Thursday, May 21, 2015

POLYGON: Part Of Love storY in Graphica Of eleveN

KAMI selaku CREW buku tahunan, ingin meminta maaf atas keteledoran kami...

Kurang lebih Dua minggu sebelum buku tahunan dibagikan. KAMI kaget dan SHOCK atas perubahan yang mendadak dan tanpa sepengetahuan kami. Lebih tepatnya tidak ada pembicaraan atas perubahan dari INTI Buku tahunan. 

Awalnya CREW ingin membuat buku tahunan yang "Bercerita" kami ingin menyuguhkan sesuatu yang BERBEDA dari tahun-tahun yang lalu. Sebuah DRAMA dalam buku tahunan, tentunya sangat menarik, Tapi semua hancur seketika dalam waktu satu hari. Kerja keras kita bersama selama hampir tiga bulan harus kita Ikhlaskan begitu saja. 

Sekedar informasi, SAMBUTAN, PROLOG dan EPILOG juga QUOTES dari setiap foto yang KAMI buat untuk teman-teman sudah mengalami proses panjang, pembuatan yang hampir memakan waktu satu bulan, saya menuliskan dengan sangat hati-hati, hingga terkadang air mata jatuh menetes pada keyboard yang menjadi teman saya..

KAMI selaku CREW berterimakasih atas semua pihak yang telah membantu, Ketua Kelas, Wali Kelas, Teman-teman yang BERSEDIA meluangkan waktu bahkan pada waktu yang seharusnya kita gunakan untuk berlibur.

Utamanya para CREW: Rojihan, Asep, Tadjudin, Yudha, Nabila, Dimas, Putra, Lintang, Intan, Ichak, Ardian, Dhea, Rara, Wilda, Selma, Nadya, Ambalika, Indah, Moeslim, Adam, Nilam, Natalia.. Saya sangat berterimakasih atas tenaga dan pikiran yang sudah ditularkan. saya selalu ingat perjuangan kalian, ekspresi letih, sedih, bahagia, merengek minta Mie ayam, Gorengan Bu sagi dan Nasi Rames masih teringat hingga hari ini. Karena ekspresi kalian saat mengerjakan ini semua adalah semangat bagi saya untuk memimpin project yang kita buat bersama. Terimakasih juga untuk Pak Hamrowi yang bersedia menjadi Air ditengah padang pasir yang luas, selalu memberikan saya masukan, yang bagi saya tidak ada harta yang bisa membalas semua motivasi dan semangat yang beliau berikan. Saya HARUS mengatakan ini. Saya mencintai kerja keras kalian, saya sadar. Saya satu-satunya CREW yang tidak mempunyai keahlian selain menjadi orang yang CEREWET, pembantu, pelengkap juga obat penenang bagi CREW yang SANGAT berkompeten dalam bidangnya masing-masing.. 

KECEWA? itu pasti. Tapi, KECEWA pada siapa, itu yang SUSAH diungkapkan. Tapi, Semuanya belum berakhir, karena kisah cinta kita adalah "Lingkaran yang tak berujung".. 

Jangan mencari itu kesalahan siapa. Karena sejujurnya jika HARUS ada yang disalahkan, itu MURNI kesalahan saya.. Terimakasih. 

BERIKUT ini akan Kami berikan Bagian yang hilang dari buku tahunan kita:
1. Sambutan, (diganti sambutan Ketua OSIS angkatan 25)
2. Prolog, (diganti dengan foto gedung C)
3. Epilog, (diganti dengan foto Joglo)




Sunday, May 17, 2015

MAAF, SOPHIE!


