Wednesday, February 3, 2016

[REVIEW] Surat Dari Praha - Renungan Dalam Sebait Nada.

Surat dari Praha, renungan dalam sebait nada. Film dengan durasi 93 menit ini, berhasil menghantui saya di setiap tidur. Nada dari film ini tak henti-hentinya mengalun indah di dalam otak. Saya menemukan keindahan dari film ini, bukan hanya dalam bentuk visual. Tapi, juga keindahan yang benar-benar bisa dirasakan oleh hati. Keindahan yang sederhana, keindahan yang diciptakan oleh dua tokoh utama Kemala Dahayu Larasati – Teratai yang cantik (Julie Estelle) dan Mayadi Jayasri (Tio Pakusadewo). Chemistry keduanya bagai ombak di lautan yang menyatu dan tak terlepaskan. Meskipun bagi saya akting mereka berdua lebih kearah tekstual dibanding nature, tapi tak jadi soal. Dalam bentuk akting tekstual pun mereka berdua tetap bermain apik. Saya benar-benar dimanjakan oleh tontonan yang berkelas.

Film yang memperlihatkan perbedaan 2 zaman antara sifat orde lama yang keras tapi perhatian seperti Jaya saat menyuruh Laras tidur di sofa tapi memberikan selimut, yang keras tapi diam-diam menyuruh teman baiknya memberikan Laras pakaian, yang keras tapi mau menghantarkan Laras pergi ke KBRI. Dan sifat orde baru yang dimiliki Laras, sikap antipati terhadap sesuatu yang terjadi pada diri Jaya, awalnya. Seseorang yang keras terhadap diri sendiri. Yang mewarisi sikap Ibunya, Sulastri (Widyawati)

Keindahan Praha di balut dalam kesederhanaan Sutradara: Angga Dwimas Sasongko yang tidak punya nafsu berlebihan untuk memperlihatkan sudut-sudut kota Praha, berbeda dengan film-film lain yang syuting di luar negeri. Yang bernafsu mengabadikan sudut-sudut kota tanpa menyadari bahwa film berarti menjual cerita dalam bentuk gambar bukan menjual gambar dalam bentuk cerita.

Warna film yang menyatu dengan kota Praha, cokelat-abu. Kamera yang tak melulu statis, bergerak natural seperti berasal dari getaran tangan DOP. Musik yang indah dan cantik dari lagu-lagu Glenn Fredly memang jadi tumpuan keindahan film ini, entah apa jadinya jika Surat dari Praha minus lagu-lagu dari Glenn. Melihat bagaimana penjelmaan karya Horper, Sang Pelukis realis di beberapa scene film bisa membuat penonton seakan melihat ide dan pemikiran-pemikiran dua manusia yang menjadi satu lewat warna khas Horper, yang direaliskan oleh Angga.

Angga Sasongko memang sutradara muda yang berbakat, membuat film dengan kesederhanaan yang benar-benar merasuk ke hati. Sejak Hari untuk Amanda, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi, jika kita mengamati tiga film tersebut dan membandingkannya dengan Surat dari Praha, ada beberapa kesamaan yang membekas dan menunjukan bahwa itu adalah ciri khas dari Sang Sutradara: Angga Dwimas Sasongko. Seperti: Pergerakan kamera yang statis—mengikuti tangan DOP dan justru ada beberapa scene di film-film Angga, dimana kamera tidak mengikuti pergerakan aktor. Juga stock shoot yang memperlihatkan jendela-jendela. Saya pun sempat bertanya pada diri saya, apakah Angga Sasongko mencintai jendela? Atau paling tidak suka dengan jendela?

Adegan membayangkan di film Filosofi Kopi, ketika Ben melihat orangtuanya memetik biji kopi, juga hampir mirip di film Surat dari Praha ketika Jaya membayangkan Sulastri yang bermain piano di gedung opera, dan duduk berdua ketika Jaya membaca surat dari Sulastri di akhir film. Dalam hal ini ciri khas dari Sutradara adalah bentuk refleksi lain untuk suatu film.
  
Ciri khas Angga Sasongko dalam membuat ending di film-filmnya ibarat perjalanan pulang. Menghantarkan penontonnya, hanya sampai pada gerbang rumah tidak sampai masuk rumah. Penonton dibiarkan menggantung menerka sendiri apa yang terjadi setelahnya. Membiarkan penonton menggiring opininya sendiri. Ini sentuhan indah dari Sang Sutradara yang jadi refleksi untuk suatu film.

