Thursday, June 16, 2016

Arthur #2 Eps. 4



Proyek pembangunan kawasan terpadu untuk para Anei sudah memasuki tahap akhir. Bangunan yang menjulang tinggi terlihat dari seantero kota. Proyek pembangunan yang memakan waktu hampir dua tahun itu menjadi pesan terakhir dari Witson untuk Arthur. Pajak dari masyarakat miskin Kota Nanoi digunakkan untuk membiayai 50% pembangunan kawasan itu. Proyek yang mencapai luas 50 hektar itu berdiri diatas empat pulau di pantai utara Nanoi. Selain untuk kawasan terpadu para Anei, rencananya proyek reklamasi dibangun untuk membuat permukiman baru warga kota.

Tidak ada yang tahu apa tujuan proyek itu. Warga miskin Kota Nanoi awalnya menyambut baik kabar itu. Tetap saja, tidak ada yang gratis di Kota Nanoi. Natalie memungut biaya tinggi untuk satu rumah di permukiman baru itu. Pro-kontra menghiasi mega proyek. Surat kabar indie di Nanoi mengkritik besar-besaran pemerintah kota dan para Anei. Pajak yang dipungut seharusnya menjadi tiket masuk warga kota untuk memilikki satu hunian baru disana. Melawan pemberitaan itu, para Anei menyebar propaganda melalui semua media kota. Beberapa surat kabar indie yang bertentangan mulai dibredel. Surat kabar indie yang lain mencari aman dengan ikut menyebarkan propaganda.
 
Permukiman antara warga miskin dan kaya mulai dipisah. Pemerintah kota memberi batas tembok beton tinggi dengan pagar hitam diatasnya. Polisi kota juga menjaga perbatasan itu. Truk-truk pegangkut disiapkan di perbatasan. Permukiman untuk warga miskin semakin terlihat kumuh ketika hujan turun, tanah yang becek akan berubah menjadi lumpur. Berbanding terbalik dengan permukiman warga kaya Kota Nanoi, semua tampak indah, taman-taman kota, udara yang terasa sejuk dan segar, bangunan yang kokoh dan kuat. Juga anjing penjaga pemberian para Anei di masing-masing rumah. 

Perwakilan dewan kota dari salah satu partai pembela kaum miskin mulai mengajukan banding atas kebijakan dari para Anei dan pemerintah Kota. Dalam persidangan dewan. Perdebatan alot terjadi. Pembelaan terhadap warga miskin Kota Nanoi mulai menguat. Mereka mengancam akan mogok bekerja jika permintaan tidak dipenuhi. Dalam hal ini, kaum miskin Kota Nanoi menjadi yang terkuat, karena mereka sudah sejak lama dipekerjakan oleh kaum kaya.

Mendengar itu para Anei balas mengancam. Dalam persidangan dewan para Anei mengancam akan mengganti para pekerja dari kaum miskin itu dengan Robot. Sehingga membuat kaum miskin kehilangan pekerjaan, hidup miskin selamanya, mati kelaparan dan mayatnya dibiarkan membusuk atau menjadi makanan bagi para anjing penjaga.

Kota Nanoi butuh pahlawan seperti Witson. Kematiannya membuat segala yang adil berubah berpihak pada salah satu kubu. Kekuatan para Anei susah dibendung. Diktaktor baru mulai bermunculan. Pemimpin distrik yang membelot diganti dengan orang-orang yang setia dikalangan Anei. Pemerintah Kota benar-benar serius menghapus jejak kepemimpinan Witson yang dicintai rakyatnya. Seluruh kebijakan Witson dan peraturan yang dia buat, dihapus dan digantikan kebijakan baru, peraturan baru yang lagi-lagi memihak. Tidak ada yang bisa menghalangi, semua berjalan tanpa perlawanan. Karena melawan berarti bunuh diri.

Sementara itu Pemerintah Kota dan para Anei mulai melupakan hilangnya Arthur. Mereka menganggap Arthur telah tewas dalam percobaanya kabur dari kejadian berdarah di Balai Kota. Pemerintah Kota menganggap tidak akan ada manusia yang mampu bertahan hidup dengan hanya menggunakan satu mata. Apalagi mata yang tertusuk busur panah. Benar-benar sulit untuk menghentikan apa yang terjadi di Kota Nanoi. Lewat perundingan, dewan selalu gagal dalam pembelaan. Kaum miskin terpikir untuk menyerang balik dengan kekerasan, namun apadaya, meskipun jumlah mereka lebih banyak dari polisi kota, tapi perlengkapan persenjataan mereka tidak punya. Belum lagi Askar Kecha yang bagai penembak jitu. Tidak terlihat dan mematikan.

Ana yang berpikir keras untuk menerima misi dari Bibi Ana mulai berkemas, menyiapkan perlengkapan yang bisa dibawa. Ana mulai bisa melupakan Arthur dan Ayahnya. Ana mulai ikhlas untuk kehilangan dua orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Seperti perintah pena difoto pemberian Bibi Ana. Ana akan mengubah penyamarannya. Kali ini Ana tidak membawa persenjataan. Meninggalkan Anak panah dan busurnya di ruang bawah tanah. 

