Sunday, June 2, 2019

Di Tubuhmu Tumbuh Aku

aku ingin kembali
pada setiap kata yang pernah ada Kita,
atau setiap rasa yang dulu pernah ada

aku lelah
merasa diri baik-baik saja
tapi hati terkapar lemah

aku memilih menyerah
di antara kesedihan lama
dan luka yang belum juga reda

sungguh di pelukanmu aku luruh,
sebab suara tak lagi lirih
karena senyummu mampu menghilangkan perih.

aku akan pulang
ke tempat seharusnya kita berdua
di tubuhmu yang tumbuh aku


Semarang, 2 Juni 2019

Tuesday, May 28, 2019

Menunggu itu Seni

Aku pernah cerita
Tentang mengapa kita tak pernah bisa bersama.

Aku suka menatap kedalaman matamu
Menikmati senyum dan candamu
Menikmati peluk yang hangat saat kau cerita tentang kekasihmu

Aku tak ingin kehilangan itu
Aku memilih melihatmu dari kacamatku .
Rinduku selalu terlambat satu detik,
ada orang lain yang lebih dulu mengucap itu,
dan kamu terlanjur tersipu

Aku memilih menunggu
Menunggu itu seni,
karena kita bertaruh pada yang tak pasti.


Semarang, 29 Mei 2019

Tuesday, May 14, 2019

Kita dan Cerita yang Singkat

Kita membiarkan diri
larut pada cerita masing-masing.

Sampai kita lupa,
di cerita orang lain,
kita jadi bagian paling penting.

Namun kita memilih
untuk tidak hadir
melengkapi cerita itu

Kau selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian,

Karena,
Setelah kamu, mereka yang datang hanya menjadi cerita-cerita yang singkat


Semarang, 15 Mei 2019

Tuesday, May 7, 2019

SEMUA DITINGGALKAN SAAT SEMUA DIHAPUSKAN


Delapan hari setelah kiamat terjadi, seorang lelaki duduk di depan gereja dengan dasi bermotif merpati dan sepasang sepatu hitam pemberian sang istri. Wajahnya muram seperti mendung malam atau barangkali tembok yang kusam. Ia membawa setangkai mawar merah yang sudah tak lagi merekah, ia berpikir bahwa dirinya telah kalah; menyendiri di antara reruntuhan gedung lima lantai dan kedai kopi tempat ia biasa menepi. “Ini akhirnya,” gumamnya setiap kali angin dan debu menyentuh kulit yang menghitam karena tak lagi pernah mandi.

Sehari sebelum kiamat terjadi ia punya janji dengan seorang misionaris yang ia temui pertama kali usai ibadah di minggu pagi. Tak lagi ada pretensi, pikirnya saat ia melihat misionaris itu keluar dari gereja yang mulai sepi. Ia mengikuti wanita itu sampai di depan rumah, kecanggungan seketika melumuri tubuhnya saat wanita itu melihat dirinya. “Ada yang bisa saya bantu?” bahkan ia ingat kalimat pertama yang keluar dari bibir misionaris itu. Lalu ia pergi tanpa permisi dengan jantung yang berdebar kencang seperti mesin Ferrari milik Didier Pironi, ia meninggalkan sang misionaris sendiri.

Pertanyaan lalu muncul dan merebak hingga ke ubun-ubun, semuanya berebut minta dijawab lebih dulu, “Wanita itu anggun,” pikirnya saat pergi dari depan rumah sang misionaris, dan menyusuri jalan yang terasa panjang tanpa ujung. Hari-hari ia habiskan dengan menguntit, berbicara pada diri sendiri; bagaimana cara untuk bisa bertatap muka dengannya, membicarakan banyak hal mulai dari anjing lucu yang ia lihat menggeliat di kaki misionaris setiap kali wanita itu meninggalkan rumah, atau tentang Tuhan yang telalu lama terlelap sampai alpa bahwa dunia telah bergeser entah ke mana.

