aku ingin kembali
pada setiap kata yang pernah ada Kita,
atau setiap rasa yang dulu pernah ada
aku lelah
merasa diri baik-baik saja
tapi hati terkapar lemah
aku memilih menyerah
di antara kesedihan lama
dan luka yang belum juga reda
sungguh di pelukanmu aku luruh,
sebab suara tak lagi lirih
karena senyummu mampu menghilangkan perih.
aku akan pulang
ke tempat seharusnya kita berdua
di tubuhmu yang tumbuh aku
Semarang, 2 Juni 2019
Sunday, June 2, 2019
Tuesday, May 28, 2019
Menunggu itu Seni
Aku pernah cerita
Tentang mengapa kita tak pernah bisa bersama.
Aku suka menatap kedalaman matamu
Menikmati senyum dan candamu
Menikmati peluk yang hangat saat kau cerita tentang kekasihmu
Aku tak ingin kehilangan itu
Aku memilih melihatmu dari kacamatku .
Rinduku selalu terlambat satu detik,
ada orang lain yang lebih dulu mengucap itu,
dan kamu terlanjur tersipu
Aku memilih menunggu
Menunggu itu seni,
karena kita bertaruh pada yang tak pasti.
Semarang, 29 Mei 2019
Tentang mengapa kita tak pernah bisa bersama.
Aku suka menatap kedalaman matamu
Menikmati senyum dan candamu
Menikmati peluk yang hangat saat kau cerita tentang kekasihmu
Aku tak ingin kehilangan itu
Aku memilih melihatmu dari kacamatku .
Rinduku selalu terlambat satu detik,
ada orang lain yang lebih dulu mengucap itu,
dan kamu terlanjur tersipu
Aku memilih menunggu
Menunggu itu seni,
karena kita bertaruh pada yang tak pasti.
Semarang, 29 Mei 2019
Tuesday, May 14, 2019
Kita dan Cerita yang Singkat
Kita membiarkan diri
larut pada cerita masing-masing.
Sampai kita lupa,
di cerita orang lain,
kita jadi bagian paling penting.
Namun kita memilih
untuk tidak hadir
melengkapi cerita itu
Kau selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian,
Karena,
Setelah kamu, mereka yang datang hanya menjadi cerita-cerita yang singkat
Semarang, 15 Mei 2019
larut pada cerita masing-masing.
Sampai kita lupa,
di cerita orang lain,
kita jadi bagian paling penting.
Namun kita memilih
untuk tidak hadir
melengkapi cerita itu
Kau selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian,
Karena,
Setelah kamu, mereka yang datang hanya menjadi cerita-cerita yang singkat
Semarang, 15 Mei 2019
Tuesday, May 7, 2019
SEMUA DITINGGALKAN SAAT SEMUA DIHAPUSKAN
Delapan hari setelah kiamat terjadi, seorang lelaki
duduk di depan gereja dengan dasi bermotif merpati dan sepasang sepatu hitam
pemberian sang istri. Wajahnya muram seperti mendung malam atau barangkali
tembok yang kusam. Ia membawa setangkai mawar merah yang sudah tak lagi
merekah, ia berpikir bahwa dirinya telah kalah; menyendiri di antara reruntuhan
gedung lima lantai dan kedai kopi tempat ia biasa menepi. “Ini akhirnya,”
gumamnya setiap kali angin dan debu menyentuh kulit yang menghitam karena tak
lagi pernah mandi.
Sehari sebelum kiamat terjadi ia punya janji dengan
seorang misionaris yang ia temui pertama kali usai ibadah di minggu pagi. Tak
lagi ada pretensi, pikirnya saat ia melihat misionaris itu keluar dari gereja
yang mulai sepi. Ia mengikuti wanita itu sampai di depan rumah, kecanggungan
seketika melumuri tubuhnya saat wanita itu melihat dirinya. “Ada yang bisa saya
bantu?” bahkan ia ingat kalimat pertama yang keluar dari bibir misionaris itu.
Lalu ia pergi tanpa permisi dengan jantung yang berdebar kencang seperti mesin
Ferrari milik Didier Pironi, ia meninggalkan sang misionaris sendiri.
