Wednesday, July 22, 2020

seseorang mati di kepalamu;

Hari ini aku menemukan seorang mati di kepalamu, 
sebelumnya ia tumbuh dari mata air yang kau ukir 
di antara kesedihan dan pelupuk mata yang tak kunjung kering.

Katamu ia telah hidup seribu tahun
di pedalaman bumi paling gelap,
tempat segala dendam kesumat.

Kau memungutnya dari orang-orang sadis
yang mencoba membunuhnya dengan jari-jari penuh darah
dan pisau-pisau tumpul berkarat
yang telah merenggut sembilan ratus nyawa.

Ia berteman dengan harimau di hutan, katamu.
Setiap selasa malam kamu membawakan daging merah segar
untuk mengisi perut lalu kalian bercinta sampai pagi buta

Harimau itu bahkan bukan manusia,
kau robek perut penuh buruan itu,
kau mengadu pada seorang pria
yang berdiri di persimpangan jalan dengan payung hitam dan sepatu putih basah

Pada akhirnya kau pikir mungkin benar,
kesedihan lama tentang harimau di hutan
dan seorang pria bisa membunuhmu perlahan

Dan pada awalnya
kupikir kau hanya jadi salah satu santapan,
yang tak ada arti setelah tiada. 

Aku tak ingin itu,
aku hanya ingin tiada dan kau mengingat kematianku
seperti kau mengingat kecupan terakhir kekasihmu

Kekasihmu yang mati di dialog pertama puisi ini,
atau yang benar-benar mati di kepalamu sejak awal dari segala mula

Tidakkah kau melihat aku?
Yang mati di kepalamu
sebelum kau mengingat aku.


Semarang, 22 Juli 2020

Tuesday, July 21, 2020

cerita kita tidak didengar;


Aku sejujurnya selalu memikirkan hal ini; apakah mendengarkan adalah aktifitas paling sulit selama kita mencicipi hidup di dunia? Apakah mendengarkan memang butuh keahlian khusus? Kalau kamu merasa ceritamu tidak pernah didengar, mungkin kita bisa membuat lingkaran, saling berpegang tangan, dan mengucap doa; semoga tuhan selalu mendengar kita. Ada hal-hal yang gak sanggup kita ungkapkan, kadang kita lebih memilih diam karena kita terlalu takut pada respon orang tentang apa yang kita ceritakan. Namun ketika kita pikir ulang, sebetulnya ketakutan kita bukan tentang respon orang terhadap cerita kita. Kita takut orang itu jadi seenaknya, kita percayakan satu cerita pada seseorang, detik itu juga kita was-was cerita itu akan menjadi bola liar sampai pada titik yang mana. Itu mengapa kita lebih sering memilih diam.

Aku sejujurnya selalu memikirkan hal ini; mengapa cerita kita tidak pernah benar-benar didengarkan, ruang-ruang selalu penuh dengan cerita-cerita sampah dari orang-orang yang haus spotlight. Sehingga apa yang kita butuh untuk dengar tertutup oleh kebisingan-kebisingan tanpa arti. Ada banyak cerita yang tidak kita pedulikan, namun pada akhirnya kita terpaksa mendengarkan, karena cerita itu disampaikan dengan sangat lantang. Tidak ada ruang bagi kita untuk menghindar.

Cerita kita tidak didengar, aku sejujurnya selalu memikirkan hal ini; aku menggunakan kata kita sebagai pengganti kata aku. Karena barangkali aku tidak sendirian, orang seringkali jadi seenaknya, ketika ia menceritakan segala yang membuatnya gila, kita mendengar dengan seksama dan hati-hati, karena takut menyakiti. Saat wejangan kita menemukan titik terang dan mampu membuat orang lain tercerahkan, orang itu justru kembali ke sifat aslinya. Iya, yang suka seenaknya. Saat kita membutuhkan dia untuk mendengar cerita kita, orang itu menghilang. Tidak peduli, tidak ingin mendengar cerita kita.

Aku selalu memikirkan hal ini; pada banyak perempuan yang mengaku dirundung hanya karena kekasihnya melanggar apa yang sudah keduanya yakini sejak awal. Aku bisa paham hati wanita selalu menjadi bagian tubuh yang sangat rentan. Mereka bisa sedetik yang lalu mengaku tersakiti lalu sedetik kemudian menjadi seseorang yang paling tidak apa-apa. Ia rapuh dan lupa jalan pulang. Saat kekasihnya menyakiti dirinya untuk pertama kali, ada penolakan dari dalam dirinya; ia tidak percaya pada realita bahwa kekasih yang sangat ia cintai itu mampu melukai perasaannya.

