus selalu coba saya lupakan namun terus gagal. Kalimat itu telah jauh menyakiti saya melebihi hinaan verbal yang pernah saya terima. Diucapkan oleh pengajar yang saya hormati. Apakah saya marah dan memberontak? Tidak. Saya hanya bisa menangis tiap mengingat momen itu.

Hera Diani dalam artikelnya di Magdalene berjudul “Konservatisme Agama di Sekolah dan Kampus Negeri Picu Intoleransi.” Menulis tentang radikalisme yang merebak masuk ke sekolah dan kampus negeri. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) di Universitas Islam Negeri Jakarta mengadakan survei nasional yang diikuti 2.181 responden. Hasilnya mengkhawatirkan; Dari 58,5 % pelajar atau mahasiswa muslim menganut paham radikal dan 34,4% di antaranya intoleran terhadap non-muslim.

Dalam kasus ini, seharusnya Pancasila bisa menanggulangi problem tersebut dengan penguatan ideologi Pancasila di bangku-bangku sekolah. Pada kenyataannya, Pancasila benar-benar hanya menjadi simbol dan hapalan semata. Tidak ada yang benar-benar melakukan amanat itu di kehidupan sehari-hari, apalagi dengan tidak membaca sejarah tentang Pancasila itu sendiri. Kita hanya mengingat Pancasila setiap tanggal 1 Juni saja, gembar-gembor tanpa paham betul maknanya. Sehingga ideologi ini menjadi dilemahkan oleh masyarakatnya sendiri. Yang tidak mampu memahami Pancasila sebagai subjek yang kontekstual.

Satu contoh tentang pelemahan ini yang secara tidak sadar dilakukan adalah Pembubaran HTI. Membubarkan HTI dengan dalih melindungi Pancasila dari ideologi radikal justru bisa memperjelas bahwa Pancasila dalam implementasinya sehari-hari tidak kokoh, tidak mampu merasuki setiap benak warganya. Ibarat dua petinju yang bertarung, salah satu petinju langsung menyerang bagian ulu hati lawannya, yang di mana itu jelas dilarang dalam aturan olahraga tinju.

Mengutip kata-kata Benjamin Prado; “Yang berbahaya bukanlah ideologi, tapi kurangnya ide.” Ideologi harusnya dilawan juga dengan ideologi. Pemerintah kekurangan ide, sehingga memutuskan mencari jalan cepat—jalan pintas yaitu membubarkannya. Dan lagi ini ikut mencederai UUD 1945 Pasal 28; “ Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan oleh undang-undang.”

Kita semua tidak bisa menjadi toleran ketika tanpa sadar kita mentoleransi ketidak-toleransian. Contoh ketika pemerintah masih saja toleran pada sejarah masa lalu yang belum selesai dan tidak punya niat untuk meluruskan. Kita harus sadar instrument toleransi adalah tentang manusia. Jika masalah kemanusiaan saja kita belum selesai, ada baiknya kita perlu belajar lagi sebelum jauh membicarakan persoalan toleransi.

Contoh kasus ketika PKI dibubarkan tahun 65 dengan dalih kudetanya, sehingga militer punya alasan kuat untuk turun tangan. Sejarah itu sampai saat ini belum selesai. Dalam kasus itu kita sejenak melupakan sila kelima Pancasila; “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Keadilan juga harus diberikan pada mereka yang dituduh PKI dan divonis bersalah tanpa proses hukum yang sah. Bahkan ada yang dihilangkan dan dibunuh. Sebelum membicarakan toleransi dan kebhinekaan. Kita harus lebih dulu berdamai dengan masalah ini.

Belum lagi kasus Mei 98 yang sampai saat ini belum selesai sehingga Kamis demi Kamis dalam aksi Kamisan masih terus ada karena tidak adanya kejelasan dari kasus ini. Keadilan harus tegak sebelum reaksi ideologis mengisi ruang-ruang masyarakat yang akhirnya akan bisa mengguncang kondisi sosial-budaya kita. Kita buntu untuk memahami konteks toleransi dan kebhinekaan karena kita masih terus membicarakannya sebatas ucapan belum sampai sebagai pencerah perilaku dan dalam pikiran sebagai ideologi.