Ini Gila!,
Aku menemukan dimensi baru dari dirinya
Dimensi yang lebih luas dari seorang wanita
Gambaran jelas yang terlalu lama dilewatkan
Sekali lagi, aku membenci diriku
Bukan karena kesalahanku
Bukan karena kebodohanku
Tapi, karena sudah terlalu lama
Terlalu lama aku melewatkanmu
Kamu seperti pasir di padang pasir
Orang selalu ingat terik matahari
Panasnya,
Rasa haus,
Keringat yang bercucuran
Tapi tak pernah ingat bahwa ada pasir dikakinya

Matamu
Mata paling cerah yang pernah aku lihat
Bibirmu
Bibir yang paling meracuni otakku
Senyummu
Ah, itu gambaran yang paling susah

Maaf, Sophie!
Aku terlalu sibuk mencari
Hingga aku lupa kamu berdiri terlalu lama dibelakangku
Menungguku menengok
Menanti hati yang dilatih dan terlatih
Lalu, kamu memetiknya…


Semarang, 18 Mei 2015

Friday, May 15, 2015

ARTHUR (Episode 9)

Arthur dijemput Prof. Uru. Hari ini mereka memulai strategi yang sudah disusun Arthur tempo hari. Masuk Balai Kota tanpa kecurigaan dari petugas pengamanan, dan mereka berhasil. Arthur ikut masuk ke ruangan Prof.Uru. Menyamar menjadi asisten dokter, memakai baju serba putih khas dokter balai kota. Tidak ada kecurigaan dari siapapun. Ruangan dengan cat putih dan peralatan dokter yang disusun rapi, ada dua ranjang pasien yang disusun berdampingan dibelakang meja Prof. Uru, diantara dua ranjang ada tirai panjang berwarna biru yang menjadi pembatas. Ada foto Natalie, walikota Nanoi di antara dua jendela dan dua ranjang pasien, ekor bingkai hampir menyentuh tirai bagian atas. Foto itu nampak mencolok karena ukurannya yang sangat besar. Arthur membenci sosok pada foto itu, dia mencurigai Natalie ikut dalam kasus pembunuhan ayahnya. Matanya sinis memandangi foto Natalie. Arthur menyiapkan alat yang sudah dibawanya, revolver S&W, satu pisau lipat, dua granat manggis dan sepasang pisau Gurkha Nepal yang didapatkannya dari pasar gelap di lepas pantai Nanoi.

Setalah semuanya siap, seorang koki balai kota mengetuk pintu ruangan Prof.Uru. Prof. Uru membuka kan pintu setalah ketukan ke tiga. Itu Bibi Ana masih satu darah dengan Prof. Uru, Orang yang merawat Ana setelah kemtian ibunya. Prof. Uru menanyakan kesiapannya, Bibi Ana melempar kemeja koki warna hitam lengkap dengan topi dan celemek pinggang. Arthur mengganti bajunya, setalah itu keluar bersama bibi Ana membawa troli makanan yang akan dibawa ke ruangan Natalie. Prof. Uru mengunci pintu membereskan baju dokter penyamaran Arthur, menyembunyikan di laci meja kerjanya.

“Mau kemana kita?” Tanya Arthur.

“Ke ruangan Natalie, membawkan ini semua untuknya”

“Bibi tidak salah membawaku kesana? Aku tidak suka denganya, aku curiga dia ada dibalik pembunuhan ayahku” suara Arthur pelan, melihat seorang perempuan melewatinya.

“Ayo kita buktikan, jika intuisimu benar, tembak mati dia.”  Bibi Ana terus mendorong troli berisi makanan lalu Arthur ikut mendorong troli itu. Mereka sampai di depan pintu Ruangan Natalie, pintu besar anti peluru yang dijaga dua penjaga berkumis tebal, menghentikan mereka, memeriksa semua makanan yang ada di Atas troli. Setelah semuanya dianggap aman, penjaga itu membuka kan pintu dan mempersilahkan masuk. Ruangan Natalie tidak semewah yang Arthur kira, semuanya serba sederhana, meja dan kursi ditengah ruangan untuk menerima tamu, meja kerja yang besar dengan dua komputer, dan lemari buku yang berjejeran rapi yang menempel langsung pada dinding-dinding ruangan. Beberapa vas bunga yang dipajang di sudut ruangan, Karpet merah yang membungkus seluruh lantai diruangan Natalie.

