Di tidurnya ia tenang,
ia memimpikan seorang kakek yang berselancar di laut utara.
Kemarin ia menyeberang bersama seekor kura-kura di sampingnya;
ia menunggu 3 jam dan membuat kemacetan panjang.
Ia tidur dengan kain putih susu yang menutup hingga ubun-ubun.
Semarang, 4 Juli 2018
Thursday, July 5, 2018
Kota di Saku Celana
Ia duduk di sebuah bangku kayu berdecit di pusat kota.
Dengan rokok kretek yang mengepul di atas kepala.
Ia memikirkan sepasang sepatu yang kedodoran
dan kaus kaki yang lupa dibeli.
Masih ia simpan cincin lamaran di saku celana.
Hingga sepuluh tahun kematian kekasihnya.
Semarang, 2 Juli 2018
Pagi yang Lugu
Kita bertemu di Sabtu pagi penuh lugu.
Saat itu angin menyibak rokmu.
Kukira kita seumuran, aku sudah terlanjur jatuh cinta,
dan kita sempat tidur bersama.
Tak kusangka anakmu begitu rupawan.
Semarang, 4 Juli 2018
Sunday, June 24, 2018
Kabut Pagi
Kubaca rindumu
di kabut pagi yang buta
di dingin yang tak lagi bersuara
di kabut pagi yang buta
di dingin yang tak lagi bersuara
Basah tubuhmu mengalir di tubuhku
kita rayakan malam berdua
di antara lekuk udara
dan langit yang mendung
Hujan menggugurkan daun-daun
juga sedih di matamu
atau panas di keningku
---
Semarang, 25 Juni 2018
Friday, June 22, 2018
Connecting
Aku duduk bersebelahan dengan seorang perempuan yang
terlihat seumuran denganku di dalam pesawat yang menuju ke Bali. Aku tersenyum
ketika dia menemukan nomor tempat duduknya setelah bingung mencari dan
berkali-kali melihat boarding pass di tangannya. Setelah beberapa detik dia
meletakkan barang bawaannya di bagasi atas, dia duduk dengan senyum antusias
yang mendarat di mataku. Gincu merah muda di bibirnya terlihat cocok dengan
bentuk bibir dan kulit putihnya. Warna matanya terlihat terang tanpa garis merah
yang biasanya ada di pinggir bola mata.
“Hai”
tangannya antusias menjabat tanganku.
“Oh,
hai” aku tersenyum menyambut jabat tangannya.
“Mau
liburan?” perempuan itu melepaskan jabat tangannya.
“Iya,
Ubud.”
“Ubud?
Sama dong, aku juga mau ke sana.”
“Liburan
juga?”
“Iya,
sekalian jenguk nenek. Sendirian aja?”
“Iya
nih, sendiri. Kamu juga?”
“Tadinya
sendiri, sekarang udah duduk berdua sama laki-laki yang sama-sama mau ke Ubud,”
dia tertawa kecil.
“Haha,
ohiya aku Leo” aku menjabat tangannya.
“Aku
Carina” dia tersenyum.
Carina
memakai T-Shirt bermotif garis horizontal berwarna putih—biru yang ditekuk di
ujung lengan T-Shirt. Memakai celana jeans yang juga ditekuk di ujungnya.
Celana jeans yang berlubang di beberapa bagian itu sedikit menggangguku, paha
putihnya tidak bisa kupungkiri terlihat oleh mataku. Carina memakai sepatu dr.
Martens warna merah maroon dengan tiga lubang tali, tanpa kaos kaki. Membawa
tas hitam kecil, jam tangan cassio warna cokelat dan beberapa gelang menghiasi
tangan kirinya. Setelah beberapa menit dalam keheningan dan saling diam, Carina
mengambil ipod dan earphone hitam dari tasnya.
“Suka
musik apa?” tanya Carina.
“Relatif,
tapi paling suka musik jazz sih.”
“Louis
Amstrong?” Carina memakai earphone hitamnya.
“Iya,
tapi aku paling suka Jimy Rushing.”
“Really?
Jimy Rushing? Nenek aku suka banget sama Jimy Rushing” Carina melepas earphone
hitamnya.
“Ohiya?”
“Iya,
gara-gara nenek, aku juga jadi suka Jimmy Rushing.”