Pertanyaan lalu muncul dan merebak hingga ke ubun-ubun,
semuanya berebut minta dijawab lebih dulu, “Wanita itu anggun,” pikirnya saat
pergi dari depan rumah sang misionaris, dan menyusuri jalan yang terasa panjang
tanpa ujung. Hari-hari ia habiskan dengan menguntit, berbicara pada diri
sendiri; bagaimana cara untuk bisa bertatap muka dengannya, membicarakan banyak
hal mulai dari anjing lucu yang ia lihat menggeliat di kaki misionaris setiap
kali wanita itu meninggalkan rumah, atau tentang Tuhan yang telalu lama
terlelap sampai alpa bahwa dunia telah bergeser entah ke mana.
Ia yang seorang Budha taat duduk di dalam gereja saat
ibadah minggu pagi sesak oleh keluarga yang berharap kebaikan dunia. Ia diam
dan mendengar semua cerita dari Pastor berambut putih dengan monokel di mata
kiri. Ia mengambil Injil yang tersedia di depannya—ada kantong yang disediakan
di belakang kursi untuk menampung kitab suci. Ia membukanya perlahan sembari
menciumi bau kertas. Ia merasakan ketenangan dalam hatinya yang memerah karena
setiap kata yang keluar dari pastor itu, ketenangan yang sama saat ia beribadah
atau melakukan semedi di tengah malam.
lalu ia melihat misionaris itu, kembali jantungnya
berdebar kencang. Ia fokus menatap ke depan, sesekali melirik. Ia merasa
misionaris itu terus menatapnya sampai ibadah pagi selesai.
“Saya tahu kamu bukan seorang Kristen,” misionaris itu
berdiri di depan pintu. Mereka bersalaman, “Saya Maryam,” dari berbagai nama
yang lelaki itu pikirkan, ia sama sekali tak memikirkan nama mainstream itu.
“Ya saya tahu, nama yang mencolok, sangat mainstream,” ucap misionaris setelah
melihat senyum yang aneh dari lelaki itu. Sang Misionaris melepas jabat
tangannya, dan lelaki itu masih belum mengucapkan apa-apa. “Tunggu saya di
sana, saya akan menemuimu sepuluh menit lagi,” lelaki itu duduk di bawah pohon
yang rindang—matanya tak pernah lepas dari misionaris yang menyapa semua jemaat
sampai gereja sepi.
“Saya lebih suka disebut biarawati, bukan misionaris,”
wanita itu membuka percakapan, lalu duduk setelahnya. “Saya tahu kamu akan
menulis misionaris di ceritamu nanti.”
“Aku bahkan belum terpikiran untuk menulis pengalaman
ini.”
“You will,” biarawati itu tersenyum.
“Ada apa dengan misionaris?”
“Saya tidak suka posisi itu.”
Keduanya tertawa.
Hari-hari setelahnya Maryam dan lelaki yang bahkan
lupa mengenalkan dirinya menghabiskan waktu berdua hampir setiap hari. Maryam
hanya punya waktu pukul lima sore hingga tujuh malam, lelaki itu tak pernah
ingin membuang-buang waktu, hanya dua jam dari 24 jam dalam sehari yang ia
punya untuk bertemu Maryam. Saat ibadah minggu lelaki itu selalu datang ke
gereja—sendirian, orang-orang mempertanyakan ia dari komunitas apa. Tak ada
yang mengenalnya kecuali orang-orang gereja—Maryam dan Pastor bermonokel.
Hari-hari mereka habiskan duduk di taman kota, saling
berpandang, membicarkan hal-hal yang bukan tentang keduanya. Sesekali mereka
pergi ke museum kota, atau menikmati kopi susu di kedai yang berbeda lalu
membandingkan rasanya.
Seminggu sebelum kiamat terjadi, lelaki itu berulang
tahun yang ke empat puluh tujuh, Maryam menghadiahinya sebuah dasi bermotif
merpati. Maryam bilang merpati adalah simbol cinta, simbol pembawa pesan
perdamaian. Lelaki itu merekah saat kata-kata dari Maryam menyentuh lembut
telinganya, dan mereka berpelukan di antara malam yang dingin di bangku taman
kota.
