Friday, September 28, 2018

Ledakan Dahsyat dalam Aruna dan Lidahnya


Aruna dan Lidahnya adalah ledakan dahsyat di sinema Indonesia. Dia adalah teori big bang yang sempat disebut oleh Farish (Oka Antara) dalam satu adegan ketika keempat pemerannya makan bareng. Kenapa saya menyebut Aruna dan Lidahnya sebagai ledakan dahsyat? Ketika Nad berkata bahwa sains dan agama tidak bisa menyatu, dan ia menantang adakah satu teori sains yang sesuai dengan agama. Farish menjawab dengan lantang bahwa Teori Big Bang sesuai dengan Surat Az-Zumar.

Saya sudah sangat jarang menulis pembahasan sebuah film di dalam blog ini, karena hampir tidak ada film Indonesia yang pantas saya tulis di sini. Karena saya memasang standard tinggi, alasannya jelas, banyak film Indonesia dibuat bagaikan air dan minyak, tak dapat menyatu sama sekali alias selalu saja ada yang kurang, entah directing, acting, atau cara dia bercerita. Aruna dan Lidahnya meledakkan sekat itu, ia tetap menjadi film yang asik dinikmati meski datang dari Sutradara yang film-filmnya sulit dinikmati orang-orang “normal.” Aruna dan Lidahnya meleburkan kekurangan-kekurangan yang sering dikeluhkan banyak penikmat film Indonesia; terlebih para penulis review film Indonesia.

Ledakan dahsyat dalam Aruna dan Lidahnya adalah milik keempat aktornya; Aruna, Bono, Nad, dan Farish. Akting mereka sempurna! Mereka benar-benar menjadi senjata ampuh untuk menyajikan peran yang natural dan lezat—seperti makanan yang ada di filmnya. Dian Sastro sebagai Aruna adalah aktor gila, bahkan hanya dengan gesture tubuhnya, gerak mata dan gerik bibir juga mimik—tanpa harus bicara kita tahu apa yang disampaikannya. Ini semacam kita sudah menemukan siapa Aktris terbaik FFI tahun ini.

Oka Antara sebagai Farish adalah kandidat terkuat dalam nominasi aktor pendukung terbaik FFI. Bahkan katakan saja kita telah menemukan pemenangnya. Oka Antara sangat, sangat, sangat, membantu Aruna untuk mencapai puncak aktingnya di film ini. Oka Antara memperjelas perasaan, motif, motivasi, dan pikiran Aruna di dalam film. Oka Antara tak sekadar menjadi pendamping Aruna, ia punya kompleksitas yang tidak kita duga—meski Nad memberi kisi-kisi di awal-awal film. Dan jangan lupa, Dian juga membuat peran Oka Antara sebagai Farish menjadi sangat baik. Mereka adalah simbiosis mutualisme.

Jangan Lupakan Nicholas dan Hannah sebagai Bono dan Nad. Ia juga tak sekadar menjadi pelengkap ledakan dahsyat ini, keduanya adalah bagian dari komposisi di dalam ruang yang sama dengan Oka dan Dian. Meski karakter Hannah tidak terlalu dalam digali, tapi saya bisa sangat memaklumi itu, karena film memang mengambil sudut pandang Bono dalam cintanya kepada Nad. Kita menjadi peduli pada karakter Nad saat ia mengobrol dengan Farish. Film ini tepat menempatkan dialog-dialog penting dan sakral yang menjadi loncatan setiap karakternya. Seperti obrolan Nad dengan Faris tentang selingkuh. Sedangkan tugas Bono adalah memperdalam makna kuliner di dalam film ini, karenanya karakternya adalah seorang chef. Kuliner dalam film ini bukanlah menu utama, kisah cinta yang terjadi antara tokoh adalah menu utamanya. Dan melalui Bono kita terjaga bahwa film ini juga menawarkan kuliner; sesuatu yang langka dalam banyak film Indonesia.

Lepas dari Teori Big bang, ada satu teori lagi yang asik untuk kita bahas. Tentang semiotika dalam film yang sangat cerdas dihadirkan oleh Edwin, sebagai sutradara. Menurut Ferdinand de Saussure, sebagai sebuah ilmu, semiologi selalu dihubungkan dengan kata semiosis untuk merancang produksi dan interpretasi sebuah tanda. Produksi tanda dan rancangan interpretasi untuk Aruna dan Lidahnya dibuat sangat dalam dan menyatu dengan karakternya, terkhusus bagi Aruna dan Faris. Semiotika ini khas sekali dengan Edwin, seolah telah menjadi satu tubuh utuh tanpa bisa dilepas. Lagi dan lagi, seolah kita sudah menemukan siapa sutradara terbaik FFI tahun ini.

Kita ambil contoh, saat Aruna berani menanyakan tentang kekasih Farish dua tahun yang lalu saat ia masih kerja bareng. Di mana adegan itu dibuat? Di sebuah bekas gedung bioskop yang terbengkalai dan tidak digunakan lagi, gedung teater tua yang sudah sangat lama. Pendekatan lokasi ini dibuat untuk memperdalam dan mendukung dialog yang terjadi di antara keduanya, jualan film ini yang menekankan pada dialog bukanlah isapan jempol belaka. Dialog dalam film ini bukan sekadar verbal antara dua manusia, tapi juga non verbal melalui sesuatu yang tidak keluar dari mulut karakternya.