“Aku
masih sering lihat perfomancenya di youtube, waktu dia duet sama Dizzie Gillespie
Quintet.”
“Aku
tahu! Blues After Dark kan?” Carina antusias.
“Iya,
Perancis 1959” aku tersenyum menatapnya.
“Gendut,
botak, hitam manis, suaranya bagus gemesin kalo lihat dia jalan di
video-videonya” Carina tertawa lepas.
“Haha,
sssstttt. Jangan ketawa keras-keras,” telunjukku mengacung di depan bibir.
“Ohiyaya,
ssstttt,” telunjuk Carina ikut mengacung di depan bibir.
“Mau
dengerin lagi?”
“Boleh”
Jawab Carina.
Aku
mengambil Ipad di tasku, lalu membuka file video yang sudah kudownload. Memakai
earphone di telinga kiri lalu memakaikan earphone di telinga kanan Carina.
“Terima
kasih” Carina membuka rambut yang menutup telinganya, menggiringnya ke belakang
telinga.
“Sama-sama,
Carina.”
Aku
baru mau menekan tombol play, Carina sudah mendahuluiku. Menekan tombol play
lalu mencubit jariku. Aku hanya tersenyum, Carina juga. Aku dan Carina melihat
video itu bersama, hanya berdua. Sesekali Carina berkomentar lucu soal tubuh
Jimmy Rushing yang gendut. Tangan kiriku yang menopang punggung Ipad mulai
goyah, “Capek, Leo?” Tanya Carina. Tangan kanan Carina ikut menopang punggung
Ipad tepat di bawah tanganku. Tangan kami bersentuhan, beberapa detik
setelahnya jari-jari Carina mulai bergerak di punggung jari-jariku. Aku
meliriknya yang tersenyum dengan matanya yang masih terpaku pada video.
Jari-jari Carina masih bergerak mengelus jari-jariku. Aku membiarkannya.
“Nah,
selesai juga videonya,” kataku, Carina menarik tangannya.
“Yah,
kok udah selesai” keluh Carina.
“Haha,
emang cuma segitu,” aku memasukan Ipad ke dalam tas.
“Sekarang,
kita dengerin lagu-lagu yang ada di Ipodku ini ya” Carina menunjukkan Ipodnya
padaku.
“Boleh,
kita lihat seberapa bagus musikalitasmu.”
“Haha,
oke. Kita lihat bareng, Le—O” balas Carina.
Carina
memakaikan earphone di telinga kiriku, lalu aku memegang tangannya membantu
memakaikan earphone, aku sengaja melakukannya, agar Carina merasakan apa yang
aku rasakan ketika ia menyentuh tanganku tadi.
“Udah?”
tanya Carina.
“Play,”
jawabku.
“Lagu
pertama nih, Leo,” Carina tersenyum menatapku.
“Asiik,
Billie Holiday.”
“Gloomy
Sunday, Leo. Lagu wajib sebelum aku tidur.”
“Jadi,
sekarang kamu mau tidur?” tanyaku bingung.
Belum
Carina menjawab pertanyaanku, matanya sudah terpejam. Aku masih terus
mendengarkan lagu dari Ipodnya. Sudah lagu keenam setelah Gloomy Sunday milik
Billie Holiday berhasil membuat Carina tertidur. Pundakku berubah hangat,
melihat kepala Carina tersandar halus. Aku melihat Carina nyenyak dalam
tidurnya. Lima belas menit lagi pesawat akan mendarat. Aku masih membiarkan
pundakku dikuasai Carina. Jari-jariku menyentuh rambutnya, keningnya, pipinya,
bibirnya. Carina terbangun, membuatku cepat-cepat menarik tangan.
“Aku
ketiduran ya?” tanya Carina.
“Iya,
Carina. Billie Holiday berhasil bikin kamu tidur.”
“Haha
kamu, iih. Berapa lama aku tidur?”
“Setengah
jam, mungkin,” aku tak yakin.
“Lama
juga ya.”
“Kita
udah mau mendarat, Carina. Jangan lupa safety belt.”
“Thank
you, Leo.”
Pesawat
sudah mendarat, Aku dan Carina turun dari pesawat bersama. Sebelum mengambil
barang aku meminta nomor handphone Carina. Carina memberikannya dengan senang
hati.
