Friday, May 20, 2016

JADI?

“Jadi, setelah ini apa?” Tanya Gamma.

“Setelah sekian lama, Cuma itu pertanyaanmu?” Jawab Vega.

“Ya, tentu. Memangnya apalagi yang bisa aku tanya?”

“Gamma, ayolah. Jangan begini terus,” Vega memegang tangan Gamma.

“Perempuan… Memang nggak bisa bedain mana beneran suka, mana penasaran,” Gamma melepas genggaman Vega.

“Gamma, jangan gitulah,” Vega memohon.

“Aku udah sekuat tenaga membuka hatiku lagi, buatmu… Tapi, belakangan aku sadar, tuhan nggak mau berbagi tempat denganmu.”

“Gamma…” Keluh Vega

“Apa?” Gamma menatap Vega.

“Mustahil buat kita,” Jari-jari tangan Vega beradu.

“Kita sama-sama tahu, nggak ada yang mustahil kan di dunia ini,” Gamma menyentuh lembut jari-jari Vega.

“Iya, tapi yang ini beda, kamu harusnya ngerti.”

“Apa yang beda? Aku nggak pernah ngerti jalan pikiranmu. Bertahun-tahun, Veg. Akhirnya?? Kamu malah nggak hargai aku buat ambil keputusan itu.”

“Bukan cuma aku yang bikin keputusan itu, Gamma.”

“I know.”

“You, still my love,” Vega menatap Gamma.

“No, ini nggak adil, setelah ini, bakal berapa lama lagi hatiku tertutup untuk siapapun, menunggu lagi buat dibuka. Sampai kapan lagi, Veg.” Mata Gamma berkaca.

Hari itu, satu hati terpaksa ditutup lagi. Melihat gelap yang tak dilihat siapa-siapa. Kehancuran bagi umat manusia hanya sebatas dada. Di dalamnya tumbuh semua rasa yang bisa menggetarkan seluruh organ, nadi, darah, saraf dan merusak otak, membelah tangis dari air yang tak basah. Manusia memang tak pernah mengerti bagaimana susahnya membuka hati yang pernah terluka, bahkan berkali-kali. Jadi apa yang perlu dibuat?

Hari itu, segala yang pernah terucap hanya jadi metafora yang mengambang di langit-langit malam, membangunkan angin yang lama terdiam, menggerakkan dingin yang lama panas. Semua kata hanya jadi baris tanpa makna, sepasang kekasih yang tak perlu menetap lagi tapi masih ingin menatap. Adakalanya hati dibuat untuk terus disakiti, membuatnya jadi tahan banting, bisa merasakan hal-hal kasar, namun tak bisa lagi merasakan kelembutan-kelembutan. Jadi, sendiri menjadi pilihan, karena rasa sudah tak bisa lagi merasa.

Hari itu, semua peluh keringat jatuh di kening malam, keanehan yang tak biasa terjadi. Malam yang selalu menawarkan dingin, terasa panas bagi jiwa-jiwa yang kehausan dikasihi, Malam-malam tak pernah sama lagi, mengubah sepasang kekasih jadi badai perang perasaan. Antara melepas atau mengikat. Mengingat yang tak bisa teringat, mengikat yang tak terikat, melepas yang tak terlepas. Jadi, apa? Kenapa?

Hari itu, tak ada malam singgah di matanya, mengubah semua kenangan jadi abu kematian sendiri, menyentuh inti yang sakit, merebut kembali yang diambil. Pikiran menjadi ladang perang. Berkecamuk sendiri. Kesakitan yang abadi benar-benar terjadi, telah berapa lama seonggok hati itu tertutup dan tak diketuk. Mendiami sisi kelam yang tak terang. Terkunci oleh perasaan sendiri. Jadi, siapa yang akan mengetuk lagi pintu itu?