Lalu Saat Mbaa Pria tiba-tiba datang dan mengambil alih pekerjaan Aruna dan Farish. Kamera mengambil shoot Aruna yang berjalan dengan raut muka marah dengan dukungan gambaran perasaan dari sebuah naga barongsai. Edwin berusaha menunjukkan gejolak perasaan yang ada di dalam diri Aruna dengan simbol naga yang berwarna merah. Dalam setting itu pun, keduanya menjalin sebuah dialog yang intens, dengan musik barongsai yang merasuki dialog itu sendiri. Adegan itu adalah salah satu adegan terbaik dalam film ini. Ia menyatukan dua faktor yang sulit disatukan; antara gejolak yang terjadi di dalam dan apa yang terlihat di luar.

Dalam Aruna dan Lidahnya Edwin melihatkan “fetish-fetish” atau “keanehan” yang biasa ada di filmnya yang tidak medioker. Edwin menggambarkannya lewat dua mimpi yang dialami Aruna, pertama saat Aruna mimpi membuka lemari es dan memeras jeruk nipis, lalu mengarahkannya ke lidah hingga belepotan ke pipi, Aruna mengatakan bahwa itu “Asin.” Kedua saat Aruna minum air sungai dan mengatakan bahwa itu “tawar” di dalam mimpi itu ada satu instrumen yang sama, yang menguatkan dugaan saya, bahwa mimpi-mimpi itu adalah “fetish liar” Aruna dalam kehidupan seksualnya. Terlebih lagi obrolannya dengan Nad soal kondom dan gambar menunjukkan Aruna yang sedang mengganti pembalut.

Ingat satu adegan saat Farish mengajak Aruna untuk makan rujak soto? Mereka sedang berdiri memakan semacam ronde dengan cakue? Yang sudah menonton filmnya pasti ingat, bagaimana camera movement menggambarkan loncatan Faris yang awalnya menganggap makanan “biasa saja” menjadi sesuatu yang harus “dikejar”. It’s crazy, dude! Sepanjang menonton film Indonesia saya baru menemukan bentuk seperti itu dalam film ini. Ditambah dengan ekspreksi, gestur, dan gerak-gerik Oka yang natural dan sempurna. Harus diakui menunjukkan loncatan karakter hanya dari dua instrument yaitu camera movement dan mimik muka adalah sesuatu yang luar biasa, apalagi dalam sekali waktu. Bravo Edwin!

Adaptasi bebas ini membuat filmnya bercerita dengan baik dan asik untuk diikuti, sesuatu yang menarik ditawarkan sejak awal film. Aruna yang punya “ruang” atau “semestanya” sendiri untuk bebas merdeka berbicara pada kita sebagai pentonton, ia bebas mengekspresikan perasaannya. Ini dibuat sengaja untuk menghadirkan sensasi yang sama, yang dirasakan keempat karakter dalam film, yaitu makan dan ngobrol. Dalam hal ini, Aruna khusus menjadi teman ngobrol kita saat nonton dengan ditemani popcorn, atau menu khusus untuk film ini. Persis seperti ngobrol di meja makan, hanya berdua dengan Aruna—dan kita mendengar ceritanya yang sangat menarik bagi kita.

Lepas dari Teori Semiotika dan Teori Big Bang. Saya Ingat Teori Hierarki kebutuhan oleh Abraham Marslow. Yaitu kebutuhan fisiologi (makan, minum, dan seks.) Menonton Aruna dan Lidahnya membuat kebutuhan fisiologimu (makan, minum, dan seks) terpenuhi dalam sekali waktu. Meski yang terakhir tidak begitu jelas digambarkan dalam film. Dia diinterpretasikan melalui karakter Aruna dan didukung oleh Nad.

Babak ketiga film Aruna dan Lidahnya dimulai dengan masuknya lagu “Antara Kita” versi Monita Tahalea yang menjadi pengiring perasaan dan gejolak yang dirasakan Aruna dan Farish, juga Bono dan Nad. Dengan konsklusi yang memeluk hangat dan perlahan film ini memberikan pengertian bahwa benar bahwa menu utama dalam film ini adalah cinta antar manusia. Dan kuliner dalam film ini menjadi pendamping yang menarik. Seperti jualan para tokohnya bahwa dialog dalam film ini sangat menarik. Harus kita akui, itu benar adanya.

Dan kita tetap tidak menemukan jawaban apakah Fajar, anak berusia 12 tahun benar-benar terjangkit flu burung? Sebetulnya kita menemukan jawaban. Bahwa orang yang mengangap penyakit sebagai penyerahan diri kepada tuhan, memang akan sulit dimengerti. Jadi biarkan saja.

Mari kita simpati empati, lalu jatuh hati pada Aruna dan Lidahnya! #BanggaFilmIndonesia


------



Wednesday, September 5, 2018

3 Menit Sebelum Patah Hati (Cinta yang Merah)


Bisakah kamu membayangkan menjadi seseorang yang telah melalui semuanya sendirian selama hampir empat tahun setelah patah hatimu yang paling hebat, paling karam, dan paling kelam. Coba bayangkan, kamu tak punya gairah untuk mengenal orang baru, membuka obrolan, apalagi ada di sebuah hubungan baru setelah semua yang terjadi padamu. Kamu memilih menarik diri, menjadikan dirimu sendiri sebagai korban yang tak diketahui siapa-siapa, rasa sakit yang terus-menerus ada, lebih kamu pilih untuk dipelihara.

