Sunday, October 22, 2017

Theia: Tentang Kota dan Pikirannya

Malam itu aku terpaut di ruang tunggu stasiun, aku duduk pada sebuah bangku dengan bantalan berwarna merah di sudut kanan pintu masuk peron. Seorang wanita gelisah, earphone putih menempel di telinganya. Matanya terus tertuju pada layer ponsel, sesekali aku bisa menangkap sorot matanya, seperti ada yang diambil dari dalam diri, kantung matanya memerah, ada tangis yang baru saja mendiami sisi itu. Wanita itu menatapku.

Aku balas tersenyum, ada perasaan yang ikut diselimuti saat pandang mata itu jatuh tepat pada sepasang mataku, senyumnya berubah saat ia menatapku untuk kedua kalinya, ada keriangan di sana, aku melihat ia seperti menemukan pergolakan baru yang lebih membuatnya merasa ada dan dihargai. Wanita itu bangkit berdiri, ia merapikan bawaannya lalu melangkah—menghampiriku. Jantungku berdebar, ia terus tersenyum dalam langkahnya itu.

“Can i…” tanya wanita itu persis di depanku.

“Boleh,” balasku tersenyum.

“Thankyou,” wanita itu duduk tepat di sampingku, ia meletakkan barang-barangnya di bangku samping kanannya. Aku terdiam melihatnya merapikan barang bawaan yang sedikit banyak, satu koper dan tas, dengan beberapa kantung plastik—aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

“Theia,” ia mengulurkan tangannya—aku membalas singkat.

“Zahid,” senyumku.

“Theia or Thea?” tanyaku, kesulitan mengeja.

“Theia. Pake i setelah e sebelum a,” ia membenarkan letak duduknya—menatapku serius.

“Achso…”

“Achso?”

“Achso itu maksudnya ‘Ohgitu’ dalam bahasa Jerman.”

“Achso,” Theia tersenyum menggangguk.

“Jadi penuh Achso kita… Eh btw, Theia itu apa artinya?”

“Wah panjang nih kalo dijelasin, ada kaitannya sama astronomi… Jadi gini, ada yang namanya, hipotesis tubrukan besar, artinya gini… Bulan terbentuk dari puing-puing yang tersisa dari tubrukan antara Bumi dan benda seukuran planet Mars, sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Nah, objek yang menabrak bumi itu sering disebut Theia. Nama Theia diambil dari mitos Titan Yunani, Theia itu ibu dari Selene, dewi Bulan,” aku terperanga mendengar penjelasannya.

“Oke…” kataku mengangguk pelan.

“Rumit kan?”

“Enggak kok, nama yang indah. Cocok—sesuai sama orangnya.”

“Gombal nih?”

“Enggak dong. Buat apa? Serius itu…”

“Oke oke, kalo namamu?”

“Hmm Zahid… Kalo dalam KBBI sih artinya ‘orang yang telah meninggalkan kehidupan yang ada hubungannya dengan keduniaan’.”

“Widih aku dari Yunani, kamu arab,” Theia menggoda.

“Maknanya tuh, hidup hanya untuk beribadah, bertapa, dan sebagainya. Nggak ada urusan lagi sama kehidupan dunia.”

“Asik, berat banget namamu…” Theia masih menatapku.

“Iya sekarang udah satu ton,” ada tawa yang lepas di antara kami.

Keretaku masih beberapa jam lagi, bayang-bayang malam telah sepenuhnya pergi. Ini dini hari yang dinginnya menusuk hingga ke tulang. Aku dengan flannel biru yang ditekuk masih merasa kedinginan. Theia memakai jaket merah tebal, ia tampak santai—merasa hangat, meski aku terus berusaha lepas dari dinginnya ruang tunggu itu.

Suara-suara kereta berlalu-lalang, pengumuman keberangkatan dan petugas kebersihan yang mondar-mandir jadi pemadangan yang kami lihat bersama. Setelah satu kereta pergi ruang tunggu menjadi sepi. Beberapa menit setelah itu keramaian datang lagi, mereka menunggu keberangkatan kereta selanjutnya.