“Kamu
dijemput siapa, Leo?” tanya Carina.
“Sepupuku.
. . Kamu Carina?”
“Itu”
Carina menunjuk sesorang yang melambaikan tangan ke arahnya, “Suamiku. Aku
duluan ya, Leo.”
-----
Monday, June 11, 2018
Tentang Mimpi-Mimpi yang Beku
Aku
terbangun, sekali lagi. Pada sebuah perjalanan waktu yang gagal total. Kali
ini, setelah berkedip berulang kali, aku menyadari ada di sebuah perkantoran.
Aku berdiri di antara meja dan kursi kayu cokelat yang ditata rapi. Di
sekelilingnya dinding kaca menghalangi warna senja yang agak muram karena
mendung sore itu. Aku duduk di satu meja dengan peralatan komputer terbaru,
awalnya, kupikir aku sendirian. Tapi setelah mengedarkan pandang ke seluruh
ruangan, aku menyadari ada seorang perempuan duduk di belakangku, tak jauh dari situ.
Aku
mengenalnya, ia dengan rambut menyentuh pundak tersenyum sebelum aku sempat
mengirim senyumku. Bibirnya merah merona, matanya gelap sempurna, ia cantik
dengan blus longgar berwarna putih dengan jam mungil di tangan kanannya.
“Hai,”
ia menyapaku, melambaikan tangan seolah kami berjauh-jauhan.
“Loh
kamu kok di sini?” kataku setelah mengolah informasi di otakku tentang
keberadaannya yang tiba-tiba.
“Aku
kerja paruh waktu di sini.”
“Serius?”
tanyaku sedikit menarik tubuh—tak percaya.
“Iya,
jadi aku dulu di sini, sebelum kamu,” ia masih dengan senyum di balik bibir
meronanya. Mengabaikan layar komputer yang tak kuketahui menampilkan apa.
Aku
bangkit dari tempatku, menghampirinya. Aku melihat matanya yang membesar indah,
seperti seorang yang akhirnya bertemu sang kekasih setelah sekian lama tak
bertemu. Aku mengulurkan tangan, ia menyambutnya dengan senang hati. Sedetik
saat tangan kami bersentuhan, ruangan tiba-tiba luruh, kami tak lagi berada di
perkantoran dengan dinding-dinding kaca. Aku bingung menatap sekitar, perempuan
itu tetap diam—tenang, ia memelukku di antara hiruk-pikuk
pesta dansa.
Satu
tangannya menyentuh lembut pundakku, ia berbisik di telingaku;
“Nikmati
malam ini, sayang. Bawa aku pergi dari ruang mimpimu,” aku menatapnya, mata itu
menghindar. Masih dengan sentuhan lembut itu, ia menempelkan hidungnya pada
pundak lainnya. Alunan musik klasik pelan-pelan terdengar sporadik di
telingaku. Aku melingkarkan tangan pada pinggangnya, kami sempurna seperti
penari dansa profesional di tengah hiruk pikuk kebisingan orang-orang.
Kupejamkan
mata, ia masih bisa kurasakan di sekujur tubuh, gerak-geriknya yang
pelan-mempesona, hingga deru napasnya yang menyentuh leherku. Aku merasa berada
di rumah; tempat segala rasa nyaman ditemukan. Lalu saat aku membuka mata,
ruangan itu sepi, tak ada lagi perempuan itu. Hanya aku sendiri.
Kupejamkan mata sekali lagi, berharap semuanya kembali. Namun tak lagi terjadi apa-apa, aku berkedip cepat, hingga menemukan diriku berada di jalanan malam, aku melihat perempuan itu menggandeng tanganku, ia ada di depan--mengajakku berlari. Jalanan itu sepi, lampu lalu lintas hanya berkedip kuning setiap kali. Ia makin kencang membawaku berlari, makin kencang hingga rasanya aku memasuki sebuah portal infinite, seketika ia hilang. Sebelum aku menyadari, aku masih dalam kecepatan lari yang konstan, hingga benar-benar berhenti. Aku terbangun dalam mimpi pagi di ranjang tidurku yang berantakkan, dengan kebingungan membekukan tubuhku.
----
Tuesday, June 5, 2018
Radikalisme dan Intoleransi Kita.