Aku sejujurnya selalu memikirkan ini; mungkin kamu harus pasang telinga baik-baik, mengapa lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang sadar dan mau memberikan kesempatan kedua bahkan ketiga pada sosok yang benar-benar menyakiti dirinya sampai ke tulang. Aku memikirkan ini baik-baik; mungkin karena memaafkan adalah human nature seorang perempuan, seorang ibu. Seperti saat kamu terlibat cekcok pada ibumu, ibumu akan lebih mudah memaafkanmu, daripada ketika kamu terlibat cekcok pada bapakmu. Tapi orang seringkali lupa, tak akan ada aksi tanpa sebab, ketika kata maaf masuk ke otak dan memengaruhi pola bertindak kita, apa yang harus dilakukan setelahnya?

Mungkin saatnya kamu mendengarkan cerita orang lain, karena dirimu yang keras kepala itu, hanya ingin didengar. Saatnya kamu mendengarkan cerita ini. Tidak ada yang baik tumbuh dari perasaan hancur. Balas dendam adalah sesuatu yang pasti, meski tiap orang punya caranya masing-masing. Tiap kali mendengarkan seorang perempuan menceritakan kisahnya, pengalamannya dengan seorang pria yang diakuinya brengsek, aku selalu memasang badan pada dua kemungkinan. Perempuan itu sedang mengalami shock, yang berimbas ia melakukan penolakan pada apa yang terjadi. Itu mengapa lebih banyak perempuan yang berani memaafkan kekasihnya dan kembali bersama. Ia menerjemahkan penolakan itu dengan kembali pada sosok brengsek yang menyakitinya.

Barangkali kita selalu jadi sosok yang tidak pernah sempat mendengarkan cerita orang lain, tapi apakah benar kita sudah benar-benar mendengarkan cerita kita sendiri? Apa yang kita ingin, apa yang kita butuh. Apakah benar pilihan-pilihan itu ada karena kesadaran kita sendiri, atau dipengaruhi oleh mulut orang lain. Atau cara kita bertahan hidup adalah dengan kembali mengarungi cerita yang sama dari awal? Tapi apakah kita berpikir itu artinya kita membuang-buang waktu.

Aku sejujurnya memikirkan hal ini; apa yang harus kita lakukan saat cerita kita tidak didengar? Kita harus merilis semua yang menganggu di kepala, kita tidak bisa selamanya diam pada pengalaman hidup yang merusak kita pelan-pelan dari dalam. Kita butuh sosok oase, yang bersedia duduk dan mendengar cerita kita meski cerita itu mungkin cerita paling sampah yang pernah ada. Namun sampah bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Kita butuh sosok itu, saat cerita kita tidak didengar, ia menjadi sosok yang selalu siap mendengar apapun celotehan yang keluar dari bibir penuh tangis itu.

Namun aku sejujurnya memikirkan hal ini; seorang pendengar pasti juga membutuhkan pendengar yang baik. Kita semua seperti sebuah mobil yang butuh netral untuk berhenti. Kita perlu menetralkan kesedihan kita dulu sebelum melanjutkan perjalanan yang gelap dan terjal. Tapi apakah kita peduli pada sosok pendengar yang selalu ada untuk menampung ceritamu, atau apakah kita sama saja seperti yang lain. Tidak sempat dan tidak ingin mendengar yang lain, asal cerita kita sudah netral dan kita siap berangkat. Tidak ada yang bisa menghadapi kesedihan sendirian. Kita bisa mengambil peran untuk menjadi sosok itu; yang mendengar dan menetralkan apapun yang menganggu kepala.

Namun, sejujurnya aku memikirkan hal ini; apakah saat cerita kita tidak didengar kita boleh memberontak selain menangis? Kesedihan tidak memiliki obatnya, ia adalah virus mematikan yang tidak terhindarkan. Dan manusia adalah satu-satunya penawar ampuh yang bisa menetralkan itu semua hanya dengan mendengarkan.


Semarang, 21 Juli 2020


Tuesday, July 14, 2020

sudah kupikirkan baik-baik;


Sudah kupikirkan baik-baik, tidak ada yang benar-benar merasa baik, saat apa yang kamu yakini harusnya berjalan baik. Untuk standard yang kita yakini menjadi kabur, dan menemui jalan buntu saat ia dipertemukan oleh seseorang yang standard hidupnya ditentukan oleh orang lain. Sudah kupikirkan baik-baik, tidak ada yang benar-benar merasa baik, saat apa yang kamu yakini harusnya berjalan baik. Namun ternyata menjadi baik adalah posisi yang sangat tidak ideal, baik memilih kamusnya sendiri. Dan aku bukan bagian dari isi kamus itu, bahkan sampulnya, bahkan judulnya. Aku di luar konstelasinya.