“Kamu mau ke mana?” Theia memecah keheningan.

“Jakarta,” kataku singkat, sengaja tidak bertanya balik—aku tidak terlalu ingin mengetahui urusan orang lain.

“Mau ngapain?”

“Main-main aja.”

“Aku juga Jakarta, cuma bedanya ini aku balik,” Theia berusaha mencairkan suasana.

“Ohiya? Gimana Semarang? Menyenangkan?” tanyaku pensaran.

“Ya begitulah… Aku nggak menemukan apa-apa di sini, itu yang perlu aku catat. Kota ini nggak memuaskanku. Seperti ada yang hilang dari kota ini, entah apa. Aku juga kurang paham, biasanya aku selalu bisa merasakan koneksi setiap aku ada di sebuah kota yang aku datangi. Tapi di Semarang, perasaan itu hilang, aku kesulitan menerjemahkan perasaan aneh ini… Mungkin kamu bisa bantu?”

“Perasaan kita sama, kota ini dipenuhi orang-orang sakit—kasihan. Mereka tidak tahu kalo dirinya tidak tahu, seluruh sudut kota mulai diwarnai pelangi, sejak ada kampung itu. Rasanya seperti seisi kota punya penyakit latah. Kelatahan-kelatahan itu tidak disadari sebagai sebuah penyakit yang nantinya bikin orang-orang alpa bahwa kebahagiaan mereka itu imitasi, cuma sementara. Bahagia mereka cuma dipermukaan bukan di dalam pikiran—di dalam hati.”

“I know… Itu yang juga aku pikirkan sejak sampai kota ini. Ya tapi gimana, mengubah masyarakat sama sulitnya memahami kenapa tuhan gak mau ngomong padahal dia tahu dia bisa… Kamu sendiri gimana?”

“Apanya?” tanyaku memastikan.

“Kenapa masih hidup di kota ini?”

“Kota ini butuh seorang revolusioner, ia harus berada di tengah-tengah masyarakat—mengubah pola pikir dan cara bersikap… Ini penting, karena kota ini akan terus tertinggal kalo masyarakatnya bingung, mana kemajuan besar, kita ini sedang jalan di tempat tapi dibungkus sama pencitraan pemimpinnya, terlihat seolah kemajuan besar.”

“Tapi, pencitraan kan penting.”

“Iya, tapi mau sampai kapan?”


Theia terdiam, ia hanya tersenyum menatapku. Sampai suara pengumuman dari pihak stasiun—kereta telah tiba. Kami bangkit bersama, melangkah menuju pintu pemeriksaan tiket. Tiba-tiba Theia memegang tanganku, mengelusnya lembut. Aku tersenyum melihat matanya yang cerah—berkaca-kaca. Ia jatuh terlalu dalam pada percakapan itu. Dan aku hanya menanggapinya biasa. 

----

Tuesday, October 10, 2017

Recitativo #3

Ada dua hal yang ingin kuceritakan tentang apa yang terjadi semalam. Dua hal yang memberikan saya perspektif lain soal wanita, tentang bagaimana jalan pikiran mereka, tentang bagaimana seharusnya saya bisa bijak menyikapinya. Apakah kamu percaya, saya baru saja menyakiti perasaan seorang wanita. Entah dalam kesadaran atau tidak. Saya menyesal, karena menyakiti perasaan seorang wanita adalah hal yang paling saya hindari setelah semua yang sudah dilalui.

Masalah pertama sebetulnya sepele, bahkan agaknya tidak bisa disebut sebuah masalah. Kata-kataku menyakiti seorang wanita, membuatnya harus merespon dengan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Aku memang sedikit memberi jarak pada semua wanita yang kukenal, saya tidak ingin ada jauh di dalam hidup atau pikiran mereka. Tapi bodohnya itu yang saya lakukan semalam. Membunuh kebaikan seorang wanita hanya dengan sebuah kalimat yang tidak perlu kuucapkan.