Hari itu, setelah petunjuk meeting point dikirimkan melalui ponselnya, Ana bergegas pergi mengendarai Cruiser hitam miliknya. Membelah jalanan kota yang sepi dengan suara Cruiser yang menggelegar melewati Boulgetse—Perpustakaan kota yang tidak satupun orang mengunjunginya sejak kematian Witson.


(BERSAMBUNG)

Friday, June 10, 2016

Arthur #2 Eps. 3

Ada yang menempuh sepi dengan sukarela, menggadaikan ramai yang membatasi antara sedih dan senang. Ada yang bahagia berada di keramaian. Ada yang memilih untuk menepi bersama sepi. Keduanya adalah makna dari kata yang bisa dibaca. Untuk beberapa orang kata itu tidak terbaca. Kehilangan. Bagian terberat yang bisa diterima hati manusia. Kehilangan tidak menghubungkan apa-apa, tapi berpengaruh atas apa-apa yang dicuri, dirampas dan direbut. Kehilangan jadi makna dari kata yang tidak terbaca jika manusia hanya sibuk dengan diri sendiri. Manusia-manusia sepi yang telah banyak kehilangan, tidak pernah benar-benar bisa merasakan kehilangan.

Lautan masih tanpa nelayan, sepi di lepas pantai Nanoi serupa dengan rumah Ana. Sudah lebih dari seminggu Ana menunggu ayahnya pulang. Menunggu Arthur membalas pesannya. Dengan kerisauan hatinya Ana masih mencoba memaksa dirinya untuk melupakan kejadian tempo hari. Paling tidak Ana hanya ingin mendengar kabar dari dua orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Hanya sebatas kabar, hanya itu yang Ana tunggu. Ada yang harus dijelaskan Ana pada Arthur dan Prof. Uru. Bahwa Ana mengetahui kejadian berdarah di Balai Kota. Ana melihat kejadian itu.

Hari itu, saat matahari tepat berada di jantung langit. Ana menyusuri bibir pantai tepat di depan rumahnya. Menatap sekitar, air laut yang menyentuh pelan kakinya seperti tidak terasa. Fokusnya tertumbuk pada rumahnya. Ana menatap cerobong asap berbahan batu bata di atap rumahnya. Aneh, rumah di pinggir pantai mempunyai cerobong asap, yang biasanya ada di rumah-rumah bersuhu dingin. Ada lingkaran serupa darts pada dinding cerobong asap itu. Ana menutup satu matanya, kedua tangannya serupa seorang pemanah yang memegang busur dan anak panah.

Ponsel di saku celana Ana berdering. Buru-buru Ana mengambilnya, Ada pesan yang tidak ingin Ana buka. Ana memasukkan ponselnya. Dering kedua menambah kesal Ana. Satu panggilan masuk dari orang yang sama yang mengirim pesan barusan. Ana menjatuhkan ponselnya di pasir pantai yang halus, dan berlalu—meninggalkannya. Ponsel terus berdering, getar dari ponsel itu membuat pasir pantai ikut bergetar dan menimbun ponsel Ana

Ombak tenang di lepas Pantai Nanoi. Ana menuju ruang bawah tanah dirumahnya, dari sana suara ombak masih saup-saup terdengar. Ana membuka pintu yang membatasi gudang dan tempat penyimpanan. Ana menyalakan bohlam kuning yang bersuara—membuat telinga sedikit terganggu. Di antara tumpukkan barang-barang rusak tidak terpakai, Ana mengambil satu kotak kayu, lalu berlutut untuk membukanya. Kotak kayu itu tidak bergambar dan bertuliskan namanya di bagian depan. Ana membukanya, satu busur panah melengkung sempurna, warna cokelat jadi terlihat mengkilap karena pantulan sinar bohlam, tali busur yang kencang disentuhnya, seperti seorang yang memetik senar gitar. Ana menghitung beberapa anak panah yang ada di wadah berbahan kulit.

Belum sempat Ana menutup kotak itu, suara seseorang yang berteriak memanggil namanya keras terdengar. Buru-buru Ana menutup kotak itu, menaruhnya dibawah tumpukkan barang-barang rusak tidak terpakai lalu mengunci pintu dan meninggalkan ruangan itu. Suara yang berulang memanggil namanya, sangat jelas dikenali Ana. Suara dari seseorang yang membuat Ana menjatuhkan ponselnya.

“Eh, Bibi. Ada apa??” Ana mengatur nafas yang menderu.

“Ana, Ana, Anaaaa. Kamu darimana sih?? Bibi berulang kali menghubungi ponselmu, nggak ada jawaban,” Bibi Ana menepuk pundak Ana.

“Memangnya ada apa, Bi?”

“Ada misi untukmu.”

“Misi?? Lagi??” Tanya Ana serius.

“Kali ini kamu cukup membantu yang lain,” Bibi Ana menjelaskan.

“Yang kemarin itu belum cukup??”

“Lebih dari cukup,”

“Lalu??” Tanya Ana.

“Kamu cukup membersihkan sisanya, Beliau tidak ingin ada jejak lain. Kamu dan yang lain diberi waktu dua hari untuk menyelesaikan. Ini targetmu, jaga baik-baik, jangan sampai orang lain tahu,” Bibi Ana menyerahkan satu lembar foto lalu pergi—meninggalkan Ana.