“Akhirnya datang juga, ini orang yang kau maksud?” Tanya Natalie pada bibi Ana.

“Benar, ini Arthur” Jawab Bibi Ana, lalu Arthur bersalaman dengan Natalie.

“Saya, Arthur anak dari orang yang ada di foto itu” telunjuknya mengarah ke foto Witson, Arthur kaget karena Foto Ayahnya terpampang di belakang meja kerja Natalie, foto dengan bingkai besar berwarna keemasan.

“Ah, aku sengaja tidak melepas foto itu dan menggantinya dengan fotoku” Natalie berjalan kearah troli makanan, Arthur masih memandangi foto ayahnya yang memakai jas hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Bibi Ana membuka botol sampanye lalu menuangkan digelas yang sudah disiapkan untuk Natalie.

“Tapi kenapa kau tidak menggantinya?”

“Jujur saja, aku sangat mengidolakan ayahmu, ketika para Anei menawariku untuk menjadi penggantinya aku langsung terima ajakan mereka. Aku penasaran dengan kematianya. Aku juga masih terus menyelidiki sebab kematian ayahmu, Arthur. Dan akhirnya aku tahu bahwa Askar Kecha membunuh ayahmu” Natalie meminum sampanye yang ada ditanganya. Bibi Ana menuangkan sampanye untuk Arthur. Lalu Arthur meminumnya.

“Jadi, gimana dengan intuisimu Arthur?” Tanya Bibi Ana. Arthur tidak menjawabnya, rasa penasaran terhadap Natalie masih membuatnya bingung.

“Sebentar, aku masih bingung, lalu kenapa kau tidak bertindak? Memenjarakan para Anei, misalnya?”

“Itu yang tidak bisa aku lakukan Arthur, di Kota ini, Walikota hanya menjadi simbol demokrasi. Simbol bahwa Kota ini mempunyai pemimpin. Tapi tidak punya kuasa atas apapun” Natalie menggerak kan tanganya, tanda mempersilahkan Arthur dan Bibi Ana duduk.

“Aku semakin bingung, lalu siapa yang menjalankan pemerintahan? Jika Wali Kota yang seharusnya menjadi pimpinan tertinggi tidak diberikan kekuasaan apapun?”

“Para Anei, dibawah pimpinan Charles”

“Siapa itu Charles? Apa pengaruhnya?”

“Charles, pimpinan tertinggi para Anei, dan komandan tertinggi polisi di kota Nanoi, semua orang tunduk padanya. Prajurit-prajurit handal kota ini ada dibawah pengaruhnya, termasuk Askar Kecha prajurit terbaik yang membunuh ayahmu.”

“Lalu kenapa bibi membawaku kesini?”

Bibi Ana memberikan sebuah kartu pada Arthur.

“Itu kartu bebas untuk masuk ke setiap ruangan yang ada di Balai Kota, kau cukup memasukan PIN yang tertera di kartu itu” Jawab Bibi Ana.

“Aku hanya bisa membantumu ini Arthur, kau tidak cukup untuk membunuh Askar Kecha yang kau cari. Kau juga harus mencari Charles, dia berbahaya. Hidupnya hanya duduk dan memberi perintah. Kau juga tidak bisa memberikan kesempatan ke dua bagi para Anei. Kota ini sudah terlalu busuk, penuh sesak dengan koruptor-koruptor kelas kakap”

Bibi Ana keluar meninggalkan Arthur dan Natalie berdua, berpamitan dan meninggalkan troli berisi makanan agar Arthur bisa memakainya untuk kedok keluar dan melewati penjagaan. Natalie memberikan baju keamanan, Jas dan seluruh kelengkapannya, kaca mata  hitam dan Handie talkie.

