"Bahkan saat saya mengumumkan ingin bunuh diri, saya yakin kamu tidak akan peduli."
Sunday, September 3, 2017
Wednesday, August 30, 2017
Recitativo #1
Hari-hari
setelah kepergianmu, pikiranku dipenuhi suaramu. Saya merasa setiap orang
adalah kamu. Orang-orang yang menyeberang jalan, yang duduk di kedai-kedai
kopi, yang berjalan di tengah malam, atau yang menaiki bus-bus kota. Bahkan
mungkin di kematianku yang tak didatangi siapa-siapa saya masih bisa mendengar
suaramu. Selamat datang di dunia yang kita bangun bersama. Dunia ini belum
lengkap; aku butuh kamu memainkan peranmu.
Jumat,
11 Agustus 2017. Kamu datang, dengan penuh harapan—dengan penuh keterasingan
dan rasa bersalah yang ada di pundakmu. Saya tahu itu, saya juga sempat bilang;
saya bisa menyerap aura dan perasaan orang lain. Sejujurnya pertemuan itu
adalah penantian panjangku. Saya ingin menguji seberapa berat perasaan yang
menggema, seberapa keras rasa itu memukulku. Satu pertemuan meruntuhkan
segalanya. Saya jatuh bahkan hanya dengan caramu menatap.
Ada
yang perlu kamu catat, saya percaya lebih mudah menaklukanmu dengan kata-kata.
Maksud saya bukan kalimat gombal atau bahkan modus. Saya yakin semua wanita
tahu mana perkataan jujur dari mulut seorang pria atau yang sekadar untuk membuatnya
merasa tenang sesaat. Mereka para wanita mempunyai semacam sonar pendeteksi
bahkan sejak ia dilahirkan, mungkin karena naluri keibuan yang pada akhirnya
mau atau tidak akan sepenuhnya melekat pada diri mereka.
Recitativo
adalah sebuah kata bernoda yang akan terus saya tulis dalam kebisingan setelah
kepergianmu. Saya hanya ingin bercerita tentang apa yang sudah kita lewati
bersama, ini sudut pandangku, selamat menyelami penuh pikiranku, selamat
terombang-ambing di sana. Selamat menempuh perjalanan membingunkan. Dan selamat
karena kamu adalah bagian dari kisah ini.
Jumat,
11 Agustus 2017. Ingat pertemuan itu? Saya mencoba menebak apa yang ada dalam pikiranmu.
Khususnya tentangku, tentang apa yang telah terjadi sebelum itu. Aku penasaran
pada detik ketika kursi kayu kau sentuh dengan lembut, apa yang ada di
pikiranmu. Apa yang terlintas melihatku duduk di depanmu. Saya sendiri lega,
bisa menatapmu dalam kesunyian kedai itu. Detik itu juga rasanya saya sungguh
ingin memelukmu, ingin sepenuhnya menerjemahkan semua apa yang kurasa selama hampir
satu tahun.
Hari
itu saya merasa tenang dan nyaman, meski kamu mengaku jantung berdebar tak
karuan. Saya adalah jenis manusia lain, ketika saya merasakan ketenangan dan
kenyamanan, itu seperti orang lain yang merasa dag dig dug, merasa pikirannya
terpenuhi, merasa jantungnya hampir meledak.
Saya
tidak mengingat jelas percakapan apa yang terjadi di antara kita, yang kuingat
hanya indah tatapmu, meneduhkannya suaramu, asiknya ceritamu. Sejujurnya saya
sendiri takut jika pertemuan itu tak mengandung arti apa-apa. Seperti apa yang
hendak kamu ceritakan sejak dulu, saya menunggu kamu memelukku hari itu, saya
menunggu apa yang hendak kamu lakukan saat akhirnya pertemuan kita terjadi.
Saya mencintai kamu. . . Bantu saya menerjemahkan perasaan ini.
- - - - -
Friday, August 18, 2017
Bagaimana Rasanya?
Pukul 11 malam, saya menulis ini
karena saya merasa hina. Tak ada yang lebih menyakitkan ketika dirimu mampu
mengobati rasa sakit seseorang, tapi kamu sendiri merasa butuh diobati. Kamu
mampu membuat orang lain tidak memikirkan patah hatinya, tapi kamu sendiri
masih terus merasakannya meski berulang kali terus mencoba lupa. Saya merasa
hina. Saya merasa hina, saya merasa hina.
Hina karena saya tidak mampu
mengobati diri saya sendiri, hina karena saya tidak bisa menceritakan semua
yang saya alami, saya hanya bisa menuliskannya dalam bentuk-bentuk abstrak
berharap orang-orang latah yang hidupnya hapalan menangkap maksud saya. Kehinaan
itu membuat saya selalu berpikir kenapa saya sampai sekarang masih hidup penuh
siksa.
Kamu mungkin punya banyak pelarian,
pelarian yang membuatmu merasa nyaman dan aman. Saya lupa, saya ini apa, mereka
lupa, mereka alpa, mereka tidak peduli, siapa orang yang menemani mereka,
selalu berlagak dan berperan menjadi orang baik untuk mengobati dan
menyembuhkan luka hatinya, padahal di dalam diri berusaha meredam rasa sakit
yang teramat dalam.
Apa yang bisa saya lakukan selain
bermain-main dengan pikiran saya sendiri, sejujurnya saya membenci diri saya
sendiri, melihat orang-orang bahagia dalam kesemuan yang terus-menerus
diciptakan tanpa pandang bulu, berpura-pura. Menjadi bahagia padahal di dalam
dirinya menyembunyikan perasaan yang lain. Saya benci situasi ini, saya berniat
untuk tidak menemui siapa-siapa lagi, bahkan setelah ini.
Kesalahannya, saya terlalu peka
untuk mendengarkan orang lain, saya terlalu mau menyembuhkan orang lain.