Ia yang seorang Budha taat duduk di dalam gereja saat ibadah minggu pagi sesak oleh keluarga yang berharap kebaikan dunia. Ia diam dan mendengar semua cerita dari Pastor berambut putih dengan monokel di mata kiri. Ia mengambil Injil yang tersedia di depannya—ada kantong yang disediakan di belakang kursi untuk menampung kitab suci. Ia membukanya perlahan sembari menciumi bau kertas. Ia merasakan ketenangan dalam hatinya yang memerah karena setiap kata yang keluar dari pastor itu, ketenangan yang sama saat ia beribadah atau melakukan semedi di tengah malam.

lalu ia melihat misionaris itu, kembali jantungnya berdebar kencang. Ia fokus menatap ke depan, sesekali melirik. Ia merasa misionaris itu terus menatapnya sampai ibadah pagi selesai.

“Saya tahu kamu bukan seorang Kristen,” misionaris itu berdiri di depan pintu. Mereka bersalaman, “Saya Maryam,” dari berbagai nama yang lelaki itu pikirkan, ia sama sekali tak memikirkan nama mainstream itu. “Ya saya tahu, nama yang mencolok, sangat mainstream,” ucap misionaris setelah melihat senyum yang aneh dari lelaki itu. Sang Misionaris melepas jabat tangannya, dan lelaki itu masih belum mengucapkan apa-apa. “Tunggu saya di sana, saya akan menemuimu sepuluh menit lagi,” lelaki itu duduk di bawah pohon yang rindang—matanya tak pernah lepas dari misionaris yang menyapa semua jemaat sampai gereja sepi.

“Saya lebih suka disebut biarawati, bukan misionaris,” wanita itu membuka percakapan, lalu duduk setelahnya. “Saya tahu kamu akan menulis misionaris di ceritamu nanti.”

“Aku bahkan belum terpikiran untuk menulis pengalaman ini.”

“You will,” biarawati itu tersenyum.

“Ada apa dengan misionaris?”

“Saya tidak suka posisi itu.”

Keduanya tertawa.

Hari-hari setelahnya Maryam dan lelaki yang bahkan lupa mengenalkan dirinya menghabiskan waktu berdua hampir setiap hari. Maryam hanya punya waktu pukul lima sore hingga tujuh malam, lelaki itu tak pernah ingin membuang-buang waktu, hanya dua jam dari 24 jam dalam sehari yang ia punya untuk bertemu Maryam. Saat ibadah minggu lelaki itu selalu datang ke gereja—sendirian, orang-orang mempertanyakan ia dari komunitas apa. Tak ada yang mengenalnya kecuali orang-orang gereja—Maryam dan Pastor bermonokel.

Hari-hari mereka habiskan duduk di taman kota, saling berpandang, membicarkan hal-hal yang bukan tentang keduanya. Sesekali mereka pergi ke museum kota, atau menikmati kopi susu di kedai yang berbeda lalu membandingkan rasanya.

Seminggu sebelum kiamat terjadi, lelaki itu berulang tahun yang ke empat puluh tujuh, Maryam menghadiahinya sebuah dasi bermotif merpati. Maryam bilang merpati adalah simbol cinta, simbol pembawa pesan perdamaian. Lelaki itu merekah saat kata-kata dari Maryam menyentuh lembut telinganya, dan mereka berpelukan di antara malam yang dingin di bangku taman kota.

“Aku punya istri,” lelaki itu membuka obrolan setelah pelukan mereka yang lama.

“Saya tidak kaget,” Maryam tersenyum.

“Lalu?”

“Apa?”

“Tak biasanya seorang perempuan merasa tenang dan baik-baik saja mendengar seorang lelaki mengaku telah memiliki istri.”

“Memangnya saya bisa apa? Saya telah memutuskan, tidak ada yang perlu disesali. Barangkali kamu yang menyesal, menikahi seseorang yang sama sekali tidak kamu cintai. Karena itu kamu ada di sini.”