Pengalaman saya sebagai mahasiswa. Apakah kita boleh mentoleransi ketika ada teman kita yang dengan kesadaran penuh tanpa pertimbangan matang, meminta tolong orang lain untuk mengabsenkan dirinya alias titip absen. Apakah kita akan tetap diam melihat praktek ini yang terus saja terjadi, seolah telah menjadi akar kita yang pada akhirnya menciptakan mental-mental korup dan tidak mencerminkan nilai Pancasila, artinya kita tidak bisa banyak berharap pada mereka yang melakukan praktek ini tanpa rasa bersalah. Apalagi untuk percaya bahwa mereka toleran dan memahami nilai Pancasila. Pendidikan kita menjadi gagal karena mental subjek pendidikan itu sendiri.

Pancasila adalah cita-cita. Seharusnya kita sedang mengarah ke tujuan cita-cita tersebut. Ideologi ini harus menjadi kuat dan menjadi roda penggerak masyarakat kita yang lokusnya memang sudah plural. Menjadi toleran adalah tentang untuk setuju pada yang tidak setuju. Setuju mengapa perbedaan sangat kentara dan kasat oleh mata. Radikalisme adalah musuh bersama. Kita adalah tatanan masyarakat yang seharusnya damai sejak dalam pikiran.

Para pemberani akan sukacita menerima keberagaman karena bagi para pemberani beragam adalah aset. Bagi para pengecut mereka jelas akan menolaknya, karena baginya ideologi terbaik adalah ideologi yang mereka anut. Ideologi seharusnya menambah banyak kemungkinan ide, bukan menghentikannya dan menjadikannya berpikiran sempit dan pendek.

Pada akhirnya kita harus menyadari, bahwa tidak semua orang mampu memahami segala sesuatu dengan baik, tidak semua orang mampu memahami lebih dama sampai ke akarnya. Apalagi untuk konsep toleransi dan kebhinekaan yang begitu kompleksnya. Pada akhirnya tetap aka nada Si Bodoh dan Si Pintar. Tapi dari semua itu, yang paling berbahaya adalah ketika si bodoh tidak ingin dan tidak berniat untuk belajar.

-----

Wednesday, May 30, 2018

Tentang Mimpi-Mimpi yang Dingin


Aku terbangun dari sebuah perjalanan waktu yang gagal total. Petang itu aku hanya memakai celana pendek selutut dan tubuhku terasa sakit karena baru jatuh dari langit. Aku jatuh persis di pinggir jalan, ada pembatas besi yang memisahkan antara jalan beraspal dan lautan luas. Saat aku membuka mata dari terbaring miring dan mencium air hujan, aku melihat seorang wanita menangis bersandar pada pembatas besi jalan itu. Wanita itu menatapku nanar, ada air mata yang kulihat hingga membasahi rona pipinya.

Tiba-tiba wanita itu memelukku, aku tak mampu mendengar kata apa yang keluar dari bibirnya sesaat sebelum pelukan hangat itu menubruk tubuhku. Dalam peluk itu aku melihat senja yang sedikit lagi menghilang—melihat pantulan sinar itu di air laut yang tenang. Wanita itu sangat erat memelukku, dia berkata;

“Jangan pergi, aku takut di sini.”

“Aku gak paham, kenapa?” kataku membalas. Ia melepas pelukannya, kali ini menatapku dengan senyum yang tenang.

“Jangan jawab, cukup rasakan. Aku takut sendiri,” aku hanya menatapnya—semakin bingung. Tiba-tiba ia menciumku—pelan, tak kurasakan nafsu di sana. Bibir kami yang basah bertemu di sebuah lanskap tepat ketika senja benar-benar hilang. Aku membalas penuh ciuman itu. Ia semakin erat mencekram punggungku, sampai ia berhenti—lalu menatapku lagi, dan kembali menciumku. Yang kali ini lebih kacau, tidak tenang sama sekali. Aku mendorong tubuhnya, sampai punggung wanita itu menyentuh dinginnya pembatas besi jalanan.