Mendirect hewan seperti Anjing dalam film juga bukan perkara yang mudah. Surat dari Praha melakukannya dengan amat baik. Bagong benar-benar jadi bagian diri Jaya yang merasa kesepian dan penyendiri. Saya suka raut wajah Bagong di ending film, kesedihan sangat tampak di wajah Bagong, seperti kelelahan ketika mengikuti Laras pergi lalu melapor pada Sang Majikan, sekilas saya melihat Bagong benar-benar menangis. Bravo, Bagong! Hal ini juga menjadi kelebihan tersendiri untuk Surat dari Praha dibandingkan film-film lain.

Sangat membanggakan jika kita tahu bahwa Surat dari Praha dibuat hanya selama 11 hari, yang notabene untuk sebuah film, ini jangka waktu yang terbilang sebentar. Tapi, berhasil menghasilkan tontonan yang nyaris sempurna untuk tiket bioskop Indonesia yang bisa dibilang murah. Riset yang lama sejak Cahaya Dari Timur dibuat, memang jadi titik tumpu yang amat kuat di Surat dari Praha. Buah pemikiran yang bisa dibilang jenius dengan riset yang cukup lama, berarti para pembuatnya sadar betul apa yang harus dilakukan ketika proses produksi film berlangsung. Efisisensi waktu toh tidak jadi penghalang untuk film ini.

Surat dari Praha, renungan dalam sebait nada. Kita menyadari betul bahwa berdamai dengan masa lalu adalah sebuah keharusan. Film ini menunjukannya dengan amat jelas, ketika Laras memberikan Jaya satu tiket pulang ke Indonesia, Jaya menolaknya mentah-mentah dan mengatakan bahwa Laras Egois. Dan Laras pun menjawab: “Jangankan ngiklasin apa yang terjadi, memaafkan diri sendiri aja anda nggak bisa.”

Angga Sasongko tidak memaksa penonton untuk tahu bahwa Jaya dan Laras saling jatuh cinta di film ini. Semuanya mengalir apa adanya, penonton akan merasakan sendiri bahwa mereka berdua memang saling mencintai pada akhirnya. Bahwa dari tatapan mereka berdua saja lebih berkata dari sekedar kata-kata. Ini menariknya film ini, A Love Story yang membawa penontonnya masuk dalam-dalam diantara kedua tokoh yang sedang berkonflik. Merasakan bahwa mencintai dan nafsu untuk memiliki adalah dua hal yang berebeda.

Editing yang selaras antara rekaman dan musik yang live mengingatkan saya pada film Whiplash karya sutradara muda Damien Chazelle yang memenangkan Best Sound Mixing dan Best Film Editing dalam Ajang The Academy ke- 87. Saya juga percaya Surat dari Praha akan membawa banyak penghargaan meskipun saya yakin tujuan pembuatan film ini bukan untuk mendapatkan banyak pengharagaan. Tapi, setidaknya film ini sangat pantas untuk mendapatkan gelar Film Terbaik meskipun terlalu dini untuk mengatakan hal ini.

Surat dari Praha, renungan dalam sebait nada. Juga tak melulu mulus dalam perjalanannya, diisukan hasil plagiat dari Kumpulan Cerpen karya Yusri Fajar yang berjudul sama. Tapi tenang, ketika anda membaca review ini saya sudah membaca kumpulan cerpen karya Yusri Fajar sejak 2013 lalu dan tentu saja sudah menonton filmnya. Diluar judul dan kesamaan tempat yaitu Praha, kedua hal ini sangat berbeda, bahkan jauh berbeda. Bahkan garis besar ceritapun sangat berbeda.
Buku kumpulan cerpen Surat dari Praha karya Yusri Fajar berisi 12 cerita pendek yang salah satunya dipilih menjadi judul bukunya. Cerpen Surat Dari Praha bercerita tentang Marwo dan Pavla. Marwo adalah pria asal magelang yang memiliki restoran sate di Praha. Marwo datang ke Praha pada awal tahun enam puluhan untuk menjadi mahasiswa jurusan ilmu politik. Di Praha, Marwo berkenalan dengan Pavla. Pavla adalah mahasiswi dari Praha yang menempuh jurusan teater. Tentu jelas berbeda, latar waktunya saja berbeda. Jadi jelas, tidak ada unsur plagiarisme dalam film Surat dari Praha. Jika anda sudah membaca cerpen dan menonton filmnya, anda pasti setuju dengan saya. Dan ingat, hak cipta sebuah buku adalah untuk melindungi kontennya alias isinya bukan judulnya.
Surat dari Praha, renungan dalam sebait nada. Film yang Indah, cantik, menghantui, menginspirasi, menggairahkan, membahagiakan dan PAS!! #BanggaFilmIndonesia