Padahal saya pun tahu akhirnya akan seperti apa. Saya ini hina, untuk apa pada
akhirnya saya terus diinjak, dilupakan, tidak lagi berjejak. Berjarak pada
mereka semua yang jelas-jelas meminta untuk mendekat. Pelukan orang-orang itu
tidak pernah ada guna, jika pelukan itu tidak menyentuh inti jiwamu
Saya sekarat, meski saya harus
jujur, hanya media ini yang mampu menyelamatkan saya dari kematian,
menyelamatkan saya dari percobaan bunuh diri sekali pun. Saya ini apa, hinakah
saya menulis ini dan orang menganggap bahwa saya perlu dikasihani? BANGSAT!
Bahkan
saya sudah merdeka sebelum kalian datang, sesudah kalian pergi. Tak sadarkah
kalian? Kemerdekaan saya direnggut tanpa ampun. Terbelunggu sendiri. Bagaimana
rasanya? Harus terus-menerus merasa seolah tak terjadi apa-apa. Orang yang
menulis dua novel itu bukan saya. Itu saya yang sedang waras—sedang sehat.
Lupakan saya, bahkan kematian saya pun tak ada yang ingin datang.
Biarkan
saya terus-menerus menanam luka sendiri, mengingat setiap kenangan yang tak
mengenakan, ini lebih dari patah hati, lebih dari sakit hati. Bahkan saya
merasa tak lagi punya hati, pikiran saya mati, tubuh yang kecil ini, akan terus
merasa kecil. Tidak ada lagi obat, saya telah mati bahkan sebelum kalian sadar.
Sunday, July 30, 2017
Kota.
NOTE: Puisi ini diikut-sertakan dalam Lomba Sastra & Seni UGM 2017
Kota telah berhenti bernyanyi,
-----
Kota telah berhenti bernyanyi,
dicurinya
tawa dari saku kanan ke saku kiri.
Tak ada lagi keriangan anak-anak kecil di taman-taman kota.
Tak ada lagi keriangan anak-anak kecil di taman-taman kota.
Taman sejuta kata, tempat orang-orang
merenungi
hari-hari akhir sebelum kematiannya,
meninggalkan
nasib pada lampu dan bangku-bangkunya.
Si bapak
sibuk dengan cara lama,
mencari
suara untuk naik takhta,
lupa
membangun kota dan perdaban.
Kota kita telah kehilangan nyawa,
ditariknya
bibir-bibir itu ke dalam
kubangan
penuh intrik dan tawa sinis.
Hilangnya kuasa rakyat pada penguasa
yang
mengaku tak mampu membeli sebatang rokok
tapi saku
celana terus saja sobek.
Kota telah berubah,
dan
sajak-sajak pelipur lara
telah
bersemayam pada dinding warna-warni penuh luka.
Membangun
kota atau bahkan negara,
bukan
berarti membangun fisiknya.
Tapi
membangun pikiran manusia yang ada di dalamnya.
Aku tidak mencintai apa-apa dari kota ini,
aku hanya
sibuk menyayangi kata-kata.
Meninggalkan
kenangan di tiap lampu jalan.
Lalu kota telah berhenti bernyanyi,
hanya ada
tukang becak, pedagang asongan,
dan
manusia-manusia gila penghuni balai kota.
Selamat malam, kota yang asing di pikiranku,
tempat
pengasingan paling sedih.
Tempat
dimana aku kehilangan diriku sendiri.
Semarang,
29 Juli 2017
Tuesday, July 25, 2017
Dilarang Kencing di Tembok
NOTE: Cerpen ini diikut-sertakan dalam Lomba Sastra & Seni UGM 2017
Perkumpulan tahunan di RT 2 digemparkan oleh kematian seekor kucing kampung berwarna cokelat. Sebelumnya pertengkaran dahsyat terjadi di antara Si Korban dan kucing kampung berwarna hitam milik Bu Sumi. Kucing cokelat itu bernama Selo, salah satu kucing veteran di RT 2 milik seorang ibu rumah tangga bernama Happy. Nama yang unik, membuat para tetangga selalu bahagia ketika memanggil Bu Happy, entah candaan atau sindiran.
-----
Perkumpulan tahunan di RT 2 digemparkan oleh kematian seekor kucing kampung berwarna cokelat. Sebelumnya pertengkaran dahsyat terjadi di antara Si Korban dan kucing kampung berwarna hitam milik Bu Sumi. Kucing cokelat itu bernama Selo, salah satu kucing veteran di RT 2 milik seorang ibu rumah tangga bernama Happy. Nama yang unik, membuat para tetangga selalu bahagia ketika memanggil Bu Happy, entah candaan atau sindiran.
Selo mati dengan darah
terkujur di seluruh tubuhnya, darah keluar dari keempat kakinya yang terkena
cakaran Kucing Bu Sumi. Kucing Bu Sumi memang terkenal mengerikan, Selo adalah
korban ketiga, kucing hitam memang terkenal mengerikan, bagaimana tidak seluruh
tubuhnya tak terlihat di kegelapan, bahkan matanya sekalipun. Hanya Bu Sumi
yang dapat mengenali kucingnya. Kucing yang juga menjadi teman tidurnya saat
malam tiba.
Perkumpulan itu memang
biasa dilakukan dua minggu setelah lebaran. Waktu yang tepat, karena para
tetangga yang pergi mudik sudah kembali ke rumah, sehingga tak ada satu pun
yang tertinggal menghadiri acara tersebut. Selo dan Kucing Bu Sumi mulai
menjadi liar saat pembacaan doa penutup acara oleh seorang ustad yang terkenal
di RT itu. Setelah keduanya saling tatap dan menimbulkan suara erangan khas
para kucing, tiba-tiba Kucing Bu Sumi menyerang Selo—singkat dan cepat,
langsung membuat Selo tergeletak di karpet merah tempat si ustad berdiri.