Saya harus meminta maaf, itu yang terbesit pertama kali dalam pikiran setelah tahu respon wanita itu. Tidak ada pikiran lain, ini salah saya—tidak mampu menerjemahkan ekspresi seseorang. Di dalam bilik ponsel, suaranya mengartikan dua hal; suara seseorang yang malas mendengar apa pun dariku atau suara seorang wanita yang sedang merasa kelelahan karena begitu banyaknya masalah yang ia hadapi.

Tapi saya cukup senang, wanita itu dengan lapang dada menerima permintaan maafku. Saya punya pengalaman tentang berbuat kesalahan pada seorang wanita di masa lalu, yang membuatku sampai saat ini tidak lagi mampu berbicara dengannya bahkan hanya untuk saling tatap. Ini berat, karena menyakiti perasaan adalah hal paling rendah yang mampu dilakukan seorang manusia. Tapi untuk memulihkan perasaan sakit itu tentu butuh waktu.

Lalu masalah kedua, dalam kesedihanku ada rasanya saya ingin tertawa. Tawa kebodohan setelah berulang kali berpikir tentang apa yang terjadi. Semalam saya memimpikan kamu… Lagi. Hal yang dalam doaku selalu ingin kuhindari, mimpi selalu memberikan saya sudut pandang lain tentang kehidupan. Mimpi seperti dimensi lain yang berdiri sendiri, memiliki waktu dan ruang pandang yang berbeda.

Biasanya saya tidak pernah mampu melihat wajah seseorang dalam setiap mimpi malamku. Tapi kali ini, mimpi itu terasa jelas, saya menerima pesanmu. Apa yang ingin kamu katakan namun tidak sanggup bibir itu bersuara. Kenapa? Apakah kamu sedang ragu? Ya, mungkin kamu sedang meragu. Hal yang sudah kurasakan sejak dulu. Saya memimpikanmu dalam durasi waktu yang cukup lama, saya melihat kamu memeluk kekasihmu, sambil berucap di depanku; “Apa yang terjadi di antara kita adalah sebuah kesalahan besar.”

Ya memang benar! Itu yang juga ingin kuucapkan sejak lama. Inti dalam mimpi itu adalah tentang bagaimana kamu ingin mengucapkan selamat tinggal… Sekali lagi. Setelah pertengkaran hebat yang pernah kita lalui dan setelah kamu meninggalkanku karena rasa bersalahmu. Saya menunggu saat-saat ini, saat di mana perasaan sepenuhnya hancur berkeping. Saat di mana bahkan saya sendiri tidak lagi mau menatanya ulang—kembali menjadi perasaan yang utuh.

Yaa, bagaimana pun, saya hanya penulis yang hanya mampu menerjemahkan perasaan lewat kata-kata, dan mungkin nanti kata-kataku telah kehilangan nyawa. Ia kehilangan napasnya sendiri. Tapi  apa yang telah saya lalu di dunia sebelum ini bersamamu adalah keindahan lain saat semesta sepenuhnya berpihak. “You give me dejavu.” Sialnya begitu.

Ini yang membuat saya semakin yakin, hidup menyendiri jauh dari orang-orang adalah pilihan tepat. Saya telah lelah—menyerah dengan janji-janji yang diucapkan manusia. Mereka selalu mengulangi kesalahan yang sama. Sadar atau mungkin tidak kita seringkali menyakiti perasaan orang lain. Kita tahu tapi kita tidak peduli. Maafkan saya jika setelah ini saya menghilang—berubah dalam wujud yang lain.


----

Thursday, September 28, 2017

Bahas #PengabdiSetan

Kunci berhasil dan menariknya film horror adalah ketika film itu mampu menciptakan atmosfer sekaligus membentuknya menjadi satu dalam kerangka film yang utuh secara organik. Film horror yang baik adalah film yang tidak sekadar menjual “setan” yang sudah dibentuk sedemikian rupa oleh tim make up / artistik, melainkan film horror yang dengan cerdik dan cerdas memberitahu penonton bahwa ada yang lebih seram dari “setan” itu sendiri.