Kupikir segala yang buruk seharusnya tidak ikut campur, buruk adalah kata sifat paling mematikan, ia sembunyi di balik kata baik. Orang-orang menggunakan kata itu sebagai kartu terakhir, kita memutuskan segala sesuatunya tiba-tiba sebelum tepat pada waktunya, kita buru-buru memilih dan menilai, sampai akhirnya harus terang-terangan membenci hanya untuk sekadar lupa. Padahal di lubuk hati paling dalam, membenci adalah perasaan yang perlu kita buang jauh-jauh. Namun apa boleh buat, melupakan seseorang yang selalu memberi memori-memori baik seperti berdiri di atas rel kereta api dan berharap tidak mati saat gerbong-gerbong itu melintas.

Kita pikir kita baik, saat berpikir semua ini demi diri, pikiran dan hati, namun belakangan muncul satu hal di detik terakhir; bagaimana jika kita tidak sedang menyelamatkan diri sendiri, justru sedang menghancurkan apa yang hendak kita perbaiki. Mekanisme dibentuk dari pengalaman yang selama ini kita pelajari, bahwa tanpa adanya kemampuan analitik yang baik, pengalaman hanyalah busa pada air cucian baju ibu, dibuang, dimainkan oleh anak ibu paling kecil, atau paling buruk merusak lingkungan.

Sudah kupikirkan baik-baik, cerita ini ditulis saat kesedihan memasuki hari ke sembilan belas. Aku tidak paham lagi apakah kesedihan bentuk dari sifat baik atau buruk, sedih pada sesuatu yang buruk adalah mesin penghancur yang membabi-buta pikiranmu. Sedih pada pengalaman buruk yang harusnya membentukmu ternyata justru menenggelamkanmu pada badai penuh intrik di dalam kepala. Kesedihan mengambil alih tubuhku, ia menguras seluruh energy lalu pergi. Tanpa pamit, tanpa mengucap hati-hati.

Aku waktu itu merasa ingin menjadi anak kecil. Yang tidak mengenal kesedihan sebagai pembentuk sifat manusia, kesedihan hanya sebagai bagian dari permainan yang ibu akan membantumu untuk tidak lagi menangis. Anak kecil memahami kesedihan lebih hebat daripada kita yang hidup di dunia dengan orang-orang yang tidak tahu diri; meminta maaf tanpa hati, meminta tolong tanpa peduli. Sudah kupikirkan baik-baik, cerita ini ditulis saat amarah memasuki minggu keduanya bernyawa, ia selalu lebih butuh makan daripada inangnya sendiri. Sudah benar-benar kupikirkan. Benar-benar.

Aku sedang berusaha menyembuhkan diri saat cerita ini terjadi, aku yakin, aku hampir merampungkan proses itu. Aku hampir selalu mendengar tiap tangis di detik-detik pergantian malam tiap harinya, tangis-tangis yang menggambarkan sifat buruk dari perpisahan, atau sifat buruk dari mengetahui sesuatu tapi memilih untuk diam dan tidak mengerti apa-apa. Kesedihan-kesedihan membawa kita pada ruang-ruang baru, saat kita pikir, kita butuh orang lain; kita lupa berpikir orang lain juga butuh yang lainnya. Karena mekanisme pertahanan diri yang rentan mudah dihancurkan saat kerapuhan dalam diri membungkus kepalamu, atau bahkan matamu.

Sudah kupikirkan baik-baik pertanyaan ini, setiap kali aku merebahkan tubuh pada malam-malam dingin di kamar tidurku, aku selalu bertanya, mengapa tiap kali rasa sedih datang, kita tidak menemukan bagian dari diri kita yang selalu hadir saat perasaan bahagia menyetubuhi. Aku berpikir seolah ada sosok lain yang sembunyi di dalam tubuh ini, dan ia hanya ingin merasa bahagia, saat kesedihan datang ia pergi, membiarkan kita merasakan sendiri. Aku lelah karena setiap kali aku harus merasakan sendiri aku selalu kalah. Kesedihan selalu menjadi musuh utama umat manusia. Pertanyaan itu sudah kupikirkan baik-baik, mengapa sosok-sosok yang biasanya hadir untuk semua perasaan bahagia menghilang bersamaan dengan perasaan itu. Sudah kupikirkan baik-baik, dan masih kupikirkan baik-baik.