Semua warga yang hadir
sontak berteriak, Si Ustad mengumpat dengan mic yang masih di depan mulut,
ibu-ibu yang menyebut nama tuhan, bapak-bapak yang santai melihat kematian Selo
sembari meminum secangkir kopi sachet pemberian salah satu warga khusus untuk
acara tersebut. Anak-anak bersembunyi di balik punggung para ibu. Darah Selo
bercampur dengan warna karpet, beberapa detik setelah respon pertama, raut muka
para warga berganti, ada semburat kesedihan di wajah mereka—RT 2 berduka.
Sebelum acara di mulai,
Selo dan Kucing Bu Sumi memang sudah bertikai di depan rumah Pak RT. Permusuhan
mereka terjadi cukup lama saat kucing Bu Sumi cemburu melihat Selo bersama
Wati. Kucing paling cantik di kampung milik istri Pak RT. Wati kucing setengah
persia dan setengah kampung berwarna putih-abu. Kucing hasil perkawinan antara
kucing lokal dan non lokal. Wajar jika banyak kucing mengincar Wati, termasuk
Selo dan Kucing Bu Sumi.
Pasca kematian Selo,
Perkumpulan Kucing RT 2 mengajukan hak angket kepada pemimpin kucing seluruh
kampung. Kucing Bu Sumi dianggap dengan sengaja dan kesadaran penuh membunuh
Selo dengan tragis dan tanpa ampun di depan para manusia yang juga mencintai
kucing. Ketua pengajuan angket kucing bernama Lori menganggap Kucing Bu Sumi
telah berbuat seenaknya dan melupakan hak kucing dan perikekucingan. Hak angket
itu berisi tuntutan hukuman gantung kepada Kucing Bu Sumi.
Sisil, pemimpin kucing
kampung telah menerima gugatan itu dari sekretarisnya. Sisil kemudian
merapatkan bersama anggota dewan kucing lainnya. Rapat itu berlangsung di tanah
lapang samping masjid kampung, tempat biasa anak-anak bermain sepak bola. Siang
itu setelah sholat dzuhur, Sisil memimpin dua belas ekor kucing, tujuh betina
dan lima jantan, mereka duduk bergerombol, saling berdebat dan menyanggah opini
kucing lain.
Salah satu anggota dewan
kucing menganggap bahwa wajar jika kucing Bu Sumi bertikai dengan Selo, karena
itu naluri batiniah seekor kucing, ada lagi yang beranggapan meskipun naluri
tapi seharusnya tak sampai menghilangkan nyawa—membuat seluruh kampung berduka
bahkan para pemilik kucing lain yang takut kalau saja kucingnya menjadi korban
selanjutnya.
Satu anggota dewan
kucing bernama Tembong, mengatakan bahwa Kucing Bu Sumi bisa dijerat Pasal 76
Undang-Undang Perkucingan, pasal itu berbunyi, “Barangsiapa yang dengan sengaja
dan kesadaran penuh menghilangkan nyawa kucing lain, harus dihukum seberat-beratnya
hukuman gantung atau menjadi kucing rumahan selama sisa umurnya.”
Tembong adalah ahli
hukum pidana kucing yang telah sangat berpengalaman mengurusi dan menyelesaikan
konflik horizontal pada sesama kucing di seluruh kampung. Tembong kucing
seorang pengacara kondang, diberi nama Tembong karena ada bercak hitam di
sebagian hidungnya. Tembong kucing yang termasuk tampan dikalangannya, dicintai
banyak kucing betina bukan hanya karena ketampanannya, juga karena kecerdasan
dan kepintarannya.
Selama hampir seminggu
Lori dan kucing lain menunggu dewan kucing atas angket yang meraka ajukan.
Namun selama hampir seminggu itu juga mereka tak mendapat kabar dan jawaban.
Seminggu setelah Selo mati, mereka mengadakan peringatan tujuh hari kematian di
samping rumah Pak RT, Wati sebagai tuan rumah menyediakan ciki wiskas, yang
diberikan Bu RT ketika merasa gemas melihat para kucing berkumpul. Selo dikubur
di samping rumah Pak RT, di sana ada tanah kosong milik Pak RT yang belum
terjual.
Di sana mereka
membicarakan kudeta jika dewan kucing tak mengabulkan permohonan hak angket
mereka. Lori berujar bahwa perbuatan Kucing Bu Sumi adalah perbuatan yang kejam
dan pantas diberi hukuman berat yang setimpal, terlebih lagi kebencian Lori
terhadap Kucing Bu Sumi telah membuncah cukup lama, saat ia mendengar bahwa
kekasihnya, dikawini oleh Kucing Bu Sumi dengan paksa di suatu maghrib di bulan
Juni.
Lori tak mendengar
rintihan dan teriakan kekasihnya itu, karena saat itu adzan berkumandang cukup
keras, terdengar hingga luar kampung. Lori sangat familiar dengan suara
kekasihnya, tapi hari itu kealpaannya membuatnya harus merasakan patah hati
sekaligus kemarahan terhebat dalam sejarah hidupnya. Kekasihnya tak lagi
perawan, bukan karenanya tapi karena kucing lain. Sungguh kisah cinta yang
menyedihkan.
Wati merasa kehilangan
atas meninggalnya Selo, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Selo adalah
kucing jantan yang ia cintai melebihi cintanya pada Bu RT—majikannya yang
membesarkan Wati dari lahir hingga kini. Ciuman pertama Wati dan Selo terjadi
saat pengajian Israj Miraj di rumah, saat itu Selo menghampirinya yang sedang
duduk melihat bintang-bintang yang indah di langit malam.