“Aku punya istri,” lelaki itu membuka obrolan setelah
pelukan mereka yang lama.
“Saya tidak kaget,” Maryam tersenyum.
“Lalu?”
“Apa?”
“Tak biasanya seorang perempuan merasa tenang dan
baik-baik saja mendengar seorang lelaki mengaku telah memiliki istri.”
“Memangnya saya bisa apa? Saya telah memutuskan, tidak
ada yang perlu disesali. Barangkali kamu yang menyesal, menikahi seseorang yang
sama sekali tidak kamu cintai. Karena itu kamu ada di sini.”
“Bukan makasudku membohongi istriku. Aku hanya. . .”
kata-kata tertahan di atas kepala, lelaki itu berusaha keras mencari kata yang
tepat.
“Daripada memahami kompleksitas manusia, kamu memilih
menghindarinya. Padahal, kita adalah entitas tunggal yang tak akan pernah
terpecahkan.”
Obrolan mereka terhenti, sudah tepat pukul tujuh, dan
Maryam harus segera pergi.
Keesokan harinya Maryam tak terlihat di mana-mana,
lelaki itu merasa telah melakukan kesalahan yang membuat Maryam mungkin
menjauhinya. Hari-hari ia habiskan di dalam gereja, duduk lesu, memikirkan banyak
kemungkinan. Sampai dua hari sebelum kiamat terjadi ia tetap diam bahkan saat
lonceng gereja keras terdengar menggetarkan pipi dan telinga. Sampai ketika ia
bangkit untuk pulang, ia melihat Maryam berdiri di altar gereja, lelaki itu
tersenyum dan menghapus air matanya, berjalan cepat menghampiri—nyaris berlari
lalu memeluk erat Maryam yang tampak cantik dengan gaun putih tanpa lengan.
“Lima hari aku menunggumu, duduk di gereja dan
mencarimu di rumah,” lelaki itu mengelus lembut punggung Maryam.
“Lima hari saya mencari jawaban.”
“Jawaban?” lelaki itu melepas peluk, menatap Maryam
penuh tanya.
“Temui aku di sini besok, kamu akan tahu semua
jawabannya.”
Keduanya menghabiskan hari sampai lupa waktu, sudah
lewat pukul tujuh, dan Maryam hanya diam tersenyum saat lelaki itu bertanya batas
waktu yang sudah lewat, tidak seperti biasa—Maryam mengabaikannya. Maryam makin
erat menggenggam tangan lelaki itu. Malam yang dingin menyelimuti kota, Maryam
bersandar pada pundak lelaki itu, menyenandungkan sebuah lagu yang membuat
lelaki itu terpejam karena merdu senandung Maryam.
“Kamu tahu, semua akan dihapuskan setelah kita tua,
nama, usia, masa lalu, setiap kenangan bahkan masa depan. Dan kita hanya bisa
tinggal—menunggu sampai waktunya datang.”
Lelaki itu diam, dengan perasaan yang berkecamuk di
dalam.
“Semua akan ditinggalkan saat semuanya dihapuskan.
Masing-masing menjadi sendiri, bahkan waktu terdiam, ruang-ruang dibelokkan.
Saat akhir segalanya mulai muncul ke permukaan, kita dipaksa melupakan
segalanya.”
Maryam mencium pipi lelaki itu. Lalu malam
menghabiskan diri saat keduanya bercinta di bangku taman.
----
Sunday, March 10, 2019
Kolase Epidemi
Ada sesuatu yang
hilang sejak satu per satu orang pergi tanpa meninggalkan jejak. Pergi tanpa
memberi arti yang lebih. Pergi tanpa satu kata pun. Semua seolah jadi tanpa
arti, dari semua yang dibangun dengan susah payah, atau yang dibangun hanya
dari melanjutkan sesuatu yang dimulai orang lain. Ada yang hilang dari dalam
dirimu, tapi kamu berusaha keras mencari apa yang kosong, sisi apa yang
seharusnya diisi. Aku bingung, sesuatu hilang bahkan tak kusadari kapan
perasaan ini memulai diri di dalam bagian hidupku. Seolah semuanya terjadi
alamiah, seolah memang hal itu harus terjadi dan bagian dari perjalanan hidup.