“Pergilah kembali ke ruangan Prof.Uru, lalu gantilah pakaianmu disana”

“Terimakasih atas semuanya, aku akan segera pergi”

Arthur pergi membawa troli dan meletak kan tas berisi baju kemanan yang diberikan Natalie dibagian bawah troli. Masuk ke ruangan Prof. Uru lalu mengganti pakaiannya.


(Bersambung)  

Monday, May 11, 2015

Malam Bersama Sophie

Pagi ini dingin menusukku
Membuatku enggan menyambut
Aku bukan emphasis
Aku tidak bisa mengarahkan mataku
Objek itu terlalu fana
Aku hanya bisa menjadi rana
Terdiam menunggu di gerakan
Aku menunggu momentum
Momentum yang membukakan medium
Aku bergetar
Ada sesuatu yang menarikku

Sophie
Wanita tenang mencintai sepi
Aku tidak menemukannya lagi
Ketenangannya berubah jadi api
Pertemuan malam itu.....
Malam yang diselimuti dingin
Kau memelukku
Hangatnya dalam kain berselimut abu

Sophie, berbaringlah bersamaku
Habiskan malam ini dengan kasih yang tak berujung
Aku menderita, setiap kali kamu berpaling
Punggungmu tak bisa aku rasakan
Dinding-dinding menjadi masif
Mengajak kita menyelami masing-masing
Kau mengajakku menikmati malam ini
Malam pertama dan terakhir kita
Semuanya diam, mematung, tak berani
Matahari bersembunyi dibalik tirai hitam yang panjang
Bulan dan bintang mesra menyetubuhi langit
Aku ingin menciummu dari Manhattan hingga Gibraltar

Meski kau tak mecintaiku dalam benar
Tapi aku mencintaimu benar-benar
Malam ini sebuah palu menancap di kolam berisi susu
Kau mendorongnya
Kau menariknya
Aku hanya melihat, merasakanmu bermain-main
Sejak saat itu aku memelukmu
Dalam bias yang tak menentu
Gunung kembar yang digambar anak-anak TK menemani tanganku
Kau masih asik dengan permainamu
Aduh, Sophie kau ganas sekali.....
Aku mencintaimu meski ini malam terakhir
Dan itu Menyakitkan.....

Semarang, 11 Mei 2015



Friday, May 8, 2015

ARTHUR (Episode 8)

Setelah satu jam menunggu, Prof. Uru akhirnya datang, mengendarai mobil dengan atap terbuka khas Balai Kota. Prof. Uru disambut hangat Ana yang menghampirinya dengan girang lalu membawakan barang yang dibawa. Prof. Uru. Menyapa Arthur yang masih bertahan duduk di sofa ruang tamu. Arthur bediri, memberi salam. Prof. Uru menjawabnya lalu meminta Arthur untuk menunggu dia mengganti pakaian. Prof. Uru tahu kenapa Arthur mendatangi rumahnya. Rasa penasaran yang mengeras di otak Arthur  membawanya datang kemari.

Rambut Prof. Uru semakin memutih sejak Arthur terakhir bertemu, jenggot dan kumisnya masih terjaga rapi  dan bersih. Kacamata dengan lensa berbentuk bundar dan frame berwarna hitam juga rantai pengikat masih selalu dipakainya. Perjumpaan Arthur dan Prof. Uru kali ini adalah misteri.
Belum sepuluh menit Arthur menunggu, Prof. Uru sudah keluar dari balik pintu kamarnya memakai kaus putih lengan pendek dan celana panjang training warna biru dengan tiga garis berwarna putih di sisi kanan dan kiri. Arthur basa-basi, menanyakan kabar dan hal klise yang bisanya di lontarkan oleh orang yang sudah lama tidak bertemu. Prof Uru bercerita panjang lebar tentang pengalaman bekerja di Balai Kota, Prof. Uru juga bercerita tentang semua buku pemberian Witson yang dia baca. Betapa buku-buku itu menjadi inspirasi penyemangat hidupnya juga membuka jalan berpikirnya. Prof. Uru juga berbagi cerita tentang film-film eropa yang baru ditontonya. Tidak lupa Prof. Uru menanyakan kabar Nyonya Witson, Ibu Arthur.