“Bukan makasudku membohongi istriku. Aku hanya. . .” kata-kata tertahan di atas kepala, lelaki itu berusaha keras mencari kata yang tepat.

“Daripada memahami kompleksitas manusia, kamu memilih menghindarinya. Padahal, kita adalah entitas tunggal yang tak akan pernah terpecahkan.”

Obrolan mereka terhenti, sudah tepat pukul tujuh, dan Maryam harus segera pergi.

Keesokan harinya Maryam tak terlihat di mana-mana, lelaki itu merasa telah melakukan kesalahan yang membuat Maryam mungkin menjauhinya. Hari-hari ia habiskan di dalam gereja, duduk lesu, memikirkan banyak kemungkinan. Sampai dua hari sebelum kiamat terjadi ia tetap diam bahkan saat lonceng gereja keras terdengar menggetarkan pipi dan telinga. Sampai ketika ia bangkit untuk pulang, ia melihat Maryam berdiri di altar gereja, lelaki itu tersenyum dan menghapus air matanya, berjalan cepat menghampiri—nyaris berlari lalu memeluk erat Maryam yang tampak cantik dengan gaun putih tanpa lengan.

“Lima hari aku menunggumu, duduk di gereja dan mencarimu di rumah,” lelaki itu mengelus lembut punggung Maryam.

“Lima hari saya mencari jawaban.”

“Jawaban?” lelaki itu melepas peluk, menatap Maryam penuh tanya.

“Temui aku di sini besok, kamu akan tahu semua jawabannya.”

Keduanya menghabiskan hari sampai lupa waktu, sudah lewat pukul tujuh, dan Maryam hanya diam tersenyum saat lelaki itu bertanya batas waktu yang sudah lewat, tidak seperti biasa—Maryam mengabaikannya. Maryam makin erat menggenggam tangan lelaki itu. Malam yang dingin menyelimuti kota, Maryam bersandar pada pundak lelaki itu, menyenandungkan sebuah lagu yang membuat lelaki itu terpejam karena merdu senandung Maryam.

“Kamu tahu, semua akan dihapuskan setelah kita tua, nama, usia, masa lalu, setiap kenangan bahkan masa depan. Dan kita hanya bisa tinggal—menunggu sampai waktunya datang.”

Lelaki itu diam, dengan perasaan yang berkecamuk di dalam.

“Semua akan ditinggalkan saat semuanya dihapuskan. Masing-masing menjadi sendiri, bahkan waktu terdiam, ruang-ruang dibelokkan. Saat akhir segalanya mulai muncul ke permukaan, kita dipaksa melupakan segalanya.”

Maryam mencium pipi lelaki itu. Lalu malam menghabiskan diri saat keduanya bercinta di bangku taman.


----

Sunday, March 10, 2019

Kolase Epidemi


Ada sesuatu yang hilang sejak satu per satu orang pergi tanpa meninggalkan jejak. Pergi tanpa memberi arti yang lebih. Pergi tanpa satu kata pun. Semua seolah jadi tanpa arti, dari semua yang dibangun dengan susah payah, atau yang dibangun hanya dari melanjutkan sesuatu yang dimulai orang lain. Ada yang hilang dari dalam dirimu, tapi kamu berusaha keras mencari apa yang kosong, sisi apa yang seharusnya diisi. Aku bingung, sesuatu hilang bahkan tak kusadari kapan perasaan ini memulai diri di dalam bagian hidupku. Seolah semuanya terjadi alamiah, seolah memang hal itu harus terjadi dan bagian dari perjalanan hidup.

Mungkin ada orang menyebutnya depresi, kekosongan yang lahir dari keramaian tingkat tinggi yang sebelumnya ada dan dibangun bersama orang-orang sakit yang ibu jarinya tak pernah berhenti mengonsumsi gossip artis ibu kota. Pernahkah kamu merasa sendiri—kesepian saat suasana sebetulnya sedang sangat bising-bisingnya. Ini seperti kamu berada di sebuah kotak kaca, kamu terkurung di dalamnya dan dari dalam kamu melihat keramaian di luar, keramaian yang terus mengular tanpa henti.

