Thursday, December 8, 2016

Mari Sembunyi

Aku membayangkan sebuah rumah,
di dalamnya seorang anak tumbuh
Sehat dan ceria

Sial!
Aku baru saja menyeka air mataku
Tiba-tiba menetes tanpa permisi

Aku bisa terima,
tetap saja kita tak akan bisa menyatu.

Tapi aku yakin,
kita bisa sembunyi-sembunyi,
dalam urusan rindu

Apalagi cinta.


Semarang, 9 Desember 2016


Malam Bersamamu

Aku berdoa,
malam ini ada di sampingmu

Memelukmu
Mengusap lembut rambutmu

Bercerita tentang mimpi bersama
Membicarakan cita-cita di ruang tidur

Dihangatkan dalam satu selimut yang sama
Mencium semerbak wangi rambutmu

Berbisik ditelingamu;
"Aku Mencintaimu".

Cukup.


Semarang, 9 Desember 2016

Aku Tidak Mencintaimu

Aku tidak ingin kamu
Tapi aku ingin kamu

Suaramu
Hembusan napasmu
Keringat yang jatuh di keningmu
Tawamu yang masuk telingaku
Matamu yang meneduhkanku

Aku masih menghitung mundur waktu
Semoga kita bertemu,
saat masing-masing memutuskan,
melepas yang terikat

Memaksa diri mengikat bersama
Kamu menjadi bagian dari ceritaku yang terang

Semoga aku tidak sibuk mengobati hatiku
Karena aku pun menyerah
Memaksa mengobati diri sendiri adalah bunuh diri

Aku ingin mati di hatimu
di pikiranmu
di setiap lukamu
di setiap rintihan malammu
di setiap langkah kakimu

Bantu aku mengakhiri ini
aku jadi lupa diri saat mengingatmu

Aku tidak mencintaimu
tapi tidak,
tidak...
Tidak!

Aku bingung,
bingung...

Bantu aku menjawabnya.


Semarang, 9 Desember 2016


Semoga Hujan

Selamat malam, 
dari aku yang sibuk mengusirmu dalam kepala

Aku enggan tidur,
meski kantuk telah mengetuk kelopak mataku

Aku masih ingin mengetuk ruangmu,
ruang yang telah terisi orang lain

Aku tak ingin mengusikmu,
namun rasanya gila sehari tanpamu

Hujan benar-benar membawa,
pikiranku pada pikiranmu

Selamat malam
Aku mencintaimu,
seperti deras hujan sore lalu

Aku merindukanmu,
seperti ganas ombak malam lalu

Semoga yang telah lama mengendap dihatimu,
kalah oleh aku yang baru masuk duniamu

Semoga
Semoga,
Semoga...


Semarang, 9 Desember 2016


Seperti Gerimis

Gerimis pukul satu dini hari
Aku masih sibuk memikirkanmu

Seperti kabar burung pada angin
Seperti lembut awan pada langit

Seperti tangis yang menyentuh bibir
Seperti tatapan pada kekasihmu malam itu

Seperti gelap pada malam
Seperti puisi pada kata

Seperti lagu pada nada
Seperti ibu pada bapak

Seperti aku padamu
Seperti...



Semarang, 9 Desember 2016

Thursday, December 1, 2016

Jujur Saja

Jujur saja, aku ini sedang gila.
Saat aku bilang; "Kita sudah terlalu jauh".
Kau balas; "Tidak sejauh yang kamu kira".

Jujur saja, aku ini sedang sakit.
Karena setelah ini aku punya tugas,
melupakan semuanya,
mengembalikan pikiran seperti semula,
seakan tak ada apa-apa.

Jujur saja, aku ini sedang bingung.
Bisa jadi aku cuma sekoci diatas kapal feri,
atau pilihan yang cuma jadi kemungkinan.