“Aku di mana?” tanyaku dalam pelukannya sesaat ciuman itu usai.

“Ha?” suaranya lirih, melepas pelukan—tersenyum menatapku.

“Ini di mana?”

“Home. . .” ia berbisik di telingaku, ia menunjukkan keindahan lautan dengan gerik tubuhnya, seolah mempersembahkan keindahan eksklusif itu padaku.

“Aku gak paham.”

“Cukup aku, kamu jatuh di duniaku. Aku telah lama menunggu,” ia berdiri sejajar di sampingku, ada yang aneh—aku tak lagi merasakan angin yang menabrak tubuhku yang telanjang. Saat kulihat, ada setelan rapi yang terpasang di tubuhku, reflek aku melihat wanita itu, dan ia hanya tersenyum.

Sampai cahaya senja benar-benar hilang, dan langit diselimuti gelap yang murung tanpa bintang, ia menggenggam tanganku—mengajakku pergi dari sana. Aku mengejar langkahnya yang sedikit cepat. Terus bertanya sepanjang jalan ke mana kita akan pergi, ia tak menjawab, hanya sesekali menoleh—senyum itu menghiasi bibirnya, lagi dan lagi.

Sepanjang jalan itu rambutku terus tersapu angin yang sekaligus mengelus pipiku dengan lembut, wanita di depanku ini memakai gaun putih susu yang elok menyentuh lutut. Ada perasaan yang menggema mengganggu pikiran tiap aku berkedip, makin lama, goncangan itu menggangguku. Aku penasaran, kugunakkan mataku untuk terus berkedip untuk tahu jawabannya. Wanita itu mempercepat langkahnya, saat aku berkedip sekali lagi, wanita itu telah hilang, aku berlari, masih menyongsongkan tangan ke depan, sebelum sepenuhnya sadar—aku berlari sendirian.

Aku melihat sekelilingku, mencari wanita itu dan tak kutemukan di mana-mana, saat aku menoleh dalam sekejap aku berada di sebuah lorong putih dengan banyak pintu cokelat di kanan dan kirinya. Di ujung lorong itu ada cahaya putih yang berusaha menembus kaca tebal. Lorong itu sepi, ada gema saat suara tercipta. Aku berjalan menyusuri lorong dengan karpet berpola planet-planet, sampai di depan pintu nomor 19 aku dikagetkan oleh suara langkah kaki yang berat dari belakang, sebelum aku sempat menoleh, tubuhku terdorong masuk menembus pintu 19.

“Kamu harus segera pulang,” pria itu mengambil sebuah arloji dari saku celananya. Aku yang bingung terus melihat gerak-geriknya. Lalu ia melemparkan arloji itu ke lantai, secercah cahaya diagonal keluar dari arloji itu, cahaya putih yang perlahan menjelma portal yang penuh bintang-bintang dan benda langit. Ia mendorongku dengan keras, bahkan tak bisa kulawan. Aku tak ingat apa rasanya memasuki portal itu.

Ada gelap yang singkat, aku membuka mata, sedikit menebak sedang berada di mana. Aku terbangun dari ranjang tidurku. Mimpi apa lagi barusan? Tanyaku dalam hati, sepasang mataku seperti dibebani batu besar. Lalu aku buru-buru membasuh muka, cermin di depanku sekilas memantulkan sosok wanita itu. Aku mengenalnya. Sial! Tak biasanya aku mampu mengingat setiap wajah di mimpiku. Sungguh mimpi yang dingin, yang membawaku pada titik ini: Dan membawamu ikut.    

Friday, May 18, 2018

Pulang dari Mimpimu

Aku telah lama diguncang, sendiri dalam bait-bait ruang yang saat itu memaksaku untuk menolak semua yang datang, hanya karena satu wanita yang begitu kucintai. Saat-saat itu adalah hal yang tidak mampu terkatakan namun rasanya indah. 