Basa-basi yang lama ini, hampir membuat Arthur ingin pulang dan melupkan pertanyaan yang selama ini menggantung di pikirannya. Sampai Prof. Uru tiba-tiba menjelaskan sebab kematian Witson, Ayah Arthur.

“Ayahmu di bunuh, Arthur. karena dia mengetahui permainan kotor para Anei, para Anei mencoba menggulingkan ayahmu tapi tidak bisa, ayahmu terlalu kuat dan bersih untuk digulingkan. Akhirnya para Anei menugaskan satu prajurit untuk membunuhnya”

“Tunggu, jadi Prof. sudah tahu maksud kedatanganku kesini?”

“Lalu alasan apalagi yang bisa membawamu kesini selain ingin bertemu Ana? Kamu sudah bertemu Ana, seharusnya kamu sudah pulang daritadi kan?, kamu mudah ditebak Arthur”

“Permainan kotor apa yang Prof. maksud?, lalu, siapa prajurit yang Prof. maksud?

“Tentang proyek pengembangan kawasan terpadu untuk para anei. Bukan sekedar percobaan Mark-Up dana, Arthur. Para Anei juga menjual Narkoba ke kota-kota lain, hasilnya untuk dibagi sama rata dan pendanaan misil untuk perang, merebut wilayah, menjajah, memborbadir wilayah yang bukan kekuasaannya.”

“Lalu, siapa yang membunuh ayah?” Arthur memburu jawaban dari Prof. Uru, tanpa mempedulikan masalah yang barusan di ceritakan Prof. Uru.

“Kode Namanya, Askar Kecha, dia prajurit paling berbahaya yang dimiliki para Anei, meskipun para Anei tidak bisa menguasai kota, tapi mereka bisa menguasai prajurit-prajurit handal dan polisi kota. Dia hanya beraksi pada malam hari, tidak terlihat, susah ditemukan dan berbahaya”

“Apa yang berbahaya dari dia?” Tanya Arthur.

“Dia pandai menyamar, kecantikannya bisa membuat orang-orang diam dan mentapnya lama, pesonanya begitu memikat, Arthur. Dia selalu memakai topeng ketika beraksi.”

“Hanya itu saja? Tidak begitu bahaya bagiku, apalagi dia perempuan” Arthur tekekeh.

“Mungkin kamu bisa memakai rompi anti peluru jika dia bersenjatakan pistol tapi dia tidak menggunkan senjata macam itu. Dia ahli memanah. Ayahmu wafat terkena anak panahnya yang tajam, aku yang mengurus jenzahnya, Anak panah itu menembus jantung ayahmu, Arthur ”
Arthur kaget, terdiam lama, matanya menatap lantai ruang tamu.

“Lalu, kenapa Prof. diam dan tidak melaporkan masalah ini ke pengadilan kota?” Tanya Arthur

“Percuma, Arthur. Para Anei menguasai Aparatur yang ada di Kota ini, bahkan bisa dibilang kekuasaan mereka melebihi Natalie, Walikota Nanoi. Tangan dan mata mereka ada dimana-mana”
Lama Prof. Uru dan Arthur berbincang, Ana datang membawakan minuman dan biskuit kelapa. Lalu pergi dan menguping pembicaraan Arthur dan Prof. Uru dari balik tembok yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah kamu mengetahui semuanya,Arthur? Tanya Prof. Uru sambil mengambil Cangkir minuman yang ada di meja. Menatap Arthur sebelum meminumnya.