Kamu terbiasa melakukannya sendiri, terbiasa hidup tanpa rasa kasih atau sayang, kamu terbiasa untuk tidak meminta bantuan pada siapa pun, karena kamu tak lagi percaya pada siapa-siapa. Coba bayangkan ketika seseorang mencoba masuk ke duniamu, mengenalmu. Kamu tetap tak tertarik, tetap tak bergairah, karena bagimu orang itu sama saja—tak ada beda dengan yang terakhir. Atau kamu bahkan berpikir untuk tidak punya hubungan pada siapa pun, tidak ingin menikah—mengutuk dirimu sendiri.

Lalu lama-kelamaan kamu berpikir sendiri bahwa mungkin kamu terlalu mengekang dirimu sendiri, sudah kelewat batas menilai bahwa semua orang sama saja, terlalu sering membandingkan orang-orang pada satu manusia yang telah dengan kesadaran penuh membuatmu jatuh hingga dasar jurang. Kamu berpikir untuk membuka hati namun rasanya sulit, semesta tak lagi memihakmu, perasaan itu terus coba kamu bangun—memang benar membangun optimisme butuh tenaga apalagi di antara orang-orang yang sengaja melemahkan diri—tak optimistik.

Kamu mencoba membaur, berteman pada siapa pun, mengenal semua orang, membuka obrolan dengan orang-orang di sekitarmu, kamu menguji dirimu sendiri. Seberapa banyak kamu membuang waktu untuk menghakimi diri sendiri, seberapa meruginya kamu karena telah terlalu keras kepala, dan tak lagi percaya bahwa cinta adalah kekuatan besar, dan karena itu, ia perlu dikendalikan. Kamu menceritakan kisahmu pada orang-orang yang akhirnya kamu beri kepercayaan, kamu merasa tenang dan nyaman untuk memuntahkan semua kisah yang lama menjadi bebanmu.

Saat kamu mulai percaya pada dirimu sendiri, kamu merasa semesta sepenuhnya memihakmu, seperti memelukmu perlahan, mengelus lembut kepalamu, dan menyanyikan lagu penenang dengan pelan di kedua telingamu. Kamu merasa siap untuk membuka diri, meski di dalam hati kecilmu masih ada sedikit perasaan ragu, merasa takut kejadian empat tahun lalu akan datang dan membunuhmu sekali lagi. Kamu malu-malu mengungkap dirimu yang baru.

Kamu ingin memulai hidup biasa, mulai terbiasa pada hal-hal yang memang dilakukan orang lain; mencintai, dicintai, berbahagia, atau sekadar berpelukan dan berciuman. Lalu satu temanmu menceritakan temannya, kamu tertarik pada seseorang di dalam cerita temanmu itu. Tanpa sadar senyum selalu merekah setiap temanmu menyebut nama orang itu, ada percikan di dalam diri yang awalnya masih terlalu kecil. Lalu kamu mencoba berusaha mengenalnya, pertama hanya melalui sosial media karena di dalam dirimu masih ada rasa tak percaya diri. Kamu mulai mengikutinya, mencari semua tentangnya, detail hidupnya, dan itu membuatmu tambah terpesona.

Kamu sangat bersemangat saat kamu tahu orang itu meresponmu dengan baik. Kamu menemukan orang baru yang sanggup membuatmu pelan-pelan membuka diri. Tanpa sadar kamu selalu menceritakan banyak hal padanya, meskipun kamu baru saja mengenalnya. Bagimu ia seperti malaikat yang diturunkan tuhan hanya untuk kamu seorang. Hari-harimu diisi olehnya, kamu bersemangat untuk membuka sebuah hubungan yang membuatmu merasa tenang dan nyaman. Rasanya ia adalah orang itu, yang kamu butuhkan sejak dulu, lalu kamu merasa dia tidak datang terlambat, meskipun keberadaannya secara realistis sangat terlambat.

Kamu berusaha membujuk temanmu agar orang itu bisa bertemu denganmu. Kamu ingin merasakan apakah debar di dadamu dan getar di tubuhmu senyata itu. Kamu ingin merasakan bagaimana perasaanmu diluluhkan seketika, kamu ingin merasakan lagi hati yang hidup setelah empat tahun mati tanpa penghuni, tanpa seseorang yang mampu dan berani memeliharanya. Temanmu mengiyakan, iya tahu dari raut mukamu, kamu sedang berada di dalam sebuah cinta yang menyala merah, meski kamu masih tersesat di dalamnya. Kamu sudah sering mengobrol hanya melalui ponsel, kamu ingin merasakan kenyataan yang tak kabur sama sekali. Dan hari itu tiba.

“Saat aku mencoba menatapnya untuk pertama kali, ia melebarkan senyumnya, memiringkan kepalanya, menatapku tajam namun lembut, ia menahan senyumnya beberapa detik, sampai satu kata muncul dari bibirnya. Mata di balik kaca mata bundar itu menyentuh lekuk pipinya, menambah semesta yang manis. Aku terpesona, ia menyerahkan seluruh tawa dan senyumnya pada detik yang sama. Dengan aku yang lemah dan tak mampu berbuat apa-apa lagi, hanya terus berusaha menyimpan debar di dada.” Kamu menulis pertemuan pertama itu dalam sebuah buku yang biasa kamu bawa ke mana-mana. Sepanjang jalan pulang senyum di bibirmu terus menukik seperti tendangan bebas Tsubasa yang imajinatif dalam serial kartun Jepang. Bedanya ini nyata.