Barangkali semua memang dilahirkan dengan epideminya masing-masing, yang disusun seperti sebuah kepingan puzzle, dan kita selalu kehilangan keping terakhir. Ada kekosongan di sana yang perlu diisi sebelum bentuk keindahannya bisa benar-benar utuh dinikmati, tapi apakah kita sanggup menemukan keping terakhir itu sendirian. Lama-lama epidemimu membentuk sebuah kolase yang indah, namun tetap ada yang kurang, seperti melihat matahari terbit saat mendung menutupinya dan kamu hanya bisa melihat sisa-sisa cahaya yang muram terpancar dari balik awan. Kita sebut apa ini? Kesedihan mendalam? Atau hanya ketidakberuntungan.

Otakmu dipenuhi berbagai macam pertanyaan, dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, tentang mengapa cinta tak pernah punya makna yang pasti, atau tentang mengapa sebelum tidur kita selalu memikirkan orang yang sama. Aku pernah ada di titik sangat dicintai lalu berakhir sangat tidak dicintai, rasanya begitu membingungkan—aneh. Kita belajar memahami setiap inci pemikiran manusia, sebelum kita selesai mempelajarinya kita dihadapkan pada manusia lainnya, yang barangkali bahkan lebih rumit untuk dibedah. Mungkin karena dinding yang ia bangun untuk menutup semuanya.

Aku berhenti menulis sangat lama, sejak yang terakhir benar-benar mengguncangku, aku mengutuk diri sendiri, mengapa tak pernah benar-benar mampu mencintai seseorang yang datang, aku selalu mencari rumus yang tepat tapi tak pernah kutemui di mana-mana. Semesta selalu punya caranya sendiri, meski kadang dengan cara-cara itu aku tak pernah menyukainya. Aku ingat semuanya, orang-orang yang menceritakan kisahnya padaku, dan berakhir bahagia karena semuanya selesai dengan baik. Tapi mereka melupakan aku, selalu ada korban dari setiap perjalanan, korban dari setiap cerita, menjadi korban karena mendengarkan adalah caraku mengutuk diri sendiri. Tak pernah mampu mengurus jalan hidup sendiri, tapi khatam mengurus masalah orang lain. Lalu salah siapa?

Rasa kecewa barangkali akan menjadi nama tengahku, aku bahkan heran banyak orang membuatku kecewa, banyak orang berlagak baik menawarkan sesuatu, tapi berakhir menjadi epidemi yang mengakar keras, tanpa suara, tanpa gerak, bahkan tanpa hembus napas. Mereka tanpa sadar membentuk sebuah monster yang akhirnya tidak percaya pada human relationship, saat tulisan ini dibuat barangkali namamu adalah salah satu nama yang ada di buku catatanku, dan menjadi salah satu nama yang dicoret—dihapuskan dari memori dan tak lagi ingin kusentuh. Aku heran sendiri, tak pernah ada kata maaf, seolah hal semacam itu bukanlah sebuah kesalahan. Kali ini aku bingung, bagaimana bisa membuat kecewa, marah, menyesal, sebal seorang manusia bisa disebut bukan kesalahan.

Saya hilang ketertarikan, pada semua hal, pada semua yang datang, pada semua yang menawarkan romantisme namun sama sekali tidak romantis. Orang harus belajar cara memelihara manusia lainnya, bahwa jika kau mencintai seseorang buat dia merasa bebas, yakinkan dia, bukan mengikat dia dengan ikatan yang sempurna dan bikin sesak napas. Orang harus belajar itu, sebelum menerima kekuatan tertinggi yang bisa tuhan beri. Seketika cinta jadi tak punya arti karena dibentuk dan dibawa oleh orang-orang yang tak paham cara memahami manusia, semua berlagak ingin menjadi yang paling perhatian namun sejatinya hanya bikin muntah. Posesif adalah senjata nuklir yang mematikan, dan aku muak.