Apa yang akan kita katakan, saat seseorang hadir dan meminta tolong. Apa yang akan kita katakan, saat seseorang itu ternyata baru saja merasakan pengalaman hidup paling pahit dalam sepanjang hidupnya. Aku selalu bertanya-tanya, apa kata-kata yang paling ideal untuk menyembuhkan seseorang dari rasa sakitnya, atau paling tidak membuat orang itu sedikit merasa baik-baik saja. Sejak dulu hingga kini masih kupikirkan baik-baik apa yang seharusnya aku lakukan saat itu terjadi dan mendatangiku. Jangan kau biarkan saat seseorang datang dan menceritakan kesedihannya, karena kau pun butuh orang lain untuk menetralkan kesedihanmu.

Sudah kupikirkan baik-baik, segala hal tentang kesedihan ada baiknya di buang jauh-jauh, namun ternyata merasakan kesedihan sampai benar-benar kering dan habis adalah jalan satu-satunya berdamai pada kesedihan itu. Kita tidak bisa melawan sesuatu dengan mata tertutup atau wajah yang tertunduk. Kita butuh sadar untuk membuka mata, membuatnya ciut dan lari entah ke mana. Sudah kupikirkan baik-baik sampai pada akhirnya kesedihan telah berteman baik dengan diriku, mungkin sebaiknya kamu juga. Sudah kupikirkan baik-baik, menganggap kesedihan sebagai perasaan biasa yang pasti datang, entah apakah pikiran itu akan berujung baik atau buruk. Tapi, sudah kupikirkan baik-baik.

Sudah kupikirkan baik-baik, mulai hari ini. Aku akan merasa baik-baik saja, tetap baik-baik saja, saat hal-hal buruk mampir menghantuiku. Semoga kamu juga baik-baik saja saat itu terjadi di hidupmu. Sudah waktunya kita menang lagi dalam pertarungan antara kesedihan dan perasaan baik-baik saja. Sudah kupikirkan baik-baik, bahwa saat seluruh tubuh, pikiran, dan jiwaku menghendaki baik-baik saja, semua akan bisa kulewati juga dengan baik-baik saja. Sudah kupikirkan baik-baik, semoga kamu juga memikirkannya baik-baik.


Semarang, 15 Juli 2020


Wednesday, July 31, 2019

Cara-Cara Terakhir Untuk Tersesat.


Tiap kali hal ini terjadi, aku selalu berharap bahwa aku tidak menuliskannya. Karena ketika tulisan seperti ini benar-benar eksis dan lahir artinya aku tidak sedang baik-baik saja. Aku selalu memimpikan kesempatan kedua, aku memimpikan lebih dari beribu kali. Ada banyak hal yang selalu aku sesali, meski sudah kuniatkan untuk diputuskan. Mengambil langkah-langkah yang sejak awal sudah kumengerti akan menjadi sakit, akan jatuh sekali lagi. Sungguh bagaimanapun aku tidak pernah mengharapkan hal-hal seperti ini terjadi lagi. Aku selalu terjebak pada hubungan yang tidak adil. Hubungan-hubungan yang membawaku pada garis batas tapi aku terkunci di dalam, saat aku melewati batas itu aku tetap berada di jeruji yang sama. Dan terus terulang entah sampai kapan.

Aku hilang kendali, satu hal aku ingin kamu, lain hal aku menyadari hal itu tidak mungkin terjadi. Barangkali bagimu tidak ada yang salah, tapi kamu selalu lupa—aku masih manusia, yang punya hati, punya perasaan. Sungguh ini tidak adil, saat aku mulai membuka kemungkinan untuk siapapun, membuka segala yang ditutup oleh yang lalu, aku selalu menemukan hal yang sama; sebuah hubungan yang terlanjur dimiliki orang lain. Barangkali benar, nyaman adalah jebakan. Tapi sesungguhnya aku merasa nyaman sejak pertemuan kita pertama kali. Caramu tertarik pada segala hal yang keluar dari bibirku, sentuhan-sentuhan yang sudah lama tidak kuterima dari siapapun, atau caramu memborbardir ruang obrolan di whatsappku. Aku takut kehilangan itu saat aku terpaksa memutuskan. Biasanya memutuskan hal yang ternyata buruk bagiku, namun tetap perlu kutempuh. Rasanya seperti ditelan hidup-hidup.