Saat kamu sampai di rumahmu yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, karena terletak di kota yang berbeda. Hatimu menggerakkan untuk memberi kabar padanya bahwa kamu sudah sampai di rumah dengan aman. Ia senang mendengar itu, waktu itu pukul satu pagi, dan kamu bertanya kenapa ia belum tidur padahal sebelum berpisah kamu melihat ia tampak mengantuk. Ia hanya menjawab bahwa bentuk matanya memang seperti itu, dan menambahkan sebuah kalimat pada ruang obrolanmu “You need to know me so well,” katanya.

Kamu merasa ini waktunya jujur, bahwa teman-temanmu sering menggodamu bahwa mereka mendorongmu untuk bisa memiliki hubungan lagi, teman-temanmu mendorongmu supaya kamu dan dirinya bisa menjadi sepasang kekasih. Betapa senangnya kamu ia menjawabnya dengan sukacita, ia mengamini perkataan teman-temanmu. Jantungmu berdebar di dingin malam yang menusuk lembut kelopak matamu. Kamu memberanikan diri untuk bilang apakah ia mau. Dengan malu-malu ia menjawab, seperti langit abu-abu, ia menunjukkan ketertarikannya juga padamu 

Setelah itu kamu menyadari, ia punya kisah yang hampir sama, lama sendiri karena pernah patah hati hebat hingga membuatnya kelam dan gelap. Kamu merasa punya kesamaan, bahwa ia juga sedang berusaha membuka hati, dan ia membuka hatinya lebar-lebar untukmu. Lagi-lagi kamu hanya mencoba untuk jujur, bahwa masih ada perasaan takut. Ia memahamimu sepenuhnya, ia juga merasakan tapi ia sepenuhnya ingin melawan.

“Because I need someone to love me. Aku lihat ada ketakutan-ketakutan yang berusaha kamu tutupi dan berusaha kamu lupain dan gak mau kamu obrolin waktu kita ketemu… But if, if you need someone to talk about everything. I’m glad to be here for you,” katanya, yang kamu baca dengan pelan, tanpa sadar kamu mengusap air mata yang menetes membasahi pipimu. Dan kamu membenarkan itu, tanpa keraguan. Lalu dia bilang akan menunggumu keluar dari rasa sakit, kamu senang mendengar itu. Ia menunggu untuk perasaanmu. Akhirnya, ia mengatakan “I love you,” sesuatu yang sudah lama tak kamu terima.

Lalu kamu yakin bahwa ia adalah pendamping hidupmu untuk selamanya, kamu ingin serius, meski jujur kamu tak terburu-buru untuk menikah karena banyak target hidup yang belum kamu capai, kamu mecoba jujur padanya. Dan betapa bahagianya kamu bahwa dia setuju dengan apa yang kamu pikirkan, bahwa ia juga memikirkan hal yang sama. Tapi akhirnya kamu tahu, segala sesuatu tak sesempurna yang kita kira. Kamu benar-benar menyadari perbedaan agama menjadi satu pertanyaan yang menggema di pikiranmu. Kita tak mungkin mengabaikan itu.

“Sebenarnya yang jadi pertanyaan itu soal agama, aku pernah kan cerita ke kamu kalau mamaku pengen aku mulai serius sama orang. Tapi mamaku bebasin aku sih, segala risiko aku yang nanggung karena aku yang jalani.” Akhirnya kamu mengirim pesan itu, seketika tubuhmu melemah, kamu tak bersemangat membahas hal ini. Lalu dia mengaku sedih, kamu bertanya kenapa ia sedih. Sejujurnya ia sedih ketika cinta yang sudah terbuka untukmu harus dipertanyakan lagi hanya karena produk manusia yang disebut agama.

Kamu menunggu balasan pesanmu selama tiga menit. Ia tak kunjung merespon, dan sepenuhnya kamu paham. Kamu memutuskan mengirim sebuah pesan sekali lagi, “Sebenarnya bukan masalah agama, sih. Yaa aku gak tahu nanti kita kedepannya gimana. Cuma aku punya niat kalau bisa serius, bisa gak nanti keluargamu terima aku, dan keluargaku terima kamu. Itu yang aku pikir. Kita perlu cari solusinya bareng-bareng.”

“I love you,” balasnya, dan hanya dengan kata itu, ia berhasil membuatmu luluh—bahagia. Ada senyum yang terbit sempurna di bibirmu. Dan kini hidupmu sepenuhnya berbeda. Hanya karena satu orang yang mampu mengguncangmu. Lalu kau memikirkan satu hal, terus dan terus. Bahwa cinta dan kasih sayang adalah nikmat semesta alam, ketika ia jatuh kepadamu; kamu tak perlu mempertanyakan lagi, cukup merasakan sepenuh hati dan menikmatinya.



-----

Wednesday, August 29, 2018

3 Menit Sebelum Patah Hati. (Dialog yang Ganjil)

“Ada menu selain kopi gak yah?”

“Hmm, bentar. . . Kayaknya ada deh, susu, susu kopi gitu. Kenapa? Gak minum kopi?”

“Bukan. Cuma sebisa mungkin menghindari kopi sih.”

“Kenapa?”

“Lambung. Kembaranku tuh gak minum kopi karena lambung. Aku pikir aku enggak kan, ternyata iyaa. Aku pernah mencret karena minum kopi Wamena, jadi tidur gitu kebangun beberapa kali cuma buat mencret. Apalagi arabika kan.”

“Serius? Waaah… Eh gimana dua hari di Jakarta?”