Ada bagian dari dalam dirimu yang  kosong, tapi kamu merasakan kenikmatan untuk mengingatnya. Entah apa kata yang tepat bagiku untuk menerjemahkan saat-saat ini, mimpi itu telah habis, dan bayangan tentang keberadaanmu pelan-pelan menjadi debu. Aku sudah berada pada jalan kebuntuan, tak lagi mampu mendengar, tak mampu lagi melihat. 

Aku benar-benar tidak mampu memahami situasi ini. Aku telah seringkali mencoba mencintai orang lain; aku percaya bahwa cinta itu bertumbuh. Namun kenyataannya adalah sesuatu yang tak mampu kuterima, cinta selalu pergi justru di saat aku membutuhkannya.


Semarang, 18 Mei 2018

Monday, May 14, 2018

Kamus Kata

Kecewa itu kamusmu
Sedih baru kamusku
Marah itu katamu
Sabar baru kataku

Kata-kataku bukan marah katamu
Katamu bukan sabar kata-kataku
Sedihku bukan kata kecewamu
Kamusmu barangkali kata-kataku


Semarang, 15 Mei 2018

Friday, May 11, 2018

Mengunjungi Mimpimu


Sebelum kamu membaca inti dari kisah ini, aku ingin memberi tahu; ini adalah sebuah cerita pendek tentang cerita yang sangat pendek. Apa yang ada dibenakmu saat aku bilang, aku sedang tertarik pada seorang perempuan yang akhir-akhir ini sejak dua bulan lalu, menghantuiku. Iya, aku bahkan tak mampu meyakini bahwa ini adalah bagian dari perasaan jatuh cinta. Kenapa? Karena aku percaya sebelum kita berpijak pada satu konsep yang kita kenal dengan cinta, kita selalu harus melewati tiga fase.

Fase pertama; mengenal. Karena seperti seorang penulis yang melakukan riset sebelum memulai menulis, aku, kamu, kita semua agaknya selalu perlu untuk mengenal siapa dia yang membuat pikiran kita jauh tersita, membuat kita jatuh pada pandangan pertama, tertarik di awal. Fase ini sudah aku lewati, dan tulisan yang sedang kamu baca adalah pentup fase pertama. Aku tidak betul-betul mengenalnya, hanya beberapa omongan dari teman sekelas atau sosial medianya, dan untuk itu aku butuh fase kedua.

Fase kedua: pekenalan, perkenalan adalah fase di mana obrolan di antara dua manusia mulai terjalin. Pria percaya pada jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita? Kukira tidak, mereka adalah nyawa yang spesifik perlu dirumuskan. Tapi, aku percaya, pada obrolan pertama wanita bisa saja mulai tertarik atau bahkan jatuh cinta. Aku belum memulai fase ini, dan mungkin kamu bisa menebak bahwa tulisan ini adalah pembuka fase keduaku, sebelum aku berani untuk masuk pada fase selanjutnya, fase ketiga.

Fase ketiga; fase ketika kita sama-sama harus memutuskan, menerjemahkan arah relasi, arah hubungan pada seorang yang membuat kita tertarik. Apakah hanya akn menjadi sebatas teman, rekan kerja, atau mungkin bisa menjadi sepasang kekasih. Fase ketiga memang sedikit rumit, karena keduanya harus sama-sama yakin untuk merumuskan mau dibawa ke mana arah hubungan. Tidak akan sama-sama bertemu, jika keduanya berbeda dalam menerjemahkan.

Lalu, ada di mana kamu sekarang? Apakah kamu sudah berani memulai? Aku sendiri sudah selalu hampir ingin memulai, ketika aku melihat wanita ini ada di sudut-sudut kampus, aku bahkan pernah sekali menyapanya. Uniknya aku tak pernah melihat langsung wajahnya. Di hari pertama aku melihatnya, aku hanya melihat dia duduk merunduk menggunakan celana panjang putih dan baju berbunga merah muda. Instingku saat itu berbicara, “That’s my love.” Aku mengejarnya, karena ketika mengejar kita tahu kapan harus berhenti, dan kenapa harus tetap mengejar. Aku tidak ingin dikejar, karena aku tak pernah tahu kapan harus berhenti.