(Skor: 4,5/5)

Sunday, January 24, 2016

Ran Fleuriste #2 Episode 5

Semalam aku bermimpi, langit yang berbintang memanjakan mataku membentuk siluet wajah Ranum. Bintang-bintang berubah bak aktor di panggung teater, bergerak acak dari bentuk lain ke bentuk yang lainnya. Menghadirkan pertunjukan yang menjadikan Ranum sebagai pemeran utama. Itu mimpi pertamaku pada malam itu, aku terbangun—sosok Ranum tampak nyata. Tengah malam di Belanda sangat dingin, selimut ikut merasakan kebekuan akibat angin, lama aku tersenyum sendiri mengingat mimpi yang tidak sepenuhnya menjadi ingatan. Ponsel di samping bantal seakan berteriak—ku ambil ponselku, kubuka file foto yang dikirimkan Sean tempo hari. Foto Sean dan Ranum yang tersenyum lebar. Lagi-lagi aku senyum sendiri. Membelai rambutnya dari layar ponsel. Ranum memang bagai bintang sirius—membutakan mata, bintang yang terletak di rasi canis major. Friedrich Wilhelm Bessel pernah menyimpulkan bahwa bintang sirius memiliki pasangan, lalu hampir dua dekade berjalan Alvan Graham Clark menemukan pasangan sirius yang redup—sirius b. Jika Ranum bagaikan sirius aku ingin menjadi bumi untuknya, yang dekat dalam sitem bintang.

Limabelas menit setelah tebangun, aku memberanikan diri—mengirimkan pesan untuk Ranum. Beberapakali menghapus pesan lalu mengetiknya lagi, mengganti pesan yang lebih tidak mengagetkan Ranum ketika dia membacanya.

Ada bintang di mimpiku malam ini.”

“Aku aku melihatmu menjadi siluet bintang di mimpiku.”

“Ranum aku sayang kamu.”

“Ranum malam ini dingin ya.” SENT

Bodoh! Pesan macam apa itu.

Aku melanjuktan tidurku, menutup selimut cepat-cepat, membuat dingin berubah hangat. Langit-langit kamar jadi kanvas, membayangkan melukis wajah Ranum—beberapa detik setelahnya mataku mulai gelap sebelum dikacaukan oleh dering ponsel. Satu pesan masuk—ini dari Ranum. Dia belum tidur, atau mungkin sama denganku terbangun—memimpikanku.

“Aneh”

Seperti dugaanku, pesan bodoh yang kukirim ditanggapinya aneh. Berkali-kali aku mencoba membalas pesannya.

“Sorry, salah kirim.”

“Hahaha, belum tidur Ranum?”

“Iya ya aneh, pagi gini udah pasti dingin lah.”

Aku memutuskan tidak membalas pesannya. Aku melanjutkan tidurku.

Belum lama aku mataku tertutup, ponselku berdering lagi. Aku mecoba membiarkannya di dering pertama ponselku lalu menutup mata. Ponselku berdering lagi—aku melihat ponselku. Dua pesan dari Ranum.

“Kamu mimpi buruk ya?”

“Sama aku juga niih.”

Bulu tengkukku berdiri, jantungku bedebar. Ranum membalas pesanku lagi, kali ini dua kali, aku memutuskan melupakan rasa kantukku, mencoba terjaga. Dua menit berlalu aku masih menatap pesan dari Ranum. Aku harus berhati-hati membalas pesannya, untuk menjaga percakapan.

“Aneh”

Niat balas dendam, tapi ini bukan saatnya. Aku percaya dalam keadaan seperti ini—setiap orang pasti berubah dari sifat yang dibawanya setiap hari. Keadan tengah malam seperti ini membuat orang-orang jadi lebih jujur. Jadi kita bebas bertanya apapun dan pasti dijawab dengan jujur. Karena alam bawah sadar kita menguasai tubuh yang setengah mengantuk.

“Ranum mimpi apa?”

Sambil menunggu Ranum membalas pesanku, aku bangkit dari kasurku menuju dapur untuk membuat kopi. Aku membuat Colombian Milds yang tersisa di Coffee Makerku salah satu varian kopi arabica dari Kolombia, Kenya dan Tanzania. Jenis kopi arabica yang telah dicuci. Sebagai penikmat kopi yang punya banyak gerai kopi di seluruh Belanda—aku memang terbiasa membuat kopi untukku sendiri.