“Selalu menyenangkan kalo Jakarta. Aku dari ketemu temen-temen film ini, terus langsung ke sini, tiba-tiba akhirnya kamu line aku, padahal aku udah sejak kapan ngajak ketemuan, eh baru dibales.”

“Hahaha, sorry yaah, aku tadi pulang kerja langsung inget. Akhirnya ke sini. Agak-agak galau aku.”

“Lah, why?”

“Gak tahu kenapa, akhir-akhir ini berasa banyak pikiran aja.”

“Bentar aku pesen dulu yaah,”

“Oke.”


“Terus gimana?”

“Yagitu.”

“Eh kamu tuh Scorpio yah?”

“Iyaa, kenapa?”

“Gapapa, tanya aja.”

“Percaya sama yang gituan?”

“Cukup percaya. Kamu”

“Percaya sih, kadang emang bener. Harus diakui.”

“Aku lihat kamu tuh orangnya dark yaa? Kayak sering merenung gitu.”

“Kok gitu?”

“Kelihatan aja.”

“. . .”

“. . .”

“. . .”

“. . .”

. . .

“Hujannya udah reda, balik yuk.”

“Eh iya, ini buat kamu.”

“Wah apa nih, pake dikadoin gini.”

“Jangan dibuka sekarang nanti aja.”
“. . .”

“. . .”

“. . .”

“. . .”

“. . .”

. . .

-----

“Kamu minum bir?”

“Kenapa?”

“Ah enggak, nggak nyangka ternyata kamu minum juga.”

“Kalo lagi pengen aja. Gak pernah mabuk.”

“ I see. . .”

“Jadi gimana?”

“Apa?”

“Bulan lalu dia sempat ke Jakarta kan ketemu kamu. Kamu mah gak perlu pura-pura gak tahu”

“Yaaa, main bareng, gak tahu kenapa rasanya lega aja gitu. Setelah sekian lama cuma bisa chat. Dia tuh gimana yaa, jujur dia gak ganteng, tapi aku merasa suka banget sama dia, literally banget, buta gitu aku. Sampe kakak aku marahin aku, katanya banyak orang yang suka sama aku, tapi aku masih kekeh sama dia yang notabene jauh dan beda pulau.”

“Kamu tuh aneh, buta tapi sadar. Terus sekarang gimana? Masih putus… Kenapa sih kalian harus putus nyambung terus, gak selesai-selesai. Putusnya beneran cuman karena itu? Yang kamu kaish tahu di chat?”

“Iyaa, dia lebih milih nonton final piala dunia. Padahal aku cuman minta setiap malem jam sembilan sampe dua belas waktu dia buat aku aja, dengerin cerita aku.”

“Ya lagian, piala dunia kan cuma empat tahun sekali.”

“Iya sih, dia juga bilang gitu, ya tapi gimana yaa, aku tuh pengen diperhatiin. Aku cuma minta waktu dia buat aku aja jam segitu. Eh tapi dia gak bales chat aku, karena nonton itu.”

“Terus kamu putusin?”

“Iya…”

“Terus kamu nyesel? Pengen balikan lagi?”

“Enggak sih.”

“Kok pake sih?”

“Bingung Za, sumpah bingung. Aku sebel banget lah sama dia.”

“Terus kamu sekarang? Masih sama pacar cewekmu itu? Siapa namanya? Olivia?”

“Iyaa, dia nenangin aku gitu. Ini sekarang aku masih chat sama dia… Don’t judging me yaaah, aku masih gak tahu lesbi apa enggak, nyatanya aku masih mikirin dia. Sebel sumpah aku.

“Dia tuh yang bertahan yaa dari twitter itu kan?”

“Iyaa yang bertahan sampe sekarang ya dia sama kamu. Kamu masih blockir semua sosial medianya dia kan? Aku gak mau dia sakit hati kalo aku masih chat-chat an sama kamu, kadang dia protektif juga. Masih kan Za?”

“Masih kok, masih. Aku juga bingung, kenapa aku dikorbankan di hubungan kalian. Dulu karena hastag di twitter itu dia kenalan sama kamu kayak aku, line terus ke Instagram, whatsapp, aku bertanya-tanya kenapa dia yang lebih beruntung. Padahal notabene kamu selalu ceritanya ke aku, apalagi tentang dia. Aku kangen kamu cerewet, tiba-tiba ngirim voice note atau nelpon.”

“Yaa gimana ya Za, sorry yah. Aku cinta banget sama dia.”

“Oke kita bikin taruhan aja. Kalo dua minggu lagi kamu gak balikan. Kamu harus lupain dia. Deal?”
“Jangan dua minggu dong. Sebulan?”

“Oke deal. Kalo kamu kalah kamu harus blokir dia dari hidupmu, dan fokus ke aku. Kalo kamu yang menang, aku bakal stop berusaha untuk deket sama kamu.”

“Zaaa? Kalo gitu kayaknya aku gak bisa, aku cinta banget sama dia. Tapi aku gak ada perasaan ke kamu. Gak bisa dipaksa. Sorry.”

“Iyaudah fokus ke taruhannya aja dulu.”

“Oke. Maafin yaah.”

“Iya gapapa.” J
-----

“Hey, sorry yah nunggu lama.”

“Gapapa kok, kan janjiannya jam dua belas, ini masih setengah jam lagi.”

“Duduk sana yuk, sambil nunggu tempatnya buka.”

“Yuk,”

“Aku belum mandi waktu kamu chat otw, aku langsung buru-buru mandi.”

“Hahaha sorry yaah, kupikir bakal makan waktu banget.”