Seperti mendengar amarah ibu yang tak kunjung henti saat anaknya melakukan kesalahan fatal, atau sekadar nakal yang sebetulnya bisa dimaafkan dalm satu kata. Tapi semua itu tak bisa keluar, ia tertahan di ubun-ubun, dan rasanya panas. Kau selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kita butuh seseorang yang bisa utuh memahami cerita kita, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian, Jari-jari ikut marah, saat isi kepala keluar seperti muntahan, aku sakit tapi tak kuketahui apa obatnya, bingung dan mencari namun terus menemukan jalan buntu, di saat yang sama, aku melihat semua orang tampak senang, tampak tak punya masalah, meski mungkin di kamar tidurnya seluruh bantal basah oleh air mata. Mereka hanya menemukan kesenangan-kesenangan kecil. 

Saat ditanya apakah kamu bahagia? Hanya ada suara yang mendengung keras di dalam kepala.


-----

Tuesday, October 23, 2018

Sebelum K*ta Pergi

3 tahun lalu seorang yang kukasihi mati karena miom ganas yang tumbuh di kelaminnya. Saat itu, aku merasakan duka yang belum pernah kualami. Aku tak tahu lagi bagaimana keluar dari duka itu. Sebelum kematiannya, ia seolah memberi pesan bahwa setidaknya, ia ingin menulis satu cerita semasa hidupnya. Ia memilihku untuk membantunya, kita punya cita-cita untuk menulis sebuah novel dengan nama kita di halaman depan. Lalu pertemuan-pertemuan terus terjadi.

Kami intense berdiskusi, menciptakan banyak karakter, ia yang terlalu kebarat-baratan. Dan aku yang tak terlalu suka dengan gaya itu, ditabrakkan bersama. Ruang jadi seru, ego kami tak ada yang surut. Namun kami tahu, di sana titik seni tumbuh. Ia memberikan sebuah nama untuk karakter utama; Namanya Ranum, umur 23 seorang aktivis perempuan yang punya toko bunga dan kuliah di Amsterdam. Tokoh itu murni dia yang membuat, aku hanya membantunya sedikit. Lalu aku membuat antitesis tokoh utamanya, yang jadi penyeimbang. Namanya Sean, seorang perempuan tomboy umur 24 tahun penjual kue di Amsterdam, tokonya tepat di samping toko bunga milik Ranum.

Kamu yang mengikuti perkembanganku menulis mungkin langsung bisa menebak bahwa tulisan yang aku maksud ini berjudul "Ran Fleuriste." yang pada akhirnya hanya menjadi serial di blog sebanyak dua puluh episode. Saat itu banyak yang mencintai tokoh Ranum dengan segala kompleksitasnya. Namun di tengah kami berproses menulis ini. Perempuan itu pergi tanpa kabar, ia tak memberiku kabar apa pun. Aku tahu, saat pertemuan kami yang terakhir, ia menahan sakit di perutnya hingga tampak ingin menangis.

Aku mengantarnya pulang, tapi ia hanya ingin aku mengantarkannya sampai ke jalan besar sebelum masuk perumahan tempat ia tinggal. Sampai sebulan setelah itu, aku sama sekali tak mendengar kabarnya. Kemudian aku dengar kabar bahwa ia sudah mati karena miom ganas yang tumbuh di vaginanya, dan hingga detik ini aku belum pernah ziarah ke makamnya. Sungguh aku tak tahu di mana.