Mungkin ada
orang menyebutnya depresi, kekosongan yang lahir dari keramaian tingkat tinggi
yang sebelumnya ada dan dibangun bersama orang-orang sakit yang ibu jarinya tak
pernah berhenti mengonsumsi gossip artis ibu kota. Pernahkah kamu merasa
sendiri—kesepian saat suasana sebetulnya sedang sangat bising-bisingnya. Ini
seperti kamu berada di sebuah kotak kaca, kamu terkurung di dalamnya dan dari
dalam kamu melihat keramaian di luar, keramaian yang terus mengular tanpa
henti.
Barangkali semua
memang dilahirkan dengan epideminya masing-masing, yang disusun seperti sebuah
kepingan puzzle, dan kita selalu kehilangan keping terakhir. Ada kekosongan di
sana yang perlu diisi sebelum bentuk keindahannya bisa benar-benar utuh
dinikmati, tapi apakah kita sanggup menemukan keping terakhir itu sendirian.
Lama-lama epidemimu membentuk sebuah kolase yang indah, namun tetap ada yang
kurang, seperti melihat matahari terbit saat mendung menutupinya dan kamu hanya
bisa melihat sisa-sisa cahaya yang muram terpancar dari balik awan. Kita sebut
apa ini? Kesedihan mendalam? Atau hanya ketidakberuntungan.
Otakmu dipenuhi
berbagai macam pertanyaan, dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit,
tentang mengapa cinta tak pernah punya makna yang pasti, atau tentang mengapa sebelum
tidur kita selalu memikirkan orang yang sama. Aku pernah ada di titik sangat
dicintai lalu berakhir sangat tidak dicintai, rasanya begitu membingungkan—aneh.
Kita belajar memahami setiap inci pemikiran manusia, sebelum kita selesai
mempelajarinya kita dihadapkan pada manusia lainnya, yang barangkali bahkan
lebih rumit untuk dibedah. Mungkin karena dinding yang ia bangun untuk menutup
semuanya.
Aku berhenti
menulis sangat lama, sejak yang terakhir benar-benar mengguncangku, aku
mengutuk diri sendiri, mengapa tak pernah benar-benar mampu mencintai seseorang
yang datang, aku selalu mencari rumus yang tepat tapi tak pernah kutemui di
mana-mana. Semesta selalu punya caranya sendiri, meski kadang dengan cara-cara
itu aku tak pernah menyukainya. Aku ingat semuanya, orang-orang yang
menceritakan kisahnya padaku, dan berakhir bahagia karena semuanya selesai
dengan baik. Tapi mereka melupakan aku, selalu ada korban dari setiap
perjalanan, korban dari setiap cerita, menjadi korban karena mendengarkan
adalah caraku mengutuk diri sendiri. Tak pernah mampu mengurus jalan hidup
sendiri, tapi khatam mengurus masalah orang lain. Lalu salah siapa?
Rasa kecewa
barangkali akan menjadi nama tengahku, aku bahkan heran banyak orang membuatku
kecewa, banyak orang berlagak baik menawarkan sesuatu, tapi berakhir menjadi epidemi
yang mengakar keras, tanpa suara, tanpa gerak, bahkan tanpa hembus napas.
Mereka tanpa sadar membentuk sebuah monster yang akhirnya tidak percaya pada
human relationship, saat tulisan ini dibuat barangkali namamu adalah salah satu
nama yang ada di buku catatanku, dan menjadi salah satu nama yang dicoret—dihapuskan
dari memori dan tak lagi ingin kusentuh. Aku heran sendiri, tak pernah ada kata
maaf, seolah hal semacam itu bukanlah sebuah kesalahan. Kali ini aku bingung,
bagaimana bisa membuat kecewa, marah, menyesal, sebal seorang manusia bisa
disebut bukan kesalahan.