Aku berdiri di depan meja dapur dengan dua tanganku yang menyentuh ujungnya. Ponselku tepat di samping kopiku. Ponselku berdering setelah aku meminum kopiku. Satu pesan dari Ranum.

“Dokter melarangku minum—minuman beralkohol, padahal aku bukan pecandu alkohol. Mimpiku jadi aneh, besoknya dokter itu meninggal ditusuk prajurit berkuda, anehnya prajurit berkuda ini patung—bukan real prajurit berkuda yang bawa pedang.”

Aku membacanya pelan, sembari sesekali meminum kopiku. Tertawa sedikit diakhir pesannya.

“Ha? Serius?”

Aku meninggalkan dapur membawa kopi dan ponselku menuju ruang tengah, lalu meletakkannya di meja kopi yang berada di samping sofa putih. Menyalakan TV lalu duduk di sofa putih yang berada di samping meja kopi. Ponselku berdering berbarengan dengan nyala TV.

“Serius, kira-kira maksud mimpinya apa ya?”

Aku tidak mempedulikan siaran TV, pesan dari Ranum menyita pikiranku untuk membalas pesannya.

“Mungkin kamu harus ganti profesi jadi prajurit berkuda, hahaha.”

“Eh, apaan aneh banget. Kalo kamu mimpi apa, Rain?”

“Mimpi jadi prajurit berkuda yang nusuk dokter.”

“Rain!! Seriusan ah.”

“Mimpiin kamu nih, Ranum.”

“Rain!! Udah dibilangin, yang serius ah.”

“Eh, ini serius Ranum. Nggak bohong.”

Sudah setengah jam sejak aku mengirimkan pesan terakhirku, Ranum belum juga membalasnya, kopi di cangkirku sudah habis. Siaran TV berubah jadi kumpulan semut hitam dan putih dengan suara yang memekikan telinga.

Aku membuka mata, Langit sudah terang, cahaya matahari menembus jendela kaca dengan tirai putih bermotif kincir angin. Aku tertidur di sofa putih dengan TV yang masih menyala, aku melihat ponsel di meja kopi samping sofa putih. Ranum belum juga membalasnya. Seketika tubuhku melemah, tergeletak tanpa daya...



(BERSAMBUNG)

Friday, January 22, 2016

Ran Fleuriste #2 Episode 4

Kedua matamu bertemu pada satu titik dimana orang-orang melihat keindahan bukan dari estetik sebuah seni melainkan dari cara orang lain mengungkapkan opininya. Setiap malam banyak orang selalu berfikir bahwa bagaimana caranya membuat malam jadi nyaman dan tentram. Meskipun jawabannya, sebenarnya hanya satu—orang-orang akan merasa nyaman dan tentram pada malam hari jika mereka pergi tidur tanpa membawa beban dalam sehari. Kenangan harusnya tidak pernah menang, karena kenangan selalu berada di belakang. Sayangnya, banyak orang yang membawa kenangannya tepat di depan kening, membuat mereka jadi lupa esensi dari melupakan. Orang-orang bilang bahwa kenangan tidak perlu dilupakan, karena dari kenangan kita bisa memperbaiki hidup kita kedepan.

Kenangan baik mungkin jangan dilupakan, tapi kenangan buruk? Agaknya orang-orang lupa bahwa sebenarnya mereka lebih sering mengingat kenangan-kenangan buruk setiap orang tanpa menyadari kenangan baik yang ada. Karena kenangan buruk lebih asik untuk dibahas, Kenangan baik hanya membuat orang-orang lupa sementara akan keburukan seseorang. Ada yang mengaku, kenangan bisa melambatkan ingatan. Bukankah harusnya sebaliknya? Bahwa ingatan melambatkan kenangan, sayangnya ketika ingatan melambatkan kenangan, orang-orang justru memilih memungut kenangan-kenangan buruk di keramik-keramik otak tanpa menyadari ada banyak kenangan baik yang menggantung di langit-langitnya.

Malam itu Sean dan Ranum duduk berdua di depan toko setelah membersihkan pekerjaan masing-masing, tidak seperti biasanya Ranum duduk di depan toko. Sean mendatangi Ranum yang duduk sendirian dengan celemek yang sama-sama belum dilepas. Sean melihat Ranum menangis—Ranum menghapus air matanya ketika Sean duduk tepat di sebelahnya.