Tulisan kami belum sampai setengah dari target. Tak ada tenaga untuk melanjutkan kisah itu sendirian. Aku merasa benci pada diri sendiri. Aku tak memahami apa-apa tentang dirinya, barangkali itu memang kelemahanku—tak pernah mampu memahami siapa pun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk merilisnya di blog sebanyak 10 episode. Murni sebagai caraku untuk menjadi baik-baik saja saat nanti kenangan itu datang kembali. Kalo kamu mengikuti blogku sejak awal barangkali kamu tau ini; bahwa banyak sekali yang menyukai tulisan itu. Lalu satu tahun setelahnya kubuatkan 10 episode lagi. Aku merasa ada pelepasan emosi yang ada di sana, aku merasa sudah baik-baik saja saat kenangan itu datang kembali.

Ternyata aku merasa tidak cukup baik-baik saja. Aku merasa perlu memindahkan kenangan-kenangan itu ke sebuah media lain. Lalu aku menulis novel pertamaku; Dhanurveda. Dengan dia sebagai tokoh utamanya. Pada titik itu, saat rilis pertama kali, February 2017. Aku merasa benar-benar sudah ikhlas atas kepergiannya. Setelah merasa ikhlas aku menceritakan masa-masa itu ke bapak ibuku. Bapak mungkin yang paling sportif, lalu ia menyarankanku untuk menulis satu novel lagi yang terinspirasi dari kisahku dan perempuan itu. Enam bulan kemudian Tentang Anna rilis. Tak sulit aku menulisnya, hanya harus menahan duka itu kembali saat menuliskannya. Bagi sebagian orang pasti paham siapa wanita itu. Tokoh utama dari babak pertama kehidupan yang membentuku hingga kini.

Lalu babak kedua dimulai saat proses menulis Dhanurveda, ada seorang perempuan, ia kuliah di Jerman. Asli Semarang yang ternyata rumahnya tak jauh dari rumahku. Ia Mengirimiku pesan, bahwa ia sangat mencintai salah satu tulisanku. Saat itu aku sedang berada di Bandung untuk menghadiri Festival Film Bandung. Awalnya ia hanya menjadi perempuan biasa seperti yang lain, yang hanya pensaran bagaimana aku. Lalu pergi tak meninggalkan jejak.

Ternyata ia lebih dari itu. Ia menjadi teman diskusiku, meski jarak terbentang dua benua memisahkan kami. Sampai untuk pertama kalinya kami bertemu. Ada debar yang belum pernah kualami sebelumnya. Kami dekat hingga mengalami masa trans bersama. Selama satu bulan liburannya di Indonesia, tak ada satu hari pun yang tidak kami lewati bersama.

Tapi ini inti dari babak kedua. Sehari sebelum kepergiannya lagi ke Jerman, ia mengakui satu hal; bahwa ia telah memiliki kekasih, dan aku hanya menjadi orang ketiga dari hubungan itu. Saat itu aku sedang menulis Tentang Anna. Dan bersamaan dengan itu, aku mengalami badai sekali lagi, patah hati sekali lagi. Merusak tujuanku menulis Tentang Anna yang awalnya hanya untuk perempuan itu. Lantas di dalam emosi yang masih meluap aku sekaligus menceritakan pertemuanku dengan wanita Jerman ini. Barangkali sebagian dari pembaca tulisan ini tahu bagian cerita ini yang sepenuhnya aku ceritakan di Tentang Anna.

Aku seperti mengalami dejavu, namun badai kali ini rasanya lebih kuat, aku sudah berharap banyak bahwa wanita Jerman benar-benar akan menjadi pengganti yang sepadan. Barangkali kamu membaca tulisanku ini. Aku tidak masalah dengan bagian ceritaku itu, paling tidak aku tahu bahwa kamu lebih mencintaiku daripada kekasihmu sendiri. Problemnya hanya jarak yang memisahkan kita. Tak tanggung-tanggung, beda benua, beda agama, dan aku hanya jadi orang ketiga. Sapa aku setelah ini, paling tidak hanya dengan kata “Hai” yang membuatku sering begadang saat itu, karena perbedaan waktu yang membuatku sekadar ingin mendengar suaramu. Maaf aku tak jadi ke Bandung Agustus lalu, saat kamu memintaku dating ke sana. Putusan itu sungguh berat, di saat yang sama aku sedang dekat dengan wanita lain. Yang akan menjadi tokoh utama di babak ketigaku—setelah ini.