“Aku ingin membalas kematian ayahku, dan membongkar masalah ini ke seluruh penduduk kota, menyeret mereka ke pengadilan negara jika pengadilan kota tidak bersedia menerima tuntutanku” Mata Arthur memerah, kemarahanya memuncak, tanganya memukul meja, menggetarkan cangkir dan membuat minuman yang ada dicangkirnya meloncat tumpah membasahi meja. Ana yang menguping ketakutan, tanganya gemetar, lalu pergi.

“Aku bisa membantumu, tapi hanya untuk mengantarmu masuk ke Balai Kota, penjagaan disana sangat ketat, tidak boleh sembarang orang masuk. Tapi kamu harus tenang Arthur, Jangan gegabah. Jangan mudah menampakan diri. Harus kamu pikirkan dulu, strategi apa yang ingin kamu pakai. Aku akan membawamu ke Balai Kota tiga hari dari sekarang. Itu waktu yang cukup untukmu memikirkan semuanya. Aku tidak bisa melarangmu, mungkin ini jalan terbaik menuju kebenaran”

Beberapa jam setelah itu Arthur pamit pulang, membawa amarah yang siap mengendalikan pikirannya. Siap menjadi bumerang atau senjata mematikan baginya..

(Bersambung)


Wednesday, May 6, 2015

Review Film Toba Dreams

Toba Dreams. Saya akan mecncoba me-review film yang membuat saya tidak berhenti meneteskan air mata, tersentuh akan plot-plot cerita yang disajikan dan merinding sepanjang film. Toba Dreams bercerita perjuangan Sersan TB Silalahi (Mathias Muchus) dengan penuh perjuangan mengurus anak-anaknya. Dia harus mengalami kesulitan saat anak sulungnya Ronggur (Vino Bastian) berbeda pandangan dan keras kepala. Ronggur sangat pemberontak. Hal tersebut karena adanya rasa cemburu dan perasaan tak dianggap dalam keluarga. Film ini mencakup berbagai sisi kehidupan dan mempunya nilai humanis dan toleransi antar umat ber-agama, terbukti ketika Oppung Boru (Jajang C Noer) mengatakan bahwa “semua doa itu baik” kepada Coki yang dipersilahkan memimpin doa makan malam.

Saya mencintai konflik dalam film ini, Konflik antara TB dan Ronggur, TB dan Istrinya, Ronggur dan Sumurung (Haykal Kamil). Konflik antara Ronggur dan Andini (Marsha Timoty) serta Konflik batin yang dirasakan Ronggur untuk mengejar cita-citanya menjadi orang yang kaya dan sukses dengan menjadi pengedar Narkoba.

Keindahan tanah toba lebih di epxplore di film Toba dreams, berbeda dengan film Bulan diatas Kuburan yang tidak terlalu mengexplore tanah toba. Meskipun dari pemain-pemainya tidak ada yang menguasai logat batak kecuali Togur yang diperankan oleh boris bokir yang mewarnai film ini dengan celotehan yang masih saya ingat sampai sekarang “Hey Bangsat, seburuk-buruknya kau. Kau tetap saudaraku” serta lawakannya yang membuat penonton tak hanya meneteskan air mata, namun juga tertawa. Lawakan khas orang-orang desa, lawakan cerdas dari tanah toba seperti “macam sempak baru saja kau, ketat sekali” dalam salah satu dialog antara Togar dan Ronggur  