Selo mendekat dan duduk
di samping Wati, Selo sempat bercerita bahwa hal terindah dalam hidupnya adalah
bertemu dan mengenal Wati, sebagai kucing betina Wati seketika luluh, ia
menyandarkan tubuhnya pada Selo, lalu ciuman itu terjadi saat Surat Al-Fatihah dibacakan.
Wati tak pernah melupakan kenangan itu. Kenangan manis yang tak bisa ia ulang
lagi sampai kapan pun.
Lewat seminggu, Bu Sumi
masih mengurung kucingnya di kandang, katanya sebagai bentuk hukuman agar
kucingnya tak lagi berulah dan menyebabkan dirinya malu dihadapan para
tetangga. Kucingnya dikurung pada sebuah kandang ayam yang terbuat dari kayu
dan dibentuk serupa anyaman. Di atasnya ditaruh sebuah batu besar untuk
mengganjal agar kucingnya tak bisa keluar. Kekuatan Kucing Bu Sumi sangat besar,
salah satu kucing terkuat yang ada di kampung itu.
Kucing Bu Sumi memang
telah banyak berulah yang membuat kucing lainnya marah dan membenci. Tapi
kemarahan dan kebencian itu hanya dipendam, tak ada yang berani melawan Kucing
Bu Sumi yang memiliki banyak anak buah. Hanya Selo yang mempunyai sedikit
keberanian untuk melawannya, kucing malang yang kini hanya tinggal nama.
Kucing Bu Sumi memang
cukup punya nama, ia sangat dihormati. Ayahnya adalah mantan Ketua Dewan Kucing
yang mempimpin hampir sepuluh tahun, kekuatannya tak bisa dibendung oleh siapa
pun, Ayah Kucing Bu Sumi adalah diktator yang ulung. Semua gerak-gerik warga
kucing diatur dan ada hukuman berat bagi siapa saja yang melanggar aturan itu.
Tak boleh ada kucing yang buang kotoran sembarangan di depan rumah warga, di
gundukkan pasir pembangunan salah satu rumah atau buang kotoran di atap rumah
warga. Seluruh kucing hanya boleh membuang kotorannya di tempat yang sudah
disediakan para majikan.
Ada satu aturan yang
membuat kucing-kucing dewasa yang masuk musim kawin jadi ketakutan. Aturan itu
tak membolehkan setiap kucing untuk kencing sembarangan sekalipun di tembok.
Banyak dari kucing jantan dewasa yang masuk musim kawin membuang air maninya di
tembok-tembok warga, sembari terus mengejar betina yang dicintainya untuk
dikawini. Banyak keluhan dari para majikan, yang lelah terus menerus harus
membersihkan air kencing atau air mani yang sering kali menciptakan bau yang
kuat, aroma tak sedap yang mengganggu hidung.
Kini ayah Kucing Bu Sumi
sudah memasuki usia renta, masih dipelihara Bu Sumi dengan cekatan dan telaten.
Kerjaannya hanya tidur dan makan, tapi kekuatan namanya masih menggaung hingga
kini, hal itu dimanfaatkan oleh Kucing Bu Sumi untuk memudahkannya berbuat
semena-mena pada warga kucing yang lain. Ayahnya sama sekali tak mengetahui
perbuatan anaknya, tak ada satu kucing pun yang memberitahu. Bahkan Bu Sumi
sama sekali tak pernah mengeluhkan kenakalan kucingnya itu.
Setelah sekian lama
menunggu, Lori dan kucing lainnya mendengar kabar bahwa permintaannya untuk
menghukum Kucing Bu Sumi ditolak. Kabar ini membuat perkumpulan kucing RT 2
marah besar, alasan ditolaknya permintaan adalah untuk menjaga perdamaian di
antara kucing-kucing. Karena perbuatan Kucing Bu Sumi dinilai masih dalam tahap
normal sebagai naluri seekor hewan. Wati yang mencintai Selo lebih dari apapun,
mendesak perkumpulan itu untuk melakukan demo besar-besaran di depan Kantor
Dewan Kucing.
Mereka merasa keadilan
tidak ditegakkan secara nyata dan transparan. Mereka meyakini ditolaknya
permintaan mereka karena Kucing Bu Sumi adalah anak dari mantan kucing penting
yang dihormati. Kucing yang membuat kucing-kucing di kantor dewan bisa duduk
nyaman dan sejahtera. Lori setuju atas permintaan Wati. Mereka akan melawan
ketidak-adilan, mengumpulkan masa dan segera melakukan aksi seminggu setelah
kabar itu mereka terima.
Kucing Bu Sumi mendengar
kabar akan digelarnya aksi dari salah satu anak buahnya. Bu Sumi telah
melepaskan kucingnya, dan sedikit memarahi, mengancam akan mengurangi jatah
makan jika perbuatan memalukan itu diulangi lagi. Kucing Bu Sumi tak kaget
mendengar kabar dari anak buahnya, memang sejak dulu sudah banyak yang tidak
menyukainya. Anak buahnya sangat loyal, karena sama-sama berbulu hitam,
kesamaan itu membuat mereka satu suara untuk menguasai kampung.
Salah satu anak buahnya
adalah anggota Dewan Kucing, kabar itu lalu diteruskan hingga sampai ke meja
dewan. Malamnya, rapat terbatas diselenggarakan, hanya ada anggota dewan inti
saja. Aksi itu adalah serangan balik dari ditolaknya angket rakyat kucing.
Kebanyakan dari mereka mengkhawatirkan pergerakan massa yang bisa mengubah
situasi politik, kenyamanan dan keamanan kampung. Karena biasanya aksi
diselenggarakan pada dini hari, teriakan dari para kucing bisa mengganggu
manusia, imbasnya mereka bisa disiram air atau bahkan kena tendang.