Setelah Bibi Ana berlalu. Ana melihat tulisan di bagian belakang foto, lalu membaliknya—melihat sosok yang ada dalam foto itu. tulang lehernya mengeras, lemas tangannya memegang foto. Keningnya beradu. Pikirannya berkecamuk, ini misi yang tidak mudah, pikirnya.


(BERSAMBUNG)

Thursday, June 9, 2016

Arthur #2 Eps. 2

Malam yang dingin itu membuat Ibu Arthur tidur lebih awal, memikirkan anaknya yang lama tidak berkabar. Berulang kali terbangun dan meminum segelas air. Pikirannya kacau, langit-langit rumah yang dia tatap menjelma wajah Arthur yang remuk-redam. Mimpi yang mengerikan membangunkannya lagi. Melihat wajah Arthur dengan satu mata kiri. Pijatan di keningnya belum cukup menenangkannya malam itu.

Tengah malam berlalu, suasana sepi berubah. Suara hentakkan sepatu di sekeliling rumah membangunkannya. Ibu Arthur mengintip dari celah jendela kamarnya. Beberapa polisi kota telah berdiri mengepung rumahnya dengan senjata laras panjang di lengan. Keringat di keningnya muncul, tiba-tiba tubuhnya menggigil. Matanya terus berkedip. Beberapa detik setelahnya suara ketukan pintu sedikit mengagetkannya.

Beberapa kali ketukan pintu pelan terdengar, dengan jantung yang terus berdebar, Ibu Arthur melangkah keluar dari kamarnya, beberapa kali berhenti dan memikirkan lagi apa yang sebenarnya terjadi. Suara ketukan pintu berubah semakin keras, terdengar seorang dibalik pintu meminta polisi kota untuk mendobrak pintu. Mendengar itu Ibu Arthur bergegas berlari menuju pintu rumah lalu membukanya.

Di depan pintu berdiri seorang wanita dengan mantel panjang dari bahu hingga betis. Kulit wajahnya putih mulus dengan rambut yang dikuncir membuat leher putihnya jelas terlihat. Kancing mantel yang tampak besar seukuran permen sejajar dari leher hingga pinggang. Celana panjang hitam ketat dan heels yang serupa warna membuat Ibu Arthur semakin jelas mengenali wanita di depannya. Di bagian kanan mantel cokelatnya tersemat lencana berkilau emas yang hanya dimilikki seorang di Kota Nanoi.

“Selamat malam Nyonya Witson,” Sapa Natalie.

“Natalie?” Ibu Arthur membuka lebar pintu.

“Bagaimana kabar anda?” Natalie berlalu—masuk  sembari melepas sarung tangannya. Dua pengawalnya ikut masuk lalu tegap berdiri si sudut ruangan yang tidak terlalu besar. Hanya ada satu lampu yang terang tepat di tengah ruangan dan beberapa kursi dan meja yang mengkilap karena pantulan lampu.

“Ada perlu apa anda datang kemari?” Tanya Ibu Arthur dengan mata yang masih terus menatap Natalie.

“Ku kira kau pasti tahu, kenapa aku kemari,” Natalie menatap sekeliling ruangan mungil itu.
“Maksudnya?”

“Aku mencari anakmu, Arthur. Dimana dia?” Dengan santai Natalie duduk di bangku kayu yang berdecit.

“Arthur?? ada urusan apa dia denganmu??” Tanya Nyonya Witson penasaran.

“Sudah seminggu lebih dia menghilang. Sejak kejadian berdarah di Balai Kota seluruh aparatur kota mencarinya. Dia—anakmu menjadi salah satu dalang kejadian itu.”

“Ha?? Kau pasti bercanda, Arthur sudah tidak ada dirumah sebelum kejadian di Balai Kota. Dia menginap diruman Ana, Anak Prof. Uru, dilepas pantai Nanoi.”

“Jadi, kau masih belum sadar? Seluruh polisi kota berpatroli hingga masuk kerumah-rumah warga hanya untuk mencari anakmu—Arthur!!” Suara Natalie keras terdengar hingga telinga polisi kota yang berjaga di luar.

“Geledah!!” Perintah Natalie. Dua pengawal yang berjaga masuk ke ruangan lain di rumah itu.

“Ada apa dengan Arthur, Nyonya??” Ibu Arthur mendekati Natalie.

“Dia—Anakmu sudah membunuh anakku,” Natalie beranjak dari tempatnya duduk, merapikan mantel dan rambut.

“Ha?? Membunuh?? Apalagi ini?? Tidak mungkin Arthur melakukan pembunuhan!!” Bentak Ibu Arthur. Beranjak dari kursinya menatap tajam Natalie.

“Mari kita buktikan di pengadilan kota,” Suara Natalie pelan tepat di telinga Ibu Arthur.

“Negatif Nyonya!!” Salah satu pengawal melapor.

“Bawa dia!! Bakar rumah ini!!” Natalie berlalu, memerintahkan polisi kota yang berjaga diluar dengan isyarat tangan.