Satu contoh sangat jelas diperlihatkan oleh Joko Anwar melalui reboot Pengabdi Setan. Film ini mengawali adegan dengan suasana yang manis, lewat gambar, dan warna film yang memanjakan mata. Lalu setelahnya film mulai membangun atmosfer yang seram dan menegangkan perlahan, tanpa tergesa-gesa, tanpa memaksa bernafsu untuk segera menunjukkan “setan” dan ketakutan. Pengabdi Setan benar-benar membuat kita sebagai penonton menunggu apa yang bakal terjadi setelahnya.

Pengabdi Setan adalah film horror yang kokoh—sangat kokoh! Dia tidak sekadar menjual ketakutan dari setan yang ada, ketakutan itu tercipta salah satunya melalui para tokohnya, yang membuat kita sebagai penonton percaya, bahwa mereka—para tokoh sudah hampir gila rasanya terus menerus diganggu. Ya, para tokoh bermain sangat apik. Mereka dapat mewakili pikiran-pikiran manusia sesuai dengan umurnya. Saking bagus dan menariknya film Pengabdi Setan ini, saya sampai tidak hapal betul siapa nama mereka semua. Saya sudah langsung jatuh cinta bahkan hanya dengan atmosfer film.

Joko Anwar memberikan sesuatu yang baru dalam karyanya yang satu ini, sentuhan baru yang seingat saya belum pernah ada di filmnya. “Motion”. Pergerakan Kamera “zoom in” yang sangat halus, seperti film-film lawas. Seperti diawal film saat kamera mengambil gambar tokoh ibu melalui cermin lemari lalu title “Pengabdi Setan” muncul dengan scoring yang mencekam. Seperti memberitahu penonton untuk bersiap, karena keseraman akan dimulai.

Saya berani mengatakan bahwa Pengabdi Setan adalah satu-satunya film horror Indonesia di dekade baru ini dengan ritme yang sangat sempurna. Penonton seperti “dikerjain”, membuat kita harus siap-siap dengan apa yang terjadi setelah itu, meski kadang apa yang kita tunggu ternyata bukan point dari scene tersebut. Tapi setelahnya tanpa diduga keseraman hadir kembali, sekaligus mencekam yang langsung membuat bulu kuduk berdiri—merinding.

Film ini sekaligus memanjakan penonton yang menyukai kedetailan dalam sebuah film. Tim artistiknya jago, tidak ada kealpaan sama sekali ataupun kesalahan artistik yang masih banyak kita temui dalam film-film di Indonesia, terkhusus film horror. Pengabdi Setan adalah sinema yang kita rindukan , setelah sekian lama industri ini dipenuhi film-film yang tidak berhasil memuaskan penontonnya.

Simbol-simbol dalam Pengabdi Setan juga bukan sekadar menjadi pelengkap film saja. Dia benar-benar menyatu secara organik, yang membuat saya seketika kagum, karena simbol-simbol itu ditempatkan pada tempat dan situasi yang pas dan tepat. Seperti lonceng yang digunakan ibu, lagu kelam malam, hingga Ian yang hampir sepanjang film menggunakan bahasa isyarat dan mampu membuat penontonnya tertawa setelah sebelumnya dihadirkan keseraman yang mencekam. Ian adalah “tameng” bagi penonton.

Dan seperti ciri khas Joko Anwar di setiap filmnya, ia selalu berhasil menanamkan pertanyaan pada setiap penontonnya setelah film selesai dan lampu bioskop dinyalakan. Tidak terkecuali Pengabdi Setan. Baru kali ini saya menonton film horror yang sesegera ingin saya akhiri karena armosfer seram sekaligus mencekam yang hadir sepanjang film. Bravo Joko!