Saya hilang
ketertarikan, pada semua hal, pada semua yang datang, pada semua yang
menawarkan romantisme namun sama sekali tidak romantis. Orang harus belajar
cara memelihara manusia lainnya, bahwa jika kau mencintai seseorang buat dia
merasa bebas, yakinkan dia, bukan mengikat dia dengan ikatan yang sempurna dan
bikin sesak napas. Orang harus belajar itu, sebelum menerima kekuatan tertinggi
yang bisa tuhan beri. Seketika cinta jadi tak punya arti karena dibentuk dan
dibawa oleh orang-orang yang tak paham cara memahami manusia, semua berlagak
ingin menjadi yang paling perhatian namun sejatinya hanya bikin muntah. Posesif
adalah senjata nuklir yang mematikan, dan aku muak.
Seperti
mendengar amarah ibu yang tak kunjung henti saat anaknya melakukan kesalahan
fatal, atau sekadar nakal yang sebetulnya bisa dimaafkan dalm satu kata. Tapi
semua itu tak bisa keluar, ia tertahan di ubun-ubun, dan rasanya panas. Kau
selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila,
kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar
ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian, Jari-jari ikut marah, saat isi
kepala keluar seperti muntahan, aku sakit tapi tak kuketahui apa obatnya,
bingung dan mencari namun terus menemukan jalan buntu, di saat yang sama, aku
melihat semua orang tampak senang, tampak tak punya masalah, meski mungkin di
kamar tidurnya seluruh bantal basah oleh air mata. Mereka hanya menemukan
kesenangan-kesenangan kecil.
Saat ditanya apakah kamu bahagia? Hanya ada suara
yang mendengung keras di dalam kepala.
-----
Tuesday, October 23, 2018
Sebelum K*ta Pergi
3 tahun lalu seorang yang kukasihi mati karena miom
ganas yang tumbuh di kelaminnya. Saat itu, aku merasakan duka yang belum pernah
kualami. Aku tak tahu lagi bagaimana keluar dari duka itu. Sebelum kematiannya,
ia seolah memberi pesan bahwa setidaknya, ia ingin menulis satu cerita semasa
hidupnya. Ia memilihku untuk membantunya, kita punya cita-cita untuk menulis
sebuah novel dengan nama kita di halaman depan. Lalu pertemuan-pertemuan terus
terjadi.
Kami intense berdiskusi, menciptakan banyak
karakter, ia yang terlalu kebarat-baratan. Dan aku yang tak terlalu suka dengan
gaya itu, ditabrakkan bersama. Ruang jadi seru, ego kami tak ada yang surut.
Namun kami tahu, di sana titik seni tumbuh. Ia memberikan sebuah nama untuk
karakter utama; Namanya Ranum, umur 23 seorang aktivis perempuan yang punya
toko bunga dan kuliah di Amsterdam. Tokoh itu murni dia yang membuat, aku hanya
membantunya sedikit. Lalu aku membuat antitesis tokoh utamanya, yang jadi
penyeimbang. Namanya Sean, seorang perempuan tomboy umur 24 tahun penjual kue
di Amsterdam, tokonya tepat di samping toko bunga milik Ranum.
Kamu yang mengikuti perkembanganku menulis mungkin
langsung bisa menebak bahwa tulisan yang aku maksud ini berjudul "Ran
Fleuriste." yang pada akhirnya hanya menjadi serial di blog sebanyak dua
puluh episode. Saat itu banyak yang mencintai tokoh Ranum dengan segala
kompleksitasnya. Namun di tengah kami berproses menulis ini. Perempuan itu
pergi tanpa kabar, ia tak memberiku kabar apa pun. Aku tahu, saat pertemuan
kami yang terakhir, ia menahan sakit di perutnya hingga tampak ingin menangis.
Aku mengantarnya pulang, tapi ia hanya ingin aku
mengantarkannya sampai ke jalan besar sebelum masuk perumahan tempat ia
tinggal. Sampai sebulan setelah itu, aku sama sekali tak mendengar kabarnya.
Kemudian aku dengar kabar bahwa ia sudah mati karena miom ganas yang tumbuh di
vaginanya, dan hingga detik ini aku belum pernah ziarah ke makamnya. Sungguh
aku tak tahu di mana.