Dua pengawal membawa Ibu Arthur yang berteriak dan memberontak. Salah satu pengawal langsung menggendongnya, membawanya menuju mobil berplat Balai Kota. Natalie yang berada di samping sopir, memerintahkannya jalan setelah Ibu Arthur dan dua pengawal masuk dan menutup pintu mobil. Ibu Arthur menatap rumahnya yang mulai terbakar. Ada air yang menetes jatuh dari matanya



 (BERSAMBUNG)

Wednesday, June 8, 2016

Arthur #2 Eps. 1

Hari-hari tetap sama. Kebisingan di Kota Nanoi berubah tidak terkendali. Hilangnya tubuh Arthur setelah kejadian hari itu, membuat Natalie bertanya-tanya. Natalie hanya menemukan Rey, Anaknya yang tewas tergeletak dengan lubang bekas peluru tepat di dadanya. Dan Charles, Komandan polisi kota yang tertancap pisau tepat di Glabella. Matanya melotot dengan darah yang mengucur membasahi seluruh wajah.

Seluruh penjuru kota siaga atas hilangnya Arthur. Para polisi kota berpatroli dengan senjata laras panjang di lengan. Kekosongan pemimpin dalam tubuh organisasi polisi kota, membuat banyak orang mengajukan diri untuk menggantikan posisi Charles. Natalie masih bungkam. Para Anei mulai menekan dan memojokkan Natalie atas kejadian berdarah di Balai Kota. Satu ponsel yang ditemukan Natalie di tempat kejadian, mengindikasikan sesuatu.

Ana yang mendengar kabar melalui koran kota, Was-Was. Ana tahu bahwa dalam kejadian itu Arthur dan ayahnya terlibat. Sudah tiga hari tidurnya tidak nyenyak. Ayahnya juga belum pulang sejak kejadian itu. Pesan Ana belum juga dibalas. Ponsel Arthur dan Ayahnya juga tidak bisa dihubungi.  Lepas pantai Nanoi bagai badai yang berkecamuk di matanya. Air muka yang terus membiaskan cahaya gelap mengartikan hal yang tidak ingin di alami Ana, kehilangan dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Seluruh rumah diperiksa. Kegaduhan terjadi dimana-mana, siang-malam, sirine siaga satu terus berkumandang di langit-langit kota. Mobil patroli terus berkeliling. Sejak kejadian itu tidak ada sepi di Kota Nanoi. Tiga hari yang mencekam, mencari Arthur yang bertekad menemukan dalang dibalik kematian Ayahnya.

Natalie merahasiakan sebab hilangnya Arthur dari sorotan media setempat. Anak panah dan bola mata Arthur yang terbelah buru-buru disimpannya. Simpang-siur warga kota Nanoi mengenai Askar Kecha mulai merebak. Warga kota menyebut Askar Kecha sebagai prajurit gelap, yang tidak pernah terlihat batang hidungnya. Hingga tiga hari kejadian itu berlalu, Natalie masih belum memberikan keterangan atas kejadian berdarah yang terjadi di Balai Kota. Sudah tiga hari Balai Kota terus dikerumuni warga yang ingin mengetahui kabar kelanjutan kasus yang menggemparkan seisi kota.

Para Anei terus melakukan propaganda melalui koran kota, radio dan televisi. Memberitakan hal negatif seputar kepemimpinan Natalie. Kaum miskin Kota Nanoi mulai mempertanyakan kepemimpinan Natalie. Di lain sisi, kaum kaya mempertanyakan pemberitaan Anei yang memojokkan Natalie. Wali Kota yang dipilih sendiri oleh Para Anei untuk menggantikan Witson, Ayah Arthur.

Hari ke lima setelah kejadian itu. Rey dan Charles di makamkan. Pemakaman dilakukan di pusat kota, Natalie sengaja menunda pemakaman, sembari menunggu keadaan kota sampai benar-benar terkendali. Hari itu tempat pemakaman di pusat kota ramai, warga kota berdatangan sebagai bentuk bela sungkawa. Pemakaman dilakukan secara terbuka dengan upacara khas kepolisian Kota Nanoi, sebagai bentuk penghormatan terakhir. Charles dan Rey diberi gelar Anumerta. Meskipun banyak yang mempertanyakan gelar yang diberikan Natalie.

Para Anei masih melakukan propaganda atas pemberian gelar anumerta pada Rey, anak Natalie. Para Anei beropini bahwa Natalie tidak berfikir ulang dalam memberikan gelar pada anaknya yang tidak memberikan sumbangsih apapun untuk kota. Anei menyebut, tidak ada alasan yang tepat dari Natalie untuk memberikan Rey gelar anumerta. Natalie masih bungkam. Setelah seminggu kejadian berlalu, papan-papan iklan di penjuru kota berubah menjadi foto Rey dan Charles, sebagai bentuk bela sungkawa dan penghormatan terakhir atas jasa yang dilakukan keduanya.

Pencarian Arthur dihentikan. Warga kota masih belum menyadari keterlibatan Arthur dalam kasus yang sempat mengguncang Kota Nanoi. Natalie masih bungkam dan merahasiakannya. Para Anei mulai menghentikan propaganda. Kegiatan kota mulai berjalan seperti biasa.  Ibu Arthur yang menjadi petani sayur dan buah mulai merasa aneh. Arthur sudah lama tidak pulang. Sudah lama juga Arthur tidak membantunya.