“Ranum? Kamu nangis? Kenapa?” Pertanyaan Sean bertubi-tubi membuat Ranum salah tingkah mencoba menyeka air matanya. Sean menatap Ranum yang tertunduk.

“Sean?—enggak kok, biasa… Ngantuk, kurang tidur nih” Ranum tersenyum menatap Sean.

“Jangan bohong, kamu kenapa? Cerita dong.”

“Nggakpapa Sean, aku baik-baik aja.”

“Ayolah Ranum, kamu nggak pinter bohong” Sean semakin dalam menatap Ranum.

“Nggakpapa, Se-an.” Ranum menyeka air matanya.

“Ranum” Sean tersenyum menatap Ranum yang matanya mulai sembab.

“Ibu” Ranum tertunduk, jari-jarinya saling beradu di atas celemeknya.

“Ibu?? Ibu kenapa??” Sean kaget memegang kedua pundak Ranum dan menatapnya.

“Penyakit ibu makin parah, Sean.” Ranum menangis.

“Ranum…” Sean membaringkan kepala Ranum di pundaknya.”

“Ibu harus pulang ke Indonesia, keluarga di sana minta ibu pulang” Ranum melingkarkan tangannya, memeluk Sean.

“Karena apa?” Sean mengelus pundak Ranum.

“Keluarga di Indonesia bakal ngerawat ibu, kamu kan tahu, di sini Ibu cuma sama aku, itupun sering aku tinggal kerja.”

“Bagus dong kalau niatnya gitu, berarti keluarga di sana memang perhatian sama ibu. Kamu jangan nangis” Sean mengelus rambut Ranum hingga ujung.

“Aku sedih Sean” Ranum menatap Sean.

“Sedih kenapa?” Sean tersenyum membalas tatapan Sean.

“Kalau ibu pergi, aku sendiri dong.”

“Eh kata siapa? Kan ada aku” Ranum melepas pelukannya, mengangkat kepalanya dari pundak Sean.

“Ah Sean, kamu memang paling ngerti deh, aku tambah sayang sama kamu” Ranum dan Sean saling berpelukan.

“Iyadong, Sean gitu. Harus tambah sayang. Gak boleh sedih lagi ya, kan ada aku” Kata Sean sambil mengelus punggung Ranum.

“Aduh jangan keras-keras meluknya” Kata Ranum, melepas pelukan Sean.
“Eh maaf Ranum, terlalu semangat” Sean tertawa.

“Sssttt, udah malam, jangan keras-keras ketawanya” Ranum mengacungkan telunjuk di depan bibirnya.”

“Sssttt” Tiru Sean. “Gimana kalo besok kita sepedaan?” Bisik Sean.

“Ha besok? Kan besok kerja.”

“Yaelah Ranum, santai aja kali, liburin aja. Sekali-kali” Sean memohon.

“Hmm, okedeh besok kita sepedaan.”

Belanda memang surganya sepeda, bahkan jumlah sepeda di Belanda melebihi jumlah penduduknya. Rata-rata orang Belanda bersepeda sejauh 2.5 km perhari atau 900 km pertahun. Negeri para filsuf ini, punya kurang lebih 16 juta penduduk dan 18 juta jumlah sepeda. Penduduk Belanda adalah orang-orang yang mencintai kopi. Penduduk Belanda adalah pengimpor kopi pertama dengan skala besar-besaran ke Eropa pada tahun 1600an hingga 1700an. satu orang di Belanda bisa menghabiskan 140 liter kopi dalam setahun atau 3,2 cangkir setiap hari, tidak heran Rain Coffee bisa sangat terkenal dan disukai banyak orang. Belanda menjadi salah satu pendiri Uni Eropa, organisasi antar-pemerintahan dan supra-nasional, yang beranggotakan negara-negara Eropa. Belanda adalah negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis pada tahun 2001.

“Eh Sean, lusa anterin aku ke bandara ya, nganter ibu pulang. Ibu bareng adiknya yang kebetulan ada di Belanda, jadi sekalian pulang bareng.”

“Oke boss!! Siap.”


(BERSAMBUNG)



Friday, January 15, 2016

Ran Fleuriste #2 Episode 3

Sejak kejadian di Keukenhof aku sedikit memberi jarak dengan Rain. Bukan karena aku tidak suka dengannya. Tapi, karena ini perlu. Memberi pelajaran bagi pria yang mengatasnamakan cinta untuk mendapatkan orang yang dicintai. Aku tahu Rain terpesona denganku, awalnya aku juga. Tapi, Rain membuat kesalahan, dia terlalu cepat mengungkapkan perasaannya padaku. Membuatku hilang perhatian. Rain pria yang tidak suka basa-basi, padahal aku suka dengan pria yang basa-basi. Basa-basi membuat tingkah para pria bisa ditertawai. Aku suka itu. Aku mendengar kabar bahwa Rain membuka cabang baru Rain Coffee tepat di sebelah Queen Of Sean. Aku mendengarnya dari Sean.