Rapat itu memutuskan
satu hal, dewan akan bekerja sama dengan Kucing Bu Sumi untuk mengatasi aksi
tersebut. Kucing Bu Sumi bersedia mengambil tawaran tersebut dengan syarat;
menyediakan makanan setiap hari di luar jam makan dari majikan, dan jika
berhasil, Kucing Bu Sumi meminta untuk diangkat sebagai ketua dewan yang baru.
Kucing Bu Sumi
mengumpulkan massa lebih banyak dari yang bisa dikumpulkan Lori dan Wati.
Suntikan dana dari dewan membuatnya mudah membayar kucing-kucing liar yang tak
punya majikan dan hidup di got-got dan tempat sampah. Lori dan Wati mendengar
bahwa akan ada aksi perlawanan yang dikomandoi Kucing Bu Sumi. Massa yang
mereka bawa masih terbilang kurang untuk melawan Kucing Bu Sumi. Hari semakin
dekat, Lori dan Wati tetap menggelar aksi dengan membawa sukarelawan tambahan
dari kampung sebelah.
Pukul dua dini hari,
saat purnama tampak sedap dipandang—menguning terang. Balai RW tempat Kantor
Dewan Kucing telah dijaga oleh pasukan Kucing Bu Sumi. Lori dan Wati memimpin
pasukannya di depan, aksi berjalan damai dengan penyampaian tiga tuntutan
rakyat, salah satunya untuk menghukum mati Kucing Bu Sumi.
Tak ada satu pun anggota
dewan yang meladeni mereka. Anggota dewan telah menyerahkan semuanya kepada
Kucing Bu Sumi. Aksi yang awalnya terkendali berubah memanas saat Kucing Bu
Sumi keluar dari dalam kantor dewan dengan muka sombong, mendekat dan berdiri
di depan Lori dan Wati. Mereka saling tatap, keheningan sempat hadir beberapa
detik, suara angin terdengar lirih, sampai Kucing Bu Sumi menggoda Wati dan
meludahi Lori, baku hantam antar dua pasukan tak terhindarkan. Suara-suara
teriakan menggelegar hingga ujung kampung. Salah seorang warga yang mendengar
lalu menyiramkan satu ember air. Namun perkelahian di antara dua pasukan masih
terjadi dan terus melebar, membangunkan banyak warga.
Hingga subuh ketegangan
masih terjadi, para majikan membawa kucing-kucing mereka masuk dan
mengurungnya. Termasuk Kucing Bu Sumi, Wati, dan Lori. Kucing-kucing liar
kembali ke sarangnya. Setelahnya kampung menjadi sunyi, warga kembali tidur,
ada yang menuju ke masjid, dan ada yang bersiap untuk berangkat kerja. Bu Sumi
marah besar, di kandang yang sama, ia menyiramkan air untuk memberi hukuman
pada kucingnya yang kelewat nakal dan tak punya aturan. Ayah Kucing Bu Sumi tak
peduli, ia hanya melihat anaknya yang kedinginan dari atas sebuah kursi kayu.
Setelah kegagalannya,
Lori dan Wati pasrah, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Tak lama setelah
aksi itu, Kucing Bu Sumi diangkat menjadi Ketua Dewan Kucing atas jasanya
memberi kedamaian di kampung. Jelas, banyak yang tak terima. Dari kucing
veteran hingga kucing-kucing kecil yang masih disusui ibunya. Banyak yang tak
suka sepak terjang Kucing Bu Sumi yang licik dan tak punya sopan-santun.
Kepemimpinan Kucing Bu
Sumi hampir sama dengan ayahnya, diktator baru—sebutan untuk Kucing Bu Sumi
dari Lori dan Wati. Peserta aksi dari pihak Kucing Bu Sumi, mulai mendapatkan
jabatan sebagai upah membantu mendamaikan kampung. Ada yang menjadi anggota
dewan, ketua cabang, pemimpin pasukan penjaga, dan asisten pribadi Kucing Bu
Sumi.
Asisten Kucing Bu Sumi
adalah kucing persia betina berwarna putih yang cantik dan seksi. Banyak
desas-desus yang mengatakan bahwa Kucing Bu Sumi sengaja memilih kucing itu
untuk memuaskan nafsunya. Sumber yang didapat dari teman Lori, bahwa mulai
terlihat kencing atau air mani kucing di tembok kantor dewan. Terutama di
sekitar ruangan Kucing Bu Sumi. Mendengar itu Lori langsung mengabari Wati,
obrolan mereka menciptakan ide yang cemerlang.
Ada satu peraturan yang
tak boleh dilanggar, dan sudah ada sejak dulu. Peraturan untuk membuat
undang-undang yang dibuat dan disahkan oleh rakyat kucing. Jadi setiap satu
kali masa kepemimpinan, rakyat kucing boleh membuat undang-undang yang
ditujukan untuk para pejabat sebagai bentuk pengawasan mereka terhadap anggota
dewan. Ketua dari pembentukan undang-undang itu ditunjuk langsung oleh Ketua
Dewan Kucing. Ide muncul dibenak Lori, untuk membuat Kucing Bu Sumi menunjuk
Wati sebagai ketua pembentukan undang-undang. Bukan hal sulit, karena Lori
yakin Kucing Bu Sumi masih memiliki rasa kepada Wati. Wati tak keberatan dengan
permintaan Lori.
Pada suatu malam, Wati
mengeong di atas rumah Bu Sumi, dengan maksud memanggil Kucing Bu Sumi. Dan
benar saja, tak lama setelah itu, Kucing Bu Sumi naik ke atap rumah dan
menghampiri Wati. Di sana operasi misi Lori dan Wati dilakukan. Wati membiarkan
Kucing Bu Sumi menggodanya, menyetubuhinya. Rintihan Wati terdengar hingga
telinga Lori. Misi berhasil dilakukan, Lori dan Wati tinggal menunggu saat
rangkaian pembuatan undang-undang dimulai satu minggu lagi.