Kerisauan dalam dirinya mulai mengganggu pikiran. Hari-hari yang dilalui menjadi tidak biasa. Ada pertanyaan yang menggantung di keningnya, bagai buah apel yang siap dipetik. Rumah jadi tempat pengasingan. Malam-malam yang dilalui bagai gelap yang tidak kunjung usai. Sampai suatu malam ada yang mengetuk pintu rumahnya.

(BERSAMBUNG)

Thursday, June 2, 2016

Masih Sama

Ini hari aku bangun pagi,
Bersama sepi yang masih menghampiri
Ada bahasa yang diadu di pinggir jalan,
Mengubahnya jadi tempat penghakiman
Deretan tower di bukit itu menjulang,
Diantara awan yang berubah jingga
Ini pagi, langit tetap sama,
Apa adanya
Seperti kamu yang masih sama,
Bagai dingin pagi ini

Wednesday, May 25, 2016

Kartsen.

Bulan yang kuning bundar itu tetap tak sempurna. Selalu ada noda hitam di setiap lekuknya, bukti bahwa bulanpun tak sempurna meski banyak yang mencintainya tanpa sebab. Isya yang baru saja selesai menyisahkan aroma wangi khas para ustad. Seorang pemulung yang bertubuh kecil, sibuk merogoh tong sampah. Ratih melihat pemandangan itu dari Balkon lantai dua rumahnya.

Bertemu cinta pertama meski hanya melalui dunia maya, rasanya seperti balon yang terus menerus diisi udara. Malam ini Ratih merasakannya, jantungnya berdegup kencang, ketika pesan dari Alfa menggagalkannya untuk tidur nyenyak di kasur empuk dengan sprai putih bermotif mawar. Satu pesan yang dikirim Alfa malam itu membawa Ratih pada kenangan sepuluh tahun yang lalu, masa-masa terakhir di SMA, saat Alfa memberitahunya, bahwa dia akan pindah ke Jakarta. Melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia. Mengambil jurusan arsitektur. Alfa akan mampir ke Semarang, menggunakan kereta dari Jakarta. Ratih menawarkan untuk menjemput Alfa sesampainya di Stasiun Tawang. Alfa mengiyakan tawaran Ratih.

------

Pukul dua pagi, Kereta yang membawa Alfa berangkat dari Jakarta. Perjalanan Alfa yang memakan waktu enam jam lebih, membuat Ratih tidak bisa tidur nyenyak. Ada rindu yang menggantung di langit-langit kamar. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Malam itu menjadi candu yang merebahkan rindu. Bertemu cinta pertama tak pernah semudah itu.

Sabtu pagi pukul sembilan, Honda Jazz silver milik Ratih sudah terparkir di halaman Stasiun Tawang. Teriakkan para porter dan sopir taksi yang menawarkan taksinya terdengar hingga telinga Ratih. Pemandangan biasa yang ada di Stasiun Tawang. Salah satu stasiun tertua di Indonesia. Stasiun yang menjadi saksi bisu kejayaan Belanda di Semarang.

Ruang tunggu stasiun tampak lengang, hanya ada beberapa orang yang sibuk menatap layar ponselnya. Seekor merpati yang terbang rendah menyita perhatian Ratih, membuatnya terus menatap hingga merpati hilang dari tatapannya. Fashion yang berubah setiap enam bulan sekali, tidak mempengaruhi gaya berpakaian Ratih pagi itu, jeans biru muda dan blus putih serta sepatu kets membuat Ratih tampak cantik. Rambut pirangnya yang dikuncir membuat leher putihnya yang mulus terlihat, membuat beberapa porter meliriknya sesekali.

Setengah jam menunggu, musik Gambang Semarang yang menandakan kedatangan kereta terdengar. Kereta yang membawa Alfa tiba tepat waktu. Ratih bangkit berdiri dan menuju pintu keluar stasiun. Matanya sigap mencari Alfa diantara keramaian. Ratih yakin, bisa mengenali wajah Alfa, meski sudah sepuluh tahun tidak bertemu. Diantara sopir taksi dan tukang ojek yang menawarkan tumpangan pada penumpang yang baru saja tiba, Ratih melihat seorang pria dengan rambut cepak menatapnya. Seorang pria yang terlihat necis dengan celana pendek cokelat yang berkantong di sisi kanan dan kirinya. Seorang pria dengan kaos hitam bergambar The Beatles, band kesukaan Alfa. Tidak salah lagi.

“Alfa?” Senyum Ratih bertanya.

“Ratih ya?” Alfa melepas earphone dari telinganya.

“Aku hampir nggak ngenalin. Untung kamu pakai The Beatles,” Ratih menunjuk kaus yang dipakai Alfa.

“Masih cantik aja kamu, Tih,” Alfa terkekeh, memeluk Ratih lembut, persis seperti sepasang kekasih yang baru bertemu.

“Bisa aja kamu, Fa. Jadi, mampir ke Semarang ada urusan apa?” Tanya Ratih setelah melepas pelukan Alfa.

“Mau jemput orang, nanti jam satu berangkat lagi ke Malang.” Alfa dan Ratih berjalan beriringan, meninggalkan pintu keluar stasiun, menuju mobil Ratih.

“Oh gitu, ada urusan apa di Malang?” Tanya Ratih.

“Biasa, urusan pekerjaan.”

“Wah, sukses ya kamu sekarang,” Ratih menekan tombol pada kunci mobilnya, membuat lampu mobilnya menyala dan berbunyi.