Aku perlu menunggu seminggu lamanya untuk bisa melihatnya lagi, kita seringkali berpapasan, namun tetap saja, aku belum berani memulai obrolan, karena aku belum mengenal betul wanita ini. Sampai suatu ketika, aku benar-benar melihatnya duduk sendirian, aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan, seolah detik itu juga perasaan ragu membuat tubuhku beku. Aku selalu berpikir, apakah orang sepertiku layak dicintai, atau layak mencintai?

Pernahkah kau melihat seseorang dan berpikir seketika untuk bisa hidup dan menjaling hubungan dengannya? Ini sedikit rumit untuk dijelaskan, namun tuhan menciptakan manusia dengan pikiran juga insting. Aku memutuskan menulis ini, setelah sekian lama berpikir matang-matang, semoga ia membacanya, semoga ia tergerak membalas ini. Paling tidak aku telah melakukan sesuatu yang berarti buatku. Bukankah itu makna cinta? Ketika kita bergerak untuk sesuatu.

Lalu aku selalu yakin, pada seseorang yang membuatku jatuh hati, ketika orang itu masuk ke dalam mimpiku. Aku percaya, mimpi adalah ruang yang netral. Di sana, semua kemungkinan bisa terjadi, yang kita inginkan atau bahkan tidak kita inginkan. Artinya, aku ingin mengunjungi mimpimu, Ev. Izinkan aku berada di sana meski hanya sedetik. Biarlah aku menunjukkan perasaan yang entah tentang apa ini. Aku pun bingung menerjemahkannya, maka bantu aku.

Kalau kamu berpikir, lagi-lagi aku menulis sebuah cerita nyata, kali ini harus kubilang kau 100% benar. Kalau kau bilang ini adalah pilihan yang berisiko, itu juga benar. Karena bisa saja tulisan ini akan terabaikan, atau bahkan tidak dibaca. Tapi, apa salahnya mengambil risiko?

Namanya Eva, perempuan yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya, belum pernah kudengar suaranya, belum pernah kuselami cara berpikirnya, belum pernah bertanya tentang apa makna hidup baginya. Dan segala ketidak-pernahan lainnya. Kali ini aku sangat yakin dengan gejolak yang muncul dari dalam. Lalu ketika gejolak itu muncul, adakah yang bisa menggantikan gejolak itu?

Aku belum ingin memulai fase kedua, sebelum Eva mengenalku. Ada baiknya perkenalan dimulai ketika keduanya paling tidak tahu sama tahu. Dan sama-sama percaya bahwa semua kemungkinan itu pasti ada, kemungkinan yang membawa kita dari A sampai ke Z. Kemungkinan yang meruntuhkan sekat-sekat yang menghalangi, bahwa cinta selayaknya perlu dicaritahu, diterjemahkan, lalu diperjuangkan. Aku ingin istirahat, Eva. Bangunkan aku ketika kamu menyadarinya.

-----

Saturday, May 5, 2018

Salam untuk Ibu

Aku dilahirkan dari suara toa masjid 
yang membangunkan ibu 
dari mimpi buruk.

Di ranjang sempit itu 
seorang wanita mengadu pada selimut putih 
yang lebih hangat dari tatap matamu.

Katanya dingin subuh 
seperti mata lampu yang mengendap 
riang di kamar tidurku.

Aku yang baru bangun, 
melihat kumpulan semut yang bercinta 
dengan seekor kecoa di lantai.

Suara toa yang berisik masih besenggama 
di langit-langit dengan awan kelabu 
yang menutup bulan pagi itu.

Tak ada sarapan pagi ini, 
kematian telah membawa yang kau cintai 
pada tanah basah penuh lumpur akibat hujan malam tadi.

Aku yang masih meringkuk 
tak sadar telah disetubuhi laron-laron 
penuh nafsu di bawah pijar lampu neon

Kesakitan mengartikan makna kata, 
saat aku menyetubuhi wanita lain, 
tapi di pikiranku masih tergambar paras wajahmu.

Aku ingin tidur saja, 
bangunkan aku satu menit sebelum kematian menjemputku, 
aku ingin mengucapkan salam pada ibu.


Semarang, 5 Mei 2018