Wati dan Lori tak salah.
Mereka tepat sasaran. Kucing Bu Sumi memilih Wati sebagia ketua pembuat
undang-undang. Lori dipilih Wati sebagai wakilnya, mereka punya waktu dua
minggu untuk mencari anggota kongres, membuat undang-undang dan mensahkannya.
Mereka tak butuh waktu lama, anggota kongres diambil dari para relawan aksi.
Kurang dari seminggu mereka telah menyepakati dan mensahkan satu undang-undang
yang sangat elementer bagi kalangan kucing dengan suara mutlak.
Kucing Bu Sumi penasaran
atas kerja keras Wati—cinta pertamanya. Kabar menyebutkan bahwa hanya satu
undang-undang yang disahkan. Kucing Bu Sumi tersenyum mendengar itu, karena
Wati dan anggota kongres tak bernafsu untuk mengatur para pejabat yang bekerja
untuk rakyat kucing. Besoknya asisten Kucing Bu Sumi datang dengan membawa
berkas yang sudah ditanda-tangani seluruh anggota kongres dan Wati. Kucing Bu
Sumi terdiam, lidahnya kelu, rahangnya mengeras saat membaca sebuah tulisan
dengan blok tebal; “Dilarang Kencing di Tembok”.
-----
Friday, July 14, 2017
Bahas #FilosofiKopi2
Sejak
2016, saya sangat selektif dalam menulis sebuh review film di blog ini. Hanya
film-film yang menurut saya bagus dan memorable saja yang akhirnya saya
putuskan untuk bisa masuk di blog ini. Sisanya, biasanya saya hanya menulisnya
dalam sebuah thread di twitter. Jika penulis review lain memberikan sebuah
bintang dari satu sampai lima untuk film yang direview. Berbeda dengan saya,
jika kamu melihat sebuah film sampai berhasil masuk dalam blog ini, itu tanda
bahwa saya mencintai film itu melebihi penulis review lain yang sekedar memberi
bintang. Anggap saja itu bintang lima dari saya.
Filosofi
Kopi 2 adalah film yang pada akhirnya harus saya tulis di blog, setelah sekian
lama tidak menulis review Film Indonesia. Perkembangan film Indonesia yang
sangat pesat sejak 3 tiga atau empat tahun terakhir, tidak diimbangi dengan
kwalitasnya, banyak dari film-film box office yang kwalitasnya justru tidak
bisa dibilang baik. Buktinya film-film yang masuk festival film dalam ataupun
luar lebih banyak film-film yang jumlah penontonnya tak lebih dari seratus ribu.
Filosofi
Kopi 2 benar-benar menjadi film yang memberikanmu kesan baik setelah
menontonnya, persis film pendahulunya. Sejujurnya, saya menonton dua kali dalam
hari yang sama. Filosofi Kopi 2 adalah bukti kecintaan seseorang terhadap
sebuah sinema, yang saya maksud adalah Angga Dwimas Sasongko, selaku sutradara.
Dia tanpa kesulitan mengembangkan cerita dari kecintaannya terhadap kopi, hal
yang dia temui mungkin hampir setiap hari, bersama Jenny Jusuf, Irfan Ramli,
dan dua pemenang sayembara meracik cerita Ben & Jody.
Saat
opening Filosofi Kopi 2 saya tak sengaja mengeluarkan kata-kata umpatan yang
membuat dua orang di samping saya menegur. Umpatan itu adalah bentuk kekaguman
saya pada gambar yang dihadirkan dalam sepersekian detik. Ya, gambar opening
Filosofi Kopi 2 begitu terasa narkotik, ditambah visi kamera dan warna film
yang membuat opening itu masih tergambar dalam pikiran saya, bahkan hingga saya
menulis review ini.
Setelah
scene Ben menelpon bapaknya, kita diajak mengikuti keseruan “Genk Filosofi Kopi”
di gumuk pasir, kamera dibuat slowmo, mengintimkan tokoh-tokoh yang akan
menemani kita di awal film, semacam perkenalan kembali. Dan, ah! Musik di awal
film itu membuat saya benar-benar jatuh cinta. Penonton diajak merasakan
kehangatan persahabatan mereka, yang berkeliling Indonesia menggunakan VW Combi
untuk membagikan kopi terbaik.
Sebelum
Filosofi Kopi 2 rilis, Angga sempat membagikan visi dia dalam pengambilan
shoot-shoot dalam film ini. Angga berujar dengan menjadikan lukisan Edward
Horper sebagai refrensinya. Saya sedikit terkejut, karena sedalam itu seorang
sutradara memaknai sebuah gambar pada sebuah film. Saya sedikit mengetahui
Edward Horper dari bapak saya, karya-karyanya menjadi salah satu yang
berpengaruh dalam seni lukis dunia. Dan ini benar-benar terlihat di Filosofi
Kopi 2, seperti scene Nana berpamitan untuk resign saat kehamilannya, lalu saat
Ben & Jody ditinggal dua barista (saat sebelum Jody membuka jendela combi
dan Ben duduk bersandar pada dinding Combi).
Nyawa
Filosofi Kopi dua terletak pada chemistry 4 karakter utamanya, Tara, Brie, dan
tentunya Ben & Jody. Saya lebih suka menyebut film ini film yang romantis, “Pure
Cinematic Romance” karena gambar dan visi kamera memang terasa begitu romantis,
mungkin karena Angga banyak mengambil shoot-shoot yang “intim”. Romantis karena
motivasi para tokohnya, apa yang terjadi pada mereka, dan tentu juga Musiknya!