Apakah
radikalisme adalah “gen” manusia? Radikalisme adalah reaksi yang timbul karena
kebencian terhadap suatu ideologi. Reaksi ideologis ini memengaruhi apa yang
kita sebut kemanusiaan. Radikalisme memunculkan produk-produk yang lebih banyak
akan merusak lingkungan publik dan kondisi sosio-politik di suatu negara,
seperti munculnya terorisme.
Pendidikan
kita menciptakan manusia-manusia yang reaktif bukan responsif. Orang-orang kita
akan bereaksi terhadap sesuatu yang sudah benar-benar terjadi. Padahal menjadi responsif
dalam hal penangkalan radikalisme adalah hal yang penting untuk dilakukan. Dari
sana dengan dukungan pemerintah mulai dari Undang-Undang yang dibuat bukan
karena perilaku reaktif, juga dukungan terhadap apparat keamanan, kita bisa
pelan-pelan menanggulangi radikalisme, untuk kemudian dilakukan deradikalisasi.
Saya
punya pengalaman. Tahun 2015, sekitar bulan April. Saya “disidang” di sebuah
ruangan oleh beberapa pengajar yang bahkan jumlahnya tidak lagi bisa dihitung
dengan jari-jari tangan. Ada bapak & ibu saya di ruangan itu. Saya disidang
karena menulis tweet yang memojokkan institusi pendidikan tempat saya belajar.
Saya tidak memasalahkan agenda “sidang” tersebut yang tampaknya membuat
beberapa pejabat institusi pendidikan itu marah sekaligus takut jika kedoknya
tercium; Ini soal kasus korupsi.
Yang
masih saya ingat dan selalu membekas di benak saya, ketika dua pengajar
mengatakan bahwa saya akan mudah direkrut oleh ISIS karena saya dinilai radikal
dan berani untuk bersuara. Sialnya, pengajar lain yang ada di sana hanya diam,
seolah setuju dengan kata-kata itu. Ini jelas pengalaman menyakitkan yang
sekaligus selalu coba saya lupakan namun terus gagal. Kalimat itu telah jauh
menyakiti saya melebihi hinaan verbal yang pernah saya terima. Diucapkan oleh
pengajar yang saya hormati. Apakah saya marah dan memberontak? Tidak. Saya
hanya bisa menangis tiap mengingat momen itu.
Hera
Diani dalam artikelnya di Magdalene berjudul “Konservatisme Agama di Sekolah
dan Kampus Negeri Picu Intoleransi.” Menulis tentang radikalisme yang merebak
masuk ke sekolah dan kampus negeri. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat
(PPIM) di Universitas Islam Negeri Jakarta mengadakan survei nasional yang
diikuti 2.181 responden. Hasilnya mengkhawatirkan; Dari 58,5 % pelajar atau
mahasiswa muslim menganut paham radikal dan 34,4% di antaranya intoleran
terhadap non-muslim.
Dalam
kasus ini, seharusnya Pancasila bisa menanggulangi problem tersebut dengan
penguatan ideologi Pancasila di bangku-bangku sekolah. Pada kenyataannya,
Pancasila benar-benar hanya menjadi simbol dan hapalan semata. Tidak ada yang
benar-benar melakukan amanat itu di kehidupan sehari-hari, apalagi dengan tidak
membaca sejarah tentang Pancasila itu sendiri. Kita hanya mengingat Pancasila
setiap tanggal 1 Juni saja, gembar-gembor tanpa paham betul maknanya. Sehingga ideologi
ini menjadi dilemahkan oleh masyarakatnya sendiri. Yang tidak mampu memahami Pancasila
sebagai subjek yang kontekstual.
Satu
contoh tentang pelemahan ini yang secara tidak sadar dilakukan adalah
Pembubaran HTI. Membubarkan HTI dengan dalih melindungi Pancasila dari ideologi
radikal justru bisa memperjelas bahwa Pancasila dalam implementasinya
sehari-hari tidak kokoh, tidak mampu merasuki setiap benak warganya. Ibarat dua
petinju yang bertarung, salah satu petinju langsung menyerang bagian ulu hati
lawannya, yang di mana itu jelas dilarang dalam aturan olahraga tinju.