#BanggaFilmIndonesia

-----



  



Monday, September 25, 2017

Recitativo #2

Aku menangis di malam pertamaku meninggalkan negeri dongeng, malam dimana aku menemukan sebuah melodi sempurna yang kucari seumur hidup. Bahkan dengan kesempurnaanmu dan segala kekuranganku tidak sanggup meruntuhkan batas antara keinginan dan realita bahwa kamu tetap tinggal dan aku harus pergi.

Aku sadar bahwa hari-hari setelah ini, tidak mudah untuk bilang rindu dan ingin bertemu. Pertemuan itu adalah hal yang akan menghantui hari-hariku di sini. Pertemuanku denganmu; tidak akan pernah kusesali—sampai kapan pun.

Jumat, 11 Agustus 2017, aku tidak berharap banyak hari itu. Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan, mengajak bertemu karena aku tahu hati ini rindu pada sosok asing yang belum pernah kutemui.

Aku bahkan tidak mengerti apa yang kurasa. Aku tahu seberapa kencang jantung berdetak, memikirkan segala skenario terbaik untuk menutupi perasaan yang menggebu-gebu, memaksa agar pandanganku tidak melulu tertuju padamu.

Recitativo adalah sebuah kata bernoda yang terinspirasi oleh aroma kopi sore itu dan setumpuk kerinduan padamu. Dalam tulisan ini aku ingin mengabadikan kamu, dan semua pertemuan kita; segala kata-kata, baik yang terucap dan yang tidak terucap.  Tulisan ini terinspirasi dari mata cokelatmu dan rasa gugupku. Ia berhulu pada detak jantung yang saling beradu, dan segala perasaan yang bercampur menjadi satu.

Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku ingat, pada sebuah sore tahun lalu; aku berjanji, akan pulang musim panas nanti. Aku tidak habis pikir, kalimat itu selalu terngiang-ngiang. Aku selalu membayangkan, apa jadinya jika kita akhirnya bisa bertemu. Apakah satu pertemuan mampu mengubah hal yang seharusnya kita simpan sendiri?

Hatiku hangat, bahkan hanya dengan mengingat lekuk wajahmu, tarikan senyummu, tatapanmu, bahkan hanya dengan caramu menyebut namaku. Aku benci saat mengingat bahwa aku tidak bisa memberi apa-apa, harapan pun bahkan tidak. Aku tidak mengerti, sampai kapan perasaan ini akan terus tumbuh, dan kapan aku harus berhenti. Karena bagaimana pun kamu pantas mendapatkan hal yang  lebih baik dari apa yang aku punya.

Kamu itu layaknya mimpi, begitu sempurna, aku tidak sanggup menyimpanmu sendirian. Di tulisan ini, aku akan membagi seluruh perasaanku yang hampir tumpah. Jumat, 11 Agustus 2017, sampai kapan pun aku tidak akan pernah lupa hari itu. Hari di mana penantian panjangku menemukan ujung. Hari dimana aku akhirnya bisa menatapmu di kesunyian kedai itu.

Aku gugup, jantungku berdetak kencang, aku takut kamu mendengarnya. Kamu sebaliknya, terlihat tenang, bahkan pada tiap detik yang kita lalui tanpa saling cakap. Kamu bilang; kamu menikmati saat-saat itu. Saat kita berdua tidak tahu apa yang harus kita ucapkan. Saat detik berganti menit berlangsung dalam kesunyian.

Aku  bercerita tentang apapun yang bisa kuceritakan. Kadang, rasa bersalah itu masih terasa berat, bagaimana aku menutup portal imajinasi yang ada di antara kita, dan meninggalkanmu di seberang sana—sendirian.  Aku berusaha menyembunyikan seluruh perasaanku, takut kalau-kalau kamu sudah menutup hatimu untukku. Bagaimana pun, aku harus menjaga diriku sendiri.

Aku menebak-nebak, apa yang ada dipikiranmu saat pertama kali melihatku? Masih adakah aku dalam gema dadamu? Masihkah debaran jantungmu tertuju padaku? Masihkah kamu menunggu? Satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku mengerti jika kamu sudah menutup pintu. Aku tersenyum dan berusaha terlihat ceria. Terbesit di pikiranku untuk memelukmu, menumpahkan semuanya.