Hari itu, dua bintang terang di langit malam berseteru, merebuat yang paling benar, yang paling tahu soal perasaan masing-masing. Vega, bintang paling terang di rasi Lyra, bintang paling terang ke lima di langit malam, bintang paling terang kedua di belahan langit utara. Gamma Orionis,  bintang paling cerah ketiga di rasi orion, bintang paling cerah keduapuluhtujuh di langit malam. Jadi, cerita tentang apa ini?

“Pikiranmu melampaui batas, Gamma,” Kata Vega.

“Aku tak pernah punya batas, tak pernah ada batas perihal mencintai, Vega. Kamu perlu belajar soal itu.”

“Itu kesalahamu, Gamma. Selalu ada batas, kamu menganggapnya tak ada, karena kamu tak mau diatur.”

“Peraturan dibuat untuk dilanggar, kan?” Remeh Gamma.

“Itu kesalahan besarmu, lagi Gamma. Peraturan dibuat untuk dipatuhi, peraturan dibuat karena ada hal yang perlu diatur,” Jawab Vega.

“Well, itu menurutmu, Vega.”

“Cuma itu jawabanmu?”

“Apalagi yang perlu aku jawab?” Tanya Gamma.

“Kamu nggak jago perihal perdebatan, jangan mengangkat isu yang nggak kamu kuasai, Gamma. Itu kesalahanmu.”

“Orion dan Lyra beda, Vega.”

“Jangan sombong, ada dua bintang yang lebih terang di rasimu, Gamma. Bahkan bintangmu tak lebih terang dariku. Kamu hanya bintang paling terang keduapuluh tujuh, aku ke lima di langit malam.”

“Tapi, aku bintang Bellatrix—Pejuang Wanita,” Kata Gamma.

“Aku sudah jatuh sebelum kamu perjuangkan, Gamma. Aku hanya bersinar satu miliar tahun saja, sepersepuluh dari kala hidup Matahari. Aku dua kali lebih masif dari Matahari dan memancarkan energi 50 kali lebih banyak.

“Tapi, aku cinta kamu,” Kata Gamma.


“Jadi, soal apa ini?” Tanya Vega.

Thursday, May 19, 2016

Seorang anak di dalam rumah

Tak ada malam singgah di matamu, 

menatap rumah menjelma abu kematian sendiri

Tak ada siang singgah di keningmu, 

menatap rumah menjelma keringat tubuh sendiri

Tak ada pagi singgah di senyummu, 

menatap rumah menjelma liur di bibir dengan gincu merah

Tak ada kamu hari ini, 

membuat rumah jadi tempat asing dalam diri


Untukmu yang tak pernah ada.

                                                                   

Sunday, May 8, 2016

Dari balik jendela kereta

Dari balik jendela kereta,
aku menatap angin yang menyerupai panas dingin tubuhku
membuat jantung berdebar tak tentu arah

Dari balik jendela kereta,
hamparan sawah hijau juga sapi yang meniduri para petani
menatapku dalam kecepatan kereta yang konstan

Dari balik jendela kereta,
pelayan berseragam biru itu tersenyum serupa senyummu
menawarkan perut yang lapar juga rindu yang kehausan



Dari balik jendela kereta,
aku mendengar denting jam yang memacu
membuat telinga jadi entah mendengar apa

Dari balik jendela kereta,
bunyi rel bergesekkan seirama dengan detak jantungku
menjadi irama yang terstruktur akur

Dari balik jendela kereta,
kau menatapku dalam kebisingan ibu-ibu
kau bilang: sampai kapan aku terus menatap jendela kereta
sampai cintaku habis ditelan kemarin, jawabku


Jantung Malam

Sudahkah kau raba debar jantungku malam ini?
Serupa kumpulan kuda yang berlomba di pacuan

Lihat deretan lampu yang benderang melahap gelap itu
Serupa terang yang kau beri setiap malam tiba