Mengutip
kata-kata Benjamin Prado; “Yang berbahaya bukanlah ideologi, tapi kurangnya
ide.” Ideologi harusnya dilawan juga dengan ideologi. Pemerintah kekurangan ide,
sehingga memutuskan mencari jalan cepat—jalan pintas yaitu membubarkannya. Dan
lagi ini ikut mencederai UUD 1945 Pasal 28; “ Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya
ditetapkan oleh undang-undang.”
Kita
semua tidak bisa menjadi toleran ketika tanpa sadar kita mentoleransi
ketidak-toleransian. Contoh ketika pemerintah masih saja toleran pada sejarah
masa lalu yang belum selesai dan tidak punya niat untuk meluruskan. Kita harus
sadar instrument toleransi adalah tentang manusia. Jika masalah kemanusiaan
saja kita belum selesai, ada baiknya kita perlu belajar lagi sebelum jauh
membicarakan persoalan toleransi.
Contoh
kasus ketika PKI dibubarkan tahun 65 dengan dalih kudetanya, sehingga militer
punya alasan kuat untuk turun tangan. Sejarah itu sampai saat ini belum
selesai. Dalam kasus itu kita sejenak melupakan sila kelima Pancasila; “Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Keadilan juga harus diberikan pada
mereka yang dituduh PKI dan divonis bersalah tanpa proses hukum yang sah.
Bahkan ada yang dihilangkan dan dibunuh. Sebelum membicarakan toleransi dan
kebhinekaan. Kita harus lebih dulu berdamai dengan masalah ini.
Belum
lagi kasus Mei 98 yang sampai saat ini belum selesai sehingga Kamis demi Kamis
dalam aksi Kamisan masih terus ada karena tidak adanya kejelasan dari kasus
ini. Keadilan harus tegak sebelum reaksi ideologis mengisi ruang-ruang
masyarakat yang akhirnya akan bisa mengguncang kondisi sosial-budaya kita. Kita
buntu untuk memahami konteks toleransi dan kebhinekaan karena kita masih terus
membicarakannya sebatas ucapan belum sampai sebagai pencerah perilaku dan dalam
pikiran sebagai ideologi.
Pengalaman
saya sebagai mahasiswa. Apakah kita boleh mentoleransi ketika ada teman kita
yang dengan kesadaran penuh tanpa pertimbangan matang, meminta tolong orang
lain untuk mengabsenkan dirinya alias titip absen. Apakah kita akan tetap diam
melihat praktek ini yang terus saja terjadi, seolah telah menjadi akar kita
yang pada akhirnya menciptakan mental-mental korup dan tidak mencerminkan nilai
Pancasila, artinya kita tidak bisa banyak berharap pada mereka yang melakukan
praktek ini tanpa rasa bersalah. Apalagi untuk percaya bahwa mereka toleran dan
memahami nilai Pancasila. Pendidikan kita menjadi gagal karena mental subjek
pendidikan itu sendiri.
Pancasila
adalah cita-cita. Seharusnya kita sedang mengarah ke tujuan cita-cita tersebut.
Ideologi ini harus menjadi kuat dan menjadi roda penggerak masyarakat kita yang
lokusnya memang sudah plural. Menjadi toleran adalah tentang untuk setuju pada
yang tidak setuju. Setuju mengapa perbedaan sangat kentara dan kasat oleh mata.
Radikalisme adalah musuh bersama. Kita adalah tatanan masyarakat yang seharusnya
damai sejak dalam pikiran.
Para
pemberani akan sukacita menerima keberagaman karena bagi para pemberani beragam
adalah aset. Bagi para pengecut mereka jelas akan menolaknya, karena baginya ideologi
terbaik adalah ideologi yang mereka anut. Ideologi seharusnya menambah banyak
kemungkinan ide, bukan menghentikannya dan menjadikannya berpikiran sempit dan
pendek.
Pada
akhirnya kita harus menyadari, bahwa tidak semua orang mampu memahami segala
sesuatu dengan baik, tidak semua orang mampu memahami lebih dama sampai ke
akarnya. Apalagi untuk konsep toleransi dan kebhinekaan yang begitu kompleksnya.
Pada akhirnya tetap aka nada Si Bodoh dan Si Pintar. Tapi dari semua itu, yang
paling berbahaya adalah ketika si bodoh tidak ingin dan tidak berniat untuk
belajar.
-----
Subscribe to:
Posts (Atom)