Setiap aroma kopi mengingatkanku padamu. Bagaimana kamu menyentuh lembut tanganku, bagaimana hangatnya hatiku,  diselimuti dengan sejuta kenangan manis. Empat puluh tiga hari tidak cukup  untuk memuaskan hati ini, untuk menikmati setiap debaran jantung kala bertemu denganmu. Perasaanku tumpah, aku kalah. Aku menginginkanmu, apa yang harus aku lakukan untuk bisa ada di sampingmu?

-----

Sunday, September 3, 2017

Post Card From Me.

"Bahkan saat saya mengumumkan ingin bunuh diri, saya yakin kamu tidak akan peduli."

Wednesday, August 30, 2017

Recitativo #1

Hari-hari setelah kepergianmu, pikiranku dipenuhi suaramu. Saya merasa setiap orang adalah kamu. Orang-orang yang menyeberang jalan, yang duduk di kedai-kedai kopi, yang berjalan di tengah malam, atau yang menaiki bus-bus kota. Bahkan mungkin di kematianku yang tak didatangi siapa-siapa saya masih bisa mendengar suaramu. Selamat datang di dunia yang kita bangun bersama. Dunia ini belum lengkap; aku butuh kamu memainkan peranmu.

Jumat, 11 Agustus 2017. Kamu datang, dengan penuh harapan—dengan penuh keterasingan dan rasa bersalah yang ada di pundakmu. Saya tahu itu, saya juga sempat bilang; saya bisa menyerap aura dan perasaan orang lain. Sejujurnya pertemuan itu adalah penantian panjangku. Saya ingin menguji seberapa berat perasaan yang menggema, seberapa keras rasa itu memukulku. Satu pertemuan meruntuhkan segalanya. Saya jatuh bahkan hanya dengan caramu menatap.

Ada yang perlu kamu catat, saya percaya lebih mudah menaklukanmu dengan kata-kata. Maksud saya bukan kalimat gombal atau bahkan modus. Saya yakin semua wanita tahu mana perkataan jujur dari mulut seorang pria atau yang sekadar untuk membuatnya merasa tenang sesaat. Mereka para wanita mempunyai semacam sonar pendeteksi bahkan sejak ia dilahirkan, mungkin karena naluri keibuan yang pada akhirnya mau atau tidak akan sepenuhnya melekat pada diri mereka.

Recitativo adalah sebuah kata bernoda yang akan terus saya tulis dalam kebisingan setelah kepergianmu. Saya hanya ingin bercerita tentang apa yang sudah kita lewati bersama, ini sudut pandangku, selamat menyelami penuh pikiranku, selamat terombang-ambing di sana. Selamat menempuh perjalanan membingunkan. Dan selamat karena kamu adalah bagian dari kisah ini.

Jumat, 11 Agustus 2017. Ingat pertemuan itu? Saya mencoba menebak apa yang ada dalam pikiranmu. Khususnya tentangku, tentang apa yang telah terjadi sebelum itu. Aku penasaran pada detik ketika kursi kayu kau sentuh dengan lembut, apa yang ada di pikiranmu. Apa yang terlintas melihatku duduk di depanmu. Saya sendiri lega, bisa menatapmu dalam kesunyian kedai itu. Detik itu juga rasanya saya sungguh ingin memelukmu, ingin sepenuhnya menerjemahkan semua apa yang kurasa selama hampir satu tahun.

Hari itu saya merasa tenang dan nyaman, meski kamu mengaku jantung berdebar tak karuan. Saya adalah jenis manusia lain, ketika saya merasakan ketenangan dan kenyamanan, itu seperti orang lain yang merasa dag dig dug, merasa pikirannya terpenuhi, merasa jantungnya hampir meledak.  