Aku berangkat kerja untuk pertamakali sejak satu bulan yang lalu, Meskipun baru tadi malam aku bertemu Sean di Ran Fleuriste untuk mengobrol tentang bintang-bintang. Aku melihat Rain Coffee dipenuhi para mahasiswa. Tentu saja, Rain Coffee memang selalu ramai, tapi aku belum pernah sekalipun merasakan kopi buatan Rain Coffee. Setelah aku memakirkan sepedaku, aku melihat cctv di Rain Coffee yang dipasang menghadap tokoku. Aku tahu, Rain sengaja memasangnya di situ untuk mengawasiku. Dua hal yang sangat berbeda, jika kedai teh Kakek Winskel dipenuhi orang-orang tua, Rain Coffee dipenuhi anak-anak muda. Kedai teh Kakek Winskel selalu sunyi meski banyak pengunjung, berbeda dengan Rain Coffee yang berisik—memekakkan telinga.

Hari ini langit Belanda sangat cerah, musim panas sudah datang dengan sejuta kenangan yang mengapung di kanal-kanal. Di atas perahu mereka mentautkan hatinya pada seorang kekasih yang melamarnya dengan romantis, membawa tulip yang dibeli dari Ran Fleuriste dan cincin berlian yang dibelinya di pusat kota. Kanal-kanal Belanda memang selalu jadi tempat yang banyak dikunjungi, termasuk wisatawan dari luar negeri. Amsterdam punya lebih dari seratus kilometer kanal. Tiga kanal utama yang terkenal di seantero Belanda. Herengracht, Prinsengracht, dan Keizersgracht, dibangun pada abad ke-17 pada zaman keemasan Belanda. Di sekitar kanal utama ada lebih dari 1500 bangunan monumental yang banyak dikunjungi turis.

Herengracht adalah kanal pertama dari ketiga kanal utama yang berada di tengah kota Amsterdam. Kanal kedua adalah Keizersgracht terletak di tengah kota Amsterdam, di antara Herengracht dan Prinsengracht. Keizersgracht dinamai sesuai dengan nama Maximilian I, Kaisar Romawi Suci. Dan Prinsengracht adalah kanal utama keempat dan terpanjang di Amsterdam. Kanal tersebut dinamai sesuai dengan nama Pangeran Orange.  Kebanyakan rumah-rumah di sekitar Prinsengracht dibangun pada Zaman Keemasan Belanda. Jembatan-jembatan yang berada di kanal Prinsengracht terhubung dengan jalanan Jordaan.

Sudah hampir satu jam aku merapikan tokoku, hal yang memang biasa aku lakukan setiap pagi, mengelap kaca toko, merapikan vas-vas bunga, memberi vitamin dan pupuk untuk mempercepat pertumbuhan bunga. Aku menyukai kegiatan ini, membuatku merasa tenang dan nyaman. Apalagi tokoku persis bersebelahan dengan Queen Of Sean—toko kue milik Sean, toko kue paling enak yang pernah aku temui dalam hidupku. Seperti biasanya aku memberikan satu tangkai tulip putih untuk Kakek Winskel, meskipun Kakek Winskel belum datang aku menaruhnya di vas bunga yang ada di meja kasir. Vas bunga yang khusus digunakan untuk menampung tulip-tulip pemberianku.

Ini hari terburukku, aku mendengar lonceng pintu toko berbunyi. Aku melihat seorang pria bercelana pendek dan memakai kacamata hitam memasuki toko. Aku mulai menyadari pria itu ketika dia melepaskan kaca mata hitamnya. Otakku beku, perdebatan di rongga kecil itu memasuki babak baru, antara kaget dan gelisah bercampur jadi satu. Aku sudah tidak mau lagi menemui pria ini, aku benar-benar sudah melupakannya dan membangun dinding tinggi yang tidak bisa dia lewati. Dinding itu hancur dalam hitungan detik. Sialan, pria dari Tropea Beach itu mendatangiku, tersenyum dan menyapaku.

“Hey, Ranum. Apa kabar?” Dia menjulurkan tangannya, mengajakku bersalaman, aku menolak.