Babak ketiga ini akan sangat singkat, tapi sungguh membunuhku di dalam. Aku pernah membaca sebuah buku tentang bagaimana manusia sangat rentan katanya “yang lama tidak jatuh cinta pasti kaget ketika akhirnya kembali jatuh cinta lagi. Ia akan menjadi posesif, terlalu cinta, terlalu takut, dan terlalu mengikat. Ia akan menuntut menjadi mesra, menjadi sesuatu yang sebelumnya tidak ia rasakan. Padahal untuk bisa menikmati cinta, kita perlu ruang, perlu jeda, perlu paham.”

Tepat satu tahu kepergian wanita Jerman untuk kembali melanjutkan studinya, aku mengenal seorang wanita yang namanya pernah menjadi salah satu judul puisi di blog ini. Awalnya ia sama dengan wanita lain yang mengisi ruang-ruang chatku. Cerita tentang masa lalunya, tentang pria yang pernah menyakitinya. Saat itu ada beberapa wanita yang intense mengirimiku pesan. Pada satu titik, aku mengabaikan semuanya lalu menetap di satu ruang. Wanita itu menawarkan kegilaan seteleha pertemuan kami yang pertama tanggal 4 September di sebuah coffeeshop dekat rumahku. Ia wanita yang membuatku begadang sekali lagi, kupikir ia sedang jatuh cinta. Atau barangkali aku yang terlalu kepedean.

Kamu perlu mencatat ini “Aku sungguh mencintainya.” Setelah anggap saja kena tipu oleh si wanita Jerman. Aku seperti menemukan wanita lain yang rasanya saat berhubungan dengannya aku seperti memasuki masa-masa tiga tahun lalu—tanpa maksud membandingkannya. Aku hidup—aku menceritakannya ke ibu & bapakku, ke seluruh keluargaku. Mereka justru menggodaku yang lama tak mencintai seorang wanita. Kali ini ibuku yang menjaga aku untuk tetap waras, untuk tidak mendengar yang lain. Untuk stay on the track bahwa wanita ini memang sepatutnya aku pelihara.

Sampai di sini barangkali kamu paham bagaimana akhirnya. Kami mengalami pertengkaran hebat, karena aku yang terlalu menuntutnya, aku yang terlalu cinta, terlalu menginginkan ia baik-baik saja. Terlalu, semuanya barangkali serba terlalu. Aku berniat untuk minta maaf, menurunkan egoku hingga ke titik nadir. Tapi ia menolak untuk bertemu aku seminggu yang lalu, saat kudatangi kotanya. Dan aku menempuh perjalanan pulang dengan badai dahsyat sekali lagi. Sesekali berhenti untuk menyeka tangis di pipi. Aku hanya sanggup menulis sampai di sini, karena badai itu masih keras terasa di dalam. Sekali lagi dejavu itu datang. Mungkin bedanya aku tak lagi ingin menulis buku. Aku ingin berhenti menulis. Mungkin benar-benar kembali menikmati tubuh sendiri. Atau sekadar minum es teh buatan ibu.

Terima Kasih :)

-----


Monday, October 15, 2018

3 Menit Sebelum Patah Hati (Pembunuh Terakhir)

Aku membuka pedal saat menaiki motor untuk membuatmu nyaman. 
Aku siap berdamai dari amarah semalam

"Kita mau ke mana?" tanyaku lembut

"Aku gak tahu loh mau ke mana," jawabmu ketus.

"Iyaudah yuk aku anter pulang."

"Kalo pulang aku bisa sama yang lain sih."

Lalu aku menempuh 50 km sedikit lebih lama, 
sesekali berhenti untuk menyeka air mata.


Salatiga, 15 Oktober 2018