Tulisan kami belum sampai setengah dari target. Tak
ada tenaga untuk melanjutkan kisah itu sendirian. Aku merasa benci pada diri
sendiri. Aku tak memahami apa-apa tentang dirinya, barangkali itu memang
kelemahanku—tak pernah mampu memahami siapa pun. Sampai akhirnya aku memutuskan
untuk merilisnya di blog sebanyak 10 episode. Murni sebagai caraku untuk
menjadi baik-baik saja saat nanti kenangan itu datang kembali. Kalo kamu
mengikuti blogku sejak awal barangkali kamu tau ini; bahwa banyak sekali yang
menyukai tulisan itu. Lalu satu tahun setelahnya kubuatkan 10 episode lagi. Aku
merasa ada pelepasan emosi yang ada di sana, aku merasa sudah baik-baik saja saat
kenangan itu datang kembali.
Ternyata aku merasa tidak cukup baik-baik saja. Aku
merasa perlu memindahkan kenangan-kenangan itu ke sebuah media lain. Lalu aku
menulis novel pertamaku; Dhanurveda. Dengan dia sebagai tokoh utamanya. Pada
titik itu, saat rilis pertama kali, February 2017. Aku merasa benar-benar sudah
ikhlas atas kepergiannya. Setelah merasa ikhlas aku menceritakan masa-masa itu
ke bapak ibuku. Bapak mungkin yang paling sportif, lalu ia menyarankanku untuk
menulis satu novel lagi yang terinspirasi dari kisahku dan perempuan itu. Enam
bulan kemudian Tentang Anna rilis. Tak sulit aku menulisnya, hanya harus
menahan duka itu kembali saat menuliskannya. Bagi sebagian orang pasti paham
siapa wanita itu. Tokoh utama dari babak pertama kehidupan yang membentuku
hingga kini.
Lalu babak kedua dimulai saat proses menulis
Dhanurveda, ada seorang perempuan, ia kuliah di Jerman. Asli Semarang yang ternyata
rumahnya tak jauh dari rumahku. Ia Mengirimiku pesan, bahwa ia sangat mencintai
salah satu tulisanku. Saat itu aku sedang berada di Bandung untuk menghadiri
Festival Film Bandung. Awalnya ia hanya menjadi perempuan biasa seperti yang
lain, yang hanya pensaran bagaimana aku. Lalu pergi tak meninggalkan jejak.
Ternyata ia lebih dari itu. Ia menjadi teman
diskusiku, meski jarak terbentang dua benua memisahkan kami. Sampai untuk
pertama kalinya kami bertemu. Ada debar yang belum pernah kualami sebelumnya.
Kami dekat hingga mengalami masa trans bersama. Selama satu bulan liburannya di
Indonesia, tak ada satu hari pun yang tidak kami lewati bersama.
Tapi ini inti dari babak kedua. Sehari sebelum
kepergiannya lagi ke Jerman, ia mengakui satu hal; bahwa ia telah memiliki
kekasih, dan aku hanya menjadi orang ketiga dari hubungan itu. Saat itu aku
sedang menulis Tentang Anna. Dan bersamaan dengan itu, aku mengalami badai
sekali lagi, patah hati sekali lagi. Merusak tujuanku menulis Tentang Anna yang
awalnya hanya untuk perempuan itu. Lantas di dalam emosi yang masih meluap aku
sekaligus menceritakan pertemuanku dengan wanita Jerman ini. Barangkali
sebagian dari pembaca tulisan ini tahu bagian cerita ini yang sepenuhnya aku
ceritakan di Tentang Anna.
Aku seperti mengalami dejavu, namun badai kali ini
rasanya lebih kuat, aku sudah berharap banyak bahwa wanita Jerman benar-benar
akan menjadi pengganti yang sepadan. Barangkali kamu membaca tulisanku ini. Aku
tidak masalah dengan bagian ceritaku itu, paling tidak aku tahu bahwa kamu
lebih mencintaiku daripada kekasihmu sendiri. Problemnya hanya jarak yang
memisahkan kita. Tak tanggung-tanggung, beda benua, beda agama, dan aku hanya
jadi orang ketiga. Sapa aku setelah ini, paling tidak hanya dengan kata “Hai”
yang membuatku sering begadang saat itu, karena perbedaan waktu yang membuatku
sekadar ingin mendengar suaramu. Maaf aku tak jadi ke Bandung Agustus lalu,
saat kamu memintaku dating ke sana. Putusan itu sungguh berat, di saat yang
sama aku sedang dekat dengan wanita lain. Yang akan menjadi tokoh utama di
babak ketigaku—setelah ini.