List
Soundtrack dalam Filosofi Kopi 2 tak ada yang sia-sia, saya sering melihat
banyak Film Indonesia menggunakan soundtrack dan musik hanya supaya terdengar
keren, hal ini tidak berlaku untuk Filosofi Kopi 2. Musik menjadi bagian dalam
tiap scene, pengadegan dan motivasi tiap tokohnya. Hal ini bisa mempersingkat
durasi, seperti yang dilakukan film ini saat Ben mengalami “loncatan putar
balik” ketika lagu Zona Nyaman dari Fourtwnty “mengudara” di film. Ini efisien,
sangat efisien. Dan itu sangat berhasil dilakukan!
Konflik
film ini bisa dibilang kalo saya boleh lebay, “Konflik tingkat tinggi,” karena
melibatkan harga diri seorang Ben. Untung penulisnya mengakhiri film dengan
sangat manis dan baik “Amazing!” saya akan memaki-maki jika ending tidak dibuat
seperti itu, karena konflik sudah diberi pondasi yang kuat, sayang jika
diakhiri dengan ending yang “formal” dan terkesan kurang “menukik”.
Bagi
saya, salah satu film bisa dikatakan baik saat dia mampu menciptakan “trend”
Filosofi Kopi menciptakan trend minum kopi dikalangan anak muda, lalu
kedai-kedai kopi menjamur. Hal nyata yang saya rasakan, ketika di Kota saya
kedai kopi bisa sangat mudah ditemukan, bahkan dalam jarak yang sangat dekat.
Nah, di filmnya yang kedua ini, saya memprediksi trend itu akan masuk ke
hal-hal yang prinsipil dari seorang Ben. Seperti celetukan-celetukannya: Babi, “Lo
bunuh aja gue sekalian”. dsb. Ohiya, saya penasaran, apakah kacamata Brie akan
ngetrend setelah ini?
Hanya
saja, ada beberapa detail penyutradaraan yang “luput”. Contoh: Saat Aga
mengajak bicara Ben & Jody saat ingin resign setelah Nana mengundurkan
diri, semacam tertukar nama, entah kesalahan atau apa. Kemudian saat Ben
meminum Enervon C saat sampai di Filsofi Kopi Jogja, karena kamera tak
melihatkan Ben minum, shoot selanjutnya gelas sudah tersisa setengahnya.
Kemudia saat scene reviewer di Filosofi Kopi, pergerakkan Ben & Jody
sedikit menyita perhatian saya, saat shoot diambil dari luar. Detail artistik saat
mobil berplat AB ada di Lampung pun demikian.
Brie
adalah salah satu tokoh wanita dalam sebuah film yang sangat saya cintai. Tara,
saya meyakini Luna Maya pantas mendapatkan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
melalui Filosofi Kopi 2. Ah, dan Ben & Jody adalah refleksi pasangan
sempurna dalam sebuah film. Benar-benar tak terpikirkan ada aktor yang bisa
menggantikan mereka. Dan Visinema Pictures bersama Angga Sasongko, sekali lagi
membuktikan diri dengan “memberikan” sebuah film yang menjadi salah satu Film
Indonesia terbaik yang kita punya.
Saat
kita bicara tentang sekuel sebuah film, kita seharusnya tidak bicara sebuah
perbandingan—lebih bagus yang pertama atau sekuelnya. Seharusnya lebih kepada
sekuel ini berhasil atau tidak. Dan Filosofi Kopi 2 adalah contoh sekuel film
yang berhasil. SANGAT BERHASIL!
Untuk
siapa pun reviewer yang membaca ini, mari mulai mengedukasi penonton, kita juga
bisa ikut andil dalam memperbaiki kwalitas Film Indonesia dengan tidak
sembarangan mereview sebuah film, setidaknya itu yang saya yakini. Itu yang
ideal untuk saya. Terima Kasih :))
Dan
seperti kata Ben, “Kopi yang enak harus dibagi-bagi”. Film yang bagus juga
harus dibagi-bagi. Mari kita kopiin Indonesia!
#BanggaFilmIndonesia
#AyoFilmIndonesia #FilosofiKopi2
Tuesday, July 11, 2017
Me & Talia
“Bagaimana
kata-kata telah membuat banyak orang jatuh cinta dengan mudah, tanpa batasan,
tanpa prasangka.” Kalimat itu adalah kesimpulanku saat Talia pada akhirnya
masuk ke duniaku. Aku tak butuh banyak modus untuk membuatnya mendekat, tak
butuh banyak gombalan tragis yang banyak dilakukan kebanyakan pria saat ini.
Cukup saat Talia membaca salah satu tulisanku, umpan telah dimakan, aku tinggal
menariknya cepat-cepat.
Aku
tak pernah paham bagaimana Tuhan menciptakan konstelasi pikiran para wanita,
dia subtil, namun kesubtilannya terasa dibuat-buat, sekejap menjadi seorang
putri, sekejap menjadi makhluk paling menyebalkan di dunia. Banyak wanita tak
bisa memahami perannya, banyak yang keliru memahami apa itu feminisme.
Kebanyakan wanita terlalu sering mempersempit pemikirannya, tak sadar bahwa di
mata orang lain itu bisa diartikan sebagai golongan terendah makhluk
hidup—sengaja merendahkan diri.
Aku
mengetahui hubungan antara Ed & Talia, mereka terlihat romantis, namun
sejatinya tidak—setidaknya bagiku. Wanita era ini memang perlu membaca tulisan
dari Daniel Defoe tentang “Pendidikan Kaum Wanita,” tulisan itu dibuat tahun
1719 dan masih sangat relevan untuk dibaca. Bahwa ada yang memerjuangkan hak
wanita, hingga harus memertaruhkan nyawa, namun kenyataan sekarang, sejarah itu
hanya menjadi omong kosong, yang sialnya dilakukan oleh kaum itu sendiri.