Aku membayangkan ketika malam dan jalanan tanpa lampu jalan

Gambaran hati yang sudah tak lagi kau isi

Saturday, May 7, 2016

MENUNGGU DI GERBANG SEKOLAH



Gerbang sekolah terbuka untukku, untukmu, untuk kita. Semua orang yang mengatasnamakan dirinya pelajar, melewatinya hampir setiap hari. Gerbang sekolahpun diperlakukan terhormat, selalu ada orang yang menjaganya. Bahkan lebih dari satu orang. Gerbang sekolah adalah awal. Awal ketika kita bertemu, saling menatap dan akhirnya menetap. Aku ingat tiga tahun lalu, ketika kita masih sama-sama diperlakukan tidak adil oleh kakak kelas yang belakangan kita sebut kampret

Gerbang sekolah yang terbuka menjadi pertanda bahwa hiruk-pikuk sekolah akan dimulai dan berakhir. Aku selalu menunggumu di gerbang sekolah pada dua waktu. Pagi dan sore hari, menunggumu yang menunggangi sepeda di pagi hari. Menunggumu untuk bisa pulang ke rumah di sore hari, menolak jemputan yang diutus ibu. Aku selalu suka berada di boncengan sepedamu. Kamu sangat baik, memberinya bantalan supaya pantatku tidak terasa sakit.

Aku suka senyummu kala pagi, senyum yang menyungging membuatku tertawa dan tidak terpaksa, tatapan nakalmu masih terus membekas hingga kini. Aku tahu meski kita tidak pernah dalam satu ikatan hingga kini. Tapi, aku menikmatinya, seperti rasa nyaman ketika aku memelukmu, berpegangan ketika kamu mengayuh sepeda lebih kencang dan melewati beberapa mobil. Aku tidak lupa, yang selalu membuatmu geli karena keningku yang selalu menyentuh punggungmu ketika kita berboncengan.

Kita tidak lupa saat hujan turun selepas pulang sekolah, masih diatas sepeda hitammu kita diterpa hujan yang sama, menikmati setiap tetesnya bersama debar jantung yang terus memacu ketegangan diantara kita. Ketika seragamku basah oleh hujan, juga air mataku. Air mata yang tidak menginginkanmu pergi, perpisahan yang harus terjadi selalu membuatku mengutuk diriku sendiri. Kenapa tuhan menciptakan perpisahan, jika sebuah pertemuan bisa membuat kita saling mengasihi penuh tulus.

Ingatanku masih sama tentangmu, ketika kamu selalu mengajakku berbicara diatas sepeda hitammu. Membicarakan jam pelajaran yang membuat lelah dan penat. Bosan yang kadang mampir tanpa permisi karena guru yang tidak becus mengajar. Dan membicarakan gosip kedekatan teman sendiri. Aku senang, ketika kamu tidak pernah membahas soal kita, meskipun awalnya aku merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung di sekolah. 

Kamu selalu meyakinkanku dengan senyum dan kata-kata manismu yang aku yakin keluar tulus dari hati. Jika sepasang kekasih yang saling mencinta saja bisa saling menyakiti dan patah hati, lalu kenapa cinta menyatukan mereka. Cinta yang seperti itu bukanlah cinta, itu nafsu yang berkamuflase. Kita sama-sama tahu bahwa cinta adalah anugerah terindah yang dipunyai setiap manusia. Cinta adalah yang abadi sejak kita lahir hingga mati.

Belakangan aku sadar, kamu memberikan cintamu untukku tanpa memaksaku untuk memberikan cintaku padamu. Aku selalu kalah soal konsep mencintai. Bagiku cinta adalah saling memberi. Tapi kamu selalu bilang bahwa cinta perihal memberi tanpa kalimat saling. Soal cinta kita tidak boleh pamrih. Orangtua kita mencintai dengan tulus, memberi apa yang mereka punya, tanpa mengharapkan imbalan. Lalu apakah soal cinta kita harus saling memberi, jika pada akhirnya kita menarik pemberian kita.