“Loh, kita naik mobil?” Tanya Alfa.

“Iya… Kenapa?” Tanya Ratih bingung.

“Nggak usah. Kita jalan-jalan aja ke Kota Lama, kangen juga aku, udah sepuluh tahun nggak ke Semarang.”

“Oh gitu, beneran nih? Lama loh, nunggu sampai jam dua belas,” Ratih meyakinkan Alfa.

“Bener, aku titip tasku aja di mobilmu. Bisa kan?” Tanya Alfa.

“Bisa dong, Sini tasmu,” Ratih membuka pintu mobilnya, meletakkan tas Alfa di kursi belakang.

“Mau kemana kita?” Tanya Ratih tepat setelah pintu mobilnya ditutup.

“Sarapan?”

Semasa SMA Ratih adalah gadis paling cantik di sekolahnya. Seorang wanita dengan IQ diatas rata-rata. Pemimpin redaksi majalah dinding yang terbit setiap kamis di sekolahnya. Ratih mencintai dunia kepenulisan, Ratih menulis ulasan tentang buku dan film pada salah satu kolom di mading sekolahnya. Pengalamannya di SMA itu membuatnya menjadi salah satu wartawan surat kabar terkenal di Semarang. Pekerjaannya hingga kini sejak lulus kuliah di Universitas Diponegoro.

Menjadi wartawan adalah cita-cita Ratih sejak lama. Ratih bukan main dalam pelajaran bahasa di sekolahnya dulu. Kehebatannya menulis puisi membuat gurunya terkesima. Baginya puisi adalah pembangkit jiwa. Menulis puisi berarti membangkitkan jiwa-jiwa yang rapuh dan usang. Puisinya dengan judul “Perempuan dalam payung” berhasil memenangkan sayembara penulisan puisi tingkat provinsi saat dia masih duduk di kelas satu. Sejak saat itulah kepala sekolah menjadikannya sebagai pemimpin redaksi majalah dinding. Puisi tentang sepasang kekasih yang berada dalam satu payung ketika hujan mengepung.

Pertemuan Ratih dengan Alfa bermula saat masa orientasi siswa. Ratih dan Alfa berada dalam satu kelompok. Di akhir masa orientasi siswa setiap kelompok wajib menampilkan pentas di panggung utama, semacam inagurasi yang memang selalu diadakan setiap tahun. Ratih menawarkan diri untuk membaca puisi. Alfa yang pandai memetik gitar mengajukan diri untuk mengiringi Ratih membaca puisi. Saat itu Ratih membawakan puisi karangannya sendiri berjudul “Malam bersamamu”. Malunya Alfa yang meneteskan air mata setelah Ratih selesai membaca puisi, membuat gitarnya basah oleh air mata. Riuh tepuk tangan dari penonton memancarkan senyum di bibir keduanya. Ratih menggandeng Alfa saat berjalan turun dari panggung, menempelkan kepalanya di bahu Alfa yang lebar, lalu mengucapkan terimakasih. Jantung Alfa berdegup kencang, dahinya basah oleh keringat.

“Mau makan apa?” Tanya Ratih.

“Aku lagi ngidam mie goreng nih, ada nggak ya jam segini?” Alfa mengelus perutnya, menatap Ratih.

“Mie Goreng? Hmm… Oh ada! Tapi mie goring kaki lima, gerobakan gitu,” Ratih memegang dagunya, mencoba mengingat.

“Boleh,” Jawab Alfa dengan antusias.

“Yaudah ayo, biasanya jam segini ada di sekitar Taman Srigunting,” Ajak Ratih, berjalan mendahului Alfa.

Saat turun dari panggung, Ratih merasakan lengan Alfa yang dingin dan melihat dahinya yang penuh peluh keringat. Ratih tersenyum menatap Alfa yang mengusap wajahnya—menghilangkan sisa-sisa air mata di pelipisnya. Saat itu juga, Alfa memberanikan diri untuk berkenalan, Ratih menyambutnya dengan antusias, jabat tangan Ratih terasa kuat dan mantap. Air muka Alfa berubah drastis, ada senyum yang merekah, setengah matanya yang tertutup menjadi kesan bagi Ratih, kesan yang tidak bisa dilupakan hingga kini.

Setelah perkenalan itu. Ratih dan Alfa bagai sepasang kekasih yang tidak terlepaskan. Setiap pagi Alfa selalu menjemput Ratih dengan sepeda tua pemberian ayahnya. Memboncengkan Ratih adalah kesenangan bagi Alfa. Di atas sepeda, Ratih selalu membacakan puisi untuk Alfa. Berbeda dengan Ratih, Alfa tidak terlalu paham soal Sastra, Alfa hanya senang mendengar suara Ratih ketika kata demi kata yang diucapkan Ratih bisa membuatnya merinding.

Alfa pintar menggambar dan melukis. Sesekali melukis siluet wajah Ratih di bawah pohon mangga depan rumahnya selepas pulang sekolah. Di kamarnya penuh dengan kertas-kertas dengan gambar dan lukisan berbagai macam. Gambar gedung dengan arsitektur mewah dan klasik lebih banyak menghiasi dinding kamarnya.