Percayalah, aku masih rentan, sejak hubungan yang terakhir membuatku berhenti. Mengalami fase-fase menyebalkan, fase di mana aku butuh namun tidak berani mengungkap apa yang ada. Saat di mana aku berada dalam ruang hitam, dan aku butuh cahaya yang menuntunku ke luar. Saat kenangan yang terakhir membuatku memikirkan bahwa pertemuan adalah hal yang penting dan kubutuhkan, namun aku selalu memikirkan posisiku. Di mana aku, dan sebagai apa aku. Ini selalu menjadi tidak adil untukku. Aku berusaha mengendalikan semuanya, berharap ketika yang satu hilang, aku tidak kehilangan yang lainnya, namun kenyataannya aku yang ditinggalkan, entah dengan terang-terangan, atau dengan cara-cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Yaa barangkali kecewa adalah kata yang pas untuk disematkan menjadi nama tengahku.

Aku adalah sisa-sisa kerapuhan dari dinding kokoh yang dulu pernah ada dan sempat melindungiku dari perasaan-perasaan ingin. Ingin memiliki, ingin menyayangi, ingin mencintai, atau ingin-ingin yang lain. Kubiarkan perasaanku tenggelam pada segala kondisi yang membawaku ke ruang paling tenang, ruang paling nyaman, sampai aku tersadar; aku lupa jalan pulang. Bahkan setelah aku ingat ke mana jalan pulang, aku tersadar, aku tak punya rumah. Di situasi seperti itu, aku butuh kamu. Namun kamu punya rumah yang selalu menunggumu, selalu siap kapanpun, dimanapun kamu butuh. Aku; hanya pria yang tersesat jauh entah ke mana. Hilang kendali, hilang diri, hilang hati.

Setiap kali hubungan itu berakhir, aku selalu ingin hubungan itu kembali lagi. Aku selalu bernafsu untuk memperbaiki hal-hal yang rusak dan hancur karenaku sendiri. Yaa, aku terlalu naif untuk menyadari bahwa hal-hal yang kuinginkan hanya akan menjadi debu yang beterbangan, tertiup angin—hilang. Aku naif, menginginkanmu kembali, menginginkanmu untuk meninggalkan kekasihmu saat ini, terlalu naif untuk memiliki hubungan yang baik-baik saja, tanpa perlu risau tentang keberadaan, tidak perlu risau bahwa aku hanya menjadi orang ketiga—sekali lagi. Dan terus terulang. Meski pernah kubilang, relationship itu persoalan human experience, ternyata aku menyadari, pengalaman ini mungkin hanya aku yang pernah dan mampu mengalami. Ditinggalkan, diacuhkan, dilupakan, atau hanya menjadi pilihan. Sesungguhnya aku rindu, aku yang dulu.

Yang menentang segala hal, yang tidak peduli bahwa ada cinta yang butuh dibalas. Aku bersikap seolah semua tidak pernah terjadi, namun sayangnya aku salah mengambil sikap, lupa bahwa segala hal adalah persoalan momentum. Yang ujung-ujungnya aku hanya menyesali, atas sesuatu yang tidak adil. Menangis di tengah malam, di atas roda dua berkecepatan tinggi, dan berharap ada kendaraan lain yang menabarakku, menghancurkanku sekalian. Daripada aku harus merasakan dejavu berulangkali. Kupikir aku terselamatkan dengan keberadaanmu, tapi aku menyadari satu hal, makin dalam aku terlibat, makin jauh aku tersasar—tidak tahu jalan pulang. Aku hanya ingin kamu ada, di tempat dan waktu yang tepat. Bukan dalam setiap kesedihan yang lagi-lagi harus terulang.

Tapi, semua yang pernah aku alami, sungguh tidak ingin kulupakan sama sekali. Aku menikmati masa-masa itu, masa tidak menjadi pilihan, masa menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, masa-masa menjadi ramah untuk tidak dianggap asing. Atau masa-masa saat kebahagiaan dan rasa sedih hanya berjarak satu jengkal. Aku akan mengingatnya sampai aku tidak lagi mampu merasakan apa itu jatuh cinta, apa itu rindu, apa itu cemburu, apa itu sakit hati, apa itu kecewa. Saat tulisan ini muncul dan di titik ini kamu membacanya, barangkali aku telah menghilang dari radar, dan cukupkan dirimu. Aku tidak ada di mana-mana, aku berada jauh dalam jangkauanmu jika yang ada dipikiran dan hatimu hanyalah laki-laki lain.