Babak ketiga ini akan sangat singkat, tapi sungguh
membunuhku di dalam. Aku pernah membaca sebuah buku tentang bagaimana manusia
sangat rentan katanya “yang lama tidak jatuh cinta pasti kaget ketika akhirnya
kembali jatuh cinta lagi. Ia akan menjadi posesif, terlalu cinta, terlalu
takut, dan terlalu mengikat. Ia akan menuntut menjadi mesra, menjadi sesuatu
yang sebelumnya tidak ia rasakan. Padahal untuk bisa menikmati cinta, kita
perlu ruang, perlu jeda, perlu paham.”
Tepat satu tahu kepergian wanita Jerman untuk
kembali melanjutkan studinya, aku mengenal seorang wanita yang namanya pernah
menjadi salah satu judul puisi di blog ini. Awalnya ia sama dengan wanita lain
yang mengisi ruang-ruang chatku. Cerita tentang masa lalunya, tentang pria yang
pernah menyakitinya. Saat itu ada beberapa wanita yang intense mengirimiku
pesan. Pada satu titik, aku mengabaikan semuanya lalu menetap di satu ruang.
Wanita itu menawarkan kegilaan seteleha pertemuan kami yang pertama tanggal 4
September di sebuah coffeeshop dekat rumahku. Ia wanita yang membuatku begadang
sekali lagi, kupikir ia sedang jatuh cinta. Atau barangkali aku yang terlalu
kepedean.
Kamu perlu mencatat ini “Aku sungguh mencintainya.”
Setelah anggap saja kena tipu oleh si wanita Jerman. Aku seperti menemukan
wanita lain yang rasanya saat berhubungan dengannya aku seperti memasuki
masa-masa tiga tahun lalu—tanpa maksud membandingkannya. Aku hidup—aku menceritakannya
ke ibu & bapakku, ke seluruh keluargaku. Mereka justru menggodaku yang lama
tak mencintai seorang wanita. Kali ini ibuku yang menjaga aku untuk tetap
waras, untuk tidak mendengar yang lain. Untuk stay on the track bahwa wanita
ini memang sepatutnya aku pelihara.
Sampai di sini barangkali kamu paham bagaimana
akhirnya. Kami mengalami pertengkaran hebat, karena aku yang terlalu
menuntutnya, aku yang terlalu cinta, terlalu menginginkan ia baik-baik saja.
Terlalu, semuanya barangkali serba terlalu. Aku berniat untuk minta maaf,
menurunkan egoku hingga ke titik nadir. Tapi ia menolak untuk bertemu aku
seminggu yang lalu, saat kudatangi kotanya. Dan aku menempuh perjalanan pulang
dengan badai dahsyat sekali lagi. Sesekali berhenti untuk menyeka tangis di
pipi. Aku hanya sanggup menulis sampai di sini, karena badai itu masih keras
terasa di dalam. Sekali lagi dejavu itu datang. Mungkin bedanya aku tak lagi ingin
menulis buku. Aku ingin berhenti menulis. Mungkin benar-benar kembali menikmati
tubuh sendiri. Atau sekadar minum es teh buatan ibu.
Terima Kasih :)
-----
Monday, October 15, 2018
3 Menit Sebelum Patah Hati (Pembunuh Terakhir)
Aku membuka pedal saat menaiki motor untuk membuatmu nyaman.
Aku siap berdamai dari amarah semalam
"Kita mau ke mana?" tanyaku lembut
"Aku gak tahu loh mau ke mana," jawabmu ketus.
"Iyaudah yuk aku anter pulang."
"Kalo pulang aku bisa sama yang lain sih."
Lalu aku menempuh 50 km sedikit lebih lama,
sesekali berhenti untuk menyeka air mata.
Salatiga, 15 Oktober 2018
Subscribe to:
Posts (Atom)