“Nah, itu, ada kan,” Ratih menunjuk pedagang mie goreng jawa yang memakai topi caping beranyam bambu, tidak jauh dari Taman Srigunting. Alfa melihatnya, mengaggetkan Ratih dengan bergegegas berlari menuju gerobak cokelat yang warnanya telah pudar itu. Ratih menyusul Alfa, berteriak minta ditunggu.

“Pak, satu porsi ya,” Kata Alfa mengacungkan telunjuknya. Nafas Alfa sedikit terengah-engah selepas lari. Setelahnya, Ratih menampar punggung Alfa lalu memegang perutnya. Mengeluh keusilan Alfa yang belum saja hilang sejak SMA. Nafasnya memburu, lebih sesak ketimbang Alfa.

“Saya juga satu porsi, Pak,” Kata Ratih setelah mengatur nafasnya.

Pedagang mie itu tertawa melihat Alfa dan Ratih, membuat capingnya bergetar. Salah satu pedagang mie yang masih menggunakan tungku dan arang untuk memasak. Setelah bertanya pada Alfa dan Ratih perihal pedas atau tidaknya mie, pedagang itu langsung menyiapkan segala sesuatunya, mengambil kipas beranyam bambu yang diletakkan di atap gerobak, mengipas arang dengan cepat, lalu mengambil wajan yang digantungkan di bagian belakang gerobak, tempat dimana pedagang itu terbiasa mendorong gerobaknya.

Ratih dan Alfa beriringan mencari tempat duduk yang ada di Taman Srigunting. Belum banyak pengunjung pagi itu, hanya ada beberapa muda-mudi yang berfoto dengan latar Gereja Blenduk dan beberapa pedagang yang berjejer. Eksotisme bangunan tua langsung memanjakan Alfa dan Ratih yang duduk bersebelahan menunggu mienya datang. Gereja Blenduk yang putih bersih dengan atap warna merah yang masih bertahan sejak dulu, gedung tua Jiwasraya di depannya dan gedung Marabunta di sisi selatan. Rimbunnya pepohonan membuat suasana menjadi sejuk dan udara terasa segar.

“Nggak banyak berubah ya,” Kata Alfa dengan mata yang masih menyapu seluruh tempat.

“Iya… Ingat nggak, terakhir kita kesini?” Tanya Ratih.

“Ingetlah, yang kamu nangis dengar aku mau pindah ke Jakarta, kan?” Alfa terkekeh menggoda.

“Ih ngarang, siapa yang nangis,” Bantah Ratih, memukul bahu Alfa yang lebar.

“Ih emang iya,” Alfa menjulurkan lidahnya, meledek Ratih yang pipinya memerah.

Alfa dan Ratih bernostalgia, bercerita banyak hal, sembari menyantap mie yang tidak memakan banyak waktu untuk bisa sampai di tangan mereka. Sepuluh tahun tidak mengubah mereka, tidak juga mengubah perasaan Ratih pada Alfa yang mendekam lama—terpelihara dengan baik. Alfa dan Ratih masih terlihat sangat dekat, kehangatan diantara mereka berdua tampak jelas lewat senyum yang merekah dan tawa yang akrab.

Ciuman pertama antara Alfa dan Ratih terjadi saat SMA. Saat malam pentas seni peringatan ulang tahun sekolah. Alfa menarik tangan Ratih yang berdiri—berkumpul bersama teman-temannya menonton bintang tamu yang didatangkan. Alfa mengajak Ratih menjauhi kerumunan, membawanya di sudut lorong sekolah. Ciuman itu terjadi begitu cepat dan sangat lembut. Dahi mereka penuh dengan peluh keringat, tatapan mereka tampak berbeda, seperti tatapan sepasang kekasih yang dimabuk cinta.

“Jadi gimana kuliah jurusan Arsitektur?” Tanya Ratih diakhir sendok mienya.

“Asik kok, Kenapa?” Kata Alfa sembari mengunyah mienya.

“Cuma tanya aja.”

“Kalo kamu gimana? Jadi wartawan, terkenal, namamu tercantum di koran,” Alfa meletakkan piring mie yang telah habis, disampingnya.

“Yah, ini passionku, aku beruntung bisa jadi wartawan,” Kata Ratih menatap Alfa.

“Tapi bukan wartawan yang bisa dibayar kan?” Alfa terkekeh.

“Ya enggaklah, wartawan professional aku nih,” Ratih memukul bahu Alfa.

Alfa bercerita soal keindahan arsitektur di Kota Semarang, kota yang membuatnya tidak ingin singgah karena deretan bangunan tua khas arsitektur Belanda yang masih terjaga dengan baik. Matanya tidak pernah berpaling dari detail-detail indah yang terpampang di setiap bangunan. Bercerita tentang para arsitek yang berkarya di Semarang. Alfa mengidolakan Thomas Kartsen, orang dibalik pembangunan tiga pasar besar di Semarang. Johar, Jatingaleh dan Randusari. Dan berdirinya Rumah Sakit Elizabeth.

“Kenapa kamu mengidolakan Kartsen?” Tanya Ratih

“Sederhana, Tih. Dia arsitek Belanda yang pro-kemerdekaan. Disaat banyak arsitek Belanda yang tidak mengambil sikap itu. Kartsen teguh pada pendiriannya, hingga dia bercita-cita untuk wafat di Indonesia. Yah, meskipun dia wafat secara tragis.”