“No big deal kok. . . Eh kira-kira di situ ada bir gak yaa?”

“Wah enggak ada. Kamu minum bir kah?”

“Iyaa, kalo lagi pengen aja. Gak pernah mabuk tapi. Kenapa?”

“Gapapa. Banyak orang yang gak suka sama peminum.”

“Iya, dua hari yang lalu aku pesen bir, ketemu sama orang kan, langsung ditanyain gitu, wajahnya berubah… Sebetulnya aku minum bir itu bagian dari strategi.”

“Strategi? Kok gitu?”

“Ya penilaian orang itu ke aku bakal berubah atau enggak kalo aku minum bir.”

“Ah! I See… Terus maksudnya tadi nanyain bir mau tahu penilaianku tentang kamu berubah atau enggak?”

“Yaaa, some kind.”

“Gak ngaruh, aku enggak lihat orang dari apa yang dia minum.”


“Udah buka tuh, yuk.”


“Kamu mau pesen apa? Aku makan nasi gapapa kan? Aku belum makan pagi.”

“Iya gapapa, aku bingung, kayaknya bakal makan mie lagi nih.”

“Mie banget nih? Kalo aku punya ritual makan mie tuh minggu pagi. Mie goreng biasanya.”

“Ohiya? Kenapa gitu?”

“Aku juga gak tahu. Suka aja gitu.”

“Aku hampir tiap hari makan mie, sering makan tapi tetep aja gak kenyang. Pengen rasanya buka warteg di dalam perut.”

“Hahaha kamu mah. . . Makan dulu yak.”


“Kok bawang gorengnya disingkirin?”

“Iya gak suka.”

“Sini buat aku aja.”


“Udah selesai. Kenyang.”

“Sorry aku kalo makan lama.”

“Aku tunggu, aku bisa tambah kenyang kalo lihat orang makan.”


“Eh nonton yuk, pejanten deket sini kan?”

“Yuk, iya deket, naik go car aja.”

“Iya, ini aku pesen yaa.”

“…”

“…”

“…”

“…”

-----

Friday, August 24, 2018

Pria Terakhir yang Merindu di Bumi

Jika besok dunia berakhir
Aku ingin menulis puisi bersamamu
Sesekali mengecup bibir merahmu 
yang manis dan lucu.

Memeluk tubuh kecilmu, 
mengusap lembut rambut-rambutmu, 
menghirup aroma pipimu, 
atau hidungmu. 

Menggigit pelan bibirmu, 
tanpa tergesa.
dan kita telanjang
Tegang di atas ranjang
terang di dalam petang

Menatap masa-masa 
dan waktu yang perlahan hilang, 
menjadi abu. 
Jangan buat aku rindu.


Semarang, 24 Agustus 2018

Tuesday, August 21, 2018

3 Menit Sebelum Patah Hati. (Semesta yang Telanjang)


“Aku udah di lobby.”

“Kamar 1206 yaa, Lantai 12.”

Membaca dan membalas pesan itu jantungku berdebar, ada luput yang terlanjur menghitam pekat tak paham arah. Senja hampir tiba, aku sudah satu jam menunggunya. Ada kerinduan yang membuncah hingga ubun-ubun rasanya hampir pecah. Aku membayangkan apakah di dalam kapsul perak itu ia ikut berdebar, atau apakah ia merapikan pakaiannya juga make-upnya. Kami sepakat membuat semuanya jadi punya arti sebelum lagi-lagi ia pergi.

“Aku udah di depan pintu,” aku membaca pesannya setelah cukup lama mataku terus terpaku pada ruang obrolan itu. Aku beranjak, sedetik kemudian—sebelum aku menggenggam gagang pintu, suara ketukan lembut terdengar. Jantungku mulai tak karuan, aku merapikan rambut sebelum membuka pintu.

Senyum itu, dengan gincu merah muda dan make-up tipis juga rambut pendeknya yang menutup hingga leher, ia definisi sempurna sore itu. Ia bediri di depan pintu, menatapku beberapa detik, lantas masuk—masih dengan senyum itu, aku menutup pintu—memutar kunci dua kali.

Ia memakai rok hitam longgar selutut dan kaos tanpa lengan warna hitam yang tak sepenuhnya menutup perut. Ia mengambil remot TV, membesarkan volume, TV menyiarkan chart lagu terkini—mataku mengikuti gerak-geriknya sampai ia berhenti dan pandanganku tertumbuk pada matanya. Ia tersenyum sekali lagi, aku membalasnya hangat.

“Di luar masih kerasa panas,” ia membuka kaosnya, kulihat bra hitamnya menampung semesta kaumnya yang rasanya hampir tumpah. Ia melemparkan kaosnya ke arahku—menutup pandanganku sejenak, aku mencium aroma lavender, harum semerbak. Otakku merasa tenang seperti seorang anak yang diceritakan sebuah dongeng malam oleh ibunya. Lalu ia mengikat rambut yang tak panjang itu.

Ia menyusuri tubuhnya sendiri, tangan itu lembut menyentuh kulit—sengaja menggodaku. Ia sesekali melirikku yang mulai tak bersuara, mulai tak tahu harus berbuat apa. Ada surga di depanku, ada pertunjukkan teater terbaik yang tak mampu ditolak pria mana pun di dunia. Aku perlahan mendekat, duduk di sampingnya, senyumnya menggoda, ia hanya memberiku punggungnya. Aroma lavender itu makin kuat, aku terpejam sesekali—menghirup aroma yang mulai kukenali dan akrab dengan hidungku.