Aku terlalu larut dalam ceritamu, sampai aku melupakan cerita yang ingin kutulis sendiri, dan kamu menolak menjadi tokoh dalam cerita itu. Tidak ada yang terlalu perlu disesali, aku hanya kepingan kecil dari kepingan penting dalam ceritamu—kisah cintamu yang menyenangkan, yang kubantu untuk menjadi sempurna. Aku hanya tokoh pengganti—yang mendukung keberadaanmu, saat kamu dan laki-laki itu terlibat dalam situasi menyebalkan atau bahkan pertengkaran hebat. Aku tidak akan sembunyi, meski keberadaanku selalu berusaha kamu sembunyikan. Aku ada, meski kamu tidak ada di mana-mana. Aku hanya butuh udara, butuh sesekali bernapas dari keadaan yang makin hari makin membuatku gila.

Aku akan menghilang tepat setelah pesan terakhir laki-laki itu masuk ke ponselmu. Aku hanya sedih, aku hanya kecewa pada diri sendiri—yang terlalu larut dan emosional pada hubungan yang tidak mampu kukendalikan, karena aku bukan pilotnya atau bahkan co-pilot. Aku hanya pemain cadangan, dan saat aku berada dalam permainan aku hanya bisa mengacaukan, tentu kamu menyadari itu. Aku adalah kekacauan yang teratur, selalu menghancurkan segala hal yang seharusnya ada untuk menjadi obat bagi setiap napas yang kamu ambil dari hiruk-pikuk yang membuatmu jenuh.

Tapi aku tetap manusia, punya perasaan yang seharusnya tetap kamu jaga. Punya perasaan takut kehilangan, sehingga bersikap seolah semua harus sesuai iramaku. Aku adalah penghancur bagi diriku sendiri, aku adalah bom waktu dan racun dalam diri. Aku hanya rindu, merasakan diri yang baik-baik saja, tanpa perlu berpikir kita ini apa, tanpa perlu berpikir besok akan jadi seperti apa. Aku rindu kamu, sungguh. Aku rindu diriku yang dulu. Yang selalu membantumu menulis cerita yang lugu dan membuatmu candu. Aku ingin menolong sekali lagi—bukan menjadi tokoh yang harus ditolong. Saat semuanya menghujam persis ke jantungmu, apa lagi yang perlu kamu tunggu. Selain kematian yang menunggu. Aku hanya menunggu, kamu yang datang sebagai penolong atau sebagai kematian yang tidak membawa ampun. Aku selalu menunggu bagaimana ini akan berakhir.

Satu hal yang perlu kamu tahu, apapun yang terjadi di akhir. Aku adalah pihak yang pasti akan kalah, bahkan hanya dengan menutup mata.


-----


Sunday, June 2, 2019

Di Tubuhmu Tumbuh Aku

aku ingin kembali
pada setiap kata yang pernah ada Kita,
atau setiap rasa yang dulu pernah ada

aku lelah
merasa diri baik-baik saja
tapi hati terkapar lemah

aku memilih menyerah
di antara kesedihan lama
dan luka yang belum juga reda

sungguh di pelukanmu aku luruh,
sebab suara tak lagi lirih
karena senyummu mampu menghilangkan perih.

aku akan pulang
ke tempat seharusnya kita berdua
di tubuhmu yang tumbuh aku


Semarang, 2 Juni 2019

Tuesday, May 28, 2019

Menunggu itu Seni

Aku pernah cerita
Tentang mengapa kita tak pernah bisa bersama.

Aku suka menatap kedalaman matamu
Menikmati senyum dan candamu
Menikmati peluk yang hangat saat kau cerita tentang kekasihmu

Aku tak ingin kehilangan itu
Aku memilih melihatmu dari kacamatku .
Rinduku selalu terlambat satu detik,
ada orang lain yang lebih dulu mengucap itu,
dan kamu terlanjur tersipu

Aku memilih menunggu
Menunggu itu seni,
karena kita bertaruh pada yang tak pasti.


Semarang, 29 Mei 2019

Tuesday, May 14, 2019

Kita dan Cerita yang Singkat

Kita membiarkan diri
larut pada cerita masing-masing.

Sampai kita lupa,
di cerita orang lain,
kita jadi bagian paling penting.

Namun kita memilih
untuk tidak hadir
melengkapi cerita itu

Kau selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian,

Karena,
Setelah kamu, mereka yang datang hanya menjadi cerita-cerita yang singkat


Semarang, 15 Mei 2019