“Kamu?!”

“Iya ini aku, kenapa? Kamu kaget, Ranum?” Dia menarik tangannya.

“Kenapa kamu kesini!”

“Ayolah Ranum aku sudah lama tidak mendengarmu memanggil namaku.”

“Berhenti basa-basi” Untuk pria ini aku tidak suka caranya berbasa-basi, aku muak.

“Ini toko bunga Ranum, apalagi yang akan aku beli selain bunga?”

“Jangan menggodaku.”

“Oh, kasar sekali kamu, Ranum.”

“Apa maumu?”

“Apalagi? Satu buket tulip, Ra—Num.”

“Warna apa!”

“Merah” Dia menggoda.

Aku menyiapkan pesanannya, setengah niat. Mau tidak mau aku harus melayani setiap orang yang membeli bunga di Ran Fleuriste. Aku meyiapkannya dengan cepat, berharap semuanya berlalu begitu saja, aku sungguh muak dengan pria ini. Aku meliriknya, matanya terus menatapku. Dalam keadaan seperti ini aku butuh Sean—sial itu tidak mungkin.

“Ini, satu buket tulip merah.” Aku menaruhnya di meja kasir, untuk dia aku tidak sudi memberikannya langsung.

“Wow, indah sekali bunga-bungamu, Ranum.” Dia menggodaku lagi.

“Jangan lupa bayar!”

“Ini, ambil kembaliannya” Dia memberi 20 Euro.

“Nggak! Aku akan memberikan kembeliannya” Dia mengabaikanku, lalu pergi menuju pintu toko, sesekali menyium aroma bunga. Aku mengejarnya—menarik tangannya ketika sampai di luar toko, dia berbalik.

“Ini kembalianmu.”

“Aku bilang, ambil kembaliannya, Ranum.”

“Stop, buang-buang waktu.” Aku langsung memasukkan kembaliannya di kantong celananya. Dia tersenyum.

“Kamu keras kepala, Ranum.”

“Aku bilang jangan menggodaku.”

“Pegang bunga ini sebentar.” Dia meminta. Aku memegangnya seperti seorang ibu menggendong bayi.

“Bunga itu untukmu, Ranum.” Katanya, sebelum dia pergi melewatiku. Aku bingung dan kaget, apa maksud dia melakukan ini. Aku melihat bunga yang ada di tanganku lalu berbalik dan berteriak ke arahnya.

“Aku nggak suka tulip merah.” Sambil melambaikan bunga di tangan kananku.


(BERSAMBUNG)

Friday, January 8, 2016

Ran Fleuriste #2 Episode 2

Aku sadar bahwa kenangan melambatkan ingatan. Prancis membuat luka yang sudah ada terus meradang. Tapi, Belanda berhasil menyembuhkannya dengan baik. Melupakan kenangan di Le Cordon Bleu dan membawa sisanya ke Belanda bukanlah perkara yang gampang. Aku dan Ranum sudah saling mengenal sejak lama, sejak Ranum belum mengenal dan memahami bunga-bunga, Ranum masih polos, Aku yang selalu  membawanya keluar dari segala penderitaan yang dia alami, terlebih soal pria.

Seorang pria datang lagi di kehidupan Ranum, mencoba menutup luka hati Ranum dengan semua rayuan maut yang dimilikinya. Rain Galvin, pemilik kedai kopi paling terkenal seantero Belanda, Rain Coffee. Aku bersekutu dengannya, aku percaya bahwa dia orang yang baik dan bisa meluruskan dogma Ranum tentang pria. Aku tidak ingin lagi melihat Ranum jatuh di pelukan orang yang salah. Aku kenal betul Ranum. Cinta membuatnya mati gaya, dia selalu malu-malu mengungkapkan perasaannya. Tapi, aku selalu percaya, bahwa dia bisa mencintai dengan baik, matanya selalu mengungkapkan itu.

Rain Galvin membuktikan perasaannya begitu jelas, dengan membuka cabang baru Rain Coffee tepat di samping tokoku. Sayang, Ranum tidak melihatnya sebagai itikad baik. Hanya karena Rain mengungkapkan perasaannya terlalu cepat, Ranum jadi apatis. Aku belum bisa meyakinkan sahabatku itu. Itu pilihannya. Itu prinsip yang selalu dia jaga. Menurutnya prinsip adalah harta manusia yang tidak bisa dibeli. Aku tidak bisa mempengaruhinya terlalu banyak.
Aku mencoba meyakinkan Ranum tentang perasaan Rain. Ranum selalu punya alasan yang tidak bisa aku sanggah, dia wanita kuat seperti pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pantai. Dia tidak mudah ditaklukan hanya dengan kalimat-kalimat rayuan para pria. Meskipun aku tahu dia sedikit menyimpan hati untuk Rain, aku melihat dari sorot matanya.