Ia memegang kedua tanganku, ia arahakan tanganku yang gemetar itu pada pinggulnya, ia jatuhkan di sana, lalu ia tinggalkan, seperti anak kecil tanpa orang tua di dingin malam Ibu Kota, aku terdiam, ia mulai menggeliat. Aku tak kuasa menahan rindu yang detik itu pecah, aku menyusuri lekuk tubuhnya, menciumi jenjang lehernya yang langsat. Menghirup aroma rambutnya, aku terhempas pada ruangan serba gelap, dengan hanya ditemani suara-suara yang membuat roma tubuhku hidup setelah lemah sendiri.

Aku malu-malu, ini kali pertama aku menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku pasa seorang wanita, ia yang kucinta dan tak terjemahkan apa pun. Ia yang menjadikanku sederhana, ia yang berhasil membuatku keluar dari gelap yang meronta lama, ia yang menarikku dari sendiri yang mencekam, ia wanita yang membunuhku pada tatapan pertama. Seolah wanita itu tahu, ia menuntun satu tanganku meremas gumpalan takdir bagi tiap wanita itu, ia merintih saat untuk pertama kalinya remasan itu juga menggetarkanku, ia sengaja—berusaha menarikku pada permainan itu.

Saat irama mulai merona membentuk nada yang utuh dan indah, aku mulai lupa semuanya, lupa pada segala hal yang membuatku berpikir seratus kali atas ajakannya kali ini. Aku lupa kebingungan dan rasa khawatirku. Aku telah jatuh terlalu dalam, meremas terus, makin keras dan cepat, suara-suara itu menggema, mebentur dinding-dinding, dengan alunan musik instrumental yang kebetulan diputar TV di kamar hotel itu.

Ia berusaha membuka kait branya, hingga benar-benar lepas dan kini semesta itu benar-benar telanjang, ia berpaling menatapku, melingkarkan tangannya pada leherku dan aku masih bemain-main di alam itu. Ia menjambak lagi, keras hingga aku kesakitan, namun rasanya sakit itu tak seberapa. Ia mencium basah bibirku, bermain-main hingga lidah kami bertemu di persimpangan saat keringat mulai mengucur pelan-pelan, saat tubuh kami mulai basah berdua. Saat tanganku mulai nakal membuka roknya dan berusaha menangkap apa yang ada di sana. Ia melepas cepat kaos yang kupakai tanpa ingin melepas ciuman yang makin basah itu.

Sebelum aku berhasil menerka dunia apa yang ada di balik rok hitamnya, ia sudah menyentuh semestaku, semesta yang lama diam dan dipendam, semesta yang disukai wanita namun tak berani diungkap cuma-cuma, semesta yang menyatukan kita semua. Ia mengelusnya lembut seperti penyayang kucing pada peliharaannya. Ia melepaskan bungkus luar semesta itu, hingga seluruh luar angkasa tampak bersinar terang dan ia tersenyum menggodaku. Ia bagai melihat rasi bintang orion, si pemburu dunia lainnya, ia bermain-main pada semestaku dan menggigit bibirku yang basah. Ia masih senang dengan itu hingga rok dan penutup dunianya yang lain tanggas—lepas. Aku tak buru-buru seperti apa yang ia lakukan, mulai cepat dan keras dengan tangan-tangannya yang seolah tanpa lelah.

Aku makin menggigil, aku melihat ia makin panas, makin keras dan ganas. Sampai pada hening ruangan itu, TV berhenti memutarkan lagu-lagu dan berganti acara lain. Ia melepaskan ikatan kami, ia berbaring pada ranjang dengan sprai putih yang berkilau. Di depan mataku ia membuka lebar-lebar dunianya, hingga semesta kami saling tatap dan saling tunggu. Muncul dipikiranku tentang lubang hitam pada konsep semesta yang berbahaya dan sulit diterjemahkan, aku berulang kali menatapnya yang dengan tangan-tangannya masih memainkan dunianya yang sempit itu.

“Sorry,” tubuhku melemah.

“Kenapa?” ia bangkit.

“Kita setuju gak sampe sana,” aku duduk di tepi ranjang.

“Kupikir kamu gak serius,” ia memelukku dari belakang, kembali memainkan semestaku yang mulai tidur.

“Aku gak bisa.”

“Kenapa?” tanyanya masih bermain-main.

“Pacarmu,” kata itu menghentikannya—ia menjauhiku, aku menatapnya, melihat rasa kecewa yang menyelimuti wajah cantiknya.

“Aku gak mau jadi yang kedua, aku inget kamu pernah juga melakukan ini sama pacarmu, kamu terbuka sama aku soal itu,” ia diam. Menatapku lalu turun dari ranjang, mengambil satu-satu pakaian yang jatuh di lantai dan memakainya. Ia masih diam, aku memohon padanya untuk duduk sebentar dan membicarakan resah yang masuk tanpa ketuk ke tubuhku.

Aku memaksanya, ia menjauh—menolakku. Tiga menit sejak semesta kami saling sapa dan tinggal bertemu, hingga ia keluar membanting keras pintu. Aku membuatnya marah, membuatnya sakit, membuatnya patah hati.