Jujur saja, aku ini sedang ragu.
Mengira-ngira siapa yang lebih dulu kembali,
aku yang tanpa rasa atau kamu yang tanpa logika.

Jujur saja, aku ini sedang takut.
Saat mungkin kamu kembali, 
kamu tak akan menemukan hal yang sama lagi
dalam diri ini.

Jujur saja, aku ini sedang pasrah.
Memangnya aku bisa apa??
kamu sudah pergi, memilih jalan berputar,
padahal ada aku di depanmu.

Jujur saja, kesalahanmu cuma satu.
Melupakan yang dekat,
untuk mencari yang jauh.

Jujur saja ku katakan.
Aku tak bisa kembali,
tapi aku tetap mencintaimu.

Jujur saja.
Sebelum semuanya hilang,
aku akan menunggumu di tempat ini,
siap untuk kau jadikan sisa.

Jujur saja.
puisi ini bukan soal siapa-siapa
puisi ini tentang isi hati kita.

Jujur saja. 


Semarang, 2 Desember 2016


Bahas #TerjebakNostalgia

Terjebak Nostalgia adalah film yang jatuh bangun mengatur ritme ceritanya bahkan sejak menit awal film ini dimulai. Detail di film ini juga tidak bisa dibilang bagus, contohnya, saat pakaian Sora dan Raisa yang basah karena kehujanan diawal film. Gambar menunjukkan pakaian itu kering setelahnya, hujan yang diciptakan juga sangat kentara dengan cahaya matahari. Lalu saat Reza dan Raisa terjebak hujan di dalam mobil. Saat mereka sampai di rumah Raisa, gambar menunjukkan bahwa mobil tidak basah alias kering.

Terjebak Nostalgia tidak bisa membuat saya kesusahan menebak lajur ceritanya, alur bahkan endingnya. Bahkan ketika film belum setengahnya saya sudah bisa menebak ending dari film ini. Sesungguhnya menampilkan tokoh baru di akhir film adalah pilihan yang tidak tepat, maka dari itu Rako selaku penulis skenario tidak melakukannya, tapi juga kesalahan kepenulisan yang hanya menghadirkan tiga tokoh, membuatnya sangat mudah ditebak. Film ini sebenarnya hanya tentang dua orang. Raisa dan Reza, dengan harapannya bertumpu pada teka-teki permainan. Maruli tidak dalam performa yang bagus, bahkan sekalipun Raisa yang kita tahu punya paras yang begitu cantik. Film ini benar-benar ditolong oleh Reza dan Obin. Juga musik yang bisa menyatu dengan “kata-kata” yang diungkapkan ketiga tokoh utamanya.

Sedikit membosankan karena cerita yang begitu cepat berlalu, penonton tidak dibuat benar-benar percaya bahwa Sora dan Raisa memang saling jatuh cinta. Keberhasilan film ini hanya terletak pada tokoh Reza yang membuat saya benar-benar sangat percaya bahwa dia memang jatuh cinta kepada Raisa. Kalau saja akhir film ini tidak tertebak mungkin akan menjadi keberhasilan lain yang bisa dicapai. Namun layaknya sebuah bangunan, Terjebak Nostalgia memang kurang bisa memilih pilar yang digunakkan untuk menopang bangunan diatasnya.


Bagi saya film bergenre drama romance yang hanya menawarkan kata-kata indah nan manis adalah film yang kehilangan arah, yang akhirnya memlih jalan untuk memakai kata-kata “gombal” untuk memuaskan pasar penontonnya. Padahal tugas utama pembuat film genre ini sebenarnya untuk meyakinkan bahwa memang terdapat perasaan cinta diantara tokohnya. Saya merasakan kelebayan di setiap adegan Sora dan Raisa, terasa mengganggu apalagi saat mereka berpisah di bandara. Karena kurangnya chemistry antar keduanya, film ini jadi tidak terasa spesial.

#TerjebakNostalgia
#BanggaFilmIndonesia