Meskipun Film Toba Dreams, kurang rasa batak namun Tetap Menggigit!, tetap bisa membuat saya tercengang dengan keseluruhan film ini. Dengan melihat pemain yang membintangi film ini saya tidak bisa meragukan kualitas akting mereka. Contohnya artis kawakan Matias Muchus yang beberapa kali dalam satu layar bersama Vino G Bastian. Kedua aktor ini sukses memerankan hubungan ayah-anak yang berbeda pandangan dan idealisme. Lalu intensitas hubungan antara ayah dan anak yang biasanya terlihat kaku dibandingkan dengan Ibu. Seorang anak laki laki biasanya dapat mengutarakan apa saja kepada ibunya dibandingkan kepada ayahnya. Lalu ayah yang sangat gengsi untuk memeluk anak laki-lakinya yang sudah dewasa dan teramat susah mengatakan rasa sayangnya. Semuanya sukses diperankan oleh Mathias Muchus bersama Vino. Satu adegan yang paling menyentuh hati adalah ketika Mathias Muchus mendatangi persembunyian Ronggur, keduanya akhirnya saling meminta maaf hingga menangis meraung. Ini menurut saya menjadi salah satu adegan terbaik karena mampu menguras emosi penonton. Akting Ramon.Y.Tungka juga pas dan tidak berlebihan untuk aktor yang sudah lama tidak bermain di sebuah film, Stabil.

Meskipun saya mendengar musik dari Vicky Sianipar yang agak mirip dengan film Bulan diatas Kuburan, tapi hal itu tidak menjadi persoalan yang besar untuk dipermasalahkan. Saya justru lebih mempertanyakan adegan ketika Ronggur bertemu dengan tiga pengedar narkoba disebuah diskotik, saya merasakan ada adegan yang disensor atau dipotong sangat kasar ketika tiga pengedar narkoba digambarkan mati, menjadi agak mengganggu kenikmatan saya dalam menonton film Toba Dreams.
Berbicara mengenai pesan moral, ada banyak sisi positif yang di dapat dari film ini. Diantaranya pentingnya menjaga hubungan baik keluarga,  bahaya penyalahgunaan Narkoba dan bahkan film ini juga mengajarkan toleransi beragama. Saya paling suka dengan salah satu dialog yang dikatakan Togar pada Ronggur bahwa “Menutupi kejahatan itu salah” ataupun yang dikatakan sersan TB pada Ronggur ditempat persembunyian Ronggur, bahwa “Tak ada tempat untuk bersembunyi bagi para penjahat”. Ending film ini juga tidak terduga oleh saya, cukup membuat saya semakin kagum dengan film ini.

Overall film ini saya beri Nilai 9 dari 10. Tidak aneh jika saya memberi nilai tersebut karena saya merasakan ikut dalam pergulatan konflik yang disajikan, saya merinding sepanjang film dan keluar dengan mata merah karena terharu dan menetsekan air mata.. Saya memprediksi film ini akan masuk beberapa Nominasi di Festival film. Untuk Nominasi Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik lewat akting Vino.G.Bastia, Pemeran pendukung pria terbaik lewat peran Mathias Muchus, .. Sekian. #BanggaFilmIndonesia, ayo nonton film Indonesia..
            

Friday, May 1, 2015

ARTHUR (Episode 7)

Sudah 10 menit sejak kelembutan Arthur dan Ana saling bertemu, suasana menjadi sangat canggung, lautan yang tenang berubah. Ombak mulai ganas menyapu pantai, angin besar datang dari selatan membuat pohon-pohon kelapa menari. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan, Ana hanya terdiam menatap lautan yang tidak lagi tenang. Arthur sibuk merapikan rambut dan bajunya pertanda tidak ada yang bisa dilakukan Arthur selain basa-basi yang tidak jelas. Sesekali Arthur menatap Ana dan tersenyum meski Ana tidak membalas senyum Arthur. Ana masih tidak percaya setelah apa yang terjadi diantara mereka. Nafasnya tidak teratur, dadanya seperti dimasuki batu besar. Sesak.

“Dia Ana yang baru, baru kukenal tatapan matanya yang indah begitu membuai. Membuat keinginan, menjadi hal yang tidak bisa ditolak. Tatapan matanya belum pernah seindah ini, rasa ini bertahan lama untuk memandanginya, dadaku sesak, jantungku tidak mau kompromi, Ana kini hadir dengan pesonanya yang bertambah anggun seiring waktu. Tidak jera mata ini untuk memandanginya” suara hati Arthur melambangkan ketertarikan pada Ana.