Aku menyayanginya lebih dari yang bisa aku tanggung. Percakapanku dengannya di belakang toko adalah mediaku untuk terus terkoneksi dengannya. Selalu ada hal baru dari setiap percakapan.

“Hey, Sean. Kamu tahu nggak kenapa bintang jumlahnya banyak?”

“Kenapa? Hmm, mungkin karena bintang beranak-pinak? Sekali keluar, ibu bintang bisa melahirkan ratusan bintang…”

“Memangnnya kucing. Ngaco kamu, Sean.”

“Terus karena apa, Ranum?”

“Karena jumla bintang mengikuti jumlah populasi manusia di bumi.”

“Ha? Buat apa? Kenapa bintang menyesuaikan jumlah populasi manusia di bumi?”

“Karena masing-masing dari kita punya satu bintang di langit malam. Dia selalu ada di sana, mengawasi dan menemani kita. Seperti sekarang.”

“Hmm.. Oke. Sekarang aku mau tanya, kenapa nggak semua bintang keluar di malam hari?”

“Kamu salah, Sean. Mereka selalu keluar, kamu nggak bisa lihat, karena kamu nggak menyadari kalau mereka sebenarnya ada.”

“Ha?”

“Sekarang, coba tutup matamu, Sean.”

Aku menutup mataku, mengikut Ranum.

“Rasakan kehadiran bintang-bintang itu, Sean. Rasakan lebih dalam, temukan bintangmu, sentuh dia, Sean. Pegang…”

Aku menggerakkan tanganku, membayangkan persis kata-kata Ranum, aku meraih bintangku. Rasanya begitu nyata, aku menggengamnya erat. Bintang itu bersinar terang—menyilaukan mata. Tanganku terasa hangat, aku bisa berkaca pada bintangku…  Tapi ada yang aneh, aku tidak mendengar suara Ranum lagi setelahnya. Ketika aku membuka mata, Ranum tidak ada di sampingku.

“Ranum!!!”

Aku tidak sadar, sudah hampir satu jam aku menutup mata, mencoba meraih bintangku. Ranum memberitahuku lewat telepon. Dia sudah di rumah ketika aku membuka mata.

Ranum benar, malam itu Ranum mengajarkanku untuk menyadari segala seuatu yang tidak terlihat. Bahwa segala sesuatu selalu ada ditempatnya, Kita bisa memilih untuk menyadarinya atau tidak. 

Musim panas di Belanda mencapai tigapuluh derajat, menandakan akan banyak mahasiswa di Belanda yang memanfaatkan libur musim panas selama dua bulan untuk berkeliling ke tempat-tempat eksotis di Eropa, di bawah guyuran sinar matahari yang hangat. Musim panas juga ditandai dengan Summer Internship. Para mahasiswa dibebaskan untuk bekerja fulltime tanpa rekomendasi dari pihak univeristas. Karena selain internship dari Universitas, para mahasiswa hanya diperbolehkan untuk bekerja part time dengan durasi kerja sepuluh jam selama satu minggu.

De Parade juga sudah dibuka. De Parade adalah festival teater keliling yang menyerupai sirkus. Diselenggarakan sepuluh sampai limabelas hari selama musim panas. Biasanya De Parade singgah di empat kota. Rotterdam, Den Haag, Utrecht dan Amsterdam. Di Amsterdam De Parade singgah di Martin Luther King Park, 15 menit jalan kaki dari stasiun Amstel. Banyak orang yang menggunakan trem 4 dari Amsterdam Centraal Station untuk pergi ke De Parade atau naik bus malam 355 menuju Victoriplein.


Pagi setelah percakapanku dengan Ranum malam itu. Aku melihat Ranum bertemu seorang pria, aku tidak tahu siapa pria itu, aku hanya bisa melihat punggungnya dari kejauhan. Beberapa detik setelahnya, pria itu pergi. Ranum membawa satu buket tulip merah ditangannya. Raut wajahnya setengah bingung. Aku buru-buru masuk ke tokoku ketika Ranum memalingkan wajah ke arahku. Aku mengambil ponselku di saku celemek, lalu mengirimkan pesan untuk Rain—memberitahu apa yang baru saja aku lihat…

(BERSAMBUNG)