Aku mencintaimu sebatas nafas, yang tidak bisa kamu lihat namun bisa dirasakan. Jangan terlalu dekat, karena itu akan membuatku tidak bisa merasakan hembusan nafasmu. Aku yang selalu penuh dengan peluh keringat di keningku selalu kamu tertawai. Kamu bilang bahwa aku grogi bertemu kamu. Aku hanya bisa tertawa, mencubit perut buncitmu dan mengatakan “kamu benar” dalam hati.

Masa akhir sekolah telah membuat kita was-was. Ketakutan akan perpisahan terasa di debar jantungku dan bola matamu. Tiga tahun bersamamu, membuatku membenci perpisahan. Meski tak ada kata yang dapat mencegah perpisahan kita untuk tidak datang. Tapi percayalah, perpisahan adalah cara tuhan menguji seberapa besar cinta kita. Seperti kutub negatif dan positif magnet yang dijauhkan, mereka akan bertemu lagi pada akhirnya. Mereka saling menemukan.

Menunggumu di gerbang sekolah akan menjadi aktivitas yang paling aku rindui. Menerjang hujan bersamamu menjadi ingatan ketika hujan menerpa jendela kamarku. Sekolah akan menjadi pelabuhan terakhir sebelum kapal kita berangkat dan berpisah. Jalur perjalanan yang kita pilih memang berbeda, tapi percayalah, kita masih bisa saling menatap dari dek kapal. Melambaikan tangan dan saling mengirimkan rindu juga sentuhan lewat angin yang selalu memberikan kabar baik bagi para nelayan.

Hari ini, ketika perpisahan mengingatkanku dan benar-benar terjadi. Aku memilih berdiri di gerbang sekolah. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahku. Menatap lalu-lalang kendaraan. Tentu saja, menunggumu dengan Kebaya yang terasa tidak nyaman di tubuh. Kenapa sekolah menciptakan acara yang sebenarnya dapat membuat masing-masing dari kita merasa kehilangan. 

Aku benci, tidak bisa mengungkapkan perasaanku di perpisahan yang dekat dan tampak nyata. Aku benci, tidak mendapat apa-apa ketika kita berpisah. Aku benci, tidak bisa mendengar suaramu lagi. Aku benci, tidak bisa melihat senyum yang mengugurkan kegelisahanku setiap pagi. Aku benci melihatmu bahagia tanpaku. Aku benci diriku yang tidak bisa menghilangkan bayangmu di pikiranku.

Aku masih menunggumu yang tidak kunjung datang menemuiku di gerbang sekolah. Aku bertanya pada diriku: Apakah perpisahan sudah benar-benar terjadi? Aku masih belum percaya, kematian telah merenggutmu dariku.

Friday, May 6, 2016

Embun Senja yang Terik

Embun pagi tadi mengacaukan mataku 
yang asik mentapmu

Terik siang ini 
membasahi keningku 
yang siap kau kecup

Senja sore nanti
yang paling kutakuti
melepasmu sekali lagi

Tuesday, May 3, 2016

Menunggu hujan reda

Aku benci berada diantara orang-orang yang menunggu hujan reda
Mereka berisik, membicarakan langit yang tak adil
Dan mengumpat perihal air dan tuhan
Aku benci berada diantara sekumpulan muda yang menunggu hujan reda
Mereka sibuk mengabadikan hujan, memaki di semua sosial medianya
Seperti semua orang peduli celotehannya
Aku memilih menerobos hujan dan bernyanyi sekeras aku mencintaimu
Menyentuh dinginnya hujan, memeluk angin yang menyetubuhi
Aku memilih sendiri, berteman hujan yang menepi, membuat sepi
Hujan yang meriah tak serupa hatiku
Hatiku tak cukup meriah mengenangmu
Hingar bingar kota terasa akut menunggu hujan yang tak kunjung reda
Hujan membuatmu terasa abu di selepas mataku
Aku ingin basah oleh hujan,
Menikmati setiap tetesnya bersamamu
Tapi aku tak lupa
Kesendirian dan Rasa sepi adalah dua hal yang berbeda
Entah, aku yang mana