“Sinar matamu menari-nari, menyinari jiwa yang terguncang, menerangi perasaan yang gusar. Aku tak berdaya. Ingin rasanya menyingkap apa yang ada dibaliknya, aku ingin merasakan kelembutannya, kehangatannya. Beberapa kali ingin membawanya masuk ke kamarku dan bercumbu barang sekali. Apa itu tadi? Berapa lama waktu yang harus kutempuh untuk menyentuhnya lagi?” suara hati Ana seakan membalas Arthur tanpa sadar.

“Arthur, aku ke kamar mandi sebentar ya” Ana berdiri, meminta ijin lalu pergi. Ana berlari kecil membuka pintu sambil menatap punggung Arthur lalu tersenyum, pipinya memerah, matanya berkaca-kaca. Arthur tahu Ana tidak pergi ke kamar mandi, hanya basa-basinya untuk menghindari suasana canggung yang semakin menjadi-jadi. Di dalam Ana hanya mondar-mandir merayakan kegembiraannya, wajahnya sumringah, bibirnnya tersenyum, berbicara sendiri “Apa itu tadi tuhan” berulang-ulang membuat jantungnya semakin bedebar kencang. Sampai bunyi langkah kaki Arthur yang mendekati pintu, Ana berpura-pura menutup pintu kamar mandi dengan keras untuk menimbulkan bunyi, ketika Arthur tepat membuka pintu rumah Ana.

“Ana?,..Ana?” Arthur masuk, melangkah pelan sambil memandangi perabotan rumah Ana. Berhenti pada satu foto dengan frame hitam didekat piano hitam. Arthur memandanginya beberapa detik hingga Ana keluar dari kepura-puraanya lalu menghampiri Arthur yang berdiri di depan piano hitam
.
“Maaf Arthur aku lama ya?” Ana menatap mata Arthur dari samping.

“Siapa disamping ayahmu, itu?” Arthur membalas tatapan Ana sambil menunjuk foto yang ada didepannya.

“Oh itu, itu ibuku Arthur, meninggal dalam kecelakaan ketika umurku 6 bulan” Arthur terdiam sejenak, Arthur ingat cerita ibunya tentang ibu Ana malam itu.

“Hey, Arthur. kenapa kamu diam?” Ana bertanya sambil memegang pundak Arthur.

“Ibumu terlihat cantik sepertimu, Ana. Aku bisa melihat kelembutan dari sorot matanya, kehangatan dari senyumannya” mata Arthur berkaca-kaca.

“Mulai deh, puitisnya keluar. Terus aku gimana?” Ana sebal, duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Arthur berdiri..

“Aku tidak bercanda, Ana. Aku hanya memuji, kenapa kamu jadi cemburu gitu?” Arthur menghampiri Ana duduk di ujung sofa yang sama.

“Eh, eh, eh.. siapa yang cemburu, kamu terlalu pede, Arthur”

“Kamu tidak pandai berbohong, Ana”

Arthur dan Ana menghabiskan pagi bersama, sesekali memainkan piano dan bernyanyi bersama. Menunggu Prof. Uru yang masih belum datang. Bercerita tentang masa kecilnya dulu. Sesekali Arthur berfikir untuk menceritkan tentang Ibu Ana yang diceritakan ibunya tempo hari, tapi niat itu urung dilakukan untuk menjaga suasana tetap nyaman. Arthur takut Ana jadi membencinya karena menyembunyikan sesuatu tentang ibu Ana.

Telefon rumah Ana berdering, Ana mengangkatnya setelah dering ke dua. Ayahnya memberi kabar akan pulang dalam satu jam. Ana menyambut kabar itu dengan antusias, Arthur tersenyum bahagia karena tujuannya kerumah Ana untuk menemui Prof. Uru sebentar lagi akan terpenuhi.


(Bersambung)