----


Thursday, August 16, 2018

3 Menit Sebelum Patah Hati


Pagi yang dingin menyisakan mimpi yang berat sebelah, aku ingin terus mengingat keindahan di dalamnya, namun semesta memaksaku untuk lupa. Semalam ada yang bilang bahwa ia ingin bunuh diri, dan aku kaget setengah mati. Pertama aku bingung harus berbuat apa, kedua ia bukan teman dekatku. Bisa dibilang kami hanya saling kenal. Aku gagap, tak paham harus berkata apa. Itu yang membuatku masih ingat hingga pagi ini. Tubuhku seolah kram, aku butuh tenang dan nyaman, aku butuh segala sesuatu yang mampu membantuku. Aku butuh pikiran ini untuk istirahat sejenak, aku butuh bingung untuk merenung.

Ia bercerita tentang keinginannya untuk bunuh diri, aku yang hitam dan alpa soal ini sebenarnya takut ketika harus merespon perasaannya, aku belajar dari banyak hal, orang-orang atau tulisan-tulisan, aku berusaha jujur bahwa aku bingung harus apa. Ia dengan perasaan yang tenang dan nyaris tanpa ekspresi mengatakan bahwa ia hanya butuh untuk didengar. Tapi kita selalu tahu, tidak ada yang benar-benar hanya butuh didengar, sejatinya saat kita ada di masa-masa terpuruk kita butuh merasa tenang, merasa baik-baik saja, dan kita memercayakan itu pada seseorang yang bagi kita mungkin bisa membantu.

Aku berusaha untuk membantunya sedikit melupakan kesakitan yang ia rasakan, aku berusaha untuk tetap intim berkomunikasi. Untuk terus menggali apa yang ia butuhkan, aku sudah terjun, setengah badan sudah penuh lumpur, aku tak mungkin mundur, aku hanya ingin dia baik-baik saja, tanpa harus sering memikirkan hal itu. Bahwa sesungguhnya wanita itu punya kecerdasan yang membuatku terpesona, caranya melihat dunia dan memahami manusia lain membuatku jatuh, membuatku nyaman saat membicarakan banyak hal.

Awalnya cara-caraku berhasil, ia bergembira saat kami bercerita, setidaknya itu yang aku rasakan. Aku merasa ia menjadi wanita paling bahagia, paling menikmati hidup, kami seolah menjadi dua manusia yang lupa segalanya, lupa bagaimana ini awalnya terjadi, bahkan aku lupa bahwa aku tidak menyimpan rasa apa-apa. Aku hanya berharap ia baik-baik saja. Bahkan ia sempat mengajakku untuk pergi jauh, menikmati dunia, memahami makna sunyi dan sepi berdua. Aku senang mendengar ajakkanya, aku senang ia bahagia.

“Kita belum pernah ketemu tapi ngobrolnya udah dalem gini,” katanya ketika kami berbicara tentang bagaimana dunia bersikap pada manusia-manusia yang memahami tindakan di luar kendali.

“Set a met?” kataku menawari.

“Boleh.”

“Kamu ada acara Minggu ini?”

“Ah, aku gak bisa kalo Minggu, harus ke gereja.”

“I See, Sabtu malam minggu gimana?”

“Boleh. Tapi yakin kamu mau ketemu aku?” katanya, setelah lama membalas pesanku.

“Loh kenapa?”

“I’m so dark. . .”

“It’s fine, I’m so dark too.”

“Okey. . .”

“Jam tujuh malem yaa,” kataku mengakhiri pesan, dan benar ia tak membalasnya lagi—hari sudah larut.

Duniaku, adalah dunia kata-kata, dunia obrolan. Dunia suara yang langsung keluar dari bibir penuh cerita. Dari situ, aku suka menyelami keunikan manusia, aku suka mendengar berbagai hal yang coba ditawarkan orang-orang, aku bahagia dengan situasi ini, meski segalanya mungkin tak ada arti bagi orang lain. Sejujurnya hanya dengan berdua berbincang, aku bahagia setengah mati, aku tak perlu sulit menerjemahkan bagaimana perasaan orang itu, karena ia ada di depanku, aku bisa membaca kegelisahan setiap orang jika mereka dekat dan tak jauh dari pandanganku.

Tapi Sabtu berubah kelam. Pertemuan itu tak pernah terjadi. Aku duduk di tempat yang seharusnya menjadi awal pertemuan kami, aku berniat untuk memahami segala motifnya, segala rasa sedih dan rasa takutnya, aku berniat memahami seorang wanita yang merasa dirinya tak lagi punya arti di dunia ini. Aku duduk menunggu, hampir dua jam, lalu aku mengirim teks.

“Kita jadi ketemu kah?” tanyaku, setelah berulang kali menghapus pesan yang hendak kukirim. Menyesuaikan kata yang tepat dan pas. Aku sangat menjaga perasaannya.

“Eh, Astaga. Sorry, sorry, aku lupa,” ia langsung membalas.

“Ohyaudah, it’s fine, aku cuma memastikan, soalnya aku harus nganterin ibuku dulu,” kataku berbohong.

“Aku gak yakin kamu mau ketemu aku. . . I’m so dark, seriously.”

“I don’t care,” kataku singkat—pergi dari tempat itu.

“Kok kamu gitu ngomongnya? Jahat banget,” aku membacanya ketika berada di atas kendaraanku, aku bingung, merenung. Seharusnya bukan itu, amarah meredam, aku salah, aku menyakitinya.

“Sorry, maksudku I don’t care, aku bukan orang yang lihat fisik, aku gak peduli itu. Kita sudah janji ketemu dan ngobrol. Aku cuma butuh itu,” aku menunggu tiga menit, duduk di kendaraanku, tanpa menyalakan mesinnya. Ia belum membalas—hingga tulisan ini kamu baca.

-----