“Tragis??”

“Iya, tragis. Dia ditangkap tentara Jepang tahun empat dua, Tiga tahun ditahan di Kamp Interniran Cimahi. Akhirnya mati disiksa tahun empat lima.”

Karsten menikahi darah asli Jawa, Soembinah Mangunredjo dan mempunyai empat anak, Regina, Simon, Joris, Barta. Kartsen, putra seorang profesor Filsafat. Ibunya seorang kelahiran Jawa Tengah. Kartsen lulus tahun 1908, mendapat gelar Arsitek dari Technische Hoogeschool, Sekolah Teknik di Delft, Belanda.

“Tahu nggak Ratih. Kartsen itu orang yang suka mengkritik banyak arsitek Belanda sebelum dia, loh.”

“Mengkritik?? Kenapa??” Tanya Ratih.

“Kartsen mengkrtik para arsitek Belanda yang punya konsep menaruh Eropa di Jawa… Itu terbukti dengan adanya bangunan-bangunan khas Eropa di setiap kota di Indonesia.”

“Memangnya, Kartsen punya konsep apa soal arsitektur?” Ratih bertanya penasaran, menatap Alfa yang masih memandang lagit-langit sembari bercerita.

“Bagi Karsten, Jawa ya, Jawa, bukan Belanda. Karsten menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh. Kota harus punya taman dan ruang terbuka hijau. Seperti Srigunting ini. Pemikiran Kartsen itu, jadi sebab munculnya gaya arsitektur Indisch. Yang populer dimasa pra-kemerdekaan.”

“Oh gitu… Aku baru tahu sejarah itu. Memang apalagi karya Kartsen selain Pasar Johar, Jatingaleh, Randu, Rumah Sakit Elizabeth.”

“Itu… Gedung Asuransi Jiwasraya,” Alfa menunjuk gedung yang berada tepat di depan Gereja Blenduk. “Kamu tahu Taman Diponegoro?? Dekatnya Rumah Sakt Elizabeth??” Tanya Alfa.

“Tahu-tahu,” Ratih mengangguk cepat.

“Nah, itu juga salah satu taman terbuka hijau karya Kartsen.”

Ratih terus menatap Alfa dengan kerinduan yang memuncak. Alfa yang sedang berkelakar masih canggung dan malu-malu melihat Ratih yang menatapnya. Setelah dua jam hanya duduk dan membicarakan banyak hal. Akhirnya mata mereka saling menatap dengan air muka yang menahan rindu. Sesekali Ratih menggigit bibirnya, Alfa menahan diri untuk tidak mencium Ratih. Tapi, apa yang ditahan Alfa runtuh dengan sergapan Ratih yang tiba-tiba mengecup bibirnya. Alfa membalasnya. Alfa dan Ratih saling berpelukan setelah kecupan singkat yang entah untuk apa. Senyum Ratih merekah. Tapi Alfa, tampak aneh. Menyentuh bibir dengan jari-jarinya

Hampir pukul dua belas. Teriknya siang terasa hingga kulit Ratih yang putih mulus. Alfa bersiap untuk kereta selanjutnya menuju Malang, Ratih mengikuti Alfa dengan wajah pasi menahan kecanggungan dianatara mereka. Tanpa sadar perjalanan dari taman itu ke Stasiun Alfa menggandeng Ratih. Mengelus punggung tangan Ratih dengan ibu jarinya. Ratih yang tidak lebih tinggi dari Alfa, menatapnya, hidung mancung Alfa tampak mengacung.

Setengah jam sebelum kereta berangkat. Alfa yang menunggu seseorang di depan pintu masuk, terus melihat arlojinya. Ratih masih menemani Alfa sembari membuka pembicaraan. Alfa meminta maaf. Kecupan yang harusnya tidak terjadi diantara mereka, telah membuat Ratih merasa terbuka lagi. Perasaan Ratih membuncah. Seperti jaring laba-laba yang menua, yang tersentuh tapi tidak hancur.

Lima belas menit menunggu. Taksi biru berhenti tepat di depan Ratih dan Alfa. Ratih melihat Alfa yang tersenyum, melambaikan tangan pada seorang anak. Seorang anak berumur lima tahun langsung berlari menuju Alfa—memeluknya. Kening Ratih mengkerut ketika melihat seorang wanita dengan terusan hitam tanpa lengan yang turun dari taksi. Rambutnya yang pendek—boobs, matanya yang berkilau dan kulit yang langsat, berjalan menuju ke arahnya. Alfa menyalaminya lalu wanita itu mencium kedua pipi Alfa.

“Kenalin, Tih. Ini Anna,” Kata Alfa menatap Ratih yang bingung

“Ratih,” Ratih menyalami wanita itu.

“Anna… Anna Kartsen.”

“Nava, ayo salim sama tante Ratih,” Kata Alfa. Nava menyalami Ratih malu-malu, mencium punggung tangannya.

“Anakku,” Senyum Alfa menatap Ratih.

Kening Ratih mengkerut, penuh dengan peluh keringat. Jantungnya berdegup kencang terlihat dari dadanya yang bergetar. Tampak kentara.

“Aku duluan ya, Tih.” Alfa menyalami Ratih—berlalu, Masuk setelah Nava memanggil namanya.