Aku
ingin merasakan satu peran yang belum pernah kucoba sejak dulu. Dan aku
mengambil kesempatan saat Talia secara tidak langsung menjalin hubungan dengan
Ed. Peran yang tak disukai banyak orang, peran yang membuat banyak orang tak
lagi mau merasakan apa itu cinta. Aku tak menganggap Ed adalah orang ketiga
dalam hubungan kami. Aku harus bilang, orang ketiga itu adalah aku.
Talia
menceritakan semuanya tentang apa pun yang dia lakukan bersama Ed, sejak
berkenalan hingga Talia memutuskan meninggalkan ruang tidur Ed. Talia bercerita
di ruang tamu rumahnya, dengan tangis yang tak bisa ditahan, tangis untuk
membuatku merasa kasihan. Sekalipun tak ada tangis itu, aku tetap tak akan
marah, aku mengerti bahwa wanita adalah makhluk rentan yang pintar
menyembunyikan kerentanan itu.
Kami
duduk berdampingan di sebuah sofa, Talia duduk meringkuk, menyandarkan tubuhnya
padaku. Talia memegang beberapa tisu untuk menyeka air matanya. Aku berulang
kali mencium ubun-ubunnya, mencoba menenangkannya, persis seorang ibu yang
mencium bayi kecilnya. Aku sudah membaca semua cerita Ed & Talia, semua
yang ada di sana belum pernah kami lakukan. dan Talia mengatakan bahwa semua kejadian
yang ada di dalamnya adalah kejadian sebenarnya.
Percakapan
hari itu, di atas sofa cokelat panjang cukup melelahkan bagi Talia, tapi tidak
bagiku. Talia mengubah posisinya, dia berbaring, menjadikan pahaku sebagai
bantalnya. Kami terdiam cukup lama setelah Talia selesai menceritakan semuanya.
Aku sengaja tak mersepon cepat-cepat. Aku suka suasana sunyi ini, situasi di
mana aku bisa mendengar debar jantung Talia. Aku suka situasi di saat dua
manusia saling menunggu siapa yang hendak bicara, siapa yang hendak menatap dan
tersenyum lebih dulu.
Dari
tempatnya berbaring, aku tahu Talia terus tersenyum di saat aku menatap pintu
kayu yang mengkilap. Talia melingkarkan tangannya pada tubuhku. Dan percakapan
itu pun dimulai.
“Jadi,
soal Ed… Gimana dia sekarang?” tanyaku.
“Aku
gak peduli lagi…”
“Semudah
itu?” tanyaku sekali lagi, menatap mata Talia.
“Iya,”
Talia mengangguk menatapku—tersenyum.
“Gimana
bisa wanita sejahat itu, Talia.”
“Maksudnya?”
Talia bangkit, duduk menatapku serius.
“Terus
apa yang kamu cari dari Ed, kalo sekarang kamu udah nggak peduli lagi?” tanyaku
tanpa menatap Talia… Talia terdiam, aku menunggunya menjawab pertanyaanku.
“Kenapa
kamu belum pergi dari aku? Memang apa yang belum kamu dapet dari aku?” kataku
menambahi, Talia masih terdiam.
“Kenapa
kamu bisa setenang ini?” tanya Talia.
“Aku
telah membuktikan berbagai hal tentang bagaimana wanita menyikapi persoalan
cinta. Aku sudah banyak mengalami situasi-situasi yang nggak mengenakan. Dan
kamu tahu apa kesimpulanku? Nggak ada wanita yang benar-benar paham soal ini.
Mereka nggak pernah benar-benar mau memahami.”
“Maaf…”
Talia memelas.
“Kebanyakan
wanita terlalu hebat menafsirkan cinta, padahal sebetulnya mereka egois, mereka
ingin bahagia tanpa perlu berkorban, mereka selalu bernafsu untuk mendapatkan
apa yang dia mau… Kamu kira kata-kata: ‘Semua cowok sama aja’ karena apa?
Karena mereka nggak bisa dapetin apa yang dia mau. Akhirnya menyalahkan orang
lain…”
“Tapi,
laki-laki juga gitu,” Talia menambahi.
“Apakah
aku gitu?” balasku, Talia terdiam sekali lagi—menundukkan kepala.
Talia
memelukku, aku diam tak meresponnya. Dia mencium pipiku—lembut. Aku bisa
merasakan napasnya yang memburu. Aku masih terdiam saat Talia mulai menciumi
telingaku, memainkannya dengan lidah, hingga menyusuri leherku, bahkan aku
masih terdiam saat Talia mulai mencium bibirku. Situasi itu terjadi cukup lama.
Aku hanya memandang langit-langit rumah, dan memikirkan satu hal.
“Talia…”
kataku, Talia tak mengindahkan.
“Talia!”
kataku dengan suara yang sedikit kencang, membuat Talia menghentikan ciumannya
pada perutku. Talia bangkit menatapku.
“Aku
tahu… Sebetulnya kamu butuh ini sejak dulu. Ed memberimu cuma-cuma…”
“Harusnya
kamu juga…” kata Talia menggoda.
“Ed
nggak tahu,” kataku menggeleng.
“Nggak
tahu soal apa?” tanya Talia.
“Nilai
terendah seorang pria, saat mereka nggak bijak memandang wanita,” aku menatap
Talia, begitu dalam, membutanya terdiam cukup lama—menatapku.
“Sekarang
aku tahu, kenapa kamu memilih menyendiri… Aku tahu kenapa banyak orang nggak
suka sama kamu, aku tahu kenapa kamu begitu kerasnya berkomentar soal kami—para
wanita. Aku tahu… Kamu memerhatikan semua hal, aku nggak menyadari itu.”
“Tapi,
bukan berarti aku menolak,” kataku pada Talia, membuatnya tersenyum setelah
beberapa detik menatapku dengan raut muka datar.
-----
Subscribe to:
Posts (Atom)