Saya tidak mengingat jelas percakapan apa yang terjadi di antara kita, yang kuingat hanya indah tatapmu, meneduhkannya suaramu, asiknya ceritamu. Sejujurnya saya sendiri takut jika pertemuan itu tak mengandung arti apa-apa. Seperti apa yang hendak kamu ceritakan sejak dulu, saya menunggu kamu memelukku hari itu, saya menunggu apa yang hendak kamu lakukan saat akhirnya pertemuan kita terjadi. Saya mencintai kamu. . . Bantu saya menerjemahkan perasaan ini.

- - - - -


Friday, August 18, 2017

Bagaimana Rasanya?

Pukul 11 malam, saya menulis ini karena saya merasa hina. Tak ada yang lebih menyakitkan ketika dirimu mampu mengobati rasa sakit seseorang, tapi kamu sendiri merasa butuh diobati. Kamu mampu membuat orang lain tidak memikirkan patah hatinya, tapi kamu sendiri masih terus merasakannya meski berulang kali terus mencoba lupa. Saya merasa hina. Saya merasa hina, saya merasa hina.

 Hina karena saya tidak mampu mengobati diri saya sendiri, hina karena saya tidak bisa menceritakan semua yang saya alami, saya hanya bisa menuliskannya dalam bentuk-bentuk abstrak berharap orang-orang latah yang hidupnya hapalan menangkap maksud saya. Kehinaan itu membuat saya selalu berpikir kenapa saya sampai sekarang masih hidup penuh siksa.

Kamu mungkin punya banyak pelarian, pelarian yang membuatmu merasa nyaman dan aman. Saya lupa, saya ini apa, mereka lupa, mereka alpa, mereka tidak peduli, siapa orang yang menemani mereka, selalu berlagak dan berperan menjadi orang baik untuk mengobati dan menyembuhkan luka hatinya, padahal di dalam diri berusaha meredam rasa sakit yang teramat dalam.

Apa yang bisa saya lakukan selain bermain-main dengan pikiran saya sendiri, sejujurnya saya membenci diri saya sendiri, melihat orang-orang bahagia dalam kesemuan yang terus-menerus diciptakan tanpa pandang bulu, berpura-pura. Menjadi bahagia padahal di dalam dirinya menyembunyikan perasaan yang lain. Saya benci situasi ini, saya berniat untuk tidak menemui siapa-siapa lagi, bahkan setelah ini.

Kesalahannya, saya terlalu peka untuk mendengarkan orang lain, saya terlalu mau menyembuhkan orang lain. Padahal saya pun tahu akhirnya akan seperti apa. Saya ini hina, untuk apa pada akhirnya saya terus diinjak, dilupakan, tidak lagi berjejak. Berjarak pada mereka semua yang jelas-jelas meminta untuk mendekat. Pelukan orang-orang itu tidak pernah ada guna, jika pelukan itu tidak menyentuh inti jiwamu

Saya sekarat, meski saya harus jujur, hanya media ini yang mampu menyelamatkan saya dari kematian, menyelamatkan saya dari percobaan bunuh diri sekali pun. Saya ini apa, hinakah saya menulis ini dan orang menganggap bahwa saya perlu dikasihani? BANGSAT!

Bahkan saya sudah merdeka sebelum kalian datang, sesudah kalian pergi. Tak sadarkah kalian? Kemerdekaan saya direnggut tanpa ampun. Terbelunggu sendiri. Bagaimana rasanya? Harus terus-menerus merasa seolah tak terjadi apa-apa. Orang yang menulis dua novel itu bukan saya. Itu saya yang sedang waras—sedang sehat. Lupakan saya, bahkan kematian saya pun tak ada yang ingin datang.

Biarkan saya terus-menerus menanam luka sendiri, mengingat setiap kenangan yang tak mengenakan, ini lebih dari patah hati, lebih dari sakit hati. Bahkan saya merasa tak lagi punya hati, pikiran saya mati, tubuh yang kecil ini, akan terus merasa kecil. Tidak ada lagi obat, saya telah mati bahkan sebelum kalian sadar.